Rabbi Dovid Menjawab bahwa Bumi itu…

/, Kristen/Rabbi Dovid Menjawab bahwa Bumi itu…

header niko 728 x 90

Tradisi ‘Ask Rabbi’ (bertanya pada Rabbi)’

Berbeda dengan kalangan Yahudi Perushim (Farisi) dan Nasrani, penganut Sola Scriptura tidak mengenal istilah ‘Ask Rabbi’ sama sekali. Bagi kalangan Kristen yang baru mulai berdiri di abad 16, termasuk Kristen Mesianik ini, jika mereka tidak tahu penjelasan suatu ayat kitab suci maka yang mereka akan lakukan adalah mentafsirkannya. Bagaimana cara mereka mentafsirkan ayat tersebut? Biasanya mereka berdoa meminta pimpinan Roh Kudus, berdiam diri sebentar untuk merenungkan ayat yang membingungkan. Jika masih ragu maka langkah berikutnya adalah dengan mencari penjelasan dari orang lain yang sudah pernah membahasnya. Dalam kasus Teori Bumi Datar ini, Rohaniawan yang mentafsirkan ayat-ayat kitab tentang bentuk Bumi, mencari dan mendapatkan penjelasan dari Flat Earth Society (FES). FES dikenal sangat produktif menguraikan teori mereka yang menyudutkan NASA dan Freemason atau organisasi samar bernama Illuminati dengan alasan mereka membohongi manusia untuk alasan uang. Atau mungkin sebaliknya, si Rohaniawan mendapatkan penjelasan dari FES lalu mencari-cari ayat Alkitab yang cocok dengan uraian tersebut. Demikian bisa terjadi. Apapun pilihannya, teori FES dan penjelasan tafsiran kitab sucinya sudah bisa meyakinkan jemaat Mesianik yang dipimpinnya. Selamat. Dalam hal ini saya tidak keberatan sama sekali. Namun karena katekumen Nasrani kami juga mempertanyakannya maka ada baiknya saya ulas juga dari sisi Nasrani, tentunya dari sisi pengajaran 3 Pilar Iman kami, Kitab-Tradisi-Pewahyuan.

Pada ajaran Judaism, dikenal dengan istilah ‘Ask Rabbi’ karena memang sebagai jemaat awam, sebenarnya tidak punya otoritas untuk menjawab hal-hal berkenaan Torah (pengajaran). Kaum Yahudi disiplin dengan ajaran mereka, dan demi melestarikan ajarannya dari tangan orang-orang yang suka mentafsir (menebak-nebak) sembarangan, maka muncul tradisi bertanya kepada Rabbi ini. Sejak runtuhnya Bait Suci Yerusalem di th 70 M, maka kepemimpinan dalam yahudi berlih dari Imam menjadi Rabbi. Semua peribadatan dipimpin oleh Rabbi, terutama pengajaran. Jemaat bertanya, Rabbi menjawab, inilah tradisi mereka. Oh ya, mereka mengenal istilah ‘Tradisi’ sbg Pilar Iman bukan hanya ‘Kitab Suci’ sebab Tradisi dan Kitab selalu berjalan bersamaan. Tradisi-tradisi mereka yang banyak mereka mulai tuliskan di abad 1 dan dikenal dengan sebutan ‘Talmud’.

Setali tiga uang dengan Judaism, Jemaat Perdana juga memiliki tradisi bertanya kepada pemimpin. Hanya saja, kepemimpinan Mshikaye (Kristen) itu tdk ada di pundak Rabbi (Pengajar Khusus) seperti pada Judaism. Kepemimpinan Kristen ada pada para Uskup. Semua jemaat di abad 1 sampai 21 selalu dipimpin oleh para Uskup. Uskup adalah Kepala Imam yang memilki otoritas keimamatan paling lengkap, karena itu ada di jenjang keimamatan paling tinggi. Jemaat tidak mentafsir dalam rangka ingin mengetahui arti ayat kitab yg membingungkan, secara tradisi, jemaat akan bertanya. Pemuridan memang demikian adanya, kalau tidak tahu maka bertanya. Jemaat tidak perlu merenungkan, tanya saja kepada para Imam. Kalau mau merenung itu ada materi tersendiri yang disebut dengan ‘Meditasi’. Ini biasa diterapkan di biara-biara. Pemuridan Nasrani itu terbentuk sejak abad 1 paska diutusnya para Rasul oleh Maran Yeshua. Pemuridan adalah sekolah, jadi ada proses belajar dan mengajar. Bahkan ada seminari yang didirikan, seminari pertama di abad awal Kristen adalah Seminari Edessa.

Di artikel ini, izinkan saya untuk mengupas pemahaman Agama Judaism tentang Bentuk Bumi. Saya telah mengirim surat email kepara Rabi Dovid Rosenfeld, kepala website Aish.com. Mengapa saya bertanya kepada beliau? Mengapa saya perlu second opinion (pendapat sekunder) dari seorang Rabbi? Ini karena Rohaniawan Mesianik yang menjelaskan pendapatnya bahwa Bumi itu Datar, mengutip-kutip ayat kitab Tanakh seakan-akan semua Rabbi Yahudi sepakat bahwa Bumi itu memang Datar. Memang Gereja Rasuliah juga menjadi penulis atau penyalin naskah-naskah Tanakh ke dalam bahasa Yunani dan juga Aramaik, namun tidak ada salahnya memahami pendapat mereka yang juga menuliskan Tanakh dalam bahasa Ibrani kembali. Naskah Ibrani Tanakh yang mereka hasilkan kemudian disebut dengan nama ‘Masoretik’. Saya tidak pernah meragukan pengajaran Gereja rasuliah, hanya saja jika pengajaran kami diteguhkan oleh ajaran Farisi maka ini akan membuat pengajaran itu menjadi lebih solid dan sulit untuk dipatahkan.

Jawaban Rabbi Dovid Rosenfeld

Secara garis besar, Rabbi Dovid menjawab bahwa menurut Tanakh Bumi itu Bulat bukan datar. Seperti uraiannya pada email ke saya kemarin lalu. Di sana dia menegaskan bahwa ada banyak tulisan di Tanakh yang tidak ditulis secara apa adanya, namun bersifat kiasan.

Rabbi DOVID ROSENFELD menjawab BUMI ITU BULAT

Rabbi DOVID ROSENFELD menjawab BUMI ITU BULATJika gambarnya kurang jelas, berikut adalah coppy paste-nya:

Hi,

Thank you for contacting us about your issue. Judaism accepts it as fact that the Earth is round. The verses which imply otherwise we see as just figurative expressions not to be taken literally, such as “the four corners of the earth” of Isaiah 11:12. The Torah often writes poetically.
In general, when God gave the Torah to Israel, He used language familiar to the people, given the context of the times. Thus, it uses phrases such as the sun rising and setting (or standing still) – while it is actually the earth which is turning – since that was how people perceived reality at that time.
With blessings,
Rabbi Dovid Rosenfeld
Aish.com

Jadi, menurut pewaris ajaran Farisi yang menuliskan kitab Tanakh ke Ibrani, mereka meyakini bahwa Bumi itu Bulat. Sama persis dengan keyakinan Nasrani bersama Gereja Rasuliah lain yg berdiri di abad 1, juga meyakini demikian. Perlu dicatat bahwa Imam dan Uskup Gereja Rasuliah tidak mengurus masalah Sains atau Astronomi secara spesifik. Kami tidak pernah mengajarkan bumi itu Datar saat ini karena memang menurut Sains yang berkembang Bumi itu Bulat. Pengajaran Nasrani tidak bisa bertentangan dengan Sains, harus sejalan.

Kalah ada penganut Kristen Modern (bukan pewaris ajaran Kuno) yg mengajarkan bahwa Bumi itu Datar, itu hak mereka. Di sini saya hanya menjelaskan pendapat dari pihak para penulis kitab yg sepakat bahwa Bumi itu Bulat. Biarlah perbedaan ini bisa membuat semua orang berpikir dengan baik. Mau ikut Pendeta yang tidak ada hubungannya dengan ajaran awal, yang bukan penulis kitab atau mau mengikut ajaran para Uskup yang di kasus ini diteguhkan oleh para Rabbi Farisi. Semua terserah pembaca.

 

BANNER FREE MEMBER

By | 2018-02-08T08:42:02+00:00 July 16th, 2016|Judaism (Agama Yahudi), Kristen|0 Comments