AJARAN KESELAMATAN

///AJARAN KESELAMATAN
AJARAN KESELAMATAN 2018-02-08T08:41:56+00:00

KESELAMATAN

(SOTERIOLOGI)

Oleh The Most Rev. Archbishop Mar John Reginal Cuffe, D.D., J.P., C.K.C

Diterjemahkan oleh The Rt.Rev. Bishop Mar Nicholas H.L.Toruan, CKC

Editor oleh, Shm Sem Aldo Tulung Allo, ST, CKC

GEREJA NASRANI INDONESIA

Keuskupan Gereja Nasrani Satu Kudus Katolik Ortodoks dan Rasuliah

Dibawah Jurisdiksi Primat Metropolitan Keuskupan Agung Orthodox Catholic Church of the New Age-Australia

Sebelum kita mengalami – dalam kata lain, bahwa Ia akan menghabiskan waktu di Jagat Astral dan Roh sebelum turun ke bumi, Ia sedang sedang bekerja pada tempat ini dalam sejarah. Demikianlah ketika Alaha memberikan sang Sabda bagi Mshikha turun dari Alam-alam Surgawi (the Celestial Realms) kepada Jagat-jagat Umat Manusia (the Planes of Men), ini akan diangkat yang akan pertama kali melihat Dia, sebagaimana kita perbuat sekarang.

Ini ayat terakhir yang membangkitkan ide bahwa hal itu umum disebut Pengangkatan (Rapture). Mereka yang berpikir perihal ini disajikan sebagai suatu yang literal. Kata Soteriologis (teologi keselamatan) didefenisikan sebagai studi doktrin-doktrin keselamatan keagamaan – jalan yang agama pandang bahwa anggorta-anggota bisa diselamatkan. Dan mengulas pokok ulasan ini kita pertama butuh  Apakah yang kita maksudkan dengan istilah “diselamatkan.” Diselamatkan dari apa? Dalam beberapa agama, keberadaan diselamatkan dilihat dengan pengertian sedang diselamatkan dari Neraka. Pada kelompok lainnya selamatterhindar dari perlunya terus menerus ber-reinkarnasi di bumi. Berbicara secara luas kita akan melihat hal itu sebagai penerapan kedua paham tersebut. Kita sungguh berusaha untuk mengakhiri siklus hidup kita di bumi, tapi disebabkan dosa suatu jiwa belum bisa mencapai tujuan ini, kita masih berharap untuk diselamatkan dari Neraka dan senang hidup setelah mati sebelum kembali kepada penjelmaan bumiah.

Proses dasariah ini yang suatu jiwa bisa menggapai hak mengakhiri siklus hidupnya di bumi, utamanya terdiri dari pembelajaran perihal perkara-perkara spiritual dan menyelesaikan karma buruk yang sebaliknya akan mengikat kita kepada siklus ini. Pengetahuan Spiritual adalah penting, sebab tanpa hal itu, manusia akan tetap terikat pada kemelekatan perkara bendawi. Tapi pengetahuan spiritual saja tidak bisa meraih kemenangan keselamatan bagi kita. Kita perlu mengetahui apa yang benar, tapi kita juga perlu melakukan apa yang benar, mengorbankan hasrat-hasrat kita sendiri dan melakukan apa yang kita bisa tolong orang lain. Perkara spiritual dan perbuatan diperlukan. Mar Yakov mengulas hal ini (Yak 2: 13-18).

“Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan IMAN

[Ibrani: Emunah]: JIKA IMAN ITU TIDAK DISERTAI PERBUATAN, MAKA IMAN ITU PADA HAKEKATNYA ADALAH MATI. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan MENUNJUKKAN KEPADAMU IMANKU MELALUI PERBUATAN-PERBUATANKU.” — (George Lamsa Peshitta)

Demikianlah kita juga berkata, orang seharusnya tidak hanya percaya kepada Yeshua Mshikha dan beriman dalam Dia, kita juga harus menunjukkan dengan jalan menolong orang-orang lain yang yang mana kita sedang mencoba mengikuti Jejak-jejak Kaki-Nya, sebagaimana sesungguhnya Dia amanahkan kepada kita dalam Beshora Mar Mattai 16: 24.

Lalu Yeshua berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” — (George Lamsa Peshitta)

Namun, banyak orang menggunakan istilah teologi “Keselamatan” (Soteriologi) dalam cara yang semakin dibatasi, dan bagi mereka Soteriologi berarti cara Mshikha, melalui Pengorbanan-Nya menyediakan suatu sarana keselamatan bagi para pengikut-Nya. Orang-orang semacam ini seringkali tahu sedikit tentang jalan Mitzvoth Alaha yang ditimbulkan oleh Pengorbanan-Nya, dan dengan demikian bagaimana bisa digunakan untuk menolong menggapai perjalanan akhir bumiah kita. Orang-orang semacam tersebut di atas memahami Soteriologi yang dibatasi itu seringkali mengklaim bahwa keselamatan hanyalah perlu berkata, “Aku percaya pada Mar-Yah Yeshua Mshikha”,[1] dan dari pernyataan tersebut mereka akan diselamatkan, tidak jadi soal apa yang mereka perbuat, atau tidak berbuat, sesudah itu. Kita tidak menyangkali perkataan bahwa kita percaya kepada Yeshua, tapi jika hanya keyakinan tersebut adalah sesungguh-sungguhnya, dan jelas jika ucapan itu tidak menggiring kita menghidupi kehidupan baik dan berbuat baik kepada orang-orang lain, maka ucapan tersebut palsu.

Kitab-kitab Injil membuatnya menjadi jelas bahwa Yeshua punya otoritas mengampuni dosa-dosa (Mar Markus 2:5–12) tapi Dia juga menegaskan bahwa dosa-dosa kita hanya akan diampuni jika kita, sebaliknya, mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. (Mar Mattai 6:14–16) Dengan kata lain, pengampunan tidak hanya sekedar akibat dari pertobatan, namun, pengampunan itu berdasarkan tabur tuai (karma).[2]  Melakukan karma baik dicapai dengan mengampuni orang-orang lain sehingga mengimpas karma buruk,[3] dengn begitu kita akan mempreteli dosa dan memberikan kita pengampunan jikalau kita bertobat. Jika kita mengorbankan diri kita sendiri bagi orang-orang lain, itu juga mendapatkan karma baik yang menolong untuk melepaskan karma buruk. Orang bisa saja mendapatkan karma buruk melalui penderitaan, dan jika kita tidak mengikuti teladan hidup Yeshua, dan menolong orang-orang lain, hanya itu jalan dimana kita membayar tabur tuai atau karma.[4] Dan kebanyakan orang tidak pernah lunas membayar dalam jalan ini, mengakhiri penjelmaan-penjelmaan bumiah mereka. Dengan demikian, mengikuti jejak-jejak kaki Mshikha adalah jalan paling sederhana dan terbaik untuk mencapai tujuan itu. Orang tentu saja bisa berbuat baik kepada orang-orang lain tanpa percaya kepada Mshikha, dan untuk alasan ini saya tidak mengatakan bahwa orang tidak bisa mencapai Surga melalui iman lain, tapi ini sungguh sangat sukar melakukannya dengan cara iman lain itu, sebab Mshikhanuth[5] punya satu manfaat terunggul dari yang lainnya – Korban Mshikha.[6]

Orang hanya bisa memahami Mengapa dan Bagaimana ini merupakan suatu keunggulan tertinggi, apa bila orang memahami Torah Karma.[7] Pada intinya Karma adalah sederhana – “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Mar Mattai 5:38)[8] dan jika kita melakukan kesalahan maka kita menderita untuk itu, entahkah kita mau, atau tidak. Dan jika kita menerima penghukuman kita dengan sabar bahwa karma khusus diberlakukan, tapi jika karena kita mau membereskan karma masa lalu kita maka kita langsung mencari penghukuman – puasa, berjaga-jaga atau pertobatan-pertobatan lain, tidak hanya membayar karma buruk kita masa lalu dalam suatu tingkat yang adalah sesuai dengan kerasnya dan membayar dengan pertobatan, tapi karena kita menerima hal itu dengan sepenuh hati kita membayar jauh lebih besar dari pada jika hanya memikulnya dengan sabar.

Namun, jika kita tidak hanya melakukan pertobatan atas kita dengan sepenuh hati membayar karma buruk kita sendiri, tapi mempersembahkan korban bagi Alaha demi orang lain, itu memberikan karma tersebut bahkan bernilai lebih besar. Dan tidak hanya bisa oleh sebab itu kita menolong orang lain, tapi melalui berbuat hal itu, ukuran kita sendiri karma baik juga akan dipertambahkan, bahkan lebih lagi dari pada jika kita menggunakan pertobatan untuk menutupi akumulasi karma buruk kita sendiri. Dan jika korban itu dengan sepenuh hati dipersembahkan demi orang lain adalah bermanfaat cukup besar, hal itu akan mendapatkan banyak keuntungan baginya sehingga ia bisa memperoleh pengampunan bagi semua dosa-dosanya dan mengakhiri perjalanan bumiahnya. Sementara itu jika orang membuat pengorbanan besar itu juga adalah suci tanpa dosa sehingga ia tak punya karma buruk dari sesuatu yang ia sendiri telah bereskan, kemudian jelasnya ia tidak hanya bisa menggunakan korban itu untuk mengampuni dosa-dosa orang lain, tapi karena simpanan akumulasi karma baiknya adalah mengisi dirinya sendiri, ia bisa melanjutkan untuk mempersembahkan pengampunan bagi semua yang mencarinya dari dia, dan yang sepenuhnya menginginkan sendiri untuk mengampuni orang lain dengan membiarkan mereka menerimanya.

Ini adalah bagaimana Korban Mshikha mengijinkan Dia untuk selanjutnya mengampuni dosa-dosa dari para pengikut-Nya yang sejati tanpa merusak Torah Karma,[9] sementara mereka yang tidak menerima Dia dan paling sedikitnya tidak mencoba hidup sebagaimana Ia perbuat, bisa menguntungkan dari hal itu.

_________________________________

[1]  Slogan ini adalah motto Reformasi Protestantisme Abad ke-16, “Sola Fide” (Hanya Iman). Jelas ini sangat kontradiktif dengan kesaksian Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Wahyu – wahyu Ilahi. Iman saja tidak cukup harus ada perbuatan yang disebut Shleeha Mar Yukhanan: “… Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya”…” (Wahyu 22:14); Istilah “Kain linen halus yang putih bersih berkilauan” (Wahyu 19:8); Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan memperhatikan pakaiannya…” (Wahyu 16:15); … dan mereka yang telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. (Wahyu 7:14) Semua ungakapan di atas adalah “perbuatan baik” yang diperintahkan Yeshua untuk dilakukan! (Yukhanan 14:15; 15:14). Inilah yang disebut Yeshua sebagai Kuk Ringan (Mattai 28:30) dan Shleeha Mar Shaul menyebutnya “Torah Mshikha.” (Galatia 6:2). Itulah sebabnya orang-orang Nasrani Yahudi awal dengan giat melaksanakan Torah Mshikha (Kisah 21:20) sebab melakukan Mitzvoth ha-Torah Mshikha adalah sungguh ringan yang tidak perlu lagi mewajibkan membawa persembahan korban binatang ke Bait Suci, kewajiban Aliyah Hagg 3 x dalam setahun untuk menjalankan perayaan Hari Raya wajib. Bukan lagi ditekankan legalitas ritual keagamaan tetapi MORALITAS. Seperti dijelaskan oleh Mar Shaul kepada Jemaat Rasuliah Kolose. – (Igeret Kolose 2:5-17). Tidak ada istilah Sola Fide dalam Alkitab yang disalah tafsirkan oleh Marten Luther saat membaca Roma 1:16-17: 16 Sebab aku tidak mau perihal beshora Mshikha: sebab beshora adalah kuasa Alaha bagi keselamatan bagi setiap orang yang percaya; pertama entahkah mereka orang Yehudim, atau orang Aram (orang Syria). Sebab didalamnya kebenaran Alaha diungkapkan dari “”haimanuta (atau ܗܝܡܢܘܬܐ  – “haymanootha” = Iman) kepada “haimanuta”: sebagaimana ada tertulis, Orang benar akan hidup melalui “haimanuta.” (Peshiita George Lamsa)

Dalam bahasa Aramaik, “haimanuta”:ܗܝܡܢܘܬܐ, Arab إِيمَان ‎(ʾīmān) dan Ibrani אֱמוּנָה ‎(ʾĕmûnâ). Artinya, Ini adalah kemurnian dalam peristilah kemurnian dari roh, jiwa, dan tubuh. Iman merujuk kepada beriman pada Alaha. Iman jenis ini adalah Iman yang AKTIF dan tidak PASIF seperti dalam doktrin Sola Fide.

Perhatikan kata “murni roh, jiwa dan tubuh”, itu berarti harus ada usaha perbuatan memurnikan roh, jiwa dan tubuh. Jadi percaya kepada Alaha bukan hanya teori tetapi praktek adalah kesatuan monodualis yang tak terpisahkan. Jelas konsep Sola Fide (hanya Iman) adalah salah tafsir!

[2]  Lihat, Galatia 6:7-10

[3] Sachar ve’onesh (שכר ועונש) – “pahala atau hukuman”, salah satu aspek Alkitabiah keadilan ilahiah.

[4]  Karma (Ibrani:Asiyah/ Peulah (עשייה/ פעולה, artinya aksi atau perbuatan).

[5]  Orang-orang Percaya Mshikha.

[6] Alaha telah menakdirkan bahwa keselamatan itu dalam Yeshua Mshikha yang sudah ditetapkan Alaha sebelum dunia diciptakan bagi kemuliaan Alaha (Efesus 1:4). Itulah sebabnya Mar-Yah Yeshua Mshikha bersabda, “Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Ajaran [Torah] yang Aku ajarkan itu adalah Aku. Aku adalah Torah dan Torah itu adalah Aku. Dan tidak ada yang sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku.” [Lihat, Beshora Mar Yukhanan 14:6]. Untuk mencapai keselamatan itu tidak hanya Iman kepada-Nya, tetapi juga harus melakukan Perintah-perintah-Nya (Mitzvoth ha-Torah) yang disebut berbuat baik. (Yukhanan 14:15:15:14) sehingga tiap lutut bertekuk dan tiap mulut mengaku bahwa Yeshua adalah Mar-Yah! (Filipi 2:10-11). Inilah dengan sederhana dijelaskan Mar Yakov: “Iman tanpa perbuatan adalah mati. (Igeret Mar Yakov 2:26). Memang Iman dan perbuatan baik tidak bisa cukup sempurna bagi keselamatan dan pengudusan. (1 Keppa 1:16) Dengan demikian puncak akumulasi iman dan perbuatan baik kita melalui Pengorbanan Yeshua Mshikha di kayu Salib sebagai mezbah semestawi dan diri-Nya sebagai Kohen ha-Gadol (Imam Besar) menurut Aturan Melkisedek (Mazmur 110:4; Ibrani 8:1-13; 9:11) mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba (Yukhanan 1:29, 36). Dengan demikian Ia telah lunas membayar semua hutang dosa-dosa kita. (1 Korintus 6:20) dan setelah kenaikan-Nya ke Shamayim, Ia telah mentahbiskan serta mendelegasikan Keimamatan-Nya kepada Para Rasul 12 dan Murid-murid 70 dengan memberikan otoritas dan kuasa untuk melepas dan mengikat dosa (Mattai 16:19; Yukhanan 20:23) yang disebut sebagai Sakramen Pengakuan Dosa. (1 Yukhanan 2:1-2; Yakov 5:14-16) Fungsi Para Rasul dan Murid di sini adalah menggantikan fungsi Keimamatan Harun-Lewi dalam Bait Suci menurut Torah Musa, sekarang dalam Yeshua sang Imam Besar Melkisedek diwakilkan oleh mereka yang ditahbiskan Para Rasul kepada Para Uskup dan Imam melalui proses Tahbisan Suksesi Rasuliah (Kisah 14:23; 13:1-3; 2 Tim.1:6) yang tidak putus sepanjang zaman hingga Maran datang kembali ke bumi. Inilah pemahaman Soteriologi Iman Rasuliah Nasrani yang Katolik dan Ortodoks yang cukup luas pemahamannya.

[7]  Karma adalah ide yang merembesi banyak budaya. Dalam Mesir kuno, ini disebut “ma’at,” dan Yunani, “heimarmene” atau “nasib” dan di Jerman, “wyrd.” Dalam konsep Yudaisme ini dipahami sebagai “Campur tangan Alaha dalam” (“hashgacha”) yang bermakna bahwa kita bisa mencapai diseberang sistem. Kita bisa membuat dalih dengans ang Pencipta dari sistem, atau melakukan teshuvah (pertobatan) dan mentransformasi diri kita sendiri, bahkan masa lalu kita. Contoh, “karma” Abraham dan Sarah bahwa mereka tidak akan punya anak. Torah menuturkan bahwa Alaha mengangkat Abraham ke atas bintang-bintang dan Sarah melahirkan Ishak. Sama persis, “karma” dari keturunannya diperbudak Firaun. Kembali lagi, campur tangan Alaha putaran karma dan mereka secara ajaib dibebaskan. Karma (Ibrani:Asiyah/ Peulah (עשייה/ פעולה, artinya aksi atau perbuatan) – membungkus kita dan semua yang ada. Tapi ada saat menetas keluar, melalui teshuvah, melalui Torah dan melalui perbuatan-perbuatan baik.

[8]  Ini yang disebut Tabur Tuai yang setimpal dengan aksi perbuatannya karma baik atau buruk.

[9]  Doa Bapa Kami: …dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; (Beshora Mar mattai 6:12)