Peribadatan Shabbat dan Hari Tuhan (Maran)

//Peribadatan Shabbat dan Hari Tuhan (Maran)
Peribadatan Shabbat dan Hari Tuhan (Maran) 2018-02-08T08:41:56+00:00

Dua ekstrim
Ekstrim Kanan sebagai pemelihara Sabbath.
Kelompok ini memegang peribadatan di hari Sabtu sebagai hari ketujuh seperti yang tepat dilakukan oleh Yeshua dan para rasul awal. Mereka meyakini hanya dengan melakukan apa yang dilakukan oleh Yeshua ini berarti melakukan peribadatan yang benar.
Kelompok ini banyak menuding bahwa gereja-gereja yang beribadah di hari Minggu berarti beribadah menyembah Dewa Mithras yang dikenal dengan sebutan Dewa Sun (Matahari) oleh karena itu hari peribadatan tersebut disebut dalam bahasa Inggris menjadi ‘Sunday’ atau harinya Dewa Matahari. Mereka menuding yang menjadi biang keladi perubahan hari ibadah dari Sabtu ke Minggu adalah Roma Katolik.

Berikut adalah pernyataan-pernyantaan dari Gereja Roma Katolik sendiri:

“Nowhere in the bible do we find that Jesus or the apostles ordered that the Sabbath be changed from Satuday to Sunday. We have the commandment of God given to Moses to keep holy the Sabbath day, that is, the seventh day of the week, Saturday. Today, most Christians keep Sunday because it has been revealed to us by the [Roman] church outside the bible.” Catholic Virginian, Oct. 3, 1947

“You may read the Bible from Genesis to Revelation, and you will not find a single line authorizing the sanctification of Sunday. The Scriptures enforce the religious observance of Saturday, a day which we never sanctified.” James Cardinal Gibbons, The Faith of Our Fathers (1917 ed.), pp.72,73

“The Catholic Church,… by virtue of her divine mission, changed the day from Saturday to Sunday.” The Catholic Mirror, official organ of Cardinal Gibbons, Sept. 23, 1893.

Kelompok ini sekarang dianut oleh Gereja Advent yang mulai di abad 18 oleh William Miller, Mesianic Judaism yang dimulai di awal abad 20 oleh mereka yang keluar dari yahudi pewaris ajaran Farisi, dan sebagian Kristen Mesianik yang menjamur di Indonesia sejak awal abad 21 ini.

Ektrim Kiri sebagai pemelihara Hari Tuhan (Minggu).
Kelompok ini memegang peribadatan hari Minggu dan meyakini bahwa:
1. Peribadatan di Hari Minggu adalah peringatan atau perayaan akan Hari Kebangkitan Yeshua. Bahkan peribadatan ini sudah dilakukan juga oleh para rasul seperti tercatat di Kis 20:7 “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti…”

2. peribadatan di Sabbath itu sudah tentu ikut-ikutan Yahudi seperti yang diutarakan oleh Bapa Gereja ini:

The Epistle of Ignatius to the Magnesians 8-10 (c. 110 A.D.)
This is why they were persecuted, being inspired as they were by His grace in order that those who are disobedient might be fully convinced that there is one God who revealed Himself through Jesus Christ His Son, who is His Word which came forth from silence, who in every respect pleased Him who sent Him. If, then, those who had lived in antiquated practices came to newness of hope, no longer keeping the Sabbath but living in accordance with the Lord’s day, on which our life also arose through Him and His death (which some deny), the mystery through which we came to believe, and because of which we patiently endure, in order that we might be found to be disciples of Jesus Christ, our only teacher, how can we possibly live without Him, whom even the prophets, who were His disciples in the Spirit, were expecting as their teacher? Because of this He for whom they rightly waited raised them from the dead when He came…. It is utterly absurd to profess Jesus Christ and to practice Judaism.

Epistle of Barnabas 15:8-9 (c. 130 A.D.)
“Finally, He says to them: ‘I cannot bear your new moons and sabbaths.’ You see what He means: it is not the present sabbaths that are acceptable to Me, but the one that I have made; on that Sabbath, after I have set everything at rest, I will create the beginning of an eighth day, which is the beginning of another world.

Jadi, karena kewaspadaan yang berlebihanlah terhadap Ragi Farisi (Agama Yahudi) maka para bapa gereja rasuliah ini menganjurkan untuk tidak memelihara Sabbath lagi. Ini bisa dipahami memang karena Kaum Ebionit yang di abad 1 memaksakan Kristen non Yahudi untuk melakukan Torah Mosha (LAI: Hukum Taurat) sempat membuat kericuhan sehingga diadakan konsili Yerusalem yang dipimpin oleh Uskup Mar Yakub pada tahun 50 Masehi. Kaum Ebionit ini yang akhirnya keluar dari jemaat Tuhan terus memelihara Sabbath.

Posisi Gereja Nasrani Indonesia
GNI terus memelihara peribadatan Sabbath seperti yang Yeshua dan para murid awal lakukan, dan juga ikut merayakan Hari Minggu sebagai Hari Tuhan (The Lord’s Day). Sabbath dan Hari Maran/Tuhan adalah dua hari yang berbeda yang bisa dengan sukacita diikuti. Tidak bisa dipisah atau dipilih salah satunya.

Mengapa GNI beribadah pada Sabbath?
Bukan untuk ikut-ikutan Ragi Farisi, bukan untuk menjadi seperti Yahudi! Pengudusan Sabbath adalah Mitzvot Alaha sejak penciptaan. GNI tidak mengacu kepada Torah Mosha namun Torah awal penciptaan di mana Alaha yang tidak bisa lelah juga beristirahat dan menguduskan hari ketujuh tersebut. Karena mengacu kepada masa penciptaan inilah GNI beribadah. GNI tidak mengajarkan umat Nasrani di Indonesia untuk melakukan Hukum Taurat melainkan Hukum Kristus (Gal 6:2).

Mengapa GNI beribadah pada hari Minggu?
Di awal tahun 2016 ini, GNI belum melakukan peribadatan Minggu karena jemaat masih belum banyak dan biasa berkumpul pada hari Sabtu. GNI menghormati peribadatan di Hari Minggu bukan mengakui karena Sabbath dipindah ke Minggu seperti yang dilakukan oleh pemimpin Gereja Roma Katolik. Kami melestarikan peribadatan ini sebagai peringatan akan Hari Kebangkitan Maran Yeshua yang kami kasihi. Kebangkitan-Nya dari mautlah yang memerdekakan kita, yang membuat apa yang kami yakini adalah suatu kebenaran. Dialah Jalan dan kebenaran dan hidup bagi kami.

Inti peribadatan sejati
Sejak abad 1, inti peribadatan umat Nasrani adalah selalu Perjamuan Suci (Aram: Qurbana Qadisha) bukan pada pengajaran atau kotbah. Pemecahan roti dan bersama-sama meminum anggur adalah puncak dari peribadatan entah itu Sabbath atau Minggu atau perayaan-perayaan lain di dalam Perjanjian Baru. Pada saat jemaat yang sudah dibaptis ikut serta dalam Perjamuan tersebut maka itulah momen di mana jemaat bisa bersatu dengan Maran Yeshua sebab Roti itu adalah Tubuh Maran sendiri dan anggur yang diminum adalah benar-benar Darah Perjanjian Baru. Penyatuan inilah yang terpenting, bukan lainnya.
Maran Yeshua sendiri yang mengajarkan kepada para murid-Nya bagaimana menyusun siddur peribadatan, mulai dari membuang Semoneh Esrei (Doa delapan belas) kaum Farisi dan menggantinya dengan Doa Bapa Kami (Tefila dMaran), sampai bagaimana melakukan Perjamuan Suci seperti yang Dia ajarkan saat melakukan perjamuan terakhir (Mattai 26:26).

Karena begitu pentingnya ajaran ini, Maran Yeshua rela kehilangan banyak murid sperti tercatat di Injil Yuchanan pasal 6.
53Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. 54Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. 55Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. 56Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Kita semua berlomba untuk meninggalkan dunia fana ini untuk beroleh hidup yang kekal bukan? Jawaban kita pastilah ‘Iya’, oleh karena itu mengetahui rahasia Perjamuan Suci adalah suatu hal yang pantas untuk kita perhatikan dan teliti dengan seksama. Barangsiapa yang memakan-Nya maka merekalah yang bisa memperoleh hidup kekal. Jadi inilah inti peribadatan Nasrani, yang merupakan inti kehidupan itu sendiri. Kita harus bisa menyatu dengan Maran! Harus! Entah itu pada saat Sabbath atau pada Hari Minggu yang banyak dituding sebagai hari Dewa Matahari.

Rahasia Perjamuan Suci hanya ada pada Gereja Rasuliah! Tidak pernah ada pada gereja yang tidak mengindahkan Tradisi Suci (Oral Torah). Mengapa? Karena ritual Perjamuan Suci ini ada di dalam Tradisi Nasrani, tidak pernah dicatat dengan detail di dalam suatu kitab yang dikanon. Para penganut Sola Scriptura (hanya iman) jangan harap bisa mengetahui rahasia ini kendati mereka semua klaim sebagai Sabbath Keppers (pelestari Sabbath) sekalipun, itu sama sekali tidak berpengaruh. Qurbana Qadisha adalah satu dari tujuh Qadishot (sakramen) yang terus dipelihara para pemimpin Gereja Rasuliah. Jadi berbahagialah mereka yang tidak lagi meributkan hari peribadatan, jika sudah paham Inti Peribadatan itu sendiri.

 

Siddur Sabbath atau Hari Maran
Siddur peribadatan Nasrani untuk Sabbath dan Hari Minggu yang berisi Perjamuan Suci pertama kali disusun oleh Uskup I Yerusalem, yaitu Mar Yakub Hatzadiq (St James) oleh karena itu siddur ini sering disebut ‘St James Divine Liturgy’. Siddur ini pertama kali dituliskan dalam bahasa Aramaic, bahasa yang dipakai oleh Maran dan para rasul awal. Mar Yakub sendiri adalah saudara tiri (kakak) dari Maran Yeshua dan satu dari murid 70-Nya. Dari siddur inilah bermunculan siddur lainnya yang terus dipraktikkan oleh gereja-gereja rasuliah pewaris ajaran Nasrani awal. Mar Yakub dikenal sebagai seorang pendoa syafaat, beliau mati martir dibunuh dengan dilempar dari bumbungan Bait Suci Yerusalem pada tahun 60 Masehi. Memang saat itu kaum Nasrani bukan hanya dicurigai oleh penjajah Romawi, namun juga ditekan oleh kaum Yehudim sendiri. Sejak tahun itu semua jemaat Nasrani berpencar keluar Yerusalem dan terus melestarikan peribadatan dengan siddur Mar Yakub ini.

Almarhum Uskup Nicholas telah menerjemahkan siddur Mar Yakub ini ke dalam bahasa Indonesia sehingga jemaat dan ketekumen yang rindu untuk merasakan peribadatan kuno Nasrani bisa mengikutinya dengan baik. Semua urut-urutan ritual dari awal sampai akhir dijelaskan dengan rinci di dalam materi seminari tahap awal. Hal ini juga dijelaskan dalam pengajaran (makresta) setiap Sabbath, sehingga semua paham maksud yang terkandung di dalam setiap gerak dan ucapan bahkan perlengkapan peribadatannya.

Gereja Nasrani Indonesia mengundang para pelestari Sabbath lainnya di Nusantara untuk memahami siddur kuno ini. Mohon maaf, ini tidak untuk dibagikan untuk umum.

_________________________________________________

 

header niko 728 x 90