KATEGORI KRISTEN MESIANIK

/KATEGORI KRISTEN MESIANIK
KATEGORI KRISTEN MESIANIK 2018-02-08T08:41:54+00:00

nazarene indonesia MENJAWAB MESIANIK

Selamat datang di Laman TANYA JAWAB dengan kategori PERBANDINGAN DENGAN AJARAN KRISTEN MESIANIK. Kategori ini dimunculkan karena seringkali ada kesalahpahaman bahwa GNI itu disamakan dengan Kristen Mesianik. Semoga dari sini, para pembaca bisa memahami siapa GNI itu sebenarnya.

PERBANDINGAN DENGAN KRISMEN MESIANIK (KM):

PERBANDINGAN AJARAN PERIHAL NAMA SUCI

  1. Ajaran KM: Nama Tuhan (Personal Name) di dalam Tanakh (PL) itu hanya satu, yaitu ‘Yahweh’. Sementara ‘El’, ‘Eloah’, ‘Elohim’, dan lainnya adalah Generic Names.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Dalam Judaism, Nama Tuhan (Pesonal Names) dalam Tanakh itu ada sebanyak 72 nama

[1]. Sementara Nasrani meyakini bahwa Nama Tuhan itu ada banyak juga, bahkan Dia memperkenalkan nama yang berbeda saat Dia berkontak kepada bangsa-bangsa lain di luar Israel. Jadi, kata ‘Elohim’, ‘El’, ‘El Shaddai’, dll semua adalah Nama Tuhan (Personal Names). Pengerucutan Nama Tuhan menjadi satu saja, bukanlah ajaran semitik Nasrani, melainkan pandangan dari agama modern dengan tafsirannya sendiri.

  1. Ajaran KM: Nama ‘YAHWEH’ ada banyak di dalam Kitab Suci Tanakh dan Kitab-kitab PB Nasrani.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Tidak ada satupun Nama ‘Yahweh’ baik di dalam Tanakh maupun dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Kaum Nasrani atau para pemimpin Gereja Rasuliah kami. Tidak ada satupun nama ‘Yahweh’ di dalam kanonisasi kitab-kitab Perjanjian Baru. Yang ada adalah יהוה dibaca ‘Adonai’ atau ‘Hashem’ dalam Tanakh bahasa Ibrani dan ܡܪܝܐ dibaca ‘Maryah’ di dalam Tanakh aramaik dan kitab-kitab PB aramiak. Di dalam Septuaginta dan kitab-kitab PB Yunani juga tidak pernah tercantum Nama ‘Yahweh’. Nama ‘Yahweh’ hanya ada di dalam kitab-kitab terjemahan yang banyak dijual di toko buku, kitab terjemahan ini banyak di pakai oleh kaum Sacred Name Movement (SNM), salah satunya adalah KS-ILT. Nama (yod) ה (heh) ו (vav) ה (heh) atau יהוה dibaca menjadi ‘Yahweh’ hanya dipergunakan bagi studi dalam kalangan jemaat Gereja Rasuliah, bukan dalam pelayanan atau peribadatan, dan kitab suci. Hal ini dimaksudkan supaya Nama Suci ini tidak disebut secara sembarangan dan tetap kudus.

  1. Ajaran KM: Mengetahui pelafalan Nama Suci YHWH itu adalah ajaran yang sangat penting. Nama pasti mengandung karakter dan ajaran.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Dalam pemuridan Nasrani, pelafalan sebenarnya pelafalan Nama Tuhan (YHWH) itu tidak penting. Dari semua ajaran, yang sangat penting adalah ajaran MORALITAS. Percuma mengetahui banyak ajaran termasuk tahu pelafalan Nama Suci dengan benar kalau moralitasnya jeblok.

Dalam Nasrani (Gereja Rasuliah), jemaat diajarkan untuk memperbaiki diri, ini dibimbing setiap hari melalui Doa Harian 7x bagi yang mampu, dan bagi yang tidak, sebisanya. Dengan Doa Harian ini, semua jemaat diajarkan untuk sadar diri bahwa jemaat adalah orang berdosa, tanpa belas kasih Tuhan maka semua akan sia-sia. Jemaat dididik untuk meruntuhkan pilar-pilar kesombongan. Dibangun di atas dasar KERENDAHAN HATI tersebut ajaran-ajaran Nasrani lainnya bisa dengan mudah diserap. Tanpa kerendahan hati, maka seorang jemaat yang pintar tidak akan rela untuk menundukkan diri pada para imam di atasnya.

Selain Doa Harian, jemaat juga diajarkan untuk melakukan pengakuan dosa di hadapan jemaat di depan Altar dalam peribadatan sebelum menerima Perjamuan Suci. Pengakuan Dosa seperti ini adalah 1 dari 7 sakramen (aramaik: Qadasha) yang sudah diformulasikan pada abad awal.

Penekanan moralitas ini sangat fital, tidak ada jemaat yang bisa merasa lebih pintar dari yang lainnya. Tidak ada yang boleh sok tahu, semua pengajaran harus diterima, mengalir dari atas (uskup) ke bawah (jemaat). Pengajaran didiskusikan dalam tanya jawab dalam Makresta (pengajaran) dalam ibadah dan ruang-ruang pembelajaran. Semua pengajaran yang diyakini dan ternyata berbeda dengan ajaran Imam Tertahbis, maka semua ajaran tersebut dianggap salah dan harus dibuang. Tanpa kerendahan hati, tidak akan bisa seseorang melakukan hal ini. Moralitas seperti inilah yang sangat ditekankan dalam ajaran Nasrani.

Dengan semua mengacu kepada pengajaran uskup, maka pengajaran itu bisa dibuat tersusun rapih, tidak saling berbenturan di dalam jemaat suatu paroki. Namun, jika ternyata uskup yang mengajar itu bersalah dalam pengajaran, maka uskuplah yang harus bertanggung jawab, sebab dia adalah Wakil Tuhan. Tuhan sendiri yang akan berhitung dengannya. Jemaat diharuskan memiliki penundukkan diri, dengan modal ini, maka jemaat yang memiliki pengajaran yang salah, tidak bisa disalahkan. Jemaat sama sekali tidak punya hak untuk menafsirkan kitab suci. Jemaat hanya menerima pengajaran, lalu membenahi diri supaya memiliki moralitas yang baik. Moralitas tetap hal yang lebih utama.

Ada kalanya, ditemukan suatu Gereja Rasuliah berpindah keuskupan atau berpindah mata rantai tahbisan. Hal ini jamak dan terjadi juga pada GNI, berpindah dari AoJ ke Keuskupan di Australia. Keadaan ini bisa dipicu salah satunya karena pengajaran keuskupan (kepatriakhan) sudah menyimpang. Maka hanya ada 2 jalan, mengikuti yang keliru, atau berpindah keuskupan yang memiliki pengajaran yang benar. Sekali lagi, perpindahan ini adalah hal wajar, sudah sering terjadi di dalam sejarah Gereja Rasuliah. Pindahlah, tapi jangan sampai berdiri mandiri seperti Protestan, itu namanya TERPUTUS dari rantai tahbbisan. Berdiri mandiri seperti Protestan itu berarti keluar dari kesatuan Tubuh Mshikha.

  1. Ajaran KM: Yeshua mengajarkan pelafalan Nama Suci ‘Yahweh’ dan telah mengajarkan Nama Suci kepada semua orang serpti tercatat di dalam Yoh 17:6.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Yoh 17: 6 (Dukhrana Bible Research-Peshitta Murdock-LAI) ܰܘܕ݁ܥܶܬ݂ ܫܡܳܟ݂ ܠܰܒ݂ܢܰܝ ܐ݈ܢܳܫܳܐ ܗܳܢܽܘܢ ܕ݁ܝܰܗ݈ܒ݂ܬ݁ ܠܺܝ ܡܶܢ ܥܳܠܡܳܐ ܕ݁ܺܝܠܳܟ݂ ܗ݈ܘܰܘ ܘܠܺܝ ܝܰܗ݈ܒ݂ܬ݁ ܐܶܢܽܘܢ ܘܰܢܛܰܪܘ ܡܶܠܬ݂ܳܟ݂. I have made known thy name to the men, whom thou gavest me from the world: thine they were, and thou gavest them to me; and they have kept thy word. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 

Mar Yuchnan (Yohanes) penulis kitab ini adalah uskup untuk 7 Gereja Rasuliah yang berada di daerah Asia Minor. Salah satu muridnya adalah Mar Polikarpus, yang kemudian menjadi Uskup di Smirna. Mar Yuchnan sebagai seorang Uskup menulis Injil ini dengan cara mencatatkan ajaran lisan (Oral Torah/Masora) yang dia telah terima sendiri dari Maran Yeshua. Masora adalah tradisi. Jadi, sumber dari injil ini adalah tradisi Nasrani. Injil ini tidak turun dari langit atau hasil bisikan dari Tuhan. Dia menuliskan injil ini untuk melawan ajaran Gnostis yang berkembang saat itu, yang menolak bahwa sosok Yeshua adalah sosok Tuhan yang benar-benar menjadi manusia. Kaum Gnostik meyakini Yeshua hanyalah berupa bayangan. Hal inilah yang membuat Mar Yuchnan menulis kepada jemaat Gereja Rasuliah bahwa Yeshua adalah Sang Miltha Alaha (Firman Tuhan) yang menjadi manusia, ayat 1 dan 14.

Di dalam Tradisi Nasrani dijelaskan bahwa Maran Yeshua adalah seorang Rabbi Yahudi bukanlah pendeta penganut Sola Scriptura abad 16 yang tidak mengenal tradisi. Maran Yeshua juga bukan Rabbi Messianic Jewish yang terpengaruh Sacred Name Movemement. Semua Rabbi Yahudi memahami tradisi dan melakukan tradisi. Tradisi dan kitab suci (Oral dan Written Torah) Nasrani adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Maran Yeshua tidak pernah mengajarkan Nama Suci dilafalkan menjadi ‘Yahweh’ kepada 12 rasul dan 70 murid yang menjadi imam-imam di Gereja Rasuliah yang mereka dirikan. Saat para imam Nasrani memimpin peribadatan, Nama ‘Yahweh’ tidak pernah eksis di dalam siddur (liturgi) peribadatan. Siddur Mar Yakub HaTzadiq yang dibuat tahun 50 Masehi, siddur Mar Addai-Mar Mari yang dibuat tahun 55 Masehi, dan siddurim Nasrani kuno lainnya tidak pernah memuat nama ‘Yahweh’. Saat Maran Yeshua mengucapkan “Aku telah menyatakan Nama-Mu…” maka artinya adalah Maran telah mengajarkan siapa Sosok Tuhan Sementa Alam dan ajaran-Nya.

Semua jemaat di bawah pimpinan Uskup Mar Yuchnan di Asia Minor dan jemaat Nasrani yang telah menyebar di abad 1 yang menerima injil Yohanes ini, tidak pernah diajarkan bahwa Maran Yeshua mengajarkan pelafalan nama ‘Yahweh’.

  1. Ajaran KM: Nama Yahweh tidak boleh diganti-ganti, seperti nama manusia misalnya ‘Budi’ di Indonesia, sama saja ‘Budi’ di Eropa.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Nama Suci memang tidak boleh diganti-ganti namun cara mengucapkannya bisa berubah sesuai bahasa yang dipakai jemaat di setiap negara, misalkan ‘Tuhan’, ‘God’, atau lainnya. Tradisi pengucapan Nama Tuhan seperti ini sudah terjadi berabad-abad dalam berbagai cabang Gereja Rasuliah dan memang itu tidak melanggar Torah Mshikha. Di Indonesia, tanpa memandang rendah jemaat Gereja Rasuliah lain, jemaat Nasrani terus melestarikan pengucapan ‘Maryah’ seperti jemaat Church of the East pemilik Peshitta.

Jadi, kendati Nama Suci bisa berganti-ganti itu tidak melanggar Torah Mshikha  (LAI: Hukum Kristus) yang menjadi pedoman atau UU kehidpan berjemaat kami. Mungkin ini melanggar Torah Kristen Mesianik, tidak mengapa.

  1. Ajaran KM: Bukankan YHWH dibaca menjadi ‘Yahweh’? Tidak boleh menjadi ‘Adonai’!

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Pelafalan Sang Nama יהוה bagi jemaat Gereja Rasuliah adalah ‘Maryah’ bukan ‘Yahweh’. Kami melestarikan saja ajaran turun-temurun, tidak menggonta-ganti dan tidak juga merevisinya dengan tafsiran modern atau mengikuti pemahaman sarjana-sarjana Teologi. Para sarjana teologi bukanlah para pemimpin iman Nasrani. Para sarjana teologi bukanlah para leluhur iman Nasrani. Ke-12 rasul dan 70 Murid yang ditahbiskan Maran Yeshua, mereka para pemimpin dan leluhur iman yang mengajarkan kami.

Frasa ‘Maryah’ berasal dari dua kata, ‘Mar’ artinya ‘Maran’ atau ‘Tuhan/Tuan’, sedangkan ‘Yah’ adalah Nama Tuhan. Dalam tradisi Assyria, kata ‘Mar’ selanjutnya bisa ditujukan kepada seseorang yang dihormati, ini sebanding dengan kata ‘Sir’ di Inggris. Contohnya, Uskup Yerusalem I, Mar Yakub HaTzadiq dan Uskup Church of the East I, Mar Addai.

Membaca יהוה dengan ‘Yahweh’ adalah suatu tradisi baru yang dimulai oleh Sacred Name Movement (SNM) di abad 20. Ini bertentangan dengan tradisi Nasrani atau Gereja Rasuliah bercorak semitik. Tradisi Gereja Rasuliah semitik dalam mengucapan Nama Suci ini mirip (tidak terlalu sama) dengan tradisi Jawa yang mengajarkan, tidak sopan menyebut langsung nama orang tua atau yang dituakan. Orang Jawa dididik untuk mengucapkan kata ‘Bapak’ atau ‘Ibu’ di depan nama orang yang dihormati kendati usianya belumlah tua. Mengucapkan dan menulis nama orang tua di sana-sini tanpa ada kata ‘Bapak’ di depannya adalah pelanggaran tradisi. Tidak ada saksinya, tapi pastilah ditegur oleh orang tua jika diketahui mereka.

  1. Ajaran KM: Jangan ikuti Talmud Yahudi yang melarang mengucapkan Nama Yahweh, ikuti saja Kitab Suci. Talmud adalah tulisan para rabbi, sementara Kitab Suci itu adalah Firman Tuhan.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Tidak semua tradisi Farisi (Talmud) yang bertentangan dengan Tradisi Nasrani. Dalam hal ini kedua tradisi ini sama. Talmud adalah tradisi lisan yang dituliskan mulai di abad 1 Masehi. Jumlahnya sangat banyak, lebih banyak dari kitab Tanakh karena banyak ritual dan hal detail dicatatkan kembali supaya para penganut Judaism bisa tahu bagaimana isi Tanakh sesuai arti penafsiran kaum Farisi awal. Penganut Sola Scriptura membuang tradisi dan membuat tradisi sendiri-sendiri. Lalu denominasi Kristen Mesianik membuat tradisi mengucapkan Nama ‘Yahweh’ secara langsung yang berbeda dengan tradisi Nasrani dan Farisi.

Perihal Talmud adalah tulisan para rabbi, sebenarnya Kitab Suci juga demikian. Kitab Suci tidak turun dari langit, tidak ditulis oleh Tuhan sendiri. Keduanya penting bagi umat Yahudi dan tidak bisa dipisahkan. Tradisi dalam Nasrani juga dituliskan oleh para pemimpin Nasrani, ada yang menjadi kitab suci, ada yang menjadi tradisi tertulis (misnah). Baik tradisi dan kitab suci keduanya penting, tidak boleh hanya salah satunya. Semua Kitab Suci berasal dari tradisi, jadi bagaimana mungkin menghilangkan tradisi atau membuat tradisi baru yang bertentangan dengan tradisi kuno?

  1. Ajaran KM: Jemaat yang dibaptis dengan Nama Allah, bisa dibaptis ulang dengan Nama Yahweh atau dimateraikan kembali dalam nama Yahweh, Yeshua, dan Ruach HaQodesh.

Pebandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Pendeta dan RabbiRabbi Messianic Jewish tidak berhak untuk membaptis seseorang untuk menjadi jemaat Nasrani, mereka hanya berhak membaptis untuk menjadi anggota jemaat kehila modern masing-masing.[2]

Baptis air dan pemateraian adalah dua qadishotim yang berbeda dan dilaksanakan berurutan dalam ritual inisiasi seseorang menjadi jemaat Nasrani. Dalam inisiasi ini, seorang jemaat menjalani empat buah qadishotim (aramaik: qadasha). Keempat ritual qadoshotim ini tidak dituliskan detail di dalam Kitab Suci dan juga tentunya tidak ada di dalam materi pengajaran STT. Ini hanya ada di dalam oral Torah Nasrani, diajarkan di dalam seminari-seminari Gereja-gereja Rasuliah dari dulu sampai sekarang. Keempat ritual ini memiliki siddur masing-masing.

Yang pertama, Ritual Pengakuan Dosa. Seseorang yang berniat untuk benar-benar menjadi jemaat, tidak hanya mengucapkan doa saja. Dia harus mengatakan keinginannya bertobat meninggalkan kehidupan lamanya di hadapan Wakil Tuhan di bumi, dia harus mengakui dosa-dosanya kepada Sang Imam. Dalam ritual ini Imam akan memberikan wejangan dan menyatakan bahwa Tuhan telah menghapuskan dosanya.

Sefer Limudah 4:14 Akuilah dosa-dosamu dalam jemaat, dan janganlah melakukan ibadahmu dengan hati nurani yang jahat. Inilah jalan hidup.

A PENGAKUAN DOSA

Gambar Pengakuan Dosa di hadapan Jemaat. Sumber: foto koleksi penulis

Yang kedua, Ritual Baptisan Air. Ritual baptis air ini bermula dari kaum Eseni, sering disebut juga pentahiran. Kaum Eseni adalah kaum keturunan Imam Besar Zadok yang biasanya melakukan pentahiran dua kali sehari dengan membenamkan tubuh ke dalam air. Mereka melakukan hal tersebut berkenaan dengan pekerjaan mereka sebagai imam-imam yang setiap hari menjadi saksi pemotongan kurban. Pakaian dan badan mereka amis oleh darah binatang, sehingga mereka harus mentahirkan diri. Dengan kata lain, pentahiran ini sama saja seperti mandi di zaman modern ini. Semua orang Yahudi yang percaya pada kemesiasan Yeshua harus dibaptis air. Setelah itu mereka bisa disebut sebagai bagian dari jemaat Yahudi sekte Nasrani. Mengikuti hal ini, goyim yang percaya juga ikut dibaptis air.

B MIKVEH

Gambar Ritual Mikveh di sungai daerah Brastagi, Sumatera Utara oleh Uskup Mar Nicholas. Sumber: foto koleksi GNI

Yang ketiga, Ritual Baptisan Api (Mshikna atau pemeteraian atau Baptisan Roh Kudus). Tanda seseorang itu milik Tuhan adalah jika di dahi mereka memiliki tanda materai. Ritual ini melibatkan adanya minyak yang dioleskan di dahi mereka yang dibaptis. Pengolesan atau pemeteraian ini membuat seseorang itu resmi mendapatkan julukan Mshikhanim atau Kristen, yang artinya pengikut Meshikha (Yang Diurapi). Sang Mesias diurapi, demikian juga para pengikut-Nya diurapi atau dioleskan minyak. Bagaimana cara membuat minyak tersebut? Apa saja bahan-bahannya? Bagaimana cara mengoleskannya? Bagaimana cara menyimpan sisanya? Itu semua tidak ada di dalam Kitab Suci, hanya ada di dalam Tradisi Nasrani.

Yang keempat, Ritual Qurbana Qadisha (Perjamuan Suci). Di dalam ajaran 12 rasul Sefer Limudah semua telah ditetapkan bahwa orang yang belum dibaptis, tidak boleh menerima Perjamuan Suci.

Sefer Limudah 9:5 Dan jangan ijinkan satu orangpun makan atau minum Ucapan Syukurmu tapi kecuali yang telah di-mikveh kedalam sang Nama Maran. Sebab perihal kebenaran Maran telah mengatakan hal ini, “Jangan berikan perkara yang kudus kepada anjing-anjing”

Ritual ini adalah ritual yang sangat penting dan inti dari ibadah Nasrani. Saking pentingnya ajaran ini, saat Maran Yeshua menjelaskannya pertama kali kepada khalayak Yehudim, banyak dari mereka yang menolak dan pergi. Momen Perjamuan Suci adalah momen di mana jemaat menyatu dengan Tubuh dan Darah Meshikha. Bagaimana cara membuat rotinya? Bagaimana cara mempersiapkannya di altar? Bagaimana cara menyuapi ke dalam mulut jemaat? Bagaimana menyimpan sisanya? Bagaimana memilih anggur yang baik? Semua itu tidak ada di dalam Kitab yang ditulis para pemimpin Nasrani. Inofrmasi ini terlalu banyak untuk dituliskan ke dalam kitab tertentu, ini hanya ada di dalam tradisi (Oral Torah).

Ritual-ritual di atas bersama qadosha lainnya telah dirangkum atau dilembagakan oleh para rasul di abad 1 Masehi. Lalu diwariskan kepada para uskup yang ditahbiskan di semua Gereja Rasuliah untuk menggantikan posisi 12 rasul dan 70 murid. Karena satu dan lain hal, memang harus diakui adanya perbedaan dalam ritual-ritual penting ini, namun demikian, itu semua adalah perbedaan minor. Semua uskup di Gereja Rasuliah memahami adanya urut-urutan ritual dalam proses entenisasi seseorang kepada Sang Mshikha Yeshua. Tidak ada dari mereka yang membaptis dengan cara baru seperti menyelam seseorang dengan cara mengucapkan Nama ‘Yahweh’.

Jenis baptisan air di dalam ajaran Nasrani ada 2 (dua) jenis, yaitu selam dan tuang. Dalam ritual, air yang dipakai haruslah air yang mengalir, oleh karena itu dua jenis baptisan ini bisa dianggap sah. Baptis tuang biasanya dilakukan pada daerah yang kekurangan air atau terhadap orang yang sedang terbaring sakit. Tidak mungkin orang sekarat yang mau bertobat harus diselam, bisa-bisa mempercepat kematiannya bukan? Salah satu kitab yang bisa dijadikan referensi Baptisan Nasrani adalah Sefer Limudah.

Sefer Limudah 7:1 Dan tentang penyelaman, demikianlah kamu menyelamkan diri setelah mendaraskan semua aturan-aturan ini. Menyelamlah dalam Nama sang Bapa dan sang Anak dan sang Roh Kudus, dalam air mengalir [hidup]. 7:2 Dan jikalau tidak ada air mengalir [hidup], mikveh dalam air lain. Dan jika tidak bisa menyelam dalam air dingin, maka dalam air hangat pun boleh. 7:3 Dan jika tidak ada, tuangkanlah air tiga kali pada kepada, dalam Nama sang Bapa dan sang Anak dan sang Roh Kudus.

Tradisi Baptis atau Materai dengan Nama Yahweh oleh seorang pendeta adalah suatu tradisi anyar abad 21 yang terjadi di Indonesia. Ini adalah tradisi yang asing di mata jemaat Nasrani kuno.

  1. Ajaran KM: Nama ‘Yahweh’ harus dimasyurkan, semua jemaat Nasrani harus berani mengucapkannya, harus berani menuliskannya.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Yeshua tidak pernah menyebut nama ‘Yahweh’. Para rasul tidak pernah menyebutkan nama ‘Yahweh’ Jemaat Nasrani sejak abad 1, tidak pernah diajarkan mengucap Nama ‘Yahweh’. Sang Nama Kudus יהוה tidak pernah diucapkan demikian. Jemaat di dalam peribadatan mengucapkan nama ‘Maryah’ saat membaca tetragrammaton (ditambah tradisi membuat Tanda Salib). Hanya Imam Tertahbis atau jajaran keimamatan saja yang diizinkan mengucapkan Sang Nama di hadapan Altar dengan memakai Siddur Peribadatan Kuno Nasrani. Cara memasyurkan Sang Nama bagi umat Nasrani adalah dengan melestarikan ajaran Nasrani semitik dari abad ke abad. Dengan demikian makin banyak orang yang akan masuk ke dalam Perjanjian Baru dan diselamatkan.

  1. Ajaran KM: Bapa-bapa Gereja seperti Origen dan Jerome menyatakan adanya Nama Yahweh dalam Septuaginta dan naskah-naskah PB yunani.[3]

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Tidak ada 1-pun Bapa-bapa Gereja Rasuliah yang mengajarkan atau menyatakan bahwa ada nama ‘Yahweh’, baik di dalam Septuaginta apalagi di dalam Kitab-kitab PB. Origen (185-232) adalah seorang Imam (Presbiter) dari Gereja Coptic Alexandria, lalu Jerome (342-420) yang ditahbiskan menjadi Imam (Presbitter) di Gereja Syria Ortodoks Antiokia. Kedua Gereja Rasuliah ini, Coptic (dari rasul Mar Markus) dan Syria (dari Rasul Mar Keipha/Petrus) adalah Gereja Purba yang besar yang terus melestarikan ajaran kerasuliahan yang mengizinkan Nama ‘Allah’ tercatat dalam Kitab terjemahan dan siddur peribadatan mereka. Mereka sama sekali tidak mengajarkan nama ‘Yahweh’ sebagai nama Tuhan yang harus disebut-sebut.

Gereja Nasrani Indonesia masih memiliki rantai tahbisan dari Gereja Syria Ortodoks. Keuskupan GNI di Australia adalah Putri dari Gereja Syria Ortodoks, oleh karena itu, kami juga mewariskan ajaran mereka dan tidak pernah mendapat ajaran ada Bapa Gereja Syria yang menyebut nama ‘Yahweh’ atau mengajarkan nama ‘Yahweh’ ada di dalam naskah PB.

Gereja-gereja Kristen Mesianik di Indonesia dan komunitas-komunitas Messianic Judaism Modern di seluruh dunia tidak punya benang merah keterkaitan dengan Gereja Coptic dan Syira Ortodoks. Mencatut dua nama besar Imam Gereja Rasuliah untuk mendukung ajaran modern Mesianik adalah tindakan yang tidak terpuji.

  1. Ajaran KM: “…jika Anda sudah diberi pengertian tentang siapakah Yahweh, dan siapakah Allah yang adalah Nama dewa zaman Pra Islam dan juga telah dijadikan Tuhannya umat Islam, tetapi Anda menolak Yahweh, maka Firman Tuhan dalam kitab Ibrani 10:26 akan berlaku bagi Anda…”

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Ibrani 10:26 “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.”

Secara tradisi GNI meyakini bahwa Kitab Ibrani adalah salinan pengajaran-pengajaran Mar Shaul kepada orang-orang Yahudi saat dia mendekam di dalam dipenjara. Kemungkinan lain, kitab ini ditulis oleh Mar Yakub HaTzadiq yang menerima banyak input ajaran dari kaum Esseni Messianic Kuno.

Kitab Ibrani dan khususnya ayat Ibrani 10:26 sama sekali tidak ada hubungan dengan Nama ‘Yahweh’ yang didengung-dengungkan oleh peganut Sacred Name Movement di abad 20. Kitab Ibrani disinyalir ditulis oleh Mar Shaul berupa kumpulan pengajaran kepada jemaat Nasrani awal yang berdarah Yehudim. Sejak abad 1 Masehi para rasul dan 70 Murid termasuk Mar Shaul berpencar dalam ladang-ladang penginjilan dan mendirikan Gereja-gereja Rasuliah, mereka tidak pernah mengajarkan nama ‘Yahweh’. Nama asing ini tidak pernah dicatatkan di dalam siddur dan kitab-kitab.

Pada pasal 10, penulis kitab ini menyinggung Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat) yang mengharuskan adanya penyembelihan kurban-kurban (ayat 1), lalu darah kurban hewan tersebut tidak mungkin bisa menghapus dosa manusia (ayat 4), maka harus ada Kurban Yeshua (ayat 12) untuk menghapus dosa manusia. Darah-Nya adalah Darah Perjanjian. Kemudian, penulis menyinggung tentang keimamatan (ayat 21), lalu menyinggung peribadatan (ayat 25), kedua ayat ini menjelaskan adanya jemaat Gereja Rasuliah yang dipimpin oleh Imam Besar Yeshua dan tentunya imam-imam di bawah-Nya, lalu beribadah kepada Tuhan melalui imam-imam tersebut sesuai siddur Nasrani yang telah ditetapkan di abad 1 Masehi, contohnya siddur Mar Yakub HaTzadiq. Jemaat Nasrani tidak pernah beribadah dengan menggunakan siddur Messianic Judaism Modern. Jemaat Nasrani tidak akan bisa beribadah tanpa bimbingan Imam-imam.

Berikutnya penulis menyinggung perihal hukuman bagi yang berdosa (ayat 26), kemudian siapa yang dimaksudkan penulis bagi mereka yang ‘menganggap najis Darah Perjanjian’ (ayat 29). Ini menjelaskan bahwa yang dimaksudkan orang yang berdosa dan bagi dosanya tidak ada korban lagi adalah mereka yang sudah masuk ke dalam bilangan jemaat Nasrani lalu murtad keluar. Ini menceritakan mereka yang sudah dibaptis oleh para rasul (imam-imam Tertahbis) dan memakan Perjamuan Suci (termasuk minum Darah Perjanjian), lalu keluar dari jemaat. Bagi merekalah tidak ada lagi kurban penghapusan dosa.

Jadi ayat Ibrani 10:26, bukan tentang hukuman bagi mereka yang menolak Nama ‘Yahweh’, melainkan bagi mereka yang murtad dari jemaat Nasrani. Penafsiran ayat Ibrani yang keluar dari konteks ini adalah karena memang para pengajar Kristen Mesianik tidak punya hubungan dengan kaum Nasrani kuno, sehingga mereka tidak memahami Tradisi Nasrani di balik ayat-ayat kitab suci termasuk kitab Ibrani ini. Tradisi terlebih dahulu ada, barulah ada kitab suci.

  1. Ajaran KM: Menurut ayat Rom 8:11, jika seseoang menolak Nama ‘Yahweh’ maka dia tidak akan dibangkitkan.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Rom 8: 11 (Dukhrana Bible Research-Peshitta Lamsa-LAI)  ܘܶܐܢ ܪܽܘܚܶܗ ܕ݁ܗܰܘ ܡܰܢ ܕ݁ܰܐܩܺܝܡ ܠܡܳܪܰܢ ܝܶܫܽܘܥ ܡܫܺܝܚܳܐ ܡܶܢ ܒ݁ܶܝܬ݂ ܡܺܝܬ݂ܶܐ ܥܳܡܪܳܐ ܒ݁ܟ݂ܽܘܢ ܗܰܘ ܡܰܢ ܕ݁ܰܐܩܺܝܡܶܗ ܠܝܶܫܽܘܥ ܡܫܺܝܚܳܐ ܡܶܢ ܒ݁ܶܝܬ݂ ܡܺܝܬ݂ܶܐ ܐܳܦ݂ ܠܦ݂ܰܓ݂ܪܰܝܟ݁ܽܘܢ ܡܺܝܬ݂ܶܐ ܢܰܚܶܐ ܡܶܛܽܠ ܪܽܘܚܶܗ ܕ݁ܥܳܡܪܳܐ ܒ݁ܟ݂ܽܘܢ And if the Spirit of Him who raised our LORD Jesus Christ from the dead dwells within you, so he who raised Jesus Christ from the dead will also quicken your mortal bodies by his Spirit that dwells within you. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Surat kiriman (Igeret) Roma adalah hasil karya Uskup Mar Shaul (Paulus). Mar Shaul ditahbiskan menjadi uskup oleh para uskup (penatua) di Antiokia, hal ini tercatat di dalam Kis 13:1-3. Di abad 1 Masehi jabatan Imam dan Uskup (Presbitter dan Bishop) masih belum dibedakan. Jabatan ini memiliki hak untuk menahbiskan murid menjadi uskup. Atau bisa dibilang, uskup menahbiskan uskup. Karena itu, Mar Shaul bisa melantik Mar Timotius menjadi uskup di Efesus tahun 65 Masehi dan melantik Mar Linus juga untuk menjadi uskup di Roma. Semua jemaat Nasrani selalu dipimpin oleh uskup, demikian juga dengan jemaat di Roma. Di kota inilah jemaat berkembang dan akhirnya menjadi suatu kepatriakan besar yang dipimpin oleh Paus. Paus adalah nama administrisi, orang yang menjabatnya adalah seorang uskup juga. Paus (Bishop) memimpin Gereja Katolik Roma sampai di abad 21 ini.

Surat Roma memang ditujukan awalnya khusus untuk jemaat Gereja Rasuliah di Roma, namun saat kitab-kitab Nasrani mulai dikanon oleh masing-masing Gereja Rasuliah, Igeret ini dijadikan salah satu kitab pedoman pengajaran yang mendukung Pernyataan-pernyataan Yeshua di Injil. Jadi, posisi Igeret ada di bawah Injil. Surat Kiriman Roma ini sekarang dipegang oleh semua Gereja Rasuliah di bumi ini yang terus melestarikan Pentahbisan uskup-uskup sebagai pewaris ajaran Nasrani dan sebagai Wakil Tuhan di bumi.

Jutaan uskup yang sudah wafat dan masih hidup saat ini, termasuk uskup Gereja Nasrani Indonesia tidak pernah mengajarkan ayat Roma 8:11 ini berkenaan dengan Nama ‘Yahweh’. Tidak ada satupun nama ‘Yahweh’ di dalam Igeret ini. Tidak pernah ada pesan tentang nama ‘Yahweh’ di dalam Igeret lainnya.

Ajaran kebangkitan dalam Nasrani adalah setiap manusia yang wafat akan meninggalkan tubuh duniawinya (tanah kembali ke tanah), dan mengambil ‘Tubuh Yang Baru’. Tubuh inilah yang dibangkitkan dan memasuki alam roh.

  1. Ajaran KM: Tidak mau menyebut ‘Yahweh’, maka stoplah menyebut ‘Haleluyah’, sebutlah ‘Haleluallah’.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Penganut Judaism dan Nasrani yang keluar dari Rahim agama Yahudi ini tidak pernah melarang orang untuk menyebutkan ‘Halleluyah’. Semua orang boleh menyebut dua kata yang disambung menjadi satu ini. Menyembah Maryah Allah dengan menyebut ‘Haleluyah’ sama sekali tidak melanggar UU di republik ini, tidak melanggar Halakah, tidak melanggar Torah Mshikha. Sekalipun ada satu agama yang mematenkan kata ‘Haleluyah’ untuk menjadi milik mereka, hal tersebut tidak bisa menghentikan seseorang menyebutkannya.

PERBANDINGAN AJARAN PERIHAL NAMA ALLAH

  1. Ajaran KM: ‘Allah’ itu berasal dari nama Dewa Pagan[4], janganlah diucapkan karena melanggar perintah Tuhan di Kel 23:13.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Baik Judaism dan Nasrani memperbolehkan umatnya untuk mengganti kata ‘Eloah’ (ibrani) menjadi kata ‘Allah’ (Arab). Kata adalah suatu sarana atau wadah untuk mentrasportasikan suatu makna. Jadi yang terpenting adalah makna di dalam wadah kata tersebut, bukan wadahnya yang harus diributkan.

Ayat Keluaran 23:13 itu adalah perintah Tuhan untuk bangsa Israel bukan kepada pendeta dan umat goyim yang dipimpinnya. Lalu maknanyapun bukan berarti nama sesembahan agama lain tidak boleh diucapkan. Perhatikan bahwa kata ‘El’, ‘Baal’, ‘Kosher’, dan kata ‘Shamayim’ adalah kata-kata Ibrani yang diserap dari bahasa lain yang merupakan nama-nama dewa Kanaan. El bahkan merupakan nama dewa tertinggi bangsa Kanaan.[5] Hampir semua gereja di Indonesia pernah menyanyikan lagu dengan judul ‘El Shaddai’. Mereka tidak pernah menyembah dewa Kanaan.

Kitab Keluaran adalah 1 dari 5 kitab Mosha yang berisi tentang proses keluarnya bangsa Israel dari tanah penjajah Mesir dengan pertolongan Tuhan. Setelah Tuhan membawa keluar bangsa ini, di tengah gurun Sinai, Tuhan mengikatkan diri-Nya dengan 12 suku Israel ini dalam suatu perjanjian. Perjanjian ini disebut juga Perjanjian Sinai. Lalu karena bangsa Israel tidak bisa memegang isi perjanjian ini maka umat Nasrani meyakini bahwa perjanjian ini batal, bangsa Israel dibuang ke Ashur, 720 SM dan bangsa Yehuda di buang ke Babilon pada 586 SM. Mereka dibuang karena mereka menyembah berhala Kanaan. Jadi perintah-perintah Tuhan pada kitab Keluaran-Imamat-bilangan-ulangan itu diperuntukkan khusus untuk bangsa Israel, sekali lagi bukan kepada Gereja di abad 21. Kita harus paham cara membaca kitab sesuai konteksnya, jangan dicabut ke luar konteks.

  1. Ajaran KM: Menyebut ‘Allah’ maka sudah pasti doanya sampai kepada ‘Allah swt’ sesembahan umat Muslim.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Kata ‘Eloah’ (ibrani) bisa diganti dengan ‘Allah’ atau kata apapun sesuai dengan bahasa yang berlaku pada suatu negara. Pewaris ajaran Nasrani yang bermukim di timur tengah seperti Gereja Ortodoks Syria dan Church of The East yang mengucapkan ‘Allah’, tidak pernah bermaksud untuk menyembah atau berdoa kepada sesembahan muslim. Para Imam Tertahbis di Gereja Rasuliah ini tidak pernah mewarisi pengajaran Anti-Allah, mereka juga tidak pernah mendapatkan wahyu ilahi untuk melarang Jemaat Nasrani untuk mengucapkannya.

  1. Ajaran KM: Umat Nasrani tidak menyebut ‘Allah’ tapi ‘Elohim’.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Umat Nasrani Yehudim awal di abad 1 memang tidak menyebut ‘Allah’ melainkan ܐܠܗܐ dibaca ‘Alaha’ (Aramaik timur) atau ‘Aloho’ (Aramaik barat). Di dalam sinagoge, text Ibrani yang mereka baca adalah אֱל֫וֹהַּ ‘Eloah’ atau אֱלֹהִים ‘Elohim’. Mereka tidak berbahasa Arab, jadi kata ‘Allah’ itu asing bagi mereka. Asing, tapi mereka tidak anti seperti halnya penganut Islamologi ajaran dr Suradi. Umat Nasrani di Timur Tengah mengucapkan nama ini dalam peribadatan mereka, khususnya sejak abad 7 dimana Bahasa Arab mendominasi Bahasa Aramaik yang mereka gunakan. Perhatikan contoh seorang jemaat Church of The East yang menuliskan ‘God Bless You’ dalam bahasa arab di bawah ini:

C MENULIS KATA ALLAH

Gambar Jemaat Church of The East menulis kata “Allah’. Sumber: Facebook

Gereja ini sudah ada sejak abad 1, sejak Mar Addai-Mar Mari menginjil ke daerah Edessa lalu menyingkir ke Mesapotamia bertemu dengan komunitas Gereja Rasuliah lain di bawah pimpinan Mar Thoma. Jadi, tidak benar adanya pengajaran yang mencatut nama Nasrani yang anti menyebut nama ‘Allah’.

  1. Ajaran KM: LAI salah menerjemahkan dengan memasukkan nama ‘Allah’ karena penerjemahnya dahulu adalah seorang Muslim.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Semua terjemahan harus mengikuti aturan baku tata bahasa ke mana suatu naskah itu diterjemahkan. Apakah para penerjemah LAI punya kompetensi Bahasa Ibrani, Yunani, dan Indonesia? Silahkan bertanya pada mereka untuk klarifikasi hal ini. Jemaat Nasrani Indonesia memilih tetap melestarikan kata ‘Alaha’ (Aramaik) untuk penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia. Aramaik adalah bahasa kuno yang menjadi bahasa sehari-hari Maran Yeshua dan para rasul. Hanya Mar Shaul (Paulus) saja yang lancar menggunakan Bahasa Yunani di antara 12 rasul awal. Ada beberapa istilah Aramaik yang terus dipertahankan oleh penerjemah GNI dalam menulis siddur atau barisan ayat-ayat Peshitta. Hal ini dikarenakan kandungan makna dalam kata Aramaik tersebut jika diterjemahkan bisa menjadi bias. Tidak adanya kata ‘Allah’ di dalam siddur dan buku-buka materi seminari St Basil bukan berarti GNI adalah penganut Islamologi Anti Allah yang dipelopori oleh Alm dr Suradi.

  1. Ajaran KM: Nama ‘Allah’ atau ‘ALLAH’ atau ‘allah’ itu bukan berasal dari ‘Al-Ilah’ (Generic Name) namun itu adalah Nama Pribadi dari sesembahan umat Muslim, jadi umat Kristen tidak boleh menyebutnya.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Pertama, asal-usul kata ‘Allah’ itu dari ‘Al-Ilah’ atau bukan adalah debatable. Kedua, jemaat Gereja Rasuliah di Arab tidak memusingkannya. Kenapa? Karena kata ‘Allah’ yang mereka cantumkan dalam siddur dan kitab terjemahan mereka sudah berbeda makna dengan definisi kata ‘Allah’ pada awalnya. Kembali lagi, suatu kata hanyalah wadah transportasi makna di dalamnya, jadi yang penting adalah kandungan makna di dalamya bukan si wadah atau kulitnya.

Tentu saja, makna kata ‘Allah’ bagi umat Muslim dan bagi jemaat Gereja Rasuliah itu sangat berbeda. Ajaran kedua sosok ini berbeda. Kandungan, isi, ajaran dari sosok ‘Allah’ bagi pewaris ajaran Nasrani ini mutlak berbeda kandungan ajaran dalam agama Islam yang baru muncul di abad 7 Masehi. Persamaan kata, tidak otomatis menyamakan kandungan maknanya.

Dalam konteks ilmu bahasa, suatu kata bisa berganti makna setelah kata tersebut diucapkan pada rentang waktu yang cukup lama, apalagi kalau kata tersebut beralih ke daerah lain dan digunakan dengan tujuan berbeda. Perubahan makna kata dipelajari sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar, adapun aneka macam perubahan makna tersebut antara lain:

  • Generalisasi, perubahan makna menjadi lebih luas dari sebelumnya.
  • Spesialisasi, perubahan makna menjadi lebih sempit dari sebelumnya.
  • Sinestesia, makna menjadi tertukar,
  • Asosiasi, perubahan makna kata karena memiliki persamaan sifat.
  • Peyorasi, perubahan makna kata menjadi buruh dari sebelumnya.
  • Amelia, perubahan makna kata menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Jadi, kalau dilihat dari ilmu bahasa EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) Bahasa Indonesia kita di atas, maka kata ‘Allah’ yang dipakai oleh jemaat Nasrani di Arab mengalami perubahan kata ‘Amelia’. Kata tersebut yang dulunya dipakai untuk penyembahan kaum non Nasrani, diserap dan dijadikan kata dengan kandungan ajaran yang berbeda sehingga artinya menjadi lebih baik.

Kosakata Bahasa Indonesia sendiri menyerap beberapa kata yang dahulunya bermakna Nama Dewa suatu agama kuno. Misalnya antara lain: ‘Surya’, adalah nama Dewa Matahari bangsa India Kuno, ini berubah makna menjadi sinonim dari kata ‘matahari’. Lalu kata ‘Hyang’ yang merupakan nama lain dari Dewa Siwa agama Hindu (Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Kuasa)[6], nama ini diserap dan menjadi kata ‘sembahyang’. Arti kata ‘sembahyang’ bukan lagi menyebah Dewa Siwa agama Hindu, melainkan beribadah sesuai kepercayaan masing-masing. Dewi ‘Sri’ adalah nama dewi kesuburan di Pulau Jawa. Nama ini banyak diadopsi oleh wanita-wanita Jawa. Tentunya mereka bukan bermaksud untuk menyerupai atau menyembah dewi ini dengan menamai anak mereka dengan nama yang sama.

D PATUNG DEWI SRI

Gambar Patung Dewi Sri (Sridevi atau Nyai Pohaci Sanghyang Asri). Dewi kesuburan di Tanah Jawa dan Sunda. Sumber: Wikipedia.

Perubahan makna kata ini adalah hal yang wajar terjadi pada peradaban umat manusia. Umat Israel juga mengalami hal ini saat mereka menyerap kata ‘El’ untuk mereka tuliskan ke dalam siddur dan kitab suci Tanakh, padahal kata ‘El’ tersebut adalah Nama Dewa Tertinggi dari orang Kanaan Kuno. Tentu saja, mereka mengganti makna dari kata ini. Ajaran ‘El’ bangsa Israel itu berbeda dengan ajaran ‘El’ bangsa Kanaan. ‘El’ adalah Sang Bapa sementara ‘Asherah’ adalah Sang Bunda dari semua dewa Kanaan. Seperti yang tertulis dalam prasasti Ugaritik.[7]

Iman Nasrani tidak pernah bertentangan dengan sejarah. Iman Nasrani adalah penyembahan kepada Sang ‘El’ Maryah yang memiliki kandungan ajaran awal bercorak semitik abad 1 Masehi. Ini bukanlah penyembahan kepada sesembahan agama lain yang memiliki ajaran yang berbeda. Nasrani dan Islam adalah dua agama yang berbeda. Kendati memiliki nama atau kata sesembahan yang sama, bukan berarti ajarannya sama.

  1. Ajaran KM: Tuhan ada dibelakang pemerintah Malaysia saat MA mereka memutuskan umat Kristen dilarang memakai nama ‘Allah’.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Tuhan tidak plin-plan, kalau Dia tidak mempermasalah umat Nasrani di Arab mengucapkan ‘Allah’ dalam peribadatan pada abad awal sampai sekarang, maka Dia juga tidak mendorong MA Malaysia untuk melarang umat Kristen mengucapkan kata ini.

E NAMA ALLAH DI MALAYSIA

Gambar Umat Islam Malaysia demo melarang umat Kristen memakai nama ‘Allah’. Sumber: suara-islam.com 

  1. Ajaran KM: Doa kepada ‘Allah’ akan salah alamat dan tidak sampai.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Tuhan itu maha tahu, sebelum manusia mengucapkan doa untuk kebutuhannya, Tuhan sudah paham. Bahkan sebelum si manusia itu dilahirkan, Tuhan sudah tahu detail kebutuhannya, Dia merancangkan kebaikan untuk manusia yang Dia ciptakan. Doa adalah sarana manusia memiliki hubungan intim dengan Tuhan yang bisa disebut dengan banyak nama.

  1. Ajaran KM: Tidak ada kata ‘Allah’ di dalam Kitab Suci Nasrani, jadi jangan diucapkan.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Nama ‘Yahweh’ dan nama ‘Allah’ memang tidak pernah ada di dalam Kitab Suci Nasrani, baik yang berbahasa awal Aramaik ataupun Yunani. Kedua nama ini asing, tidak ada.

Setiap gereja memiliki halakha-nya masing-masing. Kalau Kristen Mesianik yang lahir di abad 21 ini memiliki tradisi tidak mengucapkan nama ‘Allah’ itu kami hormati, silahkan terus pertahankan. Tradisi Nasrani yang kami pegang sejak abad 1 berbeda.

Kitab suci dalam PB ditulis dari tradisi-tradisi Nasrani oleh Gereja Rasuliah. Kitab Suci tadinya dituliskan hanya untuk jemaat Gereja Rasuliah saja, misalnya Igeret Roma, ini adalah tulisan Mar Shaul untuk jemaat Gereja Rasuliah yang kemudian dipimpin oleh Uskup Mar Linus, murid Mar Shaul dan Mar Clementinus, murid Mar Keipha. Lalu Kitab Wahyu, ditulis oleh Mar Yuchnan (Yohanes) untuk Gereja-gereja Rasuliah di Asia Minor. Gereja-gereja ini lalu dinaungi oleh Gereja Ortodoks Syria kemudian caplok ke dalam wilayah Gereja Byzantium. Kitab-kitab di abad 2 dan seterusnya dituliskan juga adalah kitab yang diperuntukkan kepada jemaat Gereja Rasuliah, bukan untuk umat Hindu, Budha, Islam, dan juga bukan untuk gereja non rasuliah di abad 21 ini.

Seiring waktu berjalan, kitab suci Gereja Rasuliah ini menyebar terutama sejak dimulainya ajaran Sola Scriptura (hanya berpedoman pada Kitab Suci). Semua tidak mau tunduk pada Imam Tertahbis, semua mengaku bahwa masing-masing adalah jemaat dan sekaligus imam. Semua orang tidak lagi berada di dalam kesatuan jemaat gereja pewaris ajaran para rasul. Mereka berbondong-bondong untuk memiliki, membaca, dan yang mengherankan adalah berani menafsirkan ayat-ayat kitab suci tanpa memahami tradisi. Dari era inilah muncul terjemahan kitab yang beraneka macam bahasa. Dan dalam Bahasa Arab, kata ‘Allah’ itu ada.

Umat Nasrani tidak mempermasalahkan bahwa kitab Nasrani ini menyebar dan dikomersilkan, uang masuk ke kantong penerjemah dan pihak percetakan. Tidak menjadi masalah. Dan saat ada terjemahan yang mencantumkan kata ‘Allah’ juga tidak masalah. Saat ini jemaat Gereja Rasuliah yang bermukim di Arab juga menggunakan bahasa Arab yang di dalamya tentu ada kata ‘Allah’. Ini tidak menjadi persoalan.

PERBANDINGAN AJARAN PERIHAL NAMA MESIAS

  1. Ajaran KM: Nama ‘Yeshua’ tidak bisa diganti-ganti. Tidak boleh diganti dengan ‘Jesus’ atau ‘Yesus’, tidak ada manusia yang namanya mau diganti-ganti.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Nama Mesias disebutkan beragam dalam jemaat Nasrani yang tersebar ke banyak negara dengan bahasa-bahasa yang berbeda. Di Mesopotamia disebut ‘Eashoo’ dan ‘Eashoa’, di Roma dan Konstantinopel disebut ‘Iesous’, di Arab disebut ‘Isa’, dan lain-lain. Nama-nama ini telah dituliskan ke dalam siddur Nasrani dari abad ke abad. Perubahan nama akibat perbedaan bahasa ini sering disebut sebagai ‘transliterasi’. Transliterasi ini adalah hal wajar dalam sudut pandang bahasa. Transliterasi bisa terjadi karena bahasa dan logat di dunia ini tidak ada yang sempurna. Semua ada kelebihan dan kekurangannya. Nama Ibrani ‘Yeshua’ menjadi ‘Iesous’ akibat di dalam kosakata Yunani tidak ada huruf ‘Y’ lalu akhiran ‘a’ hanya untuk nama wanita. Jika nama ‘Yeshua’ dipertahankan maka mereka akan menganggap Sang Mesias ini adalah wanita atau kewanita-wanitaan.

Di Indonesia, jemaat Nasrani dididik untuk melestarikan nama Ibrani-Nya: ‘Yeshua’. Keuskupan GNI di Australian yang biasa menggunakan Bahasa Inggris, mereka menyebutnya, ‘Jesus’. Nama transliterasi bisa berbeda, namun ajaran-Nya jangan. Jemaat Gereja Nasrani Indonesia tidak diajarkan merasa paling benar karena menyebutkan nama Ibraninya, dan tidak memandang rendah mereka yang mengucapkannya sesuai rasa budaya masing-masing di Indonesia. Yang penting bukan nama asli atau translasinya, yang penting adalah ajaran-Nya yang membuat moralitas kita menjadi baik.

  1. Ajaran KM: Nama ‘Jesus’ itu berasal dari nama Dewa ‘Zeus’.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Para imam Nasrani tidak pernah mengajarkan nama ‘Jesus’ berasal dari nama dewa tertinggi Yunani ‘Zeus’. ‘Jesus’ itu berasal dari ‘Iesous’ yang ditranslasikan dari ‘Yeshua’. Akhiran ‘a’ dalam budaya Bahasa Yunani biasanya digunakan untuk nama wanita, sehingga menyebut nama ‘Iesua’ akan membuat mereka menjadi canggung. Itulah sebabnya mereka menyebutnya dengan ‘Iesous’, mereka tidak memiliki perbendaharaan huruf ‘Y’. Perubahan nama ini tidak akan disertai perubahan ajaran kalau saja ajaran tradisi dan kitab suci Nasrani terus wariskan dari abad ke abad.

  1. Ajaran KM: Nama Mesias itu ‘Yeshua’ atau ‘Yahshua’

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Jemaat Nasrani tidak pernah memperdebatkan Nama Mesias. Namun nama ‘Yahshua’ tidak pernah kami pakai selama 21 abad ini.

PERBANDINGAN AJARAN PERIHAL HUKUM TAURAT

  1. Ajaran KM: Sunat adalah kewajiban.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Sunat adalah tradisi dari pewaris ajaran Farisi. Ritual sunat adalah bagian dari tradisi dalam Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat) yang ditarik kebelakang lagi dipegag oleh keturunan Avraham. Sunat dalam agama Yahudi bukanlah sunat dengan mantri atau dengan dokter. Ritual sunat Yahudi meliputi keterlibatan mohel (si penyunat), dua orang tua yang disunat, kursi kosong Eliyahu, kakek dari yang disunat, dan lain-lain. Ritual ini berjalan sesuai siddur.

Bagi umat Nasrani Goyim (Kristen), sunat tidaklah dibebankan. Ini sudah merupakan keputusan Konsili Yerusalem th 50M yang dipimpin oleh Uskup Mar Yakub HaTzadiq dan Uskup Mar Keipha (Petrus). Semua pemimpin Nasrani awal, yaitu 12 rasul (minus Yudas Iskaryot) ditambah 70 murid menghadiri konsili pertama tersebut sebelum mereka berrpencar untuk mendirikan Gereja-gereja Rasuliah. Cerita tentang konsili besar ini sekilas tercatat di dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 15. Ada perbedaan ajaran yang meruncing di antara jemaat. Kelompok Ebionit yang menekankan bahwa goyim Nasrani harus disunat sesuai ritual Yahudi, kelompok ini melawan Mar Shaul (Paulus) dan lainnya. Ebionit dinyatakan salah, lalu secara bertahap mereka keluar dari Nasrani di abad 2 dan punah. Punahnya mereka bukan berarti ajarannya juga punah.

Kaum Ebionit adalah mereka yang meyakini Yeshua sebagai Sang Mesias namun tidak meyakini keilahian-Nya juga. Ajaran mereka sempat mempengaruhi Uskup Gereja Coptic Alexandria sebelum pada akhirnya diekskomunikasi atau dikucilkan. Pengajaran mereka dicontek oleh penggagas ajaran Saksi Yehova, Churles Taze Rushell di abad 19. Ajaran ini juga berkembang dengan baik di Indonesia sekarang.

Kembali ke konsili Yerusalem dan sunat, sejak abad 1 sampai 21 ini umat Nasrani mematuhi hasil konsili tersebut. Tidak perlu sunat jasmani untuk menjadi jemaat Nasrani. Jika sunat untuk alasan medis, itu lain masalah. GNI hanya mewariskan dan berusaha melestarikan keputusan Konsili Yerusalem yang masih dipimpin oleh para rasul Yahudi.

  1. Ajaran KM: Rabbi-rabbi Messianic Judaism adalah pewaris ajaran Nasrani karena Yeshua dan mereka adalah sama-sama Yahudi.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Sejarah membuktikan bahwa ajaran Maran Yeshua diwariskan kepada Gereja-gereja Rasuliah, bukan kepada komunitas Messianic Judaism Modern. Ketidakpahaman sejarah bisa membuat seseorang salah persepsi dan akhirnya salah ikut pengajaran. Messianic Judaism tidak mewarisi tradisi Nasrani tetapi malah mewarisi tradisi Farisi. Gereja Rasuliah sudah ada sejak abad 1 sampai abad 21 kini, sementara MJ Baru muncul di abad 19.

  1. Ajaran KM: Umat Kristen harus merayakan 7 hari raya Yahudi.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Perayaan di dalam Torah Sinai berbeda dengan perayaan yang ada di dalam Torah Mesias (Gal 6:2). Mengapa demikian? Karena Moedim (7 perayaan Yahudi) adalah bagian dari Torah Sinai dan Torah Sinai hanyalah bayangan[8] tentang Mesias Yeshua yang telah datang pada masa Perjanjian Baru. Semua perayaan pada PB terfokus pada diri Yeshua. Perayaan paling utama adalah Pesakh. Macam-macam perayaan Nasrani di Indonesia bisa dibaca pada Lampiran 7. Jemaat Nasrani tidak lagi merayakan Moedim seperti layaknya kaum Yahudi termasuk Messianic Jewish merayakannya.

Kami jemaat Nasrani Katolik Orthodoks Kuno Satu Rasuliah (GNI) merayakan perayaan Pesakh melebihi kaum Yahudi sendiri di mana Pesakh tersebut dirayakan setiap saat yang kami sebut sebagai Qurbana Qadisha (Perjamuan Suci). Perayaan Savuot, setiap saat dilayangkan dalam Doa Epiklesis atau Shekinah dalam ibadah. Perayaan Roti Tak Beragi ada di dalam bahan Perjamuan Suci, yaitu Roti Tidak Beragi, Perayaan Buah Sulung sebagai Hari Kebangkitan Maran yang dirayakan tiap hari pertama atau Yom Rishon (Minggu).Yom Kipurim dirayakan setiap saat di depan altar, di mana imam memberikan absolusi pengakuan dosa. Perayaan Sukkot, dirayakan setiap saat di mana kami manunggal (bersukka) dengan Tubuh dan Darah Yeshua. Perayaan Peniupan Terompet atau Shofar selalu dilakukan setiap saat kami menghadap Kiblat Timur dengan konsep Maranatha dalam memulai ibadah. Ketujuh perayaan dalam perintah Torah adalah bayangan dari apa yang terjadi di dalam Torah haMashiakh seperti yang leluhur iman kami lakukan di atas sejak abad pertama.

F TIUP SOFAR

Gambar Peniupan sofar untuk memulai ibadah. Sumber: koleksi foto GNI.

Di daerah lain, penanda waktu untuk memulai ibadah bisa menggunakan alat music sesuai budaya lokal, misalnya Gong di India, atau lonceng di Eropa. Jika jemaat Nasrani berkembang di daerah Sunda, maka bisa saja sofar digantikan dengan angklung, di Sumbar meniup Bansi, di Maluku diganti Tahuri, dan yang lainnya.

Jadi, jemaat Nasrani merayakan 7 Moedim dengan cara yang berbeda, dengan cara sesuai Torah Mshikha. Perayaan Moedim Nasrani selalu dipimpin oleh imam, sementara perayaan Moedim Judaism dipimpin rabbi Yahudi.

  1. Ajaran KM: Umat Kristen harus melakukan dan mengajar Hukum Taurat (HaTorah).

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Umat Kristen atau Nasrani dididik untuk melakukan dan tuduk pada Torah Mesias (LAI: Hukum Kristus, Gal 6:2) bukan Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat). Di dalam masa Perjanjian Baru ini, melakukan Torah Sinai adalah hal yang bisa mematikan iman.

Rom 4:14 (LAI) Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.

Bahkan umat Yahudi sendiri tidak bisa melakukan Torah Sinai apa adanya. Mereka melakukan pendekatan Torah Musa ini akibat hancurnya Bait Suci Yerusalem II di tangan Jendral Titus pada tahun 70 Masehi. Karena peribadatan Yahudi berpusat pada bagunan tersebut, maka mereka berkumpul pada Konsili Yavne di tahun 90 Masehi untuk merumuskan peribadatan yang baru. Hasilnya mereka merubah peribadatan dari peribadatan Bait Suci yang dipimpin oleh imam-imam Lewi, diganti dengan peribadatan Sinagoga yang dipimpin oleh para Rabbi. Kurban digantikan dengan pertobatan, doa harian, dan sedekah. Mereka mulai menuliskan tradisi lisan, lalu mereka sebut sebagai Talmud. Adanya Talmud diharapkan supaya ajaran Judaism bisa Lestari sampai ke abad modern. Dengan demikian HaTorah yang mereka lakukan tidaklah penuh, sampai Sang Mesias yang mereka nantikan datang untuk membangun Bait Suci III Yerusalem. Demikian yang diyakini kaum Farisi Judaism ini.

Melakukan Hukum Taurat apa adanya di zaman modern di Indonesia adalah hal yang tidak mungkin. Mengapa? Ada 3 komponen penting yang harus ada untuk menjalankan Torah ini, yaitu Bangunan Bait Suci, Dewan Sanhendrin, dan keimamatan. Bait Suci sebagai tempat ritual pengampunan dosa dan pusat pelayanan. Dewan Sanhendrin bertugas sebagai dewan pengadil, supaya semua berjalan tertib dan ada hukuman yang jelas. Lalu ada keimamatan sebagai wakil Tuhan di bumi. Nah apakah ketiganya ada? Tidak. Apakah hukum rajam bisa dilakukan di Indonesia? Tentu saja bagi yang coba-coba melakukan bagian dari Torah Sinai ini akan masuk penjara. Apakah ada yang tunduk pada keturunan Lewi di sini? Tidak ada juga. Jadi memang suatu hal yang mustahil melakukannya. Sedangkan kalau mau melakukan Hukum Taurat seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi, itu artinya jelas-jelas mengunyah dan memakan ragi Farisi.

Mat 16:6 (LAI) Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.”

Berbeda dengan Torah Sinai, Torah Mesias bisa dilakukan di manapun, bahkan di Indonesia! Haleluyah 3x! Ketiga komponen di atas ada di dalam Gereja Rasuliah. Bait Suci digantikan dengan Altar/Mezbah sebagai tempat kurban Tubuh dan Darah (Roti dan Anggur) diletakkan, lalu ada Dewan Sanhendrin sebagai pengadil, yaitu Dewan Keuskupan yang berisi beberapa uskup yang bertindak sebagai penentu stadar moral yang tertuang dalam kanon (Halakah). Lalu ada keimamatan Melkisedek (pengganti Keimamatan Lewi), yaitu para uskup dan juga semua pelayan yang ditahbiskan dari jenjang minor sampai mayor, perhatikan Gambar 2.4. Di dalam Torah Mesias, tidak ada hukuman rajam, yang ada adalah ritual pengampunan. Ritual pengampunan dosa adalah bagian dari qadishotim (sakramen-sakramen) yang ada. Ritual ini dilakukan oleh jemaat di dalam ibadah, sebelum dilaksanakan Qurbana Qadisha (Perjamuan Suci), dengan maju ke depan, membisikan dosanya kepada Imam dan menerima pengampunan.

Secara tidak disadari oleh para pendeta Mesianik yang mengajarkan Torah Sinai, mereka telah melanggar Torah Musa ini sendiri seperti terlihat pada tabel di bawah:

Tabel Melanggar Torah Sinai secara tidak sadar

No Pengajaran Pendeta Mesianik Pelanggaranpada Torah Sinai sendiri
1 Gentile mengajar Torah Sinai  

Tradisi (Oral Torah) Judaism. Pengajar haruslah tetap kaum Yehudim.

No Pengajaran Pendeta Mesianik Pelanggaranpada Torah Sinai sendiri
2  

Wanita menjadi pemimpin (Gembala).

Tradisi (Oral Torah) Judaism, kepemimpinan selalu pada kaum pria. Sekte-sekte Judaism yang mengizinkan pemimpin wanita yaitu Reform dan Conservative Judaism. Mereka sering bertikai dengan pewaris ajaran Farisi ketat, Orthodox Judaiasm.

 

3 Pendeta memipin ibadah/perayaan Moedim Judaism.  

Tradisi (Oral Torah) Judaism, pemimpin ibadah Moedim haruslah Rabbi Yahudi. Goyim bisa ikut tapi taati aturan, sebagai tamu atau pendatang.

4  

Tanpa disunat bisa merayakan Moedim.

Written Torah: Imamat 12:2 dan Kel 12:48.
5  

Meyakini sunat dengan dokter/mantri adalah Brit milah.

 

Tradisi (Oral Torah) Judaism perihal Brit milah.
6  

Goyim melayangkan Birkat Kohanim (Berkat Keimamatan)

 

WrittenTorah: Bil 6:22-27
7  

Melakukan kurban Roti dan Anggur sebagai ritual pengampunan dosa.

 

Written Torah: Imamat 14:13, kurban selalu hewan.
8  

Beribadah tanpa menghadap Kiblat Yerusalem.

 

Tradisi (Oral Torah) Judaism, ibadah selalu menghadap Yerusalem.
9 Meyakini ajaran Sola Scriptura (Hanya Kitab) Tradisi (Oral Torah) Judaism, harus selalu dipegang dan diwariskan. Hanya kaum Saduki saja yang menolak tradisi.

 

Kalau diperhatikan sejujurnya, dalam pengamatan kami, jemaat Mesianik di Indonesia sedang mencampur-aduk Torah Sinai dengan pemahaman mereka sendiri. Sehingga apa yang mereka lakukan itu bukan lagi Torah Musa, tapi modifikasinya. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak punya dewan Sanhendrin yang bertugas sebagai dewan pengadil jemaat. Jadi, melanggar atau tidak, itu tidak jadi masalah.

  1. Ajaran KM: Beribadah dengan berpakaian Yahudi karena Yeshua itu Yahudi.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Pakaian dalam peribadatan haruslah sopan sesuai dengan budaya masing-masing. Dalam penyebaran injil, para rasul Yehudim, tidak pernah mengajarkan goyim Kristen awal berbusana seperti ala Yahudi. Dalam Igeretnya Mar Shaul menjelaskan: “Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah Torah Sinai, aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah Torah Sinai…”[9] Jadi tidak pernah ada goyim di Mesopotamia, di Asia Minor, di Celtic, di Etiopia, di Mesir, di Roma pada abad pertama berpakaian Yahudim. Semua uskup di kota-kota tersebut memberi kebebasan umat Nasrani untuk berpakai sesuai budaya masing-masing.

Demikian juga di Indonesia, Uskup Mar Nicholas memberi kebebasan, ada yang memakai peci, ada blangkon, ada penutup kepala biasa, dan ada juga yang memakai kippah. Dalam busana, baik pria dan wanita berpakaian sopan. Wanita memakai kerudung putih.

G PAKAIAN TRADISIONAL

Gambar Pakaian sesuai budaya masing-masing dalam peribadatan Nasrani. Sumber: Koleksi foto pribadi

  1. Ajaran KM: Ajaran Perjanjian Baru menghapus Perjanjian Lama itu tidak memiliki dasar scriptural melainkan pada asumsi anti-semitis.[10]

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Para pemimpin Nasrani atau Para pendiri Gereja Rasuliah mengajarkan bahwa umat Nasrani (Kristen) harus menghidupi Perjanjian Yang Diperbaharui (PB), ini tidak ada hubungannya dengan gerakan anti-semitik[11] yang dihembuskan kuat pada abad 4 oleh Gereja Helenis. Pengajaran ini bukan hanya berlandaskan Scripture (Kitab), namun juga berdasarkan Tradisi (Masora). Tradisi dan Kitab suci tidak bisa dipisahkan.

Menurut Kitab Suci, Perjanjian Sinai (PL) adalah perjanjian yang diabaikan oleh umat Israel dan Yehuda dengan berulang kali melakukan penyembahan berhala. Mereka dibuang Tuhan dan mati di pembuangan. Yang tersisa adalah anak-cucu keturunan mereka.

  • Perjanjian Sinai (PL) dibuat antara Tuhan dan 12 suku Israel di Sinai (1500 SM), baca di Im 26:9 dan Im 26:25.
  • Kutuk akan menjadi hadiah bagi mereka yang melanggar isi perjanjian, baca di Ul 27:26.
  • Bukan Tuhan yang mau membatalkan Perjanjian Sinai, di ayat Im 26:44 dan Yos 23:16.

Im 26:44 (LAI) Namun demikian, apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka.

  • Israel dan Yehuda melanggar isi perjanjian, tercatat di ayat Yer 11:10 dan Yer 22:9
  • Tuhan membuang mereka ke tanah pembuangan untuk mati di sana, lalu Dia memegang janji-Nya untuk terus mengikatkan diri dengan Perjanjian, maka jadilah Perjanjian yang Diperbaharui (PB), Yer 31:31-32.
  • Perjanjian Sinai sudah usang, harus ditinggalkan, masuk ke Perjanjian Yg Diperbaharui, Ibr 8:13.

Menurut Tradisi, pemimpin Nasrani awal meneguhkan bahwa umat percaya harus meninggalkan Perjanjian Sinai. Ini ditegaskan pada Konsili 1 Yerusalem yang dihadiri semua pemimpin awal Nasrani. Mereka adalah pemimpin Gereja Rasuliah, mereka bukan pemimpin Messanic Jewish dan bukan pemimpin Kristen Mesianik. Hasil keputusan mereka, menyatakan adanya Torah yang berbeda yang harus dijalankan oleh umat percaya non yahudi. Torah yang dimaksud adalah Torah Meshikha (LAI: Hukum Kristus), oleh karena itu setelah konsili tersebut berakhir, Mar Shaul menuliskan surat ke jemaat Gereja Rasuliah di Galatia, bahwa mereka tidak perlu harus mengikuti Torah Sinai yang terdapat di dalam Perjanjian Sinai (Gal 6:2). Para rasul keturunan Israel termasuk Mar Shaul sendiri mengikuti Torah Meshikha (1 Kor 9:21).

Menurut Tradisi, umat Nasrani keturunan Israel, bisa tetap melakukan Torah Sinai, namun dalam kerangka PB, tidak lagi PL. Kedatangan Yeshua menggenapi Torah Sinai tersebut. Tercatat juga dalam Kitab Kis 22:12; 24:14; 25:8.

Dalam Tradisi, Torah Mshikha  memiliki perayaan yang berbeda dengan perayaan di dalam Torah Sinai, memiliki siddur (liturgi) peribadatan yang berbeda, memiliki doa-doa yang berbeda, memiliki kiblat doa yang berbeda, memiliki halakha yang sedikit banyak berbeda, memiliki Shahadat yang berbeda (lebih luas, tidak bertentangan dengan Torah Sinai), memiliki keimamatan dan jenjang keimamatan yang berbeda, memiliki ritual-ritual (qadishotim) berbeda, dll.

Jadi, baik mengacu pada Kitab dan pada Tradisi Suci (written dan oral Torah), Perjanjian Lama dengan Torah Sinai di dalamnya sudah tidak dilakukan lagi di dalam PB yang memiliki Torah Meshika. Inilah ketetapan Nasrani abad 1 yang terus dipelihara oleh pewarisnya sampai ke abad 21 ini. Tidak dilakukan dalam hal ini bukan berarti harus dihapuskan dalam kitab suci. Tentu tidak, semua masih ada.

  1. Ajaran KM: Yeshua melakukan Torah Sinai, dan mengajarkan di Mat 5: 19 kepada semua pengikut-Nya untuk mentaati Torah Sinai juga.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Mat 5 (LAI dan Dukhrana Bible Research), ayat (17) Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.  ܠܳܐ ܬ݁ܰܣܒ݁ܪܽܘܢ ܕ݁ܶܐܬ݂ܺܝܬ݂ ܕ݁ܶܐܫܪܶܐ ܢܳܡܽܘܣܳܐ ܐܰܘ ܢܒ݂ܺܝܶܐ ܠܳܐ ܐܶܬ݂ܺܝܬ݂ ܕ݁ܶܐܫܪܶܐ ܐܶܠܳܐ ܕ݁ܶܐܡܰܠܶܐ ܀

(18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. ܐܰܡܺܝܢ ܓ݁ܶܝܪ ܐܳܡܰܪ ܐ݈ܢܳܐ ܠܟ݂ܽܘܢ ܕ݁ܰܥܕ݂ܰܡܳܐ ܕ݁ܢܶܥܒ݁ܪܽܘܢ ܫܡܰܝܳܐ ܘܰܐܪܥܳܐ ܝܽܘܕ݂ ܚܕ݂ܳܐ ܐܰܘ ܚܰܕ݂ ܣܶܪܛܳܐ ܠܳܐ ܢܶܥܒ݁ܰܪ ܡܶܢ ܢܳܡܽܘܣܳܐ ܥܕ݂ܰܡܳܐ ܕ݁ܟ݂ܽܠ ܢܶܗܘܶܐ

(19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.  ܟܠ ܡܢ ܕܢܫܪܐ ܗܟܝܠ ܚܕ ܡܢ ܦܘܩܕܢܐ ܗܠܝܢ ܙܥܘܪܐ ܘܢܠܦ ܗܟܢܐ ܠܒܢܝܢܫܐ ܒܨܝܪܐ ܢܬܩܪܐ ܒܡܠܟܘܬܐ ܕܫܡܝܐ ܟܠ ܕܝܢ ܕܢܥܒܕ ܘܢܠܦ ܗܢܐ ܪܒܐ ܢܬܩܪܐ ܒܡܠܟܘܬܐ ܕܫܡܝܐ

Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat) adalah pengajaran di dalam Perjanjian Sinai, bukan di dalam Perjanjian Baru. Torah Sinai hanya BAYANGAN di masa lampau yang digenapi di masa kedatangan Yeshua.

Ibrani 10:1 (LAI) Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.

Sedangkan masa Perjanjian Baru itu dimulai saat Yeshua mengajar, lebih tepatnya saat Yeshua disalibkan dan tirai Ruang Maha Kudus robek. Jadi ajaran Yeshua bukanlah Torah Sinai/Mosha yang hanya BAYANGAN, melainkan Dia mulai mengajarkan Torah Msikha yang merupakan PENGGENAPAN. Ayat Mat 5:19 di atas mengajar bahwa Written Torah Sinai jangan dihapuskan, jangan dihapuskan 1 titik pun di dalamnya.

Torah Sinai terbagi dua, tradisi dan kitab. Kitab di zaman Yeshua terbagi ke dalam 5 kitab Mosha dan Nabi-nabi, baru setelah konsili Yafne th 90 M ada kanonisasi Tanakh. Lalu apakah Maran Yeshua melakukan Torah Sinai baik sesuai tradisi dan kitab-kitab di atas? Perhantikan tabel di bawah.

Tabel Perbandingan Ajaran Yeshua dan Ajaran Mosha

No Ajaran Yeshua (Torah Mshikha ) Ajaran Mosha (Torah Sinai)
1  

Bekerja di Shabbat (menyembuhkan dan

berjalan jauh)

Tidak boleh bekerja, hanya para imam Lewi yg bekerja di Shabbat di dalam Bait Suci.
2 Kasihilan musuhmu Kasihilah tetanggamu (suku lain dalam 12 suku Israel)
3 Jangan membunuh  

Kalau melanggar Torah Sinai, perintah tertentu harus dibunuh, bisa dibakar atau dirajam

4 Mengingini wanita dengan mata saja sudah berzinah Berzinah artinya pria dan wanita belum menikah tapi berhubungan badan.
5 Jadilah terang dunia, berkat bagi bangsa-bangsa. Tidak ada perintah ini dalam Torah Mosha.
6 Berdoa Bapa Kami (Tefila dMaran). Para rabbi merangkum Doa Harian Semoneh Esrei.
7 Puasa tidak boleh ketahuan orang lain. Tidak ada ajaran seperti ini.
8  

Memberi sedekah tidak boleh dikatehui orang lain.

Tidak ada ajaran seperti ini.
9 Jangan bersumpah. Jujur saja. Bersumpah.
10  

Mengajar suatu saat kiblat peribadatan berpindah dari Yerusalem.

Kiblat peribadatan selalu Yerusalem.
11  

Mengajarkan makan Daging dan minum Darah-Nya.

Tidak ada ajaran demikian.
12  

Mengorbankan diri untuk menebus jiwa manusia.

Mengorbankan binatang untuk menebus jiwa orang yang bersalah.
13  

Menahbiskan para rasul dan 70 Murid menjadi imam-imam.

Keimamatan selalu dipegang oleh Suku Lewi.

Ada saatnya, seorang anak kecil dididik jangan banyak keluar rumah, namun di saat dewasa aturan itu berubah dengan sendiri karena itu hanyalah PANDUAN hidup sampai dia dewasa. Demikianlah dengan Torah Sinai, itu adalah pengajaran sampai Sang Mesias datang, lalu stop! Mulailah melakukan Torah Mshikha. Stop bukan berarti Torah Sinai harus dihapuskan. Tidak boleh ada yang dihapuskan, inti pesan dalam Torah Sinai itu masuk ke dalam Torah Mshikha sehingga kedua Torah ini sebenarnya adalah satu-kesatuan.

Gal 3:24 (Peshitta Lamsa- Dukhrana Bible Research-LAI)

The law then was our pathfinder to bring us to Christ that we might be justified by faith.ܢܡܘܣܐ ܗܟܝܠ ܬܪܐܐ ܗܘܐ ܠܢ ܠܘܬ ܡܫܝܚܐ ܕܡܢ ܗܝܡܢܘܬܐ ܢܙܕܕܩ. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Jadi, setelah Sang Mesias datang, Torah yang berlaku bukanlah Torah Bayangan lagi, melainkan Torah Meshikha. Ajaran Meshikha ini tidak semua tercatat di dalam 4 injil, namun masih banyak yang tidak tercatat, pengajaran tersebut diingat oleh 12 rasul dan 70 Murid-Nya. Mereka lalu mewariskannya dalam Tradisi Nasrani kepada para uskup penerus kepemimpinan Nasrani.

  1. Ajaran KM: Para rasul bukanlah Imam-imam Melkisedek.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Maran Yeshua menahbiskan 12 rasul dan 70 murid menjadi imam-imam dalam keimamatan Melkisedek. Mereka adalah para imam, bukan pendeta. Jabatan ‘pendeta’ tidak pernah eksis di dalam komunitas Nasrani sejak awal sampai sekarang. Para imam tertahbis ada di dalam peribadatan Nasrani sebagai pelayan untuk menggantikan posisi keimamatan Lewi-Harun yang berhenti di masa Yohanes Pembaptis.[12] Para imam ini berada di bawah Sang Imam Besar (Kohen HaGadol) Melkisedek, yaitu Maran Yeshua.[13] Para rasul dan 70 murid melakukan peribadatan dengan menggunakan siddur Nasrani. Dengan melakukan siddur kuno ini, semua harus menjadi imam, tidak boleh Rabbi atau pengajar atau lainnya. Siddur peribadatan ini memang tidak diperjualbelikan di toko buku, jadi jarang ada orang yang memahaminya.

PERBADINGAN AJARAN LAINNYA

  1. Ajaran KM: Anti Salib sebab salib adalah lambang kutuk.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Pada Gambar di bawah menunjukkan bahwa Salib itu adalah lambang dari huruf Taw dalam alphabet Ibrani. Tanda salib ini sudah ada sejak 2 ribu tahun sebelum Masehi. Huruf ini berevolusi sampai pada masa Ibrani modern saat ini sudah tidak dikenal lagi secara umum.

H TANDA SALIB

Gambar Tanda Salib adalah bagian dari huruf Ibrani kuno. Sumber: ancient-hebrew.org

Menolak Tanda Salib adalah menolak Nasrani karena tanda ini hadir dalam peribadatan Nasrani. Tanda ini ada dalam siddur peribadatan Nasrani awal sebelum dituliskannya kitab-kitab Nasrani. Saat jemaat Nasrani berdoa, selalu diawali dan diakhiri dengan tanda salib, bercuci tangan sebelum memulai ibadah juga memakai tanda ini, masuk ke dalam peribadatan ada belasan kali jemaat memakai tanda ini karena sesuai tradisi, saat menemukan Nama Suci, maka jemaat harus membuat tanda salib sambil mengucapkan ‘Maryah’ sebagai tanda menguduskan.[14]

Lebih jauh lagi, Tanda Salib dalam ajaran Nasrani adalah rangkuman dari Shahadat atau pengakuan Iman yang paling sederhana. Shahadat Nasrani dimulai secara berturun-turut:

  • Shema Israel,[15]
  • Shahadat Mikveh dan Berkat Yeshua, tahun 30 Masehi,

Dalam Sang Nama, Alaha sang Bapa, Anak-Nya sang Maryah Eashoa d’Msheekha dan Sang Roh Suci Terberkati, Terberkati dari kekal hingga kekal. Amin. (Aramiak: Alaha Ava, Brah MarYah Eashoa’ Meshiakha, w‟Rookha d‟Qoodsha Breeka, Khath Alaha, Breek lalam almeen. Ameen.), Mat 18:20

  • Pengakuan Mar Thoma, tahun 32 M: Mari w’Alahi (Tuhanku dan Alahaku, Yoh 20:28)[16]
  • Pengakuan Iman Rasuli, tahun 70M, penjelasannya bisa dilihat pada Lampiran 8.
  • Pengakuan Iman dalam pada Igeret Mar Yosip ‘Sha’ar Emet Aish d’Miltha’, th 100M, lihat Lampiran 9
  • Pengakuan Iman Nikea, 325M, lihat Lampiran 10
  • Pengakuan Iman Keuskupan, lihat Lampiran 11

Dari Shahadat Shema Israel sampai ke Shahadat Keuskupan, ada perkembangan bukan perubahan. Perkebangan ini dikarenakan Pewahyuan Suci yang Tuhan berikan, khususnya kepada keuskupan kami sehingga Pengakuan Iman Nikea di abad 4, bisa lebih dijelaskan atau diperinci. Dan semua Shahadat ini bisa disimpulkan ke dalam satu tanda yaitu, Tanda Salib.

Tanda salib ini masih dilakukan dan diajarkan oleh Martin Luther di abad 16 Masehi[17], sayang pada penerusnya yang anti tradisi menghilangkan tanda ini dari peribadatan dan doa-doa pribadi. Gereja yang menolak Tanda Salib hanyalah gereja penganut Sola Scriptura abad 16, sementara para pewaris ajaran Nasrani abad 1 terus melestarikannya. Yeshua menjadi kutuk supaya jemaat-Nya bisa diselamatkan.

  1. Ajaran KM: Umat Nasrani awal semua sudah terpengaruh Helenisasi. Oleh karena itu Messianic Judaism berhak untuk merestorasi ajaran kembali ke awal.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Hellenisme adalah suatu IDEOLOGI yang dikembangkan oleh Alexander Agung III dari Makedonia (356-323 SM), yang bercita-cita “Taklukkan Seluruh Dunia dibawah HELLENISME”. Maka Alexander Agung bersama dengan prajuritnya menguasai hampir setengah dunia pada zaman itu. Mereka menjajah dunia dengan kekuatan SENJATA dan BUDAYA. Mereka mengindoktrinasi siapa saja bahwa Yunani dengan program ideologi Hellenisme adalah bangsa paling beradab di muka bumi ini, paling maju, paling pintar, paling kuat, dan paling berpendidikan dari semua bangsa beradab. Ideologi ini diteruskan oleh Kaisar Konstantine dan diteruskan oleh Gereja Byzantium. Supremasi Yunani atau klaim arogan bahwa semua rasul memakai Bahasa Yunani dan semua kitab PB tertulis pertama kali dalam Bahasa Yunani dihembuskan oleh Byzantium.

Ideologi ini sempat mereka tawarkan kepada Gereja Rasuliah lain, namun tidak semua menerimanya. Terutama Church of The East pemilik Peshitta, kitab suci yang berasal dari naskah-naskah Aramaik PB tulisan para rasul yang mereka salin ulang. Karena berada di bawah kekuasaan Kerajaan Persia, maka gereja ini tidak berkontak dengan Gereja Rasuliah lainnya. Ini menguntungkan mereka karena Gereja Byzantium tidak bisa menguasai mereka seperti mereka melakukannya pada wilayah Gereja Antiokia di Asia Minor. Wilayah itu jatuh ke tangan Byzantium. Selain itu ada juga gereja Etiopia dan Celtic yang jauh dari jangkauan Byzantium. Helenisasi tidak terpengaruh pada gereja-gereja ini.

Messianic Judaism tidak punya hubungan hostoris dengan Nasrani awal. Semoga suatu saat semakin banyak dari mereka yang memahami sejarah Nasrani dan ajaran semitik yang terus dipelihara sebagian Gereja-gereja Rasuliah.

  1. Ajaran KM: Kitab-kitab PB ditulis pertama kali dalam Bahasa Ibrani.

Perbandingan dengan ajaran Nasrani:

Ajaran Hebrew Primacy atau keyakinan Bahasa awal kitab suci PB adalah Ibrani itu Baru dilahirkan di abad 19 oleh komunitas Messianic Judaism. Tidak ada bukti bahwa kitab-kitab PB ditulis pertama kali dalam Bahasa Ibrani. Dari Messianic Judaism, pemahaman ini mengalir ke Kristen Mesianik di Indonesia. Pemahaman Hebrew Primacy sengaja diciptakan pada awalnya untuk menarik Yahudi menjadi lebih mudah percaya Yeshua itu Mesias mereka.

Salah satu kitab yang menjadi pegangan Mesianik adalah Injil Matius Shem Tov. Mereka tidak sadar bahwa penulisnya, Shem Tov ben Isaac ben Shaprut adalah seorang Rabbi Yahudi yang menolak Yeshua sebagai Mesias. Atau sadar, hanya pura-pura saja tidak peduli demi menguatkan ajaran mereka yang kekurangan bukti. Tidaklah heran ini menyebabkan ayat-ayat di dalamnya yang jelas-jelas mencatat Yeshua adalah Sang Mesias menjadi hilang. Injil Shem Tov sebenarnya Baru ditulis pada tahun 1380.

Pengajar Mesnianik acapkali mengambil sumber Papias oleh Eusebius Pamphili, Uskup Kaisarea, Palestina, tahun 314 yang menulis demikian dalam yunani:

MATQAIOS MEN OUN hEBRAIDI DIALEKTWi TA LOGIA SUNETAXATO, hHRMHNEUSEN D AUTA hWS HN DUNATOS hEKASTOS”.

Dalam terjemahan Inggrisnya diyakini demikian:”Matthew collected the oracles in the hebrew LANGUAGE, and each interpreted them as best he could”. Seharusnya ditulislan “Dialect Hebrew” (Dialek Ibrani) bukan ‘Hebrew language’ (Bahasa Ibrani). Dialek Ibrani adalah aramaik. Dialek dan bahasa adalah dua kosakata yang berbeda makna.

Kitab Ibrani PB lain seperti DuTillet dicatat sekitar tahun 1550. Jauh sekali dari abad 1. Uskup Katolik Roma, Jean DuTillet yang menemukan manuscript Injil Matius berbahasa Ibrani tersebut menulis:

the Gospel of Matthew in Hebrew, which I would not presume to suggest Matthew wrote by divine inspiration in his own language . . . but yet I can affirm is clearly not in the Rabbinic style, and is written in a pure form of the language that in no way resembles the writings of post-Christian Judaism.[18]

Uskup DuTillet sendiri meyakini bahwa manuscript ini bukanlah hasil karya Mar Mattai (Matius) di abad 1, jika ada pihak-pihak di abad 21 ini yang meyakininya itu adalah tindakan yang tidak beralasan. Tidak ada satupun uskup Roma Katolik yang meyakini bahwa injil Matius dan kitab-kitab PB ditulis dalam bahasa Ibrani.

Selain Injil Matius Shem Tov dan DuTillet, berikutnya adalah Injil Matius Munster. Naskah Injil ini ditemukan oleh Sebastian Munster sekitar tahun 1550. Disinyalir injil ini diterimanya dari seorang Yahudi yang menerjemahkannya sendiri dari naskah Yunani untuk pemakaian pribadi. Sebabstian Munster berkeyakinan Lutheran atau Reform, suatu denominasi Protestan di abad 16. Semua pengajar Lutheran meyakini Supremasi Yunani, tidak Ibrani atau Aramaik. Jadi, berpegang pada injil Munster untuk meyakini bahwa kitab-kitab PB awal berbahasa Ibrani adalah suatu langkah yang tidak masuk akal juga seperti upaya menegakkan benang basah. Apalagi belakangan diketahui bahwa Munster sendiri tidak puas akan isi naskah tersebut dan berusaha memperbaikinya.

Tabel  Naskah-naskah Injil Matius Ibrani

No Nama Injil Penemu/Penulis Tahun ditemukan Tentang Penulis
1 Matius Shem Tov Rabbi Shem Tov ben Isaac ben Shaprut 1380 Rabbi Yahudi pewaris ajaran Farisi, tidak meyakini Yeshua adalah Sang Mesias.
2 Matius DuTillet Uskup Jean DuTillet 1550  

Uskup Roma Katolik di Santo Breauc, Perancis.

3 Matius Munster Sebastian Munster 1550  

Biarawan Gereja Lutheran (Gereja Reform), penganut Sola Scriptura Protestanisme.

Selain ketiga injil Ibrani di atas, sampai saat ini sama sekali tidak ditemukan adanya naskah-naskah tua PB berbahasa Ibrani. Andaikata ketiga naskah di atas membuktikan bahwa injil Matius dituliskan di awal dalam bahawa Ibrani, bukan berarti semua kitab dalam PB dicatat dalam bahasa Ibrani juga. Sama sekali tidak ada bukti.

Berbeda dengan umat Nasrani, kami meyakini bahwa Injil dan banyak surat lain ditulis dalam bahasa Aramaik. Bahasa Ibrani di abad 1 hanya dipakai dalam peribadatan sinagoga, dulu ini adalah bahasa yang mati suri, hampir punah. Baru di abad 20, paska berdirinya Negara Israel, mereka bersatu menyakini bahwa sejak abad 1, bahasa mereka selalu bahasa Ibrani. Secara tradisi, Nasrani meyakini bahwa kitab-kitab PB awal ditulis dalam bahasa Aramaik, terutama keempat injil. Mar Eshai Shimun, Yang Mulia Patriakh Church of The East menyatakan bahwa:

“ Dengan mengacu …. keaslian teks Peshitta , sebagai Patriakh dan Kepala Kudus Apostolik dan Katolik Gereja Timur , kami ingin menegaskan, bahwa Gereja Timur menerima sendiri dari tangan Rasul diberkati dalam bahasa Aram asli, bahasa yang digunakan oleh Tuhan kita Yeshua Mshikha sendiri , dan bahwa Peshitta adalah teks dari Gereja Timur yang telah turun dari zaman Alkitab tanpa ada perubahan atau revisi”. Kembali untuk menegaskan kebenaran Peshitta, Patriakh Roma Katolik, Maximus (Vatican II) menyatakan dengan jelas bahwa: 

Meshikha, bagaimanapun berbicara dengan dalam bahasa sezaman-Nya . Dia melayangkan korban pertama dari Ekaristi dalam bahasa Aram, bahasa yang dimengerti oleh semua orang yang mendengar-Nya . Para Rasul dan Murid melakukan hal yang sama dan tidak pernah dalam bahasa lain …”[19]

 

Yang menjadi saksi penulisan kitab adalah para pemimpin Gereja Rasuliah, bukan pemimpin Messianic Judaism Modern dan bukan pula pemimpin Kristen Mesianik. Mengapa? Ya karena para pemimpin Gereja Rasuliahlah yang menulis, menerjemahkan, menyalin ulang, dan mengkanon pertama kali, serta memelihara kitab-kitab Nasrani. Jika kedua ajaran yang berbeda sumber dan berbeda usia ini dindingkan ditemukan adanya perbedaan, itu merupakan hal yang wajar.

  1. Ajaran KM: Ada banyak kata Ibrani dalam kitab-kitab PB seperti: ABBA, MARANATHA, RABUNI, TALITAKUM, EPHATA, HOSANA, ELI ELI LAMA SABAKHTANI [20]

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Mirip bukan berarti sama. Bahasa Ibrani dan Aramaik itu adalah dua bahasa yang berbeda. Para Rasul dan Maran Yeshua adalah orang-orang yang mayoritas berasal dari Galilea dengan bahasa Aramaik dialek Galilea.

Tabel Kata aramaik dalam kitab-kitab PB

No Kata Aramaik Arti Ayat
1 Talitha koum  

Kata ‘ţlîthâ’ adalah bentuk feminim dari ‘ţlê‘, artinya ‘muda’. ‘Qûm’ adalah kata erja ‘bangunlah’

Mark 5:41
2 Ephphatha Bentuk pasif imperatif kata kerja ‘pthaħ‘, artinya ‘membuka’ Mark 7:34
3 Abba Bapa  

Mark 14:36; Rom 8:15; Gal 4:6. 

4 Raca kosong, bodoh, kepala kosong  

Mat 5:22

5 Mammon Mammon Luke 16:9-13; 2 Clement 6
6 Rabboni Guru John 20:16; Mark   10:51
7 Maranatha Maran datanglah Didache 10; 1 Corinthians 16:22
8 Eli Eli lema sabachthani mengutip baris pertama Maz 22  

Mat 27:46; Mark   15:34

9 Bartholomew  

Mungkin ‘anak pembajak’ atau ‘anak alur’

Mat 10:3
10 Simon bar-Jona  Simon putra Yonah  

Mat 16:17 

11 Simon bar-Jochanan  Simon putra Yuchnan Yoh 1:42 
12 Barabbas Putra Bapa Mat 27:16
13 Bartimaeus Mungkin ‘anak haram’ atau ‘anak pelacur’ Mark  10:46 
14 Barsabbas Putra Shabbat Kis 1:23 
15 Yosip yang disebut Barnabah Putra nubuatan atau Putra Nabi Kis 4:36 
16 Boanerges Putra halilintar Mar 3:17
17 Keipha Pilar/batu Yoh 1:42; 1 Kor 1:12
18  

Tabitha

Ţvîthâ‘ artinya ‘gazelle’. Kis 9:36
No Nama Lokasi Arti Ayat
19 Gethsemane ‘Gath-Šmânê’, artinya ‘pemerasan minyak’ atau ‘oil vat‘ (berkenaan dengan olive oil).  Mat 26:36; Mark   14:32
20 Golgotha tempat tengkorak Mark   15:22; John 19:17
21 Akeldama Ladang darah Kis 1:19

Untuk berdiskusi secara langsung perihal kata-kata Aramaik dalam kitab-kitab PB bisa ikuti forum Peshitta.org/forum yang diasuh oleh Shamasha Paul Younan dari Assyrian Church of The East.

  1. Ajaran KM: Wanita tidak masalah menjadi gembala.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Semua pemimpin Nasrani di abad 1 adalah kaum Pria. Jenjang Shamasha (Deacon) ke atas adalah posisi yang ditempati oleh kaum Adam. Sementara Tahbisan Minor bisa diisi oleh kaum Hawa. Tradisi kepemimpinan pria pada komunitas Nasrani ini mengikuti tradisi agama Judaism karena Nasrani lahir dari rahim Yahudi.

Seiring waktu berjalan, ada kegerakan di dalam Judaism dan Nasrani sehingga melahirkan cabang-cabang yang membuka jalan bagi kepemimpinan Wanita. Salah satu Gereja Rasuliah yang melakukan ini adalah Anglican. Sementara di dalam Judaism, selain sekte Orthodox Judaism memberikan kesempatan wanita menjadi pemimpin.

Nasrani di Indonesia mengembalikan tradisi ke format awal, Gembala atau uskup adalah jabatan khusus untuk kaum pria. Namun demikian, wanita bisa saja menjadi pemimpin ibadah di dalam Biara Wanita. Tentu saja, sebab tidak seorang priapun diperbolehkan memasuki area tersebut.

  1. Ajaran KM: Ibadah hari Minggu adalah ibadah penghormatan Dewa Matahari.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Peribadatan di hari minggu sudah dimulai kaum Nasrani khususnya kaum goyim sejak abad 1, ini tercatat di dalam Kisah Para Rasul 20:7. Saat peribadatan Shabbat dilaksanakan biasanya tempat ibadah itu penuh sesak oleh Yehudim Nasrani. Mereka kehabisan roti perjamuan sampai ibadah selesai. Karena itulah mereka memulai ibadah lagi setelah Shabbat Sabtu berakhir. Ibadah dimulai di malam Sabtu atau Minggu pagi. Ini sudah jatuh pada hari Minggu atau hari pertama karena waktu dalam Judaism dimulai saat matahari terbenam.

Siddur (Liturgi) Nasrani pertama yang dibuat adalah Siddur Mar Yakub (Saint James Divine Liturgy). Siddur ini bisa dipakai untuk peribadatan Sabtu dan Minggu. Peribadatan di hari minggu lalu dikenang sebagai peringatan kebangkitan Maran Yeshua. Hari Minggu kemudian disebut sebagai Hari Maran.

Mulai di abad 4, setelah Gereja Rasuliah Roma mengganti Shabbat Sabtu menjadi Minggu, mulailah polemik ini. Gereja Rasuliah lain terus meyakini bahwa Shabbat adalah Sabtu, namun fokus pada peribadatan di hari Minggu untuk peringatan kebangkitan Maran. Tindakan Roma Katolik yang menyimpang ini lalu ditafsirkan lagi sebagai suatu cara mereka melakukan peribadatan kepada Dewa Matahari oleh pihak Anti Katolik Roma.

Nasrani di Indonesia tetap melestarikan peribadatan Shabbat Sabtu dan Minggu. Namun karena saat ini masih dalam masa perintisan maka fokus saat ini adalah Shabbatnya terlebih dahulu. Perayaan Minggu dilaksanakan mulai Tutup Shabbat/Havdallah, dan bisa sampai jam 10 pagi Minggu.

  1. Ajaran KM: TRITUNGGAL itu SALAH

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Nasrani megajarkan bahwa Tuhan (Aram: Alaha) itu SATU, Dia adalah Maryah Alaha, Sang Pencipta. Semua rasul dan para murid yang diutus dalam ladang-ladang penginjilan memahami Alaha yang satu ini dalam nuansa pengajaran semitik (Aramiak-Ibrani). Alaha yang satu ini, bisa dibedakan menjadi 3 aspek (aramaik: qnume), yaitu Sang Bapa, Sang Putra, dan Sang Bunda Roh Kudus. Ketiga aspek ini berperan dalam penciptaan. Alaha itu satu, dengan 3 aspek bukan 3 pribadi. Sebab kata ‘pribadi’ tidak bisa dilekatkan pada Tuhan, hanya kepada manusia. Ketigannya ini disebut sebagai Tlithayutha.

Sang Bapa adalah sumber segalanya, Sang Putra adalah Sang Sabda (Aram: Miltha) yang memulai penciptaan, sementara Sang Bunda Roh adalah Yang Menghidupkan. Ketiganya hanya aspek dari Keilahian (Aram: Alahota) yang bekerja bersamaan. Saat selesai penciptaan, Tuhan yang Maha Segalanya, tidak bisa hadir secara langsung ke bumi. Mengapa? Karena Dia adalah Api Yang Menghanguskan (Aramaik: Aisha dMiltha, Ibrani 12:29). Oleh karena itu, Sang Putralah yang datang ke bumi dan berkontak dengan banyak manusia dari banyak suku bangsa, salah satunya adalah Mosha, dari Israel. Dia memperkenalkan Nama-Nya YHWH (baca: Maryah). Sang Miltha bisa berwujud apa saja saat Dia berkontak dengan manusia, dari referensi Tanakh, bisa dilihat bahwa Dia sempat menjadi Imam Besar Melkisedek yang menjumpai Avraham, Sempat menjadi Semak Duri Terbakar tapi tidak hangus, sempat menjadi Tiang Awan dan Tiang Api, dan lainnya bahkan dalam wujud Teofani menjadi Malakh (Malaikat). Dialah Sang Putra.

Sang Bunda Roh Kudus adalah aspek Feminim Alaha. Dalam Bahasa Ibrani, kata ‘Ruach’ dan Bahasa Aramaik kata ‘Rukha’ (Indonesia: Roh) itu bergender Feminim. Saat diterjemahkan ke dalam Yunani, gendernya berubah. Sama seperti Sang Bapa bukan berarti Tuhan itu berjenis kelamin seperti dewa pagan atau manusia, demikian juga Sang Roh, bukanlah Dewi Pagan atau wanita. Ini hanya ungkapan saja, bahwa Bapa dan Bunda beserta Putra adalah Konsep keluarga yang datang dari Sorga. Keluarga adalah sebuah lembaga yang dibentuk di sorga dan diturunkan kepada manusia. Lebih jauh, kata ‘Shakinah’ berasal dari kata ibrani ‘Shakan’ itu artinya adalah Hadirat Tuhan. Itu juga adalah Tuhan dalam gender Feminim, itulah Sang Roh Kudus yang tercatat di dalam Tanakh. Di dalam Surat Kisah Rasul Thomas tercatat jelas bahwa sosok ini disebut sebagai BUNDA ROH KUDUS.[21] Frasa ‘El Shaddai’ dalam Bahasa Ibrani, arti harafiahnya adalah ‘Tuhan Payudara’. Ini adalah frasa yang bermakna bahwa Tuhan itu pemelihara seperti seorang bunda yang menyusui si anak. Frasa ini menampilkan sosok kelembutan Tuhan. Perhatikan bedanya dengan karakter Sang Bapa yang tegas, menghukum yang salah, bahkan membunuh musuh untuk menjaga anak-Nya. Itulah peran Sang Bapa yang maskulin. Sekali lagi, ketiganya bukan tiga Pribadi, hanya tiga aspek saja. Ketiganya bukan manusia yang memiliki alat kelamin, itu hanya Gambaran karakter saja. Tuhan sebenarnya ya hanya itu-itu saja. Dia tidak berubah dari dahulu, sekarang, dan selamanya. Inilah Sang Tlithayutha itu.

Di saat kitab-kitab PB diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, barulah muncul istilah ‘trinity’ (eng) atau ‘Trinitas’ (Indonesia). Saat proses penerjemahan, ada banyak kata semitik (Aramaik-Ibrani) yang tidak tepat diterjemahkan, maklum saja memang demikianlah tantangannya dalam penerjemahan. Oleh karena itu sama sekali tindakan yang kurang bijak, mencoba memahami kitab terjemahan tanpa memahami tradisi semitik Nasrani. Nasrani lahir dari Rahim Judaism, lahir di alam semitik bukan Helenis, bukan Inggris, bukan Jawa, dan lain-lain. Pahamilah kitab suci Nasrani dengan pola pikir kembali ke akar semitik (aramaik dan Ibrani).

Jika memakai pola pikir Helenis yang biasa dengan penyembahan dewa-dewi, maka akan berefek pada pemahaman Tuhan yang terdiri dari 3 (tiga) pribadi. Ini tentu saja berbeda pemahaman dengan pola pikir semitik yang dengan tegas mengajar bahwa Tuhan itu satu. Satu ya satu bukan tiga. Helenisme akan menekankan pada angka 3, sementara semitik akan menekankan 1-nya. Tuhannya sama, hanya dari mana pendekatan itu diambil, maka akan menimbulkan pengajaran yang berbeda penekanan.

  1. Ajaran KM: Yeshua dan para murid-Nya berbahasa Ibrani.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Kendati nama Yeshua itu adalah nama Ibrani, bukan berarti Dia berbahasa Ibrani, demikian juga dengan murid-murid-Nya. Tidak ada tradisi Judaism, nama dan bahasa sehari-hari itu haruslah sama. Sama saja dengan tradisi orang Indonesia yang tinggal diperkotaan, banyak yang memberi nama anak mereka ke-Barat-Baratan, tapi tetap saja si anak tidak berbahasa Inggris, tetapi berbahasa Indonesia seperti ibu bapaknya. Yeshua juga demikian, Dia sesuai tradisi bernama Ibrani, namun berbahasa sehari-hari Aramaik. Setali tiga uang dengan Maran Yeshua, para murid-Nya juga demikian. Mereka semua berbahasa sehari-hari Aramaik Dielek Galilea, karena kebanyakan dari sana.

Pengajaran Yeshua dan para murid berbahasa Ibrani berasal dari Messinic Jewish yang juga terpengaruh dari adanya kebangkitan negara Israel di abad 20. Pada suatu kesempatan, PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa bahasa Yeshua adalah Ibrani, hal ini dibantah oleh Paus Francis yang menjelaskan bahwa bahasa-Nya saat itu adalah Aramaik. Perbedaan pendapat ini menjadi sorotan media masa saat keduanya bertemu Mei 2014 yang lalu.

I PM ISRAEL

Gambar PM Israel dan Paus Francis Roma Katolik. Sumber: washingtonpost.com

Sebagai gereja yang berdiri di abad 1, Gereja-gereja Rasuliah bisa memahami dengan jelas dan cukup detail apa yang terjadi pada Yeshua, karena gereja rasuliah adalah saksi matanya. Saat itu negara Israel belum ada, komunitas Mesianic Jewish belum ada, apalagi Kristen Mesianik. Jadi, sumber referensi yang paling kuat untuk mengetahui bahasa apa yang dipakai oleh Yeshua sehari-hari tentunya adalah gereja rasuliah sendiri yang terus eksis sampai abad 21 ini.

Selain dari sumber pengajaran Gereja Rasuliah, fakta bahwa Yeshua dan Yehudim di abad 1 berbahasa Aramaik, bisa didapatkan dari para sejarawan yang menyatakan pendapat bahwa Aramaik dialek Galilea adalah bahasa sehari-hari Yeshua dan para murid-Nya. Pada waktu itu, Aramaik adalah bahasa lingua frangka untuk yehudim.[22]

  1. Ajaran KM: Kristen Mesianik mengaku sebagai penerus Umat Nasrani atau Jemaat Perdana.

Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Jemaat Nasrani sejak abad 1 selalu dipimpin oleh Uskup (Imam Tertahbis), bukan oleh pendeta. Nasrani tidak puya hubungan dengan kependetaan. Jemaat Nasrani selalu diajarkan untuk tunduk pada Uskup sebagai perwakilan Maran Yeshua, bukan kepada pendeta atau RabbiRabbi yahudi Mesianik. Kepemimpinan Nasrani bisa bertahan karena melestarikan tradisi qadishot Semikha HaSliakhanuth (Pentahbisan), tidak hanya sekedar doa plus tumpang tangan dalam peribadatan tanpa siddur (liturgy) asing untuk mengangkat seorang pemimpin komunitas. Kepemimpinan Sanhendrin Nasrani selalu berbentuk kolegial keuskupan yang berisi uskup-uskup yang ditahbiskan dengan ritual Semikha HaSlikanuth bukan sinode kumpulan pendeta. Jemaat Nasrani diajarkan untuk tidak melakukan Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat), bukan malah ikut-ikutan melakukannya seperti kaum Yehudim. Jemaat Nasrani beribadah dengan siddur peribadatan kuno, misalnya Siddur Mar Yakub HaTzadiq (St James Divine Liturgi) yang dibuat th 50M, bukan siddur buatan lokal oleh pendeta lokal atau adaptasi dari peribadatan Messianic Jewish. Jemaat Nasrani adalah komunitas yang kaya akan Tradisi (Oral Torah), bukan yang menolak tradisi (Sola Scriptura) dan mengadopsi tradisi Farisi.

Seorang pendeta bukan berarti mereka adalah orang yang jahat, banyak pendeta baik dengan tulus melayani Tuhan Ini bukan masalah pribadi, ini murni masalah pengajaran saja. Banyak pendeta yang tidak memahami sejarah akibat berada dalam sistem pendidikan agama yang keliru. Mereka dididik untuk langsung membaca kitab suci tanpa memahami tradisi, tanpa memahami latar belakang sejarahnya.

Nama ‘Nasrani’ sendiri tidak pernah dipatenkan, sehingga siapapun bisa saja mencatut nama kuno ini dan mengklaim diri sebagai bagian umat kuno Yeshua. Faktanya sekarang, ada benar-benar umat Nasrani yang sekuat tenaga melestarikan ajaran kuno dan ada yang membuat ajaran anyar. Intinya adalah Kristen Mesianik itu bukanlah Nasrani kuno.

PERBADINGAN KRISTEN MESIANIK –GEREJA RASULIAH- GNI

Adapun perbadingan ringkas antara komunitas Kristen Mesianik, Gereja Rasuliah pada umumnya, dan Gereja Nasrani Indonesia bisa terlihat jelas pada tabel di bawah ini:

Tabel Perbandingan Kristen Mesianik-Gereja Rasuliah-GNI

No Ajaran Kristen Mesianik Gereja Rasuliah (GR) Nasrani di Indonesia (GNI)
1 Mulai berdiri Dimulai tahun 2000-an (abad 21) Dimulai abad 1 Dimulai 2013 lalu masuk ke dalam Tahbisan abad 1
2 Penulis Kitab Bukan Ya, semua penulis kitab adalah bagian dari GR. GR adalah pemilik kepusatakaan besar/Museum. Bukan, hanya sebagai pewaris naskah kitab GR yg sebagian disimpan di Museum keuskupan di Australia.
3 Pembuat tradisi  

Ya, tradisi sendiri atau modifikasi tradisi Farisi

Ya, Tradisi Nasrani kendati ada penyimpangan seiring waktu berjalan Bukan, hanya sebagai pewaris Tradisi Nasrani bercorak
4 Pelestari tradisi Nasrani

 

Tidak Ya, disesuaikan dengan budaya lokal Ya, disesuaikan dengan budaya lokal
5 Kanon Kitab Suci Bukan pelaku Kanon. Ikut kanon 66 kitab Protestan Pembuat Kanon Kitab Suci, setiap GR berhak menentukan Kanon masing-masing Bukan pelaku Kanon, hanya menjadi pewaris dan tidak membatasi jumlah Kitab
6 Penganut Sola Sciptura abad 16 Mengakui Sangat Menolak sebagai pewaris tradisi Sangat Menolak sebagai pewaris tradisi
7  

Torah yang diakui sekarang

Ada yang meyakini Torah Sinai, ada yang menolaknya Torah Mesias Torah Mesias
8 Dewan Sanhendrin Memiliki Sinode terpisah-pisah dan tidak ada kesepakatan akan Torah yang dijalankan Sanhendrin adalah dewan Keuskupan Sanhendrin adalah Dewan Kesukupan di Australia, kedepannya setelah jumlah jemaat banyak aka nada Sanhendrin di Indonesia
9 Hubungan sejarah dengan Nasrani awal Tidak ada Terhubung dengan rantai tahbisan Terhubung dengan Tahbisan Petrus, Mar Thoma, dan Mar Addai
10 Peran kenabian Tidak ada Jarang, menekankan ke tradisi Di Indonesia belum punya nabi, masih dalam tahapp pembelajaran. Peran kenabian/mistika masih mengacu kepada para mistikis di Australia
11 Pemimpin Wanita Ok Mayoritas tidak  

Tidak, melestarikan tradisi Judaism dan Nasrani awal

12 Pemimpin Pendeta Ya Dilarang. Dipimpin Imam/uskup  

Dilarang. Dipimpin Imam/uskup

13 Sifat kepemimpinan Diangkat dan bisa mengangkat diri sendiri menjadi pemimpin Hanya diangkat, tidak bisa memimpin tanpa ditahbiskan oleh Imam Tertahbis  

Hanya diangkat, tidak bisa memimpin tanpa ditahbiskan oleh Imam Tertahbis

14 Imam Setiap jemaat dan pelayan Tuhan termasuk pendeta adalah imam Imam diangkat dari jemaat oleh Uskup yang ada Imam diangkat dari jemaat oleh Uskup yang ada
15 Keimamatan Melkisedek Tidak diajarkan sama sekali, hanya percaya bahwa Yeshua adalah Imam Besarnya. Di bawah-Ny ada banyak pendeta Sejak abad 1 sudah merumuskan jenjang keimamatan Melkisedek sbg pengganti keimamatan Lewi Di Indonesia sudah dipimpin oleh Uskup, jenjang tertinggi keimamatan Melkisedek. Beliau dibantu oleh beberapa Shamasha (deacon) di Medan, Tarutung, Jakarta, Bekasi, Jogyakarta, Surabaya, dan Madiun.
16 Messianic Jewish Sebagai kiblat pengajaran selain penafsiran sendiri Tidak ada hubungan Tidak ada hubungan
17 Helenisme Menolak Gereja Byzantium adalah sumbernya, namun tidak semua terkena imbasnya

 

Menolak
18 Teologi Pengganti

 

Menolak Banyak GR yang mengakuinya juga Menolak
19 Anti Allah Ya Tidak Tidak
20 Menyebut ‘Yahweh’ Mayoritas Ya, mengajarkan jemaat menyebutnya secara langsung Tidak Tidak
21 Sumber pendidikan STT yang berasal dari perkembangan pendidikan Era Skolastik abad 15 Pemuridan dan seminari abad 1  

Pemuridan dan seminari St Basel. Seminari berasal dari sistem pendidikan abad 1 Nasrani

 

22 Hari peribadatan Sabtu dan Minggu, ada yang anti Minggu

 

Sabtu dan Minggu Baru di hari Sabtu, semoga tahun depan bisa memulai peribadatan Hari Minggu
23 Shabbat Sabtu   

Mayoritas mengakui Sabtu

 

Sabtu
24 Siddur untuk Shabbat (Liturgi ibadah) Buat sendiri hasil adopsi dari Messianic Jewish Melestarikan semua siddur kuno Melestarikan siddur uskup Yerusalem I, Mar Yakub HaTzadiq
25 Doa Harian Ada yang mengikuti Doa harian 3x sehari mengikuti Shemoneh Esrei Judaism 7x sehari, tidak diwajibkan. Siddur berasal dari Gereja Syria Antiokia dan diadopsi sesuai tradisi Gereja Rasuliah masing-masing  

7x sehari, tidak diwajibkan. Siddur berasal dari Gereja Syria Antiokia yang diadaptasi dari beberapa tradisi Gereja Rasuliah lainnya

 

26 Perayaan Natal 25 Desember Anti Natal 25 Desember Mayoritas merayakan Natal 25 Desember  

25 Desember merayakan Perayaan Terang (masa Miriam mengandung), ini bukan perayaan kelahiran Yeshua

 

27 Perayaan Ester Anti Easter Mayoritas merayakan Easter Tidak merayakan Easter tapi Pesakh Nasrani
28 Babtisan Selam, ada yang ditambah Baptis Pembaharuan Baptisan Air (diselam/dituang), Baptisan Roh Kudus (diolesi minyak) Baptisan Air (diselam/dituang), Baptisan Roh Kudus (diolesi minyak)
29 Tumpang tangan Dilakukan pemimpin kepada orang sesuai dorongan hatinya Bagian dari Ritual Pentahbisan ‘Semikha HaSlikanuth’ untuk melakukan estafet otoritas

 

Bagian dari Ritual Pentahbisan ‘Semikha HaSlikanuth’ untuk melakukan estafet otoritas
30 Sunat jasmani Ada yang mengharuskan, ada yang tidak Menolak sunat jasmani sejak konsili Yerusalem 50 M sbg bagian dari halakha Menolak sunat jasmani sejak konsili Yerusalem 50 M sbg bagian dari halakha
31 Biara Tidak ada, tidak pernah diajarkan peruntukannya Ada dan banyak Ada, masih mengikuti biara di Keuskupan Australia

Untuk mempelajari Sejarah Tahbisan GNI dan hal-hal yang berkaitan dengan tahbisan lebih jauh, silahkan membaca SUKSESI RASULIAH (klik): TAHBISAN, AJARAN RASULIAH, DAN GEREJA RASULIAH, karya Uskup Mar Nicholas Lumbantoruan.

_____________________________________

[1]  Sara E. Karesh, Mitchell M. Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, hal 180, tahun 2006

[2] Tidak ada dasar Alkitab dan Tradisi serta Wahyu yang mengijinkan seorang awam membaptis orang lain, kecuali Imam Tertahbis. Contoh, Yohanes Pembaptis adalah keturunan Imam Harun anak Imam Zakaria dan dia dipilih Alaha untuk mempersiapkan jalan Tuhan (Matius 3:1-3). Demikian juga Para Rasul membaptis bersama Maran Yeshua (Yohanes 4:1-2) dan Kitab Para Rasul banyak menyinggung ini bahwa Filipus seorang Diakon hanya bisa membaptis dengan AIR tapi tidak tumpang tangan dengan peminyakan urapan dan pemeteraian kudus (Kisah 8:12-17). Gereja-gereja Rasuliah sudah 2000 tahun tidak pernah mengijinkan kaum awam tanpa suksesi rasuliah boleh membaptis. Perubahan ini terjadi saat abad ke-16 dalam Reformasi Protestantisme merombak (reform) segala aspek ajaran-ajaran rasuliah menjadi Ajaran-ajaran individual. (Theologumenons = private opinions).

[3] Pdt Jahja Iskandar, MA, Mengapa Nama Yahweh Semakin Populer, hal 77, tahun 2003

[4] Dr Yakub Sulistyo, Sth MA, Misteri Dua Nama, 2012

[5] Ensiclopedia Britannica

[6] Hildred Geertz, The Life of a Balinese Temple, hal 38, University of Hawai Press, tahun 2004

[7] Ronald F. Youngblood, Nelson’s Illustrated Bible Dictionary: New and Enhanced Edition, hal 217, Thomas Nelson, tahun 1986

[8] Ibrani 10:1 LAI “Di dalam Hukum Taurat hanya terdapat BAYANGAN saja…”

[9] 1 Kor 9:21 terjemahan GNI

[10] Pdt Teguh Hindarto, MTh, Midrash Shabat, Kumpulan Penagarjaran Shabat Seri Pertama, hal 13, th 2006

[11] Istilah “Perjanjian Baru” disebutkan oleh Maran Yeshua pertama kali, dan diteguhkan melalui Korban di Salib dalam diri-Nya sendiri yang diperintahkan untuk dirayakan selalu; “… Perbuatlah ini mengingat akan Aku…” (Lukas 22:19-20). Jadi ini tidak ada kait mengait dengan Anti-Semitisme dan menggantikan istilah Perjanjian Lama. Istilah “Perjanjian Lama” sebenarnya tidak dikenal zaman Para Rasul, kecuali Kitab Torah, Nabi-nabi dan kemudian Ketuvim sehingga disebut Kitab TANAKH oleh kaum Yahudi. Orang Kristen Goyim yang pertama memakai istilah Perjanjian lama dan Perjanjian Baru adalah Tertullianus abad ke-2 M., (Latin: vetus testamentum dan novum testamentum), dalam tilisannya buku 3 – Melawan Marsion, pasal 14). Bagi Nasrani lebih suka menyebut PL sebagai Tanakh.

[12] Luk 16:16 terjemahan GNI: “Torah Sinai dan kitab para nabi berlaku SAMPAI kepada zaman Yohanes…”

[13] Ibrani 5:10 LAI: “dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.”

[14] Kitab Marghianeetha, bagian V, Pasal 2– Penghormatan Salib Tuhan

Kita menghormati Kemanusiaan Mshikha sebab Keilahian ada dalam Dia; maka, melalui Salib, kita menyembah Alaha Juruselamat kita. “Salib” adalah nama dari Mshikha, sama sejajar kepada ucapan kita “terbunuh,” “menyembah,” dan bukan rancangan kayu, perak, atau perunggu. Sekarang dasar landasan Mshikhanuth (Nasrani) adalah pengakuan bahwa Salib itu adalah pembaharuan dan keselamatan semestawi diberikan kepada semua, dan Salib itu yang kita gunakan adalah tanda yang sama dari Tuhan kita yang muncul di langit sebelum kedatangan-Nya, seperti yang Dia sendiri telah ramalkan. Oleh karena itu, ketika, kita memandang lambang keselamatan kita ini, kita menerima seolah-olah kita sedang melihat Juruselamat kita terentang di Salib bagi pengampunan dosa-dosa kita, dan bagi pembaharuan semua alam ciptaan. Oleh sebab itu kita mempersembahkan dengan semangat dan ibadat Qadisha Qurbana, bukan untuk ditujukan kepada perihal Salib semata; tetapi kepada Dia yang kita gambarkan di atas Salib itu, dan diatas semuanya dipersembahkan kepada Alaha, yang memberikan Anak-Nya untuk menjadi Salib [atau, disalibkan] bagi kita, melalui karya salib Dia mengerjakan pembaharuan dan penebusan bagi kita, dan melalui-Nya Dia memberikan kehidupan kekal yang amat bernilai dalam kerajaan Sorga. “Sebab jika, sementara kita masih menjadi musuh, kita diperdamaikan kepada Alaha melalui Anak-Nya; betapa lebih lagi kita akan diselamatkan melalui hidup-Nya.”

Melalui Tanda ini Rasul-rasul (Shlikhim) mengadakan mukjizat-mukjizat, dan menumpangkan tangan bagi jabatan Keimamatan (Suksesi Rasuliah), dan semua qadishotim Jemaat lainnya yang melalui ini semua karya disempurnakan. Perkara-perkara ini, dit erus sampaikan dari Rasul-rasul, dan diteguhkan oleh semua mereka para pengganti rasul-rasul, menegaskan bahwa “pewartaan Salib bagi mereka yang akan binasa adalah kebodohan; tetapi bagi kita yang diselamatkan pewartaan ini adalah kekuatan dari Alaha.”

[15] Mar 12:29 (LAI): Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

[16] Yoh 20:28 (LAI): Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

[17] Martin Luther, Instruksi Kecil Martin Luther, 1546

[18] Pinchas Lapide, Hebrew in the Church, halaman 58, tahun 1984

[19] Paul Yunan, History of Peshitta, Peshitta.org

[20] Pdt Jahja Iskandar, MA, Mengapa Nama Yahweh Semakin Populer, hal 51, tahun 2003

[21] Kisah Rasul Thomas 4:39 terjemahan GNI“…kami menyembah dan memuji Engkau dan Bapa yang tidak terlihat dan Bunda dari semua ciptaan.”

[22] Allen C. Myers, ed, “Aramaic”. The Eerdmans Bible Dictionary. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans. halaman. 72, tahun 1987