Inti Peribatan Jemaat Perdana

//Inti Peribatan Jemaat Perdana
Inti Peribatan Jemaat Perdana 2018-02-08T08:41:53+00:00

header niko 728 x 90

Secara umum gereja Kristen memahami bahwa inti peribadatan adalah kotbah. Pujian penyembahan, kolekte uang, pengumuman, penguan iman rasuliah, dan doa-doa adalah bagian pendukungnya. Semua mata akan fokus memperhatikan kotbah. Makanya ada banyak kotbah yang direkam dan dijadikan bahan kotbah lainnya. Bahkan ada juga yang dijadikan bahan perdebatan. Ini karena semua meyakini bahwa kotbah adalah bagian yang paling fital dalam peribadatan.

Perlu dipahami, bahwa kekristenan itu termasuk agama kuno. Berdiri sejak abad 1 sejak Maran Yeshua mengajar. Dari abad 1 sampai ke abad 21 ini, sebagaimana agama kuno lainnya telah banyak terjadi penyimpangan termasuk dalam hal ini adalah inti peribadatan. Peribadatan di abad 1 sudah dirumuskan oleh para Rasul, tentunya mereka juga mendapatkan arahan (Oral Torah) dari Maran Yeshua sendiri. Siddur atau liturgi paling kuno yang pernah dibuat oleh para rasul adalah siddur Mar Yakub HaTzadiq. Nama ini adalah nama Uskup I Yerusalem sbg pusat Kekristenan awal. Mar Yakub saat itu disebut juga Uskup segala Uskup. Menurut tradisi, siddur ini beliau tulisakan dan dilanjutkan oleh Uskup Ignatius dari Antiokia. Dari siddur peribadatan inilah kemudian muncul siddur-siddur lainnya yang sebenarnya tidak jauh berbeda.

Di abad awal, semua gereja adalah Gereja Rasuliah (Apostolic Church), tidak pernah ada gereja lainnya. Jadi, semua gereja pada awalnya memiliki kesamaan, antara lain:

  • dimpimpin oleh Imam dalam peribadatan,
  • peribadatan menghadap atau berkiblat ke arah TIMUR,
  • peribadatan menghadap ke arah Mezbah,
  • ada pengajaran singkat,
  • ada Perjamuan Suci dan doa berkat.

Wah, mengapa pengajarannya (kotbahnya) singkat? Ya karena itu bukan inti dari peribadatan. Kotbah tidak dijadikan bagian terpenting dalam ibadat awal. Itu baru dijadikan  bagian terpenting mulai di abad 16. Di awalnya, bagian terpenting peribdatan selalu adalah QURBANA QADISHA atau Perjamuan Suci. Perjamuan suci adalah bagian dari Sakramen (Qadishotim) dan ini bagian dari Tradisi juga.

Perjamuan Suci dilakukan oleh para Imam tertahbis. Mereka adalah wakil Alaha di bumi ini, sebagai jembatan antara jemaat dan Alaha, antara bumi dan Sorga yang ingin dicapai manusia. Keimamatan dalam PB ini adalah kelanjutan dari keimamatan Lewi-Harun di dalam Perjanjian Lama. Mereka bukanlah jemaat. Jemaat bukanlah Imam. Para Imam adalah jemaat yang ditahbiskan oleh Kepala Imam (Uskup). Merekalah yang berhak melayani sakramen Perjamuan Suci. Seperti di dalam PL, yang berhak untuk melayani Qurbana atau ritual Kurban adalah Imam Lewi, suku Yehuda yang berdarah raja tidak boleh melakukanya, demikian juga suku lain. Itu sangat dilarang. Peran para Imam jangan diambil alih.

Tujuan semua penciptaan adalah supaya semua jiwa kembali kepada penciptanya, yaitu kepada Alaha. Uskup Paulus sempat mengatakannya kepada jemaat rasuliah di Korintus:

1Kor 15:28  Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Jadi, semua jiwa akan manunggal dengan Ilahi dalam kekekalan saat mereka semua telah menjalani kehidupan menaiki tingkap-tingkap alam menuju kesempurnaan. Semua jiwa disempurnakan, dan hanya bisa bersatu jika dia sempurna.

Mat 5:48  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Untuk menjadi sempurna itu tidaklah mudah. Kehidupan manusia dengan free will masing-masing bsia dengan mudah memberontak. Manusia bisa dengan mudah berdosa. Oleh karena berdosa maka Karma Buruk yang dicatatnya menjadi semakin banyak dan banyak. Lalu bagaimana solusinya? Tuhan berkurban! Maran Yeshua berkurban, Dia mau menjadi Anak Domba Alaha dengan mati di kayu salib. Manusia tidak perlu lagi pergi ke Yerusalem untuk menyembelih domba di hadapan Imam Lewi, mereka bisa dilayani di dalam banyak Gereja Rasuliah yang saat ini sudah ada di semua benua dan sudah hadir di Indonesia.

Dengan adanya para Imam yang melayangkan Perjamuan Suci, maka semua jiwa bisa manunggal dengan Maran Yeshua. Itulah kesatuan yang terus dilakukan sampai suatu waktu manusia wafat dan pergi ke Sorga. Di sana mereka terus disempurnakan dan pada akhirnya benar-benar menyatu dengan Keilahian. Kotbah memang penting, namun tidaklah seperting Perjamuan Suci. Kotbah tidak bisa menyatukan manusia fana dengan Keilahian di Kekal. Hanya sakramen ini yang memampukannya.

Pelayanan Imam di Mezbah

Pelayanan Imam di Mezbah

BANNER FREE MEMBER