Konsep Keilahian Judaiasm-Nasrani-Islam

/, Judaism (Agama Yahudi), Kristen/Konsep Keilahian Judaiasm-Nasrani-Islam

Konsep Elohim (Indonesia: Tuhan) dalam agama Judaisme sebenarnya sangat mirip dengan konsep di dalam ajaran Nasrani awal (Jemaat Perdana) yang memang semua berdarah Israel ini. Jika ada perbedaan itu karena Kaum Nasrani menerima pewahyuan dari Nabi Besar Yeshua yang menjelaskan lebih rinci daripada Rabbi Farisi pada umumnya saat itu.

Konsep Elohim dalam Judaism

Perhatikan bahwa dalam ajaran Yahudi, memikirkan Keilahian harus dilakukan dengan sangat waspada. Elohim itu bukan manusia, bukan mahluk yang bisa ditangkap untuk dipelajari secara detail. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan menerima sendiri penyingkapan dari-Nya melalui para Nabi. Oleh karena itu peran kenabian dalam Yahudi sangatah sentral. Dari merekalah rahasia-rahasia ilahi bisa diterima oleh manusia. Para Nabi adalah Penyambung lidah Ilahi, penyampai pesan ilahi kepada dunia.

Dari penyingkapan para Nabi tersebut, muncullah tradisi (Oral Torah) atau disebut dengan Pengajaran Lisan. Dari sebagian Tradisi inilah kemudian muncul Kitab-kitab, termasuk Tanakh dan Zohar. Tradisi Mistik yang ada di dalam Judaism tidak tercatat di dalam Tanakh, melainkan tertulis di dalam Kitab Zohar. Kitab inilah yang diteliti oleh para rabbi khususnya kaum Kabbalah. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua rabbi Yahudi mendalami Kabbalah. Sama seperti Agama lain, ada kaum Mistikus yang peka akan alam Roh, demikianlah di dalam Judaism, kaum Kabbalah yang berperan dalam hal mistika ini.

Mari kita perhatikan secuil tradisi yang tercatat di dalam buku yang mengulas Zohar ini.

SON OF YAH dalam Kitab Zohar

“The Child of Abba and Imma is called Binah, literally Ben YAH (Son of YAH)…”

Terjemahannya adalah “Anak dari Sang Bapa dan Sang Bunda disebut dengan BINAH, yang bisa dicatat dengan nama BEN YAH (Inggris: Son of YAH)”. Penulisnya adalah Pinchas Giller seorang Rabbi dan Professor dalam Seni dan Sains.

Jangan salah sangka bahwa mereka mengakui TRINITY, tidak. Sekali lagi mereka tidak memakai istilah TRINITAS. Dalam Judaism, Elohim itu SATU bukan tiga. Elohim itu bisa disebut dengan panggilan ‘Bapa’, dan ternyata Dia juga punya sisi Keilahian yang lain yang bisa disebut dengan ‘Bunda’ (Ibrani: Imma). Mereka bukan dua pribadi. Sekali lagi, Elohim Judaism itu SATU, hanya saja dalam SATU tersebut bisa dibedakan sisi-sisinya atau aspek-aspeknya. Jika aspek ‘Bapa’ sering didengar oleh banyak orang karena tercatat di dalam Tanakh. Sementara di dalam Kitab Zohar dan tradisi Judaism-lah terdapat aspek lainnya yaitu BUNDA dan ANAK.

Yes 63:16  (LAI) Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.

Aspek Bunda dalam Judaisme itu bisa dijabarkan dengan luas, sedikit daripadanya adalah dengan melihat kata ‘Roh’ dalam perspektif Semitik Ibrani dan Aramaik. Kedua bahasa ini dipakai dalam penulisan Tanakh sejak awal. Kata ‘Roh’ itu bergender wanita. Jadi ‘Roh Elohim’ itu bermakna sebagai ‘Bunda Ilahi’. Kemudian kata ‘Shakinah’ dalam Tradisi Yahudi (tidak tercatat di Kitab Tanakh), ini juga bergender wanita yang berarti ‘Hadirat Elohim’ yang adalah Elohim juga. Jadi memang Elohim itu bisa disebut sebagai ‘Bapa’ dan di waktu lain bisa disebut sebagai ‘Bunda’. Namun, karena Yahudi menganut system Patriakal di mana sosok pemimpin adalah kaum Pria, maka dalam budaya mereka, Elohim itu lebih sering digambarkan kepada sosok Sang Bapa bukan Bunda.

Aspek Sang Putra atau ‘BINAH’ ini juga ada di dalam tradisi Judaism. Ini bukan berarti Sang Bapa Elohim menikah dan bersenggama dengan Sang Bunda seperti layaknya suami-istri lalu istri bisa hamil dan melahirkan anak. Bukan demikian. Divine Union atau persatuan kudus antara Bapa dan Bunda Elohim bisa dijelaskan lebih jauh oleh Rabbi ini, namun ini akan terlalu dalam sehingga izinkan saya memposting sebagian tulisannya saja sbb:

Abba dan Imma dalam Kabbalah

Rabbi Pinchas Giller dan semua Rabbi lainnya tidak pernah mengajarkan ada senggama di dalam Sorga Yahudi, apalagi Elohim yang melakukannya. Dalam Sorga Judaiasm dan Nasrani, sama sekali tidak ada sex, tidak ada pernikahan. Ini agak berebeda dengan Sorga Islam. Aspek Sang Putra bisa muncul akibat ada penjelasan lebih rinci lainnya. Ada penjelasan yang cukup kompleks tentang aspek SON OF YAH ini yang tidak perlu saya perjelas di sini. Silahkan bertanya saja langsung kepada para rabbi Kabbalah. Di sini saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa Keilahian dalam Judaism itu meyakini:

  1. Elohim itu SATU,
  2. Elohim itu bisa dilihat sebagai SANG BAPA-SANG BUNDA ROH-SANG PUTRA.

Konsep Elohim dalam Nasrani Awal

Pengikut Yeshua awal dikenal dengan sebutan ‘Nazarene’. Mereka semua adalah kaum Yehudim atau berdarah keturunan Israel. Bahasa sehari-hari yang mereka pakai di abad 1 adalah Aramaik. Bahasa Ibrani hanya sebagai bahasa Kitab Suci. Saat Yeshua mengajar, mulai th 26 M, Kitab Tanakh belum dikanon. Jadi belum ada yg namanya ‘Tanakh’. Saat itu baru 5 kitab Mosha (Kitab HaTorah) dan tulisan Nabi-nabi. Kaum Esseni menuliskan banyak kitab, baik dalam Ibrani maupun dalam Aramaik.

Saya perlu jelaskan latarbelakang bahasa ini sebab banyak yang berpikir bahwa Yeshua dan para rasul itu berbahasa Yunani. Tidak. Mereka memahami Ibrani, dan berbicara fasih dalam Aramaik. Dalam bahasa Aramaik ini, makna Elohim tidak bergeser dari Konsep Yahudi yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Apa yang diajarkan oleh Yeshua kepada para Rasul awal dalam Aramaik adalah pendalaman apa yang telah diberitakan oleh para nabi Yahudi sebelumnya. Rahasia yang Yeshua jabarkan membuat akumilasi informasi yang diterima oleh umat Yahudi saat itu menjadi lebih banyak.

Ada yang menerima penjabaran rahasia Ilahi yang diberitakan Yeshua, namun ada yang tidak. Kaum Esseni ada banyak yang mengikut Yeshua, demikian juga kaum Farisi (Peruhsim). Pengikut Yeshua sangat banyak sehingga mengkawatirkan para Rabbi Yahudi dan Imam-imam Saduki. Mereka seperti kehilangan pamor pengajaran. Terlepas dari perbedaan pengajaran antara mereka, di sini saya ingin terus mendalami Keilahian saja.

Maran Yeshua bukan hanya Rabbi Yahudi namun juga Dia adalah Nabi. Nabi itu adalah manusia yang menyampaikan pesan Ilahi kepada umat manusia. Pengikut Yeshua yang meyakini bahwa Dia adalah Sang Mesias, juga menerima banyak rahasia ilahi melalui kenabian-Nya. Salah satu rahasia ilahi tersebut adalah tentang aspek-aspek Elohim. Dia dengan berani menyatakan bahwa Elohim (Aramaik: Alaha) itu terbagi menjadi 3 aspek yaitu Bapa-Putra-dan Roh Kudus. Perhatikan bahwa saat itu, umat Yahudi belum mengetahui Kitab Zohar dan uraiannya seperti yang dijelaskan oleh Rabbi Pinchas Giller. Kitab Zohar baru ditulis di abad 2 Masehi. Padahal penyingkap banyak hal yang sama. Paling tidak sama-sama meyakini Alaha itu SATU dengan aspek-aspek antara lain Bapa-Bunda Roh-Sang Putra.

Pergeseran Konsep Keilahian dalam Pengikut Yeshua

Saat banyak murid Yeshua dari kalangan Yunani maka mau tidak mau pengajaran harus diterjemahkan ke dalam bahasa ini. Ajaran Lisan (tradisi) mulai juga dituliskan dalam bahasa Yunani. Apakah perpindahan budaya bahasa dari semitik ke Yunani ini berjalan mulus? Apakah semua pengajaran awal bisa sama persis di dalam budaya Yunani? Ternyata tidak.

Dalam bahasa Yunani, kata ‘Roh’ ini tidak lagi bergender wanita, melainkan berubah menjadi Pria, lalu saat ada bahasa Latin di Gereja Roma, kata ‘Roh’ berubah bersifat NETRAL. Jadi pemahaman KELUARGA ILAHI: BAPA-BUNDA-PUTRA tidak lagi utuh. Yang diterima oleh banyak jemaat Yunani dan Latin hanyalah Konsep Elohim Bapa dan Putra, Roh itu bukan Bunda. Lalu siapa yang menjadi ‘Bunda Elohim’? Bagi mereka yang tidak mengenal budaya semitik Nazarene, Bunda Elohim adalah Maria. Bahkan bagi Gereja Roma Katolik, Bunda Jemaat adalah mereka. Padahal sejak awal semua yang lihat sejarah pasti paham bahwa secara organisasi, Bunda Jemaat adalah Jemaat Yerusalem. Bunda Jemaat secara rohaniah selalu adalah Bunda Roh Kudus. Di sinilah terjadi pergeseran, gereja-gereja besar dengan pemahaman saat itu menjadi terpecah dan dengan berani menyatakan bahwa kami yang meyakini Maria sebagai Bunda Mesias adalah sesat. Ini siapa yang sesat siapa yang benar sebenarnya? Jadi terbalik akibat bahasa dan budaya.

Boro-boro Kaum Yahudi Farisi bisa menerima Maria itu adalah Bunda Gereja, mereka saja tidak bisa menerima Sang Putra itu menjadi manusia, apalagi ada istilah TRINITAS. Trinity adalah haram buat mereka. Bagi mereka cukup Bapa Elohim. Dan hanya sedikit kalangan Rabbi yang memahami Konsep Bapa-Putra-Bunda. Yang sedikit ini ada karena belajar dari kaum Kabbalah yg mendalami kitab Zohar. Seiring waktu berjalan, Kaum Farisi ini pecah. Ada banyak Yahudi yang meyakini Keilahian Yeshua sejak abad 19. Mereka ini berkembang dan menjadi sekte Yahudi resmi bernama Messianic Judaism. Mahkamah Yerusalem memutskan bahwa mereka adalah bagian dari Yahudi sejak 20 Januari 2014. Bagi kaum Yahudi Messianic tentu mereka bisa menerima Trinity, namun mereka juga awam perihal Maria sebagai Bunda Elohim atau Maria sebagai Bunda Gereja.

Konsep Keilahian dalam Islam

Islam lahir di abad 7 Masehi dengan pencerahan dari Nabi mereka yang bernama Muhammad saw. Dia meyakini dan mengajar bahwa ini adalah agama yang berusaha meluruskan ajaran Judaisme dan Nasrani yang diajarkan oleh nabi-nabi terdahulu. Mereka mengenal Elohim dengan 99 nama ditambah nama ‘Allah’ yang sering terdengar dari mulut mereka saat beribadat.

Dalam Islam, Elohim Israel adalah Allah. Elohim itu SATU dan tidak terbagi-bagi dalam aspek. Mereka tidak mengenal istilah BUNDA dan PUTRA ELOHIM, apalagi TRINITY. Bagi mereka Allah itu tidak beranak seperti manusia. Tuhan itu satu, titik. Ada banyak Rabbi Yahudi Farisi yang meyakini bahwa konsep Keilahian Islam itu sama seperti mereka dalam hal SATU. Itu karena para rabbi ini anti dengan TRINITY. Para Rabbi Yahudi sering berpikir bahwa sesembahan Kristen itu pagan dan menerima KE-TUNGGAL-AN ALLAH ISLAM. Farisi mengakui konsep Islam. Umat Islam tidak mengenal konsep Kabbalah Yahudi. Inilah aneh namun inilah faktanya.

Kesimpulan

Saya coba tampilkan kesimpulan ke dalam satu tabel perbandingan. Semoga bisa membuat lebih jelas.

kelihanian dalam JUDAISM-NASRANI-ISLAM

________________________

[1] Reading the Zohar: The Sacred Text of the Kabbalah, Rabbi Pinchas Giller, hal 131

GRATIS 1 TAHUN

By | 2018-02-08T08:42:01+00:00 July 26th, 2016|Islam, Judaism (Agama Yahudi), Kristen|0 Comments

Share This Story, Choose Your Platform!