Profil

Profil 2018-02-08T08:41:57+00:00

Uskup Mar Nicholas, lahir 13 Maret 1964 dengan nama Hotman di Parlilitan (Tapanuli Utara) terlahir dari pasangan suami – istri + Justinus Lumbantoruan dan Nainur boru Sihotang, yang keduanya dari suku Batak Toba.

Setelah tamat SMA, tahun 1985 beliau ini melanjutkan kuliah di Seminari Alkitab Trinitas Indonesia di kota Karanglo-Malang, Jawa Timur. Kemudian melanjutkan lagi, ke ITKI – Petamburan tahun 1988.

Singkatnya, setelah mempelajari berbagai Ajaran-ajaran Protestantisme di Sekolah Tinggi Teologia ini membuat pikirannya yang analitis dan kritis harus meninggalkan pelayanan gerejawi dan sekolah teologi sebab apa yang dilihat, dipikirkan, dianalisa, dan dialami tidak membuat dirinya merasa terpenuhi atas tuntutan jawaban yang harus dijawab dan diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari.

IMG-20150517-WA0039Tahun 1994, beliau menikah dengan seorang gadis yang berkeyakinan Iman Katolikisme Roma. Sejak menikah, beliau ini mengikuti ibadat misa Gereja Roma Katolik bukan karena meyakini “Ajaran-ajaran Katolikisme Roma” melainkan tuntutan kritis dan analitis akal budinya. Selama beberapa tahun otodidak meneliti dan membandingkan Iman Protestantisme dan Romanisme yang kontradiktif satu sama lain yang tiba pada kesimpulan bahwa “Ajaran-ajaran Protestantisme” adalah produk anti-Katolik atau Kebalikan dari Romanisme dengan pola yang sama sehingga kesimpulan yang didapat bahwa:”Semua Protestan adalah Paus-paus Terselubung” (All Protestants are Crypt-Papists). Di mana Romanisme adalah Iman Ekstrim Kanan dan Semua Kekristenan yang lahir setelah reformasi Protestantisme adalah Iman Ekstrim Kiri. Pada akhirnya, beliau ini harus mencari Jalan Tengah dari dua Kubu Kekristenan Barat yang saling bertikai.

Tahun 1996, beliau bertemu dengan bapak Johanes Rombe yang memperkenalkan Iman Gereja Ortodoks Timur (Yunani). Sejak itu, aktif belajar Iman Ortodoks Timur dan menjadi katekumen, dibaptis tahun 1998. Di sini beliau banyak mendapatkan in put pengajaran-pengajaran teologis versi Ortodoks Timur, tetapi nalar dan kerinduan terdalam dalam jiwa seperti yang rasul Thomas katakan, “Dia yang mencari, janganlah ia berhenti mencari hingga ia menemukan; dan saat ia menemukan ia akan menjadi gusar, dan jika ia gusar, ia akan jadi takjub, dan ia akan memiliki otoritas atas segala sesuatu.” (Injil Thmoas 1:2). Pikiran kritis dan analitik tak terbendung sehingga, beliau ini merasakan ada ruang hampa dalam pemahaman ortodoksi Timur ini yang dominan hasil formulasi konsensus rasional para Bapa-bapa Gereja Hellenisme berpola melalui pemikiran filsafat Yunani, budaya etnis Hellenisme, dan legalisme gerejawi dalam keputusan-keputusan rasional bersama Konsili-konsili Ekumenis (Konsili 1 sampai ke-7) yang umumnya dilaksanakan di Timur dan dilindungi Kaisar Byzantium demi kepentingan politis pada waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, beliau harus angkat kaki dari Gereja etnis ini oleh beberapa alasan sebagai berikut: pertama, adopsi gelar Maria dengan gelar Theotokos yang tidak terdapat dalam Kitab Suci, sementara, Kitab Injil Lukas 1:48 mengatakan, “1:48 … Sebab, ketahuilah, dari mulai sekarang SEMUA keturunan akan menyebut aku TERBERKATI. (*Kata “Terberkati” berasal dari Ritus Doa Yahudi, dengan kata “Berakha”). Jelas ini bertentangan dengan Wahyu Ruakh ha-Kodesh yang diwahyukan melalui ucapan Marthan Miriam Terberkati sendiri. Asal usul kata ini sendiri ada jejak sejarah kepada istilah penyembahan berhala Dewi Arthemis di Efesus.Oleh tekanan massa yang marah saat Konsili Efesus 431 M., atas kehilangan sosok dewi pada masyarakat Yunani di Efesus mendesak para bapa Konsiliar untuk mengadopsi gelar Theotokos (Bunda Alaha) pada Miriam Bunda Yeshua. Awalnya, tidak ada ajaran Rasul mengajarkan hal ini, gelar Theotokos adalah gelar kepentingan politis gerejawi dan akibatnya fatal telah menciptakan ‘pengilahian’ kepada Miriam meskipun dalam ikonisasi selalu diperlihatkan jari Miriam Terberkati menunjuk kepada Bayi Yeshua yang digendongnya, tetap saja efeknya semakin berkembang ajaran devosi kultus Miriam dengan tambahan berbagai gelar yang diberikan oleh Gereja baik Gereja-gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Roma Katolik. Gelar Theotokos (Bunda Ilahi), Ratu Sorga, Penebus Bersama Yeshua, dan lebih hebatnya lagi menyebut Miriam sebagai “Bunda Gereja” dan ini telah keluar dari kerangka “ortodoksi rasuli” dan “ortodoksi Alkitab” yang menyebutkan bahwa Ruakh ha-Kodesh yang melahirkan “Gereja” pada saat Perayaan Savu’ot di Yerusalem (Kisah 2), sehingga Ruakh ha-Kodesh adalah Bunda Gereja. Bunda Alaha (Theotokos) adalah Ruakh ha-Kodesh, dan “Ratu Sorga” adalah Ruakh ha-Kodesh, juga Penebus Bersama adalah Ruakh ha-Kodesh. Setelah mempelajari lebih jauh apa penyebab utamanya, ini ternyata faktor “BAHASA” di mana dalam bahaya Yunani yang disebut “PNEUMA” (Roh) adalah bersifat Netral dan dalam bahasa Latin, “Spiritus” (Roh) adalah bersifat Maskulin.

Dengan demikian, mereka kehilangan konsep jenis kelamin untuk sebutan Roh Kudus (Ibrani, “Ruakh ha-Kodesh” dan Aramaik “Rukha d’Kudsha” dalam bentuk jenis kelamin Femina). Marthan Miriam dalam teologi Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma telah merendahkan Roh Kudus, dan menggantinya dengan Miriam. Ini adalah penghujatan terhadap Roh Kudus (Mattai 12:32) sehingga beliau merasakan kengerian berada dalam konsep teologis Ortodoks Timur dan Katolik Romanisme. Satu sisi Reformasi Protestantisme adalah benar dalam hal ini.

Tahun 2002, beliau menyelesaikan studi bahasa Inggris di STKIP-PGRI Jakarta, dan dilanjutkan pascasarjana di Universitas Sahid Jakarta, jurusan Public Relations.

Kemudian beliau meninggalkan Gereja Ortodoks Yunani bergabung dengan Gereja Katolik Lama yang berpusat di California (USA) dan menjadi Calon Imam menikah dan belajar di Sekolah Biara St. Anthony-Montana, program Sacred Theological Licentiate. Tetapi, pencarian tidak berakhir di sini, sebab ia harus diperhadapkan dengan pemahaman teologi yang sama dengan Ortodoks Timur dan Katolik Romanisme, dan mereka mentahbiskan Imam Wanita yang sangat bertentangan dengan prinsip Alkitab. Melalui seorang teman seminarian, beliau diperkenalkan dengan Kekristenan Mar Thoma – Assyria dan mulai meneliti Kekeristenan Timur (the East Christianity) yang disebut sebagai “Nasrani” yang mewarisi budaya pemikiran Semitik (Ibrani-Aramaik).

Tahun 2006, beliau melalui korespondensi panjang diterima dalam salah satu sekte Gereja Semitik Timur yang menamakan diri sebagai “Assembly of Jerusalem”. Memutuskan keluar pada tahun 2011 akibat adanya perubahan pengajaran dari Patriak baru dengan yang lama.

Tahun 2013, mendirikan Gereja Nasrani Indonesia lalu bergabung dengan Gereja Rasuliah Orthodox Catholic Church of the New Age, putri Gereja Asyria dan Gereja Syria Antiokia pada tahun 2013 akhir.