Perjanjian itu bukan hanya Perjanjian Lama dan Baru

/, Kristen/Perjanjian itu bukan hanya Perjanjian Lama dan Baru

PERJANJIAN ITU KESEPAKATAN

Gambar di atas mencatat bahwa saat Tuhan mengikatkan diri-Nya kepada seseorang atau suatu bangsa dengan satu perjanjian, maka di dalam perjanjian tersebut terdapat satu macam Torah (pengajaran). Di dalam Torah ada Mitzvoth (perintah-perintah) yang mengikat untuk dilaksanakan supaya perjanjian tersebut bisa terus berlaku. Perjanjian adalah kesepakatan, ada pihak-pihak yang terikat, ada isi perjanjian, dan tentunya perjanjian itu bisa saja batal. Pihak lain di luar perjanjian tersebut sama sekali tidak ada kewajiban untuk memahami apalagi melakukan Torah yang ada dalam perjanjian tersebut.

Ini seperti cerita pak Budi yang menandatangai kontrak peminjaman uang dengan bank ABC. Dia mendapatkan hak dana sebanyak Rp 1 Milyar, lalu memiliki kewajiban selama 5 tahun untuk mengembalikan sebanyak Rp 10 juta per bulan. Di dalam perjanjian dengan bank tersebut ada klausul-klausul yang menguraikan cara pembayaran, bunga tunggakan cicilan, dan lain-lain. Pihak yang terikat pada perjanjian tersebut hanyalah pak Budi dan Bank ABC. Istri dan anak-anak pak Budi apalagi tetangganya tidak punya kepentingan dengan isi perjanjian tersebut. Kalau pak Budi tidak membayar sesuai kewajibannya, maka tetangganya tidak akan diwajibkan untuk membantu membayar. Saat pak Budi tidak mentaati isi perjanjian dan tidak mencicil, maka perjanjian ini mengikatnya. Pihak bank berhak untuk menyita rumah dan isinya. Perjanjian ini terus mengikut pak Budi sampai dia selesai mencicilkan semua hutangnya.

Bapa-bapa Gereja Rasuliah memisahkan kitab-kitab (Alkitab) itu menjadi 2 bagian, yaitu Perjanjian Lama (Oleh Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament), itu tidak salah. Ini hanya cara membagi kitab supaya pembacanya bisa lebih mudah membacanya. Ini adalah pembagian Kitab Suci. Sementara jika rentang waktu manusia dibagi ke dalam masa perjanjian Tuhan dan manusia, maka ada beberapa perjanjian yang ada. Perjanjian-perjanjian tersebut antara lain:

  1. Perjanjian Adam (antara Alaha dan Adam),
  2. Perjanjian Abraham (Antara Alaha dan Abraham tentang keturunan Abraham yang menjadi sangat banyak),
  3. Perjanjian Nuh (akan dijelaskan di bawah),
  4. Perjanjian Musa (akan dijelaskan di bawah), dan
  5. Perjanjian Baru (akan dijelaskan di bawah).

PERJANJIAN NUH (mengikat semua manusia)

Paska hukuman banjir bandang, hanya 8 manusia yang selamat dari murka Alaha. Lalu muncullah Perjanjian Nuh atau sering disebut juga dengan Perjanjian Pelangi.

Kej 9:13  Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.

Alaha mengikatkan diri dengan Nuh dan semua keturunannya terikat perjanjian ini secara otomatis. Ada 7 perintah dalam Perjanjian Nuh ini harus ditaati oleh manusia, antara lain:

  1. Jangan menyangkal Alaha.
  2. Jangan menghujad Alaha.
  3. Jangan membunuh.
  4. Jangan melakukan hubungan seksual terlarang.
  5. Jangan mencuri.
  6. Jangan membunuh hewan hidup (menganiaya binatang).
  7. Bangunlah pengadilan.

Di saat manusia semua berpencar, perintah-perintah dalam perjanjian ini masuk ke dalam hukum adat manusia. Tidak mengherankan bahwa tanpa mengenal undang-undang pun suatu suku terpencil pada umumnya tidak akan membunuh manusia lain. Hukum ada di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Ambon, atau dimanapun menyerap ke-7 perintah di atas kendati sosok Alaha di setiap daerah bisa disebut dengan berbagai nama.

PERJANJIAN MOSHA (mengikat ke-12 suku Israel)

Seperti cerita perjanjian pak Budi dan Bank ABC, demikianlah Perjanjian Sinai. Perjanjian Sinai hanya mengikat 2 pihak yaitu Tuhan Semesta Alam dengan 12 suku Israel beserta keturunannya. Ini adalah perjanjian suku atau tribalisme, bukan perjanjian universal yang mengikat semua manusia. Suku-suku di luar Israel tidak ada sangkut pautnya dengan perjanjian tersebut, kecuali jika goyim memutuskan menikah dengan mereka atau berkesempatan untuk berada di tengah mereka sebagai pendatang. Tentu saja, orang luar harus mengikuti aturan-aturan adat Israel ini.

Perjanjian sinai atau Mosha ini bisa ada akibat banyak suku bangsa meninggalkan Isi Perjanjian Nuh. Terutama mereka yang tinggal di daerah Kanaan, mereka membunuh anak-anak mereka sendiri dengan mengorbankan kepada berhala, lalu malakukan kehidupan sex bebas dengan liar. Ini tidak bisa dibiarkan Alaha karena kehidupan bumi akan hancur jika diisi oleh keturunan manusia liar seperti ini[1]. Dia memilih bangsa Israel untuk menjadi PERCONTOHAN bagi bangsa-bangsa lain, dan juga membunuh suku bangsa di Kanaan yang sudah keterlaluan itu. Untuk hal tersebut YHWH mengajarkan hukum-hukum-Nya, semua terdapat 613 perintah (Mitzvoth) yang harus ditaati. Semua perintah tersebut terdapat di dalam Torah Mosha (LAI: Hukum Taurat).

Perjanjian Sinai mewajibkan keturunan Israel untuk menyembah hanya YHWH saja, kalau mereka menyembah berhala, maka Tuhan akan menghukum mereka sesuai isi perjanjian. Dan jika penyembahan kepada berhala ini diteruskan maka kematianlah yang akan mendatangi mereka. Demikian faktanya beberapa abad setelah mereka mengikatkan perjanjian dengan Tuhan di Padang Gurun Sinai, tahun 1500 SM. Di tahun 720 bangsa Israel dibuang ke Ashur, lalu tahun 586 SM bangsa Yehuda sisanya, dibuang ke Babilon. Perjanjian Sinai dengan ini TIDAK LAGI BISA DIEMBAN OLEH SUKU-SUKU ISRAEL! Perjanjian Yang diperbaharui atau Perjanjian Baru bisa muncul itu karena Perjanjian Sinai yang bermasalah ini[2].

PERJANJIAN BARU (mengikat kembali semua manusia yang mau menerima Yeshua sbg Mshikha)

Dalam Perjanjian Baru (PB), ada Torah Mshikha (LAI: Hukum Kristus). Pada tahun 50 Masehi terjadi silang pendapat perihal Torah Meshikha ini. Ada kelompok Nasrani yang membebankan Torah Sinai kepada umat percaya goyim (non Yahudi), namun ada yang menolaknya. Sidang konsili (Kisah pasal 15) dipimpin oleh Maran Mar Yakub HaTzadiq, uskup Yerusalem I dan Uskup Simon Keipha uskup Antiokia. Hasil konsili penting ini adalah goyim Nasrani tidak dibebankan untuk melakukan Torah Sinai, Kis15:28. Sementara Yehudim Nasrani terus melakukan Torah Sinai terbatas hanya karena itu merupakan tradisi suku saja (Cultural Religion).

Melakukan Torah Sinai bukanlah hal yang bisa membuat mereka dibenarkan, Rom3:20. Kaum Nasrani yang kalah dalam konsili tersebut pada akhirnya keluar di abad 2 Masehi, mereka disebut kaum Ebionit. Jadi semua Gereja Rasuliah tidak ada yang mengajarkan Torah Sinai kepada jemaat Nasrani sejak abad 1 sampai sekarang. Tindakan mengajarkannya bisa dikatakan bunuh diri rohaniah, Mar Shaul (Paulus) menuliskannya:

“Sebab jika mereka mengharapkannya dari Torah Musa, menerima bagian yang dijanjikan Alaha, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu” (Rom 4:14).

Bukan hanya para Imam Tertahbis yang melarang goyim melakukan Torah Sinai (HaTorah), tapi juga para Rabbi Yahudi melarangnya. Adalah hal yang tidak mungkin jika ada pendeta yang mengajarkan jemaat goyim-nya untuk membatalkan hasil konsili para uskup/imam Nasrani abad 1.

___________________

[1] Ul 9:5  Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, YHWH (Maryah), Alahamu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya YHWH menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. | baca juga Im 20: 1-23.

[2] Yer 31:31  Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman YHWH, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,

header niko 728 x 90

funika

By | 2018-02-08T08:42:02+00:00 July 10th, 2016|Judaism (Agama Yahudi), Kristen|0 Comments