NAZARENE

/NAZARENE
NAZARENE 2018-02-08T08:41:54+00:00

Kata ‘Nazarene’ merupakan 1 dari 2 komunitas Mshikaye (Indo: pengikut Yang diurapi) Yahudi di abad 1. Selain kaum Nazarene ada komunitas Ebionit yg sama-sama meyakini bahwa Yeshua adalah Sang Mesias Yahudi yang telah lama dinantikan. Kedua komunitas ini diyakini sebagai pecahan dari kaum Esseni Qumran yang adalah keturunan asli Imam Zadokit.

ESSENI menjadi Nazarene dan Ebionit

ESSENI menjadi Nazarene dan Ebionit

Kaum Esseni memilih untuk pindah ke Qumran karena peran mereka sebagai imam di Bait Suci Yerusalem diambil alih oleh imam-imam Zadokit (Saduki) di bawah kendali Hasmonean. Dalam pengungsian mereka aktif dalam menulis kitab-kitab dan mengganti kurban hewan untuk sembelihan dengan memakan roti dan anggur. Mereka membuat suatu komunitas yang menantikan Reinkarnasi-nya Sang Imam Melkisedek.

Di sekitar tahun 26 Masehi, muncullah Nabi Yuchnan (Yohanes) pembaptis yang tumbuh besar di kalangan Esseni Qumran ini. Mar Yuchnan meng-klaim bahwa dia datang untuk mempersiapkan kedatangan Sang Mesias, untuk itulah semua kalangan Esseni dan Yahudi pada umumnya menantikan siapa gerangan yang datang. Rabbi Eashoa (Ibr: Yeshua) datang, Dia adalah sepupu Mar Yuchnan sendiri, kerabat ibunya dan keturunan Raja David, pemegang tampuk Raja-raja Yehuda. Dialah Yeshua yang dibaptis oleh Yuchnan. Dari peristiwa Baptisan yang mengikuti tradisi Esseni inilah kaum Esseni berbondong-bondong mengikuti Yeshua. Lama-kelamaan mereka meyakini bahwa Dialah Sang Imam Melkisedek yang mereka nantikan untuk memulihkan Bait Suci.

Saat Maran Yeshua mengajar, Dia mengatakan bahwa Dia datang juga untuk melakukan HaTorah (Torah Sinai/Hukum Taurat), ini tercatat di Mat 5:18-20. Namun yang menjadi masalah adalah ternyata kendati namanya sama-sama Hukum Taurat, isi pengajaran antara Musa dan Yeshua sangat berbeda. Puncak perbedaannya tentu saja pada pengorbanan manusia Yeshua di kayu salib. Dalam ajaran Musa, hal ini sangat terlarang!!! Hal ini ditentang!!! Oleh karena banyaknya perbedaan ini, maka terpecahlah pengikut Yeshua dari Yahudi ini. Saat mulai banyak kaum non Yahudi yang percaya kepada Yeshua, mereka (Kaum Ebionit) yang mengikuti ajaran Musa (Hukum Taurat) ikut memaksakan sunat dan segala aturan lainnya. Sementara para Rasul dan juga Mar Paulus tidak mengajarkan demikian. Oleh karena perbedaan mutlak ini maka muncullah Konsili Yerusalem di tahun 50 Masehi. Semua rasul, nabi, para pemimpin Mshikaye berkumpul di Yerusalem. Yerusalem saat itu dipimpin oleh Uskup Mar Yakub HaTzadiq, saudara tiri Maran Eashoa. Sidang juga dipimpin Rasul Kefa (Petrus), ini tercatat di Kisah Para Rasul pasal 15. Singkatnya adalah konsili memutuskan bahwa kaum non Yahudi (goyim), tidak perlu disunat, tidak perlu mengikut Hukum Taurat. Kaum Ebionit kemudian memisahkan diri dari umat percaya lain dan punah di abad ke-2, tidak punya pengikut lain. Sementara kaum Nazarene Yahudi, mereka melebur dengan Gereja-gereja Rasuliah yang didirikan oleh para Rasul. Mereka mewarisi semua tradisi yang baru dilembagakan atau dibakukan di abad 1.

Perbedaan mutlak lainnya antara Nazarene dan Ebionit adalah kaum Ebionit tidak meyakini bahwa Maran Yeshua adalah sosok Ilahi. Mereka hanya menilai bahwa Yeshua itu adalah Mesias, anak dari Mar Yosip si tukang kayu keturunan Yehuda. Kaum Nazarene yang banyak masuk ke Gereja Timur Church of The East dan Gereja Rasuliah lainnya, ikut meyakini keilahian Yeshua.  Dalam banyak tradisi keilahian Yeshua ini diajarkan terutama pada Liturgi (Ibrani: siddur) pertama Nasrani yg dinamakan sesuai nama Uskup Yerusalem, Mar Yakub. Siddur Yakub atau St James Divine Liturgi ini mengupas sosok Yeshua adalah sosok Ilahi dan manusia yang utuh. Ini sulit diuraikan, namun memang inilah yang diajarkan oleh para rasul. Dari banyaknya tradisi barulah dari sana muncul kitab-kitab suci.

Gereja Nasrani Indonesia di abad 21 ini terus melestarikan keyakinan kaum Nazarene kuno dengan menilai bahwa Maran Yeshua adalah Tuhan dan Mesias Juruselamat. Kami melestarikan semua tradisi awal, dan juga memakai siddur Mar Yakub HaTzadiq. Para pemimpin (Uskup) Nazarene Indonesia memiliki tahbisan kepemimpinan yang berasal dari Antiokia dan Mesopotamia Church of The East.

Pentahbisan Kepemimpinan Nazarene Indonesia

Pentahbisan Kepemimpinan Nazarene Indonesia

Harap waspada, kendati kaum Ebionit sudah benar-benar punah di abad 2 Masehi, namun pengajaran mereka masih dibangkitkan oleh bebarapa kalangan. Ada 1 Gereja Rasuliah yang menolak keilahian Yeshua dan juga satu denom Kristen (Saksi Yehova) yg meyakini demikian.

.

.

.

.

header niko 728 x 90