AJARAN REINKARNASI III

///AJARAN REINKARNASI III
AJARAN REINKARNASI III 2018-02-08T08:41:56+00:00

RE-INKARNASI

Oleh, Metropolitan Archbishop Mar John Reginal Cuffe, CKC, D.D

Diterjemahkan oleh, Rt.Rev. Bishop Mar Nicholas H.Lumbantrouan, CKC

http://www.orthodoxcatholicchurchofthenewage.com/

http://orthodoxcatholicnew.tripod.com/

GEREJA NASRANI INDONESIA

Keuskupan Gereja Nasrani Ortodoks Katolik Satu Kudus Rasuli Indonesia

Dibawah Jurisdiksi Primat Metropolitan Keuskupan Agung Orthodox Catholic Church of the New Age – Australia

Banyak Penjelmaan-penjelmaan dari Roh Manusia Khususnya.

Tuturan Hikayat

Sudut Pandang Mistik Modern terhadap Reinkarnasi (Ibrani: Gilgulim) diungkapkan dalam Bentuk naratif seperti “Tuturan Hikayat” bersama dengan komentar.

Ajaran Gilgul (Ibrani: גִּלְגּוּל- gilgul, yakni “siklus”, plural גלגולים – Gilgulim, yaitu siklus-siklus) terkait dengan Jiwa-jiwa (Ibrani: הנשמות- neshamot) dalam bentuk plural bagi “jiwa-jiwa”, Gilgul Neshamot merupakan Reinkarnasi Jiwa-jiwa. Ajaran ini memang tidak eksplisit dijelaskan dalam Torah, tetapi bukan berarti tidak ada. Ini membutuhkan riset mendalam dalam Kitab Suci untuk mengetahui jelasnya.

Doktrin reinkarnasi menyediakan suatu sudut pandang dari berbagai macam aspek hidup manusia di bumi; pelajaran-pelajaran ia butuhkan untuk dipelajari, hutang-hutang ia wajib bayar dan efek dari tabur tuai

[karma] ia dapatkan. Kita mengerti bahwa setelah menyelesaikan penjelmaan-penjelmaan hewani mereka [bukan berarti menjelma menjadi hewan tetapi tabiat ‘kebinatangan’ yang ia lakukan], dua roh-roh kebinatangan menyatu dalam Jagat Roh membentuk roh manusia, yang kemudian turun ke Bumi untuk pertama kali sebagai mahluk manusia. Dan dalam konteks ini kita mengakui kiasan Adam dan Hawa untuk apa itu – suatu kisah turun roh manusia baru kedalam dunia fisik untuk pertama kali sebagai seorang manusia.

Roh manusia – baru (Adam) hanya mampu bersentuhan dengan bendawi melalui “khavah-nya”, yakni “wadah-hidup” atau “Hawa”, yang kita sebut jiwa. Ini disebabkan jiwa adalah lebih menerima terhadap inspirasi-inspirasi dari Dia sang Hikmat (diwakili oleh Ular, simbol Hikmat) yang diutus untuk menuntun jiwa kedalam hidup bumi. Dan barangkali pada awalnya enggan, roh membiarkan jiwa menuntunnya untuk berhubungan dengan keberadaan fana.

Pertama jiwa menarik Tubuh Astral perihal dirinya sendiri (diwakili oleh celemek daun-daun ara) dan kemudian Alaha sendiri (melalui Malaikat Pelindungnya) menyediakan roh itu dengan tubuh fisik, (diwakili oleh kulit penutup tubuh). Tapi satu kali roh telah berhubungan dengan tubuh fisik ini maka roh ataupun jiwa tidak bisa tinggal di Taman Eden. Bersamaan keduanya memasuki tubuh fisik sebagaimana roh itu sedang dibentuk dalam kandungan ibunya dan dalam ini mahluk manusia dilahirkan di bumi.

Kami tahu bahwa roh hidup di bumi banyak sekali, bahwa didalam antara penjelmaan-penjelmaan roh menghabiskan waktu di Jagat Astral dan seringkali lebih lama di Jagat Roh di mana roh juga belajar banyak. Kita tahu bahwa roh bisa jatuh kedalam Neraka dan memanjat keluar lagi;  sehingga roh bisa naik ke Firdaus dan kemudian jatuh ke tempat lebih rendah, tapi kita tahu bahwa akhirnya roh belajar semua pelajaran dari Fisik, Astral dan Jagat-jagat Roh, dan akhirnya menerima hak masuk apa yang orang Mshikhanim sebutkan Sorga.

Meskipun Para Mistik individual bisa menyumbangkan sekilas sudut-sudut pandang berbeda, namun, ada kesepakatan umum perihal proses ini, paling sedikit dalam lajur garis besar. Kebanyakan orang mengakui bahwa roh secara bertahap berkembang hidup setelah hidup, pelajaran pertama persyaratan dasar keberadaan seorang manusia, kemudian mengalami segala sesuatu dari dunia ini, sebelum hal itu pertama kali menarik minat jiwa kepada hal bendawi. Seringkali jiwa akan diuji, dan pada waktu itu jiwa akan jatuh, terkadang jatuh begitu parah, tapi setelah tiap kali jatuh jiwa ditolong bangkit kembali, dan akhirnya jiwa belajar untuk mengabdikan usaha-usahanya untuk melayani Alaha dan menolong manusia-manusia fana lainnya.  Jiwa masih bisa seringkali jatuh, namun jiwa berusaha bangkit kembali dan akhirnya jiwa mendapatkan hak mengakhiri inkarnasi-inkarnasi bumiahnya  dan melewati bagian keberadaan lebih tinggi.

Tanamkan semua hal ini dalam pikiran, marilah kita menempatkan informasi ini dalam konteks, dan berusaha keras untuk mengkonstruk kisah hipotetis roh biasa ini. Tentu saja kita tahu bahwa tidak ada semacam hal itu seperti “roh biasa.” Kita semua berbeda. Beberapa roh melakukan perjalanan begitu singkatnya menapaki sepanjang Jalan Sempit – lainnya berlambat-lambat. Seringkali mereka berbelok dari jalan lurus dan terkadang mereka bahkan berjalan menyimpang langsung menjauhi dari tujuan untuk satu periode. Tapi meskipun begitu semua perbedaan ini ada banyak pengalaman-pengalaman yang kebanyakan jiwa-jiwa alami secara umum dan sementara itu tidak kehilangan pandangan individualitas, namun, kita akan mengkonstruk suatu kisah dari hipotetis ini “roh biasa.”

Kita akan menggunakan hukum tabur tuai sebagaimana kita kenal mereka dan garis besar dasar Hikmat Kuno menyediakan dan kemudian mengikuti “roh biasa” ini kedalam hidup bumiah. Sebab ia adalah sosok “roh umum”, ia tidak akan jatuh terlalu parah dalam Neraka, tidak juga berpacu sampai urat leher keluar menuju kepada kesempurnaan. Dia hanya berusaha dengan kemajuan “biasa” saja. Tapi kita akan menelusuri perjalanan “roh biasa” ini dari keberadaan awalnya masuk dalam keberadaan manusia hingga ke titik di mana ia ditemukan berlayak untuk melintasi Jagat-jagat Alam Rohaniah (Celestial Realms) pertama.

Kita akan mengikuti dia dari kehidupan Bumi hingga ke Jagat Astral, kemudian di Jagat Roh dalam kehidupan setelah kehidupan. Kita akan melihat dia bergumul melalui tiap empat Bagian Besar Jagat Roh, yang adalah sangat dibedakan dengan tingkat kegemilangan terang rohaniah pada tiap keadaan masing-masing.

Bagian paling rendah dari ini, Alam Tak Percaya, biasanya dikenal sebagai Neraka, dan ini adalah Alam Kegelapan. Berikut; Alam Setengah Percaya, terkadang disebut Negeri Senjakala atau Purgatori. Bagian ketiga, Alam Keyakinan tanpa Perbuatan-perbuatan dikenal juga sebagai Purgatori, dan membedakan ala mini dari Alam lebih rendah adalah terkadang disebut Negeri Terang Pagi. Keempat dan bagian tertinggi, Alam Keyakinan dengan Perbuatan-perbuatan, disebut juga Firdaus atau Negeri Tengah Hari Matahari.

Sosok “roh biasa” dari hikayat kita akan menghabiskan waktu pada masing-masing dari Alam-alam Jagat ini dan dalam kebanyakan variasi sub-divisi atau “tahap-tahap”, sebelum belajar pelajaran-pelajaran yang cukup lama dari keadaan manusia di Alam Fisik (Bumi), Astral dan Jagat-jagat Roh ia tidak butuh lagi kembali kepada keberadaan fana dan diijinkan melewati bagian lebih tinggi. Jelasnya “roh biasa” ini akan dikenal melalui banyak nama-nama berbeda dalam berbagai inkarnasi-inkarnasinya, tapi semua itu sedikit menarik bagi kita dan untuk menghindari kebingungan, kita akan menggunakan nama yang sama sepanjang hikayat ini dituturkan. Barangkali kita bisa menamai dia “Hikayat” sebab kisah menakjubkan yang ia bisa “tuturkan.”

Kemudian, setelah kisah ini disimpulkan kita akan menganalisa pengalaman-pengalamannya untuk melihat Apa yang semua itu bisa ajarkan kepada kita perihal kehidupan – kehidupan kita sendiri. Kemudian inilah:

Beberapa Inkarnasi dari Roh Manusia

SANG HIKAYAT

5100 S.M.

Dalam inkarnasi manusia pertama sang Hikayat hampir tak berdaya. Ia lahir sekitar tahun 5100 S.M sebagai gembala nomaden  primitif; seorang Semit yang kemudian disebut kaum Akkadian, dan yang tinggal di perbatasan utara, wilayah di mana petani menetap antara Sungai Kembar dengan mulai membuat peradaban besar baru yang menjadi Sumeria. Dia tidak pernah belajar untuk berbicara bahasa orang tua manusia pertamanya, juga ia tidak bisa benar-benar memahami apa yang mereka coba katakan kepadanya, tetapi kini ia berhasil menyampaikan sebagian besar kebutuhan dan keinginannya dengan dengusan dan tanda-tanda.

Awalnya orang tuanya kecewa bahwa, anak bungsu mereka tidak akan pernah dapat mengambil bagian dalam pekerjaan suku. Tapi saat sang Hikayat tumbuh dewasa, mereka dan keluarga mereka mulai melihat dia sebagai semacam tanda keberuntungan, dan dia dalam perawatan sampai kematiannya dari sakit radang paru-paru sekitar usia 25 tahun.

Setelah kematian sang Hikayat masuk ke Alam Gaib. Bingung dan tak percaya diri pada awalnya, ia mendapati bahwa di sini dia bisa berkomunikasi dengan lebih mudah daripada di bumi. Kebanyakan dari mereka juga mendapatkan dirinya sebagai jiwa yang sederhana, dan dengan  telepati ia berkomunikasi dengan baik dan belajar banyak. Dia juga bertemu dengan jiwa yang sudah tua di sana, guru yang membantunya untuk belajar banyak hal. Setelah sekitar lima puluh tahun di Alam Gaib, ia naik ke Jagat Roh atau Alam Berwujud.

Meskipun orang tua duniawinya sudah sangat religius, sang Hikayat tidak memiliki kepercayaan nyata kepada Alaha sebagaimana kita memahami konsep ini, namun ia tahu bahwa sesuatu yang lebih besar dari dirinya telah membantu sepanjang hidupnya, dan dalam hal ini ia dapat dikatakan setidaknya sebagai setengah percaya. Mungkin juga ia telah belajar lebih jauh di Alam Gaib, dengan demikian ia telah melalui Jagat Roh dimana ia menemukan dirinya dalam apa yang kita sebut sebagai Alam Setengah -Percaya, atau Negeri Senja. Ia belajar di sini, hanya sekolah pemula, tapi kapasitas mentalnya masih rendah, dan meskipun ia belajar sungguh-sungguh, ia belajar hanya perlahan-lahan. Dia tampaknya telah membuat sedikit kemajuan dalam studinya ketika setelah ratusan tahun panggilan datang kepadanya.

Dia mengikuti panggilan itu, hampir sama dengan cara burung bermigrasi mengikuti nalurinya. Tanpa mengetahui bagaimana atau apa yang terjadi padanya, ia akhirnya melewati Tembok Api. Di sini, sebagian besar kenangan terekam di alam bawah sadar yang besar, dan ia dikirim kembali kepada kehidupan di bumi. Ia dilahirkan lagi masuk kedalam budaya Neolitik yang maju yang sekarang dikenal sebagai Bulgaria sekitar tahun 4350 S.M.

4350 S.M.

Kali ini ia menemukan dirinya dalam sebuah keluarga religius, hak istimewa yang diperolehnya setelah bertahun-tahun pembelajaran pada Jagat Roh, dan meskipun apa yang kita anggap sebagai “terbelakang”, dia tampak normal kepada orang tuanya. Meskipun miskin sepanjang hidupnya, ia selalu murah hati dan dibesarkan untuk menjalani kehidupan seorang petani petani normal. Ia menikah dengan seorang gadis petani sederhana, dalam pernikahan yang diatur dan mereka membesarkan beberapa anak petani sederhana.

Anak bungsu ini, seorang gadis kecil yang lahir lumpuh dan dengan cara bicara yang gagap mempunyai daya tarik aneh untuk sang Hikayat. Mungkin ia mengingatkannya tentang bagaimana dia sendiri telah berfungsi pada inkarnasi sebelumnya, mungkin ada sesuatu yang lebih, tapi apa pun alasannya, ia dipicu perasaan aneh dalam dirinya. Perasaan yang berkembang menjadi kasih sayang terdalam yang sebelumnya ia belum ketahui. Untuk bagiannya, si kecil mengikutinya kemanapun pada saat ia balita, dan sang Hikayat merasa aneh dengan sikap toleran terhadap perhatian putri kecilnya. Dia memanggilnya ‘Penolong’, dan bahagia setiap kali ia bersamanya. Tapi sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dia baru berusia tiga tahun, dan ia sekitar empat puluh tahun, ketika beruang membunuhnya di salah satu tanahnya sendiri.

Sekali lagi ia melewati Alam Gaib (Astral), tapi kali ini ia menemukan dirinya di antara orang-orang banyak yang sudah ia kenal di bumi. Dan kali ini ia merasa lebih mudah untuk belajar dari mereka. Dia tahu bentuk sederhana dari ketuhanan, ketika di bumi, dan di sini ia belajar lagi, meskipun benar bahwa ia tidak sepenuhnya memahami, kekuranganya hanya karena pemahaman yang terbatas. Ketika setelah tiga puluh tahun ia melewati Jagat Roh ia tidak dikirim kembali ke sekolah pemula yang ia hadiri sebelumnya.

Dia masih berjiwa muda, tapi imannya lebih kuat, dan ia belajar di sekolah yang lebih tinggi, meskipun masih di Alam Setengah Percaya. Kemudian setelah sekitar empat ratus tahun ia diizinkan untuk memasuki ranah berikutnya, yaitu Negeri Cahaya Pagi, atau Kepercayaan tanpa Bekerja, untuk sekarang keyakinannya kuat dan nyata, meskipun belum, ia tidak belajar bagaimana untuk membantu mereka yang kurang beruntung dibandingkan dirinya sendiri. Dia tidak lagi bersekolah di sana, tetapi menemukan bahwa ia masih harus banyak belajar dan ia telah membuat sedikit kemajuan, ketika setelah hampir dua ratus tahun lagi, panggilan datang kepadanya dan lagi-lagi ia kembali ke bumi.

3700 S.M.

Kali ini ia lahir di Delta Nil pada waktu itu Kerajaan Hulu dan Hilir Mesir mulai datang bersama-sama keluar dari banyak wilayah-wilayah kekuasaan kecil dari era sebelumnya. Untuk semua maksud dan tujuan secara intelektual dia termasuk yang normal, dan ayahnya, yang seorang pedagang, mengajarkan ia sebagai seorang cendikiawan.

Ini adalah sumber penderitaan terbesar untuk sang Hikayat yang mengalami kesulitan menulis, tapi ia bertahan, dan akhirnya mengambil pekerjaan dalam pelayanan seorang imam Thoth, pimpinan dewa Ibis. Di sini ia mengembangkan minat yang besar terhadap agama, dan khususnya tentang kehidupan selanjutnya yang diceritakan oleh pimpinannya. Dia tidak pernah menikah, dan jarang meminta bayaran untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia menjadi dikenal karena kemurahan hatinya kepada anak-anak kelaparan, dan banyak anak-anak kelaparan mempunyai alasan untuk memberkati sang cendikiawan dari Imam Thoth.

Pada kurun akhir tiga puluhan dia diterkam oleh buaya – kematian yang dianggap paling diberkati oleh pimpinannya, tetapi sang Hikayat sendiri mendapati hal tersebut sangat tidak menyenangkan! Namun demikian ia disambut hangat di Alam Gaibnya (alam Astral) oleh teman – temannya dengan membuat kemajuan yang cukup signifikan dalam empat puluh tahun yang ganjil dimana ia menghabiskan waktu di Alam itu sebelum ia melewati Jagat Roh. Di sana ia menghabiskan waktu yang lama di Alam Kepercayaan tanpa Bekerja, dan bahkan mulai membantu orang lain, melewati Alam Setengah Kepercayaan pada banyak kesempatan, meskipun ia dianggap belum siap untuk turun lebih lanjut.

Dia masih mempersiapkan diri untuk langkah itu, ketika hampir empat ratus tahun panggilan datang kepadanya, dan ia kembali lagi ke kehidupan di bumi.

3250 S.M.

Sebagai hasil dari kemurahan hatinya dalam kehidupan terakhirnya, sang Hikayat lahir kali ini pada sebuah keluarga pedagang makmur di Kish, kota terkemuka di Sumeria, sekitar tahun 3250 S.M. Ia dibesarkan dengan akses ke sebagian besar barang-barang di dunia, tetapi meskipun ia terkenal dengan nilai-nilai spiritual, kontaknya dengan kekayaan mulai mempengaruhi dia lebih dan lebih. Secara bertahap minatnya pada hal-hal materi mulai menggenangi spiritualitasnya. Ia menikahi putri saudagar kaya yang lain, dan mulai hidup makmur dan kebahagiaan duniawi. Tapi sang Hikayat sekarang sedang terkena godaan terus – menerus secara nyata untuk pertama kalinya di bumi dan semakin ia menyerah. Keegoisannya meningkat dan emosinya memburuk, dan pertama anak-anaknya, lalu hambanya dan akhirnya istrinya, merasakan efek dari semakin sering amukannya.

Akhirnya ia membunuh salah seorang pelayannya dengan amarah, dan kekayaan duniawinya memungkinkan dia untuk menghindari hukuman kejahatan duniawinya, karma menempel padanya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya, dan untuk sementara berhasil mengendalikan amarahnya. Tapi semua terlalu cepat, pelajaran itu terlupakan saat ia beranjak dewasa, keegoisannya terus meningkat. Lebih dan lebih lagi amarahnya meningkat pada kekerasan dan ketika anak-anaknya sudah dewasa mereka dijauhkan darinya sejauh mungkin. Beberapa hambanya tetap melayaninya untuk waktu yang lama dan istrinya sendiri tinggal bersamanya karena dia tidak bisa menanggung malu meninggalkan dia, sampai akhirnya, dipukuli parah untuk ketiga kalinya dalam beberapa hari, ia melarikan diri dari rumah.

Sang Hikayat sangat marah. Setelah menyiksa salah satu pelayan menemukan ke mana istrinya melarikan diri, ia berangkat mengejarnya. Akhirnya ia menangkapnya dan memukulinya sampai mati, sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Di sini ia keluar dari kesengsaraan dan hidup menyendiri sementara pengiringnya yang selalu berubah dan para hambanya hidup dalam ketakutan terhadap dia, dan amarah tiba-tibanya. Akhirnya ia meninggal sekitar usia enam puluh lima tahun.

Melewati Alam Astral, ia mendapati dirinya dikelilingi oleh kenalannya dari bumi, banyak dari mereka telah menjadi korban kemarahan dan tidak ada satupun yang berharap dia dalam keadaan baik. Seringkali mereka memukulnya, tapi dia melawan kembali kendatipun dalam konflik yang konstan, dan sering kali banyak penderitaan, ia masih gagal belajar mengendalikan emosinya. Setelah sekitar dua tahun sebagai laki-laki pada waktu hitungan bumi tubuh Astralnya usang dan ia melewati Jagat Roh.

Tapi sekarang, sedikit nilai spiritualitas yang ia bawa dari bumi mungkin telah hilang sebagai akibat dari konfliknya di Alam Astral, dan ia tidak lagi mempertahankan bentuk nyata Kepercayaan. Untuk alasan ini, bahkan Alam Setengah – Kepercayaan tidak akan menerima dia, dan untuk pertama kali dalam perjalanannya ia jatuh ke Alam Tidak Percaya atau Neraka seperti yang biasa kita sebut. Sekarang, dosa-dosanya meskipun serius bukan hasil dari mendarah daging dan kejatuhannya mungkin juga telah tinggal pada apa yang kita sebut Neraka dari Dosa Daging (Divisi Keempat), karena meskipun orang lain takut terhadap emosinya, itu karena cintanya terhadap hal – hal materi dan keegoisannya merupakan kesalahan yang paling konstan. Tapi itu tidak terjadi.

sang Hikayat mendapati dirinya di Neraka dari Dosa Daging, alam gelap dan mengerikan, ketika ia menemukan dirinya dihina oleh penghuni lain di tempat itu. Sekali lagi amarahnya memuncak, dan ia memukul laki-laki itu. Namun, karena ia tidak sepenuhnya mampu mendisiplinkan pikirannya, dan karena kemarahannya tidak terkendali, ia tidak mampu berbuat banyak untuk tidak merugikan orang lain, yang telah memiliki pengalaman hidup lebih banyak di Alam itu. Dia juga tidak memiliki pembantu untuk diperintah – di sini semuanya untuk dirinya sendiri.

Demikianlah korbannya dimaksudkan untuk menang, dan mencengkram sang Hikayat dari pergelangan tangan, meminta teman-temannya untuk membantu. Mereka menyeret dia ke luar kota dan menutup gerbang di belakangnya, sehingga ia terpaksa berkeliaran dalam kegelapan.

Dia lama berjalan dalam kegelapan yang mengerikan, hampir tidak mungkin melihat di mana kakinya menginjak, tergelincir dan meluncur ke bawah apa yang tampaknya sebagai bukit panjang yang miring, tapi akhirnya ia tampaknya mencapai bagian bawah di mana ia datang ke kota lain. Jadi ia masih menderita efek karena banyak terjatuh, ia akhirnya menemukan dirinya di Divisi III Neraka. Di sini, untuk pertama kalinya ia mengalami siksaan yang nyata, karena emosi buruknya selama ia di bumi, di dunia ini ia segera menemukan bahwa ia tidak memiliki kekuatan kehendak dan kekejaman bawaan yang sebagian besar penghuni lainnya miliki.

Di satu sisi ini sama – sama baik, apa yang telah dilakukannya sehingga karma yang dihasilkannya mungkin telah membuatnya ada selama berabad-abad. Sepertinya ia banyak menderita dalam alam ini dan keluar dari pemeliharaan diri belaka, ia akhirnya mulai belajar untuk menghindar dari tanda-tanda awal konflik, daripada kehilangan kesabaran. Keburukan lain dari alam itu menarik banyak minatnya, dan setelah emosinya mulai terkendali, ia siap untuk memulai memanjat keluar lagi.

Status dari rohnya yang tidak berpengalaman menyebabkan dia banyak menderita, tapi aneh karena tampaknya untuk yang belum tahu, itu adalah yang benar-benar membantu dia untuk keluar dari Neraka lebih cepat dari pada yang akan mungkin terjadi. Tampaknya lebih lama untuk dia, tapi kurang dari dua ratus tahun ia mampu meninggalkan Divisi III, dan kembali ke Divisi Keempat. Di sana ia tinggal tapi untuk waktu yang singkat, karena meskipun di bumi, ia terlibat dalam sebagian besar dosa daging, mereka kurang mengikat dirinya dari pada materialisme yang menyolok mata. Jadi ia cukup cepat melewati Divisi Keempat ke Kelima, Neraka materialisme, di mana ia tinggal selama empat abad.

Karena ia belum menaklukkan kecanduan untuk hal-hal materi, ia juga tidak ingin melakukannya, dan telah membuat sedikit kemajuan tetapi, ketika ia merasakan panggilan untuk kembali ke bumi, seperti pada banyak kesempatan sebelumnya. Kali ini, karena ia lebih jauh dari Tembok Api, redup dan kurang menarik perhatian, dan pada awalnya ia mampu untuk menolaknya. Tapi akhirnya dia menyerah, dan membiarkan dirinya ditarik ke arah Tembok Api itu, meskipun, setelah itu harus, ia tahu sia-sia apa yang diikuti sampai ia dilahirkan kembali di bumi.

2600 S.M.

Sekarang meskipun ia agak berkembang setelah sementara di Neraka, ketika panggilan datang kepadanya sang Hikayat masih di Alam Tidak Percaya, dan dikelilingi oleh banyak hal yang jahat. Juga semua karmanya telah dibayar – jauh dari itu, kedua faktor ini dikombinasikan untuk memastikan bahwa dalam inkarnasi berikutnya situasi kelahirannya jauh kurang beruntung dari pada kehidupan sebelumnya. Kali ini ia dilahirkan dalam sebuah suku primitif Afrika tahun 2600 S.M, tapi ibunya adalah seorang budak – ia telah ditangkap dalam pertempuran antar-suku – dan ibunya tidak tahu kalau tuannya adalah ayah anaknya. Ia dibesarkan sebagai budak dan tidak pernah dimiliki sesuatu material yang berharga.

Dia menderita banyak penganiayaan bahkan sebagai seorang anak, dan ketika anak-anak bebas lahir dari suku yang sebaya dengan dia, sedang diinisiasi menuju kedewasaan, ia, sebagai budak, telah diambil darinya. Rasa sakit dari pengebiriannya sudah cukup buruk, kemudian ia terinfeksi dan setelah hampir satu tahun penderitaan meningkat dan telah mencapai ginjalnya. Akhirnya, hampir gila dengan rasa sakit, ia mampu menyambut kematian sebagai penyelamat dari siksaan fisik. Dia meninggal ketika berusia tujuh belas tahun.

Posisinya di bumi tidak memberinya banyak kesempatan bagi keyakinan, namun orang-orang di sekelilingnya memiliki memiliki iman yang sangat kuat, dan meskipun antipati tidak wajar ke arah pemiliknya, beberapa ide mereka harus terhapus pada dirinya. Mungkin inilah yang memungkinkan dia untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang menyambutnya di Alam Astral. Dia tahu beberapa dari mereka. Beberapa sudh menjadi budak sejak anak – setidaknya sudah seperti dia, yang meninggal dihadapan dia untuk satu alasan atau lainnya, dan ada roh lain juga, lebih tua dan lebih bijaksana yang bersedia membantunya dalam bentuk yang berbeda dari keberadaan.

Sayangnya, bagaimanapun, dia tidak merespons dengan baik tawaran bantuan ini. Mungkin rasa sakitnya telah menyesatkan pikiran dan jiwanya, atau mungkin karma masa lalunya masih dibebankan kepada dia, tapi apa pun alasannya dia tidak siap untuk berubah. Entah bagaimana fakta bahwa ia telah kehilangan hal-hal material ketika di bumi tidak menyembuhkannya dari kecenderungan materialistis, dan amarah masih terbakar kuat dalam dirinya. Jadi meskipun upaya mereka yang berusaha untuk membantu, dia tetap di bagian bawah Alam Astral.

Dalam siklus ini ia menghabiskan waktu yang lama di Alam Astral – sekitar enam puluh tahun – tetapi pada saat ia melewati Jagat Roh sekali lagi, ia telah berubah sedikit, dan sekali lagi ia mendapati dirinya di Neraka Materialis. Tapi pada akhirnya hal-hal material memiliki sedikit daya tarik dalam Jagat Roh dan mungkin untuk alasan ini ia tinggal di sana lebih cepat dari sebelumnya. Atau mungkin itu karena setidaknya beberapa karmanya telah diselesaikan oleh penderitaannya di bumi. Apa pun alasannya, setelah sekitar seratus tahun ia bertemu dengan seorang utusan dari alam atas dan dengan bantuannya berhasil meloloskan diri ke Divisi Keenam. Ada sedikit yang menahan dia dalam Neraka Kemunafikan, karena tidak pernah taat pada kesalahannya, dan pada waktunya ia mendengarkan permintaan Utusan lain dan masuk sekolah untuk orang-orang berdosa di Divisi Ketujuh.

Dari sana, setelah apa yang tampak untuk waktu yang sangat lama, tapi dalam kenyataannya hanya beberapa abad, dia bisa meninggalkan Neraka. Dia melewati lagi ke Alam Setengah Percaya, sekali lagi ia mendapati dirinya di sekolah pemula tempat pertama kali ia hadiri beberapa waktu lalu dan sekali lagi ia adalah seorang siswa yang rajin. Tapi kali ini ia tampaknya belajar lebih cepat. Mungkin beberapa ingat apa yang telah ia pelajari sebelumnya, mungkin sekarang karena rentang yang jauh lebih besar dari pengalamannya, tapi apapun alasan dia berkembang dengan baik. Dia telah menyelesaikan pelajaran sekolah pemula dan pindah ke sekolah yang lebih tinggi kedua dari Alam Setengah Percaya, ketika setelah sekitar 120 tahun ia mendengar panggilan dari Tembok Api. Dia enggan mengikutinya, tapi tidak tahu apa-apa lagi sampai ia kembali lagi ke bumi.

2100 S.M.

Saat ini sang Hikayat terlahir sebagai tukang sepatu yang buruk, di Mohenjo Daro. Dia juga menjadi tukang sepatu, dan meskipun ia tidak pernah kaya ia mampu untuk menikah dan membesarkan anak-anak dari lima bersaudara. Kota itu sendiri sedang menikmati masa kemakmuran, dan pedagang sedang banyak peminatnya. Sang Hikayat menyembah pada sebuah kuil kecil, tidak jauh dari rumahnya, dan ia tampaknya secara bertahap sedang mengembangkan iman yang sederhana, walaupun tidak pada awalnya, memainkan bagian penting dalam hidupnya. sampai suatu hari, ketika berusia sekitar empat puluh tahun  ia mengunjungi kuil pelacur untuk menerima berkat dari Dewi.

Dia telah melakukan ini pada banyak kesempatan sebelumnya, karena itu adalah praktek yang normal dalam agamanya, namun pada kesempatan ini ia sangat tertarik dengan yang baru, hamba berusia lima belas tahun dari Dewi yang hadir untuk kebutuhannya. Ia seolah-olah telah mengenalnya sebelumnya, dan dengan asumsi adalah demikian, dia bertanya secara hati-hati, tapi hamba itu meyakinkan bahwa dia baru-baru ini telah dibawa ke kota bagian yang jauh dari Kekaisaran.

Dia mengunjunginya secara teratur untuk sisa sepuluh tahun hidupnya, dan sebagian besar karena pengaruh bahwa agama mulai mempunyai arti baru baginya, dan ketika ia dibunuh oleh gajah yang sedang berlari, ia melewati bagian yang sangat menarik dari Alam Astral. Dia tetap di sana selama sekitar dua puluh tahun, dan kemudian segera ke set pertama dari Alam Kepercayaan tanpa Bekerja pada Jagat Roh.

Di sini, ia sangat puas dengan banyak hal dan ada sedikit insentif bagi dia untuk membuat kemajuan lebih lanjut. Dia melakukan sedikit untuk orang lain, karena tampaknya tidak perlu, dan banyak dari mereka, sama-sama egois. Mereka bukan anak roh jahat, tapi mereka fanatik dan egois, dan dia secara bertahap menjadi lebih seperti mereka selama 300 tahun yang ia habiskan di Alam itu. Dia tidak jatuh lebih rendah, tapi ia tidak membuat kemajuan nyata ketika saatnya tiba baginya untuk kembali ke bumi lagi.

1730 S.M.

Kali ini ia berinkarnasi sebagai seorang anak pejabat pengadilan kecil dalam hari-hari awal Dinasti Shang di Cina. Ketika ia dewasa ia menggantikan ayahnya pada posisi itu, mengambil sepupu sebagai istri dan menjalani kehidupan yang baik dan beberapa kemudahan material. Saat ayahnya hidup ia mendorong sang Hikayat untuk menghormati nenek moyang mereka, tapi setelah kematiannya, sang Hikayat berpikir sedikit tentang orang tua, dan saat ia tumbuh dewasa ia mulai mengambil minat yang terus meningkat dalam hal materi. Ia berusaha terus-menerus untuk menumpuk kekayaan, menghibur pejabat pengadilan lain dan terkadang rajanya sendiri, karena ia bersekongkol terus-menerus untuk memperbaiki posisinya. Hal ini menjadi tujuan utama dalam hidupnya, meskipun ia berusaha, ia tidak pernah menjadi kaya.

Saat ia beranjak dewasa setiap keyakinan yang ia anut di masa mudanya secara bertahap meninggalkan dia, dan uang menjadi dewa utamanya. Dia terus berjuang untuk meningkatan keadaannya di pengadilan, dan dalam awal enam puluhan, ia akhirnya berhasil diangkat menjadi gubernur daerah kecil. Setelah ia berusia 65 tahun, ia meninggal. Dia kemudian menghabiskan waktu sekitar sepuluh tahun di Alam Astral, di mana tidak menyadari bahwa ia sudah mati, ia masih berusaha untuk mengumpulkan kekayaan. Ketika ia melewati Alam Roh, semua keyakinan yang ia miliki sebelumnya sudah tidak ada lagi. Tujuan utamanya adalah dalam hal-hal material, dan ia mendapati dirinya di Neraka Materialis sekali lagi.

Kali ini ia tetap berada di sana selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, dengan sedikit alasan untuk membuat kemajuan, sampai suatu hari ia bertemu seorang utusan cahaya. Utusan seperti itu jarang di Alam itu, dan biasanya ia dan rekan-rekannya (karena tentu saja di Neraka ia tidak punya teman) menertawakan mereka, tapi kali ini sesuatu yang membuatnya tertarik padanya dan ia mendengarkan apa yang dia katakan. Kata-katanya tentu mempengaruhi dirinya, karena ia tampak hampir mengenalnya secara pribadi. Dia mungkin mengenalnya! Mungkin mereka sudah dekat dalam inkarnasi duniawi sebelumnya, mungkin sesuatu yang lebih dalam. Namun apapun alasannya, ketika utusan itu  meninggalkan dia, dia mulai mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri. Setelah pengarahan singkat, utusan yang lain bisa membantu dia untuk mewujudkan hal-hal berharga dari material dan ia naik ke Divisi Keenam. Dia melewati Alam itu dengan cepat dan masuk lagi salah satu sekolah untuk regenerasi. Dia tetap di sana selama sekitar empat puluh tahun, tetapi sebelum dia bisa memanjat keluar dari neraka dan kembali ke Alam Setengah – Percaya, ia dipanggil kembali ke bumi lagi.

1355 S.M.

Kemudian akumulasi karmanya menyebabkan dia bereinkarnasi dalam keadaan sulit. Ia lahir di Knossos, di Kreta dalam tahun-tahun yang sulit. Ibunya adalah seorang wanita pengemis yang telah diperkosa, dan sang Hikayat adalah produk dari pelecehan itu. Ibunya tidak menginginkan dia dan walaupun keyakinannya tidak akan membiarkan dia menghancurkannya, ia meninggalkan sang Hikayat ketika dia berusia sekitar tiga tahun. Dia bertahan selama dua belas tahun dengan mengemis dan mengemis di antara tumpukan sampah dari kota besar, tetapi meninggal karena keracunan makanan ketika ia berusia lima belas tahun tanpa pernah belajar banyak tentang agama.

Pada Alam Astral, bagaimanapun, dia bertemu dengan sekelompok roh yang mencoba untuk membantu orang lain, dan terutama karena usaha mereka, ia belajar percaya setengah hati selama perjalanan. Ketika setelah hampir lima puluh tahun ia melewati Jagat Roh, ia mampu memasuki set kedua Alam Setengah Percaya. Di sini ia mendapati bahwa ia masih harus banyak belajar, tapi mulai rajin bekerja. Dia berjalan lambat tapi dengan kemajuan yang stabil selama hampir 300 tahun, dan hampir siap untuk lolos ke set ketiga ketika ia dipanggil untuk kembali ke bumi.

1000 S.M.

Dia bereinkarnasi pada sebuah desa Fenisia di luar Tirus. Ayahnya adalah pelaut, dan dihormati di masyarakat setempat, namun sang Hikayat tidak hidup lama. Dia berusia setahun lebih, ketika ayahnya, akan memulai perjalanan panjang mengorbankan anaknya untuk Molokh.

 Sang Hikayat cukup dewasa untuk memahami bahwa ia akan diserahkan kepada Dewa dan dengan iman yang cukup untuk menerima perannya sampai ia melihat api dan mendengar jeritan korban lainnya. Lalu ia memahami realitas apa yang menantinya. Untuk beberapa saat terakhir dia menjerit ketakutan, dan berakhir ketika penderitaan api yang menyiksa menyita seluruh perhatiannya.

Itu adalah penderitaan yang berlangsung selama beberapa masa, tapi akhirnya penderitaan itu berhenti dan cahaya putih bersih mengganti api merah penderitaan. Ia disambut dengan lembut, membelai dan menghibur, dan melihat ingatan rasa sakit itu begitu mengerikan dan ia begitu muda, ia cukup cepat sembuh. Dalam beberapa bulan ia tumbuh pesat di Alam Astral dan ketika ia melewati Jagat Roh, ke Alam-alam Iman tanpa Bekerja. Di sini, ia melanjutkan pembelajarannya di mana ia telah meninggalkan alam itu lebih dari tujuh ratus tahun sebelumnya.

Dia tidak mempelajari semua pelajaran sekaligus, tapi ia sekarang jauh lebih siap untuk melayani orang lain dan secara rendah hati menghabiskan waktu bertahun-tahun membantu saudara-saudaranya di Alam bawah (Alam Setengah Percaya) meskipun ia belum diizinkan untuk turun lebih rendah . Dia terus belajar perlahan-lahan selama hampir 250 tahun, sehingga dalam kenyataannya secara perlahan-lahan ia tidak mempelajari semua pelajaran di tempat pertama sebelum panggilan datang kepadanya untuk kembali ke bumi. Tapi dia cukup belajar dan melakukan begitu banyak pekerjaan yang baik bahwa ketika dia kembali ke kehidupan di bumi, ia diizinkan untuk dilahirkan kembali ke dalam masyarakat, yang meskipun primitif, adalah sangat religius.

700 S.M.

Dia kemudian menjalani kehidupan normal sebuah suku di Australia Utara, mengikuti kebiasaan masyarakatnya. Dia sangat dekat dengan ibunya, yang meskipun seorang wanita biasa, sukunya sangat bijaksana diluar kedudukannya. Dan meskipun ia dibesarkan dan menjadi seorang prajurit dalam keluarganya sendiri, sang Hikayat datang dan dianggap baik oleh teman-temannya, sebagian karena perawatan yang selalu diberikan oleh ibunya pada masa tuanya. Dia tidak tahu itu, tapi pasti ibunya, yang begitu banyak mengalami kehidupan sebelumnya dan disebut sebagai “Penolong”. Ibunya juga, yang sudah membantunya di Mohenjo Daro, dan berkali-kali sejak saat itu, baik di bumi dan di dalam Jagat Roh, tapi ini adalah pertama kalinya ia memainkan peran yang penting dalam hidupnya. Ibunya melakukan ini selama sekitar empat puluh tahun, dan meninggal ketika ia mencapai usia itu.

Selama tiga puluh tahun ke depan sang Hikayat tinggal dengan sukunya, sesepuh yang dihormati dan dicintai sukunya, yang sering dimintai saran oleh para pejuang muda. Setelah kematian ia segera melewati Alam Astral dan memasuki Jagat Roh, mendapati dirinya lagi dalam tempat terendah dari Alam Percaya tanpa Bekerja. Pada awalnya, dia cukup puas dengan nasibnya, dan sampai suatu hari melihat tidak ada alasan untuk kemajuan lebih lanjut, pemandunya berbicara kepadanya!

Meskipun ia tidak memiliki semangat muda lagi, ini adalah pertama kalinya ia melihat malaikat penjaganya. Suatu kehormatan besar dan ia mendapatkan nasihat bijak menjelang akhir hidupnya di bumi. Berasal dari Panduan bahwa seberapa jauh ia pertama kali belajar dan harus melakukan perjalanan. Dipenuhi dengan antusias ia mulai bekerja tekun dan segera mulai membuat kemajuan yang mantap. Dia bekerja selama lebih dari 200 tahun dan ketika panggilan untuk kembali ke bumi datang lagi, ia telah mencapai bagian tertinggi dari Alam Percaya tanpa Bekerja.

400 S.M.

Lahir di tempat yang sekarang dikenal sebagai Samoa tahun 450 S.M.. sang Hikayat adalah anak dari ibu pemimpin lokal, dan tabib suku. Diasuh secara bebas dan mudah seperti semua rekan-rekannya yang menghabiskan waktu mereka bermain dan membantu ibu mereka, dan perempuan lain dari sukunya. Ketika mereka tumbuh dewasa, anak-anak sering membantu ayah mereka, pergi memancing dengan mereka dalam perahu besar, dan sebagaimana sang Hikayat beranjak dewasa, ia dengan mudah masuk kedalam peran membantu ayahnya dalam memenuhi kebutuhan medis dari suku itu. Akhirnya ia mengganti posisinya, dan meskipun dalam masyarakat matriarkal ia tidak pernah menikah, banyak wanita dari suku itu memilih dia untuk menjadi ayah dari anak-anak mereka. Dia tidak pernah tahu berapa banyak miliknya, tetapi ketika ia meninggal karena jatuh sekitar usia lima puluh tahun, ia diratapi oleh puluhan orang yang mengaku keturunannya oleh seluruh wilayah.

Pada Alam Astral ia terus belajar dan melakukan banyak kebaikan membantu orang lain, tapi karma masa lalunya masih menempel padanya dan setelah lebih dari tiga puluh tahun, banyak tenaga yang ia gunakan untuk lolos ke Jagat Roh lagi. Pada awalnya ia melewati tempat ketiga dari Alam Percaya tanpa Bekerja.

Di sini ia menghabiskan hanya sekitar dua puluh tahun bekerja untuk mengajar orang-orang di bawah dia, di sekolah-sekolah Alam Setengah – Percaya. Hal ini membuktikan kelayakan untuk lulus lebih tinggi sehingga ia masuk ke Alam-alam Iman dengan Bekerja (Firdaus lapis pertama) untuk pertama kalinya dalam keberadaannya yang sudah lama. Di sana ia terus membantu mereka yang di bawahnya dan bahkan turun ke Divisi Ketujuh Neraka, meskipun ia belum diizinkan untuk pergi lebih jauh. Setelah sekitar 150 tahun ia kembali menerima panggilan untuk kembali ke bumi

150 S.M.

Karena banyak pekerjaan ia mampu untuk dilahirkan kembali kedalam keluarga petani miskin Perancis yang taat. Ia dibesarkan dalam masyarakat Zaman Perunggu, yang dengan cepat beralih ke Zaman Besi, dan akhirnya menjadi Imam Druid. Dia tetap pria yang taat beragama sepanjang hidupnya, tapi tidak pernah naik ke jenjang yang lebih tinggi dalam hirarki imam.

Namun dalam tahun-tahun ia dihormati oleh sukunya dan ketika ia meninggal pada usia sekitar delapan puluh tahun, tubuhnya dimakamkan dengan upacara yang khidmat. Pada saat itu ia sudah melewati Alam Astral dan memasuki Alam Percaya dengan Bekerja (Firdaus). Segera ia diizinkan untuk melakukan pekerjaan misionaris lagi.

 Dia menghabiskan sebagian besar perjalanan misi pertama di Alam Setengah Percaya, dan kemudian untuk sementara waktu bekerja disalah satu misi di Neraka (Divisi Ketujuh). Kemudian, sebagai misionaris, ia turun ke Divisi Keenam, dan pada dua kesempatan berperan dalam mengeluarkan jiwa dari wilayah yang gelap.

Akhirnya ia masuk ke tempat kedua dari Alam-alam Iman dengan Bekerja (Firdaus lapis kedua), di mana ia terus berkembang perlahan tapi pasti dan hampir siap untuk melewatkan lagi ke tempat tertinggi ketika panggilan datang kepadanya. Dia taat dan untuk pertama kalinya melihat Tembok Api sebelum ia kehilangan kesadaran. Lalu ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Inggris yang miskin tak lama setelah penindasan pemberontakan Boadicea.

100 M.

Ayahnya adalah seorang pandai besi yang melakukan banyak pekerjaan bagi para prajurit Legiun Romawi yang ditempatkan secara lokal dan sang Hikayat terpengaruh sejumlah besar keyakinan agama dari usia yang sangat dini, beragam dan yang paling banyak adalah agama pelanggan ayahnya.

Sebagaimana sang Hikayat bertambah dewasa ia menjadi lebih dan lebih terpikat dengan kehidupan seorang prajurit, dan pada usia delapan belas ia bergabung dengan tentara Romawi, dimana ia menjadi pengikut setia Dewa Mithra. Ia menjabat di legiun selama dua puluh tahun, dan kemudian pada usia 39, ia pensiun pada kepemilikan tanah yang diberikan kepadanya sebagai imbalan bagi dua puluh tahun pelayanan. Daerah itu tidak jauh dari rumah orang tuanya, dan dia adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya untuk sisa hari-hari mereka.

Ketika usia muda ia telah berpartisipasi dengan sesama legiunnya, dalam menyenangi wanita, tidak semua dari mereka bersedia, tapi seperti kebanyakan tentara dia tidak pernah menikah. Bahkan ketika ia mulai menggarap tanah garapannya, tanpa istri di sisinya, dan dia tetap sendiri untuk sisa hari-harinya. Mithraisme bukan agama bagi perempuan, dan ketika ia belajar tentang agama Kristen (Mshikhanuth) dari orang tua yang telah berusia, tidak ada yang mendorong untuk dia untuk menikah. Pada saat mereka meninggal, dia telah menjadi seorang Kristen, meskipun diam-diam, saat itu Kekristenan banyak disukai.

Dia menjalani kehidupan yang baik dan selibat, dan selama bertahun-tahun orang-orang Kristen setempat bertemu secara teratur di rumahnya. Pada awal tahun lima puluhan, ia menjadi seorang imam Mshikhani (Kristen), dan inilah yang menyebabkan kematian dininya. Massa berteriak dan penduduk setempat mengejar anggota kecil jemaat yang mencari perlindungan di rumah sang Hikayat, suatu hari ketika dia berusia sekitar enam puluh. Sang Hikayat mencoba memberikan  mereka alasan, tetapi tidak berhasil; mereka menuntut korban manusia, dan ketika sang Hikayat menolak untuk menyerahkan korban yang mereka maksudkan, massa mengecam sang Hikayat sebagai seorang Mshikhani juga.

Semua mungkin baik – baik saja jika sang Hikayat menyerahkan jemaatnya untuk massa, untuk mantan legiun cukup disegani oleh warga lokal, tapi ia menolak untuk melakukannya. Dia merasa bahwa dia tidak pernah bisa mengkhianati sesama Mshikhani, dan akhirnya keduanya tewas ketika rumah itu terbakar di atas kepala mereka.

Meskipun tidak mati martir dalam pengertian yang ketat, ia dan jemaatnya melewati bagian cerah dan indah dari Alam Astral. Sang Hikayat menemukan banyak orang lain seperti pikirannya, termasuk beberapa yang telah menjadi anggota jemaat kecilnya. Selama sepuluh tahun ia bekerja dengan kelompok kecil tapi berkembang, mengajar dan membantu mereka untuk lebih dekat kepada Mshikha (ha-Mashyakh), Guru mereka, sebelum ia diteruskan menuju Jagat Roh.

Kali ini akhirnya ia didapati layak untuk langsung melewati ke bagian tertinggi dari Alam-alam Iman dengan Bekerja (Negeri Cahaya Redup Siang) lebih umum dikenal sebagai Firdaus. Kematian yang mulia dan banyak perbuatan baik dari bagian akhir dari kehidupan di buminya, bersama dengan karyanya dalam Alam Astral, telah membuatnya mendapatkan hak itu. Namun di sini ia mendapati bahwa ia masih harus banyak belajar.

Pada awalnya Ia belajar dengan panduan dan kemudian, pada persekutuan dengan roh yang lebih tua, dan kemudian sendiri, ia mulai melakukan perjalanan misionaris ke bagian yang lebih rendah dari Jagat Roh. Dia pertama bekerja di Divisi Keenam Neraka tetapi kemudian ia turun ke Kelima, dan beberapa roh berutang pembebasan mereka dari Alam gelap dari pelayanannya.

Akhirnya setelah 130 tahun pekerjaan misionaris, panggilan datang lagi padanya, dan kali ini ia mampu melakukan perjalanan langsung ke Tembok Api sendiri. Ini adalah pertama kalinya ia diizinkan untuk mendekati kemuliaan tersebut tanpa kehilangan kesadaran, dan ia bahkan tetap sadar saat memasuki Tembok itu sendiri. Tiba-tiba ia mendapati dirinya dalam ruang cahaya. Dia berada di Hadirat sang Hakim.

“Engkau telah melakukan pekerjaan dengan baik,” demikianlah kata-Nya, “Lanjutkan seperti yang engkau mulai dahulu dan keberadaan duniawimu akan segera berakhir.”

Dipenuhi dengan iman dia pergi keluar lagi. Bentuk besar Cahaya tentang dia ditutup: kegelapan dan tekanan diganti dengan cahaya dan kebebasan. Tekanan yang kian tak tertahankan, berabad – abad tampaknya dilewati dalam kegelapan. Pada saat ia berjuang tanpa hasil, pada orang lain ia tampaknya tidur dan bermimpi, tetapi apa yang tampaknya seperti dipenjara selamanya, sehingga, setelah sembilan bulan ia lahir di bumi lagi.

 

300 M.

Saat itu sekitar tahun 300 M., dan musim dingin di Tibet barat. Orangtuanya penggembala miskin. Tapi kelahirannya tidak terdeteksi. Sehari sebelumnya, nenek dari pihak ayah telah tiba untuk membantu kelahirannya, untuk orang tua yang tidak sanggup untuk membayar bidan. Neneknya yang memenuhi peran itu, dan siapa, tanpa diminta dan tanpa diminta tetap tinggal di rumah sampai bayi mulai tumbuh. Dan neneknya yang paling sering memenuhi kebutuhan sehari-harinya, segera setelah dia bisa berjalan, orang tuanya bekerja keras sepanjang hari, dan neneknya, yang membesarkan dia.

Neneknya mengenal dia saat pertama kali melihatnya, meskipun harus diakui, dia tidak tahu mengenal neneknya dengan segera, tapi neneknya orang yang pertama kali mengajarkan dia permulaan kasih, dalam banyak kehidupan sebelumnya, ketika dia mempunyai putri yang lumpuh. Kemudian ia memiliki ibu di Australia Utara, dan setelah setidaknya satu jangka waktu, ia akan merawatnya di bumi lagi.

Kita akan terus menyebutnya si Penolong, meskipun itu bukan namanya dalam inkarnasi ini. Dalam inkarnasi pertama ia lumpuh, ya, tapi tidak, seperti pada waktu sang Hikayat merasa samar-samar mengingat, karena dia adalah roh manusia baru seperti yang sebelumnya. Sebaliknya ia adalah jiwa yang tua, ketidakmampuan pada saat itu berasal dari karma kebanggaan intelektual, yang terjadi dalam inkarnasi sebelumnya. Sudah jatuh menyedihkan, dan salah satu dari banyak nyawa yang telah diambil untuk pulih, tapi dia telah belajar banyak.

Sekarang, lebih dari empat ribu tahun kemudian, si Penolong adalah roh kuno, tapi ia mengakui dalam hal ini, potensi spiritual setidaknya sejajar dengan diri sendiri. Sebuah potensi yang dia bisa rasakan, dan tanpa mengetahui semua masa lalu mereka, dia mengasihinya, seolah-olah dia telah mengenalnya selama bertahun-tahun.

Dan ini memang benar, meskipun ia tidak ingat bahwa dia adalah ibunya selama empat puluh tahun di Australia Utara. Mereka bertemu di kehidupan lain, juga, meskipun hanya sebentar, tapi sekarang mungkin mereka bisa lagi menghabiskan waktu bersama-sama. Mengetahui bahwa kehidupan bumiahnya mendekati akhir, dia meragukan apakah waktu ini bisa selama yang dia akan harapkan, namun sebagian besar akan seperti itu.

Dialah yang pertama kali mengajarkan tentang dunia roh, dan dia yang bersikeras kepada orang tuanya untuk mengirim dia kepada Dalai Lama ke biara besar terdekat. Dia juga tidak terkejut ketika Dalai Lama menatap cucunya, membawanya ke dalam pelukannya dan memberkati Kwa-min dewi welas asih.

“Ketika dia berusia tujuh tahun engkau harus membawanya ke biara untuk dilatih, “perintahnya, dan kemudian berangkat. Perintahnya tidak bisa tidak ditaati, dan sulit untuk mengatakan siapa yang paling memilukan dalam dua tahun yang terjadi – orang tua yang kehilangan anak tunggal mereka, atau wanita tua yang tahu dia tidak akan melihat orang yang dicintai dalam hidup ini lagi .

Jadi sang Hikayat datang ke biara besar untuk dilatih mengetahui cara kerja roh. Terletak di ketinggian pegunungan besar, jauh di sebelah barat rumah orang tuanya, dan di sana ia belajar banyak. Pertama ia belajar untuk mengontrol tubuhnya sendiri sehingga menjadi patuh dan bukan yang mengendalikannya. Makanan, dingin, jarak menjadi konsekuensi kecil baginya. Dia belajar untuk mengangkat tubuhnya ke udara dan memproyeksikan pikirannya, sehingga orang lain akan tahu kehendaknya bahkan pada jarak yang sangat jauh. Dan segera terungkap bahwa setelah ia membuat orang lain mengetahui kehendaknya, tidak ada yang bisa menolak kekuatan pikirannya, karena memang besar kekuatan pikirannya, dan semua menuruti kehendaknya apakah mereka mau atau tidak. Dia bahkan belajar untuk memindahkan dirinya dari gunung ke gunung sebagaimana yang dikehendaki. Dia bisa merasakan dan memahami aura di sekitar orang, dan pada saat ia berusia dua puluh tahun ia bahkan bisa berkomunikasi dengan orang mati.

Demikianlah neneknya datang untuk mengenalnya lagi. Berusia hampir delapan puluh tahun ketika ia memasuki biara, ia meninggal tak lama setelah itu. Hampir berhenti di Alam Astral ia sekaligus melewati sorga, dari mana dia tidak segera bisa berkomunikasi dengan sang Hikayat, tapi, mungkin dibantu oleh kasih mereka bersama, mereka akhirnya melakukan kontak lagi. Tetapi kontak yang tidak berlangsung lama, karena Penolong sudah belajar sebagian besar pelajaran dari alam itu, dan bisa kembali ke bumi segera. Untuk waktu yang singkat sekalipun, ia menunda reinkarnasi karena dia bisa membantu dan membimbing orang yang dikasihinya, namun demikian kontak ini hanya berlangsung selama sekitar dua puluh tahun. Lalu ia kembali ke bumi dalam tubuh lain di bagian lain dari dunia dan sang Hikayat terlepas dari  bimbingannya.

Namun sementara dia tetap berkontak dengan dia, ia mengikuti sarannya terus-menerus, dan mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya tidak sama pada saat mereka berdua di bumi. Dia merasa kehilangan dengan dilahirkannya kembali jauh lebih besar dari pada kematian fisik yang pernah dirasakan. Namun jika ada, perpisahan mereka membuat ia melipatgandakan usahanya, asketisme dan kekudusannya ditingkatkan terus-menerus.

Dia baru saja melewati usia empat puluh tahun ketika ia dipilih menjadi kepala biara, dan banyak Dalai Lama suci datang dari jauh dan seluruh dunia untuk memberi penghormatan kepada kemampuannya yang besar, dan lebih khusus untuk kebijaksanaannya. Melalui kontak dengan Penolong, ia mampu mengungkapkan kepada orang banyak pengetahuan tentang apa yang ada di balik kematian dan dia terus melakukannya. Ketenarannya tersebar di seluruh Tibet dan bahkan di tanah datar di selatan pegunungan besar orang berbicara dengan suara lirih tentang Dalai Lama dari bukit tinggi yang bisa bepergian ke seluruh dunia dan tahu segala sesuatu di langit dan bumi.

Mungkin karena pujian yang berlebihan, saat ini sang Hikayat merasakan kepedulian pertamanya pada kebanggaan spiritual. Mungkin tidak sampai kemudian, tetapi ketika suatu hari delegasi dari tanah datar datang duduk di kakinya dan mendengarkan pengetahuannya, ia memang tergoda, dan sayangnya ia jatuh, dan jatuh lebih besar hari itu, meskipun tidak ada seorangpun tahu hal itu. Banyak pertanyaan yang mereka tanyakan, salah satu yang ia tidak tahu jawabannya, dan dari pada mengakui kebodohannya, ia memberikan jawaban seolah-olah kebenaran, dan semua orang percaya padanya, karena ia sendiri tahu bahwa jawabannya tidak datang dari wahyu, tetapi dari penafsiran.

Untuk jawaban itu, sejauh ini masih wajar, seakan – akan manusia fana, memang tidak ada wahyu dari Kebenaran, tetapi pemikirannya sendiri, atau lebih tepatnya pikiran roh jahat yang telah menggodanya. Segera setelah ia mengatakan itu, ia menyadari bahwa ia telah disesatkan, si jahat tidak bisa melarikan diri dari deteksi kekuatan rohani untuk waktu yang lama. Namun karena harga diri, ia tidak akan mengakui kesalahannya kepada orang lain, atau bahkan mengoreksi dirinya sendiri, dan tidak hanya kepada delegasi yang mendengarnya, tapi kepada jiwa lainnya melalui mereka, yang tersesat karena kegagalannya, karena mereka percaya dengan perkataannya dan menjalani kehidupan mereka sesuai ucapannya.

Dan melalui kekuatan batin ia tahu semua ini, dan meskipun dia berduka, harga dirinya tidak akan memungkinkan dia untuk mengakui kesalahan dan dengan memperbaikinya. Sebaliknya ia menyembunyikan kesalahannya, dan manusia di bumi masih mengindahkan kebijaksanaannya. Kekuatannya tetap besar tapi kontak dengan dunia luar sekarang rusak, dan dengan demikian ia tergoda dengan cara yang sama seperti dia jatuh. Dan secara bertahap, banyak kali ia jatuh pada usia di bumi, dan orang masih tidak mengetahuinya. Jika orang melihat kekuatannya berkurang, mereka menghubungkannya dengan usia tua saja, sehingga ketika ia meninggal, masih dengan kehormatan besar, dicintai dan berkabung dan dihormati oleh semua.

Tapi jika dia menolak untuk menghadapi kebenaran di bumi, pada saat kematiannya, sang Hikayat tahu dia telah jatuh. Dia mengingat kata-kata Hakim yang telah berbicara kepadanya sebelum ia kembali memasuki kehidupan dunianya, dan menyadari betapa ia telah gagal dalam apa yang bisa menjadi inkarnasi duniawi terakhirnya. Setiap kebohongan yang dia katakan terlihat pada wajahnya dan menghinanya, mengatakan padanya tentang bahaya bagi mereka yang percaya kepadanya. Dia telah tua dan terhormat ketika ia meninggal, hampir delapan puluh tahun ia tinggal di bumi di antara manusia, dan ia menghabiskan waktu secara singkat di Alam Astral, dan tidak menyenangkan bagi dia melihat reputasi duniawinya dihancurkan.

Mungkin dia telah menemukan keselamatannya, tapi harga dirinya tergoda lagi, dan akhirnya dia menyerah pada pengujian, mencoba untuk mencegah kerusakan reputasi duniawinya, dengan menggunakan kekuatan mental untuk mengganggu manusia di bumi. Untuk sesaat dia berhasil; kemampuan besar hipnotisnya memungkinkan dia untuk mempengaruhi orang-orang yang merusak reputasinya, sehingga kata-kata mereka tampak ragu-ragu dan tidak meyakinkan. Bahkan dalam hal ini ia tahu yang dia lakukan salah, lebih banyak jiwa pasti akan disesatkan jika kesalahan itu tidak dikoreksi.

Oleh karena itu, di dalam siksaan mental yang besar. Sang Hikayat melewati Jagat Roh setelah berjuang selama kurang dari satu tahun pada Alam Astral, dan ketika ia lewat, dengan kengerian ia mendapati semua kegelapan tentang dia. Untuk harga dirinya telah sedemikian rupa sehingga meremehkan imannya, dan keyakinannya, setelah begitu kuat telah dikhianati oleh kemunafikan dan kebohongan. Dia menemukan dirinya dalam apa yang kita sebut Divisi Keenam Alam kekafiran, Neraka dari kemunafikan, dan langsung disapa oleh orang yang berusaha untuk menguji kelayakan tinggal dalam bidang itu. Tapi sekarang akhirnya dia menyadari betapa dalamnya ia tenggelam. Dia mengabaikan si Penguji, sehingga menghindari kejatuhan lebih lanjut dan ketakutan dari hasil kebanggaan, ia bertekad untuk menebus kesalahan, meskipun ia tidak bisa memutuskan bagaimana. Ia gemetar saat berpikir bahwa itu mungkin sudah terlambat – dia sudah di luar keselamatan?

Untuk sementara waktu ia dijauhi oleh semua teman-temannya, berkeliaran tanpa tujuan di dalam gelap, pernah berjuang untuk menghindari tempat tinggal manusia. Setelah ia bertemu orang asing, dan jatuh dengan sangat buruk, menggunakan kekuatan pikirannya untuk memaksa orang itu meninggalkan dia sendirian. Dia melarikan diri dari murka sang Hikayat, menjerit-jerit kesakitan, tapi tangisannya terdengar dan segera teman-temannya berkumpul dan berusaha untuk membuang sang Hikayat dari benteng kota mereka ke dalam jurang. Dengan kekuatan pikirannya ia kembali berhasil melarikan diri dari upaya mereka, karena ia menyadari meskipun kekuatannya tidak berarti di sini, masih cukup besar untuk membuat dia salah satu yang harus ditakuti. Oleh karena itu, dua ratus lima puluh tahun ia menghabiskan mengembara di Divisi Keenam Neraka, adalah masa perjuangan dan kesedihan. Dia akhirnya melarikan diri dengan menerapkan salah satu prinsip dasar karma, yang telah ia pelajari begitu lama yang hampir ia lupa. Adalah Utusan Cahaya yang membawa dia untuk mengingatnya, untuk layanan yang dia berikan sendiri kepada orang lain untuk inkarnasi tunggal sebelum dia memberikan manfaat yang baik, dan tidak ada kekurangan mereka dari atas yang bersedia membantunya.

Dengan ketaatan kepada nasihat dari salah satu utusan itu, sang Hikayat pertama-tama mencari orang-orang yang telah melarikan diri dari dan kembali ke pusat kota dengan utusan di sisinya. Kemudian sebelum semua itu, dia menyatakan kesalahannya. Sulit pada awalnya, tetapi semakin ia berbicara tentang kesalahan yang ia telah lakukan semakin mudah jadinya, dan ketika hal itu dilakukan ia merasa lebih baik. Seperti yang ia duga sebelumnya warga kota membawanya keluar dari kota mereka dengan murka, tetapi ia senang dengan kemenangannya atas dirinya sendiri dan dengan utusan di sisinya, ia berhasil mencapai perlindungan dari Divisi Ketujuh Neraka. Dia belajar dengan cepat di sekolah, dan kemudian, sekali lagi dengan bantuan seorang utusan dari Firdaus, naik kembali ke negeri dari Setengah Percaya.

Dia kembali ke sekolah, menelan kebanggaan yang menyebabkan dia jatuh sangat jauh, dan kembali banyak belajar bahwa ia pernah dikenal. Dia berkembang dengan baik, melewati setiap tempat dengan mudah. Setelah sekitar lima belas tahun di Alam Setengah Keyakinan ia diizinkan untuk melewati ke ranah berikutnya, Alam-alam Iman tanpa Bekerja, tapi dia tidak ada di sana bertahun-tahun ketika panggilan datang baginya untuk kembali ke bumi.

650 M.

Meskipun ia telah membuat kemajuan yang baik dalam Jagat Roh setelah bencana kehidupan di bumi sebelumnyanya, Karma buruk duniawi sang Hikayat memberinya sedikit kesempatan signifikan untuk pengembangan spiritual dalam inkarnasi berikutnya. Ia lahir di sebuah perkemahan gurun di Saudi sekitar 650 M dan tumbuh menjadi seorang Muslim yang baik. Kemudian, ketika masih remaja ia menjadi seorang prajurit di bawah khalifah Umayyah. Dia pejuang yang fanatik untuk Islam dan meningkat dengan cepat pada jenjang kepangkatan. Dia juga dalam perjalanan untuk menjadi Jendral ketika ia meninggal dalam pertempuran karena imannya pada usia 22 tahun, dan melewati lagi ke Alam Astral.

Di sana ia menghabiskan waktu sekitar empat puluh tahun, banyak diantara mereka yang telah berumur dan meninggal di bumi, tapi yang jelas ia tidak dapat maju lebih jauh sementara ia tetap tinggal bersama teman-temannya, untuk sebagian besar hidup dari kebencian kepada musuh mereka dari pada pengabdian kepada kepada iman mereka. Ini tidak benar dari sang Hikayat, dan akhirnya ia melewati Jagat Roh dan naik ke atas dimana ia meninggalkan Alam-alam Percaya tanpa Bekerja, mulai bekerja keras dan belajar banyak.

Dia berkembang dengan baik dan setelah sekitar satu abad memasuki tempat pertama Alam-ala Percaya dengan Bekerja. Di sana ia melakukan pelayanan dengan baik sebagai misionaris kepada mereka yang ada di Alam Setengah Percaya, karena kejatuhannya baru-baru ini, ia tidak diizinkan untuk turun lebih rendah pada saat ini. Dia menghabiskan lebih dari 100 tahun dengan cara ini, sebelum panggilan datang baginya untuk kembali ke bumi.

920 M.

Dia bereinkarnasi sekali lagi sekitar tahun 920 M, tapi kali ini tidak membawanya ke waktu penuh. Ia mengalami keguguran, dan dikuburkan tanpa upacara di bagian belakang rumah di Rusia. Dia kemudian diteruskan ke Alam Astral di mana ia dirawat dan diajar dengan baik tentang Tuhan saat dia besar. Kali ini, ia menghabiskan lebih dari enam puluh tahun di Alam Astral dimana dia belajar banyak dan imannya menjadi mapan. Ketika ia melewati kembali tempat pertama dari Negeri Terang – Redup Tengah Hari. (Firdaus lapis pertama)

Di sana ia menghabiskan lebih dari dua ratus tahun belajar dan bekerja sebagai misionaris di Alam Setengah – Percaya. Pembimbingnya belum memperbolehkan dia untuk kembali dan melayani sebagai misionaris di Neraka, jangan sampai kesalahan yang pernah menenggelamkannya begitu rendah harus meninggikan kepalanya lagi dan, sang Hikayat menundukkan kepalanya dan berkata “jadilah kehendak-Mu, MarYah Alaha”, meskipun ia sangat menginginkan untuk melakukan langkah berikutnya. Dan dengan demikian tanpa sadar ia melewati ujian besar. Tapi sebelum dia bisa naik ke tempat kedua Negeri Terang Redup-Tengah Hari, dia mendengar panggilan dari Tembok Api lagi dan bereinkarnasi di bumi sekali lagi.

1185 M.

Lahir sebagai petani sederhana di Burgundy, ia menjadi seorang biarawan yang sederhana di biara Clairvaux, yang kemudian dan didirikan oleh Mar Bernard Agung. Sedikit yang diketahui dari hidupnya di biara, kecuali ia mengikuti kehidupan tertutup dengan pengabdian yang besar, menghabiskan berjam-jam dalam ibadah dan doa.

Dia tidak pernah menjadi seorang imam, meskipun menjelang akhir hidupnya, ia sangat dihormati oleh rekan-rekannya. Dia meninggal sekitar empat puluh lima tahun, dan kepala biara sendiri yang hadir pada saat kematiannya, menyatakan bahwa ia melihat dia diterima di Firdaus. Pimpinan biara itu tidak seluruhnya benar. Sang Hikayat telah melewati ke bagian tertinggi dari Alam Astral, tempat yang belum terang dan mulia. Di sana ia menghabiskan empat puluh tahun lagi, bekerja untuk membantu saudara-saudaranya yang rendah hati, sebelum melewati Alam-alam Percaya dengan Bekerja. Dia hanya menghabiskan waktu yang singkat di tempat pertama dari Alam mulia, dan kemudian diteruskan ke bagian berikutnya, di mana ia menghabiskan waktu lebih dari 170 tahun.

Di sana ia bekerja dengan tekun sebagai misionaris di Divisi Ketujuh Neraka, tetapi meskipun ia sangat menginginkan itu, ia tidak diizinkan untuk pergi lebih rendah. Dia baru saja melewati “tempat” yang tertinggi dari Alam itu (sorga) ketika ia dipanggil untuk kembali lagi ke bumi. Dia mendekati Tembok Api dengan beberapa keraguan, dan tidak mempertahankan kesadaran saat ia masuk, tapi pada waktunya ia kembali lahir-di bumi.

1441 M.

Kali ini ia lahir di Byzantium, dua belas tahun sebelum kejatuhannya. Masa kecilnya dihabiskan dalam masa kekayaan, tetapi ketika Kota besar jatuh dia dibawah dan digunakan sebagai budak seks oleh salah satu prajurit terkemuka Emir. Terlepas dari pelecehan seksual itu sendiri, ia diperlakukan dengan baik, dan tidak ada upaya yang dilakukan untuk memaksa dia meninggalkan iman Kristennya, meskipun itu dibuat sangat jelas betapa banyak keuntungan sebagai anak didik prajurit jika ia menjadi muslim.

Ia menolak dan tetap setia pada agama Kristen dari orang tuanya yang dibunuh. Pada akhirnya, meskipun sebagai budak ia diizinkan untuk menikah dengan seorang gadis Kristen dan membesarkan keluarga. Ia juga, tetap setia pada iman Kristennya, terutama karena ketabahan, dan ketika di usia 80 tahun ia akhirnya meninggal, meskipun masih seorang budak, ia damai dan dikelilingi oleh anak-anaknya dan banyak keturunan mereka.

Kali ini ia hanya menghabiskan sekitar lima tahun di Alam Astral, karena ia telah hidup lama di bumi. Namun dalam waktu singkat dia jauh lebih baik, membantu orang-orang yang menjadi korban kekerasan sektarian pertama di Eropa, di mana Reformasi baru saja dimulai. Kemudian ia melewati Alam Roh dan ia melewati lagi ke bagian tertinggi dari Alam-alam Percaya dengan Bekerja, di mana ia menghabiskan sebagian besar waktunya bertindak sebagai misionaris di Neraka dari kemunafikan dan materialisme di mana ia telah menderita begitu banyak, dan di mana ia telah lama dicari untuk melayani.

Kemudian setelah hampir 170 tahun, panggilan datang kepadanya untuk kembali pada kehidupan di bumi sekali lagi. Kali ini ia tahu apa yang terjadi saat ia pertama melakukan begitu banyak kehidupan yang lalu. Dia sekali lagi berdiri di depan sang Hakim, dan tahu bahwa kesempatan untuk mengakhiri putaran kehidupan bumi mendekati sekali lagi.

1695 M.

Ia lahir kembali antara orang Indian Amerika Utara wilayah barat laut pada akhir abad ketujuh belas. Hidupnya di sini sebagian besar baik, dalam hal duniawi. Penduduknya tidak berkontak dengan pendatang baru berkulit putih pada waktu itu, meskipun menurut rumor kedatangan mereka tidak mencapai sukunya menjelang akhir hidupnya.

Sebagai seorang pemuda ia adalah seorang pejuang tangguh, dan mengambil istri ketika mereka berdua masih sangat muda. Dia mungkin hampir bisa dikatakan telah mengenalnya sejak lahir karena mereka tumbuh bersama-sama, namun sama-sama tahu bahwa daya tarik mereka itu sesuatu yang jauh lebih dari sekedar persahabatan. Dalam inkarnasi untuk pertama kalinya, sang Hikayat mampu menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan yang kita disebut sebagai Penolong – dia pasangan jiwanya – dan bersama menghabiskan waktu dalam kebersamaan seumur hidup.

Mereka mengangkat empat anak dan beberapa anak perempuan pada masa usia tua mereka, menjadi penasihat paling berharga dari kepala suku, untuk sang Hikayat dan bahkan lebih khusus Penolong tampaknya memiliki pengetahuan yang besar mengenai hal-hal roh. Mereka juga tampaknya dapat meramalkan apa yang akan terjadi.

Akhirnya pada usia sekitar enam puluh tahun sang Hikayat menjadi Shaman lokal (tabib-pengusir roh-roh jahat), sangat dihormati oleh semua suku di sekitarnya, dan meskipun ia sangat tergoda lagi, kali ini dia tidak menyerah pada kehormatannya. Mungkin dikarenakan kehadiran pasangan jiwanya, yang membantunya meraih kemenangan atas dirinya, karena ia akan selalu mengakui dia lebih berharga darinya, tapi apa pun alasannya, ia tidak gagal lagi.

Ketika sekitar usia 75 tahun ia meninggal, ia melewati hampir tanpa berhenti di Alam Astral, ke sorga sekali lagi, di mana tak lama kemudian pasangannya bergabung dengannya. Di sana mereka bekerja selama sekitar 120 tahun, kadang-kadang bersama-sama, kadang-kadang tidak, tapi tiba saatnya bagi sang Hikayat kembali ke bumi lagi. Dia mengucapkan perpisahan kepada penolong, mengharapkan dia segera mengikutinya kembali ke bumi, dan berharap bahwa cinta mereka akan memungkinkan mereka untuk bertemu lagi dengan cepat.

Kemudian ia sekali lagi melewati Tembok Api, dan ia berada di hadapan Hakim. “Engkau telah melakukan dengan baik,” ia mengatakan, “Dan aku punya tugas khusus untuk engkau lakukan dalam kehidupan yang terletak dihadapanmu. Lakukan tugas ini dengan baik dan engkau tidak perlu kembali ke bumi lagi. Apakah engkau kemudian akan bekerja untuk Aku?”

Sebuah sensasi aneh merasuk kedalam jiwa sang Hikayat melalui kata-kata. Setelah begitu banyak perjuangan kehidupan, hadiah itu akhirnya dalam genggamannya! Dalam waktu singkat tidak ada yang tidak akan diusahakan. Dia berusaha untuk berkata tanpa berpikir mengenai penerimaannya. Ini adalah pertama kalinya ia berani untuk menyapa sang Hakim secara langsung, dan ia menyadari bahwa kata-katanya tidak akan terucap sesuai harapannya, atau lebih tepatnya, pikirannya masih tidak sempurna. . . . ..tapi bahkan saat ia mencoba untuk mengekspresikan keinginannya pikirannya terhenti – sang Hakim telah menerima persembahannya dan berbicara lagi.

“Ini baik… lihatlah tugas yang Aku akan berikan padamu…” Katanya.

Dan visi mulai berputar-putar mengisi pikiran sang Hikayat. Dia tidak bisa sepenuhnya memahami maknanya, meskipun ia mencoba. Ada tokoh abu-abu . . . dan Salib Kayu. . . Kilatan Cahaya. . . Kebisingan menggelegar keras. . . Kegelapan. . . gelap gulita di sekelilingnya. . . . . dan Tekanan. Dia tidak bisa melihat apa-apa, tapi dia berjuang . . . dan berjuang sebagai roh yang bebas dari penjara daging sekali lagi . . . Untuk beberapa masa dia berjuang . . . dan kemudian ia lahir di bumi lagi!

1890 M.

Ia lahir di Prussia bagian barat laut sekitar tahun 1890 M. Seorang anak yang lemah dan sakit-sakitan, dia adalah anak ketiga dalam empat keluarga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Dua anak perempuan lebih tua dari sang Hikayat. Ayahnya adalah seorang penambang Prusia yang kuat, ibunya berasal dari keturunan petani dan mereka pengikut ajaran Protestan Martin Luther yang taat. Setiap hari Minggu seluruh keluarganya berangkat hampir dua mil ke gereja paroki kecil dan kembali dua mil lagi untuk pulang dalam berbagai keadaan kondisi cuaca – hujan, angin, salju atau musim panas – memakai pakaian terbaik pada hari Minggu. Dan sang Hikayat, saat ia tumbuh dewasa, mencintai perjalanan mingguan ke Gereja. Hal itu adalah puncak minggu tersuram, terlalu sering ia dianggap sakit untuk melakukan perjalanan. Terkadang satu hal dan terkadang lain, tetapi meskipun rasa antusias dia beruntung bisa pergi lebih dari dua minggu dalam satu bulan.

Dia berusia sekitar enam tahun ketika mulai menghadiri sekolah lokal dengan kakak tertuanya. Itu pun harus berjalan dengan perjalanan yang panjang, meskipun masih ada orang lain yang lebih jauh dari jarak tempuh mereka, tapi sekali lagi, kesehatan sang Hikayat mencegah dia untuk hadir terus menerus. Dia umumnya hanya bisa mengikuti waktu belajar setengah dari jumlah hari yang harus dia lakukan. Kadang-kadang ia merindukan seluruh minggu pada satu waktu, dan saat ia tumbuh dewasa, ibunya yang berupaya agar dia belajar membaca. Ketika, sekitar delapan tahun ia bisa membaca, tidak ada yang membantunya. Gereja dan Sekolah Alkitab menjadi pusat cita-citanya, tapi setiap kali dia ingin bersekolah dia terhambat oleh kelemahan fisiknya, dia membaca Alkitab, atau salah satu dari beberapa buku renungan yang ada di rumah. Dia menjalani inisiasi ritus Peneguhan Ulang (Sidi) di Gereja Lutheran sekitar usia dua belas tahun bukan karena kelambatannya, tapi ini memperkenalkan unsur lain dalam kehidupan rohaniahnya. Mungkin beberapa dari buku-buku yang dibacanya lebih Katolik dari pada Lutheranisme, tetapi menerima komuni menjadi saat yang paling penting dalam minggu itu.

Meskipun terkadang kesehatannya terus menerus menghalau dia datang ke Gereja, tapi orang tuanya tidak terkejut ketika pada usia enam belas tahun ia mengumumkan bahwa ia akan belajar menjadi seorang pendeta. Apa yang mengejutkan mereka adalah bahwa Pendeta gereja lokal mereka sepenuh hati mendukung ambisi anak itu. Mereka bahkan lebih terkejut ketika nilai sekolah rendah ia diterima di perguruan tinggi teologi di luar kota. Dia bertempat tinggal di sana, meskipun kesehatannya sering mengganggunya. Walau sesakit apapun dia, dia masih bisa membaca dan ia melakukannya – rajin. Akhirnya pada usia 23 tahun ia lulus dan dilantik di Gereja Lutheran.

Ia dikirim sebagai pendeta ke sebuah kota garnisun di dekat perbatasan Perancis, dan orang tuanya, meskipun mengkhawatirkan kesehatannya, mendorong dia untuk menerima pengangkatan. Rumor mengenai perang mengguncang Eropa pada saat ini, tetapi bagi sang Hikayat tidak penting lagi. Dia mulai bekerja untuk Tuhan, dan meskipun tidak bisa dikatakan ia teringat kata-kata sang Hakim, beberapa pemikiran tersebut telah disimpan dalam alam bawah sadarnya, karena dia sekarang seorang pria dengan tujuan. Seolah-olah dia tahu hidupnya akan menjadi pendek. Dia memberikan dirinya sepenuh hati dalam tugas barunya, dan ketika ia tidak melayani jemaat kecilnya, ia meningkatkan upaya sendiri dalam doa dan studi, dan sering bermeditasi hingga larut malam.

Saat salah satu sesi larut malam, antara bangun dan tidur ia bertemu dengan si Penolong lagi. Mungkin itu adalah mimpi. Mungkin dia belum terjaga, tapi mimpi atau tidak, dia tidak pernah meragukan realitas pengalaman itu. Tidak bisa dikatakan bahwa dia mengenalinya, namun entah bagaimana ia mengenalnya. Dia disambut dengan hangat, dan meminta maaf atas perpisahan mereka. “Saya diharapkan untuk mengikuti engkau kembali ke bumi,” jelasnya, “Tapi tidak perlu. Aku harus kembali ke Firdaus dalam waktu singkat, tapi pelajaran duniawi terakhirku telah dipelajari dalam kehidupan yang lalu bersama-sama, dan sekarang saya telah diizinkan untuk maju. saya telah melewati Tembok Api, dan tidak perlu kembali ke bumi lagi. Saya tidak dapat berbicara dengan engkau seperti ini sesering mungkin, tapi aku akan selalu bersamamu, menginspirasimu dan membimbingmu. Dengarkan suara saya, setiap kali engkau ragu, ikuti bimbingan saya dan berusaha selalu memenuhi tugas yang diberi sang Hakim untukmu, dan segera engkau akan mencapai akhir dari perjalanan duniawimu.”

Mungkin dia mengatakan lebih, tapi kata-kata itu yang teringat dalam pikirannya, dan meskipun bagian dari pesannya bertentangan dengan iman Lutherannya, entah bagaimana dia menangkap makna dasarnya. Dia melipatgandakan usahanya. Tidak ada terlalu banyak kesulitan baginya. Jika ada anggota jemaat kecil membutuhkannya, ia ada di sana untuk mereka, dan meskipun saat itu, ia hampir tidak bisa menyeret dirinya dari tempat tidur karena sakit, ia akan selalu menanggapi panggilan mereka untuk membantu. Siapa yang tahu berapa lama kesehatannya akan bertahan dalam keadaan perang. Perang untuk mengakhiri semua perang! Berlalu dari kemungkinan untuk saat ini begitu cepat, sehingga sangat, sangat cepat! Pada akhir bulan Juni, sebelum Archduke dibunuh, tampak begitu tidak mungkin. Enam minggu kemudian semua kekuatan besar terlibat, dan tiba-tiba kota garnisun di mana sang Hikayat bekerja penuh dengan tentara. Ribuan wajib militer berdatangan ke kabupaten, banyak dari mereka takut dan sangat membutuhkan konseling. Sang Hikayat melakukan sedikit apa yang dia bisa lakukan untuk menghibur mereka, dan ketika, di akhir tahun, ia sendiri ikut wajib militer dan dikirim sebagai pendeta sampai garis depan, itu hampir melegakannya.

“Angka – angka dalam abu-abu… Dan sebuah Salib kayu… Kilatan cahaya… Menggelegar keras menjadi kebisingan…..” Ia berhasil menggantung kan kayu Salib berlawanan dengan papan di parit, dan ia tahu bahwa di sini adalah karya nyatanya – tujuan dikirimnya ia ke kehidupan di bumi. Anehnya kesehatannya membaik selama bulan-bulan musim gugur yang mengerikan, dan ia bekerja tanpa henti.

Kemudian tiba hari Natal, dan terinspirasi oleh pendeta dari pasukan Jerman di bagiannya dan bersahabat erat dengan lawan dari Inggris, mengubah satu hari Kudus menjadi waktu sukacita. Dalam waktu yang singkat, kedamaian terjadi, dan beberapa pasukan berani berharap untuk gencatan senjata secara nyata, tapi itu tidak terjadi. Petugas yang marah dari kedua belah pihak memerintahkan tentara mereka kembali berperang, dan sang Hikayat, pelopor dari gencatan senjata diminta untuk berhenti bertugas karena sakit. “Kembalilah ke gereja lama anda segera,” dia katakan, “atau yang lain.”

Sang Hikayat tidak meminta apa-apa “atau lainnya”, tapi ia tahu bahwa tugasnya adalah dalam parit. Dia tinggal di sana. Sekali lagi ia “diminta” untuk mengajukan berhenti dinas. Sekali lagi ia mengabaikan permintaan itu. Pada pertengahan tahun berikutnya ia mendapatkan pemberhentian tugas yang dia tidak pernah minta. Ia sakit. Dia sangat sakit, tapi dia tidak akan, tidak bisa meninggalkan tentara “nya”. Mereka membutuhkannya. Ratusan dari mereka sudah meninggal dalam pelukannya di enam bulan pertama tahun 1915! Bagaimana ia bisa meninggalkan mereka sekarang?

Siapa yang tahu tindakan atasan militernya akan memberhentikan dia, tapi mereka mencegahnya, bagi atasannya ia melayani dengan baik dengan usahanya. Tiba-tiba sang Hikayat tersungkur jatuh. Dia jatuh terjerembab pingsan di tempat berair dan bau di parit-parit pasukannya sendiri, pada suatu malam, dan di pagi hari dia tidak bangun ketika orang lain bangun. Dia pulih dari kesadarannya hampir dua hari kemudian, mendapati dirinya dalam kereta kuda dalam perjalanan kembali ke rumah sakit lapangan.

Dia demam dan berhalusinasi, dan saat itulah Iblis datang untuk menggoda dia. Dia telah gagal. Dia telah meninggalkan jabatannya. Dia harus melawan pelindungnya. Dia tidak akan meninggalkan anak laki-laki “nya”. Beraninya mereka menyeret dia pergi seperti ini! Tentunya itulah yang Tuhan kehendaki – bahwa ia harus mati merawat mereka di garis depan. Atau apakah itu? Mungkin tugasnya telah selesai. Mungkin Tuhan memiliki sesuatu yang lain baginya untuk dilakukan. Dia mengigau, tapi suara kecil masih tidak meninggalkannya. “Tuhan menempatkan engkau di mana dia ingin engkau ada,” tampaknya bernapas dalam pikirannya. “Bagian dari tugasmu berakhir. Engkau telah setia dalam beberapa hal. Dia akan membuat engkau berkuasa atas banyak hal.”

“Jika itu kehendak-Mu, terjadilah,” dia bersungut dan tanpa sadar lulus ujian akhir.

“Kirimkan saya tanda,” ia berdoa. “Jika Engkau inginkan saya untuk kembali, saya bisa berjalan lagi,. Jika tidak, jadilah kehendak-Mu”

Tapi penyakit TBC itu sekarang mempengaruhi sendi-sendi tulang-nya, serta setiap bagian lain dari tubuhnya. Dia tidak bisa berjalan lagi! Dia bahkan tidak bisa meninggalkan ranjang rumah sakit, dan saat Perang Besar “merayakan” ulang tahun pertama ia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Semua orang yang mengenalnya di rumah sakit bersaksi bahwa ia tersiksa karena efek TBC, dan sering jatuh sakit yang menyakitkan meskipun demikian ia memberikan nasihat dan membimbing rekan pasien dan bahkan menghibur para dokter dan perawat yang terlalu banyak bekerja. Tidak pernah sekalipun kata keluhan keluar dari bibirnya, dan orang-orang sering datang untuk menjenguknya, melihat dia berbaring masih di tempat tidur, mata menatap kosong ke langit-langit, bibir bergerak sedikit. Mungkin dia berbicara kepada pasangan jiwanya: mungkin dia berbicara kepada Tuhannya. Apapun itu pengasuhnya tidak berani mengganggu, tapi ketika keadaan memaksa mereka untuk melakukannya ia selalu tenang dan membantu.

Ketika waktunya tiba, ia segera melewati ke Jagat Roh. Meskipun ia meninggal sangat muda, ia menghabiskan hampir sehari pada Alam Astral, sebelum ia datang ke Firdaus lagi. Bahkan di sini ia tidak diizinkan untuk bertahan. Ia hampir tidak pernah menyadari lingkungannya, ketika sekarang ia akrab dengan panggilan yang datang kepadanya dan ia maju ke Tembok Api.

Sang Hakim itu menunggunya. Dan kali ini ia mengenal-Nya. Mungkin ia selalu mengenal-Nya, tapi akhirnya sekarang ia mengenal Wajah-Nya. Sebagai wajah dari Salib kayu-Nya. Dan Hakim itu tidak lain adalah Tuan yang telah dilayani sepanjang hidupnya – Juruselamat yang telah mati untuk dia. Sebuah sukacita yang tak terbatas melonjak dalam dirinya saat ia membungkuk rendah dan sang Hakim berbicara:

“Lihatlah jalan kembali kepada kehidupan di bumi. Ini sebenarnya adalah milikmu, jika engkau mau ambilah. Tapi jika engkau akan melayani-Ku, engkau harus meninggalkan kehidupan bumi dan lanjut pergi. Apakah engkau akan kembali pada kehidupan di bumi, atau akankah engau melayani Aku dan lanjut pergi?”

Dan sang Hikayat menundukkan kepalanya ke tanah, “Lanjut pergi” gumamnya, dan ia tahu bahwa sang Hakim tidak mungkin mendengar, karena dia berkata pada dirinya sendiri. Dia akan mengulanginya lebih keras, ketika Yeshua menjawab.

“Bagus, hamba-Ku yang baik dan setia.” Dia berkata. “Engkau telah setia dalam beberapa hal. Aku akan memberikan kepadamu tuntutan lebih banyak. Lihatlah pasanganmu sedang menunggu untuk membawa engkau ke tempat tinggal baru.”

Tiba-tiba cahaya besar menyelimutinya, tapi kali ini kegelapan tidak menggantikan cahaya dan tekanan tidak berdiri di sekelilingnya, persiapan untuk kembali ke bumi. Sebaliknya, seolah-olah cahaya yang menyelimutinya tiba-tiba menjadi semakin terang. Tetapi jika itu menjadi terang penglihatan rohaninya telah menjadi lebih kuat, juga, untuk cahaya tidak lagi menyakiti matanya. Kemudian kenangan mulai membanjirinya kembali, menyapu sekelilingnya seperti gelombang sungai yang banjir.

Namun jika itu sungai yang banjir, dia adalah lahan kering dan orang yang kehausan, dan sebagaimana banjir menyapunya, jadi rohnya dibuka untuk menerimanya. Kenangan demi kenangan, datang membanjirinya, pengetahuan lama yang terlupakan, menggenang dalam pikirannya – setiap pengalaman dari kehidupan terakhirnya dan dari kehidupan sebelumnya yang datang bergelombang dari kedalaman banjir. Kehidupan setelah kehidupan itu datang kembali kepadanya semua pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh: baik, buruk, besar dan mengerikan, dan entah bagaimana ia tahu itu semua. Seolah-olah dia selalu tahu, seolah-olah dia tidak pernah kehilangan pengetahuan. Ini selalu menjadi bagian dari dirinya.

Sekarang cahaya ditarik dari hadapannya, meskipun itu masih tampak dari belakang, karena ia diantar kembali ke Alam jauh dari Tembok Api. Sebuah pemandangan besar dan megah perlahan-lahan membuka penglihatan dihadapannya: pemandangan samping yang bahkan keajaiban Firdaus tampak menyolok dan tidak penting. Bunga yang indah dan pedesaan yang luar biasa, semua yang mulia untuk dilihat, secara bertahap mengambil bentuk di hadapannya. Juga indra yang lain tidak terpengaruh. Aneh dan musik yang indah, bersama dengan nyanyian burung dan suara di latar belakang, suara, sebagai paduan suara katedral besar, menggema di hadapannya, dan penyertaan itu datang dari persenjataan lengkap dan aroma yang indah, – bunga, hutan pinus, udara pagi yang segar – keajaiban tak henti-hentinya memeluk seluruh keberadaannya.

Dihadapan kakinya terbentang dua jalur, namun baginya hanya ada satu. Dia seolah-olah tahu dengan naluri, yang ke kiri membawanya kembali ke kehidupan di bumi, sementara yang lain membawanya ke tempat Tuannya yang telah disiapkan untuknya. Sang Hikayat mengangkat matanya dan melihat ke arah itu. Dia hampir tidak bisa mengambil semuanya, tapi bahkan saat ia menatap takjub, menyerap semua keajaiban itu, membuat segalanya sebagai sia-sia. Pancaran kemuliaan, mengambang seperti awan cahaya, kerumunan roh mulia datang perlahan ke arahnya dan di kepala mereka adalah rekannya, Penolong.

Dia mengulurkan tangan menyambutnya, dan ruang kosong yang begitu berarti. Ketika akhirnya ia mulai mencatat lingkungannya lagi, sang Hikayat sendirian dengan dia: sendirian di negeri mulia yang keajaiban tidak pernah berakhir, masih menatap ke kejauhan. Ada, tinggi di atas bukit kota besar cahaya bersinar cemerlang, seakan memanggil dia. Saat matanya beristirahat di atasnya, rekannya mengambil tangannya dan mulai menuntunnya ke depan.

“Mari,” katanya.

Komentar pada Kisah sang Hikayat

Ada banyak yang bisa diceritakan tentang Kisah sang Hikayat, dan tidak cukup waktu untuk menceritakan semuanya di sini. Pertama harus diingat bahwa itu hanyalah sebuah cerita, meskipun banyak bagian mengandung perbandingan dengan pengalaman Mistik. Saya tidak mengklaim bahwa itu adalah hasil inspirasi Ilahi, meskipun saya telah melakukan yang terbaik untuk mematuhi Perintah Ilahi sebagaimana saya memahaminya. Saya juga telah mengikuti prinsip-prinsip dasar reinkarnasi, Torah Karma dan kebutuhan jiwa untuk mendapatkan pengalaman dalam menapaki jalan Kesempurnaan. Tapi tetap ini hanya Kisah (Cerita yang digambarkan “Bagaimana prinsip Tabur Tuai Terjadi melalui proses Reinkarnasi”).

Sang Hikayat memiliki roh rata-rata yang cukup. Dia jatuh, tapi tidak terlalu buruk, ia juga tidak mempercepat sepanjang perjalanannya dalam beberapa kehidupan. Dia tidak pernah menjadi seorang raja atau seorang penakluk, dan menghabiskan sebagian besar inkarnasinya di dunia dalam ketidakjelasan. Dia hanya menghabiskan banyak waktu dengan pasangan jiwanya di empat dari dua puluh kehidupan, dan hanya dalam kehidupan terakhir mereka memiliki kemitraan seumur hidup. Dan hanya dalam kehidupan ini dan lainnya mereka menyadari bahwa mereka memiliki hubungan spiritual yang khusus. Pasang sang Hikayat adalah jiwa yang lebih tua dari dia, dan dia sudah menyelesaikan inkarnasi duniawinya, meskipun tidak lebih cepat dari permulaan sejarahnya yang besar sebagaimana telah ditunjukan, seperti yang telah kita isyaratkan, ia telah jatuh dengan sangat buruk sebelum ia pertama kali bertemu dengan sang Hikayat sebagai “Penolong.”

Tahapan Perkembangan Manusia

Kami telah menyarankan sebelumnya bahwa ada sekitar enam tahap utama dalam pengembangan jiwa manusia, dan sekarang saatnya untuk melihat bagaimana kita dapat menerapkan ini untuk kisah sang Hikayat. Tahap ini adalah:

  1. Satu atau lebih kehidupan dihabiskan belajar fungsi sebagai manusia.
  2. Setidaknya dua kehidupan dihabiskan mempelajari dasar spiritualitas.
  3. Biasanya setidaknya satu kehidupan yang menghasilkan kejatuhan besar.
  4. Dua atau lebih kehidupan pulih dari setiap kejatuhan tersebut.
  5. Setidaknya beberapa kehidupan menginjak Jalan Kesempurnaan, tidak selalu berurutan.
  6. Akhirnya hidup di mana roh mendapatkan hak untuk mengakhiri perputaran kehidupan di bumi.

Tahapan di Perjalanan sang Hikayat

Sang Hikayat melakukan cukup baik pada Tahap Pertama. Dia hanya menghabiskan satu kehidupan belajar menjadi manusia, dan meskipun ia sangat lambat menghabiskan bertahun-tahun belajar pada Alam Astral dan Jagat Roh, ketika ia kembali ke bumi lagi, Malaikatnya akan berkenan.

Dalam Tahap Kedua sang Hikayat juga tidak baik. Dia mulai menemukan agama dan dua kehidupan berikutnya membawa dia ke Alam-alam Percaya tanpa Bekerja. Dan pada saat itu semua tampak baik dalam kehidupan spiritualnya.

Tapi dalam Tahap Ketiga kita diberitahu bahwa setiap jiwa akan mengalami setidaknya satu kejatuhan besar, dan untuk sang Hikayat kejatuhan seperti itu terjadi dalam inkarnasi keempat. Itu adalah tes pertama yang sesungguhnya dan dia terjatuh dengan sangat buruk. Emosinya menyebabkan dia melakukan banyak kejahatan, dan akhirnya membawanya turun ke Divisi III Neraka. Tapi dia tidak benar-benar berbahaya, kesalahan yang biasanya berkaitan dengan jiwa yang lebih matang dan sebagai hasilnya, ia akhirnya membuat beberapa kemajuan sebelum kembali ke bumi.

Kita diberitahu bahwa di Tahap Keempat biasanya akan memakan waktu setidaknya dua kehidupan untuk pulih dari kejatuhan seperti itu, dan terjadi kepada sang Hikayat. Dia berjuang keluar dari Neraka setelah inkarnasi kelima, dan setelah inkarnasi keenam dia memenangkan kembali ke Alam Percaya tanpa Bekerja. Kemudian dia jatuh lagi, meskipun tidak begitu parah, tapi masih butuh tiga kehidupan lagi sebelum ia siap untuk memulai Tahap Kelima.

Tahap Kelima memberitahu kita ada kebutuhan untuk setidaknya dua kehidupan menapaki Jalan Kesempurnaan, tapi jiwa sang Hikayat masih cukup muda, dan pada inkarnasi kesepuluh menjadi prajurit. Namun perawatan sebelumnya, ibunya tidak memungkinkan dia untuk bertahan dalam Jagat Roh, dan ketika dia kembali dalam kehidupan yang kesebelas sebagai Shaman, jelaslah sebagai pelayan komunitasnya. Pelayanan yang memungkinkan dia melawati ke bagian tertinggi dari Jagat Roh untuk pertama kalinya, Negeri Tengah Hari. Ditambah dengan inkarnasi berikutnya sebagai Imam Druid dan kemudian mati sahid sebagai seorang Imam Kristen dalam inkarnasi ketiga belas itu juga memberinya kesempatan untuk mengakhiri putaran bumi keempat belas.

Ini seharusnya menjadi Tahap Keenam, tapi itu tidak terjadi. Akhir itu sudah di depan mata, namun Penggoda itu mampu membuat dirinya tersesat, dan ia membuatnya tersesat melalui kesalahan spiritual paling berbahaya, yaitu kebanggaan. Kebanggaan pada gilirannya menyebabkan kebohongan dan penipuan, dan dalam satu kepada siapa orang lain mencari bimbingan, itu memang kesalahan serius – kesalahan yang menempatkan seluruh kemajuan spiritualnya dalam bahaya.

Untuk ketiga kalinya ia jatuh dan ia secara efektif kembali ke Tahap Ketiga lagi. Beberapa inkarnasi masa lalunya telah menuntunnya untuk terus mendaki kepada ketinggian. Mereka membawanya ke jurang kesempurnaan, dan kemudian ancaman buruk kebanggaan membawanya rendah, bahkan sebagai Penolong rupanya jatuh ke racun mematikan, ribuan tahun sebelumnya. Banyak roh sangat berkembang jatuh dengan cara ini dan jatuh lebih jauh dan lebih serius daripada sang Hikayat dalam representasi ini.

Dapat dikatakan bahwa Tahap Keempat dimulai lagi setelah sang Hikayat jatuh ke dalam Neraka dari Kemunafikan, untuk menyadari bahwa ia telah jatuh dan mengakui kesalahannya, ia berusaha mati-matian untuk menebus kesalahan, bukannya terus mengambil jalan ke bawah sebagaimana yang sering terjadi dalam keadaan seperti. Begitu banyak sehingga dalam inkarnasi berikutnya ia memiliki kesempatan untuk memberikan hidupnya untuk imannya dan melunasi banyak utang yang telah dikeluarkan dalam kehidupan di bumi sebelumnya. Tapi dia masih sangat jauh dari ketinggian spiritualnya. Inkarnasi keenam belas, ketika kelahirannya dibatalkan di bumi, diperlukan bagi dia untuk melanjutkan pembangunan nya di Alam Astral, yang pada gilirannya memberinya kesempatan untuk membuat kemajuan lebih lanjut dalam Negeri Tengah Hari.

Itu hanya dalam inkarnasi ketujuh belas, sebagai seorang biarawan, memungkinkan ia untuk masuk kembali Tahap Kelima dan sekali lagi menyerang Jalur Kesempurnaan. Tempatnya disemen di bagian tertinggi dari Jagat Roh, tapi kita mungkin bertanya-tanya tentang kehidupan kedelapan belas sebagai budak. Tidak diragukan lagi ia memiliki cukup banyak hutang yang harus dibayar, tetapi tampaknya pelajaran utama yang harus dipelajari dari inkarnasi ini dihubungkan dengan fakta bahwa sudah banyak dalam kehidupan sebelumnya ia bermain peran seorang pria dalam keluarga dan menerima peluang dan godaan yang berkaitan dengannya. Dalam kehidupan kesembilan belas, ia juga seorang pria dalam keluarga, sehingga masih banyak pelajaran yang harus dipelajari di bidang itu, tetapi pekerjaannya sebagai seorang shaman dari suku tentu menyebabkan dia untuk mempertimbangkan hal-hal tentang Tuhan, dan sekali lagi ia diuji sebagaimana dalam hidup keempat belasnya. Kali ini, bagaimanapun, dia tidak menyerah pada kebanggaan dan ketika ia kembali menghabiskan waktu pada bagian tertinggi dari Jagat Roh ia siap untuk kembali ke bumi lagi.

Perhatikan, bagaimanapun waktu antara inkarnasi sekarang jauh berkurang, itu merupakan tanda bahwa seseorang mendekati akhir dari perjalanan duniawi. Jadi sang Hikayat sekali lagi masuk ke Tahap Keenam. Dia mendapatkan hak sekali lagi untuk kembali mengakhiri putaran kehidupan di bumi. Dia akan diberi kesempatan kembali mendaki jalan spiritual, pernah berjuang untuk menghindari bahaya yang sebelumnya telah menjatuhkan dirinya begitu rendah, sampai akhirnya ia akan menang karena memang kita semua akan menang, suatu hari.

Kali ini Tahap Keenam selesai dengan sukses. Bahkan ditegakkan pemisahannya oleh Penolong mungkin telah menjadi sumber inspirasi bagi sang Hikayat, tapi dia tidak menang dengan mudah dan beberapa orang telah membuat semacam upaya yang ia buat dalam hidup terakhirnya. Keadaan kurang sehat di inkarnasinya menunjukkan bahwa dia masih memiliki hutang yang harus dibayar, tetapi kombinasi dari penderitaan dan pelayanan memungkinkan dia untuk mengakhiri putaran kehidupan bumiah cukup cepat. Bahkan usaha kecil akan memungkinkan dia memenangkan mahkota meskipun memakan waktu yang lebih panjang di bumi. Seperti itu ia mampu melewati hampir langsung dari bumi ke Alam-alam Shamayim, pada usia muda dari dua puluh lima tahun tanpa henti pada Alam Astral dan Jagat Roh. Pencapaian ini kurang biasa daripada yang seharusnya, untuk roh seperti itu telah menyelesaikan pelajaran mereka dari Alam Astral pernah kembali ke bumi untuk hidup terakhir kalinya. Dan jika barangkali ada beberapa hutang kecil tetap harus diselesaikan di sana, ini sering terjadi seperti makhluk yang sangat spiritual dapat berfungsi pada Alam Astral dan / atau Jagat Roh setiap malam ketika tidur di bumi.

Dengan demikian ia akan memiliki kesempatan untuk menyelesaikan setiap hutang kecil yang masih harus diselesaikan pada alam – alam itu, sementara masih hidup di bumi. Ini adalah fakta lain yang cenderung mempercepat kemajuan roh selama beberapa inkarnasi terakhirnya, ketika benar-benar dapat dikatakan bahwa perjalanannya pada malam hari serta siang hari. Dengan cara ini, roh yang berkembang seringkali mampu menyelesaikan beberapa hutang terakhir dan segera siap untuk melewati kematian fisik, seperti yang terjadi dengan sang Hikayat.

Tidak ada dalam cerita yang memberitahu kita bahwa ini adalah persis apa yang terjadi pada sang Hikayat, tapi seperti yang kita tahu bahwa ia mampu menerima pesan dari Penolong, ia harus memiliki setidaknya beberapa kemampuan mistik, yang pasti akan membuat hal seperti itu mungkin.

Akhirnya kita harus perhatikan cara ia bersatu kembali dengan pengetahuan inkarnasi masa lalunya – yaitu “atas dirinya sendiri” seperti yang kadang-kadang disebut. Hal ini tidak hanya penting bagi individu yang bersangkutan, seperti yang dikatakan Mshikha, “namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” (Mattai 11:11)

Dengan demikian mereka dapat melakukan jauh lebih banyak untuk Tuhan dan sesama mereka sebagai Orang Suci Alaha, dan pada akhirnya alasan kita berusaha untuk mencapai tujuan bahkan sang Hikayat melakukannya.

Perjalanan dari seorang “Jiwa Khas”

Hidup No Tanggal Lahir Area Pekerjaan Masa tahun di bumi Masa Tahun di Alam

Astral

Years in Hell Masa Tahun dalam

Negeri Senja

Masa Tahun dalam Negeri Pagi Masa Tahun dalam Negeri tengah Hari Masa Tahun Kelahiran ke Kelahiran
1 5100 S.M. Akkadian Kretin 25 50 675 750
2 4350 S.M. Bulgaria Petani 40 30 400 180 650
3 3700 S.M. Mesir Ahli Tulis 38 42 370 450
4 3250 S.M. Sumeria Saudagar 65 2 583 650
5 2600 S.M. Afrika Budak 17 60 303 120 500
6 2100 S.M. India Tukang Sepatu 50 20 300 370
7 1730 S.M. Cina Pejabat Istana 65 10 300 375
8 1355 S.M. Kreta Pengemis 15 50 290 355
9 1000 S.M. Lebanon Anak 1 52 247 300
10 700 S.M. Australia Ksatria 70 0 230 300
11 400 S.M. Samoa Tabib 50 30 20 150 250
12 150 S.M. Prancis Imam Druid 80 0 170 250
13 100 M. Inggris Imam 60 10 130 200
14 300 M. Tibet Lama 79 1 250 15 5 325
15 650 M. Arabia Ksatria 22 40 98 110 270
16 920 M. Russia Aborsi 0 62 203 265
17 11850 M. Burgundi Rahib 45 40 171 256
18 1441 M. Turki Budak 80 5 169 254
19 1695 M. Amerika Shaman 75 0 120 195
20 1890 M. Prussia Pendeta 25 25
Total 902 504 1436 1500 1450 1223 7015

Tabel.

Saya juga harus seperti pembaca, mempelajari tabel di atas. Berjudul “Kehidupan sang Hikayat” dan merangkum aspek yang paling penting dari setiap kehidupan duniawinya, bersamaan dengan perkiraan waktu yang sang Hikayat habiskan di Alam Astral dan di berbagai bagian dari Jagat Roh antara inkarnasinya di bumi. Meskipun saya tidak mengklaim “Kisah sang Hikayat” menjadi otoritatif, kita akan, untuk saat ini menganggap bahwa itu adalah otoritatif, karena ada beberapa poin yang menarik untuk dibuat dan tabel yang diperlihatkan lebih jelas dari pada yang bisa dilakukan setiap cerita.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah total waktu yang dibutuhkan sang Hikayat melewati kehidupan sebagai seorang anak kecil sampai ia menjadi tua – 7015 tahun. Ini lebih panjang dari seluruh sejarah tertulis dan cerita membuatnya cukup jelas bahwa Penolong adalah lebih tua beberapa kehidupan dari sang Hikayat. Dia mungkin setidaknya dua ribu tahun lebih tua sebagai manusia dan mungkin tiga atau empat ribu. Meskipun waktu yang singkat dibandingkan dengan ratusan inkarnasi dihabiskan di kerajaan binatang yang mendahuluinya, masih membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mempelajari pelajaran dari tingkatan manusia.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita biasanya menghabiskan waktu lebih lama di bumi dari pada di Alam Astral, terutama selama inkarnasi kemudian. Hal ini tidak selalu terjadi, tetapi atas seluruh inkarnasi, sang Hikayat menghabiskan hampir dua kali lebih lama di Alam Fisik seperti yang ia lakukan pada Alam Astral.

Tentu saja adakalanya roh membutuhkan pengalaman di Alam Astral dan dalam kasus itu, kemungkinan untuk memiliki satu atau lebih inkarnasi yang tidak hidup lama di bumi. Hal ini terjadi beberapa kali untuk sang Hikayat, tetapi secara umum kita menghabiskan waktu lebih lama di Bumi dari pada di Alam Astral. Sebagian ini adalah karena Alam Astral hanyalah tahap peralihan antara alam fisik dan rumah nyata kita di Jagat Roh, dan sebagian itu karena, setidaknya dalam inkarnasi kita nanti, kita dapat belajar untuk berfungsi pada Alam Astral ketika kita tidur di bumi. Tentu saja kita menghabiskan waktu lebih lama pada Jagat Roh dari pada kedua hal tadi digabungkan, seperti yang ditunjukan tabel itu.

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah bahwa total Gabungan waktu yang dihabiskan di Alam Fisik dan Alam Astral kira-kira-kira sama dengan periode menghabiskan di masing-masing divisi utama dari Jagat Roh. Ini harus melayani untuk mengingatkan kita betapa besar Jagat Roh ini, terutama ketika kita ingat bahwa sang Hikayat menghabiskan waktu yang relatif singkat di Divisi Ketiga Neraka, di mana roh-roh sering tinggal selama berabad-abad dan tidak ada sama sekali dalam dua divisi lebih rendah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah waktu yang relatif lama yang dibutuhkan sang Hikayat untuk mempelajari pelajaran dari Negeri Setengah Percaya pada saat pertama kali ia pergi ke sana, ketika ia adalah jiwa yang sangat muda. Periode yang ia habiskan ketika ia pulih dari kejatuhan jauh lebih pendek, dan dia belajar lebih cepat. Hal ini sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa jika keduanya sama-sama tulus, jiwa lebih tua dan lebih berpengalaman akan selalu memiliki kapasitas untuk belajar lebih cepat dari roh yang muda. Tetapi juga fakta bahwa meskipun kenangan masa lalu kita jauh hilang kesadaran kita, hal itu masih mempengaruhi alam bawah sadar kita dan dengan demikian memungkinkan kita untuk kembali belajar apa yang kita sudah “tahu” jauh lebih cepat dari pengetahuan yang “baru” kita dapatkan yang belum dipelajari sebelumnya. Inilah yang memungkinkan kemajuan sang Hikayat relatif cepat dalam upaya kedua dan selanjutnya untuk mempelajari pelajaran dari Negeri Setengah Percaya. Hal ini juga menunjukkan bahwa ketika kita menderita kejatuhan besar, pengetahuan dan pengalaman kita sebelumnya tidak hilang atau terbuang. Sebaliknya, itu tersembunyi di bagian terdalam dari alam bawah sadar kita seperti yang kita sekali lagi siap untuk menggunakannya.

Akhirnya kita harus melihat bagaimana periode waktu antara inkarnasi mengurangi, sebagaimana spiritual meningkatkan dan meningkat lagi setelah kejatuhan. Harap dicatat, bagaimanapun, bahwa kemudian tidak ada periode inkarnasi yang dihabiskan di bagian yang lebih tinggi dari jagat Roh yang mungkin mendekati maksimum dan ini tampaknya menjadi normal. Seolah-olah roh hanya bisa belajar banyak pada Jagat Roh sebelum kembali ke bumi untuk mempelajari pelajaran lebih lanjut atau mungkin, kadang-kadang kembali ke bumi hanya dalam waktu singkat agar dapat kemudian menghabiskan waktu di Alam Astral untuk belajar sesuatu yang lain.

Tapi meskipun kebutuhan ini, di hampir semua kasus bagian utama dari waktu roh dihabiskan di Jagat Roh. Yang paling mungkin untuk pengecualian norma ini di atau dekat akhir inkarnasi ketika hutang Bumi mungkin masih perlu diselesaikan, lama setelah di Alam lain, dan bahkan setelah semua pelajaran dari keberadaan manusia telah diterima. Setelah seperti inkarnasi “terakhir”, roh mungkin siap untuk melewati langsung ke Alam dari Orang Suci, seperti yang terjadi pada sang Hikayat, meskipun tidak untuk Penolong. Hutang bumi masa lalunya yang menyebabkan sang Hikayat membutuhkan inkarnasi lagi ketika Penolong bisa maju tanpa kembali ke bumi.

Kadang-kadang terjadi bahwa roh tidak cukup menyelesaikan pelajaran duniawi dalam hidup terakhirnya. Jika semua sudah belajar yang perlu di ketahui di Alam Astral dan Jagat Roh terkadang diizinkan untuk segera reinkarnasi dan cukup sering, hanya dalam beberapa tahun. Dalam kasus seperti itu tidak jarang setidaknya beberapa memori dari kehidupan masa lalu terbawa melalui itu, terutama ketika masih muda. (Biasanya kurang dari tujuh tahun). Ketika waktu yang lama telah berlalu antara inkarnasi kenangan tersebut secara umum berkurang. (seperti yang kita harapkan).

RINGKASAN

Saya harus kembali menekankan bahwa saya tidak mengklaim “Kisah sang Hikayat” otoritatif. Termasuk tabel yang diberikan sebelumnya. Tetapi jika mereka, dan jika kita bisa mempelajari serangkaian cerita seperti tentang individu yang berbeda dan membandingkan sejumlah tabel tersebut, pikirkan berapa banyak kita bisa belajar tentang kemajuan manusia di bumi. Pikirkan berapa banyak lebih pasti dan cepat kita bisa membimbing dan mengarahkan murid kita sendiri sepanjang Jalan Sempit (Mattai 7:13).

Kemudian memahami bahwa para malaikat memiliki banyak pengetahuan tersebut dan berpikir berapa banyak Malaikat Pelindung harus tahu tentang manusia, mereka pernah mengambil tugas membimbing bahkan percikan Ilahi yang rendah hati. Dan berapa banyak lagi mereka akan tahu tentang kita ketika mereka telah menghabiskan banyak nyawa dan banyak usia membimbing dan mengarahkan setiap usaha kita. Maka sesungguhnya, kita akan sangat siap untuk mendengarkan bisikan malaikat pribadi kita, karena mereka dapat mengajarkan kita banyak hal, dan pasti akan membawa kita lebih dekat ke tujuan dari semua perjuangan kita jika saja kita mau belajar untuk mendengar mereka dan mentaati bimbingannya

Dan jika “Kisah sang Hikayat” mengajarkan kita tidak lebih dari ini, itu memang akan bernilai menjadi lebih baik sementara kita belajar, dan saya akan dibenarkan jika menyertakan cerita yang relatif modern di hikayat dari Kebijaksanaan Kuno ini.

(See, http://orthodoxcatholicnew.tripod.com/)