ISRAEL BERUBAH MENJADI BANGSA DEMOKARSI DARI BANGSA THEOKRASI

/, Kristen/ISRAEL BERUBAH MENJADI BANGSA DEMOKARSI DARI BANGSA THEOKRASI

Negara Israel yang mulai berdiri pada 14 Mei 1948 adalah negara yang DEMOKARTIS. Sebenarnya semenjak hancurnya Bait Suci Yerusalem II yang terjadi pada tahun 70 Masehi, bangsa ini sudah mulai bergeser dari pemerintahan THEOKARTIS menjadi DEMO. Sebuah tragedi yang sangat pilu kehilangan pusat peribadatan di abad 1. Bangunan yang begitu megah sekarang hanya tersisa salah satu temboknya yang sering disebut orang dengan nama ‘Tembok Ratapan’.  Sebelum saya mengulas lebih jauh, izinkan saya menjelaskan secara sederhana apa itu THEO dan DEMOKARATIS. Theokratis adalah pemerintahan yang dipimpin oleh Tuhan (Ibrani: Elohim) sendiri. Sementara Demokratis adalah pemerintahan yang dipimpin oleh suara mayoritas manusia, sudah bukan lagi kepemimpinan Tuhan.

Sejak bangsa Israel ini terbentuk di tahun 1500 SM paska keluarnya dari bangsa penjajah Mesir oleh tangan Tuhan, bangsa besar yang jiwa penduduknya masih primitif (suka mengeluh kendati dalam tubuh dewasa) ini dipimpin langsung oleh Tuhan. Mereka bisa keluar dari penjajahan Mesir bukan dengan bantuan militer bangsa-bangsa seutu mereka, itu murni karena kuasa Tangan Tuhan seperti yang ditulis di dalam Kitab Keluaran. Di era Theokrasi tersebut, Elohim memiliki wakil-Nya di Bumi yaitu Keimamatan Lewi-Harun. Peran Imamat ini adalah melakukan banyak ritual di dalam Kemah Suci (lalu menjadi Bangunan Bait Suci). Banyak ritual ini masudnya adalah pelayanan kerohanian sebagai perantara antara Elohim dan 11 suku Israel lainnya. Bangsa Yehuda keturunan raja-raja sekalipun tidak akan diizinkan memotong kurban di kemah-kemah mereka sendiri. Tugas ritual semua ada di pundak suku Lewi-Harun. Ini tidak beralih sampai masa Perjanjian Sinai (PL) berakhir. Lalu di mana peran para Rabbi (Guru Torah) Yahudi? Mereka tetaplah bukan Imamat, tidak menjadi Imamat. Mereka adalah para pengajar jemaat. Jadi Imam itu berkenaan dengan berbagai ritual keagamaan, seperti pengakuan dosa, sementara para Rabbi itu berkenaan dalam Torah (Pengajaran). Imam bekerja di Bait Suci, sementara para Rabbi itu di luar Bait Suci, tempat pengajaran mereka kemudian disebut sebagai ‘Beit Midrash’ (Yunani: Sinagoge).

Tembok Ratapan Bait Suci II Yerusalem

Tembok Ratapan Bait Suci II Yerusalem

Hancurnya Bait Suci Yerusalem sebenarnya adalah rencana dari Maran Yeshua, Rabbi Yahudi Nazarene. Saat Dia bernubuat bahwa Dia akan bangkit pada hari ke-3, Dia menyebut tentang hancurnya Bait Suci ini.

Mat 27:40  mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Alaha, turunlah dari salib itu!”

Itu Dia maksudkan adalah Era Perjanjian Lama sudah selesai, era Keimamatan Lewi-Harun sudah selesai. Dimulailah Era Perjanjian yang Baru (PB). Karena pusat peribadatan Yahudi ini benar-benar terjadi lewat tangan Romawi, maka mereka menjadi bingung dan memutuskan untuk melakukan konsili. Konsili Yahudi non Nazarene ini terjadi sekitar tahun 92 M di Yahvne dan memang memutuskan bahwa peran keimamatan Lewi ini tidak berlaku lagi dan digantikan oleh peran Rabbi, masuklah Rabbinik Era. Dengan adanya pergantian ini, maka bergantilah era THEOKRASI menjadi DEMOKRASI.  Sebagai ganti ritual pengakuan dosa, jemaat Yahudi ini mengajarkan gantinya dengan Doa, Mengaku Dosa langsung kepada Elohim, dan bersedekah kepada kemanusiaan. Mereka terus berpikir bagaimana bisa membangun Bait Suci Yerusalem III untuk memulihkan kepemimpinan Imamat Lewi-Harun lagi. Secara tradisi Yahudi,  hal itu akan terjadi saat Sang Meeias mereka akan datang suatu hari kelak. Di tahun 2016 ini sudah ada pusat pembinaan khusus untuk para Imam Lewi sehingga saatnya tiba mereka sudah tidak canggung lagi untuk melakukan peribadatan Imamat. Kita lihat nanti apa yang akan terjadi nanti karena situasi kondisi Bait Suci ini saat ini tidak mudah. Letak reruntuhan Bait Suci ini sudah berdiri Mesjid Islam yang megah.

Sementara dalam ajaran Nazarene Yahudi yg dibagun oleh Maran Yeshua, keimamatan Lewi-Harun digantikan dengan Keimamatan Rajani atau Keimamatan Melkisedek. Dia mulai mentahbiskan para rasul menjadi para Imam. Sedangkan Kepala Imam (Ibrani: Kohen HaGadol)-nya disebut dengan istilah’Uskup’. Di abad 1, perlu dipahami bahwa semua jemaat yang didirikan oleh Yeshua adalah Gereja Rasuliah, tidak ada jenis gereja lainnya. Semua Gereja Rasuliah ini pasti dipimpin Imam-Uskup. Jadi tatanan THEOKRASI masih berlaku di dalam jemaat Nazarene ini. Bagaimana dengan Bait Sucinya? Yeshua sengaja meghancurkan Bait Suci Yerusalem karena 2 faktor. Faktor pertama, biat itu sudah dinajiskan oleh keimamatan Saduki dan pihak penjajah. Faktor kedua adalah Yeshua ingin penyembahan bisa dilakukan di mana saja.

Yoh 4: 21  Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22  Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23  Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Dengan benar-benar hancurnya Bait Suci II, maka mau tidak mau harus ada Bait Suci bagi Imamat PB. Lalu di mana? Ya disetiap rumah jemaat. Bait Suci diganti dengan Mezbah yang bisa dengan mudah dikonsekrasi oleh para Imam. Peribadatan Theokrasi ini sebenarnya tidak memerlukan bagunan besar yang sekarang disebut ‘Gereja’. Bangunan Gereja Megah yang menjadi tradisi sekarang sebenarnya, bukanlah terusan dari Bait Suci yang megah. Gedung-gedung megah gereja itu aslinya adalah tradisi dari kaum penyembahan Pagan Yunani dan Romawi. Mereka membangun bangunan megah dengan patung-patung tinggi dan banyak lukisan dewa-dewi di tembok-tembok gedung. Tradisi ini masuk saat Agama Kristen kemudian bisa mengalahkan kejayaan Agama Mithraisme yang di abad 3 berkompetisi untuk mencari jemaat di daerah Roma. Gedung-gedung Mithra dan para Imamat mereka berganti menjadi gedung-gedung peribadatan keimamatan Kristen. Ini suatu era yang dinilai banyak kalangan Kristen merupakan suatu kemenagan, namun ada juga yang berpikir sebaliknya.

Mezbah GNI di Paroki Ambon

Mezbah GNI di Paroki Ambon

Ada gedung besar atau tidak, tidaklah penting bagi umat Kristen (Aram: Mshikaye). Yang penting adalah adanya Mezbah. Mezbah ditetapkan berbentuk persegi 4 dan menghadap ke Barat sementara umat menghadap Timur ke arahnya. Persegi 4 melambangkan empat huruf YOH HE WAW HE (YHWH), sumber semua kehidupan dan pengajaran. Dari Mezbah inilah muncul kehidupan yg baru, lepas dari semua dosa dan sumber mengalirnya pengajaran bagi jemaat yg datang. Jemaat menghadap Timur karena inilah tradisi menyambut kedatangan Mesias Yeshua.

Mat 24:27  Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.

Semua jemaat perdana selalu beribadat dengan kiblat Timur sampai ke abad 21 ini. Ini adalah tradisi yang baik sehingga bisa membedakan diri dengan para penganut Kristen Modern yang tidak mengenal ajaran awal dengan baik.

Dalam kepemimpinan Theokrasi yang tetap berlaku di dalam jemaat Tuhan di semua Gereja Rasuliah, seseorang diharuskan adanya penundukan diri pada para Imam-Uskup. Penundukan diri ini sangat fital karena manusia tidak akan tunduk pada Tuhan yang tidak terlihat jika dengan wakil-Nya saja mereka tidak mau tunduk dan taat. Para Uskup adalah Wakil Tuhan di Bumi ini. Mereka tetap ada untuk menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan.

Sejak kapan ada pengajaran bahwa peran keimamatan PB ini dipegang oleh Pendeta? Atau dipegang oleh jemaat? Jawabnya adalah paska abad 16. Paska adanya ajaran Sola Scriptura (Hanya Kitab, buang Tradisi). Tidak ada lagi tradisi peribadatan Mezbah, tidak ada lagi tradisi pentahbisan jenjang Keimamatan, tidak ada lagi Theokrasi. Jemaat adalah para Imam kendati mereka tidak paham apa dan bagaimana tugas rinci Imamat tersebut. Di abad 21 ini, semua manusia akan dihadapkan pada 2 pilihan: mau ikut gereja modern ini atau ikut melestarikan ajaran kuno Kristen awal. Mau berpindah pada Demokrasi atau tetap pada anjuran Tuhan Theokrasi. Pilihan ada di tangan semua manusia dengan Free Will masing-masing.

header niko 728 x 90

funika

By | 2018-02-08T08:42:02+00:00 July 10th, 2016|Judaism (Agama Yahudi), Kristen|0 Comments