SEJARAH ADANYA PENDETA SEBAGAI PEMIMPIN JEMAAT KRISTEN

//SEJARAH ADANYA PENDETA SEBAGAI PEMIMPIN JEMAAT KRISTEN

1.    Sejarah Kepemimpinan Jemaat di Abad 1 selalu dipimpin oleh Uskup

Perlu dipahami bahwa kepemimpinan dalam organisasi manapun sangat penting. Jika pemimpinnya salah, maka anggotanya juga akan ikut-ikutan salah. Demikian juga di dalam lembaga kejemaatan yang telah dibakukan sejak abad 1, tampuk kepemimpinan ini tidak bisa dipegang oleg sembarangan orang. Jemaat tidak pernah dipimpin oleh para Pendeta. Jemaat tidak pernah dipimpin oleh orang-orang pintar tanpa Pentahbisan Rasuliah. Semua pemimpin Kristen Awal adalah mereka yang telah ditahbiskan. Ritual pentahbisan ini kemudian hari disebut sebagai Sakramen (Ibrani: Qadishot) Pentahbisan.

Yeshua sendiri ditahbiskan untuk menjadi pemimpin jemaat, ini terjadi saat Dia dibaptis dan sosok burung Merpati turun ke atas-Nya. Dalam pengajaran jemaat awal, merpati adalah lambang sosok Roh Kudus demikian juga minyak. Yeshua adalah Pemimpin Awal, Gembala (Uskup) awal semua jemaat, Uskup untuk selamanya. Menurut Tradisi (ajaran Lisan), Maran Yeshua mentahbiskan para Murid 3 kali untuk bertahap menjabat sebagai para Uskup yang bisa memimpin jemaat.

Tabel Jenjang Tahbisan Keimamatan Melkisedek

Tabel Jenjang Tahbisan Keimamatan Melkisedek

Ada maksud tersembunyi saat Maran Yeshua melarang para murid-Nya berpergian paska kenaikannya ke Sorga. Mereka harus ada di Yerusalem, pusat Kekristenan pertama. Itu karena mereka harus mendapatkan Tahbisan Keuskupan di Yerusalem. Setelah mereka mendapatkannya maka mereka punya otoritas untuk mentahbiskan para penerus mereka. Jadi para Uskup akan mentahbiskan jemaat masuk ke jenjang tahbisan Minor lalu Mayor. Di jenjang Mayor ini ada 3 jenjang seperti yang tercatat di table atas. Dimulai dari Tahbisan Shamasha, lalu Qashisha, kemudian Uskup sehingga lengkaplah otoritas yang dimiliki mereka untuk menyebarkan ajaran PB Yeshua ke seluruh bumi. Tanpa ada Sakramen Tahbisan maka mereka tidak akan punya kelanjutan pemimpin. Jadi para jemaat yang telah ditahbiskan akan menjadi pengganti mereka. Uskup ditahbiskan oleh Uskup. Jadi ada Mata Rantai Uskup dari abad 1 sampai 21 ini.  Pemimpin jemaat selalu Uskup, tidak pernah pendeta. Pendeta di abad 1 adalah Guru Agama Hindu yang disebut sebagai ‘Pandito’.

Paska Pentakosta Yerusalem itulah para Rasul menyebar dan terbentukan jemaat-jemaat Rasuliah di bawah pengajaran Para Uskup, antara lain:

  1. Jemaat Nasrani India, di bawah pimpinan Uskup Mar Thoma (Rasul Thomas),
  2. Jemaat Mesopotamia, di bawah pimpinan Uskup Mar Thoma dan Mar Addai (Mar Thadeus),
  3. Jemaat Armenia, di bawah Uskup Mar Tulmay (Bartholomeus),
  4. Jemaat Coptic Mesir, di bawah Uskup Markus,
  5. Jemaat Roma, di bawah Uskup Mar Linus,
  6. Jemaat Antiokia, di bawah Uskup Mar Kefa (Petrus),
  7. Jemaat Efesus, di bawah Uskup Paulus lalu digantikan Mar Timotius,
  8. Jemaat di 7 kota Asia Minor, di bawah Uskup Yohanes yg dibuang ke Patmos,
  9. dll

Semua Uskup di atas di bawah komando Uskup Pusat Yerusalem, yaitu saudara tiri Maran Yeshua, Uskup Mar Yakub HaTzadiq (Yakobus). Perhatikan bahwa semua jemaat ada di bawah kendali uskup! Bukan Rabbi Yahudi Farisi! Bukan Imam Lewi lagi! Dan sekali lagi bukan Pendeta Hindu! Semua Uskup mendapatkan Sakramen Tahbisan Rasuliah. Tahbisan ini ada di dalam Tradisi (Oral Torah).

Semua Uskup menyebar untuk memenuhi misi Amanah Agung. Para utusan Uskup yang sampai di Nusantara adalah jemaat yang berasal dari Uskup Mar Thoma Mesopotamia. Dari jemaat Church of The East (COE) sering disebut juga dengan nama jemaat ‘Nestorian’.

Sementara Gereja Rasuliah yang ada di Roma, yang pertama dipimpin oleh Mar Linus murid Paulus, menjadi besar dan sekarang dikenal dengan nama Gereja Roma Katolik. Gereja ini menjadi gereja kedua setlah kaum Nestorian yang masuk ke Nusantara di bawa oleh para penjajah Portugis. Namun sebelum kedua Gereja Rasuliah yang dipimpin para Uskup ini datang, di Indonesia telah berkembang agama tua di planet ini yaitu agama animisme dan dinamisme kemudian Hindu.

2.  Sejarah Masuknya Hindu di Nusantara

Sebelum agama Hindu menyebar, sebenarnya penduduk asli Kepulauan Nusantara mempraktikkan agama animisme dan dinamisme, keyakinan yang umum bagi orang-orang Austronesia. Penduduk Nusantara menghormati dan memuja roh nenek moyang mereka dan juga meyakini bahwa jiwa-jiwa dapat menghuni tempat-tempat tertentu seperti pohon-pohon besar, batu, hutan, pegunungan, atau tempat suci. Inilah alasan suatu tempat menjadi tempat keramat, karena telah dijadikan tempat pemujaan. Sosok yang tidak terlihat namun memiliki kekuatan supernatural ini diidentifikasi oleh suku Jawa tradisional dan suku Bali sebagai “hyang” serta oleh suku Dayak sebagai “sangiang” yang dapat berarti “ilahi” atau “leluhur”. Dalam bahasa Indonesia modern, “hyang” cenderung dikaitkan dengan Tuhan, terlebih setelah era Orde Baru.

Pengaruh agama Hindu mencapai Kepulauan Nusantara sejak abad pertama. Ada beberapa teori tentang bagaimana Hindu mencapai Nusantara. Teori Vaishya adalah bahwa perkawinan terjadi antara pedagang Hindustan dan penduduk asli Nusantara. Teori lain (Kshatriya) berpendapat bahwa para prajurit yang kalah perang dari Hindustan menemukan tempat pelipur lara di Nusantara. Ketiga, teori para Brahmana mengambil sudut pandang yang lebih tradisional, bahwa misionaris menyebarkan agama Hindu ke pulau-pulau di Nusantara. Terakhir, teori oleh nasionalis (Bhumiputra) bahwa para pribumi Nusantara memilih sendiri kepercayaan tersebut setelah perjalanan ke Hindustan[1]. Mulai pada abad ke-4, Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, dan Kalingga di Jawa Tengah, adalah termasuk di antara Kerajaan Hindu awal yang didirikan di Nusantara. Beberapa kerajaan Hindu kuno Nusantara yang menonjol adalah Mataram, yang terkenal karena membangun Candi Prambanan yang megah, diikuti oleh Kerajaan Kediri dan Singhasari. Sejak itu Agama Hindu menyebar di seluruh nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14. Kerajaan yang terakhir dan terbesar di antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha Jawa, Majapahit, menyebarkan pengaruhnya di seluruh kepulauan Nusantara.

Nah, para penganut agama Hindu ini semua diajar oleh guru yang mereka sebut dengan panggilan ‘Pandito’. Para Pandito adalah tokoh yang sangat dihormati bukan hanya karena pengajaran namun juga karena kesalehan yang mereka contohkan kepada penganut agama Hindu. Nama ‘Pandito’ yang melekat pada mereka inilah yang masuk ke dalam ajaran Kristen Non Gereja Rasuliah.

3.  Sejarah Masuknya Gereja Rasuliah di Nusantara

Banyak orang menyangka bahwa Agama Kristen pertama kali dibawa oleh para penjajah Belanda dan Portugis, itu adalah pendapat yang tidak sesuai fakta sejarah. Melalui jalur perdagangan Barus, para penginjil dari COE (Nestorian) khususnya Gereja Khaldea dari Malabar India[2] masuk dan menyebarkan pengajaran Gereja Rasuliah ini ke Nusantara mulai di abad 7 Masehi. Ada 2 tempat yang menjadi pusat pengajaran kala itu yaitu  Pancur (Sekarang wilayah dari Deli Serdang) dan Barus (Sekarang wilayah dari: Tapanuli Tengah) di Sumatra (645 SM). Sejarah kedatangan mereka telah tercatat oleh ulama Syaikh Abu Salih al-Armini dalam bukunya dengan judul FIBA “Tadhakur Akhbar min al-Kana’is wa al-Adyar min Nawabin Mishri wa al-Iqta’aih” (Daftar berita pada gereja-gereja dan monastries di provinsi-provinsi Mesir dan sekitarnya). Daftar gereja-gereja dan monastries dari naskah asli dalam bahasa Arab dengan 114 halaman ini berisi berita tentang 707 gereja-gereja dan 181 monastries Kristen yang tersebar di sekitar Mesir, Nubia, Abysina, Afrika Barat, Spanyol, Arab dan India . Dalam bukunya (Abu Salih), tanah Indonesia masih dimasukkan dalam wilayah India (al-Hindah)[3]. Jadi mereka yang datang paling tidak adalah para Shamasha (Diakon) Gereja Rasuliah. Mereka bukanlah Pendeta, mereka juga tidak mau disebut dengan nama ‘Pendeta’. Gereja Rasuliah ini hanya bertahan selama 1 abad di Nusantara kemungkinan karena adanya pecah perang lokal.

Dari kaum Nestorian kemudian muncul Gereja Rasuliah Roma Katolik yang pertama kali tiba pada tahun 1511 di tanah Aceh, yaitu dari Ordo Karmel, dan 1534 di kepulauan Maluku melalui orang Portugis yang dikirim untuk eksplorasi. Fransiskus Xaverius, misionaris Katolik Roma dan pendiri Ordo Yesuit bekerja di kepulauan Maluku pada tahun 1546 sampai tahun 1547. Gereja ini memang tidak murni datang untuk memberitakan Injil, namun juga ingin berdagang kemudian menjajah. Gereja ini cukup beruntung karena didukung dana yang sangat kuat, sehingga penginjilan mereka cukup membuahkan hasil. Tentu ada juga peran Tuhan di dalamnya. Gereja ini masih bertahan di Indonesia sampai sekarang dan juga berperan dalam kemerdekaan NKRI di th 1945[4].

Baik COE dan Roma Katolik adalah Gereja Rasuliah yang dipimpin oleh para Uskup, bukan Pendeta. Kedua gereja ini tidak pernah mencampuraduk ajaran Hindu dengan Kerkistenan. Kedua gereja ini adalah pewaris Tradisi dan penyimpan naskah-naskah Alkitab. Mereka bukan penganut Sola Scriptura (Tolak Tradisi, hanya Alkitab).

4. Sejarah Masuknya Gereja Non Rasuliah di Nusantara

Gereja Non Rasuliah pertama kali ada adalah Protestan. Itu bisa ada akibat sembrononya ajaran Roma Katolik yang sudah bias di tangan para Uskup merkea. Salah satu Imam Roma Kat mereka, Martin Luther menolak banyak pengajaran Roma di abad 16. Di abad itulah muncul Agama Baru sebenarnya yang bernama Protestan. Protestan berbeda dengan semua Gereja Rasuliah karena tidak mau dipimpin oleh Para Imam-Uskup lagi.

Mereka menolak adanya Tradiri-tradisi, kurang mau menyadari bahwa tradisi itu ada terlebih dahulu dari Alkitab dan sumber Alkitab adalah tradisi. Umat Protestan meyakini bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan seakan-akan ditulis oleh Tuhan di Sorga dan turun ke Bumi dan jatuh ke tangan mereka. Ajaran menolak tradisi ini kemudian terkenal dengan sebutan Sola Scriptura.

Semua jemaat bagi mereka adalah para Imam itu sendiri. Kendati bukan mereka yang menuliskan kitab-kitab, namun dengan gagah berani mereka menebak-nebak isi kitab seakan-akan ajaran mereka berasal  dari abad 1. Seakan-akan jemaat adalah Imam itu sudah diajarkan di abad 1. Dengan demikian mereka sebenarnya tidak memerlukan pentahbisan apa-apa lagi. Semua orang yang pintar menafsir kitab suci bisa saja menjadi pemimpin.

Sejak awal abad 17, Negeri Belanda mengalami perubahan. Saat itu agama resmi Negara Roma Katolik diganti dengan Agama Protestan. Pemerintah melarang bentuk-bentuk peribadatan Roma Katolik dan mendukung penyebaran Protestan sampai ke tanah-tanah jajahan. Saat VOC terbentuk th 1602, mereka membawa agama ini masuk sampai ke Ambon, Minahasa, Sangir, dan lainnya. Guru-guru injil Prostestan mengajar di mana-mana tanpa pemahaman yang benar akan pengajaran awal abad 1. Mereka bermodalkan Alkitab saja, semua yang mereka pelajari berasal hanya dari ke-66 kitab yang mereka kanon dan sebut Alkitab. Selebihnya mereka akan menebak-nebak.

Akibat kurang pahamnya latarbelakang penulisan kitab dan tradisi yang mendukungnya, maka kepemimpinan Gereja-gereja Protestan ini diduduki oleh mereka yang pintar mengutak-atik dan menghapal Alkitab yang dipegangnya. Ajaran mereka lama-kelamaan berubah seiring dari penafsiran para pengajarnya. Kemudian bermunculanlah aliran-aliran baru dalam tubuh Protestan ini sendiri. Semua berasal dari luar Nusantara sampai pada akhirnya masuk ke Indonesia.

Di Indonesia sperti yang telah dijelaskan, telah ada ajaran Hindu yang dipimpin oleh pemimpin karisma mereka ‘Pandito’. Banyak di antara mereka yang masuk Protestan dan menjadi Kristen. Di sinilah terjadi percampuran itu. Para pemimpin agama Protentann kemudian disebut juga dengan ‘Pendeta’. Mereka tidak akan mau menyebut diri mereka ‘Uskup’ seperti halnya para pemimpin Gereja Roma Katolik dan Gereja-gereja Rasuliah lain yang bergiliran masuk ke Indonesia.

Agama Protestan kemudian hari berpecah dari Lutheran, Calvinis, New Calvinis, Adven, Mormon, Saksi Yehova, Pentakosta-Karismatik yang terkenal dengan KKR peyembuhannya, dan termasuk Krsiten Mesianik yang merasa bahwa mereka mengajarkan pengajaran kembali ke awal. Semua ini adalah kelompok Kristen yang terpengaruh ajaran Hindu karena dipimpin oleh ‘Pendeta’. Memang tidak ada ajaran Hindu lain yang mereka serap kecuali nama kepemimpinannya, namun demikian ini cukup untuk membedakan mana pewaris ajaran Yeshua abad 1 dan mana yang sebenarnya adalah para murid Martin Luther di abad 16.

5.  Perbedaan Umum Gereja Rasuliah dan Non Rasuliah

Jika mau disimpulkan ke dalam suatu table perbedaan umum antara Gereja Rasuliah murid Yeshua dan Gereja Non Rasuliah murid Luther ini bisa disimpulkan sbb:

Tabel Perbedaan Gereja Rasuliah dan Non Rasuliah

Tabel Perbedaan Gereja Rasuliah dan Non Rasuliah

6.  Pandangan GNI terhadapa para Pendeta

Kendati Semua Gereja Rasuliah pasti beranggapan bahwa Para Pendeta ini adalah bagian dari guru-guru palsu, namun harap waspada, kita yang tahu kebenaran untuk tidak meremehkan mereka sebagai sesama manusia yang ingin melayani Tuhan. Jemaat Nasrani Indonesia sebagai Putri COE, harus tetap menghormati para Pendeta. Ada berbagai penyebab yang membuat mereka tidak menyadari hal ini, antara lain:

  1. Menerima berbagai mujizad Tuhan dalam pelayanan mereka,
  2. Diajar juga oleh para Pendeta yang tidak paham sejarah dan ajaran awal,
  3. Telah belajar mati-matian Alkitab yang menjadi penopang hidup mereka,
  4. Merasa menjadi orang yang lebih baik dari sebelum mereka melayani,
  5. Telah banyak menolang orang,
  6. Telah diberkati oleh Tuhan, keadaan ekonomi mareka menjadi lebih baik dari hari ke hari dan ini menjadi kesaksian bagi jemaat.
  7. dll

Tuhan adalah sumber dari semua jiwa karena semua jiwa berasal dari pada-Nya. Kalau orang itu memilih untuk menjadi jahat dan baik, itu adalah hak free will dari setiap manusia. Namun pada intinya, Tuhan itu baik bagi semua jiwa. Entah mereka itu Kristen atau non Kristen, entah mereka itu jemaat Gereja Rasuliah atau bukan. GOD IS GOOD! Yes He is. Dia baik untuk semua orang. Jadi perkara mujizad, semua orang bisa menerima mujizad dan berkat kendati orang tersebut tidak mengenal Yeshua, pada dasarnya Tuhan itu baik dan memberi kesempatan bagi setiap jiwa untuk belajar mengenal-Nya. Dengan ini kami tidak meyakini bahwa semua KKR itu bisa terjadi penyembuhan karena Tuhan bekerja, bisa saja Tuhan bekerja, namun bisa saja roh jahat yang bekerja sebab Nabi Palsu juga melakukan berbagai muzjiad.

Ul 13: 1 (LAI) Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, 2  dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, 3  maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.

Jadi, ada baiknya tidak bersandar pada mujizad apalagi berkat finansial dan jauhkan pikiran bahwa Tuhan hanya mau melakukan mujizad-Nya pada umat Kristen saja. Dia itu KASIH, Dia mau memberkan mujizad-Nya pada siapa saja, itu adalah hak-Nya. Pahamilah bahwa ada banyak orang yang berlimpah harta dan hidupnya berdampak positif bagi orang sekitarnya kendati mereka bukan umat Kristen. Tuhan tetap mengasihi mereka.

Semua jiwa mengalami proses penyempurnaan untuk menjadi jiwa yang lebih baik. Jiwa yang sudah ada di dalam jemaat Rasuliahpun ada yang kalah baik dari mereka yang masih berada di luar. Hanya saja bagi jemaat yang sudah ada di dalam ada berbagai Qadishotim (Sakramen) yang membuat jiwa mereka lebih mudah menghapuskan dosa-dosa dan hidup lebih sesuai dengan perintah Maran Yeshua.

Sesuai visi dari keuskupan kita yaitu MEMPERSIAPKAN KEDATANGAN MARAN YESHUA KEDUA KALI, maka para pemimpin GNI harus bisa berdialog dengan para pemimpin agama lain di Indonesia khususnya para pendeta ini. Banyak dari mereka yang benar-benar haus akan kebenaran yg diajarkan di awal. Banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki beragam pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh gereja yang menuliskan kitab-kitab. Sudah menjadi kewajiban kita untuk merangkul mereka bukan memusuhi. Dengan memulai dialog, ada banyak ajaran kita yang bisa mereka pelajari. Pasti tidak semua yang setuju, namun dari waktu ke waktu ada saja yang mengaminkan. Inilah saatnya ajaran kuno Nasrani lebih tersebar di Indonesia. Sampai saatnya para Pendeta itu akan ditahbiskan dan sah menjadi Imam-imam atau bahkan ada yang menjadi Uskup, tidak ada yang tahu masa depan. Kita hanya bisa berharap hal baik terjadi. Maran kasihanilah kami semua….amin.

__________________________

 

[1] McDaniel, June (1 Agustus, 2010). “Agama Hindu Dharma Indonesia as a New Religious Movement: Hinduism Recreated in the Image of Islam”. Nova Religio 14 (1): 93–111.

[2] Misi, misiologi & evangelisasi di Indonesia, Mgr Edmund Woga, Kanisius, 2009, hal 38

[3] Hosen, N (2005-09-08). “Religion and the Indonesian Constitution: A Recent Debate” (PDF). Journal of Southeast Asian Studies (Cambridge University Press) 36 (03): 419.

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan_di_Indonesia

header niko 728 x 90

funika

By | 2018-02-08T08:42:03+00:00 July 7th, 2016|Kristen|0 Comments