Zaman Baru dan Kembali-Nya Sang Mshikha

///Zaman Baru dan Kembali-Nya Sang Mshikha
Zaman Baru dan Kembali-Nya Sang Mshikha 2018-02-08T08:41:56+00:00

Oleh, Primat Metropolitan Archbishop Mar John Cuffe, D.D., C.K.C

Diterjemahkan, Shm. Hilrion H.Toruan

Kebanyakan orang Kristen memiliki keyakinan bahwa Mshikha akan datang kembali, tetapi rinciannya bervariasi. Sebagian melihat Mshikha sebagai Saudara Tua (Sulung)

[1] mereka, sama seperti yang kita lakukan, tetapi sering kali mereka melihat-Nya Datang dalam Angkara Murka untuk menghancurkan dunia yang jahat ini dan semua isi di dalamnya. Sejumlah orang lain percaya melihat Dia pertama memboyong mereka yang layak naik ke Surga bersama-Nya dalam satu tindakan tunggal, dan kemudian menghancurkan segala sesuatu yang lain.

Pengangkatan (Rapture)

Hal ini biasanya disebut “Pengangkatan”, karena pengangkatan didalilkan dari mereka sehingga diselamatkan dari bencana pada menit terakhir. Banyak pemikir modern akan melihat kebahagiaan seperti menjadi hanya manifestasi dari kepentingan diri sendiri yang besar (selfishness), karena sulit untuk melihat bagaimana setiap individu benar-benar dipandang baik bisa terangkat bahagia ketika sebagian besar mereka sesama manusia sedang hancur. Mungkin itu adalah refleksi dari cara pandang beberapa teolog Abad Pertengahan Eropa berpendapat bahwa sukacita “Diselamatkan” sebenarnya ditingkatkan dengan menyaksikan penderitaan para orang terkutuk!

Tak perlu dikatakan, segelintir orang percaya tapi sangat ekstrim fundamentlis akan mengatakan hal-hal itu pada masa kini, dan sulit untuk melihat bagaimana ide sebenarnya dikembangkan, untuk itu sangat berbeda dari cara d’Mshikha sendiri menggambarkan penghakiman-Nya. Dia tidak berbicara menghancurkannya orang-orang, tetapi menghakimi mereka, memisahkan bangsa-bangsa satu dari yang lain seperti gembala memisahkan domba dari kambing[2].

Ide Pengangkatan (Rapture) didasarkan pada 1 Tesalonika 4:15-17 di mana Mar Saul (Paulus) mengatakan bahwa mereka yang mati akan dihakimi terlebih dahulu, sebelum mereka yang masih hidup, dan bahwa setelah itu orang-orang masih hidup akan “diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Maran di angkasa:” Jadi marilah kita memeriksa bagian ini. Kita telah melihat dari tulisan sebelumnya (2 Korintus 12: 2) bahwa Mar Saul adalah kelas Mistik pertama dalam dirinya sendiri. Dan ini tampaknya menjadi acuan untuk turun-Nya d’Mshikha (Sang Mesias) Jagat-jagat dan Penghakiman-Nya terhadap mereka orang-orang di Jagat-jagat Astral dan Jagat-jagat Roh sebelum Dia mengadili orang-orang di bumi. Dan ini jelas benar.

Catatan Uskup Nicholas: Mereka jiwa-jiwa yang di Jagat-jagat Astral dan Roh (alam setelah mati fisik di alam roh), di sini jiwa-jiwa akan dihakimi langsung oleh D’Mshikha:  “Dan sebagaimana hal itu ditetapkan bagi anak-anak manusia, bahwa mereka harus satu kali mati, dan setelah kematian mereka dihakimi.” —(Ibrani 9:26-Peshitta Etheridge) Kapan dihakimi? Mati dahulu baru dihakimi. Di mana dihakimi? Di alam roh (alam jagat astral atau jagat roh).

Mereka yang diam di Jagat Bentuk (the Form Plane) akan melihat D’Mshikha lebih cepat dari pada orang-orang yang berada di Jagat Astral (Astral Plane) dan lebih cepat daripada mereka yang tinggal di Bumi. Waktu mereka menunggu lebih pendek dan waktu mereka berjuang lebih pendek. Selain itu, pekerjaan mereka pada Jagat Roh (the Spirit Plane) tidak begitu sulit seperti yang pada dua jagat lain yang lebih rendah, dan Alaha adalah Adil. Mereka yang bekerja di bumi sedang bekerja dalam situasi yang paling sulit dari semua, dengan godaan dan kesulitan yang lebih besar, oleh karena itu pelayanan mereka layak mendapatkan upah yang lebih tinggi dan memang begitulah akan terjadi. Orang mati memang akan melihat Dia sebelum kita mengalami, tapi upah kita akan menjadi lebih besar. Namun upah utama, Mahkota Kemenangan, adalah sama untuk semua orang di semua tiga Jagat bagi mereka yang bertekun dalam Melayani-Nya sampai Ia datang.

Catatan oleh Uskup Nicholas Lumbantoruan: Perjalanan Spiritual kita lebih sukar di Bumi ketimbang di alam gaib (Sheol: alam roh-roh), dan upahnya juga lebih besar di Bumi. Bumi adalah sekolah bagi napak tilas Jiwa menjalani Jalan Sempit menuju Terang Besar.

Sementara ini jelas berlaku untuk sebagian besar, kemungkinan ada beberapa pengecualian. Ada sejumlah contoh sejarah ketika sejumlah besar hamba-hamba Alaha “Diangkat” ke Surga atau “diangkat” ke dalam awan-awan dengan cara yang sama saat Kenaikan Maran kita pada Hari Kenaikan-Nya. Kita akan membahas mekanisme psikis yang Ia gunakan untuk menghasilkan efek ini di lain waktu, tetapi tidak ada alasan untuk meragukan bahwa Ia bisa menggunakan kemampuan yang sama untuk mempengaruhi hasil yang serupa pada orang lain. Bunda Miriyam yang Diangkat Naik mungkin adalah contoh yang paling terkenal dari jenis keajaiban ini, dan jika kita menerima peristiwa yang digambarkan dalan tuangan kampas seni lukisan seniman dengan cara umum ini, hal ini tentu cara itu terjadi. Contoh lain termasuk “Pengangkatan Musa” (Yudas 1:9; Ulangan 34:6) dan membawa pergi nabi Elia dan kedua hal ini juga telah digambarkan dalam karya seni keagamaan.

Catatan Uskup Nicholas: Kisah “Pengangkatan Miriam ke Surga” seperti Kisah Kenaikan Yeshua diceritakan lisan selama empat abad kemudian dituliskan pada abad kelima Masehi dengan teks berjudul “The Passing of Blessed Mary, De Transitu Virginis (Wafatnya Miriam Terberkati). Kisah ini bersirkulasi dari abad ke-3 dan ke-4, dan dilaporkan dalam serangkaian karya tulis seperti Liber Requiei Mariae (The Book of Mary’s Repose) dan the Six Books Apocryphon, yang kini tetap lestari dalam karya tulis bahasa Syria dan Etiopia, dan kisah ini dituturkan oleh Shliakh Mar Yokhanan sang Penginjil.

Oleh karena itu kita dapat mengasumsikan bahwa “Pengangkatan” semacam itu tentu mungkin terjadi. Namun, kami tidak menyarankan, bahwa semua orang atau bahkan sebagian besar hamba-hamba D’Mshikha akan diangkat naik dengan cara itu ketika Dia datang untuk memerintah di bumi. Kebanyakan mereka akan diberdayakan oleh-Nya dalam pekerjaan-Nya untuk umat manusia di bumi, untuk jelasnya jika Dia memerintah seluruh bumi sebagai Raja, ini akan menjadi tugas kerja besar dan Dia akan membutuhkan banyak hamba-Nya yang setia untuk membantu Dia di dalamnya.

Kedatangan D’Mshikha sebagai suatu Peristiwa Non-Fisik

Namun ada banyak orang Kristen lainnya yang bermain lip-service (bermulut manis) untuk Kepercayaan Kedatangan D’Mshikha Kedua Kali, namun mereka mengusahakan semacam “peningkatan kesadaran spiritual kemanusiaan”, ketimbang kedatangan fisik D’Mshikha. Ide ini sebenarnya hanya salah satu contoh dari Rasionalisme abad ke-19 yang mencoba merasionalisasikan Doktrin Kekristenan (Mshikhanuth), tapi sayangnya ini masih ditemukan di banyak denominasi yang lebih besar masa kini. Ini adalah ajaran resmi Gereja Katolik Roma bahwa D’Mshikha akan datang kembali, dan kebanyakan kelompok Katolik dan Ortodoks mendukung pandangan ini, tapi banyak dari para teolog yang lebih duniawi mereka mencoba untuk merasionalisasi itu menjauhi semacam pola ini.

Para teolog Gereja Roma lainnya menunjukkan bahwa Kedatangan D’Mshikha yang Kedua adalah tidak lebih dari penerimaan di seluruh dunia dari kehadiran-Nya (His Presence) dalam Ekaristi. Mereka menyamakan Kedatangan-Nya dengan beberapa bentuk kemenangan bagi Gereja Roma atas semua denominasi lain, dan sering mengekspresikan pandangan ini dengan mengatakan bahwa; “D’Mshikha akan memerintah melalui Wakil-Nya.” Dengan ini mereka memaksudkan bahwa Sri Paus, kepala Gereja Roma, akan menjadi penguasa de facto dari dunia, sama seperti pada waktu tertentu pada Abad Pertengahan ia adalah penguasa de-facto dari Eropa Barat.

Catatan Uskup Nicholas: Tahbisan Mata Rantai Suksesi Rasuli Gereja Roma paling rumit dan meragukan atas klaim Sri Paus sebagai Pengganti Shiomon Keipha (Petrus) dengan kesulitan sebagai berikut:

  1. Menurut Kisah 1-2, 10-11, 15, Simon Mar Keipha adalah Pemimpin dari Gereja Mshikhanuth awal di Yerusalem, dan Maran Yeshua setelah Kebangkitan-Nya menginstruksikan Shliakh Mar Keipha untuk meneguhkan saudara-saudaranya sesama Para Rasul (Lukas 22:31-32). Jadi Shliakh Shimon Mar Keipha bukan Pemimpin di Roma tetapi di Yerusalem. Kepeimpinan Jemaat Awal di Yerusalem beralih ke tangan Yakub ha-Tzadik saudara Tuhan oleh sebab faktor Shliakh Shimon Mar Keipha melarikan diri dari penjara ketika ditangkap Herodes Aggripa di Yerusalem (Kisah 12:1-24) sekitar tahun 43 Masehi, dia lari ke Antiokia (modern sekarang wilayah Antakya di timur laut Turki), di kota ini ia melayani dan menjadi Uskup pertama sebelum pergi ke Roma ibu kota Kekaisaran Romawi Kuno. Di Antiokia orang percaya yang berbahasa Yunani menyebut diri mereka “Khristianos”, artinya “Orang Kristen,” tetapi mereka yang berbahasa Aramaik-Ibrani menyebut diri sebagai “Nasrani” atau “Meshikhanim” (Kisah 11:26). Primasi Kepemimpinan Shimon Keipha sesungguhnya adalah “Antiokia” bukan “Roma.”

Sebaliknya kunjungan Shliakh Simon Mar Keipha di Roma dipenuhi dengan keraguan sebagai berikut:

Menurut Catatan Sejarah berjudul “The Contending of the Apostles” (Tantangan Para Rasul), Simon Keipha melarikan diri dari Yerusalem dicatat dalam naskah kuni Etiopia:

Tuanku Keipha berpelukan tanda perpisahan dengan saudara-saudara yang tinggal di kota Yerusalem … kemudian dia berangkat ke perbatasan kota Joppa, dan kami berangkat naik kapal dan berlayar melalui jalan laut hingga (kami tiba) di pulau Siprus, di mana kami tinggal selama 3 dan 20 hari, sebab demikianlah Maran memberitahuku [Keipha/Petrus] untuk lakukan….Saat aku masih di pulau Siprus, malaikat Alaha menampakkan diri padaku, dan berkata…”Bangkitlah, DAN  PERGI KE KOTA ROMA “; lalu akupun berangkat ke sana… AKU TIBA DI KOTA ROMA dan memasuki kota ini. – (Translated by E. A. Wallis Budge. London 1901. P. 505).

  1. Menurut Konstitusi Apostolik menunjukkan bahwa Mar Linus, yang ditahbiskan oleh Shliakh Mar Saul/Paulus, adalah Uskup pertama Roma dan digantikan oleh Clement, yang ditahbiskan oleh Shliakh Shimon Mar Keipha. Mar Cletus dipandang pengganti Mar Linus oleh Irenaeus, dan menurut beberapa pandangan lain, yang menyajikan Mar Linus sebagai Uskup pertama Roma atau, jika mereka memberikan Simon Mar Keipha sebagai yang pertama, atau sebagai kedua.
  2. Saksi terawal adalah Irenaeus, yang hidup sekitar tahun 180 menulis: “Para Rasul terberkati, kemudian, telah membangun Jemaat, menyerahkan ke tangan Linus menjabat sebagai Uskup.” The Oxford Dictionary of Popes menyebutkan Irenaeus mengatakan bahwa Linus adalah Uskup pertama Roma. Linus disebutkan oleh Jerome sebagai “yang pertama setelah Simon Mar Keipha dalam mengatur Gereja Roma”, oleh Eusebius, sebagai “yang pertama menerima keuskupan dari Gereja di Roma, setelah peristiwa mati martirnya Simon Keipha dan Saul/Paulus” oleh pernyataan John Chrysostom sebagai “Uskup kedua dari Gereja Roma setelah Keipha”, sementara itu the Liberian Catalogue menyajikan Keipha sebagai Uskup pertama Roma dan Linus sebagai penggantinya dalam jabatan yang sama. The Liber Pontificalis jua menyajikan suatu daftar yang membuat Linus pada posisi garis kedua Uskup-uskup Roma, setelah Keipha/Petrus; tapi pada waktu yang sama saat itu dijelaskan bahwa Keipha/Petrus mentahbiskan dua orang Uskup, Linus dan Cletus, untuk pelayanan keimamatan komunitas, agar dia sendiri bisa mengabdikan dirinya ganti berdoa dan mengajar, dan setelah itu kepemimpinan Jemaat sepenuhnya diserahkan kepada Clement, melantik dia sebagai penggantinya (pengganti Linus). Tertullian juga menyatakan Clement pengganti Keipha. Dan sementara itu, pada karya-karyanya yang lain, Jerome menyebutkan Clement sebagai “Uskup ke-4 Roma setelah Keipha”, namun, “kebanyakan orang Latin berpikir Clement adalah kedua setelah rasul.”

Masalah suksesi rasuli Shliakh Simon Mar Keipha untuk Keuskupan Roma bisa ditelusuri sebagai berikut: Shimon Keipha pergi ke Roma setelah dari Antiokia dan mentahbiskan Clement, sementara itu Mar Saul dan Barnabas ditahbiskan oleh Uskup-uskup Gereja Antiokia dibawah kepimpinan pengganti Simon Keipha, yakni Evodius yang tercatat bersama para Penatua Jemaat Antiokia; “Barnabas, Simeon, Lukius orang Kirene, dan Menahem mentahbiskan Mar Saul dan Mar Barnabas” (Kisah 13:1-3). Dengan demikian Mar Saul memiliki suksesi rasuli murid Dua Belas lewat suksesi rasul Keipha sebagai Uskup pertama Antiokia dan dia juga sebagai Rasul yang diangkat angsung secara Spiritual oleh Maran Yeshua (Kisah 9:15-16; Galatia 1:12,15). Mar Saul punya murid bernama “Linus” sekitar tahun 60-an sebelum ia mati martir di Roma (2 Timotius 4:21). Mar Saul mentahbiskan Linus yang tentunya mewarisi suksesi rasuli Shimon Mar Keipha dan suksesi rasuli spiritual Mar Saul. Jika Mar Linus adalah Uskup pertama diangkat bagi Jemaat Roma, jelas suksesi yang ada padanya mewarisi suksesi rasuli Simon Keipha juga. Kemudian ia digantikan oleh Clement yang ditahbiskan langsung oleh Simon Mar Keipha. Oleh karena itu, Gereja Roma sah dan terbukti memiliki garis suksesi rasuli Simon Mar keipha; persoalannya BUKAN SIMON KEFA (PETRUS) USKUP PERTAMA GEREJA ROMA TAPI LINUS! Kalau begitu apakah Kedudukan Keuskupan Gereja Roma lebih tinggi dari Gereja-gereja Rasuli lainnya? Tidak. Kedudukannya sejajar dengan SEMUA Gereja-gereja Rasuli. Persoalannya Gereja Roma membuat KEBOHONGAN DALAM SEJARAH YANG MEMALUKAN YAKNI:

Pendapat Para Teolog Gereja Roma adalah bersifat “Pausisme” yang mengangkat diri pemimpin Gereja Roma sebagai “Tuan di atas tuan-tuan” (Rasul di atas Para Rasul) yang sebenarnya sejak zaman rasuli SEMUA RASUL adalah SEJAJAR dalam Otoritas dan Hak Keimamatan. Teori primasi Paus muncul oleh akibat Politik Sekuler Romawi runtuh dan adanya Dokumen Surat Palsu yang disebut “The Donasi Constantine” (Latin, Donatio Constantini) adalah dekrit kaisar Romawi ditempa dimana kaisar Konstantin I katanya mentransfer otoritasnya atas Gereja Roma dan bagian barat Kekaisaran Romawi kepada Sri Paus. Dokumen ini direkaasa abad ke-8, surat tersebut digunakan, terutama pada abad ke-13, untuk mendukung klaim otoritas politik kepausan. Lorenzo Valla, seorang imam Katolik Italia dan humanis  Renaissance, mencurigai dan pertama mengekspos pemalsuan dengan argumen ilmu filologis pada tahun 1439-1440 atas Dokumen Donasi Konstantinus, meskipun keaslian dokumen itu telah berulang kali diperebutkan sejak 1001.

Surat Dokumen Palsu Donasi Konstantinus dibuat tak lama setelah tengah abad ke-8, untuk membantu Paus Stephen II dalam bernegosiasi dengan Pepin si Pendek, Walikota Istana Frank. pada tahun 754, Paus Stephen II melintasi Alpen untuk mengurapi raja Pepin, sehingga memungkinkan keluarga Carolingian untuk menggantikan garis kerajaan Merovingian lama. Sebagai imbalan atas dukungan Stephen, Pepin memberi Paus tanah di Italia yang kaum Lombard telah merampasnya dari Kekaisaran Bizantium, tanah ini akan menjadi Negara-negara Kepausan dan akan menjadi dasar dari kekuasaan duniawi Kepausan untuk sebelas abad berikutnya. Kemudian pernyataan Kekuasaan Paus adalah rekayasa duniawi politik Gereja Roma sendiri seperti yang kita baca berikut ini:

Oleh Gregory VII: Dictatus Papae 1090

The Dictatus Papae termasuk dalam daftar Paus pada tahun 1075. Beberapa berpendapat bahwa itu ditulis oleh Paus Gregorius VII (r. 1073-1085) dirinya sendiri, orang lain berpendapat bahwa itu berasal jauh kemudian berbeda. Tahun 1087 Kardinal Deusdedit menerbitkan kumpulan hukum Gereja yang ia sarikan dari berbagai sumber. The Dictatus setuju begitu jelas dan erat dengan koleksi ini bahwa beberapa telah berpendapat Dictatus harus telah didasarkan pada itu; dan kemudian kompilasi dari tahun 1087. Ada sedikit keraguan bahwa prinsip-prinsip dibawah mengekspresikan prinsip Paus.

Diktat Paus:

  1. Bahwa Gereja Roma didirikan oleh Maran Yeshua sendiri.
  2. Bahwa Paus Roma saja yang bisa berhak disebut universal.
  3. Bahwa ia saja yang bisa mencopot atau menempatkan kembali uskup-uskup.
  4. Bahwa, dalam suatu dewan wakilnya, meskipun utusan itu lebih rendah jabatannya, saat dia diutus dia berada di atas semua uskup, dan dapat menjatuhkan hukuman pengendapan terhadap mereka.
  5. Bahwa paus dapat melengserkan yang
  6. Bahwa, diantara lain, kita tidak harus tetap tinggal dalam rumah yang sama dengan yang dikucilkan oleh dia.
  7. Bahwa baginya saja diperbolehkan, sesuai dengan kebutuhan saat itu, untuk membuat aturan-aturan baru, untuk mengumpulkan jemaat bersama-sama, untuk membuat biara yang kanonis; dan, di sisi lain, untuk membagi keuskupan kaya dan menyatukan orang-orang miskin.
  8. Bahwa ia sendiri saja dapat menggunakan lambang kekaisaran.
  9. Bahwa kepada paus saja semua pangeran harus mencium kaki.
  10. Bahwa namanya saja harus diucapkan di gereja-gereja.
  11. Bahwa ini adalah satu-satunya nama di dunia
  12. Bahwa ini dimungkin baginya untuk menggulingkan para
  13. Bahwa dia saja yang dapat diizinkan untuk mentransfer uskup jika perlu
  14. Bahwa ia memiliki kekuasaan untuk menahbiskan seorang pegawai gereja apapun yang dia mungkin inginkan.
  15. Bahwa dia yang ditahbiskan olehnya boleh memimpin gereja lain, tapi mungkin tidak memegang posisi bawahan; dan bahwa orang yang diangkat ini tidak boleh menerima tingkatan yang lebih tinggi dari seorang uskup.
  16. Bahwa tidak ada sinode yang disebut umum tanpa perintahnya. Bahwa tidak pasal dan tidak ada buku yang dipandang kanonik tanpa otoritasnya.
  17. Bahwa hukuman yang dijatuhkannya tidak dapat dibatalkan oleh siapa pun; dan bahwa ia sendiri, sendiri dari semua, mungkin membatalkan hal
  18. Bahwa dia sendiri tidak bisa diadili oleh siapapun.
  19. Bahwa tidak boleh ada orang yang akan berani mengutuk orang yang duduk pada kursi
  20. Bahwa untuk yang terakhir harus dirujuk kasus yang lebih penting dari setiap gereja.
  21. Bahwa Gereja Roma tidak pernah keliru; juga tidak akan berbuat salah untuk selamanya, saksi pengusung
  22. Bahwa Paus Roma, jika ia telah secara kanonis ditahbiskan, tidak diragukan lagi dibuat kudus oleh jasa-jasa dari Santo Petrus; St. Ennodius, uskup Pavia, kesaksian, dan banyak para bapa suci setuju dengan dia. Seperti yang terkandung dalam ketetapan-ketetapan St. Symmachus sang
  23. Bahwa, melalui perintah dan persetujuannya, hal itu diperkenankan bagi bagi bawahan untuk membawa tuduhan-tuduhan.
  24. Bahwa ia mungkin melengserkan dan mengembalikan uskup tanpa mengumpulkan sinode.
  25. Bahwa dia yang tidak berdamai dengan gereja Roma tidak akan dianggap katolik.
  26. Bahwa ia mungkin membebaskan keterikatan dari kesetiaan mereka kepada orang-orang jahat.

Diterjemahkan Ernest F. Henderson, Select Historical Documents of the Middle Ages, (London: George Bell and Sons, 1910), pp. 366-367 (sumber: fordham.edu)

Kesimpulan: Diktus Papae yang direkayasa Paus Gregory VII: Dictatus Papae 1090, tidak ada efek pada Gereja-gereja Rasuli lainnya, sebab tidak ada konsensus Rasuli dan perintah Maran Yeshua D’Mshikha bar Alaha memerintahkan tunduk kepada Satu kepimpinan Gereja Rasuli. Ini semua adalah ambisi politis Gerejawi Roma Katolik di Barat yang ingin menguasai dunia dengan mengisi kekosongan Kekaisaran Romawi yang telah runtuh. Semua pasal 1-25 Dictatus Papae adalah “Pernyataan Menjaring Angin” yang sia-sia, dan justru Gereja Roma Katolik satu-satunya penyebab semua akar penyesatan doktrin dan moral Gerejawi di bumi ini sejak zaman awal.Suksesi Rasuli adalah benar dari Shliakh Simon Mar Keipha, tetapi Ajaran-ajaran Moral dan Doktrin Rasuli telah dirusak dan ditambahi dari abad ke abad sehingga melahirkan sikap protes dari umat Katolik sendiri, khususnya pada Abad Pertengahan yang diprakarsai oleh biarawan Marten Luther (abad ke-16) dari Jerman. Sehingga lahirlah Reformasi Protestan. Dengan demikian “bunda penyesat ajaran rasuli dan moral Alkitabiah adalah Gereja Roma sendiri yang diikuti oleh anak-anaknya.”

Jika berbicara masalah Kedatangan Tuhan Kedua Kali sudah terjadi dalam Ekaristi dalamkonsep Katolik Roma, ini merupakan penyimpangan Ajaran Rasuli. Ini sengaja direkayasa agar semua orang tertuju kepada Gereja Roma di mana Tuhan telah hadir dalam Ekaristi mereka dengan demikian kedudukan Paus menjadi kuat sebagai Wakil Tuhan di bumi yang menghadirkan diri-Nya.

Dalam Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Katolik lainnya, bahwa Kehadiran Maran Yeshua dalam Roti dan Anggur dalam Ekaristi/Qurbana bukanlah Kehadiran Kedua Kali tetapi “Shekinah” (Kehadiran Ilahiah-Nya) hadir mengubah (transubstansiasi) unsure Roti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya sebagaimana digambarkan dalam Kehadiran Ilahi dalam Ruang Maha Suci di Bait Suci.

Ajaran-ajaran Gereja Roma Katolik sangat licik membelokkan Kebenaran Alkitabiah untuk merujuk kepada dirinya sendiri.

Parousia (Kedatangan)

Banyak orang Kristen lainnya tidak jelas tentang apa yang mereka harapkan untuk melihat ketika D’Mshikha datang, tapi dari zaman Alkitab awal sudah ada yang menantikan Kedatangan-Nya – Parousia. (Sebuah kata Yunani yang berarti Advent/Kedatangan). Istilah ini digunakan secara luas pada periode tersebut, ketika itu umumnya mengharapkan D’Mshikha Kembali segera.

Catatan Uskup Nicholas: Parousia dalam bahasa Yunani dan “Maranatha” dalam bahasa Aramaik yang sangat terkenal disebutkan dalam Kitab Sefer Limudah/Didakhe.

Hal ini jelas bahwa dalam decade-dekade setelah Perayaan Savuoth – Pentakosta, Parousia Mshikha diharapkan segera, dan ada beberapa referensi dalam Surat-surat kanonik yang mendukung pandangan ini. Bahkan ada laporan bahwa D’Mshikha muncul dengan banyak para pengikut berada di awan-awan di atas Yerusalem sebelum Keruntuhan Bait Suci Yerusalem tahun 70 M.

Catatan Uskup Nicholas: Josephus (AD 75) – Sejarawan Yahudi: “Selain [tanda-tanda] ini, beberapa hari setelah pesta itu, pada hari-ke dua puluh satu bulan Artemisius, [Jyar,] sebuah fenomena yang luar biasa dan menakjubkan muncul, saya kira kisah ini tampaknya dongeng saja, kalau bukan terkait dengan orang-orang yang melihatnya, dan tidak peristiwa itu saja yang mengikuti alam sebagai sebagai yang layak terhadap sinyal-sinyal tersebut, karena, sebelum matahari terbenam, kereta dan pasukan tentara berbaju besi mereka terlihat berjalan di sekitar di antara awan-awan, dan menyelimuti kota-kota. Selain itu, pada saat itu pesta yang kami sebut Savuoth, sebagai para imam akan masuk pada malam hari ke dalam ruang inti dalam [pelataran] bait suci, seperti adat istiadat mereka, untuk melakukan pelayanannya suci mereka, mereka mengatakan bahwa, di tempat pertama, mereka merasa gemetar, dan mendengar gemuruh yang dahsyat dan setelah itu mereka mendengar suara sebagai himpunan besar orang-orang, mengatakan, “Marilah kita robohkan” (Perang Yahudi, VI-V-3). Sebuah penampakan supranatural terlihat, terlalu luar biasa untuk bisa dipercaya. Apa yang saya sekarang kaitkan, saya bayangkan, bukan sebagai imajinasi, ini tidak dijamin oleh para saksi mata, kemudian diikuti oleh bencana berikutnya yang merupakan bukti tepat dari sinyal. Karena sebelum kereta-kereta matahari terbenam terlihat di udara di atas seluruh negeri, dan batalion – batalion bersenjata melaju melalui awan-awan dan mengelilingi kota-kota. “(Diterjemahkan Chilton)

Kesejarahan tampilan ini memberikan didukungan oleh sejarawan Yahudi bernama Josephus yang menceritakan tentang keberadaan rombongan Pasukan besar di awan-awan, dan yang juga menggambarkan Komet Halley sebagai yang menggantung seperti pedang besar atas kota yang hancur. Bagi orang-orang Kristen, tentu saja penglihatan Josephus yang dalam wujud “pedang” akan dilihat sebagai Tanda Salib – “Tanda Anak Manusia di di langit” yang telah dijanjikan oleh D’Mshikha pada Mar Mattai 24: 30.

Tapi meskipun D’Mshikha mungkin telah muncul pada waktu itu dan mengecam Kota yang telah menolak Dia, sisa Janji-Nya tentang Kedatangan Kedua-Nya belum dipenuhi. Tidak “setiap mata” melihat Dia pada waktu itu, tidak pula Dia kemudian mengumpulkan sisa-sisa orang Israel dari “keluar dari negeri utara, dan dari segala negeri ke mana Aku telahmenceraiberaikan mereka.”

Dan tentu Dia belum memerintah sebagai “Raja atas seluruh bumi”, sebagaimana Ia sendiri (Mar Mattai 25:32) dan begitu banyak nabi-nabi lainnya telah memprediksi. (Zakharia 14:9. Lihat juga Mar Lukas 1:32,33 & Wahyu 11:15).

Masa Kesengsaraan

Hal ini umumnya dipercaya, juga bahwa Kedatangan D’Mshikha akan didahului dengan masa kesusahan besar di mana para pengikut D’Mshikha yang sejati akan mengalami kepahitan dianiaya dan daya kekuatan materialisme akan menjadi dominan. Ada banyak referensi Alkitab yang meramalkan zaman ini. D’Mshikha sendiri, mengatakan dalam Mar Mattai 24: 21, 22; Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang ini, tidak, tidak akan terjadi lagi. Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka tidak aka nada lagi orang yang diselamatkan: tetapi demi orang-orang pilihan hari-hari itu akan dipersingkat.

Mar Saul menggambarkan periode ini dalam Surat Kiriman Keduanya kepada Mar Timotius, pasal 3, 1-5. Ketahuilah ini juga, bahwa pada hari-hari terakhir masa yang sukar akan datang. Sebab manusia akan mencintai diri mereka sendiri, tamak, membual dan sombong, bangga, mereka akan berontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak senonoh, Tanpa kasih sayang alami, pelanggar janji, penuduh palsu, tak dapat menahan diri, galak, memandang rendah dari mereka yang baik, Pengkhianat, gegabah, tinggi hati, memuja kenikmatan dari pada mengasihi Alaha; Memiliki bentuk kesalehan, tapi hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya: Jauhilah hal semacam itu.

Hal ini jelas bahwa banyak dari nubuat-nubuat ini, meskipun secara fundamental benar, ada nyata sekali salah menggambarkan, biasanya dalam upaya untuk mendukung satu posisi filosofis terhadap yang lain. Tetapi tidak ada keraguan bahwa masa-masa sulit sedang mendekat. Akhir dari Zaman selalu suatu waktu kesusahan dan banyak nabi-nabi telah memperingatkan kita bahwa runtuhnya peradaban Barat mendekati.

Hal ini jelas bahwa keruntuhan ini bisa terjadi dalam setidaknya dua cara yang berbeda – baik melalui anarki atau melalui kediktatoran. Kita pada masa kini dapat melihat bahwa ancaman teroris meningkat bisa dengan mudah menghasilkan keadaan anarki, sementara respon pemerintah memaksakan lebih dan lebih terhadap pembatasan kebebasan sipil bisa dengan mudah berakhir dengan kediktatoran. Dalam upaya untuk membuat para pendukung kita sebebas mungkin dari ancaman kembar ini, kita selalu disarankan untuk menjadi seperti mencukupi diri sendiri (self-sufficient) sebisa mungkin.

Anti-Kristus (Anti-D’Mshikha)

Namun, dari dua ancaman, kediktatoran oleh pemerintah yang anti-agama tidak diragukan lagi bahaya yang lebih besar bagi Mshikhanuth (Kekristenan) dan kita dan memang sebagian denominasi-denominasi lain mengharapkan saat kesusahan untuk menyertakan seorang pemimpin anti-agama besar umumnya disebut Antikristus (Anti-D’Mshikha). Tidak ada waktu di sini untuk mempertimbangkan pokok ulasan ini secara rinci, namun banyak yang telah ditulis tentang orang ini, baik dalam agama dan di kalangan sekuler. Menurut Mar Yokhanan, (1 Yokhanan 2: 18) ada banyak anti-d’mshikha pada zamannya, tetapi ia juga mengacu pada nubuat yang besar “Anti-d’Mshikha” yang akan datang.

Dalam Kitab Wahyu ia membuat jelas bahwa istilah ini mengacu pada satu orang (Wahyu 13:18), tetapi juga mengacu pada Binatang yang akan naik dari Jurang Maut. Gagasan “Antikristus” (Anti-d’mshikha) tidak terbatas pada tulisan-tulisan keagamaan. Jeanne Dixon pelihat Amerika terkenal pernah berkata bahwa orang yang akan menjadi Antikristus telah lahir di Timur Tengah pada tahun 1961. Catatan: Saya tidak mendukung atau mengutuk nubuatan ini. Saya hanya menyebutkan sebagai contoh pandangan modern sekitar Antikristus. Kelompok-kelompok lain juga mengharapkan pertempuran terakhir antara para pemimpin kekuatan baik dan kekuatan jahat di bumi.

Armegeddon

Pertempuran terakhir ini biasanya disebut pertempuran Armegeddon kata yang berasal dari bahasa Ibrani “Ha-Meggidon”, mengacu pada dataran besar Meggido di Israel utara di mana Salomo membangun kandang untuk kuda-kuda untuk pasukan kavaleri dan kereta-kereta kuda perangnya. (1 Raja-raja 9:15) Para arkeolog telah menemukan bukti banyak pertempuran besar yang berjuang di wilayah ini, terutama kemenangan besar Firaun Thutmose III atas bangsa Kanaan pada abad ke- 15 SM (Lihat juga 2 Tawarikh 35:22 & Zakharia 12:11)

Menurut Shliakh Mar Yokhanan (Wahyu 16:16) peristiwa itu akan berada di Armageddon bahwa pertempuran terakhir antara kebaikan dan kejahatan akan berlangsung, di mana D’Mshikha dan para pengikutnya akan menang atas kekuatan jahat. Dan meskipun kita harus ragu-ragu untuk mengklaim bahwa itu perlu akan berlangsung di situs ini, atau bahkan bahwa itu akan menjadi pertempuran fisik persisnya, dapat dipastikan bahwa perang antara kebaikan dan kejahatan akan mencapai puncaknya sebelum D’Mshikha dapat memerintah sebagai Raja.

Non-Mshikaye dan Kedatangan D’Mshikha

Tapi itu tidak hanya orang Kristen (Mshikaye) yang mengharapkan D’Mshikha Kembali. Mereka mungkin tidak mengenal Dia dengan Nama itu, tapi semua agama besar lain di dunia mengharapkan “Satu Sosok Mulia” yang akan datang dan membangun era baru dan mulia di bumi. Satu masa pengisian spiritual kembali dan Perdamaian dan bahkan keadaan sejahtera dan kemakmuran – sungguh Zaman Emas.

Tidak ada waktu di sini untuk memberikan rincian besar meskipun saya akan melakukannya di tempat lain, tetapi gambaran singkat dari keyakinan agama besar disediakan bersama-sama dengan tabel di bawah ini yang membandingkan berbagai pandangan dan ide-ide.

sosok mesias di agama lain

Untuk Hindu, yang tertua dari semua agama besar di dunia, yang akan datang adalah “Kalkhi” Inkarnasi Kesepuluh Wisnu Sang Pemelihara, yang memainkan peran serupa dalam Hindu Trinity dengan Kristus dalam kita sendiri. Literatur mereka mempertahankan cerita, yang mungkin atau mungkin tidak didasarkan pada fakta, dari beberapa inkarnasi sebelumnya, yang paling penting adalah Rama, pangeran ideal dan Krishna prajurit besar.
Umat Buddha, perlu dipahami bahwa Buddha bukanlah Tuhan, tetapi hanya Yang Mendapat Pencerahan, mencari yang lainnya. Meskipun ada perbedaan dalam agama Buddha, umumnya mereka mencari “Maitreya” Kelima Tercerahkan (Gautama adalah Keempat) dan berharap bahwa ketika Dia datang dia akan memberikan belum lebih lanjut “Pencerahan” untuk seluruh umat manusia.

Muslim mencari kedatangan “Mahdi” Anak Allah, tidak kurang! Dan mengingat bahwa mereka tidak mengakui Yesus seperti itu, ini mungkin tampak aneh, meskipun teolog mereka tidak berarti menyetujui implikasi dari istilah dan tentu saja umumnya tidak mengharapkan Datang untuk menjadi Ilahi

Yahudi masih mencari kedatangan Mesias yang dijanjikan mereka, meskipun tanpa mengakui bahwa Dia telah berkunjung dan bahwa mereka menolak Dia 2000 tahun yang lalu. Mereka masih berharap bahwa Elia akan bertindak sebagai pelopor, dan masih banyak menyimpulkan upacara Paskah dimodernisasi mereka dengan menyediakan tambahan segelas anggur untuk menghormatinya.

Jainisme mencari Cosmic baru, yang akan diantar oleh yang pertama dari seri baru Tirthankaras. (Vardhamana adalah 24 dan terakhir dari lama Age.). Zoroastrian bersama dengan sejumlah kelompok yang lebih kecil juga mencari “Datang”, Saoshyans (atau Saoshyant) yang akan memulai New Golden Age.
Dengan pengecualian dari beberapa anggota kelompok Judao-Kristen-Muslim dari agama hampir semua orang lain tidak melihat Datang sebagai Unik. Dia hanyalah satu dari serangkaian Ones Besar, atau Reinkarnasi Yang Sama Besar Satu, dan seperti yang telah Dia lakukan berkali-kali di masa lalu Dia diperkirakan akan memperbaharui spiritualitas dunia dan mengantar New Age. Ini adalah pandangan yang kita akan luas setuju, dan sebenarnya ada banyak indikasi dalam Alkitab bahwa Kristus telah berkunjung ke bumi sebelumnya.
Kedatangan Kristus seperti yang kita lihat.

Ada banyak nubuat tentang kedatangan Kristus, dan mereka ditemukan baik dalam Alkitab dan dalam tulisan-tulisan Mistik kita sendiri. Kita tidak melihat kedatangan Kristus sebagai yang mengarah ke kehancuran dunia, melainkan untuk akhir dari Zaman ini dan pembentukan Satu Yang Baru. Kami percaya bahwa akan ada banyak hal mengerikan yang mendahului Kedatangan-Nya, tetapi dengan membantu mempersiapkan jalan-Nya, kita percaya bahwa kita dapat membantu untuk meringankan penderitaan itu, karena dijanjikan Mshikha

Matius 24; 22: “oleh karena orang-orang pilihan waktu akan dipersingkat. “

Tetapi Dia tidak bisa datang terlalu cepat, untuk yang lain akan banyak orang di dunia tidak mau menerima Dia. Banyak orang saat ini hanya tertarik pada kesenangan duniawi dan mereka pemerintahan Kristus akan membutuhkan pengorbanan. Hal harus mendapatkan cukup buruk sebelum orang tersebut akan bersedia menerima-Nya. Tetapi Dia tidak bisa datang sampai setidaknya persentase besar lakukan, dan alasannya adalah tidak sulit untuk menemukan. Hal ini terhubung dengan Free Will bahwa Alaha telah diberikan kepada kita masing-masing. “Jika Dia datang terlalu cepat Dia harus datang untuk merobek, Ia harus datang untuk menghancurkan, bukan untuk memperbaiki, tetapi Dia adalah Cinta.”

Namun, jika kita berharap untuk diberi nomor di antara orang-orang pilihan-Nya, akan melakukan yang terbaik untuk mempercepat hari kedatangan-Nya kembali dengan bekerja dan berdoa menjelang akhir itu dan dengan demikian kami juga bisa mendapatkan hak untuk mengakhiri inkarnasi duniawi kita sendiri. The Ending dari Era adalah selalu waktu pengujian. “Beberapa orang mungkin lulus tetapi yang lain akan gagal, bagi jiwa manusia lemah dan rapuh, tetapi orang-orang yang benar akan memainkan bagian mereka, telah membayar utang mereka dan akan segera melengkapi siklus mereka hidup di bumi”.

Seperti banyak agama lain kita melihat Kristus sebagai Tuhan Salvator yang datang ke bumi secara teratur untuk membantu maju semua jiwa dalam inkarnasi. Dan karena kami percaya bahwa semua ciptaan yang lebih rendah juga memiliki jiwa, kami percaya Dia membantu mereka juga. Banyak orang tidak percaya bahwa hewan memiliki jiwa, dan bahkan jika mereka melihat bahwa kedatangan Kristus akan bermanfaat bagi umat manusia, mereka tidak percaya bahwa hal itu akan membantu sisa Penciptaan. Ini tentu akan, dan jika kita berhenti sejenak untuk mempertimbangkan berapa banyak kekuatan spiritual dibawa ke bumi oleh kedatangan Dia Yang sebenarnya Ilahi, kita akan menyadari bahwa ini harus begitu. Sang Penyelamat datang ke bumi untuk membantu kemajuan spiritual semua jiwa-jiwa yang dekat dengan akhir putaran mereka hidup di bumi, tetapi dalam melakukan hal ini Dia juga mempercepat kemajuan semua jiwa-jiwa muda.

“Bumi gulungan selama bertahun usia yang dan jiwa paling sederhana akhirnya menjadi bijak dan kemudian melewati melampaui keberadaan duniawi. Kemudian siklus lain dari roh akan naik dari bentuk rendah hati kepada negara manusia, untuk seperti adalah hukum Allah. Dan seperti adalah kasih Kristus Raja bahwa setiap siklus ayunan rumah lagi Dia buru-buru kembali ke bumi agar Dia mungkin kemudian mengumpulkan Band pilihan-Nya jiwa yang sempurna dari setiap tanah agar Dia dapat menyelamatkan mereka dari kembali.”

INILAH CARA MSHIKHA AKAN DATANG DAN MENGAPA

Kapan? secara substansial sebenarnya terserah kita. Orang harus ingin Dia datang kembali, yang kita maksud, persentase besar penduduk dunia. Semakin banyak orang yang bisa kita membujuk untuk berdoa dan bekerja menuju mempercepat Kedatangan-Nya, semakin cepat Dia akan kembali. Tapi Dia tidak bisa menunggu untuk semua.

Dan ada alasan yang sangat penting mengapa Dia tidak bisa menunggu selamanya, seperti yang telah kita lihat, untuk karena semakin banyak jiwa mencapai titik tertentu dalam evolusi spiritual mereka, kebutuhan mereka akan Dia dan Wahyu Baru bahwa Dia akan membawa bersama-Nya menjadi lebih dan lebih menekan. Kebutuhan mereka, seolah-olah tempat yang “mungkin waktu terakhir” untuk Kedatangan-Nya, sementara meningkatnya jumlah orang-orang yang menginginkan kehadiran-Nya, berarti bahwa “waktu secepat mungkin” bisa sekarang.
JIKA ANDA INGIN MESHIKHA DATANG LAGI SEGERA, BERDOALAH UNTUK HAL INI dan meminta orang lain melakukan hal yang sama. UNTUK OLEH SEBAB SETIAP SATU DARI ANDA MUNGKIN berperan dalam mempercepat HARI KEMBALINYA SANG MHSIKHA KE BUMI.

[1] Kolose 1:15; Roma 8:29

[2] Mar Mattai (Matius) 25:32