Terjemahan Kitab Marganitha (Mutiara)

//Terjemahan Kitab Marganitha (Mutiara)
Terjemahan Kitab Marganitha (Mutiara) 2018-02-08T08:41:54+00:00

KITAB MARGANITHA
Ditulis oleh:
+Mar Odisho, Metropolitan dari N’siwin dan Armenia,
Tahun 1298 Masehi.
Diterjemahkan oleh:
Uskup Mar Nicholas Lumbantoruan
Editor:
Shamasha Aldo Tulung Allo

Dalam kekuatan tangan Maran Yeshua Mshikha kami mulai menuliskan Kitab ini dinamai Marghianeetha, (harafiah “Mutiara,”) tentang kebenaran dari Agama Mshikhanuth (Nasrani).

Bagian I
PERIHAL ALAHA
PASAL I
Teori Mengenai Alaha
Alaha ada, dan dunia diciptakan, dibuat, dan bersifat sementara

Rasul Shaul (Paulus) rasul sorgawi, harta karun dari Ruakh Ha’Kodesh, filsuf spiritual; melalui sang Roh, telah meletakkan sendi dasar inspirasi menakjubkan bagi teologi, melalui perkataannya bahwa manusia “harus mencari Alaha dan merasakan Dia, serta menemukan Dia[1] di luar dari CiptaanNya.” Seniman dikenali melalui karya seni yang dihasilkannya dan si pembuat melalui benda buatannya.

Dunia itu dibuat, diciptakan dan dunia itu punya awal waktu yang jelas sebagai fakta, dunia itu dicampur-baurkan, dibingkai dan ditata apik secara keseluruhan dalam semua bagian-bagiannya. Segala sesuatu dicampur-baurkan, dibingkai dan ditata pastilah ada pencampur-baurkan hal ini semua, pembingkai dan penata. Dunia dicampur-aduk, dibuktikan dari keberadaannya yang tersusun dari banyak bagian dan dari semua tubuhnya terdiri dari bendawi, spesies, segala yang bergerak kelihatan dan tak kelihatan didalamnya. Namun, kesaksian yang paling pasti bahwa keberadaan bingkainya adalah manusia, dia adalah dunia kecil dalam dirinya sendiri dan dalam formasinya semua yang tercipta ada di dalamnya, sebagaimana salah satu karya sastra sage mengatakan: “Manusia itu ringkasan dari seluruh dunia dan keseluruhan bingkai alam ciptaan.” Dunia ditata dengan teratur mengagumkan terdiri dari lapisan angkasa raya, planet, unsur-unsur dengan semua daya kuasa produktif mereka, tumbuhan berkembang biak, pohon, barang-barang tambang mineral di perut bumi, kawanan binatang liar ganas dan umat manusia; ini merupakan tatanan keteraturan menakjubkan lintas batas kearifan berpikir dan pengetahuan semua mahluk ciptaan. Para filsuf kuno menyimpulkan setiap gerak haruslah memiliki penyebab bergeraknya hingga sampai menuju kepadaNya sang Dia Tak Bergerak. Dia itu adalah Penyebab segala sesuatu, dan sang Dia itu mereka tafsirkan pastilah Dia baik adanya, bijaksana dan maha kuasa. Dia disebut “Alaha”, sebab Dia telah menciptakan dunia tanpa sebab (contoh, oleh karena gerakNya sendiri); bijaksana, disebabkan keteraturan yang mengagumkan dan bingkai yang terhampar dalam alam semesta; kemahakuasaan, dikarenakan kemampuanNya menangani segala sesuatu yang secara alamiah sebenarnya saling menghancurkan satu sama lain dan membawa mereka semua bersama dalam satu keharmonisan. Lebih lanjut, dunia ini disusun terdiri dari kualitas dan kuantitas, mempertahankan nyawa dan tubuhnya, persebaran dan dimensi berbeda yang kesemuanya itu pikiran manusia bisa menyelidikinya, mengapa mereka tak sedikit jumlahnya atau lebih, lebih tinggi atau lebih pendek dari pada lainnya. Rancang bangun yang begitu harmonis, dimensi-dimensi dan kemiripan, terhadap satu sama lain, kelanjutan dan eksistensi mereka sebagaimana mereka adanya. Hal itu semua diketemukan jawabannya berasal dari intelegensi dan kehendak sang Pencipta yang telah menciptakan dan mengatur mereka sesuai kehendakNya sebagaimana Dia mengetahui akan hal yang terbaik dan yang paling cocok untuk semua. Seniman harus ada terlebih dahulu sebelum lahirnya karya cipta. Kemudian, sang Pencipta menopang semua yang tercipta itu serta yang tercipta itu mengikuti alur tatanan yang telah digariskanNya dan semua yang tercipta memiliki awal waktu dan tidak abadi. Dunia alam ciptaan itu juga mengikuti arus kehendak sang Pembuat semua hal ini, Dia itu baik adanya, bijaksana, kekal, kuat dan memiliki kehendak.

PASAL II
Alaha itu Esa dan Tidak Banyak

Pencipta dunia adalah Esa dan tidak banyak, demikianlah faktanya. Tak mungkin yang “banyak” bisa memiliki; keesaan, sempurna, tak dapat berubah, memiliki kehendak bebas, tak terikat dengan lainnya sebab mereka haruslah salah satunya sama sejajar dalam hakikat dan dalam segala hal memiliki ini dan itu yang identik sama menghancurkan pluralitas non-keberadaan yang berbeda, atau sesuatu perbedaan, sama halnya itu adalah tidak konsisten mengadakan keberadaan dari dua kegelapan, sama persis dalam setiap respeks, tidak dapat dibedakan, memiliki tetapi kepemilikan tunggal dan substansi yang sama atau mereka harus jelas dibedakan dari satu dengan lain dalam hakikat dan dalam segalanya, memiliki fungsi yang sama dalam hal ini dan itu; karena mereka bisa bertentangan dan saling menghancurkan satu sama lain.

Namun, hakikat yang sama tak bisa eksis diantara dua pencipta yang saling bertentangan, tak juga karya sempurna dihasilkan dari mereka. Oleh sebab itu, mereka haruslah persis sama dalam hakikat dan jelas dalam hal ini dan itu, tiap keberadaan memiliki kualitas tertentu sehingga melalui hal ini bisa dibedakan dari sekutunya; saat mereka semua akan dileburkan dari semua hal-hal yang melekat pada dirinya masing-masing dalam keserupaan dan sekaligus bisa dibedakan. Namun setiap peleburan dilakukan harus ada pembuatnya dan si pembuat itu membuahkan kebenaran seperti deklarasi berikut ini: “Maran Alaha kita adalah Alaha yang Esa[2] dan meskipun banyak ilah-ilah dan tuhan-tuhan, bagi kita hanya ada Satu Alaha saja.”[3]

PASAL III
Alaha itu Kekal

Segala sesuatu yang eksis harus ada yang kekal dan fana; segala sesuatu yang fana memiliki penyebab dan pembuatnya dan berada dalam ruang dan waktu, sang Pembuat itu haruslah keberadaanNya pra-ada sebelum yang fana ada. Akan tetapi sang Penyebab segala sesuatu itu harus ada tanpa sebab; sang Pencipta dari segala sesuatu tak memiliki PenciptaNya. Setiap kebenaran dan pikiran yang tak berpihak akan terjamin karena alamiah untuk menilai.

Kemudian, seiring dengan itu Ada-Sendiri (Self-existent) adalah sifat sang Pencipta, Abadi, mendahului waktu, oleh karena Dia Sendiri itu adalah sang Pencipta waktu dan ruang. Waktu terhisab dari gerak-gerik raga dan sebagaimana kita telah buktikan bahwa Dia adalah sang Penyebab dari semua, oleh karena itu “Dia bersifat kekal, tanpa awal dan akhir.” Sekarang, kita tahu bahwa Dia tak ada awal, tak bisa ada akhir dan harus punya dua hal ekstrim berlawanan ini apapun itu namanya Dia wajib adalah yang maha tinggi dan maha mulia, sebagai kebenaran, terang, hidup dan harus yang maha unggul, maha bijak dan maha kuasa.

PASAL IV
Alaha Tak Dapat Dipahami

Segala sesuatu yang bisa dipahami baik itu melalui pemahaman rasa atau pikiran; yang dipahami olah rasa (panca indra) pastilah berwujud raga atau kebetulan (accident). Tetapi Alaha yang menakjubkan itu bukanlah “raga”; sebab setiap tubuh atau raga itu tercipta dan setiap tubuh menempati ruang, setiap tubuh atau raga memiliki keterbatasan, semua berlawanan terhadap Dia sang Maha Ada Sendiri (the Self-existent). Tidak juga Dia adalah kebetulan; sebab suatu kebetulan tak bisa ada oleh dirinya sendiri, namun, membutuhkan hakikat yang sudah ada eksis terlebih dahulu. Semua hal itu bisa dipahami oleh pikiran, pikiran itu juga menjangkau keujung akhir yang luas dan panjangnya (bagian-bagian batasan yang membedakan dari apa yang bukan) supaya hal itu bisa masuk kedalam realitas pemahaman; tetapi, dengan demikian sesuatu itu suatu hal yang terbatas, batas dan dimensi adalah asing terhadap kodrat sang Maha Ada Yang Hadir Sendiri atau pikiran tidak menjangkau kepada ujung akhirnya, tak juga hal itu bisa membatasi batasan-batasannya, sebab hal ini tak bisa dipahami, karena hal itu mustahil bagi pikiran. Oleh karena Kodrat Ilahi tak dapat dimengerti sama sekali, yakni keberadaanNya bagi akal maka mustahil bisa mengerti terhadap segala pengetahuan sang Maha Ada Yang Hadir itu, terkecuali Dia mewahyukan pengetahuanNya. Ungkapan yang disebutkan filsuf besar, dengan selalu mendaraskan doa: “Oh, wahai Engkau yang menyebabkan gerak jiwaku, beritahulah aku hakikat yang menggerakkan aku meskipun itu hanya sekerdip mata, apakah itu dan seperti apa. Tetapi, tidak sekilas pun hakikat itu disingkapkan kepadaku agar aku boleh tahu dan paham apa Engkau itu dan bagaimanakah Engkau; tetapi Engkau ada eksis.” Sekarang, saat kita katakan (tentang Alaha) bahwa Dia adalah tak dapat dilihat, tak bercampur aduk, tak bisa ditembus dan abadi, kita tak menggambarkan apa Dia, tetapi apa Dia bukan.

PASAL V
Alahota
(Keilahian)

Segala sesuatu yang eksis pastilah berjasad ragawi yang memiliki eksistensi sebagai subyek dari kebetulan (aksiden) dan perubahan, dan bereaksi atas apa saja yang bersinggungan dengannya; atau bukan suatu jasad ragawi, dan konsekuensinya bukan subyek dari permacaman ini. Sekarang, kita telah membuktikan bahwa Alaha (Dia Yang Maha Mulia Tak Mungkin Terpahami) bukan raga atau tubuh dan oleh sebab itu bukan subyek sesuatu yang menunjuk kepada bendawi, namun Dia Derajat Maha Tak Terbatas. Apa saja yang menyangkut bukan bendawi dan tak tunduk kepada sesuatu yang berkaitan dengan bendawi, tradisi kuno menyebutnya PIKIRAN (Mind). Apa saja perkara eksklusif, tentang apa saja yang menopang ini dan itu harus di ketahui dan harus mengetahui Dirinya Sendiri, sebab Dia sendiri selalu hadir dan mengenal Diri dan Dia tak bergantung pada sesuatu tetapi pada Dirinya sendiri. Apa saja yang mengenal hakikatnya pastilah hidup. Oleh karena itu, Alaha itu adalah HIKMAT (Wise) dan HIDUP (Living). Sekarang, Dia yang adalah “Hikmat” melihat karena kearifanNya (wisdom); Dia yang adalah “Hidup” sedang menghidupi DiriNya Sendiri dan yang lain (ciptaanNya) karena Dia memiliki Kehidupan (life). Ini adalah rahasia kegaiban sang Alahota, yang mana Jemaat akui tentang Sifat Menakjubkan, Pikiran, Hikmat dan Hidup. Tiga sifat yang Esa dan Satu yang sama itu dimuliakan dalam Tiga Sifat (properties). “Pikiran” itu disapa oleh Jemaat sebagai “Ha’Av” (Bapa) dan Dia yang memper-Anak-kan, sebab Dia adalah sang Penyebab dari semua dan yang Pertama. Sang Ha’Ben (Anak) disapa sebagai “Hikmat”, karena Dia adalah diperanakkan oleh sang PIKIRAN dan melaluiNya segala sesuatu telah diciptakan dan dibuat. “Kehidupan” disapa sebagai Ruakh Ha’Kodesh (Roh Kudus) yang “mengalir keluar” (Proceeding), karena tak ada Ruakh Ha’Kodesh lainnya tetapi Dia saja. Dia adalah “Kudus” tak bisa berubah, menurut tafsir yang dipahami para Ahli Kitab Suci (Soferim); inilah yang disebut oleh Yokhanan sang penyingkap Keilahian, anak Zebedeus: “Pada awal mulanya adalah sang Miltha (Sabda atau Firman);[4]” dan, “Hidup adalah terang manusia[5]”. Sekarang dalam perkara jiwa yang dimiliki tiga lipat energi; Pikiran, Sabda dan Hidup, adalah Satu dan bukan Tiga; sebab itulah kita harus memahami tentang TIGA DALAM SATU, SATU DALAM TIGA. Mata hari juga, yang merupakan satu dalam cakra, nur cahaya dan panas adalah kias yang diumpamakan oleh Shaul (Paulus) si pemikir Keilahian kedua sang bejana terpilih[6]: “Dia adalah terang cahaya dari kemuliaanNya dan ungkapan gambar keberadaanNya;[7]” dan, lagi pula: “Mshikha, kuasa Alaha dan hikmat Alaha[8] “. Lebih lanjut, segala sesuatu eksis baik itu kebetulan atau suatu substansi. Tetapi Maha Ada Sendiri tak bisa kemungkinan ada kebetulan. Oleh karena itu, tiga sifat ini adalah sama hakikat (consubstantial) dan hal ini disebut “Qnume” (istilah sempit kita sebut; “hypostasis” atau “substansi”) dan bukan kuasa-kuasa aksidental (kebetulan), atau pun Mereka tak melakukan perubahan dalam KEILAHIAN yang sama tak juga kejamakan; sebab Dia adalah sang Pikiran, Dia Yang Sama itu adalah sang Hikmat, Dia Yang Sama itu adalah sang Hidup, Dia yang memperanakkan tanpa bisa dihentikan dan memperanakkan (mengadakan proses) tanpa ada sesuatu pindah dari DiriNya Sendiri.

Berbagai hal ini (perubahan – perpindahan) adalah perpindahan tak terbatas dari Dia karena tak ada kerupaan yang riil diantara mahluk-mahluk tercipta dan keberadan sang Kodrat kekal dan suatu kias sekalipun tak ada yang menyerupai yang bisa diperbandingkan melalui hal yang tercipta (created); kias dan hal yang dipakai sebagai perbandingan itu sendiri adalah benda tercipta dan kita (yang telah melembagakan beberapa perbandingan) selalu suka mencoba memperbandingkan dengan hal-hal tercipta yang ada. Rahasia keghaiban sang Alahota diekspresikan dalam kata-kata Perjanjian Lama: “Marilah kita membuat manusia dalam gambar Kita sendiri, serupa dengan Kita;” kejadian Surat tengah hari[9] tiga kali dalam kalimat ini mengindikasikan tentang sang Alahota. Sang “Kudus” tiga kali berulang dalam kidung malaikat Seraphim, sebagaimana disebutkan oleh Isha’ya, digabungkan dengan Satu “Tuhan”, membuktikan Tiga Qnume dalam Satu Keilahian (Alahota). Ucapan Daud, juga, mengungkapkan hal yang sama: “Melalui sang Sabda dari sang Tuhan cakrawala tercipta dan semua penghuninya ada oleh nafas tiupan mulutNya;” dan banyak lagi referensi seperti ini disebutkan. Kemudian, biarlah orang-orang kafir dan Orang-orang Yahudi mencemooh kebenaran Jemaat Semesta atas imannya dalam sang Alahota menjadi malu dan kacau balau. Inilah akhir bagian pertama.

Bagian II
PENCIPTAAN
Pasal I
Penciptaan Alam Semesta

Dia kepada Dia sebelum ada waktu Dia telah berkarya dan langsung mulai bekerja, harus telah berkarya; baik itu melalui keharusan, atau melalui kebutuhan, atau dikarenakan sesuatu motif kebaikan. Tetapi Alaha mencipta dunia tidak dengan keharusan melainkan karena tidak ada Alaha lain kecuali Dia saja, tak juga karena ada Hakikat lain yang memaksa Dia untuk berkarya. Tak juga disebabkan karena rasa butuh, karena HakikatNya adalah sempurna dan tak ada yang menginginkan, Dia adalah sang Pemberi Yang Maha Sempurna, Dia Sendiri tak ada yang tak sempurna pada DiriNya, baik itu HakikatNya atau yang berkaitan hal ini dan itu. Maka tegasnya, Dia menciptakan dunia oleh karena kasih dan kebaikanNya semata, keberadaanNya secara kodrat sebagai sumber asal usul semua yang baik dan segala sesuatu yang berlimpah ruah.

Pertama Dia menciptakan para malaikat, lapisan berbagai tingkat langit dan empat elemen, terang dan planet-planet. Setelah itu pohon-pohon dan aneka macam tumbuhan; kemudian aneka macam kelas binatang yang berbeda, dengan aneka jenisnya. Dia memperindah alam semesta raya dengan setiap hal yang baik dan membuatnya seperti ruangan pengantin dan Firdaus yang menakjubkan, pada hari keenam, setelah langit dan bumi beserta semua penghuninya[10] sudah rampung, Dia menciptakan Adam yang pertama, bapa leluhur ras manusia, “dalam Gambar Alaha diciptakan[11] dia”, menurut kesaksian Musa Terberkati yang pertama diantara Para Nabi dan yang pertama diantara Para Ahli Kitab. Dan manusia disapa sebagai gambar (dari Alaha) dengan tiga alasan: Pertama, berkenaan tentang “jiwa” yang diperlengkapi dengan “akal budi” dan dia adalah Gambar Ilahi dalam respek dua kali lipat, pertama, dalam hal “spiritualitasnya” dan “kemampuan memahami yang sangat rumit dan tingkat abstraksi rumit tinggi dan kemampuan menggabungkan hal yang terpisah-pisah menjadi satu rangkaian yang utuh berkaitan satu dengan lain” (bandingkan dengan metode sains!); dan lagi pula, karena (jiwa) dalam pikirannya, wacana (verba) dan hidup, melambangkan Alahota. Kedua, tentang “daya kuasa”[12] atas segala sesuatu yang tercipta dan “kekuasaan” dan “kehendak bebas”. Ketiga, karena Alaha memaksudkan menjadikan “bait suci” atau “kemah suci” bagi kesatuanNya[13] (ke situ dan ke sana) dan Alaha disembah oleh semua bersama dengan dia sepanjang masa sampai selama-lamanya.

PASAL II
Dosa Manusia Perdana

Setelah Alaha usai menciptakan Adam, gambar yang berakal budi itu, bait atau kemah yang menakjubkan dan terikat dengan hukum alam semesta, ringkasan dunia kecil yang ada di dunia besar, Dia telah mengambil darinya tulang rusuk dan membuat dari tulang itu seorang wanita dan menempatkan mereka di Taman Eden yang penuh kenikmatan yang telah diperuntukkan bagi mereka dan menyuruh mereka boleh makan semua buah pohon di Taman itu, tetapi buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat mereka tak boleh makan. Dan Dia selanjutnya bertitah, bahwa pada saat mereka makan mereka akan mati mengalami maut[14].

Sekarang, dengan ini Alaha menyatakan kebebasan kehendak manusia (ujian kehendak bebas sebagai gambar Ilahi!); tetapi sekaligus tidak ada kebebasan mereka bertindak sebebas-bebasnya; karena Dia akan mempersalahkan mereka atas pelanggaran terhadap perintahNya; kenyataannya mereka bertindak berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri dengan melanggar kebebasan itu sendiri dan mereka pun dikutuk olehNya atas kecenderungan yang jahat dan dalam roh kesombongan mereka sendiri. Mereka menginjak-injak dan meremehkan titah sang Ilahi supaya mereka bisa menjadi ilah-ilah[15] dan dibebaskan dari kungkungan ketertundukan yang mutlak kepada sang Pencipta mereka oleh hasutan licik si Setan yang memperdayai mereka. Dikarenakan hal ini, mereka menjadi orang-orang yang berhutang kepada maut, dan jatuh di bawah kekuasaan si Setan, kemuliaan yang mereka miliki dilucuti[16], dipermalukan, diusir dari kumpulan persekutuan meriah para malaikat dan dicampakkan ke tanah yang terkutuk[17].

Juga anak-anak keturunan mereka sendiri, melakukan hal yang sama, terikat lebih ketat lagi kepada perbudakan kuk si Iblis dan kematian, terikat di leher mereka dan ini menyebabkan lupa terhadap sang Pencipta mereka, mereka berjalan menuruti hawa nafsu hati mereka sendiri, angan-angan pikiran mereka sendiri, terus berkubang dalam lumpur asusila dan semakin kuat memberontak, — “tak ada kesabaran, larut dalam berbagai rupa hawa nafsu najis dan penuh ketamakan.” Terhadap semua perihal ini keadilan bangkit dan mengajak Nuh serta keluarganya masuk ke dalam bahtera yang mana telah lama mengalami pergumulan disebabkan pengharapan dari hasil pertobatan mereka. Dan singkat cerita setiap yang hidup fana dilenyapkan oleh Banjir Bah[18], bumi pun dibersihkan dari kejahatan mereka. Kemudian, setelah dua ribu tahun, kurang atau lebih, dispensasi kebiadaban telah berakhirlah sudah.

PASAL III
Perintah Ilahi dan Peraturan dan Nabi-nabi

Ketika Nuh keluar meninggalkan Bahtera, Alaha memberikan dia peraturan-peraturan (Mitzvath) yang disesuaikan dengan kodrat manusia yang masih bayi; tetapi, bertahap, setelah ras manusia semakin bertambah, mereka lupa akan hal ini dan beberapa diantara mereka menganggap itu baik dan benar dengan menyembah gambaran-gambaran dari ilustrasi pemikiran manusia, yakni, terhadap mereka yang dikasihi. Mereka menjustifikasi penyembahan, sementara itu yang lainnya bergabung membentuk persekongkolan untuk membinasakan dan membentuk dewan penasihat yang sia-sia yang mana mereka akan membangun menara dan sarana yang dipakai untuk melawan Alaha; supaya kasus banjir bandang lainnya tidak membinasakan mereka karena kegeraman amarah Alaha, menara itu barangkali bisa dipakai tempat pengungsian; atau dalam kasus lain jika titah kehendakNya dilanggar oleh mereka maka dengan adanya menara tersebut mereka bisa naik dan memerangi sorga. Dengan alasan ini maka Alaha mengacaukan lidah-lidah mereka (bahasa-bahasa) dan menyerakkan[19] mereka ke empat penjuru mata angin, tetapi lebih lanjut penyembahan gambaran-gambaran sesat semakin menjadi-jadi serta mengorbankan anak-anak manusia kepada roh-roh jahat dan pada akhirnya mereka semakin ketakutan sehingga mereka harus melayani mahluk ciptaan ketimbang sang Pencipta.

Kemudian Alaha memilih Abraham bapa kita, dari benihnya Dia berencana mengambil bagi DiriNya Sendiri bait Alaha yang kekal, memberikan dia perjanjian sunat dan masuk bersemayam tinggal bersama dia dan dalam dia mulailah[20], perihal rasa takut akan Alaha disebut “Ibrani.”3 Setelah itu, melalui keturunan-keturunan yang berkembang cepat ini, Alaha memunculkan dari keluarganya orang-orang yang saleh dan benar yang bekerja dengan susah payah mempertobatkan orang-orang kembali kepada Tuhan. Kemudian Musa, penghulu para Nabi-nabi, telah dipilih dan kepadanya diberikan Torah Tertulis[21] dan Peraturan-peraturan, seperti contohnya tidak adanya informasi tentang tiga dispensasi para pendahulu yang jelas (tentang masa penciptaan dan Adam-Hawa, anak-anak Adam dan Nuh). Dan dalam Musa mulai dispensasi Orang Yahudi, seperti layaknya seorang anak yang belum mendapatkan pengetahuan sempurna, dia mentafakurkan Torah Lama bagi menghasilkan buah yang baik, mereka harus melakukan yang baik dan yang se-irama dengan kebaikan dan para pelanggar kebaikan akan diserahkan kepada yang jahat dan musuh[22]. Hal itu lebih lanjut menampilkan sosok Alaha dihadapan umat manusia, dengan anggota-anggota jemaah, berdiam di Yerusalem, bermukim di Gunung Sion dan diantara umat Israel[23].

Dalam kisah ini tak disebutkan tentang Neraka, atau perihal Kerajaan Sorga; tetapi pewahyuan yang diturunkan lebih ditekankan pada “ancaman-ancaman” bagi para pelanggar Torah atau Peraturan-peraturan dengan hukuman-hukuman badaniah, contohnya; ditawan oleh musuh-musuh[24], mereka diserakkan diantara bangsa-bangsa kafir (goyim)[25], dengan bencana kekeringan[26], kelaparan, kemiskinan dan ketandusan[27];sementara itu, sebaliknya, orang yang baik dihargai dengan berkat-berkat lahiriah dan upah sementara. Semua Nabi-nabi yang menggantikan Musa mengikuti jejaknya dan menyesuaikan diri dengan hal ini, karena mereka itu seringkali mengalami pencobaan dan aniaya.

PASAL IV
Nubuatan Mengenai Mshikha

Semua Nabi-nabi kudus menubuatkan sang MESIAS (Aramaik, “Mshikha” dan Ibrani, “Ha’Mashiakh”), Dia yang menyelamatkan[28] dunia, membuat semua yang tercipta menjadi baru. Agar tidak terlalu panjang pembahasan kita, kita akan mengemukakan kesaksian enam hal yang paling besar diantara mereka saja. Dalam tempat pertama Israel, bapa dari Nabi-nabi, mendeklarasikan Ya’aqub “tongkat lambang kekuasaan”, yakni seorang raja, “tidak akan lenyap dari Yehuda[29], maupun pemberi peraturan” yakni, nabi “dari antara kakinya, hingga Dia akan datang kepada milikNya dan bangsa-bangsa lain akan menunggu Dia” bersama dengan sebagian yang tersisa dari umat itu. Musa berkata:

“Tuhan Alahamu akan memunculkan bagimu seorang Nabi Besar dari tengah-tengahmu, dari saudara-saudaramu, sama seperti aku; kepadaNya kamu harus mendengarkan[30] dan jika ada jiwa yang tidak mau mendengarkan Nabi itu maka jiwa itu akan dihilangkan dari antara umatnya”[31]. Lagi pula, kelepasan bangsa Israel, lepas dari tangan Firaun adalah bayangan penebusan semua orang dari kuasa di bawah kekuasaan penghulu dunia ini. “Manna”[32], juga, pra-bayang misteri Tubuh Tuhan kita; “Air” yang terpancar keluar mengalir dari batu karang[33], merupakan minuman DarahNya; dan “ular tembaga”,[34] Kayu Salib pemberi kehidupanNya.

Demikian juga, Daud menubuatkan tentang MESIAS dalam kitab Tehillim/Mazmur, “Mengapa orang-orang Goyim mengamuk?”[35] dan diawali dengan “Oh Tuhan Alaha kami, betapa mulia NamaMu di seluruh bumi! “ dan, “dari hatiku mengalir rasa sukacita yang berlimpah ruah dengan kabar baik”seperti juga dalam Tehillim (Mazmur), “Tuhan berkata kepada Tuhanku, duduklah Engkau di sebelah kananKu.” [36] Isha’ya menubuatkan: “lihatlah seorang Perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan memanggil namaNya “Emmanuel”, yang bermakna Alaha[37] bersama kita, dan lagi namaNya akan disebut Penasihat dan Ajaib, Alaha Maha Kuasa, Pangeran Damai Sejahtera, Bapa Kekal, Malaikat Cerdas Terunggul”. “Dia datang karena dosa-dosa kita dan dihina karena asusila kita: Penyucian damai sejahtera kita ada pada Dia;” [38]hingga kumpulan umat manusia terakhir.

Zekhar’ya berkata: “Jangan takut, Oh putri dari Sion, lihatlah Rajamu datang kepadamu, Dia rendah hati dan menunggangi se-ekor keledai dan di atas anak kuda jantan dari seekor keledai”.[39]

Daniel, setelah menetapkan tujuh puluh Sha’wu’een yang mendahului manifestasiNya berkata: Mesias akan dibunuh dan tempat (kota itu) akan dihancur – leburkan; kota suci itu akan dihancurkan (bersamaan dengan sang Raja yang datang itu) dan Dia akan menyebabkan pengorbanan[40] dan persembahan korban sajian berhenti. Kemudian, aku melihat tahta-tahta ditempatkan dan Dia sang Purbakala duduk di tahta;[41] dan aku melihat seseorang seperti Anak Manusia di atas awan-awan gemawan dari sorga dan Dia datang kepada sang Purbakala itu; dan kepadaNya Dia memberikan penghakiman dan otoritas atas seluruh umat manusia, bangsa-bangsa dan bahasa-bahasa dan mereka melayani Dia. KekuasaanNya adalah kekuasaan kekal dan tidak ada akhirnya serta KerajaanNya tak bisa dihancurkan.[42] Di sini, berakhirlah bagian Kedua bahasan kita.
________________________________________________

Berikut ini sebagai catatan kaki dari appendix bagian II Pasal IV:

Dan setelah 62 sha’wu’een, Mesias akan dibunuh dan kota itu akan diratakan dengan tanah; dan Kota Kudus dihancurkan bersama dengan sang Raja yang akan datang dan akhir dari pada itu akan terjadi pengusiran massal, pada akhir masa perang maka pemusnahan ditetapkan. (Daniel 9.26). Sha-wu-een. Kata “sha-wu-a” berasal dari kata Aramaik “shau-a” yakni nomor 7. Elia [+] dari Anbar memberikan arti kata itu ‘sha-wu-a’ dan asalnya sebagai berikut: “Sha-wu-a, sha-wu-e (maskulin.) Sha-wu-ta, sha-wu-ata, yakni 7 hari. Lagi pula anda berkata sha-wu yomatha, dan sha-wu-a dyomatha, sama dengan 7 hari. Lagi, sha-wua-ta, sha-wu-ata (femina) dengan arti yang sama, Sha-wu-ta *, dari periode 10 tahun”. (Kamus Tooma O’du, bagian ke-2, hal. 543). Kata atau angka Sha-wu-e, diramalkan oleh Daniel mengenai Kedatangan sang Mesias, tak perlu diartikan minggu-minggu dan ini tafsir yang terpercaya dalam istilah tahun-tahun atau periode khusus. Lebih lanjut, fakta ini dikenal baik bahwa semua Nabi-nabi Besar dari Perjanjian Lama menubuatkan dan menuliskan dalam bahasa Aramaik. Dalam kata – kata dari Ensiklopedia Britannica: “Bahkan dalam teks bahasa Ibrani Alkitab masa kini, Pasal 1.VI. Dan Pasal VII-XII, dituliskan dalam bahasa Aramaik” (Vol. 7, hal. 28), supaya kebenaran datang dari visi-visi ini hanya bisa dilihat dalam arti dan konteks bahasa Aramaik.

Bagian III
DISPENSASI ORANG PERCAYA
PASAL I
Menyongsong Kedatangan Mshikha,
Dan KesatuanNya

Keadilan adalah nilai keseimbangan semestawi, sebab siapa pun dia yang menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuknya, keadilan menuntut perlakuan yang sama diberlakukan terhadap mereka; apa saja yang dia tidak ingin orang lain lakukan terhadap dirinya, biarlah dia juga jangan lakukan hal itu kepada orang lain. Ada pepatah mengatakan dicubit itu sakit, jadi jangan cubit orang lain. Inilah Torah dan Nabi-nabi,[43] persis seperti yang diucapkan sang Juruselamat. Tetapi karena nabi-nabi tak bisa menjadikan orang hidup sempurna dan membawa mereka kepada pengetahuan sempurna dalam kebenaran dan menyingkirkan mereka dari jerat penyembahan berhala agar mengikuti perintah-perintah Ilahi sehingga mereka bisa diselamatkan, masih tetap tak ada jalan lain bagi pembaharuan kodrat kita dan bagi reformasi kehidupan kita, oleh sebab itulah, ALAHA (Ibrani, “Alhym” atau “Elohim”) harus datang ke dalam dunia. Seperti seorang penguasa yang telah mengirim banyak utusan-utusan untuk menyalurkan segala sesuatu yang menyangkut mengenai kerajaannya dan mengembalikan mereka semua dalam keadaan diperdamaikan, jika ini harus ditangani sendiri dikarenakan kelemaham mereka dan ketidak-mampuan menghasilkan sesuatu, si raja itu turun ke jalan langsung secara pribadi untuk menangani persoalan negeri itu agar pulih seperti sebelumnya. Oleh karena ALAHA itu tak dapat dilihat dalam KodratNya[44] dan dikarenakan mungkin bagi Dia masuk ke dalam alam tercipta sebagaimana Dia adanya, namun efeknya semua Ciptaan akan hancur lebur oleh kegemilangan cahaya TerangNya; oleh karena itu, Dia mengenakan pada diriNya Sendiri seorang manusia bagi tempat tinggalNya[45] dan membuat kemanusiaanNya itu sebagai bait suciNya dan tempat Dia bersemayam dan dengan demikian menyatu-padukan kodrat keturunan mahluk fana kepada keilahianNya dalam keabadian, kesatuan yang tak dapat dibagi-bagi[46] dan menjadikannya ambil bagian bersama akan kemahakuasaanNya, otoritas dan kedaulatan[47].—Yakni, Kodrat Ilahi dengan mencerahkan kodrat manusia melalui adanya kesatuan, murni dan mutiara yang tak bercacat cela dikemilaukan oleh cahaya matahari yang menerpanya menimbulkan kodrat yang diterangi itu menjadi kodrat yang berkilauan dan menimbulkan pemandangan cerah yang diakibatkan oleh pancaran sinar cahaya dan kemilau yang bersumber dari kodrat yang mengakibatkan pencerahan, melalui kodrat itu mengkomunikasikan terang, tak ada perubahan apapun yang terjadi pada sarana yang dicerahi melalui aksinya itu. Dan, hal itu seperti pidato tersembunyi dalam jiwa disatukan dalam wacana tertulis melalui alur pikiran dan diteruskan dari satu tempat ke tempat lain tanpa dia itu sendiri bergerak, dari tempatnya, — begitulah sang Sabda dari sang Bapa menyatu dengan manusia dari antara kita, melalui sarana agensi sang Pikiran dan datang ke dalam dunia kita ini, tanpa lepas dari sang Bapa dalam hakikatNya[48]. “Sabda (Miltha) menjadi daging dan tinggal diantara kita[49].” Orang saleh dan taat melakukan usaha penggalian makna arti selama bertahun-tahun dalam doa kepada Alaha, agar Dia menyingkapkan kepadanya makna arti pernyataan ini: Suara dari sorga mengatakan rentetan kata-kata yang panjang kepadanya, katanya:

“Kaitkan daging kepada Sabda” “menjadi” dan kepada “sang Sabda” kaitkan dengan “bersemayam”; dan demikianlah makna arti dipelihara atau dijaga.

PASAL II
Takdir sang Mshikha

Dengan salam malaikat kepada sang Perawan Terberkati: “Tuhan besertamu; terberkatilah engkau diantara para wanita; “[50] ALAHA sang Sabda (Miltha), diluar segala keraguan, menyatukan DiriNya Sendiri pada waktu itu dengan yang Dia bentuk secara simultan dan tanpa benih manusia dari seorang ayah biologis (human seed),[51] dalam rahim Perawan Kudus dan Dia memberikan nama “Paling Tinggi”[52] dan Dia mengadakan mukjizat pada kelahiranNya[53] dan menyebarkan Kabar Sukacita (Basora) ke seluruh dunia[54], dan menjubahi Dia dengan ma’arifat dan hikmat yang tak terukur, penuh anugerah dan kecerdasan yang melebihi siapa pun.[55] Dan ketika Dia telah mencapai usia sekitar 30 tahun[56], pada tahun ke-15 pemerintahan kaisar Tiberius[57], dan tahun ke 341 sejak dari Alexander, Dia menampilkan DiriNya[58] dengan dimikvehkan oleh Yokhanan si Pemikveh. DiriNya Sendiri tak butuh kemurniaan[59] melalui mikveh air; tetapi agar Dia bisa menjadi pola dan contoh teladan bagi kita[60] dalam segala hal. Dia dimikvehkan dan Dia memerintahkan kita harus dimikveh[61]. Dia berpuasa dan menyuruh kita berpuasa[62]. Dia berdoa dan mengajar kita berdoa. Dia merendahkan diriNya Sendiri dan menginstruksikan kita agar rendah hati[63]. Dia adalah orang yang sederhana dalam mempraktekkan segala kebajikan, dan mengajak kita menjadi hidup sederhana.

Tetapi barangsiapa yang mengamalkan dan mengajarkannya, akan disebut besar di Kerajaan Sorga[64]. Dan setelah Dia melakukan mukjizat dan tanda-tanda ajaib di tanah Yehuda seperti; penyembuhan orang sakit, membangkitkan orang mati, mencelikkan mata buta, orang lumpuh bisa berjalan, mengusir roh-roh jahat, dan menyingkapkan misteri-misteri tersembunyi, Dia menarik waktu masa lalu kepada kekinian saat Dia membayar hutang pelanggaran Adam manusia pertama, dan membatalkan pelaksanaan hukuman terhadap ras umat manusiaNya, dan disingkapkan melalui fakta misteri kebangkitan badan secara umum[65]. Dia menderita, dan disalibkan pada masa pemerintahan Pontius Pilatus,[66] Dia wafat[67], dan dikuburkan, dan bangkit kembali pada hari ketiga, seperti tercatat dalam Kitab Suci[68].Setelah kebangkitanNya,[69] Dia menampakkan diri kepada murid-muridNya melalui banyak mukjizat selama tenggang waktu 40 hari, kataNya kepada mereka: “Semua kuasa diberikan kepadaKu baik yang ada di sorga dan di bumi. Sama seperti BapaKu mengutus Aku, Aku juga mengutus kamu. Oleh sebab itu, pergilah, pertobatkanlah dan ajarlah semua bangsa-bangsa, dan mikvehkan mereka dalam Nama Ha’Av dan Ha’Ben dan Ruakh Ha’Kodesh dan ajarlah mereka melakukan semua apa yang telah Aku perintahkan kepadamu; dan Aku bersamamu selalu hingga akhir dunia, Amin.”

Dan Dia membawa mereka sejauh Bethany, dan Dia mengangkat kedua tanganNya dan memberkati mereka; dan ketika Dia memberkati mereka, Dia undur diri dari mereka dan terangkat naik ke langit (sorga), dan duduk di sebelah kanan ALAHA. Kemudian murid-murid pergi dan mewartakan berita Basora (Injil) ke segala tempat dan sang TUHAN (Mar-Yah) menolong mereka, dan meneguhkan perkataan-perkataan mereka melalui mukjizat-mukjizat yang mereka tunjukkan”. Inilah awal tumbuhnya Orang Percaya Yahudi atau Agama Nasrani (Mshikhanuth); kebenaranya kita akan ulas pada pasal berikut.

PASAL III
Perihal Kebenaran Agama Nasrani
(Mshikhanuth)

Mshikhanuth itu adalah keyakinan pada Satu Hakikat Ilahi, dalam Tiga Aspek (Alahota),[70] dan Pengakuan terhadap MSHIKHA[71] sebagaimana telah dijelaskan, dan keyakinan pada kebangkitan orang mati,[72] dan pengadilan yang akan datang[73], dan pada suatu kehidupan abadi yang baru[74], semua artikel-artikel iman adalah rohaniah dan tak mementingkan hal yang bersifat duniawi. Sebab jiwa rasional punya tiga kelipatan kuasa, yakni nafsu, rasa amarah, dan kemampuan membedakan nilai, dari ekses atau kehendak melaksanakan proporsi baik itu aksi perbuatan jahat dan kebodohan-kebodohan, dan dari keselarasan yang menghasilkan kebajikan. Lagi pula, Injil mewacanakan perihal ini dalam relasinya terhadap kodrat. Dengan demikian, berkenaan dengan Nafsu: “Barangsiapa melihat seorang perempuan[75] dengan penuh nafsu birahi telah melakukan perbuatan zinah bersama dia dalam hatinya.” Lagi: “Jadilah seperti burung-burung[76] di langit, dan seperti bunga-bunga liar.” Dan, lagi: “Jangan jadi cemas tentang hari esok[77] ”. Tentang Amarah, “kasihilah musuh-musuhmu[78], berkatilah mereka yang mengutuk kamu, dan berbuat baiklah kepada mereka yang membenci kamu.” Tentang kemampuan membedakan nilai: bahwa Kerajaan ALAHA[79] ada di dalam kamu dan hal itu merupakan bukti Kerajaan Alaha adalah Kehidupan Kekal dan Kehidupan Kekal adalah pengetahuan kebenaran. “Inilah hidup kekal itu, agar mereka boleh mengenal Engkau, bahwa hanya Engkau saja Alaha yang benar, dan Dia yang Engkau telah utus Yeshua Mshikha”[80]. Doktrin apa lagi yang lebih agung dari pada ini! Atau kebenaran apa lagi yang bisa lebih akurat dari pada ini, atau lebih hebat?

Kebenaran Mshikhanuth itu diindikasikan oleh hal ini juga, itu sama seperti filsafat, kebenaran itu dibagi dalam teori dan praktek. Hasil akhir teorinya adalah kebenaran, seperti yang kita telah perlihatkan, dan akan selalu terus menerus diperlihatkan; dan akhir dari pada prakteknya adalah kebajikan, seperti yang kita buktikan melalui apa yang kita telah katakan tentang daya kuasa jiwa, dalam hal itu menuntut kemurnian berpikir, dan penyucian roh, dan mengajak melakukan hal yang baik bagi para pelaku kejahatan, kasihilah musuh-musuhmu, dan kita harus memberkati mereka yang mengutuk kita.

Iman Kebenaran Mshikhanuth masih terus dibangun oleh kredibilitas mereka yang mewartakan hal itu, – yang memberitakan dan menuliskan tentang MSHIKHA. – manusia, yang tidak mau mempraktekkan dengan rasa terpaksa, dan tanpa diiming-imingi, akan diterima oleh orang-orang dari berbagai variasi bahasa, oleh raja-raja, guru-guru, dan para filsuf; sebab barangsiapa saja mencampakkan agama leluhurnya (kepercayaan lama), dan mengikuti Dia yang memanggil dia untuk menganut keyakinan lain, haruslah melakukan hal itu dengan penuh rasa takut, atau terpikat kepadaNya; atau dia dituntun oleh keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda adikodrati yang terbukti hasilnya. Tetapi Para Rasul yang terberkati tak punya senjata maupun kuasa yang menakut-nakuti orang lain; tak satu pun dari mereka ini terpesona dengan apa yang dimiliki atau daya pikat kekayaan; kemudian, hasilnya, bahwa dunia menundukkan diri mendengar mereka tentang kisah, tanda-tanda adikodrati dan keajaiban-keajaiban yang mana mereka telah perbuat. Tetapi ALAHA tidak mengerjakan mukjizat-mukjizat melalui tangan orang-orang sesat, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman terhadap hamba-hambaNya, dan akhirnya tidak mengkorupsi karya-tanganNya; Oleh karena itu, Rasul-rasul itu adalah orang-orang benar dan tidak sesat; dan jika mereka benar, hal-hal yang kita akui tentang MSHIKHA, dan yang kita telah terima dari pewartaan mereka dan melalui tulisan-tulisan mereka adalah benar, Oleh karena itu Mshikhanuth itu merupakan pengakuan dalam verifikasi kebenaran-kebenaran, disebabkan mereka yang menyampaikan kebenaran itu adalah orang-orang yang benar.

PASAL IV
Sekte-sekte Beda Pendapat

Ketika terang manifestasi Mshikha bersinar menyingkirkan kegelapan yang kacau balau itu dari wajah dunia melalui para pengkotbah yang benar ini; para berhala menjadi sia-sia, lukisan dan gambar patung tuangan menjadi rubuh, dan bumi dibersihkan dari korban yang menjijikkan dan dari ritus tak senonoh, dan para penduduk dunia belajar perihal kebaikan, kesucian, kerendahan hati, dan kelemah lembutan, dan bumi penuh dengan pengetahuan dari sang TUHAN (Maran Yahweh) seperti air yang memenuhi lautan. Ini ditanggapi dengan penuh kebencian dan kegusaran oleh Setan, dan dia langsung mengadakan perlawanan dengan membujuk kita sama seperti yang dia lakukan terhadap Adam; agar supaya Para Rasul Kudus yang mulia (Shlikhim), dan Murid-murid (talmidim), mereka dan semua para pengganti mereka menjadi lengah dan tertidur pulas, Setan mulai memprovokasi Orang-orang Percaya Mshikha bangkit saling baku hantam satu sama lain, dan menciptakan perpecahan dan kontroversi-kontroversi muncul diantara satu sama lain diantara mereka, dan bidat-bidat sesat bermunculan bagaikan jamur di musim hujan jumlahnya semakin bertambah-tambah dalam Jemaat Mshikha, hingga mereka menjauh satu sama lain dan saling berusaha menghancurkan diantara mereka sendiri, dan memandang kelompok lainnya sebagai para penghina yang layak dimusnahkan. Betapa banyaknya bermunculan doktrin-doktrin sesat, dan alangkah banyaknya ketaksenonohan dan penyelewengan dilakukan pada masa-masa itu (dan sekarang), kita baca hal itu dari kisah catatan sejarah yang ditulis oleh Eusebius. Tentang perihal ini, Konsili Ekumenis tahun 325 Masehi diselenggarakan, oleh niat baik dan kasih Mshikha dan oleh Kaisar Konstantinus. Pada tahun Alexander 636, dan melalui kuasa sang Roh, dan melalui bukti-bukti yang dikemukakan dari Kitab Suci, mereka menyatakan, menafsirkan, mencerahkan, menyingkap, memanifestasikan, dan mengkonfirmasi iman ortodoks; dan melalui argumentasi kuat dan dengan kata-kata bernuansa doktrin, mereka mengutuk semua bidat-bidat, mengekskomunikasi dan memotong tubuh Mshikha, dari semua bidat anggota tubuh yang sakit tak bisa disembuhkan. Dengan demikian, Jemaat Semesta dimurnikan dari noda penyembahan yang sia-sia dan doktrin palsu, dan seluruh dunia, dari tempat terbitnya matahari hingga ke arah terbenamnya adalah sama, ada satu pikiran dan satu Jemaat.

Kira-kira 100 tahun setelah cekcok itu muncul perselisihan antara Patriak Cyril dari Alexandria, dan Mar Nestorius Patriak dari Byzantium, atas topik persoalan mengenai PENJELMAAN. Dalam Shahadat perihal Alahota semua orang Nasrani dan Kristen setuju, karena semua menerima Shahadat Nikea, yang mana Shahadat itu mengakui bahwa Alahota itu adalah sama kekal dalam hakikat, Ketuhanan, kuasa dan kehendak; dan semua mengaku tentang MSHIKHA bahwa Dia adalah ALAHA sempurna dan MANUSIA sempurna pula, seutuhnya didasarkan dari deklarasi-deklarasi Kitab Injil, dan Surat Kiriman Rasul Paulus, dan 318 Para Bapa Konsili.

Perselisihan yang sekarang muncul mengulas seputar masalah Kesatuan, dan kata-kata yang digunakan untuk mengekspresikan hal itu. Cyril bersitegang urat leher mempertahankan bahwa kita harus menyapa sang Perawan sebagai “Bunda Alaha” (Theotokos), dan menuliskan 12 risalat ekskomunikasi terhadap semua orang, dalam hal apa pun, yang menarik kesimpulan perbedaan jelas antara Keilahian dan Kemanusiaan MSHIKHA setelah penyatuanNya. Nestorius menimpali kalimat-kalimat ini, dan memperlihatkan bahwa mereka telah melakukan kesesatan berpikir, dan dengan rasa hormat berlebihan kepada sebutan gelar “BUNDA ALAHA “(Theotokos), dia membantah bahwa istilah itu tidak pernah ada muncul dituliskan sebelumnya oleh Nabi-nabi dan semua Para Rasul Kudus. Nabi-nabi menubuatkan tentang MSHIKHA[81] akan datang, dan Semua Para Rasul memberitakan tentang MSHIKHA yang sama[82], Dia yang diramalkan oleh Nabi-nabi datang ke dalam dunia ini, yakni Dia inilah yang dilahirkan dari darah daging Marta Miriam (Maria) dan mereka menjelaskan kepada kita bahwa Dia itu adalah Alaha dan Manusia. Sekarang, kita tepatnya hanya menggunakan ekspresi sebutan untuk Miriam itu adalah cukup dengan “Bunda Manusia” (Mother of Man), kita harus seperti Paulus dari Samosata, dan Phontinus dari Galatia, yang telah berkata tentang Tuhan kita, bahwa Dia seorang Manusia seperti salah satu dari Nabi-nabi dan disebabkan oleh perkataan ini mereka diekskomunikasi; maka jika kita menggunakan ekspresi serampangan ini, yakni “Bunda Alaha” kita menjadi sama seperti’ Simon dan Menander, yang mengatakan bahwa Alaha itu tidak mengambil tubuh dari Miriam; tetapi bahwa dispensasiNya (hidup dan tindakan-tindakanNya) adalah khayalan saja dan tidak nyata, dan atas perihal pengajaran mereka ini pun akhirnya diekskomunikasi juga. Tetapi kita menyapa dan menyebut sang Perawan “BUNDA MSHIKHA” (Aramaik, “ImatMshikha” dan Yunani, “Kristotokos”). Tetapi kita yang setia pada pengajaran yang diwariskan kepada kita. Kita menyebut sang Perawan itu adalah “Bunda Mshikha” (ImatMshikha), NAMA itu sudah digunakan oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dan yang mana menunjuk (denotasi) penyatuan umum. Cyril, dalam risalat yang dia susun, dan dalam hal dia mengucilkan semua orang siapa saja yang membedakan antara Keilahian dan Kemanusiaan dari MSHIKHA, maka sesungguhnya Cyril itu sendiri dengan jemawa telah mengucilkan Kitab-kitab Suci itu sendiri, pada hal Rasul-rasul dan Nabi-nabi dengan jelas membedakan antara kodrat-kodrat dari sang Pribadi terhormat itu yang Dia sedang digugat, dan dari sinilah Para Bapa Kudus belajar untuk mengakui tentang MSHIKHA bahwa Dia adalah ALAHA sempurna dan MANUSIA sempurna, keserupaan dari ALAHA dan keserupaan dari seorang HAMBA[83], Putra dari keturunan Daud dan sang Putra dari Yang Maha Tinggi,[84] daging dan Sabda.[85]

Sejak mulai dari sinilah terjadi perpecahan Jemaat; beberapa mengikuti Nestorius, sementara yang lainnya terseret dengan gelombang arus kesesatan yang ditiupkan oleh Cyril, kedua kubu berseberangan ini saling kutuk mengutuk satu sama lain; imbasnya menyebabkan perpecahan, saling jegal, diasingkan, dipenjarakan, dan dianiaya Para Bapa pembela kebenaran, lebih kejam dari pada yang sebelumnya terjadi, peristiwa tragis ini dicatat dalam tulisan sejarah oleh Irenaeus, Uskup dari Tyre. Setelah ini, huru hara, perselisihan berlangsung semakin menjadi-jadi hingga sekelompok Marcian yang peduli keutuhan Jemaat dan cinta-Mshikha mengadakan sidang Konsili Agung yang dihadiri sebanyak 632 orang di kota Kalsedon, dan memerintahkan kedua kubu berseberangan itu diperiksa dan diadili, dan barangsiapa saja tidak mengikuti kebenaran dan iman seperti yang dideklarasikan oleh Konsili-konsili Ekumenis harus ditendang keluar dari Gereja (Jemaat), agar supaya Jemaat bisa harmonis dalam satu iman dalam segala perkara.

Konsili ini menegaskan Shahadat, bahwa ada dua kodrat dalam MSHIKHA masing-masing kodrat jelas berbeda sifat-sifatnya, dan juga dua kehendak, dan menganathema semua yang berbicara tentang percampuran, yang mana menghancurkan kedua kodrat tersebut. Tetapi sangat disayangkan, karena dalam bahasa Yunani yang miskin itu tak ada perbedaan jelas antara Qnume dan pribadi (hypostasis), mereka telah mengakui tetapi satu Qnume dalam MSHIKHA. Dan, namun, kubu Cyril tidak merasa puas dengan ekspresi “dua Kodrat”, dan kubu Nestorius pun tidak puas dengan ekspresi “satu Qnume”, tetapi akhirnya edik penguasa kekaisaran mengeluarkan maklumat pernyataan bagi semua yang tidak setuju terhadap doktrin ini dipecat dari jabatan mereka. Banyak diantaranya setuju tetapi memendam rasa melawan di hati; tetapi yang lainnya bertahan kukuh dengan pendapat mereka sendiri.

Akibatnya, dunia Kristen menjadi terpecah kedalam tiga pengakuan; sekte pertama, mengakui “Satu Kodrat (hakikat) dan Satu Qnume (pribadi) dalam MSHIKHA”, keyakinan ini dianut oleh kaum Kristen Koptik, Orang-orang Egyptian (Mesir) dan Abyssinian, setelah dari tradisi Cyril Patriak mereka; dan yang ini disebut sekte Jakobit, dari seorang Doktor Suryaya terkenal disebut Yakobus yang bekerja dengan giat menyebarluaskan doktrin-doktrin Cyril diantara Kristen Suryaye-Syria dan orang-orang Armenian.

Sekte kedua, adalah mereka yang mengaku dengan doktrin “Dua Kodrat dan Satu Qnume [Pribadi] dalam MSHIKHA”, dan kubu ini ini disebut “Malkaye” (Kerajaan: Romawi – Byzantium) karena doktrin itu dipaksakan dengan tangan besi oleh raja. Doktrin ini diterima oleh orang-orang Roma disebut kaum Franks (Gereja Latin), dan oleh orang-orang Konstantinopolitan (Gereja Ortodoks Alur Hellenisme-Yunani) yang adalah orang-orang Yunani dan oleh semua orang-orang yang berada dibelahan bumi Utara seperti bangsa Russia, Alani, Circassian, Assai, Georgian dan negeri –negeri tetangga dekat mereka. Tetapi kaum Frank berbeda dari yang lainnya ini karena mempertahankan Ruakh Ha’Kodesh keluar dari sang Ha’Av dan sang Ha’Ben [Filioque], dan mereka menggunakan roti tak beragi bagi Perjamuan Kudus yang mereka sebut Ekaristi. Kedua sekte ini juga menerima panggilan gelar bagi Miriam sebagai “BUNDA ALAHA” [Theotokos atau Mater Dei]; tetapi kaum Jakobit menambahkan pada kanon mereka; kata “Alaha Kudus”, dll. “Dia yang telah disalibkan bagi kita.”

Kubu ketiga, mengaku bahwa “dalam Mshikha ada Dua Kodrat, Dua Qnume, Satu Kehendak Satu Keputraan, Satu Otoritas”; yang disebut Nestorian. Namun, bagi kaum orang Timur, sebab mereka tak bersedia mengubah iman benar mereka, malah justru semakin berpegang teguh dengan kokoh serta menjaganya dengan rasa bangga luar biasa karena mereka mewarisinya langsung dari Rasul-rasul, oleh karena kemiripan ini maka mereka secara tindakan sewenang-wenang yang tak adil dijuluki sebagai kaum “Nestorian”, pada hal Nestorius bukan Patriak mereka, bahkan tak ada dari mereka yang memahami bahasanya si Nestorius; tetapi ketika mereka mendengar bahwa Nestorius mengajarkan doktrin “Dua Kodrat dan Dua Qnume, Satu Kehendak, Satu Putra dari Alaha, Satu MSHIKHA”, dan Nestorius mengakui Iman Ortodoks maka mereka dengan bangga menjungjung dan membela Nestorius, kemudian, mendukung dia, dan tetapi mereka bukan dia, dan terlebih khusus lagi dalam masalah istilah sebutan gelar “Bunda Mshikha”. Oleh karena itu, ketika mereka ini diminta kesediaannya turut serta mengucilkan Nestorius, mereka menolaknya dengan keras, sebab dengan bertahan mengekskomunikasi Nestorius itu sama dengan artinya mereka menolak atau mengekskomunikasi Kitab-kitab Suci dan Rasul-rasul Kudus, yang dari mereka inilah mereka mewarisi dan menerima apa yang mereka akui dan bela dengan nyawa mereka, dan untuk alasan itulah kita dikecam bersama dengan Nestorius, seperti yang kita akan ulas pada bagian pasal berikutnya.
—————————————————————-
Catatan: “Qnume” (Aramaik) dalam bahasa Yunani disebut “hypostasis”, yakni, itu yang mendasari hakikat, melalui yang mana kodrat dikenal. Dan “Parsoopa”: Orang-orang Yunani menyebutnya “prosopon”: Oleh karena itu, kita Orang-orang Timur, mengakui bahwa Mshikha (Mesias) Tuhan kita adalah Dua Kodrat (Qnumas) dalam Satu Pribadi. Tetapi pertanyaan tentang “Keilahian” dan “Kemanusiaan” harus dibawa dalam diskusi agar supaya bisa membedakan sifat-sifat (properties) alamiah dari masing-masing Kodrat (Nature), kemudian barulah kita diajak memperbincangkan tentang Qnume (Esensi atau substansi yang mendasari) melalui yang mana Kodrat dibedakan dengan jelas. Oleh karena itu, inilah fakta-fakta yang mengarahkan kita kepada bukti yang tak terbantahkan tentang eksistensi dari Dua Qnume yang mendasari sifat-sifat dari (dua) Kodrat ini, dalam Satu Pribadi dari sang Putra dari Alaha. Untuk lebih rinci definisi tentang “Qnume”, lihat Pasal yang mengulas “Perbedaan Kodrat Dari Qnume, dll.” (On the Distinction of Nature from Qnume, Etc.”, oleh Rabban Yokhanan Bar-Zubi (Lihat Diskusi Lampiran diakhir artikel ini (*))

PASAL V
Pembuktian Kesalahan Shahadat-shahadat Terdahulu
Setelah dengan cermat membedakan Pengakuan-pengakuan Iman (Shahadat) di atas, kita sekarang dengan ringkas membuktikan kesalahan dua dari antara mereka.
PERTAMA: Jika memang benar untuk mempercayai bahwa ada Satu Kodrat dan Satu Qnume dalam MSHIKHA setelah penyatuan, baik itu kodrat kemanusiaan dan Qnume pastilah dirusak oleh kesatuan itu – ini adalah kehancuran, bukan keselamatan. Atau, Kodrat Ilahi dan Qnume dirusakkan atau dihancurkan – carut marut yang luar biasa kacaunya. Atau, keduanya bercampur baur dan lebur bersama – sebab itu, lihatlah ini merupakan korupsi! Tidak Keilahian maupun kemanusiaan dua eksistensinya musnah ditelan peleburan. Mar Yokhanan Bar Pinkhaye mengemukakan tentang nama dari MSHIKHA dituliskan dengan tinta hitam dan merah, dengan cara ilustrasi yang seperti ini membingungkan kesatuan (union) yang diyakini kaum Jakobit, dan “kesatuan” yang dengan setia terjaga pada posisinya masing-masing kita pertahankan dan percayai; dengan demikian, MSHIKHA, lihatlah dikorupsi! Lihatlah kekacauan! Apakah kesatuannya dalam tinta warna merah? Tentu saja tidak. Apakah itu tinta warna hitam? Tentu saja tidak. Sekarang perhatikan dengan baik-baik MSHIKHA ini lihat keindahanNya! Lihat terang CahayaNya! Apakah Dia berwarna tinta hitam? Ya. Apakah berwarna tinta merah? Ya.

KEDUA: Kodrat Ilahi dan Qnume, sebelum dan sesudah penyatuan, merupakan suatu keabadian, Roh tak bisa bercampur. Tetapi kodrat manusia dan Qnume adalah sementara atau fana (temporal) dan jasad tubuh yang bercampur. Sekarang, jika kesatuan itu menghilangkan sifat-sifat (attributes) yang membedakan antara Kodrat dan Qnume dalam MSHIKHA, baik itu yang satu ini atau yang lainnya itu maka ini menjadi “tak ada artinya sama sekali”, atau keduanya itu menjadi sesuatu hal yang bukan ALAHA maupun bukan Manusia. Tetapi jika kesatuan itu tidak menghancurkan sifat-sifat yang melekat pada masing-masing kodrat yang membedakan Kodrat dan Qnume dalam MSHIKHA; maka MSHIKHA harus eksis dalam Dua Kodrat dan Dua Qnume, yang bersatu dalam Pribadi dari Keputraan.

KETIGA: Injil[86] menegaskan, bahwa sang kanak-kanak Yeshua “bertumbuh melebihi rata-rata usia sebayaNya dalam hikmatNya, dan dalam kasih terhadap ALAHA dan sesama manusia.” Dan shlyakh Keipha (Petrus)[87], ketua dari Rasul-rasul, berkata: “YESHUA, Manusia dari ALAHA, muncul diantara kamu melalui mukjizat-mukjizat, dan tanda-tanda ajaib, dan perbuatan-perbuatan yang mengherankan, yakni ALAHA melakukan hal itu semua melalui Dia diantara kamu”. Dan, lagi, rasul Paulus, pakar – pembangun dari Jemaat, bersaksi bahwa “ada satu saja Perantara antara ALAHA dan manusia, yakni sang Manusia YESHUA MSHIKHA”. Tiga kutipan ini sangat jelas menegaskan tentang MSHIKHA, setelah kesatuan, bahwa Dia eksis dalam Dua Kodrat dan Dua Qnume, dan barangsiapa saja berani membantah kesaksian ini maka dia murtad dari semua kebenaran.
——————————————————————————————–
Catatan dari Mar Nicholas: Tesis ini membuka kedok kesalahan opini sekte kedua di atas! Sekte kedua, percaya MSHIKHA: Dua Kodrat dalam Satu Pribadi. Mereka berasumsi “Qnume” adalah pribadi (hypostasis) sehingga Qnume ALAHA dan Qnume Manusia lebur jadi satu dalam Pribadi. Ini suatu kemusyrikan. Jika Qnume IlahiahNya lebur dalam Qnume kemanusiaanNya yang disebut “SATU Pribadi” atau “Satu Hipostasis” maka Ilahiah sama dengan Manusia dan Manusia jadi Ilahi seperti cerita dewa dewi Yunani! Jika Manusia Mshikha tidak ada melainkan Qnume Miltha maka Manusia Yeshua Mshikha itu bukan manusia sempurna, melainkan manusia cacat, jika cacat, Dia tak bisa jadi “korban penebusan sempurna” karena qnume semua umat manusia tak ditebus. Ini akan berlawanan dengan Sabda Ilahi itu sendiri; “14 Oleh karena anak-anak manusia itu ambil bagian dalam daging dan darah, Dia (Yeshua Mshikha) juga, dalam perihal yang sama; yakni, melalui kematianNya, Dia bisa memusnahkan dia yang menguasai alam maut, yakni si Setan; 15 dan supaya dengan jalan demikian Dia membebaskan mereka yang seumur hidupnya dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. 16 Karena Dia tidak mengenakan [kodrat] dari malaikat-malaikat, tetapi Dia mengenakan [kodrat] dari benih Abraham. – (Peshitta, Igeret Ibrani 2: 14-16 AESV); oleh karena itu, Yeshua Mshikha memiliki Dua Qnume dari Satu Keputraan dengan Dua Kodrat] ——————————————————————————————

PASAL VI
Gelar “Pengandung dari Alaha”

PERTAMA: Jika sang Perawan adalah sang “Pengandung dari ALAHA dan Pengandung Nama ALAHA” [Theotokos],[88] kita tahu itu menunjuk (denotasi) “Bapa”, “Putra” dan “Roh Kudus” maka itu berarti dia (Miriam) melahirkan sang ALAHOTA [dalam istilah yang salah digunakan orang Kristen: Tritunggal,Trinitas, Trisuci, dll], dan bukan hanya Dia (Miltha) , yakni sang PUTRA atau ANAK.

KEDUA: Jika sang Perawan itu adalah “Pengandung dari ALAHA” (Begetter of GOD), dan Dia (Yeshua Mshikha) yang lahir, menderita, mati dan dikuburkan, seperti empat Penginjil bersaksi, entahkah anda menganut paham bahwa Dia mati dalam kenyataan yang sebenarnya dalam sejarah; (dan Dia yang sungguh wafat tak punya kuasa apa pun menghidupkan orang lainnya atau pun diriNya Sendiri, tetapi harus tetap mati selamanya;) dan kemudian anda menyatakan bohong semua cerita tentang Dia bangkit lagi: Atau, barangkali saja anda menganut paham bahwa Dia wafat secara halusinasi, dan dalam cara yang sama bangkit kembali, (dalam artian di sini Dia tidak bangkit dalam realitas yang nyata, percaya bahwa Dia tak mati dalam kenyataan); kemudian pengharapan akan kebangkitan itu adalah sia-sia saja, oleh sebab itu perkataan yang mengatakan “Dia membangkitkan kita dengan MSHIKHA”[89] adalah omong kosong.

KETIGA: Jika Miriam adalah sang “Pengandung dari Alaha”, dan Shimon Keipha (Petrus) bersaksi akan Dia yang dilahirkan oleh Miriam, katanya: “Engkau adalah sang MSHIKHA, sang PUTRA[90] dari sang ALAHA yang HIDUP:”’ Kemudian menurut pernyataan anda Miriam bukan “Pengandung dari MSHIKHA”, TETAPI sang Pengandung dari BapaNya, dan MSHIKHA adalah cucu Miriam, bukan Putranya, dan karena Miriam itu adalah BUNDA dari BapaNya (Mshikha), yang kemudian adalah menjadi Bunda dari MSHIKHA?
————————————————————–
Catatan Mar Nicholas:
Gelar “Theotokos” benar-benar menyesatkan semua orang Kristen dalam sejarah Kekristenan. Miriam Ibunya ALAHA; berarti kedudukan Miriam berada pada posisi terpuncak dari ALAHA sendiri. Miriam Bunda Alaha, Miriam menjadi Alaha Tertinggi dari pada Bapa, Putra dan Roh Kudus; Ketiga aspek Keilahian ini adalah “Anak-anak Miriam” dan Yeshua Mshikha adalah “cucu Miriam”; lalu dengan siapa Miriam kawin? Seperti cacing berkelamin ganda? Ini adalah penghujatan terhadap Alaha!

PASAL VII
Empat Qnume (Hypostasis)

PERTAMA: Jika melalui pengakuan kita tentang DUA QNUME dalam MSHIKHA maka itu akan berimbas ada “4 hypostasis” dalam ALAHOTA [Tiga Aspek Esa]; maka, melalui pengakuan kita tentang DUA KODRAT dalam MSHIKHA maka haruslah ada hasil kesejajaran DUA KODRAT dalam Kilahian.

KEDUA: Jika sang ALAHOTA, seperti yang diakui oleh semua orang Kristen pada umumnya, adalah baka dan tak bercampur (uncompounded), dan Qnume manusiawi adalah fana (temporal) dan bercampur (compound), bagaimana ini bisa dalam suatu hal, dipandang sebagai 4 Qnume kepada sang ALAHOTA?

KETIGA: Jika kita mempertahankan DUA PUTRA dalam MSHIKHA, ini akan berakibat kesesatan fatal bagi kita dan banyak orang akan melawan kita (Nestorian); sebab sang BAPA dan sang ROH, dengan ditambah DUA PUTRA, akan membentuk jumlah 4 PRIBADI. Tetapi ketahuilah bahwa Shahadat kita mengatakan hanya ada Satu PUTRA, Satu MSHIKHA, Satu Pribadi, sehingga kita tak perlu khawatir telah melakukan kesalahan penghujatan.

PASAL VIII
Gereja (Jemaat)

Istilah “Gereja” secara tidak langsung menunjuk Jemaat atau Umat, dan suatu Kumpulan yang bertemu bersama menyatukan diri dalam aksi-aksi pesta perayaan. Ini merupakan perlambangan hal di atas; Sebab sebagaimana Susunan Sakral diperuntukkan melayani Dia sang Maha Tinggi dibagi kedalam tiga tingkatan, begitulah Jemaat itu. Patriak, Metropolitan, dan Uskup menempati tempat dari Kherubim, Seraphim, dan Tahta-tahta; Diakon Utama, periodeute,[91] dan Imam, tempat dari Dominion (penguasa), Otoritas, dan Daya Kuasa; Diakon-diakon, Subdiakon, dan Pembaca, tempat dari Malaikat-malaikat Penghulu Pemerintah-pemerintah, dan Malaikat-malaikat. Nama “Jemaat” sebagaimana kita telah katakan tadi, punya makna arti signifikan, karena MSHIKHA tidak memanggil batu-batu dan bahan fondasi bendawi[92] sebuah “Jemaat” tetapi semua umat yang percaya kepadaNya. Bagian ruang tengah dan Ruang Maha Kudus disebut Jemaat secara metaforis, dan bersamaan itu juga nama kota dapat dipakai bagi mereka yang tinggal di tempat itu, seperti dikatakan: “semua kota datang menemui YESHUA”. Dan ketika itu dalam gedung-gedungnya seperti yang dikatakan: “Dia masuk ke dalam kota”. Dan pada pasal-pasal berikut ini akan diringkaskan kembali mengenai risalat Bagian ketiga ini.

Bagian IV
QADISHOTHIM JEMAAT

PASAL I
*Jumlah Qadishothim Dalam Jemaat

Kata Ibrani, “Qadishoth-qadishoth”; Latin: “Sakramen”; Yunani: “Misterion”, Aramaik: “Raza”. Bagi Jemaat sesuai dengan Kitab Suci Ilahi, ada Tujuh jumlahnya (Dalam paradigma Kaum Jemaat Assyria Timur):

1). Keimamatan, yang merupakan pelayanan bagi semua Qadishoth-qadishoth lainnya 2) Mikveh Kudus. 3) Urapan Minyak Kudus (Mshikna). 4) Persembahan Korban Kudus Ilahiah dari Tubuh dan Darah MSHIKHA (Qurbana Qadisha). 5) Pengakuan Dosa (Absolusi). 6) Ragi Kudus (Melka); yakni, sang Baginda Raja.[93] 7) Salib Tanda Pemberi Kehidupan.

Ini adalah perlu karena kebutuhan-kebutuhan manusia dalam dunia kedagingan ini. Agar supaya manusia menjadi, dan bisa eksis dalam dunia, dia harus dilahirkan dari ibu kedagingan melalui ayah kedagingan pula, namun gambar dan kesempurnaan manusia datangnya dari Terang Kemuliaan sang Bapa. Sehubungan dengan perihal seperti itu, agar dunia fana ini punya hal tersebut di atas, maka perlulah dilahirkan dari rahim mikveh rohaniah, melalui agensi ayah rohaniah (spiritual) yakni sang Imam, meskipun begitu bentuk dan kesempurnaan itu dikerjakan oleh sang Ruakh ha’Kodesh dan oleh kuasa sang Maha Tinggi. Selanjutnya, wajib bagi setiap orang yang hidup di dunia ini mempertahankan keberlangsungan hidup temporalnya melalui makanan sementara yang lahiriah, dan minuman bumiah. Maka, dalam hal semacam itu, makanan rohaniah dan minuman ilahiah ditujukan bagi mereka yang telah dimikveh bagi mempertahankan keberlangsungan hidup kekalnya dalam Alaha.

Sekali lagi, sebagaimana halnya setiap orang yang dalam tubuh jasmaniahnya, melalui perubahan-perubahan waktu, dan kondisi-kondisi buruk, tunduk terhadap penyakit dan kerapuhan fisik yang fana, dan butuh tabib jasmaniah yang memulihkan kesehatan jasmaniahnya bila mereka mengikuti amaran-amaran mereka; begitupun manusia dari Alaha, melalui efek-efek dosa, dan kehidupan tak bermoral, jatuh kedalam berbagai rupa kehidupan yang tak pantas, dan dia ini harus menerima pemulihan hidup rohaniah yang sehat dari Imam-imam Jemaat, tabib-tabib rohaniah, jika dia mematuhi aturan resep yang diberikan oleh tabib-tabib rohaniah tersebut maka dia akan pulih kesehatan rohaniahnya yang berimbas kepada jasmaniah dan seluruh aspek kehidupan.

Pengurapan Minyak Kudus (Mshikna) digunakan dalam kelahiran yakni pada upacara mikveh, dan Ragi Kudus digunakan sebagai makanan rohaniah Tubuh dari MSHIKHA. Salib Tanda Pemberian Kehidupan yakni melalui pola hidup Mshikhani[94] selalu dipertahankan dan dipelihara dengan baik, dan melalui hal itu semua Qadishoth-qadishoth lainnya dimeteraikan dan disempurnakan. Tetapi beberapa Orang Percaya yang tak memiliki Ragi Penggabungan, yang sesuai menurut Amanah MSHIKHA, (di mana yang lainnya wafat yang lainnya dilahirkan), tujuh Qadishoth. Seharusnya tanpa mempertanyakan kelembagaan kudus apa dan sifat sakramental tiap Tujuh Qadishoth ini, kita merujuk bahwa tiga hal ini yang menguduskannya sebagai pra-syarat mutlak harus ada: Pertama, seorang Imam yang benar, dia wajib mendapatkan tahbisan keimamatan Suksesi Rasuliah yang benar, menurut persyaratan-persyaratan Jemaat. Kedua, Sabda dan Perintah Agung Tuhan tentang Qadishoth-qadishoth,[95] yang mana telah ditahbiskan oleh Dia keduanya. Ketiga, intensi yang benar dan menegaskan iman pada bagian itu terhadap mereka yang ambil bagian terhadap Qadishoth tersebut, meyakini bahwa efek Qadishoth-qadishoth terkait erat dengan kuasa-kuasa sorgawi. Kita, sekarang, kita membabarkan secara ringkas tiap Qadishoth-qadishoth secara terpisah dibawah ini.

PASAL II
Keimamatan
(Kohanim)

Keimamatan (Kohanim) adalah mediasi pelayanan[96] antara ALAHA dan Manusia dalam kaitannya ambil bagian dalam pengampunan dosa, menyampaikan berkat-berkat (brakhoth) dan menghindarkan murka[97]. Hal ini dibagi kedalam ketak-sempurnaan, seperti apa yang ada pada Torah; dan kesempurnaan, seperti yang ada pada Jemaat. Dasar Keimamatan dalam Jemaat dilandaskan pada pernyataan dari Maran Yahweh (Mar-Yah) tentang Keimamatan kepada Qadisha Mar Keipha (Petrus), di wilayah Kaesarea Filipi: “Kepada kalian (jamak) Aku akan memberikan kunci-kunci[98] Kerajaan Sorga; apa saja yang kamu akan ikat di bumi akan terikat di sorga; apa saja yang kalian lepas di bumi akan dilepaskan di sorga”. Super-strukturnya datang dari perintah lainnya: “Berilah makan domba-dombaKu[99]. Memberi makan dombaKu. Memberi makan domba-dombaKu adalah kewajiban dan tanggungjawab akhir dan kesempurnaan untuk hal itu Dia menghembusi[100] mereka seraya berkata: “Terimalah bagimu sang Ruakh ha’Kodesh; jika kalian mengampuni dosa seseorang yang berdosa, maka dosanya akan diampuni; dan apa bila dosanya tetap kalian nyatakan ada, maka tetaplah ada dosa-dosa mereka itu.”

“Keimamatan Lama” adalah satu generasi,[101] dan bukan keimamatan yang didasarkan pada cara hidup dan keinginan, tetapi “Keimamatan Baru” melalui Suksesi Rasuliah, dan dilakukan dalam Jemaat melalui penumpangan tangan[102], diberikan kepada mereka yang dianggap berlayak dan pantas menerimanya lewat berbagai ujian cara hidup dan pemikiran mereka — “Biarlah ini menjadi ujian pertama[103], dan kemudian biarlah mereka didapati melayani dengan layak.”Oleh sebab itu, kesempurnaan akan hal ini dan ketidak-sempurnaan dari Keimamatan menjadi bukti jelas, karena kita tahu bahwa banyak anak-anak jahat terlahir dari leluhur saleh, seperti Kain, Kham, dan anak-anak Lot, dari Musa, Eli, dan lain-lain; anak-anak saleh terlahir dari leluhur termashyur, seperti Melkhizedek, Abraham, dan lain-lainnya. Lagi pula, Keimamatan sebelumnya itu ditahbiskan oleh minyak bendawi saja[104] ; tetapi keimamatan yang terakhir ini oleh pengurapan minyak non-bendawi dari sang RUAKH (sang ROH),[105] melalui penumpangan tangan. Tentang perihal aturan-aturan yang berkaitan dengan hal itu bagi orang yang menghendaki jabatan Keimamatan haruslah melalui tahapan beberapa ujian, apakah dia berlayak atau tidak, biarlah dia yang menghendaki hal itu tahu seperti yang dijelaskan oleh Rasul Paulus, penyambung lidah dari sang RUAKH: benarlah perkataan ini:

“Jika orang (laki-laki) menginginkan jabatan Imam (Kahein) dia berniat berkarya yang baik. Dia yang menjadi seorang imam harus tak bercacat-cela, suami dari satu istri, sehat mental, teladan, bertingkah laku yang baik, ramah tamah, cakap dalam hal mengajar; tidak suka minuman yang memabukkan, tidak ringan tangan memukul, tetapi penyabar, bukan seorang yang suka bertengkar, tidak rakus dengan uang. Orang yang mengatur rumah tangganya dengan baik, anak-anaknya tunduk kepadanya dan membimbing mereka semua kepada kemurnian hidup. Sebab jika orang tak tahu bagaimana mengatur rumah tangganya sendiri, bagaimana bisa dia bisa mengurusi Jemaat dari Alaha? Dia janganlah orang yang baru bertobat, karena bisa berakibat menjadi sombong dan mudah jatuh dalam kutukan Setan. Lagi pula, dia harus memiliki laporan berkelakuan baik dari pihak luar; sehingga kelak dia tak mudah jatuh dalam cercaan, dan kena jerat perangkap setan.

Demikian juga para Diakon (Sh’masha) harus hidup murni, tidak lidah bercabang, tidak suka minuman keras, dan mereka tak suka perihal kenajisan; memegang teguh misteri rahasia Iman dalam hati nurani yang murni. Dan biarlah ini, “semua perihal rupa-rupa tingkatan Keimamatan, yang paling pertama wajib dibuktikan, dan kemudian tujuan mereka hanya melayani, dan didapati tak bercacat-cela.[106]”

PASAL III
Mikveh
(Baptisan)

Mikveh atau Baptisan adalah menyelamkan diri ke dalam air dan membasuh dengan air[107] dan ini dibagi dalam 5 hal: Pertama, membasuh kotoran yang lekat di badan, sebagaimana halnya umum dilakukan oleh semua manusia. Kedua, pembasuhan menurut tata cara Torah[108], di mana hal itu dimaksudkan dan dipercaya memurnikan diri di hadapan Alaha dari semua kotoran kedagingan yang melekat. Ketiga, tradisi-tradisi mandi dari para tetua, seperti “membasuh cangkir, bejana, bejana tembaga, bagian bawah alat- alat makan”, dan seperti “ketika barang-barang baru dibeli dari pasar, kecuali telah dibersihkan, mereka tidak akan makan jika belum di basuh[109].” Keempat, mikveh Yokhanan[110], dia gunakan mikveh hanya untuk Warta Pertobatan dan Pengampunan dari dosa-dosa. Kelima, mikveh dari sang Juruselamat kita[111], yang mana diterima, melalui sang Ruakh Ha’Kodesh, untuk karunia adopsi[112] sebagai anak-anak Alaha, bagi kebangkitan dari mati[113], dan bagi hidup kekal; yang mana “penyunatan dilakukan tanpa tangan lahiriah, memotong tubuh dari kedagingan dosa-dosa melalui sunat Mshikha.”[114] Sebab sebagaimana sunat dari kedagingan diberikan untuk suatu tanda menunjuk (dalam arti denotasi) mereka yang adalah keluarga Israel lama menurut kedagingan; maka mikveh Mshikha adalah suatu tanda hubungan rohaniah (a sign of spiritual relationship) terhadap Israel Baru (Nasrani), viz., mereka yang terpanggil, dan anak-anak Alaha. “Tetapi mereka yang menerima Dia, kepada mereka Dia memberi kuasa menjadi anak-anak Alaha[115].

Wujud bendawi Mikveh menggunakan air murni atau bersih. Apa bila orang tidak dilahirkan dari air dan sang Ruakh[116], dia tidak bisa masuk Kerajaan Alaha”. Bentuk atau Rumusan, dari mikveh yakni: “Dalam Nama sang ha’Av, ha’Ben, u’ Ruakh ha’Kodesh[117].” Menurut kata-kata dari sang Juruselamat kita. Ada juga Mikveh Keenam, yakni Mikveh Darah, seperti Tuhan kita telah mengindikasikan: “Aku harus dimikvehkan[118] dengan (darah), dan betapa susahnya hatiKu sebelum hal itu terjadi”. Ada juga Mikveh Ketujuh, yakni mikveh air mata pertobatan, seperti perkataan para bapa. Keduanya ini dimanunggalkan terhadap Mikveh Kelima, yang merupakan lambang kematian dan kebangkitan.

PASAL IV
Minyak Urapan Kudus
(Mshikna)

Minyak Urapan Kudus (Mshikhna) merupakan Tradisi Rasuliah[119], berasal-usul dari minyak konsekrasi oleh Para Rasul sendiri, dan yang melalui suksesi diwariskan turun temurun dalam Jemaat Alaha hingga sekarang. Tujuan penggunaanya kita belajar dari khasiat fisiknya sendiri, dan dari Kitab-kitab Suci. Kitab Ilahi (Alkitab) menginstruksikan kepada kita, menurut Torah, dikhususkan bagi Simbolis Keimamatan[120], atau kuasa bumiah[121], diurapi dengan minyak urapan. Dan dengan cara seperti itulah bagi kita; seperti diperuntukkan bagi Kerajaan Sorga dan bagi keimamatan sejati yang benar, kita harus diurapi dengan pengurapan simbolis semcam ini; agar mereka sungguh diurapi dari yang satu itu dan dari saudara-saudara Mshikha[122], yang melalui kesatuan yang tunggal dan kesatuanNya bersama dengan Alaha adalah sungguh dan urapan adikodrati. “Oleh karena itu, lihatlah sang Tuhan AlahaMu mengurapi Engkau[123] dengan minyak sukacita atas teman-teman sekutuMu.” Dia adalah sang Pengurapi dan sang Terurapi: sang Pengurapi melalui KeilahianNya, dan yang Terurapi melalui KemanusiaanNya.

Seperti halnya khasiat alamiah minyak, kita tahu kebanyakan seniman ahli lukis terkenal, setelah selesai melukis dengan semua bahan pewarna catnya, mengolesinya dengan minyak, hal itu dilakukan agar tidak cepat pudar dan rusak warnanya, atau tidak mudah rusak ketika bersentuhan dengan benda-benda lain. Dalam hal cara yang sama, mereka yang telah dihisabkan dalam keserupaan Raja Sorgawi maka dengan alasan yang sama diurapi, menghindarkan mereka dari kerusakan sepanjang masih menjalani kehidupan di dunia ini dan dari serangan perlawanan dari si Jahat. Benda Minyak Urapan berasal dari minyak zaitun murni. Rumusan Doa Rasuliah.

PASAL V
Persembahan

Persembahan (the oblation) adalah suatu upacara yang dilayankan oleh mereka di bawah ini terhadap mereka yang di atas, melalui unsur-unsur bendawi, dalam harapan pengampunan dosa-dosa dan jawaban dari doa. Persembahan kuno terdiri dari persembahan binatang-binatang[124] dan curahan darah dari tubuh hewan tersebut, tetapi sekarang bagi kita sang Anak Alaha Yang Tunggal (Miltha)[125], Dia mengambil bagi DiriNya Sendiri rupa seorang hamba[126], Dia korbankan tubuhNya Sendiri sebagai persembahan[127] kepada BapaNya bagi kehidupan dunia, dan oleh sebab itu Dia disapa oleh Yokhanan sebagai, “Anak Domba Alaha[128] yang menghapus dosa-dosa dunia.” Dan juga disebutkan akan DiriNya, bahwa “DarahNya[129] adalah Perjanjian Baru (Brith Chadasha), yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa.” Dan lagi pula: “Begitu besar kasih Alaha[130] terhadap dunia sehingga Dia telah memberikan PutraNya yang tunggal,” Yang dipersembahkan kepada Bapa-Nya (ha’Av) sebagai korban persembahan yang hidup[131], persembahan korban rasional bagi semua yang tercipta, dengan demikian memperdamaikan[132] dunia dengan KebesaranNya, dan membawa keselamatan bagi malaikat-malaikat dan manusia. Sekarang, melihat hal itu adalah tidak mungkin persembahan pengorbananNya di Kayu Salib bagi keselamatan semua umat manusia bisa identik diulang kembali, di setiap tempat, sepanjang abad, dan bagi semua umat manusia, tetapi hanya satu kali itu saja, tanpa adanya perubahan, Dia menatap dengan mata penuh kasih karunia, dan melakukan penuh kasih sayang dan dengan kearifan yang tidak terjangkau akal manusia; dan pada malam itu di mana Dia dikhianati demi kehidupan dunia, Dia mengambil roti dan meletakkan di tanganNya yang tak bernoda, kudus dan murni; kemudian memberkati, memecah-mecahkannya seraya memberikan roti itu kepada murid-muridNya dan Dia berkata kepada mereka, “…inilah tubuhKu yang sedang dipecah-pecahkan demi kehidupan dunia bagi pengampunan dosa-dosa, demikian pula, Dia memberkati cawan dan memberikannya kepada mereka seraya berkata “Inilah DarahKu dari Perjanjian Baru, yang mana ditumpahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa-dosa. Oleh sebab itu, ambillah, kamu makanlah semua roti ini, dan minumlah dari cawan ini, dan perbuatlah hal ini, kapan saja kamu berkumpul bersama, dalam mengingat akan Aku.” Melalui perintah Ilahi ini roti diubahkan[133] menjadi Tubuh KudusNya, dan anggur ke menjadi Darah MuliaNya, dan mereka memberikan kepada semua yang menerimanya dalam iman dan tanpa keraguan, pengampunan dosa-dosa, penyucian, pencerahan, dimaafkan, harapan kebangkitan besar dari mati, mewarisi sorga, dan kehidupan baru. Kapan saja kita bersentuhan dengan Qadishoth-qadishoth ini kita bertemu dengan MSHIKHA Dia Sendiri dan Dia kita tatang dengan tangan kita dan cium dan ambil bagian, kita sedang disatukan bersama Dia, Tubuh KudusNya bercampur dengan tubuh-tubuh kita, dan bercampur dengan DarahNya yang tak bernoda[134] dengan darah kita, dan melalui iman kita tahu bahwa Dia yang di Sorga dan Dia yang ada di Jemaat, menjadi tetapi satu Tubuh.

Unsur bendawi dari Qadishoth ini MSHIKHA mentahbiskan unsur gandum dan anggur, sebagai yang paling cocok merepresentasikan tubuh dan darah. Bentuk Rumusan yang Dia titahkan melalui pemberian sabda hidupNya, dan melalui turunnya Ruakh Ha’Kodesh.

PASAL VI
Ragi Kudus
(Melka)

Rasul-rasul (Shlikhim) Terberkati dan kudus, Thoma dan Bartholomeos dari yang Dua Belas Murid, Adai[135] dan Murid dari Tujuh Puluh, yang merupakan Murid-murid Timur (Talmidim), diperuntukkan bagi semua Jemaat-jemaat “Ragi Kudus” di Timur, dipelihara bagi kesempurnaan administrasi pelaksanaan Qadishoth dari Tubuh Tuhan kita hingga Maran Atah! Dan seharusnya orang-orang Kristen di luar Jemaat Nasrani menjadi iri hati dan sadar akan kemiskinan mereka terhadap fakta perihal yang disebutkan di atas bahwa hal ini dilakukan oleh Rasul-rasul (Shlikhim) bagi mereka yang di Timur saja sebagai Ragi Pemurnian ini, dilandaskan bahwa Shimon Mar Keipha, tetua Rasul-rasul, dan rekan-rekannya tidak melaksanakan Ragi Kudus itu bagi Jemaat-jemaat di Barat[136], dan seharusnya mereka keberatan terhadap kita dengan kata bijak ini: “Jika apa yang anda katakan itu benar adanya, kemudian satu dari dua konsekuensi harus dihasilkan: salah satunya Para Rasul tidak setuju dalam cara pemuridan mereka, yang mana tampaknya tidaklah demikian pemikirannya, atau tradisi yang anda pegang ini adalah sesat”. Membantah hal ini kita menjawab: Orang-orang Timur sejak dini dalam pemuridan mereka hingga sekarang tetap memelihara iman mereka sebagai kepercayaan suci, dan melaksanakan tanpa diubah-ubah. Kanon-kanon Rasuliah: Meskipun semua menganiaya mereka, mereka mengalami siksaan dari banyak raja-raja, mereka ditindas dengan membebankan kuk berat oleh penguasa asing, mereka tetap setia tidak mengubah shahadat mereka maupun kanon-kanon mereka.

Hal semacam itu diketahui dengan baik tentang mereka sebagai hamba-hamba yang setia dan seharusnya orang-orang Kristen wajib mengikuti kanon-kanon yang mereka bela ini. Terlebih lagi melestarikan Ragi ini, di negeri yang penuh dengan penganiayaan, di mana tidak ada orang-orang Kristen yang punya pengaruh dan kekuasaan menolong mereka ini, tak ada juga komando kekuasaan yang menyokong mereka, di manapun mereka ini selalu berada dalam aniaya, disakiti dan dipersulit.(*). Tanpa memiliki Ragi Kudus ini maka tidak ada kelanjutan suksesi rasuliah, sangat pasti, orang-orang Timur telah menyeberangi semua terpaan arus kesusahan dan penderitaan demi mempertahankan Ragi Kudus itu bersamaan dengan iman yang ortodoks. Kemudian, sebagaimana hal argumentasi mereka yang menarik garis dari Mar Keipha dan Rasul-rasul Besar yang memuridkan orang-orang di Barat (dunia Romawi), kita memiliki warisan ini untuk melawan mereka, — bahwa memang Rasul-rasul telah menerus-sampaikan (mengamanahkan) hal yang sama kepada orang-orang di Barat tetapi mereka mengubah iman yang satu itu, kanon-kanon juga dikorupsi oleh mereka yang ditundukkan kepada keinginan raja-raja yang bidat. Dan, atas bukti pernyataan ini, kita meminta apa bila mereka semua memegang teguh adat istiadat dari Rasul-rasul, maka orang Jerman tidak akan mempersembahkan Roti Tak Beragi, dan orang-orang Romawi (Yunani) tak mempersembahkan Oblasi Ragi; karena Rasul-rasul tidak mengajarkan seperti hal itu dalam dua hal yang berbeda di atas. Oleh karena itu, orang-orang di Barat telah mengubah iman dan kanon-kanon, dan bukan orang-orang Timur.

PASAL VII
Pertobatan dan Pengampunan Dosa-dosa

Ras manusia sudah sesat dan cenderung mudah jatuh dalam dosa, semua orang sudah jatuh dalam pencobaan dan rohaniahnya terjangkit berbagai rupa penyakit; maka sehubungan dengan hal ini keimamatan dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit rohaniah tersebut dengan gratis. “Jika anda mengampuni dosa-dosa orang lain[137], mereka akan diampuni”. “Mereka yang sehat tak butuh tabib[138]; tetapi mereka yang sakit itulah yang sungguh-sungguh membutuhkannya“. Dan, lagi: “Aku datang bukan untuk orang benar, tetapi bagi orang-orang berdosa yang butuh pertobatan.” Tiga perumpamaan yang saya kutip ini ada efek pembaharuan hidup, yakni Anak yang Boros[139], Seratus Domba[140],dan Dua Orang Berhutang[141], yang dimaksudkan menambah pengharapan orang-orang berdosa, dan membuka bagi mereka pintu gerbang pertobatan yang menuju ke sorga dan mengambil bagian kebahagiaan sorgawi. Dan contoh yang terlihat langsung, tentang kasus Shimon Keipha (Petrus) saat dia menyangkali MSHIKHA, dan Shaul (Paulus) setelah penganiayaannya, dan wanita yang berdosa, si Pemungut Cukai, dan si Pencuri di kayu salib. Namun, hal itu wajib dilakukan banting setir segera atas orang-orang percaya ketika mereka jatuh dalam kelemahan-kelemahan kodrat manusiawi mereka, semua kita tak bisa tetap tegak berdiri, mereka terkadang jatuh dalam kuasa dosa juga, saat mengalami kejatuhan dalam dosa mereka butuh Toko Obat Mshikhani, dan memberitahukan penyakit-penyakit mereka kepada Tabib-tabib rohaniah, bahwa melalui absolusi (pengampunan dosa) dan pertobatan mereka bisa mendapatkan penyembuhan jiwa-jiwa mereka, dan setelah itu pergi dan ambil bagian Pesta Perjamuan Tuhan dalam kemurnian, patuh terhadap aturan resep dokter yang terkenal, yang menuliskan demikian: “Tuhan kami telah memberikan ramuan resep-resep obat pertobatan kepada tabib-tabib yang terpelajar, Imam-imam dari Jemaat. Oleh karena itu, siapa saja, mereka yang telah kena wabah penyakit yang disebarkan oleh Setan, biarlah dia datang dan menunjukkan luka-lukanya kepada murid-murid dari sang Tabib Ajaib yang akan menyembuhkan dia dengan obat rohaniah”[142]. Hal-hal ini akan berkhasiat ampuh jika mereka melakukannya dalam iman yang sungguh[143], dan bukan dengan cara – cara duniawi, sebab “apa saja yang dilakukan tidak dengan iman adalah dosa”sama seperti beberapa orang yang melakukannya hanya demi uang, sehingga membuat hal yang suci ini menjadi dagangan, dan sebagai sumber keuntungan mata pencaharian sementara.

PASAL VIII
Pernikahan dan Keperawanan

Pernikahan setelah menerima pemberkatan dari MSHIKHA, mereka masuk demi kepedulian dan kerajinan seorang istri mengurus rumah tangga, membesarkan anak-anak dalam rasa takut akan Alaha, tanpa lalai atau berkeluh kesah, mata mereka jangan ditujukan kepada apa yang di miliki tetangga, Kitab Suci menyebutkan hal ini keadaan kudus: “Pernikahan itu mulia[144] dalam semuanya dan tempat tidur mereka adalah murni”. Paulus (Shaul) menjelaskan hal itu sebagai misteri segala sesuatu jauh di atas dunia ini: “Ini adalah rahasia besar[145], tetapi aku berkata mengenai Mshikha dan JemaatNya”. Oleh karena itu perceraian itu melanggar hukum kecuali karena disebabkan perzinahan, atau hal itu (ada alasan kuat) yang berkaitan dengan membahayakan jiwa melalui tiga bukti yang terlihat: ilmu sihir (klenik), mengkhianati iman[146], dan pembunuhan. Atau yang bertautan dengan tubuh: “Siapa saja menceraikan istrinya[147], kecuali karena kecemaran, menyebabkan dia melakukan zinah; dan siapa saja yang menikahinya terjerat dalam perzinahan[148]”.

Sehubungan dengan Keperawanan, pelayan dari bait Alaha berkata: “Aku tak punya perintah dari Tuhan[149]”. Sebab perintah dari Tuhan menitahkan manusia menikah. Tetapi orang harus berkeinginan memelihara keperawanannya-keperjakaannya, dan mengikuti teladan ini dengan penuh hormat, mencontoh Yokhanan sang Pemikveh, sang Juruselamat (Maran Yeshua Mshikha bar Alaha), Eliyah dan Shaul, diperkenankan melakukan hal semacam ini, bisa diterima atas ada izin, bukan perintah dari Alaha, lagi pula, bukan berarti disebabkan perkawinan itu sesuatu yang najis atau tak suci dan hina, tetapi perkawinan itu menuntut perhatian dan tanggungjawab besar, sementara itu jika dia ingin terjun langsung melayani beraneka macam orang maka pernikahan itu akan menjadi suatu hal yang membebani dan menyita banyak perhatian dan hal ini merintangi kemajuan pertumbuhan jiwa rohaniah orang itu dengan berbagai ikatan duniawi. Akan tetapi, meskipun begitu, dia yang membuat janji kaul keperawanan tidaklah menjadi malaikat rohaniah dalam teori dan praktek, dia tetaplah mudah jatuh dalam kelemahan manusiawi; sebab “setiap orang yang berperang dalam medan perjuangan haruslah membebaskan pikirannya dari hal-hal lainnya”.

[1] Ma’asei Shlikhim (Kis) 17:27[2] Devarim 6: 4[3] I Igeret al’Korintim 8: S-6[4] Basora Mar Yokhanan 1:1[5] Basora Mar Yokhanan 1:4[6] Ma’asei Shlikhim 9:15[7] Igeret al’Ivrim 1:3[8] 1 Igeret al’Korintim 1:24[9] Neabed Masha Bealman Akh D’Mutan (Bereshet 1:26)[10] Bereshet (Kej) 2.1[11] Bereshet 1.27[12] Bereshet 1.26[13] Igeret al’Ivrim 2.16-17. Basora Mar Yokhanan (Yoh) 2.21.[14] Bereshet 2.7-17[15] Bereshet 3.5[16] Bereshet 3.7-11[17] Bereshet 3.1 7-19[18] Bereshet 7.25

[19] Bereshet 11.1-9[20] Bereshet 17.10

[21] Shmot 20.1-1 7[22] Devarim 23.7-6[23] Tehillim 41.10-11[24] I.Malakhim 8.27. 1 Divrei ha’Yomim (Tawarikh) 2.6, 6.18; Ma’asei Shlikhim 17.24, Devarim 28.25[25] Devarim 4.27[26] Devarim 28.23-24[27] Devarim 28.38[28] Igeret al’Efesim 1.7-10[29] Bereshet 49 10-12[30] Devarim 18.15[31] Devarim 18.19 Ma’asei Shlikhim 3.23[32] Kohelet 16.4. Basora Mar Yokhanan 6. 31-34-49-50[33] Kohelet 17.6. Igeret al’Korintim 10.4[34] B’midbar 21.8-9[35] Tehillim 2.9: 10-45[36] Tehillim 110.[37] Iss. 7.14[38] Iss. 53.5 to the end.[39] Zekhar’ya 9.9[40] Daniel. 9 .26-27[41] Dan. 7.9[42] Dan. 7.13-14[43] Basora Mar Mattai 7.12 Basora Mar Lukas 6.31[44] Iyov 23. 2-9. Yokhanan. 1.18. 5.37. 1. Tim. 1.17. 6.16[45] Yoh. 1.14.Yokhanan 2.21-22. Ma’asei Shlikhim 17.31.[46] Igeret al’Ivrim 13.8[47] [48] Yokhanan 10. 30-38. 12.45. 14. 7-10. 11.7. Yokhanan 1.14. Igeret al’Ivrim 5.7. 10.5[49] Igeret al’Korintim 5.21. Igeret al’Galatim 3.13[50] Basora Mar Lukas 1.28[51] Basora Mar Mattai 1.20 Basora Mar Lukas 1.34-35[52] Basora Mar Lukas 1.32[53] Mattai 2.1-2[54] Lukas 2.10, 11, 14, 31.32[55] Lukas 2.40-52[56] Lukas 3.23[57] Lukas 3.1-9 Lukas 3.1[58] Mattai 3.13[59] Mattai 3.14-15[60] Igeret Petros 1.15-16[61] Mattai 3.13 . Yoh 3.5[62] Mattai 4.2 6.16-18 9.15 Lukas 5.35 Mattai 11.1-14 17.21 6.5-13[63] Mattai 12.19-20 5.39. 11.29-30 Yokhanan 13.14-15 Igeret al’Pilipi’im 2.5-8[64] Mattai 5.19-20[65] Kolasim 2.14 Ef. 2.13-19 15.1 al’l Korintim 15.3-8 12-20[66] 1. Tim. 6.13 juga 15.15[67] Ma’asei Shlikhim 1.3. Mattai 28.18[68] Lukas 24.50-51[69] Basora Mar Markus 16.19-20[70] Mattai 28.3[71] Yokhanan 17.3[72] Mattai 22.29-32 Lukas 14.14 Yokhanan 28-29. al’Ivrim 6.2[73] al’Ivrim 6.2 Ma’asei Shlikhim 17.31 Romanim 2.16[74] Yokhanan 6.68. 17.3[75] Mattai 5.28[76] Mattai 6 26-28[77] Mattai 6.34[78] Mattai 5.44[79] Lukas 17.21[80] Yokhanan 17.3[81] Daniel 9-25[82] Mattai 16.16[83] al’Pilipi’im 2.6-7[84] Lukas 1 .32-35[85] Yokhanan 1.14[86] Lukas 2.52.[87] [88] Shemot 1.1. Yokh. 1.1. al’Ivrim 1.10. Ma’asei Shlikhim 17.24. Kolasim 1.16-17 al’Ivrim. 11.3. Hitgalut (Wahyu) 4.1I. al’Ivrim 3.7-1I. Ma’asei Shlikhim 5.3-4[89] Igeret al’Efesim 2.4-6.[90] Mattai 16.16[91] Periodeute, suatu kunjungan Imam yang bertindak mewakili kehadiran Uskup (Sukana) dalam kunjungan Jemaat-jemaat dan Biara-biara.[92] Ma’asei Shlikhim 2.47, .5.11, 8.1-3, 9.31[93] Ragi Kudus biasanya mengacu sebagai Malka “sang raja”.[94] I. Igeret al’Korintim 1-18[95] I. Igeret al’Korintim 10.15-17[96] B’midbar Pasal. 16.17.26, v. 9.27.3. Yudas, 11[97] B’midbar 16.46-sampai selesai. Ma’asei Shlikhim 5.1-16[98] Mattai 16-19 dan 18.18. Yokhanan 20.23[99] Yokhanan 21.15-17[100] Yokhanan 20.22-23[101] B’midbar 16.40[102] 1. Tim. 4.14, 5.22. Titus 1.5-dst. Igeret al’Ivrim 6.2. Ma’asei Shlikhim 6.6[103] I. Tim. 3.1-13. Ma’asei Shlikhim 6.3[104] Shemot 30.22-33, 29.7. Vayikra 8.12[105] Ma’asei Shlikhim 2.4 6.6, 8 .15-18[106] I. Tim. 3.1-10.[107] Mattai 3.6-16, Markus 1.5, Yokhanan 3.22-23,
Bandingkan dengan Ma’asei Shlikhim 16.13 dan 16.15, Igeret d’Roma’im 6.4-5, Igeret al’Kolasim 2.12, Igeret al’Titu 3.5, 1.[108] Devarim 23.11, Vayikra 15.5, 17.15-16[109] Mattai 1.5.2-3, Markus 7.3-5-8[110] Mattai 3.5-12, Yokhanan 3.23, Ma’asei Shlikhim 13.24: 19.4[111] Mattai 3.11, Yokhanan 3.5, Yokhanan 1.33[112] II Igeret al’Korintim 6.18, Igeret al’Galatim 3.29, Igeret al’Galatim 4.4-7, Ef. 1-5,[113] d’Roma’im 6.3-5: 23, Cot. 2.12[114] Cot. 2.11[115] Yokhanan 1.12[116] Yokh. 3.5, Ma’asei Shlikhim. 8.36: 10.47[117] Mattai 28.29[118] Lukas 12.50[119] Igeret d’Ya’aqub 5.14, Markus 6.13[120] Shemot 30.22-30 & 29.7. Vayikra 8.12[121] 1. Shemuel 10.1, 16.13, I Malakhim 1.39, II. Malakhim 9.6, 11.12[122] al’Ivrim 2.17[123] Psi. 45.7, al’Ivrim 1.9.[124] Vayikra 4.4, dll..[125] Yokh. 3.16[126] al’Pilipi’im 2.6-7[127] al’Ivrim 9.14[128] Yokh. 1.29[129] Mark 14.24 dll[130] Yokh. 3.16 dan al’Ivrim 12.24[131] al’Ivrim 12.24[132] d’Roma’im 5.10, al’Efesim 2.16, II al’Korintim 5.19[133] Perubahan yang pengarang maksudkan, bukan fisik, tetapi lebih mengarah kepada kuasa yang ada menyertai Qadishoth Kudus ini bagi pengampunan dosa-dosa mereka yang ambilbagian Qurbana dalam iman yang sejati.[134] I al’Korintim. 10.15-17[135] Mar Addai, menurut opini umum adalah sama dengan panggilan sebagai “Taddai” satu dari murid Dua Belas, tetapi menurut orang lainnya, dia bersama dengan “Mar Man” (Mar Mari) disebut-sebut sebagai murid dari Tujuh Puluh.[136] Istilah Barat (Western) di sini menujuk (kata tunjuk denotasi) semua Kekristenan yang tunduk dalam kekuasaan Kekaisaran Romawi, disebut Kristen Barat. Dan Jemaat Timur, Jemaat – jemaat yang tak pernah tersentuh oleh tangan besi kekuasaan Romawi: Jemaat Yerusalem Semitik Kuno dan Gereja Assyria karena mereka berada di wilayah kekuasaan raja-raja wilayah Timur yang tidak takluk kepada Kekaisaran Romawi. Mereka umumnya berada di wilayah Timur: Asia Timur Jauh, Asia Tenggara, dan Timur Jauh. Jemaat – jemaat ini selamat dari infiltrasi ragi tercemar dari Barat. Mereka tidak ada kontak hubungan sejak awal hingga sekarang, sebagai dua pemikiran umat yang berbeda dan bertolakbelakang satu sama lain. Perbedaan itu bagaikan bumi dan langit. Kristen Barat sudah mengalami kerusakan Ajaran-ajaran Rasuliah karena ketidaksetiaan mereka memeliharanya, tidak ada rahmat Ruakh Ha’Kodesh lagi didalamnya, kecuali sebagai agama manusiawi yang kosong, seperti Wahyu-wahyu yang disampaikan Tuhan kepada Jemaat Yerusalem sejak zaman kuno hingga sekarang, dan Gereja-gereja Kristen Barat ini (pengaruh Romawi-Byzantium) seperti “Pot Bunga yang didekorasi indah, namun di dalamnya kosong, tergantung selera si empunya mau meletakkan aneka bunga fana di dalamnya, sebentar mekar dan layu dan dibuang ke api…” Itulah sebabnya begitu banyaknya muncul berbagai pengajaran sesat didalamnya, celakanya apa yang mereka pikirkan ini berasal dari Tuhan dan sesuai dengan Kitab Suci, kesudahannya mereka ada dalam penghakiman Tuhan kelak.[137] Yokh. 20.23[138] Mattai. 9.12-13[139] Lukas 15.11-32[140] Lukas 15.3-7[141] Lukas 7.41[142] Ini adalah kutipan dari Mar Narsay, dikenal luas sebagai Doktor (Teologi) dari Jemat Timur yang hidup di abad ke-5 dan banyak menuangkan hasil pemikirannya dalam tulisan. Ini juga dikutip dalam ibadah khusus dalam Khudra, untuk dibacakan pada hari pertama Mengingat dari Puasa Niniweh.[143] Roma’im 14.23[144] al’Ivrim 13.4[145] al’Efesim 5.32[146] I. al’Korintim 7.10-18[147] Mattai 5.32[148] Dalam bahasa Aramaik kata-kata “d’share” dan “ shwiqta” seperti yang digunakan oleh Maran Yeshua Mshikha bar Alaha menunjuk (denotasi) arti berbeda, terdahulu adalah ‘menceraikan’, yang kemudian ‘ memisahkan’, dipisah tetapi tidak diceraikan, demikian juga hal itu menunjuk kepada perkawinan pasangan berdosa dikarenakan perceraian.[149] I. al’Korintim 7:25

header niko 728 x 90

funika