KATEGORI PERAYAAN

/KATEGORI PERAYAAN
KATEGORI PERAYAAN 2018-02-08T08:41:54+00:00

nazarene indonesia PERAYAAN

Selamat datang di Laman TANYA JAWAB dengan kategori PERAYAAN. Semoga dari sini, para pembaca bisa memahami siapa GNI itu sebenarnya.

PERAYAAN:

  1. Apakah Nazarene Indonesia terus merayakan Hari-hari Raya Yahudi di PL?

Jawab: Tidak lagi sebenarnya. Untuk lebih jelasnya, kita menerima bimbingan dari Uskup Mar Nicholas Lumbantoruan berikut ini:

Kami Jemaat Nasrani Indonesia tetap merayakan Perayaan Pesakh melebihi kaum Yahudi sendiri, di mana Pesakh itu dirayakan setiap saat yang kita sebut sebagai “Qurbana Qadisha” (Ekaristi), Savuot (setiap saat dilayankan lewat Doa Epiklesis/Shekhinah dalam Ibadah), Roti Tak Beragi (Bahan Perjamuan Kudus Tak Beragi), Buah Sulung sebagai Hari Kebangkitan yang dirayakan Tiap Hari Pertama (Yom Rishon) tiap Minggu dikenal sebagai Hari Tuhan, Yom Kippurim dirayakan tiap saat di depan mezbah dimana Imam memberi absolusi Pengakuan Dosa, Sukkot dirayakan tiap saat dimana kita manunggal (bersukkah) dengan Tubuh dan darah Yeshua, Perayaan Trompet/Shofar selalu dilakukan saat kita menghadap Kiblat Timur dengan konsep Maranatha yang disertai peniupan Shofar dalam memulai ibadah, dll. Ketujuh Perayaan ini selalu dirayakan Tiap Hari Sabat dan Hari Minggu oleh Jemaat Rasuli Kuno yang sudah disatukan dalam satu LITURGI, tetapi bisa dipisahkan pada periode mengikuti Kalender tahunan sebagaimana kaum Ibrani mengikuti penanggalan. Konsepnya, Jemaat Rasuli Kuno (khusus non-Yahudi) tidak lagi menjalankan 7 Hari Perayaan mundur kebelakang di zaman Sinai, kecuali kaum keturunan Yahudi. Secara umum kami merayakan 7 Hari Raya dan ditambah banyak Perayaan lainnya lagi yang dilandaskan pada Yeshua sejak 2000 tahun lalu hingga kedatangan-Nya kedua kali. Segalanya harus dipahami dalam konteks Yeshua, melalui Yeshua, oleh Yeshua, dari Yeshua, kepada Yeshua… Sementara dari zaman Yeshua mundur ke belakang ke zaman Sinai hanya sebagai “BINGKAI TEOLOGIS BUKAN ISI TEOLOGIS” dalam Perayaan-perayaan Perjanjian Baru

  1. Jadi perayaan Hari-hari Raya Yahudi (Moedim) Nazarene Indonesia berbeda dengan Mesianik Judaism?

Jawab: Kami pikir pasti jauh berbeda. Semua perarayaan atau peribadatan Nazarene sejak abad 1 selalu dipimpin oleh para Imam dan Uskup, sementara kaum Messianic Judaism tidak memiliki keimamatan ini.

  1. Mengapa GNI tidak merayakan Perayaan-perayaan Yahudi lain padahal itulah perayaan YANG TUHAN YHWH PERINTAHKAN UNTUK DILAKUKAN?

Jawab: Tuhan YHWH memerintahkan siapa? Keturunan Israel bukan non Israel. Tuhan YHWH kapan memerintahkannya? Dulu sebelum datangnya Yeshua. Semua perayaan tersebut digenapi oleh kedatangan Yeshua. Perhatikan konteks dalam membaca kitab suci, perintah Tuhan kepada Israel tidak pernah bisa ditujukan kepada bangsa-bangsa lain. Pengikut Yeshua adalah jemaat PB bukan lagi Jemaah Israel di PL. Semua keturunan Israel yang ingin terikat pada PB haruslah juga menjalankan tradisi mereka dari sudut pandang PB. Yeshua Sang Mshikha sudah datang.

  1. Bukankah Yeshua juga melakukan hukum Taurat, jadi kita sebagai pengikut-Nya harus melakukan Hukum Taurat juga termasuk merayaan perayaan-perayaan Yahudi?

Jawab: Yeshua ya memang melakukan Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat), namun ‘Hukum Taurat’ yang mana? Pengajaran Yeshua berbeda jauh dengan pengajaran Nabi Mosha di PL! Pengajaran Yeshua adalah penggenapan ajaran Mosha. Ada banyak perbedaan antara ajaran mereka berdua sebab memang zamannya juga sudah berubah.

Mosha mengajarkan hukum rajam, Yeshua tidak.

Mosha mengajarkan keimamatan Lewi, Yeshua mengajarkan keimamatan Melkisedek.

Mosha mengajarkan peribadatan di Bait Suci/Kemah Suci, Yeshua malah menghancurkannya.

Mosha mengajarkan kiblat Yerusalem, Yeshua mengajarkan kiblat TIMUR.

Mosha mengajarkan kurban hewan, Yeshua mengajarkan Kurban Diri-Nya (kurban Manusia).

Mosha mengajarkan perayaan-perayaan Yahudi, Yeshua mengajarkan perayaan lainnya di PB yang terdapat dalam tradisi Rasuliah.

Jadi, tolong pahami bahwa ada perbedaan yang membentang antara Ajaran Mosha dan Yeshua kendati keduanya sama-sama memakai frasa ‘Hukum Taurat’. Oleh karena ada banyak perbedaan, maka para rasul menyebut apa yang Yeshua ajarkan adalah ‘Torah Mshikha’ (Gal 6:2).

Gal 6: 2  (LAI) Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

Sebagai pengikut Yeshua, melakukan Hukum Taurat itu artinya bunuh diri rohaniah. Perhatikan pesan Mar Shaul ex-rabbi Yahudi Farisi berikut:

Rm 4:14  Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Alaha, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.

  1. Sebenarnya di mana letak perbedaan antara Perayaan-perayaan di PL dan di PB?

Jawab: Semua perayaan di PL mengacu kepada diri Yeshua Mshikha. Jadi perayaan-perayaan di PB focus pada Yeshua.

  1. Mengapa Perayaan terpenting (mayor) Nazarene Indonesia adalah PESAKH bukan yang lain?

Jawab: Pesakh adalah perayaan (peribadatan) yang dimandatkan langsung oleh Maran Yeshua.

Luk 22:19  Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Inilah puncak perayaan umat Nazarene, perayaan atau peribadatan ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah dibaptis. Perayaan lain, juga penting, namun tidak sepenting Pesakh yang mengedepankan Perjamuan Suci. Dengan perjamuan inilah seseorang bisa diselamatkan.

  1. Bolehkan non jemaat yang belum disunat ikut merayakan PESAKH di komunitas Nazarene Indonesia?

Jawab: Peribadatan dan perayaan GNI terbuka bagi siapa saja. Masalah sunat atau tidak disunat, sudah dibahas di Konsili I Yerusalem yang dihadiri oleh para rasul. Konsili tersebut menghasilkan keputusan, pengikut Yeshua tidak lagi harus disunat jasmani. Nazarene sejak abad 1 menekankan sunat hati.

  1. Bolehkan merayakan PESAKH dengan cara menghias telur paskah?

Jawab: Ini bukanlah tradisi Nazarene, ini adalah tradisi pagan kuno yang terus dilestarikan oleh banyak gereja. Silahkan saja lakukan asal tidak menarik juga ajaran pagan untuk masuk ke dalam pemikiran anak-anak yang mengikutinya. Jika tradisi ini bisa ditinggalkan, itu adalah tindakan yang lebih bijaksana.

  1. Apa saja perayaan-perayaan Minor Nazarene Indonesia?

Jawab: Perayaan minor GNI ada berbagai macam, dari memperingati Para Kadosa (Orang-orang kudus), Hari Mshikha, Pekan sengsara, Rabu pembasuhan, Rabu-Sabtu hening, dan lain-lain.

 

  1. Mengapa bisa ada perayaan untuk Orang-orang Kudus dan lainnya jika itu tidak pernah diperintahkan oleh Yeshua?

Jawab: Perayaan ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, ulang tahun perusahaan, ulang tahun gereja juga kita rayakan kendati itu tidak pernah Yeshua peritahkan. Ada perayaan Tahun Baru, perayaan Ucapan syukur suatu keberhasilan, perayaan membuka cabang perusahaan baru, dan lain-lain. Semua itu tidak diperintahkan oleh Maran Yeshua, namun dirayakan oleh banyak umat Kristen.

Fokus perayaan kita adalah sosok Yeshua, kita mengucap syukur pada-Nya atas semua anugerah yang Dia limpahkan kepada kita. Untuk hal tersebut, tidak perlu menunggu perintah, kita lakukan saja.

  1. Mengapa PESAKH bukan PASKAH atau EASTER?

Jawab: Sebenarnya ini hanyalah nama, wadah, atau kata saja. Yang terpenting bukanlah wadahnnya, melainkan isinya. GNI karena bercorak semitik maka lebih memilih nama semitik, yaitu Pesakh.

  1. Apa yang dirayakan umat Nazarene pada tgl 25 Desember?

Jawab: Ada dua hal yang kita rayakan pada tanggal 25 Kislev (Desember):

a. Perayaan Masa Konsepsi Miltha d’Alaha(Sang Anak Alaha masuk dalam rahim Miriam melalui Ruakh ha-Kodesh) dan Pewartaan malaikat Gabriel akan peristiwa Sejarah ini di Bumi sebagai Kabar Baik. (Lukas 1:26-35). Hitungan Tradisi Yahudi Desember ke- September Akhir atau Awal Oktober (9 bulan + 10 hari) jatuh pada Perayaan Sukkot. Nubuatan ini terdapat pada Zakaria 14:16, sebagai berikut:

ZAK 14:16 VHYH KL-HNVThUr MKL-HGVYM HB’aYM ‘yL-YUrVShLM V’yLV MDY ShNH BShNH LHShThChVTh LMLK YHVH TShB’aVTh VLChG ‘aTh-ChG HSKVTh.

ZAK 14:16 Dan akan terjadi pada waktunya, bahwa setiap orang yang tersisa dari semua bangsa yang datang menentang Yerusalem akan pergi berziarah dari tahun ke tahun untuk menyembah sang Raja YHVH Tzebaoth (L’Melek YHVH Tzebaoth), dan untuk merayakan perayaan Chag Sukkot.

Arti ayat Zakaria 14:16, … setiap orang yang tersisa dari semua bangsa; mereka kaum Yahudi perantauan dari keturunan-keturunan kaum Yahudi yang terserak diantara bangsa-bangsa di bumi ini, akan datang melalukan aliyah hagg (berziarah) ke Yerusalem untuk merayakan Perayaan Sukkot untuk menunaikan rukun Iman Yahudi. Ini merujuk kepada kaum Yahudi keturunan diantara Bangsa-bangsa dan bukan Bangsa-bangsa (Goyim) non-Yahudi yang datang ke Yerusalem sebab mereka tak punya hubungan sama sekali dengan perintah Perayaan Sukkot! Mereka datang ke Yerusalem untuk menyembah sang Raja YHVH Alam Semesta melalui Perayaan Sukkot.

Laporan Injil Lukas pasal 2:1-6, Injil Lukas 2:1-6, naskah ini mengalami pemenggalan ayat pada abd ke-4 M., setelah disalin atas perintah Kaisar Konstantinus kepada Uskup Kaeasarea, Eusebius untuk menghilangkan narasi Zakaria 14:16 perihal Perayaan Sukkot dialihkan menjadi sensus penduduk.   Sensus penduduk ini sebenarnya disertai dengan peungutan pajak bagi Kaisar Romawi untuk membiayai ongkos-ongkos roda pemerintahan Romawi yang sudah berjalan  tiap periode 14 tahun sekali, dan khususnya pemungutan pajak di Yudea sudah mulai sejak tahun ke- 16 S.M., oleh karena untuk membiaya ongkos perang dan pembangunan jalan Pax Romana yang dimulai sejak tahun 20 S.M. Uang hasil pengumpulan pajak ini tiap wilayah yang dikuasai Romawi dikirimkan ke “aerarium Saturni” (Bendahara Umum).

Sementara Yeshua lahir tahun 6 S.M., sehingga penarikan pajak melalui sensus penduduk sudah bukan hal baru lagi karena sudah berlangsung selama 10 tahun sebelum kelahiran-Nya. Kedatangan para peziarah Yahudi ke Yerusalem saat menunaikan ibadah rukun Iman 3 x setahun wajib datang ke Tanah Suci: Pesakh, Sukkot, dan Savu’oth dimanfaatkan dengan baik oleh penjajah Romawi untuk mengeruk keuntungan dengan menagih pajak bagi para peziarah sekaligus mengadakan sensus di tiap daerah.

Faktanya, sangat bertentangan dengan Iman Yahudi seperti dalam Zakaria 14:16 bahwa kedatangan mereka BUKAN untuk sensus penduduk, tetapi melaksanakan kewajiban merayakaan Perayaan Sukkot di kampong halaman leluhur mereka sendiri. Contoh, Yosip dan Miriam leluhur mereka adalah Raja Daud yang asal usul mereka di Beit Lekhem, maka mereka datang ke sana untuk merayakan Sukkot bersama Kerabat mereka yang tinggal di Beit-Lekhem. Jadi bukan datang untuk sensus penduduk! Jika untuk alasan sensus penduduk maka nyaris tidak ada satu orang Yahudi yang mau datang ke Yerusalem demi kepentingan bangsa yang mereka sangat benci terhadap penjajah Tanah Air mereka. Mungkinkah orang Yahudi yang tinggal di India, Cina, Jepang, Tibet, Asia Tenggara, Iran-Irak, Mesir, Briton, dll., mau bersusah payah hanya untuk sensus penduduk? Mustahil!!!

b. Perayaan Hanukkha Perjanjian Baru (Yoh 10:22-23)

Jemaat Yerusalem Nasrani Yahudi Awal merayakan Perayaan Hanukha (Pentahbisan Bait Suci). Pada masa abad ke-4 M., Bapa Gereja Barat, Epiphanius melaporkan perihal komunitas Nasrani Yahudi:

“…Mereka pada umumnya keturunan Yahudi dan tidak kurang lebih. Mereka tidak saja hanya memakai Kitab Perjanjian Baru, tetapi juga melaksanakan kebiasaan hidup Perjanjian Lama Yahudi; karena mereka tidak menyingkirkan Kitab-kitab Torah, Nabi-nabi, dan Tulisan-tulisan Suci lainnya… supaya mereka diakui oleh Yahudi (Yahudi yang tak percaya Mesias), mereka ini Umat Nasrani yang tak membedakan diri mereka dalam segala sesuatunya dan mereka mengakui semua dogma Yahudi berkenaan dengan rumusan Torah dan adat-istiadat Yahudi, kecuali satu hal yang membuat mereka beda adalah keyakinan terhadap sang Mesias (Mshikha)… Mereka mewartakan bahwa hanya ada satu saja Alaha dan PutraNya Yeshua Mshikha. Namun, mereka sangat terdidik dengan baik dalam bahasa Ibrani; sebab mereka sama seperti Yahudi lainnya, membaca keseluruhan Torah, kemudian Nabi-nabi… Mereka memang berbeda dengan Yahudi pada umumnya karena mereka percaya pada sang Juruselamat (Mesias) dan sekaligus berbeda pula dengan orang-orang yang menyebut dirinya Kristen yang dalam hal itu mereka hingga saat ini terikat dengan ritus-ritus Yahudi, seperti … Sabat dan Perayaan-perayaan lainnya.(Panarion 29).

Archbishop Mar John Reginald Cuffe menjelaskan juga dalam bukunya, Gereja Awal, beliau mengatakan bahwa:

Awalnya kaum Nasrani Yahudi merayakan Khanukha bersama mayoritas Yahudi lainnya sebagai deklarasi Iman Nasional Yahudi di mana sang Terang Ajaib telah memberikan kemenangan bagi mereka mengalahkan penjajah negeri mereka, sekaligus ini merupakan campur tangan Alaha bagi bangsa ini ditandai dengan Menorah yang tetap bernyala selama Delapan Hari tanpa suplai minyak. Perihal ini juga dirayakan oleh Maran Yeshua dengan kehadiran-Nya di Bait Suci yang dicatat oleh rasul Yokhanan, pasal 10 ayat 22-23, sebagai TANDA PERAYAAN INI ADALAH KANONIS UNTUK DIRAYAKAN ORANG PERCAYA DALAM YESHUA.

Setelah abad ke-2 M., setelah konflik internal terhadap kaum Yahudi mayoritas dengan Nasrani yang menyebut kaum Nasrani sebagai kaum “Minim” (bidat-bidat) dan juga konflik eksternal terhadap kaum Bangsa-bangsa yang menamakan dirinya Kristen (Kisah 11:26); maka pemahaman Perayaan Khanukha dipahami dalam konteks Perjanjian Baru sebagai inagurasi/pentahbisan Bait Suci Ke-III secara SPIRITUAL dan SORGAWI yang adalah Tubuh Yeshua sendiri (lihat, Yohanes 2:21-23, dan Wahyu 21:22) dan Orang-orang percaya Mshikha adalah sebagai Bait Alaha (1 Korintus 3:16).

Dengan demikian, Sang Terang telah bersukkah (berdiam) dalam Kedagingan Manusia melalui Miriam adalah haMakom (Tempat bersemayam) sang Terang Ilahi Sejati dalam manusia sehingga disebut sebagai Immanuel.(Yoh 1:14). Ini adalah Hanukkha (Perayaan Konsepsi terang masuk ke dalam dunia) seperti dijelaskan rasul Yohanes, pasal 1 ayat 9-10. Juga disebut sebagai Pentahbisan Bait Suci sejati yang tidak lagi terbuat dari bahan-bahan buatan tangan manusia tetapi melalui karya Alaha dalam Roh didalam roh semua umat manusia dan dalam Roh Alaha. Ini merupakan deklarasi bahwa kita tidak membutuhkan Bait Suci III secara Fisik dan duniawi yang kurang mulia sebab yang mulia dan sempurna telah dibangun sejak 2000 tahun lalu dalam Yeshua Mshikha.

  1. Mengapa GNI tidak merayakan NATAL 25 DESEMBER sebagai kelahiran Yeshua?

Jawab: Ini aslinya adalah Perayaan Pagan Dewa kelahiran dewa Mithra yang diadopsi kaum bangsa Romawi yang bersumber dari Persia. Ini adalah kelahiran Dewa dalam cerita dongeng keagamaan Persia yang diimpor menjadi Dewa di masyarakat Barat dan Kekeristenan pengaruh Hellenisme Yunani dan Latinisme. Memasuki bulan Desember ada sejumlah iman yang merayakan akhir tahun ini: Bagi Hindu, ini adalah masa perayaan Diwali, bagi umat Yahudi ini adalah waktu merayakan Khanukah, dan tentu saja, ini adalah waktunya bagi orang Kristen merayakan Natal.

Kaum Manikhaean juga merayakan musim dingin sangat penting ini sebagai Hari Raya yang disebut “Shab I Yalda”. Ini adalah perayaan orang Persia kuno yang dirayakan baik itu oleh kaum Manikhean dan semua orang keturunan Iran. Shab I Yalda barangkali baru bagi banyak orang (khususnya di Barat dan Kekeristenan Barat) barangkali mereka mengejutkan banyak orang pada masa kini bahwa Shab I Yalda adalah dasar bagi perayaan Natal bulan Desember.

Sekarang, akan ada sejumlah orang yang mulai muncul pertanyaan dibenak mereka, tapi saya akan menjawab sudut pandang kami, bersama dengan ringkasan informasi perihal karunia Yalda ini. Tanggal 25 Desember, sementara perayaan ini dirayakan oleh kebanyakan orang-orang Kristen di seluruh dunia sebagai tanggal-kelahiran Isho (Yeshua atau Yesus), sebenarnya tanggal kelahiran Yeshua ini TIDAK SEBENARNYA. Kalau begitu, dari manakah tanggal 25 Desember ini berasal? Kita perlu melihat kepada Gereja Roma Kristen Bangsa Non-Yahudi untuk ini. Agama Resmi Negara Romawi pada zaman kaisar Konstantinus naik pamor, ini dengan mudahnya meleburkan Mithraisme sebagai Kekeristenan.

Sementara itu ada perayaan-perayaan dari agama-agama pagan lainnya yang dirayakan oleh masyarakat Romawi, kultus yang berkembang pada zaman itu adalah Mithraisme, sangat populer diantara prajurit Romawi, dan Kekeristenan. Konstantinus dan ibunya bertobat kepada Kekeristenan, maka Kaisar berfokus untuk menjadikan Kekristenan agama utama Kekaisaran. Ini bukan tugas mudah karena Kekeristenan dipandang kultus pemberontakan di Roma untuk suatu waktu, meskipun begitu bersama dengan keluarga Kaisar memeluk iman ini, mayoritas masyarakat tidak mudah dipengaruhi dengan ide tersebut. Satu dari solusi bahwa Romawi harus mempertobatkan para penyembah berhala kepada Kekeristenan berikutnya mengambil alih  kuil-kuil tempat penyembahan berhala, tempat-tempat berkumpul dan bahkan perayaan-perayaan agama mereka, dan menempatkan Rekayasa Romawi didalamnya, tanpa perduli entahkah tempat-tempat tersebut cocok dan tepat bagi sejarah Kristen-Yahudi atau tidak.

Satu contoh terbesar dari ini adalah adopsi kelahiran Mithra sebagai tanggal kelahiran Mshikha (Mesias). Sementara itu para sarjana mengakui bahwa perayaan hari raya Romawi adalah kelahiran Mithra pada tanggal 25 Desember, sangat sedikit orang tahu perihal tanggal ini, adalah Perayaan orang Persia yang disebut “Shab I Yalda”, yang secara tradisional dirayakan selama 4 hari lebih awal pada Musim Dingin Titik Balik Matahari (Winter Solstice). (Ini bisa berbeda dalam Kalender Persia dan Romawi, perihal masa itu). Shab I Yalda adalah Malam Kelahiran Mithra. Shab I Yalda juga adalah Perayaan Musim Dingin Titik Balik Matahari (Winter Solstice).

  1. Apakah merayakan NATAL 25 Desember itu sudah pasti artinya adalah penyembahan kepada dewa pagan?

Jawab: tidak. Banyak orang yang menyudutkan gereja yang memiliki tradisi perayaan Natal 25 Desember itu merayakan perayaan pagan, itu keliru. Sebenarnya Perayaan Natal sendiri tidak pernah dirayakan oleh Jemaat Perdana Yerusalem yang kuat dengan tradisi semitik Yahudi mereka. Dalam budaya Yahudi, kelahiran itu tidak dirayakan.

Jika ada gereja yang merayakan maka itu tentu adalah ucapan syukur atas kedatangan Sang Juruselamat dunia. Perayaan tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyembahan berhala.

  1. Bolehkah merayakan Natal dengan memasang POHON NATAL?

Jawab: silahkan saja. Tradisi menghias pohon cemara ini memang bukanlah tradisi awal gereja, baru berkembang belakangan namun sama sekali tidak melanggar Torah Mshikha.