KATEGORI KEIMAMATAN

/KATEGORI KEIMAMATAN
KATEGORI KEIMAMATAN 2018-02-08T08:41:55+00:00

nazarene indonesia KEIMAMATAN

Selamat datang di Laman TANYA JAWAB dengan kategori KEIMAMATAN. Semua hal tentang keimamatan di Perjanjian Baru yang sering ditanyakan akan diulas di sini. Semoga dari sini, para pembaca bisa memahami keimamatan dalam GNI.

KEIMAMATAN:

  1. Mengapa jemaat tidak secara otomatis adalah seorang Imam seperti tercatat dalam 1 Pet 2:9?

1Ptr 2:9  Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Alaha sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Jawab: Ayat 1 Pet 2:9 tidak menjelaskan bahwa jemaat Nazarene itu secara otomatis adalah Imam-imam tertahbis juga. Ini adalah kesalahan dalam menafsirkan ayat karena terpengaruh ajaran Sola Scriptura (Hanya Kitab Suci) yang diajarkan oleh Martin Luther di abad 16. Ajaran Nazarene abad 1, sama sekali tidak mengenal ajaran Sola Scriptura ini. Mengapa? Karena Pilar Iman bukan hanya Kitab Suci, melainkan juga Tradisi Suci. Dan jenjang keimamatan itu ada di dalam Tradisi Suci, sudah dibentuk oleh Maran Yeshua sejak abad 1 Masehi.

2. Apa yang dimaksudkan dengan Keimamatan Melkisedek?

Jawab: Keimamatan Melkisedek adalah Keimamatan Universal yang tidak bersifat Tribal (kesukuan). Contoh dari mulai zaman Adam sampai Perjanjian Sinai, seluruh dunia di bawah Torah Nuh dan sistem Keimamatan Melkisedek. Oleh karena terjadinya distorsi, baik pengajaran Torah dan Keimamatan maka Alaha membuat perencanaan contoh keimamatan melalui keturunan Yisrael dengan memilih Suku Lewi. Suku inilah yang mewarisi keimamatan tribal khususnya keturunan Harun.

Sementara Keimamatan Melkisedek dan Torah Nuh tetap berjalan di luar bangsa Israel, sehingga kita menemukan artefak keimamatan yang mirip dan moral Torah yang sama di seluruh dunia. Sedangkan Torah Musa dan Keimamatan Harun bersifat Tribalisme yang disebut Masa Dispensasi bagi Umat Pilihan Israel. Masa Dispensasi Yisrael berakhir pada zaman Yokhanan Ha-Mikveh (Lukas 16:16), lalu masuk kedalam dispensasi Keimamatan Melkisedek dalam Diri Yeshua yang diterus sampaikan kepada para rasul-Nya dan para uskup hingga masa kini. Keimamatan ini bersifat universal atau katolik. Sehingga Mar Saul (Paulus) menulis tidak ada lagi perbedaan Yehudim dan Goyim.

3. Bagaimanakah jenjang keimamatan di dalam Nazarene?

Jawab: Jenjang Keimamatan di dalam GNI terbagi 2:

  • Tahbisan Minor (dari bawah ke atas): 1. Kleris, 2. Verger, 3. Khazan, 4. Shaman, 5. Akolid, 6. Sub Shamahsa.
  • Tahbisan Mayor (dari bawah ke atas): 7. Shamasha (Diakon), 8. Qashisha (Imam/Elder/Kohen/Presbiter), 9. Uskup (Mebaqqer/Pastor/bishop).

4. Mengapa Imam dan Uskup GNI tidak selibat?

Jawab: GNI mengikuti pola keimamatan abad 1 Nazarene bukan pola pengembangan di abad 2 dan seterusnya. GNI berusaha melestarikan ajaran abad 1 sampai 3 di mana pengajaran masih bercorak semitik dan tidak terpengaruh ajaran lainnya.

Keimamatan dalam PB adalah terusan atau kelanjutan dari Keimamatan Lewi-Harus di PL. Kalau di dalam PL, tidak ada pantagan untuk menikah, maka di dalam PB juga demikian. Tugas seorang imam adalah untuk menjadi perantara antara jemaat dan Alaha (Tuhan), jadi tidak ada sangkut-pautnya dengan selibat atau menikah. Para rasul yang ditahbiskan Maran Yeshua juga banyak yang menikah, salah satu contohnya adalah Mar Kefa (Petrus), Uskup Antiokia. Nama ‘Petrus’ kemudian dicatut oleh Gereja Roma Katolik menjadi Uskup pertama mereka untuk menegaskan bahwa mereka adalah Gereja yang paling Utama atau Bunda Gereja. Kemudian di dalam ajaran Roma inilah dikembangkan ajaran para Imam dan Uskup itu harus Selibat. GNI bukanlah Roma Katolik.

Para Uskup dan Imam adalah para contoh teladan jemaat. Bagaimana mereka bisa menjadi contoh sosok kepala keluarga yang baik kalau tidak menikah? Bagaimana cara mereka memberikan konseling jika mereka tidak pernah mengajar anak dan istri?

5. Apa perbedaan antara Imam dan Uskup?

Jawab: Imam (Elder) memiliki semua hak dalam keimamatan kecuali MENTAHBISKAN. Hanya Uskup yang berhak melakukannya. Dari jemaat biasa, seseorang bisa ditahbiskan hanya oleh Uskup masuk ke dalam jenjang keimamatan dari Minor lalu masuk ke Mayor. Seorang Imam kemudian bisa ditahbiskan menjadi Uskup oleh beberapa Uskup, biasanya lebih dari satu Uskup kecuali dalam keadaan genting.

6. Apa perbedaan antara Uskup dan Uskup Agung? lalu bagaimana dengan Paus dan Patriakh?

Jawab: Di manta Alaha (Tuhan), Uskup, Uskup Agung, Paus, dan Patriakh adalah Uskup saja. Uskup adalah jenjang keimamatan yang paling tinggi. Jika jemaat menjadi sangat banyak maka dibutuhkan banyak uskup, maka akan dipilih KETUA USKUP, jadilah USKUP AGUNG. Di antara USKUP AGUNG bias dipilih menjadi PATRIAKH. Perhatikan bahwa tidak ada TAHBISAN lagi dari jenjang Uskup Agung dan lainnya, semua Tahbisan hanya berakhir sampai ke Uskup. Proses pemilihan Uskup Agung atau Patriak adalah seperti proses pemilihan yang dituakan.

7. Apa perbedaan antara Keimamatan di dalam Gereja Rasuliah dan Keimamatan Lewi-Harun?

Jawab: Sebenarnya Keimamatan Melkisedek (K PB) yang ada di dalam Gereja Rasualiah (Perjanjian Baru) adalah KELANJUTAN dari Keimamatan Lewi-Harun di PL (K PL). Adapun perbedaan di antaranya adalah sbb:

  • K PB tidak dialirkan berdasarkan darah suku (tribalisme), K PL hanya suku Lewi saja yang berhak menjadi Imam.
  • K PB bertugas sejak abad 1, sejak kedatangan Maran Yeshua untuk menggantikan keimamatan Lewi (K PL).
  • K PB bertugas di depan Mezbah sebagai ganti Bait Suci yang hancur, sementara K PL tidak bisa bertugas tanpa adanya bangunan Bait Suci Yerusalem.
  • K PB terikat pada Perjanjian Baru, K PL tentunya terikat pada Perjanjian Sinai/Musa/Lama.
  • K PB melakukan qadishot (sacrament) dalam Torah Mshikha (LAI: Hukum Kristus). Sementara K PL melakukan semua ritual dalam Torah Sinai di dalam Bait Suci.
  • Kepala atau Imam Besar K PB adalah Mesias (Meshika) yang adalah Putra Alaha, sementara K PL dipimpin oleh Imam Besar manusia.
  • K PB mempersembahkan kurban Darah Yeshua, sementara K PL mempersembahan darah hewan saja.

8. Apakah seorang Pendeta itu adalah setara dengan seorang Imam?

Jawab: Tentu tidak. Sejak abad 1 sampai 21, tidak ada jabatan KEPENDETAAN di dalam struktur keimamatan Perjanjian Baru. Nama PENDETA itu muncul saat Gereja non Rasuliah masuk ke Nusantara dan terkontaminasi ajaran Hindu. Pendeta adalah guru agama Hindu bukan pengajar ajaran Nazarene. Pendeta tidak pernah punya hubungan dengan Jemaat Perdana sekalipun mereka pandai berbahasa Ibrani dan Aramaik, sekalipun mereka pandai menafsir ayat-ayat Kitab Suci.

9. Apakah Tahbisan seseorang itu bisa hangus jika seseorang itu berdosa? Mengapa?

Jawab: Tidak akan hangus. Seorang Uskup sekalipun adalah manusia yang bisa jatuh ke dalam dosa juga. Yang membuat seseorang menjadi Uskup itu sebenarnya adalah ROH Kudus bukan Uskup lain. Uskup lain tidak pernah bisa melakukan semua ritual tanpa ada peran dari Roh Kudus ini. Semua Uskup harus mempertanggungjawabkan pengajarannya langsung kepada Maran Yeshua di pengadilan saat dia sudah wafat nanti.

Sebagai jemaat GNI, kami semua terus menghormati semua Uskup sekalipun mereka jatuh ke dalam dosa. Siapa yang berhak menghakimi kecuali Alaha? Semoga mereka bertobat. Maran kasihanilah kami semua..

10. Apakah Tahbisan seseorang itu bisa hangus jika seseorang itu mengajarkan hal yang salah? Mengapa?

Jawab: Tidak juga hangus. Seorang Uskup juga adalah manusia. Dia mendapatkan atau mewariskan ajran dari para Uskup terdahulu yang juga adalah manusia yang bisa salah. Semua manusia, semua Uskup bisa salah, bahkan konsili bisa salah dan ada contohnya dalam sejarah (selidikilah Konsili Florence Italia, Juni 1493).

Sebagai jemaat GNI, kami semua terus menghormati semua Uskup sekalipun mereka memiliki pengajaran yang berbeda dengan kami. Kami menghormati setiap perbedaan yang ada. Maran kasihanilah kami semua..

11. Apa pandangan GNI terhadap para imam dan uskup di Gereja Rasuliah lain yang berbeda pengajaran?

Jawab: Kami menghormati mereka sesame pewaris tradisi suci dan kitab suci Jemaat Awal. Kita harus mengucap syukur bahwa ajaran Nazarene yang berusia 21 abad ini masih terus ada, tidak punah di makan waktu atau kalah ‘bersaing’ dengan agama modern lainnya.

12. Apa pandangan GNI terhadap keimamatan di dalam gereja protestan dan pecahannya?

Jawab: Pada dasarnya kami menghormati semua rohaniawan termasuk yang ada di dalam Gereja Non Rasuliah seperti Protestan dan pecahannya. Kendati kami meyakini bahwa otoritas ilahi itu tidak ada pada mereka sejak era Martin Luther yang membuang Tradisi termasuk Tradisi Keimamatan, kami juga meyakini bahwa banyak di antara mereka yang berhati tulus melayani, berkorban banyak hal dalam mengajar apa yang mereka yakini sbg suatu kebenaran. Semua itu bernilai dalam kekekalan.

Keberadaan GNI di Indonesia adalah untuk mendorong mereka terus melayani Tuhan, tidak stop. Keberadaan GNI adalah untuk memperlengkapi mereka sehingga mereka bisa benar-benar menjadi para Imam atau bahkan Uskup yang ditahbiskan. Sehingga juga kita bisa sama-sama mewariskan ajaran kuno Nazarene dan bersama melestarikannya di Nusantara ini.

Keberadaan GNI bukan untuk menghakimi mereka, kendati banyak yang salah artikan kehadiran kami di Indonesia. Kami tidak berniat untuk berdebat, kami berniat untuk berdiskusi. Jika ada yang menolak, itu kami hormati, jika ada yang tertarik maka kami terbuka.

13. Apakah GNI juga memperbolehkan Imam dan Uskup wanita?

Jawab: Tidak. Tidak pernah ada Imam wanita di PL, demikian juga di dalam PB. Sekali lagi keimamatan PB adalah kelanjutan Keimamatan di PL. Peran wanita hanya bisa sampai jenjang Diakonisa.

14. Apakah GNI mentahbiskan Imam gay dan lesbi juga?

Jawab: Tidak, semua LGBT hendaknya bertobat, mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh berniat untuk hidup normal. Tidak pernah ada imam gay dan lesbi dalam jenjang keimamatan keuskupan kami, dan tidak akan pernah ada.

15. Mengapa topi imam dan uskup GNI mirip dengan Roma Katolik?

Jawab: Itu hanya topi saja. Topi Uskup atau para Imam GNI bisa berganti-ganti sesuai budaya local yang ada, bisa pakai peci, bisa blangkon, atau topi sesuai tradisi local lainnya. Itu tidak masalah. Kalau Uskup GNI ditahbiskan dengan menggunakan topi keimamatan Roma Katolik itu karena di keuskupan Australia memakai tradisi Roma Katolik. Perhantikan bahwa kami memiliki berbagai rantai tahbisan, dari Roma Katolik juga ada. Selain itu dari Syria dan Asyria. Kami kaya akan tradisi. Mengikuti pakaian keimamatan Roma Katolik dalam satu atau dua kegiatan bukan berarti kami mewarisi ajaran mereka.

16. Mengapa GNI bisa memiliki Uskup berdarah Indonesia padahal di Gereja Rasuliah lain sulit seorang Imam Indonesia naik ditahbiskan menjadi seorang Uskup?

Jawab: Imam dan Uskup di dalam PB memang terbuka untuk semua ras manusia. Jika ada Gereja Rasuliah yang masih mempertahankan Uskup harus dari negara tertentu, itu hak mereka. Itu bukan ajaran awal Nazarene. Orang Jawa, Ambon Batak, Manado, Nias, Aceh, Padang, Bali, Kupang, manapun berhak untuk masuk ke dalam keimamatan PB termasuk untuk menjadi Uskup jika memang dipilih.

17. Mengapa GNI tidak punya seorang Patriakh?

Jawab: Ini hanya masalah kuantitas. Komunitas GNI masih terbilang kecil, jika 10 tahun lagi di setiap propinsi di Indonesia ada paroki, bukan tidak mungkin kami memiliki banyak Uskup dan beberapa Uskup Agung kemudian memiliki 1 Patriakh.

18. Apakah para Imam Nazarene Indonesia juga menerima persepuluhan seperti halnya para Imam Lewi di PL?

Jawab: Bisa. Yang berhak untuk menerima persepuluhan atau Buah Sulung adlaah para imam, baik itu di PL dan di PB. Di dalam Sefer Limudah, jemaat dianjurkan untuk memberikan Buah Sulung kepada para imam atau uskup atau para nabi. Jika tidak ada maka bisa diberikan kepada jemaat yang hidupnya kurang mampu, atau sedang ditimpa musibah.

Untuk persepuluhan, tidak ada ayat Kitab Suci yang mengharuskannya. Namun sempat tercatat di dalam kitab Kejadian bahwa Abraham menyerahkan persepuluhan kepada Imam Melkisdek. Ayat tersebut dijadikan dasar oleh Uskup Agung John Cuffe sebagai landasan diperbolehkannya jemaat untuk memberikan persepuluhan mereka kepada para imam atau Uskup GNI dengan sukarela, tanpa ada pemaksaan dan tidak diharuskan.

Dalam tradisi GNI yang diajarkan oleh Alm Uskup Mar Nicholas, jemaat hendaknya memenuhi kebutuhannya masing-masing terlebih dahulu baru kemudian bisa memberikan persepuluhan kepada Uskup melalui bendahara paroki yang ditunjuk.

19. Apakah para Imam Nazarene menyunatkan jemaat?

Jawab: Sunat-menyunat jasmani tidak lagi ada di dalam PB. Dalam konsili I Yerusalem th 50 Masehi, di mana semua rasul masih hidup, mereka sempat membicarakan hal ini. Keputusannya adalah sunat jasmani bukanlah bagian dari tradisi suci Nazarene. Jika ada orang yang menyunatkan anaknya hendaknya mereka sadar bahwa itu diperbolehkan untuk hal kesehatan bukan dengan alasan teologia seperti di PL. Jemaat Nazarene adalah jemaat BP bukan PL.

Jika ada komunitas yang mewajibkan sunat dan mengaku-ngaku Nasrani itu bukanlah kami. Itu pasti hanya komunitas Yg Mirip Nasrani saja. Kalau ada Imam Nazarene yang mengajarkan hal sunat jasmani itu merupakan ajaran wajib maka dia pasti akan ditegur.

20. Mengapa para Imam atau Uskup GNI itu bekerja sekuler juga?

Jawab: Bekerja sekuler atau tidak itu sama sekali tidak melanggar aturan kejemaat Nazarene. Mar Shaul (Paulus) juga berkerja sembari mengajar padahal dia adalah Uskup Vagante (Uskup yang berkelana, tidak menetap). GNI adalah Gereja Rasuliah (GR) yang tidak mengedarkan proposal keliling untuk menjalankan pemuridannya, GNI juga tidak ditopang dana oleh pihak keuskupan Australia dan pihak Luar Negeri manapun. Jadi, demi berlangsungnya semua rangkaian pewartaan injil di Nusantara ini, kami bekerja. Keberadaan Full Timer bisa saja ad ajika suatu saat divisi atau unit usaha kami sudah maju. Maran Kasihanilah kami.

21. Apa saja bentuk pelayanan para Imam dan Uskup GNI?

Jawab: Seperti layaknya para Imam dan Uskup lainnya, memuridkan, meminpin peribadatan, sakramen, menikahkan, dan lain-lain. Bisa dilihat lebih detailnya di sini. KLIK INI.

22. Apakah para Imam dan Uskup GNI mau melayani non Jemaat?

Jawab: Tentu saja, kami ada untuk semua yang terbuka untuk berdiskusi yang ingin ikut serta mewariskan ajaran kuno Nazarene atau kepada mereka yang masih dalam tahap menjajaki.

23. Berapakah batasan usia seseorang untuk bisa menjadi Imam dan Uskup di GNI?

Jawab: Untuk Tahbisan Minor, bisa ditahbiskan jika mereka sudah akil balik. Untuk Tahbisan Mayor Shamasha di atas 20. Untuk Tahbisan Imam saat berusia 26 tahun sudah bisa, dan untuk Tahbisan Uskup bisa saat usia 30 tahun. Yeshua ditahbiskan menjadi pengajar atau gembala saat Dia dibaptis oleh Mar Yuchanan (Yohanes) di usia sekitar 30 tahun.