Kitab Suci Pshitta – Kitab Suci Jemaat Kristen Timur

//Kitab Suci Pshitta – Kitab Suci Jemaat Kristen Timur

header niko 728 x 90

Kitab Suci Pshitta – Kitab Suci Jemaat Kristen Timur

Oleh Uskup Mar Nicholas

Terjemahan Pshitta mulai dilakukan tahun 1987. Ini merupakan kesetiaan melestarikan bahasa Aramaik Asli yang didasarkan pada Peshitta Timur. Berbagai macam terjemahan dalam bahasa Inggris dicocokkan sebagai usaha perbandingan dan referensi. Tujuan terjemahan ini untuk memberikan kemurnian dan terjemahan modern Kitab Suci yang bisa dimengerti dalam bahasa Inggris khususnya bagi mereka yang tak bisa membaca dan memahami teks Aslinya.

Versi Pshitta mengganti nama-nama Ibrani tradisional dan frasa kata-kata yang yang ekuivalen terhadap Aramaik. Makna dan kata Kitab Suci tetap sama, yakni “PSHITTA” – Kitab ini merupakan Edisi Kitab Suci satu-satunya di muka bumi ini yang paling akurat dari SABDA ALAHA yang TAK BERUBAH sejak zaman Para Rasul hingga sekarang. Hal yang sama juga diberikan kepada nama-nama individual dan lokasi geografis. Kebanyakan referensi kata “Yahudi ” diterjemahkan sebagai “kaum Israel” atau “kaum Yehuda” dan variasi yang sama di mana dirasa tepat. Nama sang Ilahi diterjemahkan langsung dari bahasa Aramaik dalam bentuk “Mar-Yah” (artinya, “YHWH Tuhan”) ekuivalen terhadap sebutan yang dikenal luas dalam bentuk kata “Yahweh”.

Terjemahan ini berasal dari Teks Kitab Suci “Pshitta” (baca, Peshitta) yang otentik bersejarah sebagai sumber informasi kesejarahan dan dokumen yang sangat berharga.

Nama “PSHITTA” adalah Aramaik dan artinya, “LURUS”,”JUJUR” dan “BENAR” (asli dan naskah murni dari Kitab Suci). Pshitta adalah naskah Alkitab paling tertua dalam eksistensinya, gaung suara ini sudah dua ribu tahun disuarakan, tetapi banyak pihak menepisnya karena faktor etnosentrisme dan Anti-Semitik, khususnya Gereja-gereja Barat (persfektif Greco-Roman) yang ambisius dengan primasi politis Hellenisme – Latinisme, namun di wilayah-wilayah Timur Jauh gaung bahasa Yunani tidaklah menjangkau. Tidak ada alasan apapun menolak Pshitta yang merupakan fakta obyektif sejarah Kitab Suci yang benar! Karena Pshitta adalah SABDA ALAHA yang disimpan, dilestarikan dan dijaga kemurniannya sepanjang generasi ke generasi mulai dari masa Para Rasul (Shlikhim) masih hidup hingga akhir zaman. Pshitta itu satu-satunya teks murni Kitab Suci yang terpercaya yang berisi Kitab-kitab Israel (Tanakh: Torah, Nevii,, dan Kethuvim) dan Kitab Mshikhanuth (Brith Chadasha: Beshura, Misnah, dan Igeret) yang dituliskan dalam bahasa Aramaik dan Aramaik dialek bahasa yang diucapkan oleh Maran Yeshua Mshikha dan Para Murid-Nya (talmidim) pada Abad Pertama Masehi. Dialek Aramaik ini disebut “Nasramit” (Ibrani-Aramaik) yang tetap lestari dalam Gereja-gereja Timur (the East bukan the Eastern) Ortodoks Katolik Timur, terutama Assyria, Syria dan India.

Jika pihak Gereja-gereja Greco Roman (Kekeristenan Yunani-Latin) mengklaim bahwa Yeshua dan Para Rasul menggunakan bahasa Yunani dengan berbagai klaim dalam argumentasinya, kita biarkan saja karena tergantung sudut pandang mata mereka sendiri dan tidak perlu kita perdebatkan. Bagi kita jelas tahu bahwa “Orang Yahudi” adalah anti-Yunani dan anti-Latin sejak zaman kuno bagaimana mereka bisa menerima bahasa Yunani sebagai bahasa mereka? Bagi kita klaim semacam itu hanya bagi anak-anak sekolah minggu dan dongeng yang diajarkan selama berabad-abad.

 

Selintas Pandang Kanon Kitab Suci

Dikenal dengan baik fakta bahwa Gereja Timur (the East) menerima Kitab-kitab tertentu sebagai Kitab Suci yang dikemudian ditolak oleh pihak lain. Cukup jelas memang sekitar tahun 100 M., kanon “Perjanjian Baru” secara menyeluruh diterima oleh mayoritas Gereja-gereja yang berisi: dua 27 Kitab-kitab, tetapi ada 5 Kitab lagi dipertanyakan keotentikannya dan tidak diterima secara universal yaitu:

  1. Igeret Keipha ke-2,
  2. Igeret Yaa’kov,
  3. Igeret 2 Yokhanan,
  4. Igeret 3 Yokhanan,
  5. Sefer Gilyana.

Kelima Kitab yang dipersoalkan itu dipertanyakan juga diwilayah-wilayah tertentu, sebaliknya diterima seutuhnya di wilayah lain. Beberapa kaum Nasrani Assyria di Cina menerima 27 Kitab, sementara pada komunitas lainnya di Cina, India, dan Asia Tenggara tak menerima 5 Kitab yang dipersoalkan tersebut. Kemudian, banyak dari kaum Nasrani yang awalnya menerima 5 Kitab yang dipersoalkan itu menolak Kitab-kitab tersebut akhirnya menerimanya, dan ada yang memasukkannya dalam daftar kanon sejajar dengan kanon Deuterokanonika Perjanjian Baru. Tidak semua Gereja-gereja di Timur ataupun Barat menerima kanon yang sama. Gereja-gereja di Timur dan Barat tidak ada kata sepakat hingga sekitar tahun 400 M., dan masih ada beberapa Gereja-gereja di Timur tidak setuju dengan Kitab-kitab yang diseleksi pada waktu itu.  Tidak setiap kelompok setuju punya Kitab-kitab seperti: Surat Kiriman Penggembalaan Hermes, Klemen Pertama, Didakhe (Limudah), Hikmat Salomo, Wahyu Petrus, dll., dalam kanon khusus mereka. Ada yang melihat bahwa Kitab-kitab yang tak diakui oleh Gereja-gereja lain dilihat dalam Tiga Pilar Iman tidaklah menjadi kontradiktif, sebaliknya saling dukung mendukung satu sama lain. Memang diakui ada tingkat penerimaan Isi yang harus diperhatikan pada tiap Kitab, tetapi tidak bisa dilihat hanya Kitab mencocokkan Kitab tetapi Tiga Pilar Iman yang harus sinkron satu sama lain: Pilar Kitab Suci, Pilar Tradisi, dan Pilar Wahyu. Jika suatu kitab dicocokkan dengan kitab suci lainnya pastilah satu sama lain ada yang kontradiktif dan akhirnya manusia ambil alih sebagai penafsir kitab suci menjadi hakim diantara kitab suci sehingga lahirlah istilah kanonik dan non-kanonik. Sebenarnya ini hanya usaha manusia dalam menafsirkan kitab suci dengan menyatakan satu kitab suci layak dan tak layak, sekalipun itu dilakukan melalui usaha kritis teks tingkat tinggi (high texts criticis) dengan berbagai media linguistic bukanlah jawaban yang tepat.

Melalui Tiga Pilar Iman kita akan bisa melihat bahwa suatu kitab itu bermanfaat atau tidak dalam mengajar, menyatakan kesalahan, mengajarkan kebenaran dan memeprbaiki perilaku hidup pembacanya itulah yang inti dengan adanya Kitab Suci (2 Timotius 3:16). Bisa saja didalam teks ada kesalahan manusia dalam menyalin atau salah geofrafis dan sebagainya tetapi inti pesan itu yang penting. Dengan demikian tidak ada pertikaian teologis dan tafsir kitab suci yang menimbulkan perpecahan gereja Kristen menjadi ribuan sekte hingga abad modern ini. Jiwa Yudaisme Alkitabiah tidak melihat Alkitab sebagai satu-satunya pegangan dalam Iman (Emunah) tetapi Tiga Pilar Iman. Kebanyakan Gereja-gereja hanya punya bagian-bagian apa yang dikenal luas di Barat sebagai ”Perjanjian Baru.” Namun, Gereja-gereja lainnya punya koleksi Kitab-kitab yang berbeda. Ini bukan saja sangat sulit mensirkulasikan Kitab-kitab yang tepat sama pada komunitas-komunitas yang membentang dari Yudea ke Asia Kecil hingga ke wilayah Asia Timur Jauh, tetapi juga sejumlah teks berbeda didistribusikan. Banyak orang hingga sekarang berasumsi bahwa hanya ada 27 Kitab-kitab yang beredar dan semua itu merupakan kanon lengkap yang salinannya semua berjumlah 27 manuskrip. Fakta yang sebenarnya ada lusinan selama masa Abad Pertama dan Kedua yang diklaim memiliki otoritas Rasuliah. Terkadang teks-teks ini digunakan sebagai Kitab Suci dalam Gereja-gereja.  Banyak dari 27 Kitab-kitab itu bahkan tidak dikenal oleh banyak Gereja-gereja, khususnya mereka yang berada di Asia Tenggara dan Timur Jauh.

Beberapa Kitab-kitab tertentu diterima pada waktu yang berbeda di wilayah yang berbeda pula. Itulah sebabnya aturan-aturan Kanon berbeda-beda di tiap wilayah. Batasan-batasan kanon mencair pada abad ke-2 dan ke-4 M. Gereja mengakui sebagai Kitab Suci pada abad ke-4 dengan merangkum Tulisan-tulisan yang menuntun hidupnya, paling sedikitnya diakui bersama di beberapa wilayah di masa abad-abad sebelumnya. Kitab-kitab Ibrani tampaknya diterima tanpa mempertanyakannya sebagai Kitab Suci lebih awal dalam Gereja Timur dari pada di Barat; dan sebaliknya Kitab Wahyu lebih dahulu di terima di Barat sebagai bagian Kitab Suci dari pada di Timur, meskipun faktanya Barat dan Timur sudah memiliki Salinan – salinan Kitab-kitab Ibrani dan Wahyu dari tahun 100 M. Akan tetapi, di wilayah Asia Timur Jauh tidak tahu Kitab Wahyu ataupun tidak tahu banyak tentang tulisan-tulisan Surat Kiriman Rasul Paulus hingga setelah tahun 600 M! Beberapa Surat Kiriman itu mereka masukkan kedalam “Kanon Deuterokanonika” (Apokrifa), yakni kelompok manuskrip Kitab-kitab kuno (Pra-Rasul-rasul) dan yang terakhir (masa Rasul-rasul). Beberapa kitab-kitab “Kanon Deuterokanonika” sesungguhnya ada yang lebih tua dari pada Kitab-kitab hasil tulisan-tulisan Rasuli (seperti Kitab Henok), tetapi Kitab ini dianggap kanonik kemudian atau tidak diakui resmi oleh Gereja hingga kemudian, Kitab itu dimasukkan kedalam “Kanon Terakhir” (Deuterokanonika), tetapi bukan berarti kualitasnya lebih rendah dari kitab lainnya, semua kitab-kitab normatif! Tapi apakah cocok dengan Tradisi dan Wahyu? Itu yang harus menjadi prinsip.

Salah satu alasan mengapa Tulisan Rasul Paulus dikelompokkan masuk dalam daftar “Kanon Terakhir” (“Deuterokanonika – Apokrifa”) dikarenakan fakta aslinya diterima oleh Jemaat-jemaat di Asia Timur Jauh dalam naskah bahasa Yunani dan kemudian diterjemahkan ulang kedalam bahasa dialek Aramaik dengan menggunakan teks Aramaik Timur dari Pshitta.

Kanon Jemaat Nasrani Katolik Ortodoks dikategorikan dalam 9 bagian: Torah, Nabi-nabi, Tulisan-tulisan Suci, Injil, Sejarah, Surat Kiriman, Kidungan, Mishna, dan Deuterokanonika.

Peshitta (Tanakh & Brith Chadasha):

  1. Torah: 1. Sipra d’Berita, 2. Sipra d’Mapkana, 3. Sipra d’Kakhane.4. Sipra d’Minyane. 5. Sipre d’Tinyan Aurayta.
  2. Neviim: Ketava d’Ishu bar Nun, Sipra Dayane, Ketava Kadmaya d’Shemuel / Ketava Trayana d’Shemuel, Sipra Kadmaya d’Malke / Sipra Trayana d’Malke, Ketava d’Eshaya Nebya, Ketava d’Eramya Nebya, Igeret d’Eramya Nebya*, Ketava d’Khazquiel, Ketava d’Khosha Nebya, Ketava d’Yoel Nebya, Ketava d’Amos Nebya, Ketava d’Obadya Nebya, Ketava d’Yonan Nebya, Ketava d’Mikha Nebya, Ketava d’Nakhom Nebya, Ketava d’Khabok Nebya, Ketava d’Zefanya Nebya, Ketava d’Khagai Nebya, Ketava d’Zekarya Nebya, Ketava d’Malakhi Nebya,Ketava d’Yob, Ketava d’Eramya Nebya, Ketava d’Olyata, Ketava d’Amos Nebya, Ketava d’Nekhemya, Ketava d’Daniel Nebya.
  3. Kethuvim: Ketava d’Mazmore, Ketava d’Matle, Choqma*, Ketava d’Kukhlat, Tishbekhat Tishbekhata, Igeret d’ Barukh*, Baruch*, Daniel (“Doa Azariah” dan”Kidung Tiga Anak Muda”), Bel*, Naga*, Ketava d’Rot, Susanna*, Ketava d’Ister, Yudith*, Ben Sirakh*, Penyingkapan Barukh*, 4 Ezra*, Ezra – Ketava d’Ezra,1-4 Makkabe*,Yosephus, Perang kaum Yahudi,* Sefer Pirkei Avot.
  4. Beshorah: Mar Mattai (Matius), Mar Markus (Markus), Mar Lukas, Mar Yokhanan (Yohanes), Mar Thoma (Thomas), Injil Nasrani – Injil Dua Belas (Aramaik), dan berbagai Injil lainnya.
  5. Sejarah: Ma’asei Shliakh Mar Thoma, Maasei ha-Shlichim (Termasuk ‘Limudah’ juga disebut “Didakhe”), Sejarah Kehilla (Kisah Kerasulan Jemaat setelah Rasul Dua Belas).
  6. Igeret / Surat Kiriman: al’Ivrim, Ya’akov, 1 Keipha, 1 Yokhanan, Sefer B’nai Ohr, Derekh d’Kehilla, Derekh Torah, Sefer Didaskalia, Klementinus, Gembala Hermas, Surat-surat Ignatius, dll.
  7. Kidungan: Shirim ha’Shabbat (Kidungan Sabat), Tehilat Oda Alaha (Kidungan Ucapan Syukur kepada Alaha) termasuk Odes dari Shlimon, Sefer ha’Shnatluakh (Kitab Hari Kudus, Musim-musim Perayaan dan Kalender Suci).
  8. Mishna: Sefer Mar Addai, Sefer Av-kadmonim (tulisan-tulisan Para Uskup Agung dan Mistikus Ortodoks Katolik), Khamis bar Kardahe, Etika dari Para Bapa, Sefer Mar Odisho, Sefer Dvor, Yeshua Sutra.
  9. Deuterokanonika: Sefer Yashar, Sefer Enokh, Jubilees, Sefer B’nai Ya’aqub, Tobit, Yehudit, Maccabees, Sefer bar Sirakh (Ben Sirach), Barukh, Doa Manasseh, Damkhalti (juga disebut “Diatessaron”), Igeret Kiriman Romanim, 1-3 Korintim, Galatim, Efesim, Filipim, Kolosim, 1 – 2 Tesalonikim, 1-2 Timoteos, Titus, Philemon, 2 Kepiha, 2 dan 3 Yokhanan, Yudah, Gilyana, Sefer Rabban bar Sauma, Sefer Hazon d’Sadhu, Dua Belas Bapa, Sefer Bnai Ohr dan Kitab Persaudaraan Biara Mshikha Raja, Sefer Choqma Melkisedek, Imam Melkisedek, dan Penyingkapan Saudara Serafim.

Kitab Torah, Neviim dan Ketuvim semuanya asli ditulis dalam bahasa Ibrani dan beberapa pasal dari bahasa Aramaik, juga Injil Mar Mattai, Surat Kiriman Ya’aqub dan Kitab Ibrani. Kitab-kitab yang dikenal sebagai Sefer B’nai Ohr, Derekh d’Kehilla, Derekh Torah adalah berasal dari dialek Aramaik yang dekat sekali ke bahasa Ibrani. Kitab-kitab kategori “Kidungan” dilihat bersifat Hebraik (Ibrani) dengan keterkecualian Kitab yang dikenal sebagai Sefer ha’Shnatluakh. Injil Mar Thoma berasal dari dialek Aramaik yang sedikit dipengaruhi bahasa Koptik. Sefer Mar Addai berasal dari sumber Syria. Sefer Avkadmonim terdiri dari beberapa kitab, koleksi kutipan-kutipan dan tulisan-tulisan ringkas dari semua para Rosh Mebaqqer mulai dari tulisan Mar Ya’aqub hingga kepada Patriak berikutnya. Koleksi Kitab-kitab ini juga terdiri dari tulisan-tulisan Para Rabbanim sepanjang generasi Jemaat termasuk tulisan-tulisan dari Rabbanim Jemaat pada abad ke-2 atau ketiga dari Tibet. Etika Para Bapa berasal dari sumber Ibrani – Aramaik, bagian dari adaptasi traktat Pirkei Avot tradisional.

Derekh Torah terdiri dari kategori daftar 613 Mitzvoth karya Rabbi Yahudi. Derekh d’Kehilla, menunjuk sebagai “Kitab Perihal Aturan Cara Hidup Jemaat”, terdiri dari variasi tulisan-tulisan dari abad Pertama dan Kedua, termasuk versi tulisan Limudah, versi tulisan singkat Sefer B’nai Or, dan aneka ragam Surat-surat yang ditujukan bagi Jemaat-jemaat. dari berbagai variasi Injil (Beshura) dengan beberapa teks berdasarkan pada Derekh d’Kehilla. Yeshua Sutra dikaitkan kepada Para Uskup Alopen di Cina.

Kitab Sefer Yashar, Sefer Enokh, dan Yubilee milik sumber ibrani – Qumran yang dipengaruhi diwaktu kemudian oleh sumber Yunani dan Koptik. Seberapa luas pengaruh ini belum bisa diketahui. Banyak Kitab-kitab lainnya yang bersumber bahasa Aramaik, Syria dan Yunani. Sumber Yunani dikaitkan dengan Kitab-kitab: Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Thessalonika, 1 dan 2 Timotius, Titus, Philemon, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.

Kitab Sefer Rabban bar Sauma dan Sefer Hazon d’Sadhu adalah tulisan-tulisan masa kini yang ditambahkan kedalam Kanon Katolik Ortodoks melalui sudut Pandang Tiga Pilar dan diterima dalam bahasa Aramaik dan Urdu.

BANNER FREE MEMBER

By | 2018-02-08T08:42:02+00:00 July 20th, 2016|Kristen|0 Comments