AJARAN LAHIR BARU dan MENJELMA KEMBALI

///AJARAN LAHIR BARU dan MENJELMA KEMBALI
AJARAN LAHIR BARU dan MENJELMA KEMBALI 2018-02-08T08:41:57+00:00

AJARAN LAHIR BARU dan MENJELMA KEMBALI

oleh, Rt.Rev. Bishop Nicholas, CKC

Dua kata “Kelahiran Kembali/Lahir Baru” (Re-birth) dan “Menjelma Kembali” (Re-incarnation) seringkali digunakan bergantian. Namun, re-inkarnasi adalah khusus – ini merujuk pada “roh” yang tak punya tubuh fisik memasuki kembali tubuh fisik untuk memulai penjelmaan di bumi. (Ayub 1:21a). Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi. (Ibrani 9:27)

Manusia mati secara fisik di bumi, setelah mati rohnya masuk Alam Roh (Spirit Plane) atau Sheol dan dihakimi apakah sudah layak masuk Firdaus atau tidak, jika tidak ia akan menjelma kembali dalam daging melalui kandungan seorang ibu di bumi menjadi orang lain dan kehidupan yang lain sesuai Tabur Tuai yang dilakukannya saat masa hidup sebelumnya. (Galatia 6:7-10).

Roh ini mengambil daging menjadi identitas baru di bumi untuk menjalani sekolah kehidupan dan setelah ia mati maka ia akan dihakimi kembali satu kali dalam identitasnya baru itu. Proses ini paling lama terjadi 21 kali masa siklus di bumi sampai “roh” ini percaya kepada Maran Yeshua sebagai Juruselamat dan ditebus melalui pengorbanan Maran di kayu Salib untuk membayar hutang-hutang dosanya. (1 Korintus 6:20)

Roh ini sampai masuk kedalam Jalan, Kebenaran, dan Hidup serta belajar Torah Mshikha agar bisa masuk ke Firdaus:

[1]

Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Torah dan Jalan Hidup yang Aku ajarkan itu adalah Aku. Aku adalah Torah dan Torah itu adalah Aku. Tidak ada yang sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku. (Yukhanan 14:6)

Kelahiran Kembali/Lahir Baru (Rebirth) bisa juga maksudnya ini, tapi ini seringkali digunakan dalam arti kiasan (metaphorically) untuk merujuk kepada kelahiran kembali secara rohaniah (spiritual re-birth), sebagaimana Mshikha gunakan istilah dalam diskusi dengan Rabbi Mar Nikodemus. (Mar Yukhanan 3) Rabbi Mar Nikodemus bertanya Apakah yang sesungguhnya Dia maksudkan adalah re-inkarnasi (Ibrani: Gigul), tetapi Yeshua berkata bahwa bukan itu apa yang Ia maksudkan dalam hal ini – Dia sedang berkata bahwa seorang manusia harus dilahirkan kembali dari sang Roh sebelum ia bisa mencapai Sorga. Dalam kata lain, ia harus membuang pikiran duniawi dan menjadi rohaniah.[2]

Istilah “Lahir Kembali” (Re-birth) juga digunakan untuk merujuk kepada “pertobatan”, “baptisan/mikveh”, “peneguhan” atau suatu peristiwa perubahan-hidup lainnya dalam pengertian memulai ulang (re-start) dalam inkarnasi yang sama. Ini juga bisa digunakan untuk merujuk kepada jiwa yang masuk kedalam hidup setelah mati atau jiwa masuk kedalam alam jagat rohaniah khusus.

 

Kelahiran Kembali (Rebirth) dan Baptisan

Penggunaan istilah, “kelahiran kembali” dalam Mar Yokhanan 3: 6 tidak sama dengan istilah re-inkarnasi,[3] meskipun banyak yang dikatakan tentang salah satu berlaku untuk yang lain. Dalam bagian “Lahir Kembali” mengacu pada pembaharuan spiritual dihubungkan dengan Sakramen Pembaptisan (Mikveh Air) dan Peneguhan (Mshikhna), dan Mshikha menekankan bahwa ada persyaratan ganda; seseorang harus dibaptis sebagai penghapusan simbolis dosa dan kita harus menerima pencurahan daya kuasa dari Ruakh ha-Kodesh, dengan demikian menggambarkan sebagai mandi pada penerimaan dalam banyak cara yang sama seperti air secara tradisional dituangkan ke tubuh orang yang dimandikan pada zaman kuno.

“Orang yang telah diurapi” (Mshikhna) merujuk pertama kali terhadap pengurapan tubuh fisik telah menerima Pembaptisan dan Peneguhan (Confirmation), tapi saya jelas tidak keberatan jika dikaitkan kepada Galatia 3:27, meskipun saya pikir itu berhubungan dengan ide setelah menganut Ajaran-ajaran Mshikha, orang harus juga memperlihatkannya dalam kehidupan kesehariannya.

Dalam pengurapan Minyak (mshikhna) dalam sekte Kristen Pentakostalisme-Kharismatikisme selalu dikaitkan kepada Glossolalia (ucapan meracau tak jelas) atau berbicara dalam lidah bukanlah sesuatu yang terjadi secara rutin – meskipun dalam beberapa gereja perasaan emosi ekstrim terkadang menyebabkan mengoceh tidak terkendali sehingga terjadi kesalahan untuk hal itu. Benar Glossolalia terjadi ketika antusiasme pembicara begitu terlarut kepada kuasa Roh Kudus sehingga pemikiran dibalik kata-katanya yang dikeluarkannya benar nyata oleh kuasa Roh Kudus, agar mereka bisa diterima oleh orang lain meskipun mereka tidak dapat mendengar atau memahami kata-kata yang diucapkan itu. Inilah yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 2:6-8, ketika kata-kata dari Para Rasul didukung oleh pemikiran begitu kuat bahwa ucapan-ucapan diterima langsung oleh para pendengar. Pemikiran itu sendiri tidak tergantung pada bahasa, tetapi masing-masing individu cenderung berpikir dalam bahasa mereka sendiri dan oleh karena itulah yang terjadi ketika pikiran-pikiran Para Rasul menjangkau kerumunan orang banyak itu, masing-masing merasa mendengar pikiran-pikiran itu sebagai kata-kata dalam bahasa mereka sendiri, sebagai penjelasan dari perkataan yang didengar itu.

 

Jadi bukan seperti ucapan meracau yang kita lihat dan dengan dalam kalangan sekte Kristen Pentakostalisme-Kharismatikisme yang salah tafsir terhadap peristiwa dalam Jemaat Rasuliah Katolik kuno di Korintus dalam bimbingan shleeha Mar Shaul ketika itu, ini dua situasi ekstrim berbeda.

Apa yang kita lihat dalam komunitas-komunitas Pentakostalisme – Kharismatikisme abad ke-2 M., di Frigia Asia Kecil yang dipimpin oleh bekas Imam Pagan yang memeluk keyakinan Kristen bersama anak-anaknya perempuan, memunculkan ajaran paganisme kembali dengan fenomena ekstasi (semacam kemasukan roh) dengan berbahasa lidah (glossolalia) dan berbagai macam penglihatan-penglihatan secam ilusi dalam pikiran.

Gejala ini akhirnya dikutuk oleh semua Gereja-gereja Kristen Kuno Rasuliah. Namun, gejala ini terus menjalar secara estafet muncul tenggelam dalam Kekristenan Barat, terutama komunitas-komunitas yang tidak memiliki mata rantai suksesi rasuliah sampai ke zaman modern, dan puncak perkembangannya tahun 1960-an di Topeka Kansas Amerika Utara mulai pergerakan aliran Montanisme yang disebut Pentakostalisme-Kharismatikisme.

Jelas gejala semacam ini bukan seperti yang dimaksudkan oleh Para Rasul yang banyak tercatat dalam Kitab Suci dalam Tradisi Suci Rasuliah.

Kita tahu bahwa kuasa dan otoritas sang Roh Kudus, dituangkan ke atas Para Rasul pada hari Pentakosta (Ibrani: Savu’oth) dan kemudian diteruskan oleh mereka Para Penganti Rasul yang tertahbis, sepanjang banyak generasi, telah diterus sampaikan kepada saya dan diterus sampaikan dalam hal yang sama seperti itu melalui saya kepada anda. Oleh karena itu ketika imam sah ditahbiskan sebagai imam atau uskup memanggil sang Roh Kudus atas beberapa orang atau suatu hal. Dia sungguh turun dengan cara yang mirip dengan saat bagaimana Dia turun pertama pada hari Pentakosta (Savu’oth), meskipun itu kepada jenjang lebih rendah. (Meskipun pada kesempatan langka dan khusus saya telah menjadi penerima sangat signifikan turun-menuangkan kekuasaan-Nya)

 Keterkaitan Lahir Kembali dengan Reinkarnasi dalam Keselamatan

Sudut pandang Gereja Katolik Liberal, perihal “sejauh apa pun engkau melangkah pergi dan pada akhirnya kembali kepada Alaha sang Bapa” adalah sama sudut pandang dengan apa yang kita yakini, dan yang diyakini Jemaat Rasuliah Kuno – tidak jadi soal betapa jauhnya individu melanglangbuana menjauh dari Alaha, jiwa itu pada akhirnya kembali kepada-Nya, sebab itu adalah Kehendak-Nya; Dia menghendaki semua manusia diselamatkan dan memperoleh pengetahuan kebenaran (1 Timotius 2: 4) dan dalam pelarian yang lama Kehendak-Nya harus selalu terwujud. Dosa pada dasarnya sesuatu yang menyebabkan kita berbalik menjauh dari Alaha dan dengan demikian menunda perjalanan kita kembali kepada-Nya.[4]

Origenes pastinya mengalami masa susah dari perihal itu bersama Demetrius dari Alexandria, tapi ia punya kekuatan pendukung juga, khususnya Uskup-uskup Yerusalem dan Kaesarea, dan pada akhirnya ia mendirikan kembali sekolah tinggi teologinya di Kaesarea, dan dari sekolah ini, beberapa tahun kemudian, muncullah Uskup-uskup ternama seperti pakar Sejarah Gereja, Eusebius, Mar Basilius Agung, dan Mar Gregory Thaumaturgus. Namun, sayangnya, ketika Kekaisaran Romawi mengalami kemerosotan dan sebagaimana Kekeristenan mengakomodasi sistem keisaran itu sendiri bagi aturanya sendiri sebagai Agama Resmi dari Kekaisaran yang tadinya Pagan, banyak dari ajaran-ajaran mistisnya menjadi tidak dihormati dan bahkan ditolak seketika itu juga. Ini terjadi di Timur dan Barat, meskipun Gereja Barat (Latin), dipimpin oleh Mar Agustinus dari Hippo tampaknya lebih ekstrim dari pada Gereja-gereja Timur (Yunani, dan lainnya).

Gereja-gereja Timur Jauh (yang menggunakan bahasa Syriak) menentang tendensi ini jauh lebih lama, dan dalam beberapa kasus mempertahankan doktrin-doktrin (seperti kodrat Feminitas dari sang Roh Kudus) hingga setelah abad ke-4 M. Reinkarnasi umumnya tenggelam di Barat dari akhir abad ke-4, sementara wilayah Timur Jauh, khususnya di Cina dan India konsep ini dilestarikan paling sedikit 500 tahun kemudian sesudahnya (Abad ke-10).

Sudut pandang Gereja-gereja Mapan Ortodoks dan Roma tentang Ajaran-ajaran Origenes tersebar luas justru akibat 15 Anathema yang difatwakan menentang Origenes melalui Konsili Konstantinople Kedua, yakni 300 tahun setelah beliau wafat. Sejak masa itu kebanyakan Ajaran-ajaran Rasuliah sudah korup atau diplintir untuk berkompromi dengan persyaratan-persyaratan Kekaisaran pemerintahan Romawi dibawah kaisar Justinian.[5] Barangkali ini sangat signifikan bahwa saat itu istrinya, Maharani Theodora yang biasanya menghargai dengan mengatur konsekrasi dengan diam-diam Yakobus dan Sergius bagi Gereja Syria, melalui mereka inilah menurun rohaniawan Syria modern, termasuk garis Suksesi Rasuliah kita sendiri.

Signifikansi harus menunggu 300 tahun untuk mengutuk ajaran-ajaran seseorang yang tidak bisa lagi membelanya. Origenes barangkali pakar teologi Kristen terbesar dari zamannya ketika ia adalah alat yang hebat mempertobatkan sejumlah pemimpin Gnostik terkenal; pastinya pada zamannya, hanya sedikit orang yang mampu berdebat menantang dia. Sekarang ini, banyak volume tulisan-tulisannya sudah hilang dan kita tidak tahu apakah atau tidak klaim-klaim yang dibuat oleh Konsili perihal ajaran-ajarannya adalah akurat, dan setelah mempelajarai dengan seksama perihal anathema secara rinci, saya bisa katakana bahwa cara mereka menuliskan perkataan tidak selalu mengutuk apa yang dituduhkan kepadanya dan diajarkan, tapi mereka yang mengikuti ide-ide itu dan bukan ajaran lain. Dengan demikian meskipun saya pastinya tidak akan berkata bahwa Origenes selalu benar dalam segala sesuatu yang ia ajarkan, ini jelas bahwa ia sangat lebih dekat pada Zaman Rasuliah dari pada mereka yang mengkritiknya, dan dengan demikian sepertinya lebih mengikuti tradisi mereka. Apa yang terjadi sejak saat itu kemudian, yakni sisi mistik Kekristenan secara umum dihancurkan oleh usaha-usaha lembaga duniawi untuk mempertahankan teologi legalistik, yang akan melayani keinginan Kekaisaran pertama, Roma, setelah itu setiap pemerintah duniawi yang membuatnyanya menjadi ketetapan iman.

Sebagaimana dikatakan bahwa ide apokatastasis adalah bida’ah, yang akan bergantung tepatnya bagaimana istilah didefenisikan, tapi sejak hal itu digunakan oleh Mar Keppa dalam Kisah Para Rasul 3:21 ketika ia berkata perihal Yeshua: “ܕܠܗ ܘܠܐ ܠܫܡܝܐ ܕܢܩܒܠܘܢ ܥܕܡܐ ܠܡܘܠܝܐ ܕܙܒܢܐ ܕܟܠܗܝܢ ܐܝܠܝܢ ܕܡܠܠ ܐܠܗܐ ܒܦܘܡܐ ܕܢܒܝܘܗܝ ܩܕܝܫܐ ܕܡܢ ܥܠܡ ܀

yang atas Dia (Yeshua), ini adalah pantas bagi Shamayim bahwa mereka akan menerima Dia, hingga kegenapan waktu PEMULIHAN (tikkun l’olam/ apokatastasis)[6] bagi segala sesuatu yang Alaha telah sabdakan melalui mulut dari Qadishe Nabiyauhe-Nya {Nabi-nabi Kudus-Nya} yang ada dari kekekalan. Saya pikir saya berpihak pada sisi Mar Keppa dari pada menentangnya.

Saya setuju bahwa Mshikha menderita demi umat manusia bukan Para Malaikat atau yang lainnya – Itulah sebabnya Ia menjadi seorang Mahluk Manusia; Dia tidak hanya mengenakan pada diri-Nya sendiri kemunculan dari seorang Manusia – Dia menjadi seorang Manusia dan Dia berbuat demikian agar Dia bisa menderita dan mati. Tapi tidak berarti bahwa Dia tidak menolong yang lainnya para orang suci dan para malaikat untuk mencapai menuju jenjang lebih tinggi kesempurnaan, sebab Mshikha tidak hanya Alaha Sempurna dan Manusia Sempurna, Dia juga adalah Guru Sempurna pada setiap tahap perjalanan antara manusia dan Alaha, dan Dia berkehendak bahkan pada masa waktu tertentu mengajar para mahluk malaikat Seraphim, sekalipun mereka masih belajar dari Alaha Mahakuasa.

Saya juga setuju bahwa “setiap mahluk” yang juga bahkan binatang-binatang boleh jadi diselamatkan melalui Mshikha – tapi mereka akan perlu direinkarnasikan sebagai mahluk manusia sebelum mereka bisa mendapatkan manfaat penuh Pengorbanan-Nya dan pesan para murid-Nya ajarkan. Mar Francis Agung dari Assisi, tampaknya menafsirkan perintah ini begitu literal pada waktu itu, ketika tidak ada pendengar yang datang lainnya, ia berkata yang sebenarnya berkotbah kepada burung-burung dan binatang buas.

Saya juga setuju bahwa semua Ciptaan pada akhirnya kembali kepada Alaha, dan sebenarnya tidak ada yang bisa dimusnahkan, selain diubahkan kedalam sesuatu yang lain. Teori Einstein memiliki aspek itu yang seringkali tidak disadari. Benda, ia berkata bisa diubah menjadi energi, dan melalui reaksi nuklir ini terjadi saat atom berat seperti uranium dipecah; akibatnya fragmen-fragmen berkurang dalam berat total dari pada awalnya dengan perbedaan (sekitar 3%) menjadi dikonversi kedalam energi. Serupalah saat dua atom ringan (hidrogen) digabungkan untuk membentuk atom lebih berat (helium) ada kehilangan kecil massa benda. Dalam kedua kasus tersebut porsi kecil dari benda dikonversi kedalam energi, tapi dalam reaksi benda – antibenda ada 100% perubahan! Maka begitulah juga dengan tubuh fisik kita yang akhirnya akan berhenti ada dan ketika tubuh ini mati kita akan berfungsi sebagai keberadaan murni roh, muncul bersama kita dari keadaan bendawi, 100% dari semua pengetahuan dan pengalaman diperoleh. Dan hanya ketika kita mendapatkan pengalaman yang cukup, menyelesaikan semua karma bumiah dan belajar dari semua pelajaran yang dunia fisik bisa ajarkan, bahwa kita akan menjadi bebas dari keperluan kembali ke bumi lagi.

Saya tidak mengatakan bahwa Alkitab mengatakan Alaha menghancurkan benda; Dia menghancurkan BENTUK dari kota-kota menjadi rata, ya; tapi unsur-unsur fisiknya tidak diubah menjadi energi – kota-kota singkatnya kembali kepada keadaan semua kedalam lapisan kulit bumi – barangkali dilelehkan melalui panas ekstrim dan diserab kembali kedalam mantel bumi, atau barangkali hanya ditutupi dengan puing-puing reruntuhan, dan masih menunggu penggalian para ahli arkeologis.

Saya tidak akrab dengan  tulisan-tulisan Mar Sadhu Sundar Singh, tapi saya setuju bahwa Manusia tidak pernah bisa dimusnahkan. Tubuh fisiknya bisa, tapi hakikat rohnya[[7]] – Percikan Ilahi didalamnya – tak pernah bisa dimusnahkan.

Argumentasinya untuk membuktikan bahwa Alaha tidak pernah Menciptakan sesuatu yang begitu mudahnya untuk dimusnahkan sebab ciptaaan semacam itu juga baik adanya.[8] Jelasnya jika Ia memusnahkan, itu akan membuktikan bahwa Ia membuat kesalahan dalam menciptakannya pertama kali, sementara jika kita percaya bahwa Dia mengetahui segala sesuatu dan tidak pernah membuat kesalahan, secara alamiah ciptaan mengikuti bahwa semua Ciptaan-Nya pada akhirnya akan diselamatkan, tak jadi soal seberapa lama hal itu akan terjadi. Itulah salah satu hal yang Alaha adalah bebas dari kesalahan dan Ia sempurna adanya,[9] dan sebaliknya kita kurang – waktu – banyak kali – semua waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan-Nya Keselamatan bagi Semua.

Sebagaimana untuk mencoba menggambarkan pengalaman-pengalaman mistik bagi orang yang sepenuhnya materialistis – ini sama saja seperti mencoba menjelaskan warna khusus kepada orang yang buta sejak lahir. Jalan satu-satunya kemungkinan untuk melakukan itu dengan menggunakan imajinasi, simbol dan kiasan seperti perumpamaan-perumpamaan yang Mshikha gunakan untuk mencba mengajarpelajaran-pelajaran rohaniah kepada Para Murid-Nya dan orang-orang secara umum. Kita diberitahu bahwa Ia hanya bisa berbicara kepada orang – orang dalam perumpamaan sebab mereka tidak mampu memahami banyak hal dari apa yang Ia sedang ajarkan kepada para murid. Kita juga diberitahu bahwa Ia menjelaskan “segala sesuatu kepada para murid-Nya “ketika mereka sendirian” (Mar Markus 4:34), tapi ada sesuatu yang melampaui di luar pemahaman mereka bahkan para murid-Nya, pada waktu itu, sebagaimana Dia jelaskan kepada mereka dalam Mar Yukhanan 16: 12 saat Dia berkata “Aku punya banyak hal untuk Kukatakan kepadamu tapi kamu tidak bisa menanggungnya sekarang.” Tapi, setelah Turun Ruakh Ha-Kodesh Dia berjanji kepada mereka bahwa Ruakh ha-Kodesh akan “Membimbing kamu dalam segala sesuatu akan Kebenaran”. (ayat 13) Ini mengindikasikan bahwa itu bahkan jiwa-jiwa kudus masih bisa belajar lebih dan/ atau berkembang secara rohaniah dari waktu ke waktu melalui pengalaman.

[1] Alaha telah menakdirkan bahwa keselamatan itu dalam Yeshua Mshikha yang sudah ditetapkan Alaha sebelum dunia diciptakan bagi kemuliaan Alaha (Efesus 1:4). Itulah sebabnya Mar-Yah Yeshua Mshikha bersabda, “Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Ajaran [Torah] yang Aku ajarkan itu adalah Aku. Aku adalah Torah dan Torah itu adalah Aku. Dan tidak ada yang sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku.” [Lihat, Beshora Mar Yukhanan 14:6]. Untuk mencapai keselamatan itu tidak hanya Iman kepada-Nya, tetapi juga harus melakukan Perintah-perintah-Nya (Mitzvoth ha-Torah) yang disebut berbuat baik. (Yukhanan 14:15:15:14) sehingga tiap lutut bertekuk dan tiap mulut mengaku bahwa Yeshua adalah Mar-Yah! (Filipi 2:10-11). Inilah dengan sederhana dijelaskan Mar Yakov: “Iman tanpa perbuatan adalah mati. (Igeret Mar Yakov 2:26). Memang Iman dan perbuatan baik tidak bisa cukup sempurna bagi keselamatan dan pengudusan. (1 Keppa 1:16) Dengan demikian puncak akumulasi iman dan perbuatan baik kita melalui Pengorbanan Yeshua Mshikha di kayu Salib sebagai mezbah semestawi dan diri-Nya sebagai Kohen ha-Gadol (Imam Besar) menurut Aturan Melkisedek (Mazmur 110:4; Ibrani 8:1-13; 9:11) mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba (Yukhanan 1:29, 36). Dengan demikian Ia telah lunas membayar semua hutang dosa-dosa kita. (1 Korintus 6:20) dan setelah kenaikan-Nya ke Shamayim, Ia telah mentahbiskan serta mendelegasikan Keimamatan-Nya kepada Para Rasul 12 dan Murid-murid 70 dengan memberikan otoritas dan kuasa untuk melepas dan mengikat dosa (Mattai 16:19; Yukhanan 20:23) yang disebut sebagai Sakramen Pengakuan Dosa. (1 Yukhanan 2:1-2; Yakov 5:14-16) Fungsi Para Rasul dan Murid di sini adalah menggantikan fungsi Keimamatan Harun-Lewi dalam Bait Suci menurut Torah Musa, sekarang dalam Yeshua sang Imam Besar Melkisedek diwakilkan oleh mereka yang ditahbiskan Para Rasul kepada Para Uskup dan Imam melalui proses Tahbisan Suksesi Rasuliah (Kisah 14:23; 13:1-3; 2 Tim.1:6) yang tidak putus sepanjang zaman hingga Maran datang kembali ke bumi. Inilah pemahaman Soteriologi Iman Rasuliah Nasrani yang Katolik dan Ortodoks yang cukup luas pemahamannya.

[2] Lahir Baru (Kelahiran Baru) artinya perubahan dalam pola pikir dalam akal budi, kehendak, dan karna yang ada dalam jiwa. Contoh, tadinya ia seorang perampok, sekarang berubah total menjadi tidak merampok lagi. Ada perubahan aspek hidup yang total dalam segala hal. Ini identik dengan yang disebut “Pencerahan.” Ini terkait erat dengan Pertobatan Total (Ibrani: Teshuva) sehingga efek dari pertobatan ini menerima Pengampunan dari dosa-dosa masa lalu. Jadi Baptisan/Mikveh adalah sarana dan deklarasi pertobatan ini. Jika seseorang yang dimikveh tidak ada perubahan hidup, maka ia tidak mengalami “kelahiran kembali” dan ritual yang dilakukan itu hanyalah sekedar mengikuti saja dan tidak murni. Sehingga kita berkata tidak semua orang yang datang beribadah di Rumah Tuhan tulus dan murni hatinya, ada yang datang hanya karena faktor tertentu yang hanya orang itu yang tahu dan Alaha.

[3]  Sebaliknya, Reinkarnasi itu berbeda. Manusia harus mati dahulu dan rohnya masuk kedalam Sheol lalu dihakimi, tetapi tidak semua orang sudah sempurna hidupnya saat ia mati. Saat diadili di alam roh, ia mengalami saat merenung dan memilih apakah ia harus membayar perbuatan-perbuatan yang ditaburnya saat dalam daging. Jika kita menabur dalam daging maka kita wajib membayarnya dalam daging. Jika hukuman ini dibayar di alam roh bagaimana membayar tabur tuai dalam daging sementara roh tak punya tubuh lahiriah? Maka di sinilah peran reinkarnasi terjadi. Jiwa-roh harus menjalani membayar hutang dagingnya di bumi dengan jalan kembali menjelma melalui kelahiran bayi dengan identitas baru sesuai porsi tabur tuai yang akan dibayarnya. Itulah sebabnya ada perbedaan nasib orang saat di bumi; ada yang lahir cacat, ada yang enak hidupnya, ada yang jahat sekali, dan berbagai macam kehidupan dan karakter dan tabiat. Jiwa-roh identitas baru ini juga berproses alamiah dan mengalami kematian dan dihakimi satu kali dalam identitas barunya itu. Pada umumnya setiap penjelmaaan kembali roh mengalami tahap perkembangan naik lebih tinggi dari sebelumnya. Titik akumulasi dari tiap reinkarnasi sampai mereka bertemu dan berlutut dan mengaku Yeshua adalah Mar-Yah (Filipi 2:10-11).

[4] Talmud (Sanhedrin 105a; Rosh Hashanah 17a; Lihat juga Tosefos pada Sanhedrin 13b) menyatakan orang fasik dari semua bangsa akan masuk ke Gehenom (Neraka), dan orang benar dari semua bangsa, Yahudi dan non-Yahudi sama saja, akan masuk Gan Eden (Sorga). Rambam (Maimonides) menulis bahwa orang yang mencapai pengetahuan Alaha dan mengikuti Sheva Mitzvot B’nei Noach (7 Mitzvoth Nuh) dipandang “orang saleh,” dan akan masuk Sorga. (Hilkhot M’lakhim 8:14; Hilkhot Teshuva 3:5) Rav Yisrael Lipschutz, Tiferet Yisrael, menulis bahwa bahkan banyak diantara Bangsa-bangsa lain masuk kedalam Sorga. (Yakhin, Sanhedrin 10:2) Sebagaimana ia berkata, bahkan tanpa kata-kata kudus para ahli kitab kita memberitahukan kepada kita [contoh, orang saleh Goyim mendapatkan hak masuk olam ha-ba], kita tahu dari intelektual kita sebab “Alaha adil dalam jsemua jalan-jalan-Nya dan penuh kebaikan dalam semua perbuatan-perbuatan-Nya.” Kita lihat bahwa banyak Bangsa-bangsa yang saleh mengakui sang Pencipta, percaya dalam Keilahian yang dicatat Kitab Suci, bertindak penuh kasih sayang kepada kaum Israel, dan beberapa sudah melakukan hal yang luar biasa bagi seluruh dunia. (lihat pada bagian belakang artikel ini, “Artikel: Samudera Luas Persekutuan Orang – orang Kudus”)

[6]  Teologi Tikkun l’Olam (Yunani: apokatastasis, artinya “pemulihan”). Tikkun olam (Ibrani: תיקון עולם or תקון עולם) (literal, “pemulihan dunia”, atau “konstruksi bagi kekekalan”) adalah konsep dalam Yudaisme yang dikembangkan Para Rasul sendiri. Contohnya saat Shleeha Mar Keppa berkotbah di Serambi Salomo di Bait Suci (kisah 3:21). Justru Gereja-gereja Kristen menolak Ajaran Rasuliah ini sejak abad ke-4 setelah Gereja lebur dengan Kerajaan Romawi Byzantium dengan menolak Ajaran Rasuliah dengan teori “Penghancuran Total Alam Semesta.” Mereka menolak teologi restorasi karena kebencian buta terhadap Yudaisme, pada hal Rasul Simon Keppa mengajarkan “Restorasi dunia” bukan “Penghancuran Total Dunia”, dan mereka menolak Ajaran Rasuliah dengan menganggapnya “bida’ah.” Gere-gereja Rasuliah ini disebut Gereja-gereja Neo-Ortodoks yang adalah penyesat dan mengajarkan teologi Pengganti dari “ajaran-ajaran tradisi konsensus rasional manusia melalui konsili-konsili yang penuh dengan adopsi sinkretisme paganisme.” Shleeha Mar Yukhanan menegaskan kembali dalam Wahyu 21:1-2 perihal Teologi Tikkun l’Olam ini.

[7] Paling inti dalam diri manusia adalah “roh” yang abadi dan tak bisa dimusnahkan. Tubuh jasmaniah adalah pembungkus dari roh, itulah sebabnya jika disebut “mati” adalah tubuh fisik yang unsurnya dari bumi. Jadi yang ber-inkarnasi itu “roh”, sedangkan kelahiran baru (rebirth) adalah “jiwa” yang mendapatkan pencerahan dalam akal budi, kehendak, dan karsa.

[8]  Kejadian 1:31

[9]   Ulangan 32:4; Mattai 5:48