Keimamatan dalam PB

//Keimamatan dalam PB
Keimamatan dalam PB 2018-02-08T08:41:53+00:00

header niko 728 x 90

LIM 15:1 Oleh karena itu, pilihlah, bagi kalian sendiri para uskup dan para diakon yang layak di hadapan Maran, para pria yang lembut hatinya dan tidak tamak, dan benar dan diakui, sebab mereka melaksanakan bagimu pelayanan para nabi dan guru. Oleh karena itu, jangan rendahkan mereka, sebab mereka adalah yang terhormat diantaramu, bersama dengan para guru dan nabi.

Pilihlah. Adalah suatu tradisi jemaat untuk memilih[1] siapa pemimpin mereka karena merekalah yang lebih tahu dibandingkan dengan rasul/uskup yang diutus untuk memuridkan. Suatu sidang jemaat akan menetapkan seseorang untuk menjadi pemimpin mereka. Secara alamiah mereka akan dengan mudah menetapkannya karena pasti ada sosok orang yang dituakan. Orang yang dipilih tersebut lalu dilantik atau ditahbiskan sesuai dengan Tradisi Qadishot Smikha Ha Slyakhanut (sakramen pentahbisan rasuliah). Hanya uskup yang memiliki hak untuk mentahbiskan seorang jemaat masuk ke dalam keimamatan. Untuk mentahbiskan seseorang sampai ke Presbiter (Imam) hanya memerlukan seorang uskup, namun untuk pentahbisan Uskup maka idealnya ada 3 orang uskup yang mentahbiskan secara bersama, kecuali dalam keadaan genting. Sebelum ditahbiskan, Uskup akan bertanya kembali ke arah jemaat apakah orang itu layak di hadapan Maran untuk menjabat, jika ada yang mengatakan ‘keberatan’, maka tahbisan akan ditunda sampai permasalahan selesai. Jika seseorang telah ditahbiskan maka tahbisan itu tidak akan luntur atau tidak akan putus selamanya! Adanya tahbisan dari abad ke abad akan membuat mata rantai tahbisan yang berkelanjutan dari abad 1 sampai ke abad 21 ini.

Jenjang Keimamatan dalam Perjanjian Baru

Jenjang Keimamatan dalam Perjanjian Baru

Tertahbis adalah tetap orang yang tertahbis kendati dia mengajar ajaran salah atau berkelakuan amoral. Tuhanlah yang akan menjadi hakim orang tersebut jika memang mengundurkan diri dari tahbisan dan berbalik arah (murtad). Oleh karena itu, seorang yang sudah ditahbiskan lalu menjadi alat roh jahat maka orang ini akan sangat berbahaya, perkataannya masih berkuasa. Untuk mengadapinya memerlukan nasihat uskup yang berpengalaman. Seorang jemaat bisa hendaklah tidak gegabah melawan orang seperti ini.

Para uskup dan para diakon. Dari penggalan kalimat ini, maka bisa dipastikan bahwa Kitab Limudah ini ditulis di abad 1 memang. Mengapa? Karena sebelum abad 2, Tahbisan hanya terdiri dari 2, yaitu Diakon (Pelayan Meja, Kis 6:2) dan Uskup/penilik Jemaat. Di abad berikutnya baru ada pemisahan di antaranya ada jenjang Imam (Presbiter) yang kebanyakan dipegang oleh kaum biarawan, mereka tidak mengembalai jemaat. Di atas Presbiter ada Uskup yang menjadi gembala dan memiliki hak untuk mentahbiskan. Sampai ke abad 3, semakin banyak jemaat maka tahbisan kemudian diperinci, ada Tahbisan Minor lalu ke Tahbisan Mayor. Semua jenjang dilalui dengan ritual pentahbisan masing-masing yang berbeda. Perhatikanlah gambar jenjang keimamatan/kepemimpinan Jemaat Perdana ini.

Contoh pada Diakon yang ditahbiskan oleh para rasul di awal adalah seperti yang tercatat pada kitab Kisah Para Rasul di bawah ini:

Kis 5: 1 (LAI) Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. 2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. 3  Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, 4  dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” 5  Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6  Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. 7  Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Para Diakon ini sudah memiliki otoritas untuk menyampaikan pengajaran. Jika mereka dipandang baik, maka para Uskup akan mentahbiskan mereka ke jenjang Imam (Kohen), atau mungkin naik sampai ke Uskup.

Masuk ke abad 4, Gereja Rasuliah memasuki suatu masa yang baru yaitu masa masuknya Politik Kekaisaran ke dalam jemaat (Aram: Idtah). Sitem hirarki kekaisaran diadposi sehingga semakin banyak jenjang di atas Uskup dan kepemimpinan jemaat diambilalih oleh Kaisar sendiri. Kaisar Roma menetapkan dekrit 313 masehi Edik Milano, bahwa Kristen menjadi agama kerajaan. Di satu sisi pengikut Yeshua tidak lagi dianiaya dan para imamnya lama-kelamaan berkelimpahan, namun jemaat dinina bobokan oleh kemewahan dan menjauh dari gaya hidup Limudah yang diajarkan oleh para rasul. Ini adalah era gereja beranjak dari AKAR SEMITIK Nazarene-nya. Ini juga adalah era di bangunnya tempat ibadah semewah istana raja dengan alasan bahwa Yeshua adalah raja. Ini masih bisa diterima, namun jika ajaran dibelokkan maka itu sudah tidak wajar. Itulah yang terjadi. Tangan besi kaisar menembus dinding gereja sehingga gereja berkarakter sangar dan kejam. Oda Alaha, tidak semua Gereja Rasuliah terlindas keduniawian seperti ini. Namun justru jemaat yang terus berpegang pada gaya hidup Limudah ini, yang menyebar di wilayah Persia dan India malah menerima tekanan seperti sudah dinubatkan sebagai pengikut Yeshua maka pasti akan dianiaya. Saat itu bukan oleh orang luar lagi, namun oleh sesama Kristen sendiri.

Pelayanan para nabi dan guru. Artinya para pemimpin Nazarene di abad 1, bukan hanya bertindak sebagai pengajar namun juga sebagai penyambung lidah Alaha. Mereka adalah orang-orang yang peka akan suara Alaha. Alaha adalah Tuhan yang hidup, Dia berbicara dan para uskup mendengar lalu pesan tersebut disampaikan ke jemaat. Peran kenabian ini seharusnya ada terus, namun sayangnya faktanya tidak demikian. Gereja-gereja Rasuliah besar seperti Byzantium Yunani dan Roma Katolik yang tergilas oleh sistem kekaisaran tidak lagi berpegang pada Pilar Iman Pewahyuan yang mengandalkan telinga nabi-nabi. Mereka seakan-akan tidak lagi butuh mendengar suara Alaha. Mereka berpikir bahwa Tradisi (Oral Torah) dan semua naskan kitab (written Torah) yang mereka salin dalam bahasa yunani dan latin dan mereka pelihara dalam kepustakaan mereka yang besar, itu sudah cukup. Mereka pikir bahwa semua rahasia Alaha sudah ada pada mereka. Mereka tidak meyakini lagi bahwa Alaha bisa bersabda dan kitab masih bisa dituliskan. Gereja Besar yang didukung tentara kerajaan menekan gereja-gereja rasuliah kecil yang terus memelihara peran kenabian.

________________________

[1] Seperti pada contoh Kis 6:3 Karena itu saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu supaya kami mengangkat/mentahbiskan mereka untuk tugas itu (Diakon).

BANNER FREE MEMBER