REINKARNASI II

REINKARNASI II 2018-02-08T08:41:57+00:00

REINKARNASI II

Dibelenggu demi Kompromi Para Uskup dan Kaisar Justinian

Konsili Gereja Kelima di Konstantinople

Kompilasi Tulisan oleh, Rt.Rev. Bishop Nicholas, CKC

Dan dia akan menentang El Yang Maha Tinggi (‘el-yō-w-nînעֶלְיוֹנִ֖ין atau ‘il-lā-’āh – עִלָּאָה֙) – dan menindas  Orang-orang Kudus (ū-lə-qad-dî-šê  – וּלְקַדִּישֵׁ֥י)dari Alaha Maha Tinggi. Dia akan mencoba mengubah perayaan-perayaan suci mereka (מוֹעֵד (mo’ED) dan Perintah-perintah (wə-ḏāṯ,וְדָ֔ת), dan mereka akan ditempatkan dibawah kendalinya (si jahat) untuka satu masa, beberapa masa, dan setengah masa.

(Kitab Daniel 7:25)

[1]

Setelah Masa Rasul Shaul (Paulus)

“Setelah masa Shaul [Paulus] munculd manusia-manusia jahat, serigala-serigala berbulu domba yang berjalan di tengah-tengah jemaat Anak-anak Alhym, merobohkan iman banyak orang dengan cara yang sama yang mereka lakukan untuk mengacaukan iman mereka sebelum wafatnya Shaul.

Orang-orang ini berpura-pura mengikuti Jalan Hidup Yeshua Mshikha, dan Rasul-rasul [Shlykhim]. Mereka menyembelih dan mampu menyingkirkan kaum Nasrani dari kedudukan mereka dalam Jemaat-jemaat di negeri Yunani. Setelah usaha mereka ini berhasil mereka berkata kepada orang-orang, “Kita ikuti kebenaran seperti yang diajarkan kepada kita oleh rasul Shaul.” Orang-orang percaya kepada mereka ini karena mereka telah membuktikan dengan banyak hasil pekerjaan nyata yang baik dan mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dalam Nama Alhym. Tetapi ada beberapa orang diantara jemaat itu yang tidak percaya kepada orang-orang ini adalah jujur dan mereka ini tidak benar seutuhnya, lalu mereka meninggalkan tempat itu dan mengasingkan dirinya sendiri ke Padang Gurun di mana ada Jemaat Besar telah bermukim untuk suatu masa.

Orang-orang dari Jemaat-jemaat yang suatu kali waktu ada dibawah asuhan Shaul menyingkirkan Torah dari meja bacaan dan mengajar orang lain bahwa Penyaliban telah membebaskan mereka dari kewajiban melakukan Torah. Banyak orang tertipu oleh kebohongan mereka tetapi ada orang-orang lainnya undur diri dari tempat itu untuk mencari kaum Nasrani.

Pada saat Jemaat Agung [Jemaat Yerusalem di Pengungsian, abad ke-2 M] mendengar sepak terjang orang-orang ini, para tetua menulis Surat kepada mereka, menasihati mereka agar kembali kepada jalan Torah Alhym dan bertobat dari perbuatan mereka yang fasik itu, tetapi orang-orang ini tidak mau mendengarkan para tetua dengan terus melanjutkan perbuatan – perbuatan jahat mereka… [Rabban Yosip mengutus delegasi kepada uskup Roma, Sylvester I, tahun 318] Dari waktu itu hingga seterusnya orang-orang ini dan semua mereka para pengikutnya disebut dengan nama “Nozrim” [Kristen], sebab mereka telah merekayasa “ha-mashyakh palsu” dan mengubah Nama “Ha-Mashyakh Asli” demi rancangan kegelapan mereka sendiri…

Mereka membangkitkan seorang manusia yang bernama “Yusap”, tetapi mereka memberi dia nama baru, memanggil dia sebagai Petros, sebab mereka tahu kaum Nasrani menyukai nama Keippa (Petrus) seorang Rasul (Shlyakh)  yang diutus ke Babilonia kepada kaum Israel yang hilang; mereka melatih dia dalam segala hal akan ajaran-ajaran jahat mereka dan mengutus dia ke Roma untuk merobohkan iman saudara-saudara di tempat itu dan namanya menjadi besar, dipanggil dengan sebutan Petros dalam bahasa-bahasa lain, dia mengatur dari rumah mereka setelah menyingkirkan murid-murid Shaul dari tempat itu… Dan banyak ketidak-adilan terjadi dan Torah turut dicemarkan dan Nama Mshikha diganti dengan suatu nama ilah palsu  … dan mereka mengikuti pengajaran si Jahat orang-orang penyembah berhala Yunani dan menciptakan banyak perombakan dalam nama “ilah palsu” mereka.

Dari Padang Gurun Jemaat berdoa setiap hari perihal berbagai peristiwa yang terjadi di Yunani…Dan terjadilah suatu suara keras terdengar dari langit berkata, “Aku adalah sang Bapa dan kamu tahu bahwa Aku memilih kamu dengan Perjanjian. Imanmu telah diperhatikan dan kamu akan diberkati. Jangan pedulikan perbuatan orang-orang ini, sebab mereka mengikuti ilah palsu yang mereka akui menjadi Anak-Ku. Ilah palsu mereka itu bukan Anak-Ku, tetapi Anak-Ku itu adalah Raja Perjanjian yang dibuat dengan kamu saat orang-orang Yahudi sesat ditawan ke Babilonia…Aku tidak memilih Yunani dan Aku tidak memilih Roma sebagai hamba-Ku, tetapi Aku memilih Israel dan Perjanjian-Ku dibuat bersama kamu, Orang-orang Kudus-Ku saja.” – Kitab Gulungan Wahyu Kehadiran.

 

PENDAHULUAN

Mengapa orang-orang Kristen tidak percaya lagi kepada doktrin Reinkarnasi (Gilgulim Neshamoth)?

Jawab: Selama berabad-abad, sejak tahun 553 para uskup gereja ortodoks Timur yang dikendalikan Kaisar Justinian berkompromi dengannya, mereka para uskup ini sudah tidak lagi mementingkan lagi Mistikisme dan Spiritualitas Rasuliah dan mengikuti perintah manusia, yakni kaisar Byzantium Romawi yang mengendalikan gereja di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Para Uskup ini sudah ada dalam cengkeraman tangan besi dan pedang kaisar sehingga mereka menjadi boneka kekuasaan duniawi dan menjadi sarana transportasi politik Kekaisaran. Sejak saat itu naskah-naskah banyak dibakar dan beberapa berhasil disembunyikan dalam biara-biara Kristen, dan puncak reformasi Protestantisme di Eropa juga punya andil besar saat pembakaran dan pemusnahan biara-biara Kristen, termasuk naskah-naskah kuno.

Kaisar mengajari kita semua tidak ada doktrin reinkarnasi dalam Alkitab, dan tidak ada Bapa-bapa Gereja, Para Rasul, Maran Yeshua, dan umumnya kaum Yahudi tidak percaya reinkarnasi, itulah yang diajarkan sosok manusia jahat ini dalam sejarah. Dia adalah salah satu tokoh jahat yang disebutkan dalam Daniel 7:25 yang mana Gereja mengikuti ajaran manusia jahat ini.

Berabad-abad orang Kristen dicekoki anti-reinkarnasi, dan juga tidak pernah disinggung sama sekali ajaran-ajaran reinkarnasi yang terkait dengan Tabur Tuai (Karma) karena sikap Anti-Semitisme yang begitu kuat tertanam dalam jiwa Kekeristenan non-Yahudi sejak perselisihan sekitar tahun 64 M., di Antiokia (Kisah 11:26) antara etnis Yehudim dan Goyim sesama pengikut Maran Yeshua Mshikha.

Kita orang-orang Kristen sekarang ini adalah korban-korban ajaran anti-reinkarnasi yang diputuskan oleh Konsili Invalid Kelima di Konstantinople tahun 553 M.

Jika anda memahami dengan baik Apa dan Bagaimana Reinkarnasi Kristen, maka anda semakin mengetahui Ajaran-ajaran Rasuliah, Alkitab (PL dan PB) dengan baik, tanpa pemahaman reinkarnasi anda akan selalu berada dalam pusaran air kebingungan untuk memahami Iman anda.

Anda menolak reinkarnasi karena anda tidak tahu, kami tahu Apa yang anda tidak tahu, dan apa yang anda ketahui sebenarnya anda tidak tahu!

Berhentilah mengajarkan bahwa reinkarnasi itu tidak ada dalam Alkitab agar anda tidak seperti pepatah mengatakan, “meludah ke langit terpercik muka sendiri”! Letak persoalannya, karena anda tidak tahu. Ketidaktahuan anda jangan anda ajarkan kepada orang lain sehingga anda menjadi pengajar yang salah dan anda akan dihakimi dengan ajaran anda sendiri.

Zaman modern saat ini dimana teknologi informasi sosial media begitu terbuka dan mudah diakses tidak bisa lagi kita menutupi segala “ajaran-ajaran palsu” yang kita ajarkan. Manusia modern sudah terdidik dan sangat kritis dalam segala hal. Ini bukan “Zaman Kegelapan” lagi dimana arus informasi bisa dibendung dengan kekuasaan ataupun politik gerejawi. Semuanya sekarang transparan antara yang Baik dan Jahat terbuka lebar dan jelas.

Jika anda mengatakan atau menolak doktrin reinkarnasi, ini mengindikasikan anda adalah pengikut Kaisar Justinian si pembunuh dan perusak Iman Gereja Rasuliah!

Doktrin Reinkarnasi (Yunani: μετεμψύχωσις – Metempsychosis: Transmigrasi Jiwa setelah kematian) sejak awal sudah ada diyakini masyarakat Yahudi, jauh sebelum Maran Yeshua menjelma menjadi Anak Manusia dan masa Para Rasul abad pertama Masehi. Keyakinan ini tidak pernah dilarang dalam Alkitab Tanakh (Perjanjian Lama) dan Brith Chadasha (Perjanjian Baru), dan tidak ada sepatah katapun dari Maran Yeshua menolaknya atau melarangnya, dan begitu juga Para Rasul. Juga keyakinan reinkarnasi (Ibrani: Gilgulim Neshamoth; siklus jiwa-jiwa) dan Karma (Ibrani: זָרַע, zara: tabur dan קָצַר – qatsar: tuai, dalam bahasa Sanskrit: कर्म; Karma) tidak juga berasal dari pengaruh Zoroasterisme sebab Agama Persia ini sangat anti-terhadap reinkarnasi, dan begitu juga bukan berasal dari agama Atenisme Mesir. Pastinya adalah ajaran keimamatan Melkisedek itu sendiri.

Mengapa?

Reinkarnasi Jiwa-jiwa (Ibrani: Gilgul Neshamoth) merupakan keyakinan umum sebagaimana dilaporkan oleh Josephus Flavius, pakar sejarah Yahudi. Flavius Josephus (sekitar 37-100 M) adalah pakar sejarah Yahudi terkenal. Dia seorang Farisi, dilahirkan Joseph ben Matthias yang bertugas sebagai komandan di Galilea dalam pemberontakan Yahudi melawan Romawi tahun 66 M. Karya Zaman Purbanya, dituliskan sekitar tahun 93-94 M., menggambarkan sejarah kaum Yahudi dari Penciptaan hingga dengan kisah lengkap kaum Makkabe dan dinasti Herodes. Reinkarnasi diulas melalui karya-karya tulisnya seperti garam yang diaduk orang. Dia berbicara kelahiran kembali (rebirth) dalam perihal fakta semacam itu bahwa orang harus berpikir perihal reinkarnasi adalah cara penerimaan berpikir yang begitu umum pada waktu itu bahwa reinkarnasi tidak perlu dijelaskan lebih lanjut lagi. Banyak pakar sejarah percaya sebelum menyebutkan diskusi antara Yeshua dan Para Murid menyangkut kelahiran kembali adalah sama. Tidak ada penjelasan rinci mengenai doktrin reinkarnasi sebab ini sudah begitu umum dipahami. Itulah sebabnya Para Rasul YAHUDI tidak merasa perlu menuliskannya kembali dalam karya tulis mereka. Letak persoalannya, setelah Injil tersebar ke seluruh dunia ada banyak bangsa-bangsa yang menolak doktrin reinkarnasi, mereka inilah yang menjadi sumber malapetaka dalam teologi Kristen:

Tubuh lahiriah semua manusia, sesungguhnya, adalah FANA, dan diciptakan dari bahan-bahan yang mudah rusak dan hancur; tapi jiwa adalah kekal selamanya, dan merupakan suatu porsi bagian dari ilahiah yang mendiami raga tubuh kita. Tidakkah kamu tahu, bahwa mereka yang meninggalkan dari kehidupan ini menurut ketetapan hukum alam . . . menikmati ketenangan abadi; bahwa kemah-kemah tubuh mereka dan keturunan mereka meyakini; bahwa jiwa-jiwa mereka yang murni dan taat, mendapatkan tempat sangat kudus di shamayim, dari mana semula, dalam siklus masa ke masa, mereka kembali dikirimkan . . . kedalam tubuh-tubuh lahiriah[2]; sementara itu jiwa-jiwa mereka yang tangannya telah melakukan perbuatan jahat mereka sendiri akan diterima oleh tempat paling gelap dalam Gehenna? (Sumber; the Works of Flavius Josephus, translated by William Wiston).

Kembali kepada masa Mshikha kita tak harus mencari jauh-jauh penelitian luas bagian doktrin “dilahirkan kembali” (rebirth0 diantara para pemimpin Yahudi ortodoks pada periode itu. Ada tiga filsuf Yahudi terpelajar yang muncul sebelum zaman Mshikha yang mengajarkan doktrin reinkarnasi. Mereka adalah Philo Judaeus, aka Philo dari Alexandria, sekitar tahun 20 S.M – 50 M., yang adalah filsuf Yahudi besar dan pakar teologi dari zaman periode Yunani-Romawi yang karya-karya tulisnya tetap bertahan sampai sekarang; Rabbi Yahudi Hillel, guru Kaldeaa agung yang memimpin Farisi di Yerusalem selama akhir abad ke-1 S.M., dan tahun-tahun awal dari era saat itu; dan guru Torah Yahudi agung lainnya, Yehoshuah ben Pandira. Masa kini tiga nama ini dalam Yudaisme dan nama mereka tetap sangat dihormati oleh semua Yahudi Ortodoks tanpa memandang mazhab. Mereka adalah sosok yang sangat berpengaruh tetap dalam sejarah keagamaan Yahudi dan mereka semuanya mengajarkan doktrin reinkarnasi.

Mazhab Farisi mengajarkan reinkarnasi bagi hanya jiwa-jiwa yang baik: “Mereka berkata bahwa semua jiwa adalah tak dapat rusak [kekal]; tapi bagi jiwa-jiwa manusia yang baik hanya dipindahkan kedalam tubuh-tubuh lainnya, tapi jiwa-jiwa manusia yang jahat dijebloskan kedalam …….. Gehenna.” (Josephus, The Wars of the Jews, Book 3, Chapter 8, No. 14, trans. William Whiston (Grand Rapids, MI:Kregel Publications, 1960) 478.)

Mazhab Esseni [Chassidim] mengajarkan pra-keberadaan jiwa: “Doktrin mereka, yakni: ‘Tubuh-tubuh adalah bisa binasa, dan bahan yang mereka diciptakan tidaklah permanen; namun, jiwa-jiwa adalah abadi, dan terus ada selama-lamanya; dan mereka berasal dari udara yang sangat halus, dan dilahirkan kedalam tubuh-tubuh jasmaniah mereka sebagai penjara-penjara, kedalam yang mana mereka ditarik oleh suatu bujukan alamiah tertentu; namun ketika mereka bebas dari kemelekatan daging, kemudian mereka, dilepaskan dari perbudakan yang lama, bersukacita dan naik menuju ke atas.’” (Josephus 478.)

Keyakinan terhadap pra-keberadaan jiwa adalah landasan dasar reinkarnasi. Banyak sarjana yakin hal ini, untuk tiga alasan, bahwa kaum Esseni menerima reinkarnasi.

Pertama, mereka menghormati tinggi bagi Kabala Yahudi, yang mana reinkarnasi diajarkan sebagai dasar keyakinan. Zaman awal sekali orang-orang Yahudi dikenal dan menyebut diri mereka sendiri Kabalis adalah Tanaiim yang bertempat tinggal di Yerusalem selama awal abad ke-3 S.M.

Kedua, keyakinan reinkarnasi kaum Esseni bertindih tepat dengan keyakinan rahib-rahib Buddhis yang telah sampai ke wilayah Palestina yang mengadakan persebaran agama Buddha, melalui Timur Tengah selama abad-abad sebelum kelahiran Yeshua. Kontak ini hanya sebatas disiplin rohaniah tidak dalam wujud doktrinal teologis. Juga kaum B’nai Manashe yang turut diangkut ke Pembuangan ke Babilonia tersebar dari mulai Persia, Afganisthan, India, Burma, Cina, dan bahkan sampai Jepang mengalami inkulturasi budaya dengan bangsa-bangsa, dan sebagaian mereka yang aliyah hagg ke Tanah Suci memboyong juga pengetahuan reinkarnasi ke Tanah Suci, namun, pengetahuan reinkarnasi dari Buddhisme Theravada India (Yanduah) dan Timur Jauh ini tidak menjadi dasar pemahaman teologis kaum Esseni perihal reinkarnasi, namun, pemikiran dan disiplin kerohanian yang dibawa kaum Bnai Manashe ini memperkaya disiplin rohaniah kaum Esseni Yahudi berakar.

Sekalipun ada kontak dan pengaruh, akan tetapi, kaum Esseni tidak menyerap pemahaman Reinkarnasi Buddhisme. Ada perbedaan signifikan antara Buddhisme dan Essenisme Yahudi; dalam Buddhisme, suatu jiwa bisa masuk kedalam tubuh jasmaniah binatang atau mahluk lainnya, sebaliknya, dalam Esseni Yahudi tidak meyakini jiwa manusia bisa masuk tubuh jasmaniah binatang atau mahluk lainnya, kecuali dalam raga fisik manusia baru yang dilahirkan seorang ibu manusia. Perihal ini sudah ditegaskan dalam Kitab Ayub (Kitab Ayub ditulis sekitar 2100-1800 S.M., sebelum Musa) yang berkata: “Dan ia berkata; dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dan dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalam kandungan ibuku itu lagi…. (Ayub 1:21a).

Ketiga, doktrin-doktrin kaum Esseni dan praktek komunitas merefleksikan suatu pengetahuan dari kaum Pythagorean (pendiri Pythagoras hidup sekitar tahun 570 S.M- 497 S.M), yakni perihal reinkarnasi. Pythagoras mengajarkan: “Jiwa manusia bisa bermigrasi dari satu tubuh manusia kepada tubuh manusia lainnya, tapi juga bisa masuk ke tubuh-tubuh mahluk lainnya, seperti binatang atau bahkan tumbuhan. Dengan masing-masing inkarnasinya yang baru, jiwa kehilangan memori dari masa lalu. Sehingga setiap waktu kita semua hidup seolah-olah kita hidup untuk yang pertama sekali.” (“The Religious View—East and West,” Reincarnation: The Phoenix Fire Mystery, eds. Joseph Head and S.L. Cranston (New York: Julian Press/Crown Publishers, Inc., 1977) 125. Pythagoras and his theory of reincarnation by Igor Bukker).

Sebagian pernyataan keyakinan Pythagoras ada titik temu dengan kaum Esseni, bedanya hanya jiwa tidak bisa reinkarnasi dalam mahluk-mahluk lain, kecuali hanya manusia saja. Sebagaimana mereka kaum Kohanim Bnai Zadok (Esseni) ini yakini seperti tersurat dalam Sefer Iyov 1:21a.

Demikianlah masalah doktrin reinkarnasi bukan suatu hal baru di zaman Yeshua dan Para Rasul, ini merupakan keyakinan umum Yahudi. Dialog dalam Injil Mattai 16:13-16 dan dialog Yeshua dengan rabbi Nikodemus (Yukhanan 3:1-9). Maran Yeshua sendiri menerima reinkarnasi seperti yang Dia sebutkan dalam merujuk kepada Yukhanan ha-Mikveh (Mattai 11:14-17). Kita juga tahu bahwa rasul Mar Shaul adalah seorang Farisi, dan ia seorang yang percaya reinkarnasi juga. Dalam Surat Kiriman kepada Jemaat Galatia, dia mengingatkan prinsip “Tabur” dan “Tuai” yang merupakan prinsip Reinkarnasi itu sendiri. (Galatia 6:7-8)

Dan banyak sekali penulis Bapa-bapa Gereja Kristen, umumnya menganut keyakinan reinkarnasi sebelum terjadi intervensi Kaisar Byzantium Romawi, Justinian (527 – 565 M) mencampuri urusan keagamaan dalam Konsili Kelima tahun 553 M di Konstantinople. Para Uskup Gereja Byzantium Ortodoks Yunani yang langsung dibawah kendali kaisar berkompromi dengan keputusan kaisar ini. Mereka ini sudah tidak lagi menjadi uskup-uskup yang mementingkan mistikisme dan spiritual tetapi pencarian materialisme dan kehormatan semata. Oleh karena itu, keputusan diambil Kaisar harus dipatuhi Gereja-gereja Kristen yang berada di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi Byzantium harus tunduk kepada keputusan Kaisar, dan saat itulah sampai sekarang doktrin reinkarnasi hilang dari keyakinan Kristen sampai sekarang.

Kardinal Mercier (1851-1926) dari Gereja Roma Katolik, seorang sarjana termashyur dan teolog konservatif Tradisi Kristen, dalam buku Psikologinya memberikan defenisi tiga sudut pandang mengenai reinkarnasi: “Dengan istilah Wiedermenschwerdung, metempsychosis, atau transmigrasi jiwa-jiwa, suatu aneka macam ide – ide yang luas bisa dipahami: serangkaian pengulangan keberadaan dibawah kondisi lipat kali ganda dimana jiwa mempertahankan kesadaran personalitasnya dan ada suatu unit final dalam serangkaian transmigrasi; atau serangkaian pengulangan keberadaan tanpa unit final, dan dengan perkiraan bahwa jiwa mempertahankan kesadaran dari personalitasnya; atau, akhirnya, suatu rangkaian pengulangan tiada akhir dengan kehilangan kesadaran identitas pribadi ….Sejauh pandangan pertama, kita tidak melihat alasan itu, jika meninggalkan jiwa itu sendiri, akan menyatakan ini menjadi tak mungkin atau kesalahan yang pasti.”

Selanjutnya Kardinal Mercier mengindikasikan ini: ada tiga kemungkinan keyakinan tentang reinkarnasi: (1) bahwa ada jiwa abadi yang masuk dari kelahiran kepada kelahiran selanjutnya hingga mencapai Keselamatan (dalam Yeshua, Filipi 1:4), yang mengakhiri proses kelahiran kembali, (2) bahwa jiwa abadi ini dilahirkan kembali selamanya dengan kelahiran kembali yang tak ada akhir, dan (3) bahwa tidak ada jiwa abadi, tapi hanya sejenis daya atau energi yang menjaga penciptaan mata rantai kelahiran kembali. Dalam Buku Panduan Filsafat Skolastik Modern, Kardinal Mercier kembali menyebutkan satu demi satu dari tiga sudut pandang itu perihal reinkarnasi dan kali ini menyatakan bahwa sudut pandang pertama “tak bisa dilihat tak mungkin atau bahkan salah.” [Dengan kata lain, pandangan pertama adalah mutlak benar] (I, 326).

Siapa yang paling bertanggungjawab atas hilangnya doktrin Reinkarnasi Kristen?

Jelas, dalam catatan sejarah mereka sebanyak 156 Uskup-uskup Gereja Ortodoks Timur, dan 5 Uskup dari Gereja Latin,  dan satu uskup menolak, yaitu, Paus Vigilius (wafat tahun 555 M) yang menolak penghapusan doktrin reinkarnasi Kristen.

Sebenarnya, embrio kemurtadan Kristen dari orang percaya Yeshua Mshikha, khususnya Bangsa-bangsa sudah mulai tahun 64 M., di Antiokia ketika mereka mulai menyebut diri “Kristen” (Kisah 11:26) dan dilanjutkan friksi ini setelah abad ke-2 M., terjadi perpisahan antara orang Kristen Bangsa-bangsa dan kaum Jemaat Nasrani Yahudi yang berpusat di Yerusalem. Dan puncak terakhir tahun 318 M., saat utusan Rabban Mar Yosip meminta Uskup Sylvester I untuk memulihkan Jemaat Yerusalem Yahudi dengan mengajak kembali kepada jalan Hidup Torah dan Ajaran-ajaran Rasuliah Yahudi Asli sebagaimana diajarkan Maran Yeshua Mshikha. Ajakan ini ditepis oleh Uskup Sylvester I dengan mengatakan: “Mulai sekarang Jemaat Baru berpusat di Roma!”

Sejak Abad Ke-4 M., terjadilah perubahan Iman Rasuliah yang katolik ortodoks sebagaimana awalnya diajarkan Para Rasul, kini telah disusupi ajaran-ajaran paganism dan formulasi tafsir kolektif Iman yang seharusnya tak boleh dirombak sebab sudah diperingatkan oleh rasul Yudas: “Iman satu kali disampaikan kepada orang-orang kudus.” (Yudas 1:3).

Pada zaman modern ini dengan semakin terbukanya arus informasi media melalui Internet, semua perkara masa lalu sudah banyak uskup, teolog, sarjana, dan para pemikir mulai mengevaluasi dan mengkritisi Iman yang mereka yakini. Arus informasi tak bisa lagi dihambat dan dipasung seperti zaman dahulu di mana pejabat gereja bisa melakukan manipulasi ajaran-ajaran, kini setiap orang bisa menganalisa akan fakta dan kebenaran.

Pergerakan Gereja-gereja Rasuliah Katolik Ortodoks seluruh dunia yang “independen” menjadi krikil tajam dalam sepatu Gereja-gereja Rasuliah yang besar, mapan, kaya, dan banyak umatnya. Gereja-gereja Independen Rasuliah ini mulai mengembalikan “Format Kerasulan Abad Pertama” dan diantara mereka menyebut keyakinan Pra-Nikea abad ke-4 M.

Salah satu dari Gereja-gereja Rasuliah Independen ini adalah Gereja Nasrani Indonesia (Gereja Ortodoks Katolik Nasrani Indonesia) yang berinduk di Australia dibawah jurisdiksi Keuskupan Agung, Primat Gereja Ortodoks Katolik Zaman Baru, yang dipimpin oleh Uskup Agung Mar John Reginald Cuffe, D.D., J.P., CKC.

Kitab Daniel mengatakan:  Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah.” Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya. (Daniel 12:4, 10)

Pasal 1

Kekristenan Awal: Agama Mistik dan Spiritual. Kemurtadan Gereja-gereja Rasuliah Abad Ke-4 M. Agama Resmi Kekaisaran Legalistis

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang reinkarnasi saya harus mulai dengan mengatakan bahwa mereka yang mempertanyakan adalah orang yang sangat sederhana dengan sedikit sekali pemahaman agama secara umum atau perihal Alkitab khususnya. Sekalipun mereka ini ada yang sudah mengenyam pendidikan sekolah tinggi teologi dan bahkan menjadi sarjana teologi sampai pada tingkat strata -3 (Doktoral) tetap saja, belum tentu, memahami dengan baik perihal mistikisme dan spiritualitas yang sangat berbeda mereka dapatkan dalam pembelajaran sekolah teologia yang lebih menekankan perihal akademik intelektualnya, sementara mistikisme dan spiritualitas ini tak bisa dipahami lewat pembelajaran akademis saja karena ini berkaitan dengan sekolah kenabian. Rencana Ilahi bagi Ciptaan-Nya adalah jauh lebih rumit dari pada kita yang fana ini bisa berharap untuk mengerti, dan pemahaman ini hanya bagi mereka yang punya pengalaman dalam jalan sempit mistik yang bisa memahami bahkan sebanyak yang kita tak ketahui. Pada umumnya mereka hanya bisa bicara di permukaan saja, berdasarkan naskah-naskah tertulis dalam Alkitab, tidak kurang lebih sebagai kolektor pengumpul ayat-ayat dan menyambungkannya dengan ayat-ayat lain yang dianggap rasional.

Ini adalah suatu karunia nubuatan yang datang dan pergi sebagaimana Ruakh ha-Kodesh menuntun dalam kehidupan semua orang percaya Mshikha.  Ada juga ‘yang sebagian’ dari individu yang disebut sebagai nabi-nabi. Orang-orang ini menerima langsung komunikasi dari YHVH (Aramaik: Mar-Ya) melalui Ruakh Ha-Kodesh seringkali diteruskan kepada seorang individu atau umat.

Nubuatan bisa datang dalam bentuk suatu pertanda yang kita ujarkan dalam perkataan yang sebut nubuatan atau seperti penglihatan-penglihatan dalam melihat berbagai peristiwa yang tak terjawab sebelum kita entahkah itu dalam keadaan sadar atau dalam tidur melalui mimpi-mimpi. Kitab Suci memberitahukan kita bahwa Mar-Ya tidak akan melakukan sesuatu dalam dunia jika tidak Ia pertama kali memberitahukannya lewat nabi-nabi-Nya.

Asal Muasal Sekolah Nabi-nabi (1 Samuel 19:18-24) dihitung mundur kepada Musa dan Abraham. Sejak masa Samuel misi ‘sekolah nabi-nabi’ juga disebut nabi-nabi secara penuh. Nabi Samuel di Israel menetapkan Saul sebagai Raja pertama Yehuda yang kemudian secara terbuka tidak mematuhi Mar-Ya. Dia kemudian mengurapi Daud menjadi Raja Israel (10 suku) dan Yehuda. Samuel kemudian pada waktu saat dia mau mati Raja Daud menasihatkan agar mengurapi Raja Salomo yang memerintah dengan penuh hikmat.

Pada tahun-tahun pertama Mshikhanuth (Kekristenan) adalah Agama Mistika yang sangat utama – begitulah disebutkan agama ini menekankan perlunya bagi anggota-anggotanya, dan khususnya bagi para pemimpinnya, mengembangkan dan mempertahankan hubungan dengan Alaha dan alam – alam di luar ruang bumiah. Pada zaman Rasuli norma agama ini diterima bagi para pemimpin Mshikhanuth untuk menerima Pesan – pesan dari atas dan bertindak atas pesan-pesan tersebut.  Nabi – nabi dihormati dan ucapan-ucapan mereka dipercayai, dan semacam situasi ini tampak bertahan kuat hingga setelah keruntuhan Yerusalem pada waktu itu, diperingatkan oleh Nabi-nabi mereka sendiri, Mshikhanim Yahudi (Judaeo-Christians) diketahui meninggalkan kota, sebelum legiun jenderal Titus mengepung kota. Kitab Wahyu, dituliskan sekitar tahun 90 M., terdiri hampir seluruhnya semacam penglihatan-penglihatan dan bahkan dalam periode paskah rasuli selanjutnya, ada banyak catatan-catatan para pemimpin gereja menerima instruksi-instruksi melalui visi – visi, trens, mimpi – mimpi atau pesan – pesan spiritual.

Kita juga melihat bahwa meskipun kontak mistik semacam itu terus berlanjut selama berabad-abad, itu menjadi semakin bertambah jarang pada Gereja Barat (Kekristenan Yunani – Roma), dimana penekanan gerejawi semakin bertambah terkait dengan perkara-perkara dunia ini, dan interaksi dengan kekuasaan sipil. Ini begitu banyak sehingga pada millennium terakhir atau lebih, kontak mistik tampak dibatasi hampir seutuhnya kepada para anggota rumah-rumah keagamaan (Biara–biara) yang mengabdikan diri mereka bagi hidup doa, meditasi dan lahitan – latihan spiritual lainnya.

Ini, pada gilirannya kita melihat ada hubungan dengan “Pembentukan” Kekristenan sebagai Agama “RESMI” Kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan kaisar Theodosius dan konsekuensi interaksi antara Gereja dan Negara pada abad-abad berikut selalu satu mata uang dua sisi yang tak terlepaskan. Para Kaisar Byzantium Romawi Timur dan Abad Pertengahan di Barat di Eropa, para pihak berwenang gerejawi seringkali mengabdikan kebanyakan usaha-usaha mereka bagi pengaruh atau meraih kekuasaan Sipil, dari pada mencoba kontak mistika dengan Alaha. Dalam Gereja – gereja Asia Timur Jauh, yang tak pernah mendapatkan diri mereka sendiri “menikmati” keuntungan yang meragukan dari Pembentukan (Agama Resmi), Mistikisme tetap menjadi segi utama dalam hidup gerejawi dalam kurun waktu yang lebih lama, dan ini barangkali disebabkan fakta bahwa pada saat di pertengahan tahun 1930-an Para Pendiri kami sedang mengusahakan Tahbisan-tahbisan Sah, pertama kali mereka diarahkan kepada Gereja Antiokia, sangat Ketimuran dari Para Patriak Besar dan akhirnya mendapatkan beberapa jalur garis silsilah suksesi rasuli melalui Kekristenan Timur Jauh.

Meskipun seperti yang kita katakan, pemerintahan gerejawi yang mapan sangat kuat tetapi prinsip-prinsip kuno perihal kontak mistika tidaklah pernah hilang sama sekali, bahkan di Barat, ini mungkin hanya sebagian saja dimungkinkan karena kesetiaan dan kuatnya keyakinan ini dipertahankan pada Kekristenan Timur Jauh (Nasrani), seringkali berada di tengah-tengah aniaya yang mengerikan, sehingga kami, para pengganti modern mereka membawa kembali ke Barat, Iman Mistika dari Para Rasul dalam bentuk asli yang tak dikorupsi. Ini juga sehubungan pada fakta bahwa Para Pendiri kami khususnya dipilih oleh Mshikha untuk ketetapan itu, sehingga mereka dilatih untuk maksud itu atas banyak inkarnasi-inkarnasi sebelumnya, dan kapasitas-kapasitas mistika mereka sendiri yang begitu memperluas bahwa mereka juga mampu melatih yang lain untuk melanjutkan Pekerjaan yang mereka telah dirikan bahkan setelah mereka dipanggil ke tempat kediaman Kemuliaan Surgawi.

Konsekuensinya dalam Gereja kami, Mistikisme tidak hanya sesuatu yang dibatasi terhadap segelintir terpilih. Ini sesuatu yang ditawarkan kepada semua orang Para Pencari yang tulus. Tidak semua akan menjadi Mistikus besar, sebab tidak semua ingin menjalani pelatihan yang sukar yang dibutuhkan, tapi dalam Gereja kami semua akan punya kesempatan untuk datang mengenal Alaha, dan mengenal Dia dalam cara yang kebanyakan orang Kristen bahkan tidak percayai masih mungkin terjadi. Untuk masa kini banyak orang-orang Kristen, seperti para pendahulu Yahudi mereka, adalah cukup mempersiapkan diri bagi meyakini pesan-pesan yang Alaha kirimkan pada masa lalu, sebab semua pesan-pesan ini dituliskan beberapa abad yang lalu, tapi mereka tidak akan menerima bahwa Ia masih bisa mengirim pesan-pesan semacam itu masa kini.

Demikianlah ini seperti Jemaat Yahudi dalam abad – abad sebelum kelahiran Mshikha di Bethlehem, banyak gereja-gereja modern juga berpikir sama, dalam kata-kata syair dari Kidung (No. 15 ayat 3) menyatakan “semua Kitab Suci telah ditutup dan dimeteraikan bagi yang setuju; terancam maut kepada mereka yang, mendengar, dengan berani tidak patuh.” Sebagai hasil, juga seperti Jemaat Yahudi pada hari itu, mereka menyembah Tafsir Tradisional khusus mereka dari Kitab-kitab Suci kuno mereka, seperti berhala kuno, dari pada mencari kontak mistik berkelanjutan dalam suatu Jemaat yang hidup seperti Jemaat kami.

Perihal doktrin Reinkarnasi adalah masalah SPIRITUAL ATAU MISTIKISME yang tak mudah dipahami bagi mereka yang terbiasa diindoktrinasi dengan ayat-ayat Alkitab, yang belum tentu benar kutipan-kutipan dan pemahaman dibalik ayat-ayat yang dikutip.

Seorang teolog terkemuka bernama Origen menulis sekitar tahun 250 M., tentang pra-eksistensi jiwa-roh. Dia mengajarkan bahwa sumber jiwa adalah Alaha dan bahwa jiwa itu berjalan kembali kepada kesatuan dengan Alaha melalui pelajaran-pelajaran di beberapa fase kehidupan. Dia mengajarkan bahwa Mshikha datang untuk menunjukkan kepada kita menjadi apa kita. Selama berabad-abad ini adalah pandangan mayoritas Kristen, tapi 300 tahun kemudian setelah Origen wafat menjadi masalah besar dan keyakinan ini dibuat ilegal karena Kaisar Justinianus percaya itu berbahaya untuk Kekaisaran jika warganya percaya pada reinkarnasi.

Pada abad ke-6 M, Kaisar Justinianus dan Paus Vigilius tidak setuju apakah atau tidak ajaran Origen harus dikutuk sebagai bida’ah. Paus mendukung pengajaran Origen tentang pra-ada jiwa dan reinkarnasi sebagai yang konsisten dengan ajaran Yeshua Mshikha. Kaisar bertekad untuk membasmi keyakinan ini meskipun Paus dan Gereja pada masa itu percaya terhadap reinkarnasi. Fakta bahwa ajaran reinkarnasi telah menjadi bagian dari teologi Kristen selama lebih dari 500 tahun tidak melengserkan Kaisar.

Tulisan Origen dianggap bid’ah oleh beberapa Kardinal (Uskup Agung) pada abad ke-6 M. Ajaran Origen dipandang spiritualitas hikmat kuno sebagai yang mendalam selama 500 tahun lebih. Origen hidup sekitar 250 M., dan menulis tentang pra-eksistensi jiwa dan reinkarnasi. Dia mengajarkan bahwa sumber jiwa adalah Alaha dan jiwa itu sedang melakukan perjalanan kembali kepada kesatuan dengan Alaha melalui Reinkarnasi. Bandingkan ucapan Yeshua: …Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia. (Yokhanan 6:56) dan Ia berdoa kepada Bapa: … Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu…(Yokhanan 17:23). Ini disebut Jiwa-jiwa manusia manunggal dengan Alaha melalui Gambar dan Rupa Ilahi, yakni Yeshua Mshikha sebagai Ciptaan Sulung dari semua ciptaan. (Kolose 1:15). Bapa mengandung konsep dalam Pikiran-Nya yang dilaksanakan oleh Sang Anak sebagai Hikmat Alaha dan dihidupi oleh Ruakh ha-Kodesh. Diciptakanlah “Gambar Alaha” dalam sang Anak dan Gambar Alaha itu merupakan penjelmaan dari sang Anak Alaha sendiri yang didalam Gambar Alaha ini diciptaakan segala sesuatu yang tercipta. Gambar Alaha yang PERTAMA / SULUNG diciptakan sebagai sarana dan wahana penciptaan (Kolose 1:15). Gambar Alaha adalah Tercipta, tetapi sang Anak tidak tercipta. Sehingga segala sesuatu berasal dari Alaha yakni sang Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam GAMBAR ALAHA. (Yohanes 1:3)

Gambar Alaha adalah lokus/ wahana di mana segala sesuatu diciptakan, dari sinilah roh-jiwa manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa KITA (Kejadian 1:26) dan berasal dan akan kembali kepada rancang bangun TERCIPTA INI DALAM SANG ANAK. Inilah yang disebut dalam bahasa Kejawen Jawa: “Manunggaling Kawula Ing Gusti” (Pemanunggalan antara manusia dan Tuhan-Alaha). Pemanunggalan ini bisa dipahami dalam Misteri Penjelmaan Inkarnasi Yeshua: sang Ilahi manunggal dengan Kemanusiaan, dan sebaliknya. Khalik dan Insan bersatu tetapi tidak lebur, tidak terpisahkan satu sama lain, tetapi tidak intervensi satu sama lain, kedua kodrat Keilahian dan kodrat Kemanusiaan ada dalam kesatuan.[3] Roh manusia tidak bisa lebur kedalam Roh Alaha karena keduanya berbeda secara kodrat dan hakikat.

Pemanunggalan ini terjadi dalam Gambar Alaha tercipta yang sulung itu dan Gambar Alaha dalam sang Anak Alaha tanpa peleburan tetapi tak terpisahkan satu sama lain. Ini adalah konsep Metafisika yang tidak bisa dinalar saat kita berada di bumi, tetapi setelah kita mati maka akal budi kita akan terbuka memahami misteri pemanunggalan ini.

Kaisar Justinianus menghendaki tulisan dan ajaran Origen dikutuk dan dihancurkan tetapi Paus Vigilius menolak menandatangani sebuah dekrit kepausan mengutuk ajaran Origen berkaitan dengan reinkarnasi. Sebagai hasil dari ketidaktaatannya, Kaisar menangkap Paus dan dimasukkan ke dalam penjara. Pada tahun 543 M, Justinianus meminta Konsili Gereja Ekumenis Kelima dan mengatakan kepada Paus ia harus menandatangani doktrin dan keputusan apapun yang diputuskan oleh Konsili. Saat ada kesempatan, dan kelalaian penjagaan, Paus melarikan diri agar terhindar dari paksaan mengutuk tulisan-tulisan Origen. Kaisar memerintahkan Konsili memberikan keputusan meskipun Paus menolak untuk hadir.

Ada alasan logis mengapa Kaisar menentang konsep bahwa semua manusia berasal dari Alaha dan kembali kepada Alaha melalui siklus kelahiran dan kematian. Justinianus telah diyakinkan oleh Kardinal Uskup Tertinggi bahwa untuk kepentingan Kekaisaran agar dimungkinkan tulisan-tulisan Origen terus disalin dan didistribusikan. Sekelompok kuat Kardinal dan Uskup menjelaskan bahwa, “jika setiap jiwa pernah pra-ada dengan Alaha, maka Mshikha bukan sesuatu yang istimewa datang dari Alaha.”[4]

Kardinal ini meyakinkan Kaisar:

“Jika orang-orang menyadari mereka adalah anak-anak Alaha (Yokhanan 10:34; Mazmur 82:6) mereka mungkin mulai percaya bahwa mereka tidak lagi membutuhkan Kaisar, atau tidak mau lagi membayar pajak, atau mematuhi Gereja Kudus. Hanya Mshikha yang datang dari Alaha, tetapi Alaha menciptakan jiwa baru setiap saat pada masa konsepsi dan hanya Gereja Kudus bisa membawa jiwa-jiwa ini kepada Alaha. Tanpa perlindungan Kekaisaran atau bimbingan gereja, semua orang akan ditakdirkan selamanya terputus dari Alaha di dalam Neraka.” [5]

Doktrin ajaran sesat dari para kardinal dan uskup ini sangat diterima oleh Kaisar karena melihat bisa berdampak merugikan Kekaisaran dimana masyarakat TIDAK BAYAR PAJAK DAN TIDAK TUNDUK KEPADA KAISAR SEBAB ORANG KRISTEN MELIHAT DIRINYA ADALAH ANAK-ANAK ALAHA (Yohanes 1:12). Setelah Justinianus memahami bahaya politik yang melekat dalam ajaran Origen, sisanya hanya seorang Kaisar bisa melakukan apa yang harus dilakukan demi kepentingan politiknya.

Dewan, diperintahkan oleh Kaisar, memformulasi 14 anathema baru dan pertama, mengutuk doktrin reinkarnasi dan konsep jiwa pra-ada dengan Alaha. Pernyataan Anathema adalah sebagai berikut:

“Jika ada orang yang menyakini pra-ada jiwa-jiwa, dan menyakini PEMULIHAN SEGALA SESUATU[6]; terkutuklah ia.”

Jiwa-jiwa (roh-roh) adalah intisari manusia yang bersifat kekal; tercipta dari yang tidak ada menjadi ada dan menjadi abadi. Itulah sebabnya Yeshua berkata, “manusia itu adalah “alaha-alaha” (bukan “Alaha” dalam huruf besar). Ini yang membedakan manusia dengan mahluk binatang. Konsep “alaha-alaha” (Ibrani: “elohim”, artinya penguasa-penguasa), itulah sebabnya Mar-Ya Alaha mengatakan: beranak cuculah, bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah, dan berkuasalah … (Kejadian 1:28). Ini merujuk kepada ke-tuhan-an sebagai “tuan” atau “penguasa.” Manusia adalah tuhan bagi alam semesta sehingga manusia punya kekuasaan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam dan mahluk hidup lainnya demi kepentingan dan melayani dirinya.

Sehingga Yeshua menegaskan, “Dia adalah Tuhan di atas segala tuhan-tuhan”, sehingga Ia berkata: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mattai 28:19). Dia adalah TUHAN atas segala Ciptaan yang tercipta. (lihat Ibrani 1: 10)

Gambar Alaha merupakan Rancang Bangun Ilahiah di mana semua yang akan dibangun digambar dalam Rancang Bangun; Rancang Bangun bagi arsitek adalah WADAH menggambarkan apa saja yang akan dibuat. Segala sesuatu yang dibuat sudah dirancang oleh Arsitek Bangunan; Si Arsitek dengan Kertas Rancang Bangun adalah berbeda hakikat dan kodrat ini kita ilustrasikan sebagai sang Anak Alaha, dan Perancang dalam Pikiran Arsitek adalah sang Bapa dan yang memberi HIDUP si Arsitek adalah Roh Kudus.

Jadi segala bentuk dan benda yang akan dibangun itu berasal dari Gambar Rancang Bangun dan jika kelak ada ketidaksesuaian maka harus diperbaiki sesuai gambar semula. Demikianlah roh-roh manusia berasal dari Gambar Ilahi ini bukan berasal langsung dari Alaha tetapi hasil penuangan pikiran dan hikmat Arsitek Agung. Tetapi Gambar Ilahi itu sendiri, dari situ berasal dan kembali kepada Rancang Bangun sehingga Bentuk bangunan sama dengan gambar yang dilukiskan.

… menyakini PEMULIHAN SEGALA SESUATU (Ibrani: Tikkun ha’Olam). Akan ada RESTORASI TOTAL JAGAT RAYA TERCIPTA seperti kita baca dalam Kitab Wahyu …LALU AKU MELIHAT LANGIT YANG BARU DAN BUMI YANG BARU, SEBAB LANGIT PERTAMA DAN BUMI YANG PERTAMA TELAH BERLALU,…(Wahyu 21:1)

Dengan demikian SIAPA YANG SESAT? Mereka yang percaya Reinkarnasi atau yang tak percaya Reinkarnasi seperti Kardinal dan Uskup-uskup Gereja Ortodoks Byzantium – Yunani yang MENJILAT KAISAR? Mereka inilah penyesat terbesar dalam Kekeristenan sepanjang sejarah, hukuman mengerikan sedang mereka jalani di Neraka sebagai Bidat-bidat. (Mattai 18:7)

Meskipun peristiwa ini terjadi disuratkan dalam buku-buku sejarah, Kekristenan modern memperlakukan ajaran reinkarnasi seolah-olah Yeshua tidak pernah mengajarkannya atau Jemaat Mula-mula pernah percaya itu. Fakta bahwa jiwa berasal dari Alaha dan ditakdirkan untuk menjadi alaha-alaha, karena Mshikha adalah Alaha, adalah alasan mengapa Setan memberontak.

Reinkarnasi adalah salah satu Doktrin Kristen yang hilang, sehingga Kekeristenan yang kita warisi umumnya hanya Kekeristenan LEGALISTIK bukan Spiritual dan Mistik seperti zaman Para Rasul. Tidak heran apa bila seorang Uskup sebagai pengganti Rasul-rasul tidak bisa menghidupkan orang mati, mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan. Semua Uskup-uskup dan rohaniwan Kristen hanya pelaksana legalitas keagamaan saja.

Jika keyakinan pada pra-keberadaan jiwa-jiwa dan reinkarnasi adalah dikenal luas pada Dunia sejak sebelum zaman Nuh dan merupakan keyakinan “Universal” pada tiap bangsa dan kebudayaan. Begitu juga, kaum Yahudi kuno dan Jemaat Nasrani Awal (Yahudi) dan Kristen Awal (Non-Yahudi).

Pasal 2

Doktrin Reinkarnasi tidak Diyakini lagi dalam dunia Kekeristenan Murtad

Alasannya yakni Kaisar Romawi bernama Justinian membuat kesepakatan terhadap reinkarnasi untuk dihapuskan dari doktrin resmi Gereja Kristen pada tahun 553 M.

Pada awal abad-abad Gereja Kristen, berselisih paham atas doktrin yang ditetapkan para uskup dari Gereja, melalui pertemuan yang disebut Konsili-konsili Ekumenis. Konsili-konsili Ekumenis ini adalah pertemuan besar, yang terjadi sekali-sekali saja, terkadang dalam seratus tahun satu kali. Untuk memahami kisah reinkarnasi dan Gereja Kristen, kita harus kembali kepada zaman tahun 330 M.

Pada tahun itu, Konstantinus Agung memindahkan ibukota Kekaisaran Romawi dari Roma (di Barat) ke Konstantinople, kota yang sekarang disebut Istanbul di Turki. Alhasil, dua pusat Gereja Kristen (Greco-Roman Christianity) berkembang; Gereja Barat – Latin di Roma dan Gereja Timur (Eastern) di Konstantinople. Kaisar-kaisar dari Konstantinople mengontrol Gereja Timur dan mendikte kebijakan politik sesuka hati mereka.

Sebagai contoh, Kaisar Konstantinople Leo III melarang gambar-gambar dan potret yang dipajang di Gereja-gereja, sehingga ikon-ikon, lukisan orang-orang suci, yang masa kini begitu dikagumi karena keindahannya, harus disingkirkan dari tempat-tempat peribadatan. Sebaliknya, di Gereja Barat yang berpusat di Roma menolak untuk menyingkirkan ikon-ikon. Sama persis, Kaisar Konstantinople Justinian memutuskan kebijakan bagi Gereja mengenai reinkarnasi.

Pada abad ke-6 M., Gereja terbagi atas isu doktrin reinkarnasi. Uskup-uskup Barat di Roma percaya perihal pra-keberadaan jiwa sementara Uskup-uskup Ketimuran menentangnya. Kaisar Justinian, yang mengontrol Gereja Ketimuran, menentang doktrin reinkarnasi. Sebagai contoh dari campurtangannya dalam urusan-urusan gerejawi, Justinian mengekskomunikasi Bapa Gereja Origen yang sudah kadaluarsa karena Origen telah wafat sejak tahun 250 M., dan baru tahun 553 dianatema dan almarhum Origen tentu tak bisa membela diri terhadap karya-karyanya lagi.

Lebih lanjut agendanya, Justinian mengumpulkan Konsili Ekumenis Kelima tahun 553 M., dengan hanya ENAM USKUP dari Gereja Barat yang hadir dan sebagai pendengar saja. Sebaliknya, 159 Uskup-uskup Gereja Ketimuran (Byzantium Ortodoks), yang kaisar Justinian kendalikan, hadir juga hanya pendengar pasif yang tak banyak mengeluarkan pendapatnya karena ketakutan kehilangan jabatan dan pedang kaisar yang siap menebas leher mereka.

Pertemuan ini yang mengulas masalah pra-keberadaan jiwa diputuskan dikeluarkan dari doktrin Gereja. Kaisar Justinian MEMANIPULASI DOKTRIN GEREJA dengan cara menodong dan mengancam uskup-uskup sebelumnya dibalik layar untuk setuju dengannya.

Paus Vigilius (wafat 7 Juni 555 M) memprotes peristiwa ini dan menuntut kehadiran yang seimbang antara Uskup-uskup Barat dan Ketimuran. Meskipun Paus hadir di Konstantinople pada waktu Konsili Ekumenis Kelima itu, dia memboikot Konsili sebagai bentuk protesnya. Justinian tidak hanya tidak perduli terhadap Paus Vigilius, tapi menganiaya dia.

Kaisar Justinian menginginkan tulisan-tulisan Origen dan ajaran-ajaran itu dikutuk dan dilenyapkan tetapi Paus Vigilius menolak menandatangani dekrit kepausan untuk mengutuk ajaran-ajaran Origen mengenai reinkarnasi. Alhasil dari ketidaktaatannya, Kaisar menangkap Paus dan memasukkannya kedalam penjara. Tahun 543, Justinian tetap melangsungkan Konsili Ekumenis ke-5 dan mengatakan kepada Paus ia harus menandatangani apapun doktrin yang ditetapkan konsili. Ketika ada kesempatan, dibawah pengawalan, Paus melarikan diri untuk menghindari dipaksa untuk mengutuk tulisan-tulisan Origen. Kaisar memerintahkan konsili meskipun Paus menolak untuk hadir.

Ensiklopedia Katolik menyatakan bahwa konflik antara Kaisar Justinian dan Paus begitu ekstrim karena Paus menderita banyak penghinaan di tangan kaisar dan hampir ia tewas terbunuh.

Bisakah anda menerima zaman kini seorang politisi atau kepala Negara bisa mendikte gereja kebijakan politik kepada Paus atau Paus akan memboikot pertemuan terbesar di Vatikan dalam seratus tahun? Namun inilah yang terjadi.

Hasilnya, Ensiklopedia Katolik menyatakan, konsili yang dipanggil oleh Justinian ADALAH KONSILI EKUMENIS PALSU, sehingga penghapusan doktrin pra-keberadaan jiwa sebagaimana salah satu doktrin Gereja tidak dipandang suatu dekrit sesungguhnya dari Konsili Ekumenis.

Pasal 3

Tiga Sudut Pandang Reinkarnasi

Ada tiga sudut pandang keyakinan reinkarnasi:

(1) Bahwa ada suatu jiwa yang abadi yang masuk dari kelahiran kepada kelahiran berikutnya hingga jiwa itu mendapatkan keselamatan, yang merupakan proses akhir lahir kembali.[7]

(2) Bahwa jiwa yang abadi itu dilahirkan kembali secara kekal dengan tidak ada akhir kelahiran kembali.

(3) Tidak ada jiwa abadi, tapi hanya sejenis daya atau energi yang memelihara ciptaan mata rantai lahir kembali. Dalam Buku Pedoman filsafat Skolastik Modern, Kardinal Uskup Agung Mercier menyebutkan satu demi satu kembali tiga sudut pandang reinkarnasi dan kali ini menyatakan bahwa sudut pandang pertama “tidak bisa ditunjukkan untuk menjadi tidak mungkin atau bahkan salah” (I, 326).

Pasal 4

Yeshua & Reinkarnasi (Gilgulim)

Dalam Perjanjian Baru, kaum Yahudi dilukiskan sebagai yang mengharapkan reinkarnasi dari nabi-nabi besar mereka. Sesungguhnya, nabi-nabi ini sudah berpikir perihal reinkarnasi pada masa – masa lalu. Contoh, mazhab Yahudi yang disebut kaum Samaria percaya Adam reinkarnasi sebagai Nuh, kemudian Abraham, menjadi Musa.

Reinkarnasi nabi-nabi kuno juga ada dalam pikiran kaum Yahudi pada zaman Yeshua. Faktanya, para pengikut Yeshua berpikir bahwa Dia adalah reinkarnasi seorang nabi. Marilah kita merefleksikan ayat berikut ini dari Beshora Mar Mattai:

“Ketika Y’shua datang ke tepi pantai Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid, kata-Nya, ‘Siapkah Aku kata orang-orang? Apakah Anak Manusia?’ Dan mereka berkata, ‘Ada orang berkata bahwa Engkau adalah Yukhanan ha-Mikveh, Kata orang, Eliyahu; dan lainnya, Yeremia, atau salah satu dari Nabi-nabi.’” (Mattai 16:13–4)

Herodes, yang berkuasa di Yerusalem dibawah kekuasaan bangsa Romawi, juga berpikir siapa Y’shua sebelumnya. Herodes juga berpikir Y’shua barangkali salah satu dari nabi-nabi kuno.

Pada saat Y’shua memberitahukan bahwa Dia adalah ha-Mashiakh (d’Mshikha) bangsa Yahudi, para pengikut-Nya menjadi bingung, sebagaimana kitab suci menyatakan nabi Eliyahu akan kembali dan mendahului kedatangan ha-Mashiakh. Para murid beranggapan bahwa ini jelas tidak sesuai terhadap Y’shua. Para murid menegaskan:

“Kalau begitu bukankah para ahli kitab menyatakan bahwa Eliyahu harus datang lebih dahulu. Dan Y’shua menjawab dan berkata kepada mereka, Eliyahu sesungguhnya harus datang lebih dahulu, dan memulihkan segala sesuatu. Tapi Aku katakan kepadamu, bahwa Eliyahu sudah datang, dan mereka tidak mengenal dia. . . . Kemudian para murid memahami bahwa Ia berkata kepada mereka perihal Yukhanan ha-Mikveh.” (Mattai 17:9–13)

Pada bagian lain dari Perjanjian Baru, Y’shua dengan jelas mengungkapkan bahwa Yukhanan ha-Mikveh adalah reinkarnasi nabi Eliyahu: “Diantara mereka yang dilahirkan dari para wanita tidak ada yang muncul lebih besar dari pada Yukhanan ha-Mikveh. . . . Dan jikalau engkau mau menerima perihal ini, ini adalah Eliyahu. . . . Ia yang empunya telinga biarlah mendengar.” (Mattai 11:11–15)

Reinkarnasi disinggung juga pada bagian Perjanjian Baru saat murid-murid bertanya kepada Y’shua mengapa orang ini dilahirkan buta. Para murid bertanya, “Apakah dosa orang ini atau orang tuanya?” (Yukhanan 9:34)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang buta merupakan inkarnasi sebelumnya di mana berkesempatan hidup masa lalunya berbuat dosa yang berdampak tabur tuai kebutaan. Tanpa dasar pemikiran reinkarnasi, bagaimana bisa orang buta melakukan dosa bertanggungjawab bagi cacatnya, sebagai orang buta dari sejak lahir? Y’shua tidak berselisih paham atas alasan para murid, namun Ia menyatakan bahwa kebutaan ada faktor lain.

Dengan demikian sudah jelas secara eksplisit bahwa kaum Yahudi percaya pada reinkarnasi (gilgulim) sejak awal sebelum Maran Y’shua menjadi Anak Manusia di Bumi. Jika kita berargumentasi dengan mereka yang menentang reinkarnasi dalam Alkitab yang perlu kita tanyakan kepada mereka: 1) Adakah Y’shua dan Para Rasul mengutuk reinkarnasi? Jelas sepanjang Alkitab kita baca tidak ada indikasi menentang reinkarnasi. 2) Keputusan Konsili Gereja Ekumenis bukan berarti keputusan Roh Kudus dan Para Rasul, dan hasil konsili gereja apapun dan kapanpun, kecuali zaman Para Rasul (Kisah 15) tidak bisa diakui sebagai sejajar dengan suara Alkitab, tidak sejajar dengan Suara Tuhan dan Alaha, dan tidak sejajar dengan suara Para Rasul. Sekalipun, mereka pengganti Rasul; Uskup, Imam, dan Diakon mewarisi suksesi rasuliah tidak bisa dipandang sah hasil keputusan mereka adalah Suara Roh Kudus, kecuali ada Wahyu-wahyu yang menegaskan hasil keputusan itu. Sekalipun Konsili memakai dasar kitab suci pada ayat Kisah 15:28 sebagai landasan teori dan dasar argumentasi rumusan hasil konsili ini disebut sebagai “hasil keputusan konsensus bersama yang bersidang” sehingga masuk kategori “fatwa tradisi manusia” atau “adat istiadat manusia.” Maran Y’shua d’Mshikha menyebutnya “adat istiadat nenek moyang.” (Mattai 15:3)

Hasil Konsili Ekumenis Kelima Gereja Kristen dan Kaisar Romawi Timur- Byzantium, yang menghapuskan doktrin reinkarnasi adalah hasil rekayasa para uskup yang korup dan kolaborasi dengan Kaisar, dan keputusan itu adalah didominasi keputusan kebijakan politik Kekaisaran yang dipaksakan dalam Gereja Ortodoks Byzantium dan dipaksakan di seluruh wilayah Kekaisaran. Ini adalah keputusan “legalitas” Negara atas nama Gereja yang menjadi boneka pemerintah. Keputusan ini tidak sah (invalid) dan juga campur tangan dunia sekuler merusak Iman Gereja, dan otoritas dan kuasa gereja diinjak-injak oleh kekuasaan duniawi.

Orang paling bertanggungjawab menyesatkan orang-orang Kristen sejak abad ke-6 M., sampai zaman modern ini adalah Kaisar Justinian dan Uskup-uskup Gereja Ortodoks Yunani-Byzantium (Kepatriakan Gereja Ortodoks Timur Byzantium).

Pasal 5

Reinkarnasi dan Bapa-bapa Gereja Kristen Awal

Menambahkan dari wacana ini dari Perjanjian Baru, bukti menunjukkan bahwa reinkarnasi adalah bagian dari doktrin awal Gereja dan dipromosikan oleh Bapa-bapa Gereja, para penulis yang menetapkan doktrin Kristen sebelum abad ke-8 M., dan yang karya-karya mereka ini biasanya digunakan untuk menyebarkan ide-ide Kristen kepada populasi dari Kekaisaran Romawi. Dipandang menjadi seorang bapa Gereja orang yang cocok mengikuti kriteria. Tulisan harus menuntun kepada hidup suci; tulisan-tulisan bapa gereja harus bebas dari doktrin sesat; tafsirannya tentang doktrin Kristen dipandang menjadi contoh; dan tulisan-tulisan bapa gereja harus diselaras dengan gereja.

Sejumlah bapa-bapa Gereja Kristen percaya pada dan menuliskan tentang reinkarnasi:

St. Justin Martyr (100–165 M.) mengekspresikan pernyataan bahwa jiwa mendiami lebih dari pada satu tubuh manusia.

Origen (185–254 M), yang dipandang oleh St. Jerome sebagai “guru terbesar dari Gereja setelah Para Rasul,” membela ide bahwa jiwa ada sebelum tubuh jasmaniah, dasar bagi konsep reinkarnasi.

St. Gregory, uskup dari Nyssa (257–332 D), menulis: “Ini mutlak perlu bahwa jiwa harus disembuhkan dan dimurnikan, dan jika ini tidak terjadi selama hidupnya di bumi jiwa itu harus menyelesaikan dalam beberapa kehidupan masa mendatang. . . . Jiwa . . . adalah rohaniah dan tak bisa dilihat dalam sifatnya atau kodratnya, jiwa itu pada satu kali melepaskan cangkang tubuh jasmaniahnya . . . dan berganti cangkang tubuh jasmaniah untuk kedua kalinya.”

St. Gregory juga menulis: “Setiap jiwa masuk kedalam dunia diperkuat oleh kemenangan-kemenangan atau diperlemah oleh kekalahan-kekalahan dari hidup sebelumnya.”

St. Augustine (354–430 M), seorang pakar teologi terbesar Gereja Kristen, berspekulasi filsuf Plotinus adalah reinkarnasi Plato. St. Augustine menulis: “Pesan Plato . . . sekarang bersinar utamanya dalam diri Plotinus, seorang Platonis begitu suka gurunya bahwa orang akan berpikir. . . Plato dilahirkan kembali dalam Plotinus.”

Bapa-bapa Gereja yang mendemonstrasikan keyakinan reinkarnasi termasuk Synesius (Uskup dari Ptolemais), St. Ambrose, Paus Gregory I, Jerome, St. Athanasius, St. Basil, St. John Chrysostom, St. Gregory of Nazianzus, dan Clement dari Alexandria.

Pasal 6

Kutukan kaum Nasrani Yahudi terhadap Kekeristenan Yunani-Latin. Kutuk-Mengutuk Sesama Gereja Rasuliah. Inkuisisi Kristen, Aniaya terhadap Penyihir Wanita Salem & Kemampuan-kemampuan Psikis

Dalam buku ‘Kemerosotan dan Kejatuhan Gereja Roma’ (The Decline and Fall of the Roman Church. New York: Bantam, 1983*), Martin Malachi menulis mengenai kunjungan bersejarah kaum Desposyni kepada uskup Sylvester I tahun 318 Masehi:

“Pertemuan antara Sylvester dan para pemimpin Nasrani Yahudi (sic) yang terjadi tahun 318…. berita ini sangat dikenal luas dan rombongan pada waktu itu diketuai Raban Yoses, orang yang paling tua dari kelompok Nasrani Yahudi, berbicara atas nama kaum Desposyni dan lain-lainnya.

Nama desposyni (Aramaik: Shemisqho) itu sangat disegani, dihormati oleh semua orang-orang percaya pada Abad Pertama dan separuh sejarah Kristen. Kata literalnya berarti, dalam bahasa Yunani, “milik Tuhan.” Kaum kerabat ini dilestarikan secara unik bagi kaum kerabat sedarah dengan Yeshua. Setiap bagian dari Jemaat Nasrani Yahudi Kuno selalu diperintah oleh kaum desposynos, dan masing-masing mereka mengusung satu dari nama-nama tradisional pada keluarga Tuhan Yeshua — Zakaria, Yosip, Yokhanan, Ya’aqub, Yoses, Simeon, Matthias, dan lain sebagainya. Tetapi tidak ada yang pernah dipanggil dengan bernama Yeshua. Tidak Sylvester ataupun lainnya 32 paus-paus  sebelum dia, ataupun mereka yang menggantikan dia, pernah menekankan bahwa ada paling sedikitnya tiga yang dikenal dan legitimasi silsilah otentik turunan darah dari keluarga Yeshua sendiri menjadi uskup di Gereja Roma,[8] Salah satunya Yoakhim dan Hanna, orang tua Yeshua secara fisik. Satunya lagi dari garis silsilah Elizabeth, saudara sepupu pertama ibunda Yeshua, Miriam, dan suami Elizabeth, Zakaria. Dan satunya lagi dari Kleopas dan istrinya yang juga adalah saudara sepupu pertama Miriam.

Tentu saja, ada sejumlah garis darah keturunan dari Yosip, suami Miriam, tetapi hanya mereka orang-orang dalam garis darah keturunan dengan Yeshua melalui ibundaNya yang berkualifikasi sebagai DESPOSYNI …”

“Namun, sejak Kaisar Hadrian menguasai Yerusalem pada tahun 135 M, semua orang Yahudi dan termasuk Orang-orang Nasrani Yahudi dilarang untuk memasuki Yerusalem dibawah ancaman hukuman mati….”

“Oleh karena itu, mereka meminta Sylvester I menarik kembali konfirmasinya terhadap Uskup-uskup Kristen Yunani di Yerusalem, Antiokhia, Efesus, Alexandria dan digantikan Uskup-uskup Desposynos…”

“Sylvester dengan tegas dan kasar mengabaikan tuntutan kaum Nasrani Yahudi ini. Dia mengatakan kepada mereka bahwa ‘Bunda Gereja’ sekarang ada di Roma, dengan adanya tulang belulang rasul Petrus (Shimon Keppa) dan dia memaksa agar mereka menerima Uskup-uskup Yunani memimpin mereka.

Itulah diskusi terakhir yang diketahui antara Kaum Nasrani Yahudi dari Bunda Jemaat Lama dan Orang-orang Kristen Non-Yahudi ADALAH Bunda Gereja Baru. Dengan adaptasi ini Sylvester didukung oleh kaisar Konstantinus memutuskan bahwa pesan Yeshua harus dicocokkan dalam pemahaman pola pikir dan budaya Barat (Western terms) yang bertitik pijak pada model kekaisaran.

Kaum Nasrani Yahudi tidak memiliki tempat terhadap pola struktur yang semacam itu. Mereka ini terus berjuang agar tetap hidup hingga dekade pertama sampai abad ke-5 M (di wilayah kekuasaan Romawi). Kemudian, satu demi satu, mereka kaum Desposynos ini menghilang…. Tetapi kebanyakan dari mereka tewas —- oleh pedang (Pasukan Romawi memburu mereka sebagai orang-orang pelanggar hukum), dengan kelaparan (mereka diusir dari lahan – lahan pertanian kecil yang mereka miliki dan dilarang atau tidak diijinkan membaurkan diri mereka untuk hidup di kota-kota besar), dengan cara mengurangi angka kelahiran hingga ketitik nol … Akhirnya, kaum Desposyni musnah tidak ada lagi. Di mana – mana, paus Roma memerintahkan untuk dihormati dan dengan mulus menjalankan otoritas kekuasaannya.”

“…dalam dua puluh tahun setelah kematian Sylvester I, legiun – legiun Romawi yang sedang mempertahankan Konstantinople, yang baru saja Konstantinus menyelesaikan pembangunan bangunan itu. Adukan semen masih basah …. dinasti Konstantinus berakhir enam puluh tahun, kebanyakan waktu dia habiskan sibuk dengan memerangi kaum Goths, Franks, dan Alemanni dari perbatasan-perbatasan kekaisaran. (Semua usaha yang dia lakukan untuk membentengi Konstantinople tidak banyak menolong). Setelah kematiannya tahun 337 Masehi, tiga putranya menggantikan dia. Putranya yang terakhir dari mereka ini adalah, Konstantius, mati tahun 361. Seiring dengan waktu kematian Kaisar Gratian (383 M), wilayah Balkan diserahkan kepada kaum Goth. Tahun 405 M, bangsa Romawi mengevakuasi Britain. Segera Spanyol jatuh ke tangan kaum Vandal. Pada bulan Agustus 410 M, Roma sendiri dijarah oleh kaum Goth dibawah kekuasaan Alaric.”

Sebagian Surat Kiriman Rabban Yosip III tahun 318 Masehi kepada uskup Sylvester I di Roma:

“Ini mendesak agar anda mengetahui situasi keadaan yang buruk kaum kami dan kondisi di mana mereka sekarang sedang tinggal di negeri diantara orang-orang kafir. Anda tahu persis status mereka yang melarikan diri demi menyelamatkan nyawa mereka selama masa teror merajalela atas Kota Suci Yerusalem yang kami cintai.

Kami meminta anda untuk memahami hak sepenuhnya tempat kepemimpinan Jemaat di bumi, yakni di Yerusalem dan BUKAN di Roma. Karena tidak ada satupun dari para Rasul pernah mengucapkan tentang kepemimpinan Jemaat Mshikha di Roma. Mareinu Yeshua menunjuk garis darah keturunan-Nya sendiri untuk mengawasi Jemaat-Nya dan ini sudah dilakukan di Israel, dan tidak di luar Tanah Suci. Mereka yang dari antara Orang-orang Yunani tidak punya hak ditunjuk bagi Ruang Maha Suci di Bait Suci Yahudi oleh suatu keputusan lembaga keagamaan manapun dan kami melarang hal itu, sebab tindakan ini merupakan penajisan dalam Rumah Tuhan.

Kami meminta anda perlu memperhatikan dengan seksama dan mengadakan perubahan yang sepantasnya untuk mengeluarkan perintah secepat mungkin dan menempatkan ulang hak kaum Kerabat Tuhan dan mengembalikan kehidupan mereka di Tanah Suci; selanjutnya kami menegaskan bahwa Uskup Yerusalem itu harus berada di Kota Suci kita, yang selalu begitulah adanya, menurut keputusan ilahiah harus ada ditangan anggota dari keluarga Yeshua dan bukan ditangan orang lain, karena inilah yang pantas dan wajib diikuti tanpa keterpaksaan jika tidak anda berdosa atas perbuatan tangan anda itu. Mereka para pimpinan di kota – kota lainnya harus memiliki hubungan dengan Uskup Yerusalem, karena inilah yang sepantasnya dan sangat perlu seperti yang dilihat melalui Wahyu Ilahi.

Kami peringatkan anda untuk tidak memutus hubungan anda sendiri dengan Yerusalem, karena dengan melakukan perbuatan yang demikian itu sama saja dengan memutus hubungan anda sendiri dari Mshikha sepenuhnya. Tidaklah layak Jemaat itu dipimpin oleh mereka yang tidak memiliki pertalian darah dengan Mshikha dan tidak memiliki hati Mshikha. Ini adalah persoalan darah Mshikha yang harus selalu ada didalam Jemaat dan menurut keputusan-Nya sendiri. Apakah yang Alaha telah tetapkan, tidak ada seorang manusia pun boleh membatalkannya, jika tidak dia akan disebut orang yang kecil pada akhir zaman.

Anda diminta untuk patuh terhadap kehendak Alaha dalam segala hal. Orang – orang yang diutus datang kepadamu membawa perintah dari kami yang harus segera dilaksanakan.

Kiranya damai sejahtera dan berkat Alaha menyertaimu.

Ditulis oleh tanganku sendiri Yosip dan disaksikan oleh Tujuh Puluh Tetua dari kami Mahkamah Agama (Beit Knustha d’Shemisqho).

*Teks asli dalam bahasa Aramaik

Dengan diusir dan dipermalukan anggota dewan 70 Sanhedrin Rasuliah Jemaat Yerusalem di Mesopotamia, maka mereka mengebaskan debu dari jubah mereka sebagai tanda “kutukan” resmi menimpa dunia Kekeristenan Yunani-Latin. (Mattai 10:14-15).

Inilah salah satu faktor mengapa Gereja Nasrani tidak mengakui segala pengajaran apa pun dari hasil Konsili-konsili Ekumenis Gereja-gereja Kristen yang berkolaborasi dengan Kekaisaran Romawi. Termasuk hasil konsili Ekumenis Kelima mengenai doktrin Reinkarnasi.

Hanya dua hal yang bisa diakui dan tak bisa diputus adalah Suksesi Rasuliah dan Pengakuan iman Rasuliah yang dijabarkan dalam Pengakuan Iman Nikea tahun 325, lainnya praktis ditolak dan tak berlaku dalam lingkungan Nasrani. Efek dari dosa masa lalu Gereja-gereja Rasuliah ini harus dituai pada masa-masa berikutnya dengan munculnya pertikaian terus menerus dan perpecahan gereja-gereja Kristen. Inilah tabur tuai yang harus diterima dari kesalahan masa lalu. Maran Yeshua berkata: “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya; memang penyesatan akan terjadi, tetapi terkutuklah orang yang mengadakannya.” (Mattai 18:7)

Banyak sekali orang-orang Kristen melihat doktrin reinkarnasi adalah bida’a oleh sebab mereka telah diindoktrinasi sejak abad ke-6 M., bahwa doktrin reinkarnasi menyesatkan. Tetapi banyak orang tidak menyadari bahwa hasil keputusan Konsili Kelima ini adalah rekayasa kepentingan politik Kekaisaran Romawi yang dipaksakan dalam gereja yang dikendalikannya. Sebenarnya, justru yang menentang reinkarnasi adalah perbuatan bida’a karena tidak ada dasar Wahyu Ilahi dan Mandat dari Yeshua dan Para Rasul melarangnya sama sekali dan begitu juga Alkitab tidak ada catatan pelarangan ini. Proses selanjutnya adalah inovasi – rekonstruksi teologi pengganti menolak ide reinkarnasi dengan tafsiran ayat-ayat yang diplintir sehingga seolah-olah berbicara menolak reinkarnasi, pada hal tidak ada seama sekali. Mereka yang telah dicekoki ide menentang reinkarnasi lambat laun hati dan pikirannya “mengeras seperti batu” dan tidak bisa lagi masuk dalam Mistik dan Spiritual (Pilar Wahyu – atau Suara kenabian), semuanya berdasarkan “legalitas tafsir” menurut penafsir-penafsir kitab suci. Inilah fakta yang kita lihat Apa yang terjadi dalam dunia Kekeristenan Yunani-Latin yang sudah terkutuk itu.

Lagi pula para pemimpin Kristen bertikai diantara mereka sendiri, ada contoh-contoh memuakkan dari pertikaian orang-orang Kristen dengan mereka yang menentang doktrin-doktrin mereka.

Inkuisisi dibentuk oleh beberapa rangkain dekrit Kepausan antara tahun 1227 dan 1235 untuk membasmi gerakan-gerakan keagamaan yang tak sepakat dengan kepausan. Dalam usaha ini, Paus Innocent IV mensahkan dengan cara penyiksaan pada tahun 1252. Kemudian, penganiayaan dirancang melenyapkan tukang sihir wanita di Eropa antara tahun 1450 dan 1700 timbul kecemasan seperti Kekristenan Ortodoks karena akibat dari Reformasi Martin Luther dan munculnya paradigm saintifik.

Dekrit kepausan Summis Desiderantes, dikeluarkan oleh Paus Innocent VIII pada tahun 1484, menstimulasi gelombang penyiksaan dan eksekusi lainnya. Uraian kepausan ini adalah anti-femini dan mengutuk penyihir wanita. Ribuan perempuan-perempuan tak bersalah dieksekusi didasarkan pada pengakuan-pengakuan yang diperoleh melalui siksaan.

Terakhir pecah penganiayaan ini terjadi di Salem, Massachusetts, tahun 1692. Dua puluh perempuan dieksekusi setelah sekelompok anak-anak perempuan muda menjadi emosional atau histeris saat memainkan klenik. Secara realitas, beberapa dari mereka yang melihat penyihir wanita pada masa lalu bisa jadi perempuan-perempuan yang punya karunia psikis tapi tetapi yang dilihat sebagai perihal berbahaya oleh mereka yang tidak memiliki talenta yang sama. Masa kini, banyak para wanita yang berpartispasi dalam kelas-kelas yang dirancang untuk menstimulasi kemampuan-kemampuan intuisi dan psikis untuk mengingat kehidupan-kehidupan masa lalu yang mana mereka dianiaya dan dibakar di tiang pancang. Ini bisa menjadi berbahaya menjadi meningkatkan keberadaan pada dunia prmitif yang relatif.

Pasal 8.

Teologi Moral: Kapan Baik adalah Salah

Pasal ini hanyalah pengantar Teologi Moral dan penelitian yang lebih rinci akan diberikan secara khusus dalam pembelajaran Seminari Tinggi Gereja Ortodoks Katolik Nasrani Indonesia, tapi itu tidak boleh berpikir bahwa Teologi Moral hanya sekitar Kesalahan Besar dan keadaan ketika mereka mungkin atau mungkin tidak dapat dibenarkan. Sebaliknya juga benar; sebab motif baik dapat memperbaiki kesalahan dan bahkan, kadang-kadang mengubahnya menjadi suatu kebajikan, namun, terkadang motif buruk bisa mengubah suatu perbuatan baik menjadi kejahatan. Sebuah contoh yang baik disediakan oleh lelucon terkenal tentang dua anak pramuka yang pergi keluar untuk melakukan perbuatan baik mereka pada hari itu, kemudian kembali dan dengan bangga melaporkan kepada pemimpin regu pramuka tersebut:

“Kami membantu seorang wanita tua di seberang jalan!”

“Pembina pramuka itu berseri-seri;

“Itu adalah perbuatan baik,” katanya,

“Tapi mengapa harus dua orang melakukannya?”

“Kak, karena, dia tidak mau pergi!”

Meskipun kita mungkin tersenyum pada cerita ini, contoh-contoh serupa ditemukan terlalu sering dalam hidup dan sejarah. Perhatikan, misalnya, keluarga kulit putih yang baik dari zaman pertengahan abad ke-20 di Australia yang memberi bocah kulit hitam miskin kesempatan besar dengan mengambil dia dari orang tuanya dan membawa dia sebagai anak laki-laki kulit putih. Ibu kulit hitam yang merasa kehilangan tidak ada mereka pikirkan sebagai konsekuensi perbuatan mereka, dan menurut standar waktu mereka melakukan perbuatan baik – salah satu untuk sebagian besar membawa mereka sedikit atau tidak ada manfaat nyata. Bahkan lebih ekstrim contoh disediakan oleh penyiksaan dari masa Inkuisisi Spanyol yang menyiksa tubuh manusia sehingga ia meninggal dalam penderitaan, tetapi mereka melakukannya dengan harapan menyelamatkan jiwanya dari kebakaran abadi di Neraka. Kita hari ini melihat hal baik ini sebagai tindakan kejahatan, dan motif pelaku jarang dipertimbangkan, tetapi jika mereka benar-benar dan sungguh-sungguh percaya pada apa yang mereka lakukan, penghakiman Alaha atas mereka mungkin kurang keras dibandingkan dengan masyarakat modern.[9]

Tentu saja ini sangat mungkin bahwa orang-orang seperti itu belum tentu tulus. Mereka mungkin fanatik atau orang-orang munafik, dan bahkan saat ini ada banyak orang yang tampak baik dan takut Alaha, orang yang suka bergereja setiap saat namun sebenarnya mereka munafik seperti orang-orang Farisi yang dikutuk oleh Mshikha. Lebih jauh lagi, bahkan jika kefanatikan mereka memimpin mereka untuk melakukan beberapa dosa yang lebih buruk, seperti menyiksa orang percaya secara berbeda, kemudian setelah mereka meninggal, orang tersebut akan menemukan diri mereka di Neraka. Di sana mereka masih akan bertengkar dengan orang lain seperti diri mereka sendiri, mungkin pertanyaan berlebihan dari pra-keunggulan dalam Gereja,[10] atau drama teologis kecil yang telah mengobsesi mereka di bumi.

  1. A. Definisi “Baik” dan “Buruk”

Secara filosofis, mendefinisikan “baik” dan “buruk” adalah cukup sulit. Mintalah orang awam dan anda biasanya akan mendapatkan jawaban seperti ini: “Sesuatu yang baik jika ia baik kepada orang lain dan buruk jika itu menyakitkan mereka’, yang cukup baik sejauh ia lakukan, tapi cukup jelas itu tidak tepat. Setelah semua itu tidak menetapkan atau menjelaskan apa yang dimaksud dengan berbuat baik kepada seseorang atau menyakitinya.

Melalui defenisi semacam itu apakah kita sedang melakukan hal yang baik dengan menjatuhkan hukuman pada seorang anak? Apakah kita memukul pantatnya atau merampas dia dari kesenangannya, kita menyakitinya, tapi ini bukan tujuan utama kita, yaitu bahwa ia dapat belajar bagaimana berperilaku. Kita merasa bahwa mungkin dengan menghukumnya, kita dapat menyelamatkan dia dari penjara atau bahkan dari Neraka, tapi kemudian bagaimana hal ini berbeda dari tindakan Penyelidik (Inquisitor)? Rasa sakit yang kita timbulkan mungkin jauh lebih sedikit dari pada Penyelidik (Inquisitor), tetapi prinsipnya adalah sama. Kita percaya bahwa kita tahu lebih baik dari pada anak apa yang benar, dan oleh karena itu harus mengikuti bimbingan kita. Karena Alaha telah mengaruniakan anak kepada kita untuk pelatihan, ini mungkin saja benar, tetapi Penyelidik (Inquisitor) percaya bahwa ia sebagai wakil dari Gereja memiliki kewajiban untuk “mengajarkan” orang berdosa apa yang benar, jadi apa bedanya? Jelas itu terletak pada pertanyaan derajat. Ini adalah hasil ekstrem dari tindakan Inquisitor yang menarik kecaman, tetapi jika memukul anak itu begitu parah sehingga menyebabkan kematian, seperti yang terkadang terjadi, dosa akan sama besar.

Dan ini membawa kita kepada poin lainnya. Tingkat kecil membahayakan timbul dengan niat benar yang barangkali bisa ditoleransi, tetapi tidak ada potensi pembenaran yang baik bagi kita dalam melanggar perintah “jangan membunuh”, dan juga sering, bahkan dalam kasus anak yang keras kepala, pembebanan hukuman adalah ekstrim atau juga longgar. Justru semakin membahayakan dari pada baik. Jika tidak ada jalan lain bagi kita untuk membimbing dia untuk berbuat baik, kita bisa terpaksa mengabaikan dia karena cara-cara perbuatannya yang jahat dan membiarkan Hukum Karma terjadi pada dirinya dan inilah apa yang kita seharusnya lakukan dalam keadaan ekstrim. Inilah apa yang Malaikat kita terkadang lakukan terhadap kita, jika kita terus-menerus menolak mengikuti nasihatnya. Namun, sayangnya, para penasihat manusia bukanlah para Malaikat, dan seringkali mereka melihat percekcokan dengan anak sebagai pertandingan keinginan, yang mana keangkuhan tidak akan membiarkan mereka kalah. Mereka tiba-tiba saja lepas kendali sepenuhnya dan membunuh anak, atau mereka bisa bertambah tahap tingkatan dari “penghukuman” hingga itu akhirnya menghasilkan hasil yang sama. Banyak anak brutal membunuh, yang terkadang mengagetkan masyarakat kita, muncul dalam hal ini.

Barangkali itu lebih baik jika kita mendefenisikan “baik” sebagai keberadaan yang cenderung menarik kita lebih mendekati Alaha dan “jahat” sehingga kita lari semakin jauh menghindar. Dalam kata lain; jika kita melakukan sesuatu yang baik, entahkah itu menolang orang lain atau melakukan pekerjaan baik bagi Alaha, karma menarik kita lebih dekat kita kepada-Nya. Alternatifnya bisa menolong melunasi akumulasi karma “buruk” yang menjauhkan kita dari pada-Nya. Itulah yang “Buruk” yang bisa digambarkan dalam istilah yang berlawanan.

 

  1. B. Nasihat Mshikha

Selama hidup-Nya di bumi Mshikha memberi kita banyak nasihat bijak tentang masalah berbuat baik, bukan kejahatan, tetapi banyak orang sementara mengaku ingin berbuat baik, mengklaim bahwa mereka tidak tahu apa yang Tuhan ingin lakukan. Itu hanya pada subyek ini bahwa Mshikha memberi kita apa yang mungkin saran yang paling penting dari semua dan itu adalah yang telah kita gunakan sebagai judul untuk pasal ini: “Carilah dan kamu akan menemukan”. (Mar Mattai 7: 7)

Salah satu Kutipan-kutipan Biara di sini memeberitahu kita “Yakinlah bahwa engkau akan selalu tahu Kehendak Alaha jika kamu berkeinginan yang sungguh melakukan hal itu.” Dan meskipun ini adalah benar, ketentuan juga adalah sangat penting. Ada banyak orang yang mengaku ingin bekerja bagi Alaha. Mereka berkata bahwa mereka akan mengasihi sepenuhnya dan mengikuti Mshikha serta melakukan apa saja Kehendak Alaha bagi mereka, jika mereka hanya tahu apa itu sesungguhnya, tapi ketika mereka diberikan pengetahuan itu, tiba-tiba mereka menemukan segala cara alasan yang baik mengapa mereka tidak harus melakukan hal itu. Mshikha memberikan pesan terus terang kepada orang semacam ini dalam Mar Mattai 8. Ayat 21 & 22 kita membaca:

Dan murid lainnya dari Murid-murid-Nya berkata kepada Dia, Maran, pertama ijinkanlah aku pergi dan menguburkan ayahku. Tapi Yeshua berkata kepadanya, ikutilah Aku; dan biarlah orang mati menguburkan orang mati mereka.

Dengan kata lain tidak membuat alasan. Jika anda akan mengikuti Mshikha, ambil kesempatan ketika ada, atau anda tidak akan mendapatkanya lagi dalam hidup ini.[11] Bekerja untuk Alaha tidak harus yang sukar. Hal ini bisa yang mudah. Itu semua tergantung pada motif. Jika anda bekerja untuk Mshikha hanya karena anda pikir itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, tetapi dongkol terhadap kebutuhan yang diperlukan, tidak hanya anda akan merasa kesulitan dan mengalami kehidupan yang tak menyenangkan, tetapi anda mungkin akan gagal untuk membuat banyak kemajuan spiritual. Kebencian yang anda rasakan mungkin menyebabkan anda semakin mengakumulasi karma buruk dari pada yang anda bayarkan dengan upaya ketidakinginan.

Sebaliknya, jika anda belajar bekerja bagi Dia sebab anda mengasihi dia dan oleh karena itu ingin melakukan Kehendak-Nya, tidak hanya anda akan merasa mendapatkan hidup lebih mudah, tapi anda akan menjadi semakin menjadi Hamba Raja yang berguna. Sikap ini direkomendasi oleh Nukilan Biara lainnya, yang meminta kita untuk “Belajar bekerja, bukan karena mengasihi pekerjaan tapi karena kasih kepada Alaha. Ini akan membuktikan pertolongan yang berharga saat dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang anda tidak suka sebenarnya.” Namun, lebih berjuang untuk melakukan bagi hal Baik dan melayani Alaha, ada hal lainnya yang bisa menolong kita ditarik mendekati Dia dan satu yang paling penting dari hal ini, yakni Doa, yang memainkan peran penting dalam ibadat karena dari sinilah catatan dimulai. (Archbishop John Cuffe, DD.J.P., CKC. Our Church History. St Basil Theological Seminary, pp 308-130, 2006)

Pasal 9

Doktrin Gereja Kristen dan Penindasan Reinkarnasi

Sejumlah doktrin reinkarnasi muncul dalam doktrin gereja Kristen, namun reinkarnasi ditindas dalam filsafat kontemporer Gereja. Satu alasan jika reinkarnasi diakui dan riset mendemonstrasikan bahwa jiwa-jiwa bisa berubah agama dari satu inkarnasi ke yang lain, maka klaim agama terhadap kebenaran eksklusif dinegatifkan.[12]

Namun, bukti reinkarnasi bisa menolong menggenapi doktrin-doktrin terbesar Kekristenan, bahwa kita sesungguhnya adalah saudara dan saudari, dan kita harus mengasihi satu sama lain.

Dalam Pengakuan Iman Gereja Ortodoks Katolik mengatakan dengan jelas bahwa:

“Kami percaya pada Alaha Ekhad,Tak Berwujud dan Tak Dapat Dipahami, dari Dia dan dalam Dia, segala sesuatu asal muasal keberadaan mereka, bahkan Waktu dan Ruang: Dialah yang ada pada mulanya, mewujud langsung sebagai sang Tlithayutha hakikat Ekhad, yakni, Alaha sang Bapa; Bapa dari semua jiwa, Alaha sang Ruakh ha-Kodesh; Bunda dari semua jiwa, dan Alaha sang Anak; Saudara Tertua dari semua jiwa, dalam Dia sebaliknya diciptakan semua Ciptaan menjadi ada, dari Dia terus-menerus turun mengalir aliran Percikan-percikan Ilahi yang masuk kedalam bendawi untuk mendapatkan pengalaman di dalamnya, agar mereka boleh pada akhirnya kembali untuk memperkaya Keilahian.”– (Stanza 1)

Mengapa Sang Anak disebut “Saudara Tertua” dari semua jiwa? Mistikus dan Rasul Mar Shaul berkata kepada Jemaat Rasuliah Kolose Perdana yang umumnya adalah orang Yahudi berkata:

“Ia adalah Gambar Alaha yang tidak kelihatan, yang SULUNG, lebih utama dari segala yang diciptakan.” (Kolose 1:15)

Jadi Alaha sang Bapa, Anak dan Roh Kudus mempunyai “Gambar-Nya” di dalam Qnume sang Anak yang pertama diciptakan sehingga disebut Sulung dari semua ciptaan. Dan dalam Gambar inilah segala sesuatu diciptakan, melalui Dia, dan oleh Dia (Yukhanan 1:3; Kolose 1:16). Harus diwaspadai pemahaman di sini bahwa Gambar Alaha itu memang Tercipta di dalam sang Anak Yang Tak Tercipta sebab Sang Anak adalah Hikmat Alaha (Aqal Alaha sendiri). Analoginya, seorang Arsitek harus merancangkan gambar bangunan dalam pikirannya melalui akal budinya. Gambar itu sendiri bukan sang arsitek itu sendiri. Tetapi “gambar” itu ada dalam akal budinya dalam pikiran si arsitek. Jadi Gambar Alaha itu adalah prototipe segala ciptaan.

Itulah sebabnya dalam Kitab Kejadian 1:26 dikatakan, “Baiklah KITA menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita…” Diciptakanlah manusia dalam Gambar Alaha itu dalam Aqal-Nya Alaha (sang Anak Alaha). Manusia diciptakan dari bagian prototipe Gambar Ilahi yakni berwujud “roh” dan “kesadaran diri yang rasional.” Roh manusia dan segala yang tercipta baik yang kelihatan dan tak kelihatan keluar (beremanasi) dari Gambar Alaha. Dan manusia khususnya beremanasi dalam bendawi di bumi. (Kejadian 2:7)

Di sini letak kesalah pahaman bidat Arius dari Gereja Koptik Mesir (220 M) dan sekte Saksi-saksi Jehova yang mengatakan bahwa Keilahian Yeshua d’Mshikha adalah Tercipta karena berpikir Gambar Alaha identik dengan Sang Anak, pada hal ini dua hal yang berbeda. Gambar Alaha bukan sang Anak, tetapi ada dalam Hikmat-Nya terbentuk pertama kali sehingga disebut yang SULUNG dan menjadi saudara-saudari ciptaan lainnya.

Bagaimana bisa sang Anak bisa disebut yang sulung dari tercipta?

Bukankah sang Anak adalah Alaha itu sendiri salah satu dari Qnumeh Alahotha?

Frasa kata Saudara-saudari dari yang Sulung merujuk kepada kesejajaran.

Mungkinkah yang tercipta dan Tak Tercipta sejajar? Tentu saja, tidak!

Dari Gambar Alaha inilah terus menerus turun percikan-percikan ilahi yang turun kedalam bendawi sehingga jumlah populasi manusia terus bertambah di bumi. Nanti pada akhirnya kembali menyatu dengan Gambar Ilahi itu sendiri. demikianlah sang Anak Alaha turun ke bumi kedalam Gambar-Nya sendiri dengan menjelma menjadi Anak Manusia yang bernama Yeshua dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan oleh Miriam. (Mattai 1:20; Lukas 2:6-7)

Yeshua adalah Sang Anak Alaha yang menjelma menjadi Anak Manusia, dan semua jiwa-jiwa akan dimanunggalkan dalam Kemanusiaan Kebangkitan-Nya, yakni Tubuh Rohaniah-Nya menyatu dalam Gambar-Nya sendiri.

Inilah bahayanya jika kita tidak percaya doktrin Reinkarnasi akan kesulitan dalam memahami Keilahian dan Kemanusiaan itu sendiri dan segala ciptaan yang tercipta.

Semua kesalahan teologis dalam Kekristenan berakar dari hilangnya doktrin reinkarnasi sehingga ajaran-ajaran Kristen hanya mengutip ayat-ayat yang tak bisa sinkron satu sama lain, dampaknya menimbulkan perpecahan Gereja-gereja baik di Timur dan di Barat. Ini adalah dosa Gereja yang tak termaafkan karena telah kawin dengan kekuasaan duniawi.

Pasal 10

Agama & Reinkarnasi: Doktrin-doktrin Agama Mayoritas.

  1. A. Reinkarnasi Menunjukkan Agama Bisa Berubah.

Dalam naskah-naskah kudus kebanyakan agama-agama mayoritas, referensi mengenai reinkarnasi ada. Referensi terhadap reinkarnasi dalam dotrin-doktrin Iman Kristen, Muslim dan Yahudi disebutkan dalam artikel-artikel.

Meskipun reinkarnasi disebutkan dalam doktrin-doktrin dari kebanyakan agama-agama mayoritas, reinkarnasi tidak dianjurkan oleh kebanyakan pihak berwenang keagamaan, kecuali dalam Iman Hindu dan Buddhis, sebagai pengetahuan reinkarnasi dipandang rendah oleh agama yang mengklaim memiliki klaim kebenaran. Ini disebabkan riset mandiri kasus-kasus reinkarnasi menunjukkan kita bisa berubah agama dari satu masa kehidupan kepada yang lain:

Ajaran-ajaran Agama bisa berisi hikmat besar, tapi pada waktu yang sama, agama-agama memisahkan dan membagi kita. Peperangan-peperangan didasarkan pada persepsi bahwa musuh adalah berbeda dari diri kita sendiri, yang membiarkan kita untuk membenarkan pembunuhan. Bukti reinkarnasi membuat kita bisa melihat bahwa kita adalah jiwa-jiwa universal, yang tak terikat kepada suatu agama, nasionalitas atau kelompok etnis.

  1. B. Perpecahan Kekristenan Roma Katolik & Ortodoks Yunani.

Keretakan antara Gereja Timur dan Barat berpuncak pada tahun 1054 saat dua cabang Gereja Kristen saling mengutuk satu sama lain. Saat Pasukan Salib Kristen dari Gereja Barat dalam perjalanan mereka untuk mengambil alih Yerusalem dari kaum Muslim, mereka merancangkan penghancuran kota Kristen Konstantinople. Dengan kata lain, Gereja Kristen Barat berperang menghancurkan Gereja Kristen Timur.

Episode berikutnya, perpisahan permanen terjadi dan Gereja Barat menjadi Gereja Roma Katolik, sementara itu Gereja Ortodoks Timur (Eastern) berjalan sendiri. Bahkan saat ini, anggota-anggota Gereja Kristen Timur (Eastern) tidak memandang Paus di Roma sebagai pemimpin mereka. Jadi kita melihat bahwa fragmentasi politik dalam cabang-cabang Gereja Kristen Timur (Eastern) dan Barat (Western) adakah nyata hari ini yang telah mulai terjadi kerenggangan itu sejak zaman Kaisar Justinian dan Paus Vigilius.

 

 

Pasal 11

Reinkarnasi, Muhammad & Mendirikan Islam

Reinkarnasi bisa juga ditemukan dalam ajaran-ajaran Islam, agama yang didirikan oleh Nabi Muhammad. Muhammad lahirpada tahun 570 M., dalam keluarga terpandang yang melayani sebagai pengurus situs suci Mekkah, tradisi berpandangan dibangun oleh Abraham. Muhammad menikahi majikannya, wanita pebisnis yang bernama Khaadija; Muhammad berusia 25 tahun dan Khaadija 40 tahun. Quran teks suci Islam, artinya “Ucapkanlah” atau “Bacalah.” Intinya, Quran adalah suatu karya yang disalurkan, ditransmisikan dari Allah melalui Muhammad.

Wahyu Muhammad pertama terjadi ketika ia berusia 40 tahun pada tahun 610 M. Kemudian di mulai mencatat ayat-ayat, seiring berlalu waktu, menjadi Quran. Sebagaimana gerakan kerohanian ini bertumbuh, Muhammad dan para pengikutnya menjadi target penganiayaan dan mereka harus hijrah ke Mekkah tahun 622 M., mengungsi di Medina. Muhammad adalah pejuang dan juga nabi dan memimpin umatnya dalam peperangan seringkali. Akhirnya Muhammad membawa para pengikutnya kembali ke Mekkah, kini menjadi tempat suci Islam.

  1. A. Reinkarnasi dalam Quran

Ada beberapa referensi dalam Quran yang tampaknya merujuk kepada reinkarnasi. Marilah kita mengulas beberapa ayat ini.

“Dan ketika tubuhnya mati bersamaan, seperti cangkang-ikan tua, jiwanya berbuat benar dengan melepas, dan membentuk tubuh yang baru sebagai gantinya…Pribadi manusia adalah hanya topeng yang jiwa pakai untuk suatu masa; jiwa memakai sesuai waktunya dan kemudian dilepaskan, dan yang lain dipakai dalam manfaatnya.” (1)

“Allah membangkitkan mahluk-mahluk, dan mengirimkan mereka kembali lagi terus menerus, hingga mereka kembali pada-Nya.” (2)

“Bagaimana bisa kamu menyangkali Allah, yang memciptakan engkau hidup kembali saat engkau mati, akan menjadikanmu mati lagi, dan kemudian hidup lagi, hingga akhirnya kembali kepada Dia?” (3)

“Allah adalah Dia yang menciptakan kamu semua, kemudian menyediakan bagimu pemeliharaan, kemudian akan menyebabkan kamu mati, kemudian akan membawamu hidup.” (4)

“Sesungguhnya adalah Allah yang membelah biji-bijian dan batu, menyebabkan jiwa yang hidup dari orang mati; dan adalah Allah yang menyebabkan orang mati dari jiwa yang hidup.”(5)

  1. B. Quran & Pembaharuan Hubungan melalui Reinkarnasi: Kelompok-kelompok Jiwa.

“Aku beritahukan kepadamu, tentang suatu kebenaran, bahwa roh-roh yang sekarang punya daya tarik menarik akan menjadi sekeluarga bersama, meskipun mereka semua bertemu dalam dalam pribadi-pribadi dan nama-nama baru.” (6)

Ini ayat terakhir adalah satu dari favorit saya untuk mengulas keberadaan kelompok-kelompok jiwa, orang yang memiliki hubungan emosional kembali kepada hidup dengan mereka yang telah mengenal sebelumnya. Lagi pula pada ayat-ayat reinkarnasi, Koran juga mereferensikan karma.

  1. C. Quran, Reinkarnasi & Karma

“Allah tidak memaksa jiwa melakukan apa yang diluar kemampuannya: jiwa mendapatkan apa yang jiwa telah sanggup capai, dan bertanggungjawab untuk apa yang pantanya baginya.” (7)

“Setiap jiwa akan diperhadapkan muka dengan muka dengan kebaikan dengan apa yang jiwa telah perbuat dan dengan yang jahat telah diperbuat.” (8)

“Dan Kami akan menetapkan timbangan keadilan  bagi hari penghakiman. Dan tidak ada jiwa akan dianiaya dalam segala hal. Dan baik itu berat biji sesawi, Kami akan membawanya. Dan Kami juga dapat memperhitungkan.”(9)

“Bagi Kami memberikan hidup kepada orang mati, dan Kami mencatat apa yang mereka perbuat sebelumnya dan apa yang mereka telah perbuat setelah itu: dan Kami telah mencatat segala sesuatu.” (10)

11.D. Quran dan Manusia Sejagat Raya

Quran memiliki ayat-ayat yang indah yang membuat orang berpikir dalam hal Manusia Sejagat Raya, di mana afiliasi agama diminimalkan dan kebajikan seseorang dianggap paling penting. Pertimbangkan ayat berikut:

“Memang, baik itu Islam, Yahudi, Sabian, atau Kristen, orang-orang yang percaya pada Allah dan hari akhir dan yang berbuat baik tidak perlu takut, dan mereka tidak akan bersedih hati.” (11)

Muhammad memperingatkan praktek keagamaan eksklusif, yang pada zamannya ditujukan kepada Gereja Kristen. Titik pemikiran Muhammad bahwa Allah harus menjadi tema sentral dalam kehidupan seseorang, bukan utusan atau nabi yang menyampaikan firman Allah. “Kitab” di bagian ini mengacu pada Alkitab.

“Ahli Kitab, jangan berlebihan dalam agamamu, jangan mengatakan Allah kecuali yang benar. Mesias, Isa putra Maryam, hanya Utusan Allah dan Firman Allah berikan pada Maria, dan roh Allah.”(12)

11.E. Rumi & Reincarnation

Jalaluddin Rumi (1207-1273 M), adalah seorang penyair sufi Islam dan besar. Sufi dianggap sebagai pemegang esoteris kebijaksanaan Islam, sebagaimana halnya Kabbalah dianggap sebagai pemegang kebijaksanaan tersembunyi Yudaisme. Rumi menulis:

“Seperti rumput aku telah tumbuh lagi dan lagi. Aku mati dari bentuk mineral dan hidup sebagai tanaman. Dari tanaman aku diangkat menjadi binatang. Lalu aku menyingkirkan bentuk binatang dan mengambil bentuk manusia. Mengapa harus aku takut jika aku mati aku akan hilang? Bagi bentuk manusia yang mati aku akan dapat mencapai aliran air mengalir dan sayap-sayap malaikat bersinar. dan kemudian aku akan menjadi apa yang tidak pernah ada dalam pikiran yang pernah terkandung. O biarlah aku berhenti tidak ada lagi! Sebab ketidak beradaan hanya berarti bahwa aku kembali kepada-Nya. “(13)

  1. E. Rumi, Reinkarnasi & Bapa Gereja Kristen Synesius

Sangat menarik untuk dicatat bahwa Bapa Gereja Kristen merenungkan hal yang sama tentang jalur evolusi manusia, seperti yang dilakukan Rumi. Pandangan ini menunjukkan bahwa tumbuhan dan kerajaan hewan dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk kemajuan jiwa untuk tahap perkembangan manusia. Marilah kita merenungkan kutipan berikut dari Bapa Gereja Kristen Synesius, Uskup Ptolemais (370-430 M), dari Risalat perihal Mimpi-mimpi:

“Filsafat berbicara tentang jiwa yang disiapkan oleh suatu tahapan transmigrasi. . . Ketika pertama kali datang ke bumi, itu (jiwa) mulai melakukan perjalanan pada roh bintanag ini seperti di atas sebuah perahu, dan melalui itu dibawa berkontak dengan materi. “(14)

In these passages of the Islamic poet Rumi and the Christian Father Synesius, the common theme of human evolution through repeated incarnations is hypothesized and voiced.

Dalam ayat-ayat ini dari penyair Islam Rumi dan Bapa Kristen Synesius, tema umum evolusi manusia melalui inkarnasi berulang dihipotesiskan dan disuarakan.

Pada bagian ini yang berjudul Jiwa Evolution, isu-isu seperti apakah jiwa manusia yang pernah menjelma dalam kerajaan hewan yang dirujuk. Kesimpulan saya adalah bahwa pada zaman sekarang, manusia tidak menjelma sebagai binatang. — (Sumber: Riset Ian Stevenson, MD and Walter Semkiw, MD. Institute for the Integration of Science, Intuition and Spirit)

­­­­­­­­­­­­­________________________­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­

Catatan Kaki.

  1. Joseph Head and S. L. Cranston, Reincarnation, an East–West Anthology, The Theosophical Publishing House, 1961, p. 56
  2. Joseph Head and S. L. Cranston, Reincarnation, an East–West Anthology, The Theosophical Publishing House, 1961, p. 56
  3. Quran, Sura 2, The Cow, Verse 28, from The Essential Koran, by Thomas Cleary, Harper, San Francisco, 1993, p. 89
  4. Quran, Sura 11, Rome, Verse 38., from The Essential Koran, by Thomas Cleary, Harper, San Francisco, 1993, p. 89
  5. Quran, Sura 6, Cattle, Verse 95., from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 56
  6. Joseph Head and S. L. Cranston: Reincarnation, and East–West Anthology, The Theosophical Publishing House, 1961, p. 57
  7. Quran, Sura 2, The Cow, Verse 287, from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 18
  8. Quran, Sura 3, The Family of Imraan, Verse 30., from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 22
  9. Quran, Sura 21, The Prophet, Verse 47, from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 81
  10. Quran, Sura 36, Ya Sin, Verse 12, from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 111
  11. Quran, Sura 5, The Table, Verse 69, from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 49
  12. Quran, Sura 5, The Table, Verse 171, from The Essential Koran, by Thomas Cleary, p. 42
  13. Jeffrey Mishlove, Roots of Consciousness, Council Oak Books, Tulsa, Oklahoma, 1993, p. 191
  14. Joseph Head and S. L. Cranston: Reincarnation, an East–West Anthology,

Pasal 12

Reinkarnasi dan Yudaisme

Seperti dijelaskan pada bagian Reinkarnasi dan Kekristenan, reinkarnasi adalah bagian dari pemikiran Yahudi pada zaman Yeshua. Sejarawan Yahudi, Flavius Josephus (37-100 M), menulis bahwa ada tiga sekte Yahudi selama era itu yang dominan, orang-orang Saduki, Esseni, dan orang-orang Farisi. Yosefus menulis bahwa dua dari sekte, kaum Essene (Gulungan Laut Mati) dan orang-orang Farisi percaya pada reinkarnasi. Josephus menulis:

“Orang-orang Farisi percaya bahwa jiwa-jiwa memiliki kekuatan abadi di dalamnya dan kebajikan itu memiliki kuasa untuk menghidupkan kembali dan hidup lagi. Karena doktrin mereka sangat mampu mendesak tubuh orang” (1)

Josephus sendiri, yang menjabat sebagai seorang prajurit, setelah suatu kali pertemuan dengan anak buahnya untuk melawan dengan mengutip ajaran reinkarnasi. Josephus berkata kepada anak buahnya:

“Tidakkah kamu ingat bahwa semua itu Roh-roh murni ketika mereka lepas keluar dari hidup ini untuk mendapatkan tempat yang paling suci di sorga, dari mana, dalam revolusi zama-zaman, mereka dikirim kembali ke dalam tubuh murni.” (2)

12.A. Reincarnasi, Zohar & Kabbalah

Reinkarnasi juga merupakan bagian dari Zohar, teks klasik Kabbalistis, diduga ditulis oleh Rabbi Simeon ben Jochai, tahun 80 M, dengan kontribusi yang dibuat oleh para sarjana Ibrani abad pertengahan. Gerakan Kabalistik difokuskan pada kebijaksanaan tersembunyi dari iman Yahudi. Kitab Zohar diedit dan diterbitkan pertama kali oleh Rabbi Moses de Leon, tahun 1280. Berikut adalah bagian contoh dari Zohar, mengenai reinkarnasi:

“Semua jiwa-jiwa tunduk pada uji coba transmigrasi (reinkarnasi), dan laki-laki tidak tahu desain Yang Mahatinggi berkaitan dengan mereka, mereka tidak tahu bagaimana mereka setiap saat diadili, baik sebelum datang ke dunia ini dan ketika mereka meninggalkannya. Mereka tidak tahu berapa banyak transmigrasi dan pencobaan misteri mereka harus menjalani.” (3)

“Jiwa-jiwa harus memasuki kembali Souls harus masuk substansi mutlak dari mana mereka telah muncul. Tapi untuk mencapai tujuan ini mereka harus mengembangkan semua kesempurnaan, mutiara yang ditanam di dalamnya; jika mereka belum memenuhi kondisi ini selama satu kehidupan, mereka harus memulai lagi, ketiga, dan selanjutnya, sampai mereka telah memperoleh kondisi yang cocok untuk mereka reuni dengan Alaha.” (4)

12.B. Reinkarnasi & Rabbi Manasye ben Israel

Teolog Yahudi lain yang menonjol percaya pada reinkarnasi adalah Rabbi Manasye ben Israel (1604-1657). Rabbi inilah yang meyakinkan Oliver Cromwell untuk menghapuskan larangan Mahkota orang Yahudi yang berada di Inggris, kebijakan yang telah ada selama 150 tahun, sejak zaman Edward I. Dalam bukunya Nishmath Hayem, Rabbi Manasye ben Israel menulis:

“Kepercayaan atau doktrin transmigrasi jiwa-jiwa adalah tegas dan dogma tak dapat salah diterima oleh seluruh himpunan jemaat kami dengan suara bulat, sehingga tidak ada yang berani membantahnya…. Memang, ada sejumlah besar orang bijak di Israel yang memegang teguh doktrin ini sehingga mereka membuat dogma, titik dasar dari agama kami. Oleh karena itu kami berkewajiban untuk mematuhi dan menerima dogma ini dengan aklamasi… sebagai kebenaran yang mana itu telah ditunjukkan oleh Zohar, dan semua kitab Kabbalah.”(5)

Pasal 13

Meskipun Sama-sama Percaya dalam Reinkarnasi, doktrin Keagamaan Memisahkan Buddhis & Hindu

Perang sipil telah pecah di Sri Lanka selama dua puluh lima tahun atau lebih antara mayoritas Budha dan minoritas Tamil Hindu, dua kelompok yang keduanya percaya pada reinkarnasi.

Pada bulan Juni 2009, saya melanjutkan tur dari Indonesia, dan India, untuk mempromosikan versi Indonesia & India dari buku saya, Dilahirkan Kembali, menampilkan kasus yang menunjukkan bukti obyektif reinkarnasi. Versi Indonesia buku saya diterbitkan oleh sebuah organisasi Buddhis dan saya berbicara di depan 2.500 pengikut agama Buddha. Saya kemudian melakukan perjalanan ke India untuk mempromosikan buku saya untuk populasi utama Hindu.

Dalam tur ini, saya mengalami mengapa perang di Sri Lanka pecah diantara kedua kelompok ini, umat Buddha dan Hindu Tamil, keduanya percaya pada reinkarnasi.

  1. A. Buddha, Buddhisme dan Jiwa: Berdasarkan Riset Reinkarnasi, Jiwa Pasti Ada.

Di Indonesia, umat Buddha bertanya apa perbedaan adalah antara konsep mereka tentang “kelahiran kembali,” bertentangan dengan konsep Hindu “reinkarnasi.” Mereka bertanya tentang deklarasi Buddha bahwa tidak ada jiwa. Saya menjelaskan bahwa harus ada semacam tipe struktur energi seperti jiwa, sebagai bukti reinkarnasi menunjukkan bahwa tampilan fisik, sifat personalitas dan talenta bis atetap konsisten dari satu kehidupan kepada kehidupan lain, sebagaimana digambarkan dalam riset mandiri studi kasus reinkarnasi. Jika tidak ada struktur seperti jiwa, dimanakah informasi disimpan dalam antara dan pintasan penjelmaan-penjelmaan?  Properti energetik jiwa didiskusikan dalam bagian Prinsip Reinkarnasi.

Saya menjelaskan bahwa harus ada beberapa jenis struktur energi seperti jiwa, sebagai bukti reinkarnasi menunjukkan bahwa penampilan, ciri-ciri kepribadian fisik dan bakat dapat tetap konsisten dari orang seumur hidup ke yang lain, seperti yang dijelaskan dalam penelitian mandiri studi kasus Reinkarnasi. Jika tidak ada struktur seperti jiwa, di mana informasi tersebut disimpan diantara dan di inkarnasi? Sifat energik jiwa dibahas dalam bagian: Prinsip Reinkarnasi

13.B. Reinkarnasi, Sistem KastaHindu & Dewa-dewi

Orang-orang Hindu di India bertanya apakah orang menjelma kembali sebagai hewan. Di Chennai, saya belajar dari seorang ibu rumah tangga Hindu bahwa sistem kasta masih hidup dan baik, bahwa suaminya tidak akan membiarkan hamba mereka untuk memasak, sebagai pasangan Brahmin, sedangkan pembatu-pembantu tidak demikian. Hindu memiliki tradisi menyembah berbagai dewa, sementara umat Buddha tidak.

Saya melihat pertama kali bahwa umat Buddha dan Hindu sangat banyak dipisahkan oleh doktrin agama, terlepas dari kepercayaan umum reinkarnasi. Saya juga melihat bagaimana divisi tersebut mencair karena saya disajikan kasus yang menunjukkan bukti obyektif reinkarnasi.

  1. C. Penelitian Reinkarnasi menunjukkan Agama Dapat Mengubah Pelintasan Masa-masa Hidup

Agama yang percaya pada reinkarnasi, seperti umat Buddha dan Hindu, tidak pernah menyebutkan bahwa seseorang dapat menjelma dalam agama berbeda dari satu inkarnasi kepada yang lain, namun itulah bukti reinkarnasi menunjukkan.

Agama, kebangsaan dan afiliasi etnis menciptakan dasar dari identitas pribadi kita, tetapi mereka juga memisahkan kita, yang membuat konflik antara kelompok dan mungkin perang. Setiap kelompok percaya bahwa Alaha mereka akan melindungi mereka dan dengan demikian, membunuh atas nama kelompok seseorang dibenarkan.

Sebagaimana dicatat, divisi ini dalam identitas membubarkan diri ketika orang datang bertatap muka langsung dengan bukti reinkarnasi, yang menyampaikan prinsip bahwa kita adalah manusia universal yang dapat mengubah penanda budaya identitas dari satu inkarnasi kepada yang lain. Dengan cara ini, bukti reinkarnasi dapat membantu menciptakan dunia yang lebih damai.

Bukti reinkarnasi dapat membantu Sri Lanka menjadi lebih tenang, karena umat Buddha menyadari bahwa mereka dapat lahir menjadi Hindu, dan sebaliknya.

Pasal 14

 Penjelasan Archbishop Mar John Reginald Cuffe, DD., J.P., CKC.

Pertanyaan Seputar Reinkarnasi

 

Untuk alasan ini saya akan mencoba menyediakan hanya sederhana saja dan jawaban ringkas.

  1. Sebenarnya apakah arti ‘reinkarnasi’ itu sendiri? Apa beda dengan ‘Inkarnasi’?

Asal mula kata “re-inkarnasi” adalah sederhana dari kata “inkarnasi” dengan prefiks “re” (kembali) ditambahkan. “Inkarnasi” merujuk kepada roh menjadi “inkarnasi” dalam daging – yakni, hidup dalam tubuh fisik hingga mati, ketika roh meninggalkan tubuh dan menjadi “dis” (tidak) + carnate (menjadi daging), jadi discarnate (tidak berjasad tubuh), yakni roh atau hantu. Akar kata dari semua kata ini adalah bahasa Latin “carne” artinya daging. Jika roh menjadi incarnate dengan demikian roh memasuki tubuh berdaging dan roh tetap menjelma dalam tubuh daging (incarnate) hingga tubuh jasmaniah ini mati, itulah waktunya roh keluar dari daging lagi. Biasanya setelah suatu periode waktu dihabiskan di mana roh tak berjasad tubuh kemudian roh itu akan re-inkarnasi kembali – menjadi masuk kedalam daging kembali melalui tubuh daging fisik yang baru. (bandingkan Ayub 1:2a)

  1. Apakah Ajaran ‘reinkarnasi’ dalam Kekristenan adalah sama seperti dalam Buddhisme? Apakah jiwa manusia bisa masuk ke dalam tubuh binatang?

Dalam Buddhisme, Hinduisme dan sebenarnya dalam semua Iman yang berbeda, ada atau historis, keyakinan itu, atau percaya pada reinkarnasi, bentuk tepatnya keyakinan itu bervariasi satu dari yang lain, dan seperti yang diajarkan oleh kaun Kristen ini berbeda lagi. Kita melihat tiap kehidupan sebagai suatu kesempatan untuk melakukan kemajuan rohaniah. Jiwa-jiwa binatang bisa meningkat dalam sifat manusia seiring berlalunya waktu (bandingkan Roma 8:19-23), dan umat manusia meningkat naik kedalam Orang-orang Suci dan Malaikat-malaikat (Lukas 20:36; Mattai 13:43). Ide bahwa jiwa manusia harus ber-reinkarnasi dalam binatang atau bentuk lebih rendah lain dari kehidupan sebab tak ada alasan jelas, adalam umum dalam Buddhisme tapi ini bukan keyakinan kami.

  1. Bukankah Reinkarnasi adalah ajaran bida’a sebab kebanyakan Gereja Rasuliah tidak lagi mengakui keyakinan tersebut?

Istilah bida’a secara meluas disalahgunakan, tapi secara umum ini menunjuk kepada suatu keyakinan yang secara khusus dikutuk melalui suatu konsili dari Gereja Tak Terbagi. Sejumlah orang atau kelompok menerapkannya untuk keyakinan yang dinyatakan sebagai bida’a oleh suatu konsili dari denominasi mereka sendiri khususnya. Pastinya dibawah defenisi pertama, keyakinan pada reinkarnasi BUKAN bida’a, sementara dibawah defenisi kedua yang sama bisa diterapkan kepada sejumlah ajaran-ajaran dari semua Gereja-gereja tanpa terkecuali. Contoh Gereja Roma disebut bida’a oleh Gereja Ortodoks karena gereja ini menambahkan frasa kata “Filioque” (sang Anak) pada Pengakuan Iman Nikea. [13]

  1. Gereja Ortodoks Katolik Nasrani Indonesia adalah salah satu gereja yang mempertahankan dan mengajarkan reinkarnasi dalam Gereja Rasuliah di Indonesia.

Perjanjian Lama dan perjanjian Baru mengindikasikan ide reinkarnasi (Ibrani; Gilgulim) diterima oleh Yeshua dan Rasul-rasul-Nya, oleh sebab itu jika tidak ada Gereja lainnya di Indonesia yang mengajarkan hal itu, siapa yang harus dipersalahkan?

  1. Tanakh (Alkitab Ibrani) tidak pernah mengajarkan reinkarnasi!

Tanakh (Tanakh akronim dari: Torah, Nevi’im, Ketuvim) sebagaimana kitab ini sekarang dipakemkan, belum resmi diakui hingga tahun 90 M.,[14]  saat Sanhedrin Yahudi secara resmi menambahkan kitab-kitab Ketuvim terhadap Torah dan Nevi’im.  Segera setelah ini (100 M) Yudaisme dihapuskan kebanyakan perihal Persembahan Korban menurut Torah Musa dan menghapuskan Keimamatan Lewi kaum Aaron. Ini tak mengherankan jika setelah modifikasi dramatis itu, ajaran-ajaran langsung Yudaisme adalah berbeda dari Yudaisme Zaman ha-Mashiakh. Pastinya Perjanjian Lama Kristen (Mshikhanuth) mereferensikan reinkarnasi.[[15]]

(Musuh-musuh kami seringkali langsung salah kutip ayat-ayat Kitab Suci untuk membingungkan kami dan nomor 6 sebagai usaha ini contohnya. Namun, sebagaimana juga itu adalah salah terjemah saya akan mengulas hal itu lebih rinci kelak.)

  1. Bukankah tercatat dalam Kitab Ibrani bahwa manusia yang hidup hanya satu kali saja dan kemudian dihakimi? [16]

Sebenarnya, tidak, bukan demikian. Kutipan yang anda kutip itu merujuk kepada Ibrani 9: 27 – 28, yang terjemahan aslinya seharusnya demikian; “Dan seperti hal itu ditetapkan kepada umat manusia satu kali mati, tapi setelah ini penghakiman agar Mshikha adalah satu kali saja dipersembahkan untuk menanggung dosa-dosa dari banyak orang; dan kepada mereka yang mencari Dia akan menampilkan Dia kedua kali tanpa dosa bagi keselamatan.” Ini memberitahukan kepada kita bahwa umat manusia biasa yang fana hanya mati sekali saja. Ini tidak memberitahukan kepada kita bahwa mereka hanya hidup satu kali saja, sebab itu menjadi tidak benar. Kematian sebagai yang fana memahami istilah itu, merujuk kepada perhentian hidup dalam tubuh daging. Ini tidak merujuk kepada “roh” yang melanjutkan hidup. Tiap tubuh fisik mati hanya satu kali, paling sedikit hal itu disebutkan dalam pada zaman Paulus, meskipun obat modern terkadang mengubah ini zaman ini. Namun, roh, hidup selama-lamanya, dan apakah atau tidak roh kembali ke bumi kepada hidup dalam tubuh lainnya, bergantung pada standar rohaniah jiwa itu capai semasa hidup di bumi sebelumnya. Demikianlah pada akhirnya tiap hidup itu dihakimi, sebagaimana ayat ini indikasikan. Tapi ayat itu sendiri memberitahu kita bahwa Mshikha akan kembali ke hidup bumi untuk kedua kalinya, dan “sebagaimana dia begitulah kita dalam dunia ini.” (1 Yukhanan 4: 17)

(Nomor 7. Ini menunjukkan ketidaktahuan dan sikap bebal untuk menerima jawaban, tapi saya akan memberikan jawaban lagi)

  1. Jangan bodoh! Tidak ada tradisi Rasuliah mengajarkan reinkarnasi hingga saat ini!

Tidak hanya ada referensi Alkitabiah yang mendukung keyakinan reinkarnasi. Ada referensi dalam karya-karya tulis bapa-bapa Rasuliah dan bahkan pada zaman kemudian selalu ada mereka yang mengajarkan bentuk reinkarnasi. Namun, kebanyakan para penulis Kristen berminat untuk menggiring para pengikut mereka bagi Kesucian, oleh sebab itu mereka jarang memberikan waktu lama membicarakan nasib mereka yang gagal mencapai tujuan hidup. Ini hanya terjadi sejak manusia mulai menantang doktrin abad pertengahan perihal Hukuman Kekal sehingga keyakinan reinkarnasi menjadi lebih umum lagi.[17]

  1. Semua Konsili-konsili yang terjadi pastilah atas pimpinan Roh Kudus (Kisah 15: 28). Sehingga apa yang diputuskan konsili itu adalah keputusan Roh Kudus juga, inilah yang pasti benar.

Saya mengutip referensi yang diberikan di sini dalam terjemahan yang lebih tepat pada Kisah 15: 28, King James Version disebutkan; “Sebab ini tampak baik bagi Roh Kudus, dan bagi kami, untuk tidak meletakkan beban lebih berat lagi dari pada perihal yang diperlukan; bahwa kamu berhenti dari memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala, dan dari darah, dan dari binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan: dari semuanya ini kamu jauhkanlah dirimu sendiri, maka kamu melakukan yang baik. Demkianlah salam bagimu.”    Tentunya ini merujuk kepada keputusan bahwa non-Yahudi bisa menjadi pengikut Mshikha tanpa pertama harus disunat, dan yang perintah-perintah Torah Musa tetapkan yang mereka masih bisa diharapkan untuk jalankan. Sejak saat itu, keputusan-keputusan besar oleh Gereja biasanya dilakukan melalui semacam konsili-konsili, dan jika mereka diilhami Roh Kudus, pastilah keputusan-keputusan itu akan menjadi benar.[18] Tapi tentu saja ada ketidaksepakatan timbul, dan itulah sebabnya begitu banyak perbedaan denominasi-denominasi kini, masing-masing mengklaim dirinya paling benar, dan kebanyakan kasus masing-masing mengutuk kelompok denominasi lainnya adalah sesat dan anggota-anggota mereka seakan-akan masuk Neraka.[19] Kenyataannya Alaha lebih murah hati dari pada kebanyakan hamba-hamba-Nya di bumi dan Dia menolong mereka yang gagal paham, kesempatan lain bagi Keselamatan melalui reinkarnasi.

  1. Jika menurut Yeshua (Yesus), Yukahnan Pembaptis dirinya sendiri adalah Eliyahu, mengapa ketika ditanya perihal itu Yukhanan berkata ia bukan Eliyahu?

Jika anda percaya Yeshua (Yesus), Mar Yukhanan adalah reinkarnasi Eliyahu/Elia.  Sebagaimana Mar Yukhanan menyangkali hal itu saat ia ditanya, jawaban adalah jelas. Seperti kebanyakan orang Mar Yukhanan tidak ingat hidup masa lalunya. Dia tidak tahu apakah ia adalah Eliyahu. Namun, Yeshua adalah Keberadaan Ilahi, tahu kebenaran.[20]

  1. Mengapa pertumbuhan populasi manusia semakin berkembang sekarang dan jumlah manusia tidak mungkin sebanyak yang sekarang jika ini adalah proses reinkarnasi?

Ini adalah pertanyaan bagus dan menunjukkan bahwa penanya paling sedikitnya berpikir logis tentang perihal ulasan ini, maka ia layak mendapatkan jawaban. Sebagaimana manusia meningkat jumlahnya seiring tenggang waktu antara inkarnasi-inkarnasi menurun tajam, dan sebagaimana Zaman bergulir kepada akhir masanya ini adalah satu faktor yang menyebabkan populasi meningkat. Ada yang lainnya, dan kebanyakan langsung atau tak langsung terkait dengan akhir dari Zaman Kristen, yang sekarang adalah sangat dekat. Penyebab mayor lainnya adalah fakta bahwa pertambahan jumlah dari roh-roh dari hewan-hewan sekarang sedang masuk tingkatan manusia untuk pertama kali, sehingga menjadi bertambah pada kenaikan jumlah populasi manusia kita sekarang sedang melihat kemerosotan dalam populasi spesies hewan-hewan besar dan kepunahan beberapa spesies. Dan jika anda menanyakan mengapa hal ini akan terjadi pada akhir Zaman, ini disebabkan mendekati Mshikha. Roh-roh dari semua orang ini – dan dari hewan-hewan [21] – menjadi orang – memiliki Malaikat-malaikat Pelindung yang adalah cemas terhadap orang-orang mereka ada di bumi saat Mshikha datang sehingga mereka bisa memperoleh keuntungan kuasa spiritual yang Ia akan bawa bersama Dia. Ada banyak lagi yang saya bisa tuliskan perihal ini, tapi ini barangkali cukup. [Pandangn lain lihat catatan kaki, tetapi kedua ini bisa saling dipertukarkan].

Akhir kata, Rencana Ilahi bagi Ciptaan-Nya adalah jauh lebih rumit dari pada kita yang fana, kita hanya bisa berharap untuk mengerti, dan ini hanya mereka yang punya pengalaman jalan sempit mistik yang bisa memahami bahkan sebanyak yang kita bisa lakukan.

Jika ide bahwa hewan-hewan memiliki roh-roh adalah sukar diterima akal anda, saya sarankan renungkanlah dengan tenang berulang-ulang dan lakukanlah penelitian dengan baik. Jelas, memang ada beberapa kebenaran-kebenaran yang bahkan Para Rasul (Shlikhim) sendiri belum sanggup memikulnya [memikirkannya] saat Mshikha ada bersama mereka (Mar Yukhanan 16: 12) ini tentu saja tak mengejutkan kita jika banyak orang belum bisa menerima pengetahuan mistis lebih maju. Namun, saya harus menjelaskan beberapa poin yang perlu dipikirkan.

Kisah Adam dan Hawa adalah suatu alegori yang merepresentasikan turun roh bentuk manusia baru dari Firdaus ke bumi untuk pertama kali sebagai manusia. Adam dan Hawa masing-masing menghadirkan roh dan jiwa dari tiap individu dan juga alegori yang mendemonstrasikan bahwa saat roh dan jiwa yang sebenarnya adalah satu, mereka seringkali berbeda satu dengan yang lain. Mar Paulus menjelaskan kepada kita bahwa mereka adalah berbeda dari satu sama lainnya. (Ibrani 4: 12).

Sama seperti sekarang saya telah menuliskan tentang roh bentuk manusia-baru, dan ini menggiring kita kepada pertanyaan perihal bagaimana dan kapan roh manusia dibentuk oleh Alaha. Jawaban singkat, ini diciptakan melalui perpaduan dua roh dari spesies hewan lebih tinggi, masing-masing telah lengkap inkarnasi-inkarnasinya dalam Kerajaan Binatang. Demikianlah dua roh hewan sempurna digabungkan oleh Alaha untuk menjadikan roh manusia kedalam keberadaan, sama seperti dua roh-roh manusia sempurna lebur untuk membentuk sesosok malaikat.(Lukas 20:36)

Inilah sebabnya mengapa roh dari keberadaan manusia adalah bukan, dan tak bisa menjadi, reinkarnasi kedalam tubuh dari seekor hewan, tapi ini adalah sesuatu yang kebanyakan umat Buddhis dan Hindu tidak pahami [Apa lagi dunia Kristen modern, sama sekali tidak paham!], namun klaim-klaim mereka bahwa manusia bisa ber-reinkarnasi sebagai hewan-hewan. Tidak tak bisa terjadi tanpa menghancurkan kesatuan dari roh-roh yang Alaha telah ciptakan, dan apa yang Alaha telah satukan bersama tidak ada manusia bisa memisahkan.

Jadi anda benar membuat perbedaan jelas antara roh-roh hewan (animal spirits) dan roh-roh manusia, sebagaimana sesungguhnya Alaha lakukan dan dicatat dalam Kitab Suci. Dan dalam konteks tersebut saya mengutip pertama dari Pengkotbah 3: 18 – 21

“Sebab apa yang menimpa anak-anak manusia juga terjadi pada binatang-binatang; bahkan satu menimpa mereka: sebagaimana yang satu mati, begitu juga kematian menimpa lainnya; ya, mereka semua satu nafas; supaya seorang manusia tidak merasa lebih unggul dari seekor binatang: sebab semua [adalah] sia-sia. Semua pergi menuju ke satu tempat; semuanya adalah berasal dari debu, dan semua kembali kepada debu kembali. Siapakah yang tahu roh manusia pergi naik ke atas, dan roh dari binatang-binatang yang pergi menuju ke bawah bumi?”

Ayat ini mengulas fakta bahwa dari sudut pandang fisik bait itu binatang-binatang dan umat manusia hidup dan mati dalam cara yang sama. Dan dalam hal tubuh mereka akhirnya membusuk dan kembali kepada debu. Kemudian pada poin ini perbedaan diantara roh-roh mereka. Roh manusia punya kesempatan untuk meninggalkan dunia fisik selama-lamanya dan bergerak maju kedalam jagat-jagat sorgawi (celestial planes), sementara roh dari bintang tidak mencapai poin itu dan harus turun ke bumi lagi.

Ini adalah perbedaan antara binatang dan manusia yang membolehkan kita “berkuasa atas ikan di laut, dan atas burung unggas di udara, dan atas hewan ternak, dan atas seluruh bumi, dan atas setiap yang merangkak di atas bumi”. (Kejadian 1: 26) Saya juga menunjukkan kepada anda Kejadian 9: 2 – 3 yang mana Alaha berkata bahwa

“setiap yang bergerak yang hidup akan menjadi makanan bagimu; bahkan tumbuhan hijau Aku berikan kepadamu segala sesuatu.”

Dari sini kita bis amelihat bahwa kita diharapkan membunuh dan memakan binatang-binatang dan juga tumbuh-tumbuhan. Dalam menyembelih seekor binatang kita tidak berbuat kesalahan – sebenarnya ini bisa dikatakan bahwa kita sedang menolong binatang untuk bergerak maju pada perjalanannya sendiri, dan sepanjang kita membunuh binatang-binatang dengan minimum kejam, kita sedang melakukan keadilan apa yang Alaha rencanakan bagi kita untuk perbuat.

Dalam 1 Korintus 15: 39 – 40 Mar Paulus sedang menjelaskan perihal binatang-binatang, ikan dan burung-burung adalah semua daging, tapi mereka adalah jenis daging berbeda, dan ia kemudian menggunakan bahwa untuk mengindikasikan bahwa hanya ada perbedaan tipe daging, jadi ada tipe tubuh yang berbeda – tubuh spiritual dan tubuh fisik.

Ini sempurna tepat bagi anda untuk mendefenisikan perbedaan roh binatang dan roh manusia, dan jika anda ingin untuk menggambarkan roh binatang sebagai hanyalah keberadaan “nafas hidup” itu adalah O.K. menurut saya. Anda juga bisa mengatakan bahwa roh binatang secara mendasar adalah berbeda terhadap roh manusia, sebab roh binatang adalah roh yang sangat sedikit dan kurang kapasitas spiritual untuk menerima realitas spiritual yang lebih tinggi. Kebenaran, meskipun, yakni meskipun mereka sangat lebih muda dari pada kita, roh-roh binatang juga adalah anak-anak Alaha sama seperti kita adanya, dan akhirnya mereka akan berkembang untuk memenuhi tempat-tempat mereka sebagai umat manusia, saat kita berkembang menjadi Orang-orang Suci dan Malaikat-malaikat. Demikianlah semua dari Ciptaan Alaha dengan konstan berkembang menuju Titik Akhir yang Dia telah rancangkan sejak Dia membuatnya masuk kedalam keberadaan.

Saya akui bahwa ini adalah ulasan agak mendalam, dan seperti saya katakan,pikirkan pelan-pelan ini tak mudah untuk dipahami.

  1. Mengapa ajaran reinkarnasi Gereja Ortodoks Katolik Nasrani Indonesia juga merujuk kepada Sains? Bagaimana tentang hari jika kemudian ilmu pengetahuan membuktikan keberadaan reinkarnasi bertentangan?

Bisa saja ada baiknya penelitian Ilmu pengetahuan (Sains) yang mendukung keyakinan reinkarnasi, tapi doktrin reinkarnasi tidak bergantung pada suatu penelitian ilmu pengetahuan khususnya. Reinkarnasi adalah sesuatu yang telah ada sebagai bagian dari Rencana Ilahi bagi Ciptaan lama sebelum munculnya ilmu pengetahuan modern, dan reinkarnasi masih menjadi bagian dari Rencana Ilahi sekalipun sains tidak lagi mendukungnya.

(Ada banyak literatur untuk pokok ulasan ini, ini dijelaskan panjang lebar dalam buku pelajaran Kisah Sejarah Gereja Kami tapi saya hanya memberikan ringkasnya saja.)

  1. Mengapa kebanyakan Gereja-gereja Rasuliah tidak mengajarkan ini lagi?

Sebab dengan kemerosotan Peradaban Romawi banyak sekali roh-roh yang sudah maju telah berakhir dari inkarnasi-inkarnasi bumiah mereka, dan mereka yang menggantikan tempat mereka hidup di bumi ini adalah kebanyakan roh-roh yang lebih muda. Roh-roh yang sudah maju perlu dibimbing dengan perlahan dan memberikan kesempatan untuk memahami jalan-jalan Alaha, sesuatu yang roh-roh primitif secara umum tidak bisa lakukan. Mereka perlu ditundukkan kepada suatu disiplin keras dan dipaksa melalui ancaman-ancaman untuk berbuat apa yang benar – sebaliknya mereka akan terus menerus untuk berbuat salah atau sesat. Demikianlah meskipun banyak dari para pemimpinnya tahu tentang reinkarnasi, gereja abad pertengahan segera menemukan reinkarnasi perlu mengancam orang-orang Barbar dengan api-neraka, jika mereka tidak memperbaiki kelakuan dalam inkarnasi saat ini, dari pada menceritakan kepada mereka bahwa jika mereka masih melanjutkan hidup kekerasan dan kehidupan-kehidupan jahat, mereka akan punya kesempatan lainnya untuk memperbaiki ulang dalam sejumlah inkarnasi-inkarnasi lagi. Oleh karena itu ajaran reinkarnasi sesungguhnya disembunyikan dalam biara-biara, dan kemudian, pada akhirnya terlupakan atau hilang sepenuhnya.[22]

  1. Mengapa kebanyakan Gereja-gereja Kristen TIDAK mengajarkan reinkarnasi lagi?

Pertanyaan ini sebenarnya sama seperti salah satu sebelumnya dan jawaban adalah sama, meskipun saya akan menambahkan dengan seiring lahirnya Reformasi (abad ke-16 M) bahwa, pengetahuan reinkarnasi tidak terbuka diajarkan dalam Kekeristenan selama seribu tahun, dan pengetahuan doktrin reinkarnasi masih tersembunyi dalam biara-biara dan ketika itu biara-biara dihancurkan oleh Reformasi, sehingga ini juga mengakibatkan reinkarnasi hilang. Dengan kata lain jika di Gereja Katolik dan Ortodoks saja sudah hilang, apa lagi yang diharapkan orang-orang Protestan untuk bisa menggalinya kembali?

(Saya dapati pertanyaan berikut agak membingungkan jadi jika saya salah paham terhadap pertanyaan itu, tolong beritahu saya.  Saya pikir ini merujuk kepada nubuatan-nubuatan dari Archbishop John Sebastian Ward, dan mengapa nubuatan-nubuatan tidak diakui oleh gereja gereja lain)

  1. Jika tidak ada nabi dalam Gereja, mengapa suara kenabian dalam Gereja Ortodoks Katolik Nasrani Indonesia Indonesia tidak diakui oleh semua Gereja Rasuliah?

Pertanyaan mengapa kebanyakan gereja-gereja modern tidak mengakui nabi-nabi atau menerima bahwa individu-individu modern bisa melihat visi penglihatan dan menerima pesan-pesan dari Alaha atau Para Malaikat-Nya, sama seperti nabi-nabi kuno Yahudi, adalah langsung terkait dengan alasan orang-orang Yahudi paskah pembuangan yang melarang semua nubuatan. Ini cukup sederhana Imam-imam (kohanim) yang berkuasa di Israel setelah sekitar tahun 500 S.M, tidak suka dicela oleh nabi-nabi karena banyak kesalahan-kesalahan mereka (lihat Maleakhi 2) dan sebagaimana juga mereka mengontrol kuasa duniawi dari abad ke-5 S.M., dan seterusnya, mereka bisa mencegah orang-orang dari keberadaan diakui dan menghancurkan usaha pelestarian karya-karya mereka, meskipun beberapa yang disebut Kitab-kitab Apokrifa bisa dilihat sebagai usaha menentang pelarangan ini. Jadi begitu jugalah dengan Kekristenan, dengan kuasa duniawi seringkali mendukung kepemimpinan agama, yang tidak mau dicela oleh masyarakat atas pebuatan mereka yang salah. Meskipun banyak orang-orang suci melaporkan visi – penglihatan dan pengalaman-pengalaman mistis, jika ini semua tidak cocok dengan kepentingan pihak berwenang gerejawi (seperti St. Bernardette) maka karya-karya mereka tidak akan diakui. Karya-karya nubuatan dan pengalaman mistik Archbishop John Sebastian Ward tetap bertahan, tapi hanya diantara para pengikutnya, hingga kemunculan media komunikasi internet modern membuat publikasi lebih mudah. Jadi mengapa Gereja-gereja lain tidak mengakuinya, barangkali itu adalah kecemburuan manusiawi – dan barangkali suatu hari nanti mereka akan menerimanya.

(Nomor 15 sebenarnya asumsi-asumsi kontradiksi dari nomor 5, tapi saya kan mengulas hal ini dengan tertulis.)

  1. Jika Gereja Ortodoks Katolik Nasrani Indonesia menolak Ragi Farisi (Mattai 16:6), lalu mengapa anda mengikuti beban muatan Yudaisme dengan mengajarkan reinkarnasi sebagaimana orang lain?

Orang-orang Nasrani Awal atau Kristen Awal dilarang mengikuti ajaran-ajaran Farisi, dan Saduki dalam Mar Mattai 16: 6 &12 . Dan dalam pasal sebelumnya (Mar Mattai 15: 1 – 6) Mshikha sudah menjelaskan bahwa ini disebabkan mereka telah “menggantikan perintah Alaha menjadi tak berguna oleh tradisi mereka”, tapi keyakinan Reinkarnasi ada dalam Yudaisme lama sebelum tradisi-tradisi Farisi dan Saduki, dan dalam satu bentuk atau lainnya ini juga dipercaya oleh hampir semua Iman, pada zaman Mshikha. Kami tidak percaya Reinkarnasi DISEBABKAN orang Yahudi percaya, tapi karena Mshikha sendiri tidak pernah mengutuk reinkarnasi dan paling sedikitnya satu kasus mengesahkan reinkarnasi khususnya. [23]

  1. Jika kita masing-masing menjadi anggota Gereja Rasuliah ini dan mati apakah kami akan ber-reinkarnasi kembali?

Apakah atau tidak orang re-inkarnasi tidak bergantung pada gereja di mana kita bergabung. Itu bergantung apakah atau tidak kita mengikuti Mshikha dengan cukup baik bagi Dia untuk menghakimi kita layak untuk masuk Kerajaan-Nya dan tidak kembali hidup di bumi lagi atau, seperti Mar Yukhanan tegaskan, menjadi “tiang penopang Bait Alaha-Ku dan tidak akan keluar lagi dari situ.”[24] (Wahyu 3: 12)

  1. Reinkarnasi? Torah Karma? Mengapa ini seperti Hinduisme? Bukankah sebutan ini membingungkan atau doktrin campur aduk?

Kata “Reinkarnasi” aslinya bukan dari Hindu, meskipun kata “karma” memakai istilah mereka. Namun, ini secara fektif artinya yang sama seperti “Torah Musa”, “Torah Tabur Tuai” atau “Keadilan Ilahi”(Ibrani: השגחה פרטית Hashgochoh Protis / Hashgachah Pratit), yang semua istilah orang-orang Nasrani-Kristen gunakan. Efektifnya masing-masing berarti; “Mata ganti mata, dan gigi ganti gigi”seperti Mshikha wacanakan dalam Mar Mattai 5: 38 dan pada ayat berikutnya, Dia memberitahu kita bahwa sementara itu adalah Torah Musa, mereka yang mengikuti Dia harus “jangan melawan kejahatan: tapi siapa saja menampar pipimu sebelah kanan, berikanlah juga padanya pipi yang lain.” Dalam ayat 44 Ia selanjutnya; “Kasihilah musuh-musuhmu, berkatilah mereka yang mengutuki kamu, berbuat baiklah kepada mereka yang membenci kamu, dan berdoalah bagi mereka yang meskipun memperdayai kamu, dan menganiaya kamu; sehingga kamu bisa disebut anak-anak dari Bapamu yang ada di surga: sebab Ia yang menciptakan matahari-Nya terbit bagi orang jahat dan orang baik, dan mengirimkan hujan bagi orang benar dan orang fasik”. Ini adalah apa yang kita sebut Torah Kasih, dan ini melalui mengikuti Torah Kasih dan pengorbanan kehendak kita sendiri sebagaimana Ia telah perbuat, Mshikha mengajar kita bagaimana kita mengatasi Torah Karma dan mendapatkan hak bagi Kesucian Hidup. Ini adalah perbedaan antara ajaran kami dan keyakinan Hindu. [25]

  1. ‘Roh kembali kepada Alaha’ dicatat dalam Kitab Suci, Mengapa harus percaya reinkarnasi? Tidakkah ini bertentangan?

Ini tampaknya mengacu kepada Pengkotbah 12: 7, “Kemudian debu akan kembali ke bumi sebagaimana itu sebelumnya: dan roh akan kembali kepada Alaha yang memberikannya.” Kemudian poin penting perihal ayat ini adalah kata “Kemudian”, berkaitan kata ini dengan ayat-ayat yang mendahului ini, yang memberitahukan pada kita bahwa kita harus Mengingat Alaha saat kita masih usia muda, sebelum usia tua dan kematian datang menjemput kita. Kemudian ini menunjuk kepada beragam aspek kematian dari sudut pandang spiritual, sebelum lanjut menggambarkan kematian fisik dan bagaimana tubuh jasmaniah menjadi membusuk dalam debu tanah sementara roh tetap bertahan hidup. Ayat yang mendahului ini mengindikasikan bahwa pada akhirnya roda kelahiran kembali (gilgul) rusak dan KEMUDIAN roh kembali kepada Alaha. Manusia hidup dengan banyak kehidupan di bumi, tapi ketika tidak lagi membutuhkan reinkarnasi dan mulai bergerak maju melalui Jagat-jagat surgawi rohnya melanjutkan bergerak maju hingga sepanjang roh ini bisa kembali kepada Kesatuan dengan Alaha dan ketika semua anak-anak-Nya kembali kepada-Nya, Alaha akan kembali lagi menjadi “semua dalam Semua”sebagaimana Mar Paulus beritahu kita dalam 1 Korintus 15: 28)

  1. Jika anda percaya reinkarnasi, lalu apa gunanya ada Neraka? Tidakkah Yeshua mengajarkan keberadaan Neraka?

Jelasnya Yeshua mengajarkan keberadaan Neraka. Dia bahkan turun kedalam Neraka, sebagaimana pengakuan Iman Rasuli katakana (Pengakuan Iman Nikea juga), agar untuk membebaskan jiwa-jiwa yang ada dalam perbudakan (Efesus 4: 8 – 10 & 1 Keppa 3: 18 – 19). Tidak pernah berpikir bahwa Neraka tidak ada – itu adalah salah satu dari favorit kebongan-kebongan Setan. Ini jelasnya ada dan ini tegasnya merupakan tempat penghukuman, hukuman yang seringkali berakhir selama sezaman atau bahkan selama banyak zaman-zaman, sebagaimana Mshikha beritahukan kepada kita dalam banyak tempat dalam Perjanjian Baru tapi ini Tidak Kekal.Hanya Alaha saja yang Kekal., dan bahkan mereka yang dilemparkan kedalam Neraka bisa diselamatkan, seperti Mar Keppa beritahukan pada kita banyak yang diselamatkan oleh Mshikha diantara Penyaliban-Nya dan Kebangkitan-Nya. Semua akan menderita sesuai hukuman bagi dosa-dosa mereka, tapi pada akhirnya mereka akan keluar kembali dan diberikan kesempatan lainnya, melalui reinkarnasi untuk berbuat apa yang mereka gagal lakukan dalam inkarnasi mereka sebelumnya.

[1] Berpikir untuk mengubah Perayaan-perayaan (Alkitabiah) dan perintah-perintah: mengubah bentuk dan ketetapan yang diperintahkan Alaha, dan kebiasaan-kebiasaan dan pelaksanaannya; merombak dan menghilangkan sesuai keinginan para penguasa; lihat ( Daniel 2:21 ), atau mengubah masa dan perayaan dengan menetapkan hari-hari tertentu sebagai hari suci untuk mengkanonkan orang suci; menetapkan hari dalam sepekan, dan perayaan dalam setahun, menyatakan makanan haram menjadi halal; dan bahkan mengubah Perintah-perintah Alaha dan digantikan dengan perintah manusia, dengan menyebarluaskan perubahan itu sebagai suatu ketetapan legal dan menjadikan perubahan baru itu sebagai yang benar. Perbuatan ini mulai dilakukan para Imam Jahat (הכהן הרשע‎; ha-kōhēn hā-rāš’ā) sejak abad ke-2 S.M., merujuk kepada kepemimpinan Kohen ha-Gadol Bait Suci ke-2 yang berkolaborasi dengan kekuasaan duniawi dinasti Hasmonean. Mereka ini yang merubah Perayaan-perayaan dan perintah-perintah Alaha. Dalam konteks Perjanjian Baru, ini merujuk kepada Imam Jahat Uskup Sylvester I dan Kaisar Konstantinus tahun 318 M., dan penetapan Agama Kristen sebagai Agama Resmi Negara, dan sejak saat itu apa yang diwahyukan pada nabi Daniel, pasal 7 ayat 25 tergenapi dan akan ditumbangkan saat Kedatangan Maran Yeshua Kedua Kali.

[2]  Kitab Ayub 1:21a – “Dan ia berkata; dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dan dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalam kandungan ibuku itu lagi; Mar-Ya memberi, dan Mar-Ya yang mengambil; terberkatilah Nama Mar-Ya.” (Peshitta JPS-RDN)

[3]       Qnumeh Kemanusiaan dalam Kyananya manunggal dalam Kyana Kemanusiaan Maran Yeshua, bukan dalam Kyana dan Qnume Keilahian-Nya. Artinya tidak bisa Tercipta bisa melebur kedalam Tak Tercipta: Pencipta dan Ciptaan adalah dua hakikat yang berbeda dalam segala hal.

[4]    Pemahaman Kardinal dan Uskup-uskup ini kontradiktif dengan kesaksian Alkitab sendiri yang mengatakan:”Pada mulanya Alaha menciptakan Langit (Ibrani dalam bentuk plural “Shamayim” – “Lapisan-lapisan langit”) dan Bumi. (Kejadian 1:1) Shamayim lebih dahulu diciptakan dari pada bumi. Manusia terdiri dari dua unsur “roh” dan “jasmaniah”, saat manusia mati ini jelas tersingkap di mana roh manusia keluar dari tubuh jasmaniah dan roh kembali kepada Alaha (artinya kembali ke alam roh) dan tubuh jasmaniah yang mati kembali terurai kembali dari unsur bumi. Roh – Jiwa (kesadaran diri sendiri) tetap hidup abadi.   “….. Mshikha bukan sesuatu yang istimewa datang dari Alaha”? Alkitab menjawab: “Sesuai sebagaimana Dia telah memilih kita sebelumnya dalam Dia [Yeshua d’Mshikha], sebelum dunia diciptakan, agar kita bisa jadi kudus dan tanpa cacat di hadapan-Nya; dan dalam kasih, mentakdirkan kita untuk Diri-Nya sendiri.” (Efesus 1:4). Semua manusia sudah ditakdirkan sebelum dunia diciptakan bahwa “keselamatan itu dalam Y’shua d’Mshikha”. Itulah sebabnya Yeshua berkata: “Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Ajaran [Torah] yang Aku ajarkan itu adalah Aku. Aku adalah Torah dan Torah itu adalah Aku. Dan tidak ada yang sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku.” [Lihat, Beshora Mar Yukhanan 14:6].  Para Kardinal dan Uskup koruptor yang menjilat kaisar ini adalah para penyesat dan menjadi serigala dan pengkhianat seperti Yudas Iskariot dalam umat orang percaya!

[5]   Ini adalah ajaran bida’a para kardinal dan uskup Gereja Roma dan Byzantium ortodoks pengkhianat ajaran Rasuliah yang telah menyesatkan jutaan manusia hingga sekarang. Poin ajaran bida’a:

1) Alaha menciptakan jiwa baru setiap saat pada masa konsepsi. Pernyataan ini kontradiktif dengan Ayub 1:21a.

2) Hanya Gereja Kudus bisa membawa jiwa-jiwa ini kepada Alaha. Pernyataan ini kontradiktif dengan 1 Korintus 12: 3 b. “… Tidak seorangpun bisa berkata bahwa Yeshua adalah Mar-Yah, kecuali oleh Rukha d’Kudsha.” Ada banyak jiwa yang tak pernah tersentuh oleh gereja dan pewartaan gereja, tetapi justru mereka menjadi percaya kepada sang Juruselamat dengan dituntun oleh Roh Kudus. Fungsi gereja hanya sebagai “kandang domba” yang mana Roh Kudus sendiri yang mempertobatkan hati dan pikiran orang dan bukan gereja melalui para uskup, imam dan pelayannya. Sebagaimana perintah Yeshua yang diwakili rasul Simon Keppa: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”! (3 x) Para bidat inilah yang banyak menguasai Gereja Rasuliah hingga sekarang ini.

3) Tanpa perlindungan Kekaisaran atau bimbingan gereja, semua orang akan ditakdirkan selamanya terputus dari Alaha di dalam Neraka. Inilah yang disebut kemudian ajaran bida’ah “Extra Ecclesia Nulla Salus” (Di luar gereja tidak ada keselamatan); kemudian, bagaimana dengan Mar Sadhu Sundar Singh dari India (abad ke-18) yang tak pernah dibimbing gereja menjadi percaya kepada Yeshua? Para kardinal dan uskup gereja ini telah mabuk dengan “kekuasaan” sehingga mereka lupa terhadap Kebenaran. Efeknya jutaan manusia menjadi korban kesesatan mereka ini menjadi tersesat dengan anti-reinkarnasi yang tak pernah dikutuk Maran Yeshua dan Para Rasul! Mereka ini terkutuk jiwanya dalam Neraka hingga kini. (Mattai 18:7)

[6]   Keputusan Kaisar adalah sesat dan formulasi konsili Ekumenis Kelima adalah penyesatan sebab Alkitab berkata “segala sesuatu akan dipulihkan.” (Kisah 3:21) Ini disebut teologi Tikkun l’Olam (Restorasi) yang nantinya dijawab dalam Wahyu 21:1-2. Tidak ada penghancuran total karya cipta Ilahi seolah-olah Alaha itu Tak Sempurna. Restorasi adalah “perbaikan apa yang rusak kembali utuh seperti semula” demikianlah misi Anak Alaha menjelma menjadai Yeshua d’Mshikha. Dengan demikian, mereka yang mengikuti hasil Konsili Kelima hasil rekayasa Kaisar Byzantium Romawi ini adalah agen-agen penyesatan yang disebut kelompok Gereja-gereja Rasuliah Kalsedonian.

[7] Pilihan Tipe 1 adalah pemahaman GNI dan Orthodox Catholic Church of the New Age – Australia

[8] Mar Higinus tahun 139-142 M. Mar Pius 142-154 uskup ke-10, dan Mar Anicetus, 154-168 uskup ke-11.

[9]  Iman dari Inquisitor (algojo pengadilan agama yang didirikan Paus Innocent VIII pada tahun 1484) termasuk memiliki keyakinan terhadap kebinasaan kekal, dan jika ia sungguh percaya bahwa orang berdosa yang tak bertobat akan diserahkan kepada siksaan yang sangat mengerikan dari pada ia alami selamanya, dan bahwa siksaan akan berakhir kekal, ini adalah lebih baik berbuat untuk mencoba menyelamatkan dia dari siksaan itu, dengan segala daya upayanya. Jika melalui pemaksaan ia bisa bertobat atas tubuh fisiknya ia bisa memaksanya untuk mengakui kesalahannya dan kemudian menyelamatkan jiwanya dari siksaan abadi, keyakinan semacam itu cukup logis. Sebaliknya jika ia gagal dan orang berdosa mati tanpa bertobat, alangkah berbedanya itu membuat dia menderita sesaat hanya menderita rasa sakit sedikit di bumi untuk periode sementara sebelum mati, ketimbang ia menderita sengsara untuk Kekekalan. Sebab dasar dari dosa ini biasanya terletak pada kesalahan keyakinan dalam penghukuman kekal, dari pada dalam rasa kebencian pribadi, yang dalam hal ini sebaliknya menunjukkan pentingnya teologi.

[10]   Banyak orang merasa sulit untuk percaya bahwa orang-orang yang pergi ke gereja bisa berakhir di Neraka, dan dalam pikiran sempit, gereja berusaha keras dalam pendiriannya, di mana para anggota terus-menerus bertengkar tentang poin teologis kecil dan bertengkar alih posisi mereka dalam kelompok, perselisihan tersebut tidak akan berakhir pada kematian. Dan jika salah satu pertanyaan bagaimana orang percaya bisa menemukan dirinya dalam Neraka, Alam Ketidakpercayaan, saya harus menunjukkan bahwa tidak ada orang yang mau, tetapi banyak kelompok-kelompok seperti itu mengatakan mereka percaya, tidak mengatakan yang sebenarnya, dan pada kenyataannya munafik dalam hal ini, seperti dalam kebanyakan hal-hal lain. Jika mereka benar-benar percaya bahwa mereka tidak akan berperilaku seperti itu, tetapi dalam kelompok mereka, mereka diharapkan untuk percaya, dan begitu munafik, mereka mengaku melakukannya. Bagian dari Neraka yang orang-orang semacam itu masuk sering disebut Neraka orang-orang munafik, dan dijelaskan oleh Bapa Sepuh dalam bukunya, “Gone West”, Bagian Dua. Pasal 32 & 33.

[11]   Kidung nomor 86 merujuk kepada hal ini dalam ayat lima; “bagi kita tiap kali datang undangan, hampir tak pernah datang lagi; satu kali dalam hidup undangan diserukan seringkali itu diserukan bagi semua agar tidak kembali dalam kesia-siaan.” Ini tidak mungkin diberikan kesempatan untuk kedua kali yang sama, tapi ini langka. Ini tergantung bekerjanya Kehendak Bebas tiap individu. Jika punya satu kali kesempatan menolak suatu kesempatan melayani Alaha, bagaimana Dia bisa bertahan mengirim mereka semacam kesempatan-kesempatan tersebut, tanpa ada rasa bersalah berusaha memaksakan masuk dalam Pelayanan-Nya? Biasanya hanya keadaan semacam kesempatan kedua diberikan dalam kehidupan yang sama, akan melibatkan pengakuan yang sangat jelas dari kegagagalan terawal, dan keinginan yang kuat untuk bekerja bagi Alaha.

[12] Lihat, Tulisan yang berjudul “HIKAYAT” dalam website GNI.

[13] Dalam Defenisi pertama, Konsili Ekumenis Gereja-gereja yang dipanggil kaisar Justinian TIDAK SAH karena Konsili ini tidak dihadiri semua Uskup-uskup semua Gereja-gereja, kecuali didominasi Uskup-uskup dibawah control kaisar dan hanya 6 delegasi Uskup Gereja Roma dan 159 Uskup Gereja Ortodoks dan kaisar Justinian yang mengontrol jalannya persidangan. Sebenarnya semua Konsili-konsili Ekumenis sejak tahun 325 sampai 787 tidak ada satupun yang sah dan murni, semua dibawah kendali kaisar Byzantium Romawi. Semua hasil Konsili ini adalah hasil keputusan politik Kekiasaran yang mencampuri urusan gerejawi. Oleh karena itu, semua formulasi hasil konsili ekumenis dipandang bida’a.

Demikian juga hasil Konsili-konsili Lokal Gereja dalam kalangan denominasinya sendiri, juga dipandang hasilnya adalah ajaran-ajaran bida’a semua. Tiap denominasi memandang denominasi di luar dirinya sendiri adalah bidat-bidat dan ajaran-ajaran bida’a. Gereja Roma Katolik memandang semua Gereja-gereja Reformasi Protestan beserta semua yang muncul darinya adalah bidat-bidat.

Sebaliknya seluruh gereja-gereja Protestantisme melihat semua Gereja-gereja Rasuliah adalah bidat-bidat dan ajaran-ajaran bida’a juga. Begitu juga semua denominasi Gereja-gereja Rasuliah lainnya memandang di luar dirinya adalah bidat-bidat dan mengajarkan ajaran-ajaran bida’a. Semua masuk kategori bidat dan bida’a. Jika begitu ketika orang mengatakan si “A” bidat dan ajaran-ajarannya bida’a, otomatis hal yang sama yang dituduhkan itu memandang bidat dan bida’ah juga di luar dirinya. Jika begitu masihkah kita berani berkata si A, si B, si C bidat? Orang lain bidat karena anda juga bidat!  Istilah Indonesia, “maling teriak maling”!

[14]  Zaman Yeshua dan Para rasul hanya menyebutkan Kitab Torah dan Nabi-nabi saja. (Baca, Mattai 7:12)

[15] Contoh, kisah mimpi Yakov perihal tangga ke langit di mana malaikat-malaikat naik turun (Kejadian 28:12). Dan ia berkata; “dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dan dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalam kandungan ibuku itu lagi; MarYah memberi, dan MarYah yang mengambil; terberkatilah Nama MarYah.” (Ayub 1:21). Kitab mazmur berkata: “Sebab aku sadar akan pelanggaran-pelanggaranku dan aku mengakuinya; dosaku ada sebelum aku… Sesungguhnya, aku langsung dikandung dalam [keadaan dari] perbuatan salah; ibuku telah berdosa yang mengandung aku [dan aku juga orang berdosa].” —Mazmur 51:3,5. Peshitta RDN. Dll. banyak sekali kutipan dalam Tanakh mengenai Reinkarnasi.

[16] Jika suatu “roh” mengambil daging kembali (Ayub 1:21a) dalam tubuh daging yang baru, maka identitas yang baru secara lahiriah akan disandangnya. Jika ia mati secara fisik akan dihakimi satu kali saja dalam identitas itu, tetapi roh tetap hidup selamanya. Dalam identitas yang baru itu roh ini akan dihakimi sudah seberapa jauh pelajaran yang dicapainya untuk persyaratan Ilahi masuk kepada tingkatan hidup yang dikehendaki Alaha sesuai standar Ilahi bukan standar ukuran manusia. Sudahkan layak dan pantas seperti yang dikatakan “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1 Keppa 1:16). Inilah standar Ilahi yang harus dicapai, terang hanya bisa bertemu dengan terang! Kekudusan ini adalah sinergi antara kehendak manusia dengan sarana yang disediakan Alaha sejak sebelum dunia dijadikan, yakni sarana Yeshua (Efesus 1:4) yang pada akhirnya menuntaskan semua hutang-hutang dosa kita (1 Korintus 6:20). Ini tak bisa dicapai hanya Iman kepada Iman seperti kebanyak disalahpahami ucapan Paulus dalam Roma 1:16-17, tetapi harus Iman dipraktekkan dalam Perbuatan (Yakob 2:26) seperti Yeshua katakan; lakukan perintah-perintahKu! (Yukhanan 14:15; 15:14) dan Wahyu berkata, harus membasuh Jubah putih (Wahyu 3:5; 19:13; 22:14).

[17] Hukuman Kekal (Eternal Damnation) rekayasa dan inovasi ajaran Kristen abad pertengahan telah menakut-nakuti umat Kristen sampai zaman kini. Hanya ada dua pilihan jika kita mati: 1) Langsung masuk sorga; 2) Masuk Neraka dihukum kekal tiada akhir dengan kejamnya. Bayangkan kengerian dan ketidakadilan ini dilakukan Alaha jika itu benar. Manusia saja lebih “adil” di bumi tidak menghukum orang bersalah selama-lamanya di dalam penjara?! Dalam Alkitab tidak ada satu katapun menghukum orang berdosa selama-lamanya (kekal) kecuali salah terjemah dan tak ada pilihan kata yang tepat.

Dalam bahasa Ibrani jelas bentuk hukuman itu disebutkan dengan istilah “l’olam” (ada batas rentang waktu) dalam bahasa Peshitta Aramaik, “d’lalam” yang sama arti dalam bahasa Ibrani dan bahasa Yunani juga menyebutkan kata “aionion” yang bisa diterjemahkan dalam rentang waktu sementara dan berasal dari kata “masa waktu,” sehingga referensi kata “api kekal,” “siksaan kekal,” atau “hukuman kekal” sesungguhnya tidak kekal/abadi. Contoh ayat: Mattai 18:8; Wahyu 20:10;Yukhanan 6:24; 10:28; Kisah 15:34, dll.

Tidak ada Neraka kekal, tidak ada hukuman kekal, dan tidak ada siksaan kekal. Pada akhirnya semua akan diselamatkan. Ini disebut konsep teologi rasuliah Tikkun l’olam (restorasi) seperti yang dijelaskan Rasul Keppa dalam Kisah 3:21 …PEMULIHAN SEGALA SESUATU. Jika ada hukuman kekal, siksaan kekal, neraka kekal maka akan berimbas kepada Alaha sendiri yang disebutkan Sempurna dan Maha Tahu; jika itu cerita akhir mengapa Alaha tidak berhenti mencipta jika pada akhirnya ciptaan-Nya menderita sampai kekal? Ada dua alternatif; Alaha tidak Maha Tahu atau Alaha itu kejam. Jadi penafsiran orang Kristen yang salah bukan Alaha. Restorasi ini jelas disebutkan dalam Wahyu 21:1-2.

[18] Dalam Sejarah Kekeristenan hanya ada satu hasil Konsili yang diilhami Roh Kudus dan benar, yakni Konsili Yerusalem tahun 50 M., yang dipimpin Yakov ha-Tzadik saudara Maran dan dibantu rasul Simon Keppa serta semua Rasul dan Murid 70 dan Penatua-penatua Jemaat. Kisah Rasul 15:28 tidak boleh dikutip untuk dasar teori pembenaran Konsili-konsili lain. Semua Konsili-konsili Ekumenis Kristen sejak abad ke-3 M., dan seterusnya dipenuhi ambisi mereka yang berkepentingan antara politik gerejawi dan politik Kekiasaran Romawi sehingga hasil-hasil formulasi yang demikian tidak pernah diilhami Roh Kudus, kecuali hasil konvensi kesepakatan bersama saja dan ini disebut sebagai “tradisi – tradisi manusia” yang tidak wajib dilekatkan pada iman. Konsili-konsili Ekumenis Kristen adalah sumber malapetaka perpecahan Gereja-gereja Kristen di bumi.

[19]Sejak zaman Rasul sudah diperingatkan akan perpecahan Gereja tidak terjadi, tetapi terjadi juga sejak kekeristenan menjadi Agama Resmi Kekaisaran Romawi abad ke-4 M., efeknya ada blok-blok Kekeristenan yang samapi sekarang membekas; contoh Blok Barat, yaitu Gereja-gereja Katolik Latin dan Blok Timur dipecah menjadi dua kelompok Ketimuran (Eastern) dan Timur (east) yang disebut “Oriental”, dan kelompok pengikut Kalsedon dan Non-Kalsedon. Masing-masing kelompok melihat kelompok lain tidak kanonik!

[20] Beshora Mar Yukhanan 1: 19-27. Tantangan bagi anda tak percaya reinkarnasi adalah anda diperhadapkan Apakah anda percaya ucapan Yeshua atau Yukhanan. Jika anda tidak percaya Yeshua adalah Tuhan dan Alaha, maka anda menolak reinkarnasi maka anda digolongkan kepada “Orang tak percaya Yeshua.” Sebaliknya, jika anda percaya Yeshua, maka anda setuju dengan Yeshua bahwa Eliyahu adalah Yukhanan Pembaptis dan anda punya telinga untuk mendengar! (Mattai 11:14-17).  Injil Lukas 1:17 menyebutkan bahwa Yukhanan Pembaptis adalah … dengan “roh” dan “kuasa” Elia. Artinya, “roh” yang bisa masuk kembali menjadi daging (Ayub 1:21a), sebab “roh” tetap hidup kekal dan roh bisa masuk dan mengubah bentuk ke bentuk lain. ROH adalah hakikat paling inti dari keberadaan manusia. Jadi tidak seperti tafsiran orang yang menolak reinkarnasi mengatakan, Yukhanan pembaptis seperti “semangat dan kuasa Elia”, tapi Alkitab menulis dengan roh dan kuasa Elia. Dua hal yang berbeda.

[21] Ada dasar dalam Alkitab perihal ini menyebutkan dalam Injil Markus dengan kata: Dan Ia berkata kepada mereka, pergilah ke seluruh dunia, dan beritakan Injil-Ku kepada seluruh ciptaan. (Markus 16:15 Peshitta G.Lamsa) dan bandingkan dengan Roma 8:19-23. Dalam Peshitta John Etheridge:….kepada setiap mahluk. Dengan demikian, tidak ada pemisahan bahwa Injil hanya untuk manusia. Bagaimana mahluk ciptaan binatang-binatang apakah mengerti Injil? Tentu tidak. Lalu bagaimana supaya mengerti? Tentunya, ada peningkatan status dari kondisi Kerajaan Binatang naik lebih tinggi ke alam manusia. Ini bukan bermaksud bahwa “roh manusia” ber-reinkarnasi kedalam hewan seperti yang diajarkan dalam Buddhisme – Hindu. Roh Manusia tidak bisa menjelma masuk kedalam daging binatang. Tetapi secara rohaniah hewan-hewan bisa naik lebih tinggi menjadi manusia sebagaimana halnya dijelaskan oleh Maran Yeshua bahwa manusia akan menjadi seperti Malaikat-malaikat (Lukas 20:36). Dengan demikian ada semacam ‘gerak maju’ kedalam kesempurnaan dari tingkat rendah kepada tingkat tinggi. Inilah pemahaman “reinkarnasi” yang dalam bahasa Ibrani disebut “gilgul”, yaitu siklus berputar dari rendah menuju kepada kesempurnaan.(Lihat, http://wn.rsarchive.org/Lectures/19070316p01.html).

Pemahaman ini tentu sulit bagi kekeristenan yang terbiasa dengan model Legalistis Teologi yang hanya mengutip ayat-ayat Alkitab!

Pemahaman kedua, bahwa Alaha tetap bekerja sampai sekarang (Yukhanan 5:17). Dalam Ringkasan Keyakinan Gereja Ortodoks Katolik-Nasrani menyatakan:

Kami percaya pada Alaha Tunggal,Tak Berwujud dan Tak Dapat Dipahami, dari Dia dan dalam Dia, segala sesuatu asal muasal keberadaan mereka, bahkan Waktu dan Ruang: Dialah yang ada pada mulanya, mewujud langsung sebagai sang Tlithayutha hakikat Ekhad, yakni, Alaha sang Bapa; Bapa dari semua jiwa, Alaha sang Ruakh ha-Kodesh; Bunda dari semua jiwa, dan Alaha sang Anak; Saudara Tertua dari semua jiwa, dalam Dia sebaliknya diciptakan semua Ciptaan menjadi ada, dari Dia terus-menerus turun mengalir aliran Percikan-percikan Ilahi yang masuk kedalam bendawi untuk mendapatkan pengalaman di dalamnya, agar mereka boleh pada akhirnya kembali untuk memperkaya Keilahian. — (Pengakuan Iman Ortodoks Katolik-Nasrani, butir 1)

    Dalam Kitab Ritual kuno, halaman 530 menyebutkan:

PENGUJI: Ya Bunda, mendengar adalah untuk mematuhi. Demikian juga si Ular adalah suatu kiasan dari kebenaran abadi. Tidak hanya satu kali saja tapi pada setiap saat dari setiap hari Percikan-percikan Ilahi sedang turun kedalam benda dan ini adalah setiap jiwa “Adam-adam”, dan pada setiap waktu dari setiap hari si Penguji sedang melakukan kerja pelatihannya bagi roh yang baru saja turun melalui jalan sempit pengalaman yang pahit dan memaksakan Torah Tabur Tuai (Karma). Sebab si penguji adalah atau hamba pelayan Alaha pada pelatihan kerja jiwa-jiwa manusia.

Alaha terus bekerja dan menciptakan jia-jiwa baru, sehingga ditambah reinkarnasi maka populasi manusia cepat drastic berkembang di penghujung zaman ini. Kedua pandangan ini adalah sah.

[22] Namun, ada juga Biara-biara yang masih mempelajarinya bagi di Barat dan di Timur. Khususnya di Gereja-gereja Timur, di India dalam Gereja-gereja Nasrani Mar Thoma hanya diajarkan dalam komunitas-komunitas biara (Dayra/Dayro) tidak diajarkan secara umum dalam jemaat. Ini adalah usaha Gereja-gereja untuk memberikan efek jera terhadap mereka yang berbuat jahat yang pilihannya api-kekal yang siap membakar jiwanya sampai kekal. Meskipun gereja tahu bahwa tidak ada api kekal semacam itu. Namun, dalam teknologi imformasi maju di zaman modern sekarang ini, tidak mudah lagi memberikan ajaran-ajaran primitive dan kekanak-kanakan semacam itu. Sehingga sudah mulai gereja-gereja rasuliah membuka informasi yang lama tersimpan ini bagi publik. Letak persoalannya, sekarang menjadi boomerang bagi gereja sendiri mengambil sikap yang sulit diambil. Mengakuinya akan kehilangan muka di depan public dan menolaknya arus informasi semakin deras mengalir sehingga mereka menjadi salah tingkah saat ini. Sampai tiba saatnya umat meninggalkan mereka!

[23] Tidak ada satu ayatpun dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru melarang doktrin Reinkarnasi, begitupun Yeshua dan Para Rasul. Ini yang menjadi patokan kita bukan Konsili-konsili Ekumenis Kristen setelah zaman Rasul-rasul kita percayai.

[24] Istilah …. tidak akan keluar lagi dari situ,” artinya tidak akan mengalami reinkarnasi kembali ke bumi (Ayub 1:21a).

[25] Sebenarnya ajaran Reinkarnasi itu adalah ajaran universal di tiap suku-bangsa di bumi sudah ada sejak manusia pertama, hanya dikarenakan Ajaran-ajaran Agama Legalistis membuatnya menjadi hilang! Bahkan dalam ajaran-ajaran tradisi suku, jika orang dikutuk oleh orang benar bisa menjadi batu, pohon, atau apa saja dalam legenda-legenda rakyat. Roh manusia bisa reinkarnasi menjadi baru seperti cerita Malin Kundang di Sumatera Barat. Ini menunjukkan keyakinan reinkarnasi memang sudah mendarah daging dalam diri tiap suku-bangsa di bumi ini.