REINKARNASI I

REINKARNASI I 2018-02-08T08:41:57+00:00

REINKARNASI 

Oleh, Metropolitan Archbishop Mar John Reginal Cuffe, CKC, D.D

Diterjemahkan oleh, Rt.Rev. Bishop Mar Nicholas H.Lumbantrouan, CKC

Editor oleh, Shm Sem Aldo Tulung Allo, ST, CKC

GEREJA NASRANI INDONESIA

Keuskupan Gereja Nasrani Satu Kudus Katolik Ortodoks dan Rasuliah

Dibawah Jurisdiksi Primat Metropolitan Keuskupan Agung Orthodox Catholic Church of the New Age-Australia

PENDAHULUAN

Banyak iman mengajarkan Doktrin Reinkarnasi, dan faktanya itu benar dengan mengatakan bahwa hingga Zoroaster merombak dengan ajaran-ajaran pada zamannya dalam pada abad ke-6 S.M., ada segelintir, agama-agama besar menerima ajaran Reinkarnasi ini. Dan sebenarnya, banyak ide keliru yang mencoreng wajah Kekeristenan Abad Pertengahan, seperti Penghukuman Kekal,

[1] Dosa Warisan,[2] dan Si Jahat Abad Pertengahan sebagai sosok Malaikat Agung yang memberontak melawan Alaha,[3] ini semua bisa ditelusuri kepada Zoroaster atau beberapa macam konsep Gnostikisme.[4]

VARIASI TIPE KEYAKINAN DALAM REINKARNASI

Keyakinan pada Reinkarnasi tersebarluas pada zaman Kuno, kendati bentuk dari ajaran tersebut bervariasi luas. Dalam beberapa kasus, ada ketidakjelasan perbedaan antara hidup setelah mati dan hidup baru di bumi. Lainnya, jiwa diyakini masuk kembali ke bumi lagi dan lagi, dengan atau tanpa periode menjalani suatu rentangan waktu dalam hidup setelah mati tanpa ada harapan akhir dari siklus. Namun lainnya karma [Tabur Tuai] sebagai akibat dari segala sesuatu, sehingga manusia barangkali bereinkarnasi sebagai binatang-binatang, serangga atau tumbuhan sebagai hukuman bagi suatu pelanggaran peraturan minor,[5] sebaliknya mereka, jiwa fana berjuang dengan susah payah berusaha membayar hutang-hutang masa lalu mereka melalui pertobatan-pertobatan dan perbuatan baik dan mengejar kesempurnaan sebagai suatu sarana melewati di seberang jurang tahapan fana kedalam bentuk sorga.

Lagi, beberapa iman ini melihat tiap jiwa sebagai keberadaan yang diberi jumlah terbatas dari inkranasi-inkarnasi bumiah untuk membuktikan dirinya sendiri. Jika jiwa tersebut berbuat baik dalam masa pembelajarannya, maka jiwa itu akan berhenati bereinkarnasi dan berhak memasuki alam Sorga. Setelah tersebarluasanya Zoroastrianisme, bahkan ada pengajaran tentang adanya Hukuman Abadi tanpa kesempatan lebih lanjut dari penebusan, ini merupakan ajaran Reinkarnasi yang dirusak parah dengan pengabaian yang sembrono.

DASAR DOKTRIN REINKARNASI

Tidak ada waktu dalam artikel singkat ini untuk mendiskusikan ide-ide ini secara rinci, tapi ini penting untuk dicatat bahwa Doktrin Reinkarnasi adalah Kunci bagi Hikmat Kuno, dengan tepat dipahami ini adalah Doktrin didasarkan pengetahuan Rencana Ilahi dan Torah Kembar Keadilan dan Kasih Ilahi. Jiwa-jiwa bisa kembali lagi sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan buruk, dan mereka boleh jadi bahkan jatuh dalam Neraka untuk suatu ruang, tapi ini bukan Penghukuman Ilahi. Ini terjadi sebagai akibat alamiah dari tindakan-tindakan mereka sendiri dan memampukan mereka untuk belajar dari kesalahan-kesalahan mereka.[6] Tidak ada jiwa terhilang selama-lamanya, sebab dalam diri masing-masing ada terletak Nyala Api Ilahi (Spark of the Divine Fire), yang tidak pernah bisa hilang atau dibinasakan.[7]

REINKARNASI YANG KAMI AJARKAN

Sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik Ortodoks, Ajaran Reinkarnasi adalah logis dan adil. Ajaran ini ditetapkan dalam ajaran-ajaran Mshikha sendiri dan mendapat dukungan dalam banyak bagian dari Perjanjian Lama dan Baru. Dalam cakupan luasnya Reinkarnasi termasuk seluruh perjalanan Nyala Ilahi dari Alaha kembali kepada Alaha. Perjalanan ini mulai saat jiwa meninggalkan Alaha dan cepat meluncur turun melalui semua berbagai macam Jagat Roh, akhirnya masuk kedalam benda luas sekali dalam suatu bagian Alam Semesta Fisik. Kita tahu sedikit tentang kehidupan pada planet-planet lainnya, tapi di bumi, Nyala Ilahi berkembang melalui kehidupan-kehidupan tak terhitung meluas dalam tumbuhan dan Kerajaan-kerajaan binatang dan juga kehidupan-kehidupan yang kita jalani sebagai keberadaan mahluk manusia. Tapi sebagian dari ucapan yang tak umum bagi jiwa manusia pernah jatuh kembali kedalam kerajaan binatang setelah suatu kali telah menjadi manusia, kami hanya melihat diri kami sendiri hanya dengan inkrnasi-inkarnasi manusianya.[8]

KEHIDUPAN-KEHIDUPAN AWAL SEBAGAI MANUSIA

Saat jiwa pertama kali masuk menjadi keadaan manusia, roh manusia primitif seringkali tak mampu untuk peduli terhadap dirinya sendiri. Pada hidup pertamanya jiwa boleh jadi atau bahkan mengarah kepada masa –ini bisa dihentikan– atau ini bisa jadi suatu kretin –sosok manusia yang sub-normal yang susah bergerak, hanya bisa bicara. Dalam keadaan semacam ini kretin belajar melalui seluruh sub-kesadarannya berkontak dengan jiwa-jiwa manusia yang peduli terhadapnya. Dan setelah apa yang biasanya hanya waktu singkat di bumi kretin kembali kepada Jagat-jagat Astral dan Roh, dimana jiwa tersebut tinggal seringkali beberapa abad. Kemudian jiwa kembali ke bumi lagi.

Kretin masihlah berjiwa primitif, paling sedikitnya begit pada inkarnasi pertamanya dan dengan demikian bisa banyak belajar lagi. Untuk sejumlah inkarnasi-inkarnasi selanjutnya ini kemudian bersiklus antara hidup di Bumi, hidup di Jagat Astral dan hidup di Jagat Roh, lalu kembali ke Bumi lagi. Terkadang jiwa bisa melakukan kesalahan, dan membuat karma buruk yang mengikatnya kembali atau pada lain waktu jiwa itu bisa berbuat baik dan melakukan perjalanan cepat menuju kepada tujuannya. Jiwa bisa jatuh kedalam Neraka dan harus berjuang keluar lagi, dan jiwa ini bisa mencapai menuju Firdaus,[9].

AKHIR KEHIDUPAN-KEHIDUPAN BUMIAH MANUSIA

Namun, akhirnya, setelah melewati banyak kehidupan, total ratusan tahun dihabiskan waktu di bumi dan ribuan tahun lagi dihabiskan waktu di Jagat Astral dan Roh jiwa manusia siap melewati alam-alam yang lebih tinggi. Kemudian jiwa itu hanya bisa dimanunggalkan kembali “Atas Dirinya-sendiri” –sangat banyak akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang jiwa kumpulkan sepanjang semua inkarnasi-inkarnasinya yang banyak itu dan Malaikat Pelindungnya setia menjagai hingga saat itu. Kemudian, meningkatkan jiwa pada akhirnya memampukan mereka bergerak maju kedalam alam-alam rohaniah yang Lebih Tinggi dimana jiwa tidak lagi membutuhkan untuk reinkarnasi kembali ke bumi dalam tubuh fisik.

SORGA DAN KEMBALI KEPADA ALAHA

Ini adalah semua Jagat Keberadaan Lebih Tinggi yang kita di bumi menyebutnya Sorga –atau lebih tepat bagian Terendah dari Sorga, Jagat-jagat Alam Para Orang Kudus, untuk diperhatikan bahwa bahkan disini roh hanya baru saja memulai perjalanannya kembali kepada Alaha. Diseberang Jagat-jagat dari Para Orang Kudus ada terbentang Sembilan Jagat Para Malaikat lainnya, melalui tiap yang mana roh harus bergerak maju dalam pergantian, hingga waktu lama, waktu berabad-abad lamanya, Nyala Ilahi dalam jiwa mampu membawa jiwa kembali kepada Alaha darimana ia berasal.

Ulasan singkat ini banyak menolong untuk mengarahkan pemahaman kita perihal rincian keberadaan manusia, ini adalah ringkasan yang singkat dari doktrin Reinkarnasi. Bagi mereka yang berminat mencari keterangan lebih lanjut ada banyak lagi yang bisa dijelaskan, sebab Kebenaran akan menncakup semuanya. Dan entahkah itu didapati dalam Hikmat Melkisedek Yang Hilang atau melalui visi–visi penglihatan dari para mistik[10] kemudian, Kebenaran akan selalu disebarluaskan oleh Gereja Katolik Ortodoks Zaman Baru.

___________________________________________________

[1]  Dalam Kitab Suci tidak ada kata “penghukuman kekal” (Perpetual Damnation). Kata yang digunakan adalah “aion” dalam bahasa Yunani, yang artinya “suatu rentang waktu ada awal dan ada akhirnya”; begitu juga dalam istilah Ibrani disebut “l’olam” dan Aramaik, “dalalam” (waktu yang terbatas). Ajaran Hukuman Kekal Abad peretngahan adalah akibat bentuk Kekeristenan yang telah berpikir legalistis yang “membalas” pelanggaran hukum dengan vonis mati. Sejak abad ke-4 M., Kekeristenan telah jatuh kedalam bentuk Kekeristenan Primitif hingga sekarang ini. Dan ada ajaran yang lebih keliru lagi dengan mengajarkan, ‘pelenyapan jiwa’ (annihilation of soul). Ini menunjukkan Alaha tidak maha kuasa dan tidak maha tahu; mengapa harus menciptakan jiwa-roh jika harus ada yang lenyap? Ini kontradiktif dengan Kisah 3:21. Sepertinya para sarjana sekuler lebih pintar dari guru sesat Kristen yang mengajarkan “pelenyapan jiwa”; ilmu sains mengatakan “suatu benda tak bisa dilenyapkan, hanya berubah bentuk ke bentuk lain.”

[2]  Ini merupakan ajaran bida’a teologi Agustinian yang dipengaruhi ajaran bida’ah Manikheanisme.

[3]  Ini sangat kontradiktif dengan Ayub 1: 6-12. Jika Iblis adalah musuh Alaha; mungkinkah ia datang menghadap Alaha di Sorga? Ini seperti penjahat menyerahkan diri ke kantor polisi. Sosok lukisan Iblis berwajah kambing jantan bertanduk dan berekor, memegang trisula, dan berbadan setengah manusia dan binatang adalah hasil karya lukis artis Abad pertengahan yang diadopsi dari dewa para penggembala ternak Yunani, dewa Pan yang meniup seruling. Apakah wajah Iblis seperti lukisan jelek ini? Siapa sosok Iblis tidak akan bisa dijawab tanpa anda paham reinkarnasi.

[4]  Ada begitu banyak ajaran-ajaran Zoroaster yang diadopsi Kekeristenan seperti teologi Rapture (pengangkatan), Kebangkitan Tubuh, malaikat jahat dan baik, akhir zaman, dll. justru semua ajaran-ajaran Kristen pada umumnya kontradiktif dengan Kitab Suci itu sendiri.

[5]  Ini adalah ajaran reinkarnasi Hinduisme-Buddhisme, dan juga sekte Pythagoras dari Yunani.

[6]  Contoh, jika tangan anda sendiri terbakar dan melepuh, maka anda akan belajar untuk tidak terbakar lagi. Jika sudah terbakar anda merasa sakit sekali (rasa sakit ini adalah akibat yang identik dengan hukuman sebab akibat dan itu menjadi neraka bagi anda selama rasa sakit belum hilang) dan anda pergi ke rumah sakit untuk berobat meredakan rasa sakit. Tindakan ini adalah remedial bagi anda untuk berusaha menyembuhkan luka bakar.Analogi berobat ini adalah kelahiran kembali ke bumi.

[7]  Maran Yeshua berkata; “ܐܡܪ ܠܗܘܢ ܝܫܘܥ ܠܐ ܗܘܐ ܗܟܢܐ ܟܬܝܒ ܒܢܡܘܣܟܘܢ ܕܐܢܐ ܐܡܪܬ ܕܐܠܗܐ ܐܢܬܘܢ Yeshua berkata kepada mereka, “bukankah ada tertulis dalam Namusa-Mu {Torah} bahwa “Aku telah berkata bahwa kamu adalah Alahe {bentuk jamak dari Elohim}.” – Yoh 10:34. Apa paling inti dalam diri manusia? Jawab: “ROH” atau “JIWA” dan roh atau jiwa itu adalah Nyala Api Ilahi yang bersifat kekal dalam diri manusia!

[8] Derajat binatang dengan manusia itu berbeda, namun, awalnya jiwa manusia dibentuk dari roh binatang sempurna yang telah berevolusi naik ketingkat kesempurnaan menjadi manusia dan ditanamkan Alaha pada roh sempurna itu Nyala Api Ilahi sehingga ia menjadi manusia, lalu diturunkan bersentuhan dengan bendawi dalam bahasa kias disebut Taman Eden. Itulah sebabnya, dalam diri manusia ada sifat atau tabiat kebinatangan yang buas dan berkarakter hewani saat kerohaniannya terbelenggu dengan hawa nafsu yang dalam Kitab suci menyebutnya manusia daging (Galatia 6:19-21). Semua unsur-unsur tercipta ini baik yang organik dan non-organik, serta mahluk-mahluk rohaniah adalah satu kesatuan mata rantai utuh yang berkembang menuju kepada kesempurnaan pada titik akhir Rencana Alaha (Galatia 8:19-23).

[9] Maran Yeshua dalam Perumpamaan-Nya berkata: …. “Selain itu segala sesuatu ini, ada jurang luas membentang diantara kami dan engkau; agar mereka yang ingin menyeberang dari sini datang kepadamu tidak bisa, tidak juga dari sana menyebrang kepada kami.”(Lukas 16:26).

Maran Yeshua hanya menjelaskan bahwa jiwa yang di Neraka tidak bisa langsung menyeberang masuk ke Firdaus oleh karena ia berada dalam penahanan (detention) yang mana kualitas perbuatannya tidak bisa memenuhi persyaratan untuk masuk kedalam Firdaus, dan begitu juga sebaliknya mereka yang ada dalam Firdaus tidak bisa turun kualitas kerohaniannya dengan berbuat dosa lagi. Jiwa yang ada di Firdaus akan semakin mengalami perjalanan progresif naik ke Jagat-jagat alam yang lebih tinggi dan tak bisa berputar balik kembali ke tempat lebih rendah.

Neraka bagi jiwa-jiwa adalah keadaan di mana sebagai wahana kontemplasi dan menerima penghukuman Tabur Tuai secara rohaniah dan saat jiwa menyelesaikan masa pembelajarannya. Contoh, istilah di bumi menjalani masa tahanan telah selesai, tapi akan dikembalikan kepada dunia masyarakat dan belajar berbuat baik dalam masyarakat dan berusaha tidak kembali ke dalam penjara. Demikianlah jiwa-jiwa dalam Neraka suatu ketika akan keluar masuk kembali kedalam alam Sheol lalu dikembalikan ke bumi untuk reinkarnasi menjalani Tabur Tuai secara daging.  Sekali lagi Hukuman Neraka tidak pernah bersifat “kekal” melainkan ada masa rentang waktu berakhir.

[10] Visi penglihatan para Mistik adalah istilah modern, namun, sama dengan istilah Alkitab; Pendengaran dan Penglihatan Para Nabi zaman Perjanjian Lama dan Baru yang tidak pernah musnah, sebab Alaha yang disembah oleh Gereja Ortodoks Katolik Zaman Baru atau Gereja Nasrani, menyembah Alaha Abraham, Ishak, Yakov yang adalah HIDUP sehingga Dia berkomunikasi dengan Orang-orang Kudus di setiap zaman.  Itulah sebabnya selalu harus ada Tiga Pilar Iman: 1) Pilar Kitab Suci; 2) Pilar Masora (Pengetahuan Lisan); 3) Pilar Wahyu. Rasul Mar Shaul menegaskan bahwa salah satu jawatan dalam Jemaat adalah “peran kenabian” (Efesus 4:11).