KEBUNDAAN ALAHA

KEBUNDAAN ALAHA 2018-02-08T08:41:56+00:00

 

Oleh, Primat Metropolitan Archbishop Mar John Cuffe, D.D., C.K.C

Diterjemahkan, Shm. Hilrion H.Toruan

BUNDA ALAHA

Dilukis oleh Anson Dwyer dari deskripsi yang disediakan oleh pakar mistik kita J.S.M. Ward tahun 1930

Studi Arkeologi sederhana akan mengungkapkan perihal penyembahan tertua dengan jelas didasarkan sekitar ide Kebundaan Alaha, dan pada kebanyakan belahan dunia Agama Matriarkal (Kebundaan), dengan penekanannya pada Kesuburan, tampaknya mendahului Keagamaan Patriarkal (Kebapaan), dengan penekanannya pada korban-korban darah yang brutal.

Keyakinan dari Perjanjian Lama (Tanakh) kaum Yahudi termasuk diantara yang terakhir, tapi meskipun demikian, kontak Abraham dengan kebundaan Ur dari bangsa Kaldea memastikan ide dari Aspek Perempuan dari Keilahian (Qnome perempuan dari Alahotha) bertahan paling sedikitnya hingga zaman Mshikha. Sebenarnya, sejarah mengungkapkan bahwa sebelum Kedatangan Mshikha hampir semua Agama-agama mengakui Kebundaan Alaha, atau paling sedikitnya penyembahan terhadap Aspek Perempuan dari sang Alahotha.

Bunda Ilahi dalam Kekristenan (Mshikhanuth) Awal

Bagi kaum Yahudi Perjanjian Lama dan Mshikhaye Awal sang Roh Kudus (Ruakh haQodesh) adalah Aspek Bunda dari sang Alahotha/Keilahian, dan sesungguhnya hingga paling sedikitnya abad ke-4 Masehi Bapa-bapa Gereja masih merujuk kepada sang Roh Kudus sebagai jenis kelamin Perempuan. Ini khususnya benar dari mereka Bapa–bapa menulis dalam bahasa Aramaik, bahasa Maran kita, dari pada mereka yang menulis dalam bahasa Yunani atau Latin.

Alasan-alasan bagi hilangnya pengetahuan ini dalam Kekeristenan Barat adalah banyak dan ini bukan tempatnya di sini untuk menguraikannya lebih rinci, tapi beberapa hasil musibah muncul jelas hanya dari: Roma Katolik mengangkat tinggi Perawan Miriam kepada status Ilahi-baru dalam kerangka usaha mengisi kekurangan ini, sebaliknya banyak kelompok Protestan merespons dengan mengabaikan kewanitaan atas dasar total bagi penundukan keagamaan.

Alasan-alasan ringkas bagi keyakinan Kebundaan Alaha dijelaskan di bawah ini:

Kata bagi `Roh’ adalah jenis kelamin PEREMPUAN (Ibrani, disebut “Ruakh”), baik itu dalam bahasa Ibrani dan turunan-turunannya kemudian, Aramaik dan Syriak (dengan istilah d’Rukha). Berlawanan, dalam bahasa Yunani kata ‘Roh’ berjenis kelamin NETRAL, dan dalam bahasa Latin berjenis kelamin LAKI-LAKI. Kekristenan Barat secara kesejarahan berasal dari turunan pengguna bahasa Latin Gereja Roma Katolik, dan konsekuensinya sang Roh Kudus secara umum dipandang sebagai MASKULIN (Laki-laki) di Barat.

(Catatan oleh Uskup Nicholas: khusus sekte sesat Saksi Jehova yang mengikuti bidat presbiter Arius dari Gereja Ortodoks Koptik yang melandaskan bahasa teologisnya basis Yunani, maka memahami ‘Roh’ dalam wujud jenis kelamin NETRAL sehingga dampak teologisnya mengatakan “Roh Kudus” itu hanya ‘Daya Aktif Ilahi’ atau ‘Energi Daya Kuasa Alaha’ bukan bagian dari Qnome Tlitayutha (Aspek Kebundaan Alaha Tiga Esa).  

Ini umunya tak terjadi diantara Gereja-gereja Timur Jauh. Bahkan dalam bahasa Yunani, di mana kata aktual itu adalah Netral, simbol dari sang Roh Kudus, burung merpati, adalah jenis kelamin perempuan dan dengan demikian Gereja-gereja yang berbahasa Yunani pun selalu lebih simpati kepada ide ini, sementara itu Gereja Syria, dari Liturgi kami adalah turunan yang masih menggunakan bahasa Syriak Kuno yang mana kata ROH itu adalah berjenis kelamin perempuan (femina). Inilah, tapi satu alasan yang kita juga lihat perihal Dia sebagai Aspek/Qnome Perempuan dari Tlitayutha(Tiga Esa).

Nama-nama Yahudi lainnya bagi sang Roh Kudus termasuk:

Shekinah (dari kata Ibrani `shkn’ `berdiam’). Istilah ini digunakan oleh Philo, ini tidak ditemukan dalam Perjanjian Lama. Ini disamakan dengan “Api Ilahi” atau “Kemuliaan sang Adonai” dan istilah terakhir ditemukan dalam Perjanjian Lama (Keluaran 16: 10, I Raja-raja 8: 11) dan jelas merujuk kepada sang Roh Mar-Yah. Hikmat (Ibrani, ‘Choqma’). Dalam literatur Ibrani kemudian ini seringkali mengacu sebagai satu dari atribut-atribut (Sephiroth) dari Alaha, dan dipersonifikasi oleh beberapa penulis, termasuk Salomo (Amsal 4: 6-13, Amsal 8: 1-36) dan Yeshua sendiri (Mattai 11: 19, Lukas 7: 35) sebagai jenis kelamin Perempuan. Meskipun bias teologis dari hampir semua penterjemah Alkitab kedalam bahasa Inggris, masih ada banyak referensi dalam Perjanjian Lama dan Baru yang mendukung keyakinan Kewanitaan dari sang Roh Kudus.

(Catatan oleh Uskup Nicholas: jadi istilah ‘Bunda Gereja’ yang banyak dianut dikalangan Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Roma Katolik seharusnya tidak merujuk kepada Miriam Terberkati, tetapi kepada Ruakh haQodesh sendiri karena hanya sang Roh Kudus saja yang bisa melahirkan Gereja! Miriam hanya melahirkan Mshikha secara daging.)

Konsep dasar filosofis dari Alahotha, baik itu dalam Alkitab dan yang lainnya yakni Alaha dipandang SEMUA dalam SEMUA, (I Kor. 15: 28) atau sebagai Terjemahan Alkitab the Revised Standard Version menuliskannya “segala sesuatu bagi setiap orang.” Jika konsep ini benar pastilah ada Aspek Kewanitaan atau Sisi Kewanitaan dari sang Ilahi (Alahotha).

Ada banyak referensi terhadap Mshikha sebagai sang Anak Tunggal (Only-begotten) atau Putra Sulung yang Diperanakkan (First-begotten Son) dari Alaha, baik itu dalam Alkitab dan literatur Kristen lainnya. Tapi jika istilah “diperanakkan” tidak salah digunakan dalam semua ini pada tempat-tempat berbeda pastilah ada Prinsip perempuan terlibat. Dia diperanakkan oleh Dia sang Bapa hanya ketika Dia (Anak) dikandung oleh seorang Bunda. Oleh karena itu setiap orang dari referensi di atas memberitahu kita bahwa Mshikha adalah Anak yang Diperanakkan Alaha sang Bapa juga menyiratkan bahwa Ia memiliki Bunda Ilahi. Ia, sang Sabda, adalah “pada mulanya bersama Alaha,” maka kita tidak hanya merujuk Miriam manusia perempuan yang mengandung Dia (Yeshua) di sini di bumi, tapi bagi Pribadi/Qnome Ilahi Perempuan yang seperti sang Bapa telah ada dari semua Kekekalan. Shahadat Nikea, yang diterima oleh hampir semua Mshikhanim (orang-orang Kristen) masa kini ini sendiri mendukung keyakinan ini, mengatakan bahwa Mshikha “Diperanakkan dari sang BapaNya sebelum semua Dunia-dunia.” Bahkan Shahadat yang lebih awal dan otoritatif sejajar yakni Shahadat Shlikhim (Pengakuan Rasuli) sesungguhnya berkata bahwa Dia “Dikandung oleh sang Roh kudus.”

Ada banyak referensi Alkitab yang mendukung keyakinan dalam Kebundaan Alaha, berikut ini ada penjelasan ringkas tapi contoh yang cukup representative. Kita diberitahu bahwa alaha membuat umat manusia dalam gambarNya sendiri. Oleh karena itu sebagaimana ada laki-laki dan perempuan dalam manusia, kita dijuluki untuk melihat laki-laki dan perempuan dalam Alaha. Ada tertulis: “Dan Alaha bersabda, `Marilah KITA menciptakan MANUSIA dalam gambar Kita, menurut Kita . . . laki-laki dan perempuan Dia ciptakan mereka . . .” (Kejadian1: 26-27) “. . .dalam keserupaan Alaha menciptakan Dia dia, laki-laki dan perempuan menciptakan Dia mereka dan memberkati mereka dan memanggil nama mereka. . . (Kejadian 5: 2.)

Hikmat diidentifikasi sebagai keberadaan perempuan. “Dia (perempuan) adalah pohon kehidupan bagi mereka yang meletakkan pegangan padaNya. . . Adonai oleh hikmat mendirikan bumi.” Amsal 3: 18-19. Hikmat adalah sama-Kekal dengan sang Bapa, dan oleh karena itu Ilahi. Dalam Amsal 8: 22-30, Dia (perempuan) dikutip sebagaimana berkata “. . . Adonai menguasai Aku sejak awal. . . . Aku menetapkan dari Kekekalan, dari awal, atau pernah bumi ada. . . ketika Dia menentukan  dasar-dasar dari bumi ketika Aku ada oleh Dia sebagai Satu yang dibesarkan bersama dengan Dia. Hikmat sang Bunda dari SEMUA, termasuk Mshikha,  Putra Pertama Diperanakkan Alaha. Pada Lukas 7: 31-35 Mshikha berkata: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini. Mereka seumpama anak-anak . . . Karena Yokhanan haMikveh datang. . . . dan kamu berkata ‘Ia kerasukan setan’. Anak Manusia datang. . . dan engkau berkata. . . . sahabat para pemungut cukai dan orang-orang pendosa! Tapi Hikmat dibenarkan oleh semua anak-anak-Nya.