Hukum Persepuluhan dalam Gereja Kristen

/, Kristen/Hukum Persepuluhan dalam Gereja Kristen

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa Persepuluhan itu bukan menjadi kewajiban dalam Gereja Kristen. Banyak juga yang merasa diberkati dengan adanya sistem pendanaan ini. Sebenarnya bagaimanakah duduk perkara hukum ini dalam jemaat Tuhan? Untuk itulah perlu adanya ulasan sebagai berikut. Namun sebelum diuraikan, perlu dipahami bahwa gereja Kristen dari abad 1 samapi 21 ini sudah terkotak-kotak, dengan kata lain sudah banyak bermunculan denominasi. Kalau di Abad 1 semua gereja adalah Gereja Rasuliah, sementara di abad 21 ini ada lebih banyak gereja non rasuliah yang bermunculan paska adanya ajaran Sola Scriptura abad 16.

Persepuluhan di Gereja Modern

Ajaran Persepuluhan ini sangat gencar dipromosikan tidak oleh semua gereja. Namun hanya oleh 1 atau 2 denominasi Kristen non Rasuliah, salah satuya adalah denominasi Pentakosta Karismatik. Ini adalah denominasi penganut Sola Scriptura yang baru muncul di permulaan abad 20 M. Dengan kata lain, di abad 1 jenis gereja ini sama sekali belum ada. Gereja jenis Pentakosta ini menekankan pujian dan musikal dalam peribadatan, jika di gereja lain alat musik tidak terlalu lengkap, berbeda di komunitas ini. Gereja ini memiliki banyak pemusik yang sangat kompeten di berbagai alat yang mereka pegang masing-masing, ditambah lagi ada peran Worship Leader yang memimpin jalannya peribadatan, melompat dari lagu ke lagu semua diarahkan oleh WL ini. Gereja Pentakosta tidak memiliki liturgi yang pakem atau kaku seperti Gereja Rasuliah di abad 1. Mereka ‘mangalir dalam Roh Kudus’ itulah yang mereka yakini. Selain menekankan musik, mereka juga meyakini bahwa mujizad itu masih ada, penumpangan tangan pada orang sakit tidak perlu lagi dengan ritual seperti yang ditetapkan di abad 1, para pemimpin mereka bisa saja melakukannya jika yakin ‘digerakkan Roh Kudus’. Uniknya adalah banyak jiwa disembuhkan. Ini terjadi di banyak KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) yang mereka sering gelar di banyak tanah lapang.  Dengan banyaknya jemaat yang berdatangan, mereka membutuhkan ruangan yang relatif besar dengan alat musik dan pemain musik yang reguler bermain dalam setiap sesi ibadat. Hal ini tentu saja memakan banyak biaya. Untuk itulah persepuluhan sangat dibutuhkan. Para pemimpin gereja ini akan mendorong jemaat mereka untuk banyak menabur dalam hal pendanaan terutama memberikan persepuluhan. Tidak heran kalau saking menekankannya, mereka berani mengatakan bahwa tidak memberikan persepuluhan itu sama dengan mencuri dari Tuhan.

Ayat emas yang sering mereka ambil dari Alkitab adalah Mal 3:10 yang mereka ambil diluar konteksnya.

Mal 3:10  Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Mengapa bisa dibilang bahwa mereka mencatut ayat tersebut di luar konteksnya? Ya karena sebenarnya ayat tersebut bukan ditujukan untuk mereka! Itu adalah kitab yang ditujukan untuk para Imam Lewi-Harun yang melayani Bait Suci Yerusalem di Perjanjian Lama (Perjanjian Sinai). Bagi penganut Sola Scriptura biasanya perbedaan di dalam konteks dan di luar konteks itu sangat sulit untuk mereka pahami. Itu karena mereka meyakini bahwa mereka berhak untuk mentafsirkan ayat-ayat kitab dan ayat-ayat itu bisa saja langsung mengarah kepada pribadi mereka. Mereka tidak butuh mengerti latarbelakang setiap kitab. Bagi mereka Alkitab kanon 66 adalah Firman Tuhanuntuk mereka! Titik. Jadi kalau oleh Gereja Rasuliah di abad 1, ayat itu tidak mengarah kepada mereka, para pemimpin gereja modern Pentakosta ini akan berbicara berbeda. Jadi semua terserah pembaca untuk memilih mau mengikuti pengajaran modern mereka atau mengikut ajaran abad 1.

Keimamatan pada Jemaat Perdana

Perlu dipahami bahwa ajaran Kristen awal itu adalah bagian dari Agama Yahudi (Judaism). Agama Kristen tidak tiba-tiba muncul secara mandiri. Rabbi Yeshua adalah Rabbi Yahudi yang mengajarkan Torah Sinai (Hukum Taurat) di zaman-Nya. Apa yang Maran Yeshua ajarkan kendati sama-sama memakai istilah ‘Hukum Taurat’ namun ternyata berbeda dengan versi Hukum Taurat yang Musa ajarkan pertama kali kepada 12 keturunan Israel. Dengan adanya perbedaan pengajaran ini, maka tidak bisa dihindari banyak terjadi perdebatan antara Rabbi Yeshua dan Rabbi-rabbi Perushim (Farisi) yang didukung oleh para Imam Saduki keturunan Lewi. Bagi umat Nazarene awal, tentu saja yang benar adalah Rabbi Yeshua sendiri. Sementara bagi penganut Farisi dan Saduki tentu saja Dia itu salah total.

Perbedaan yang mencolok antara pengajaran Yeshua dan Musa adalah dalam hal Imamat. Musa mengajarkan bahwa Imamat yg berlaku adalah Imamat Lewi, sementara Imamat yang berlaku di dalam ajaran Yeshua adalah Keimamatan Melkisedek. Yeshua sbg Kelapa semua Imamat ini dan para imam lainnya bermula dari para murid yang dia tahbiskan sebelum Dia naik ke sorga. Jadi para rasul adalah para Imamat Melkisedek yang ada di dalam PB. Mengapa kita harus memahami soal Imamatan PL dan PB? Ini karena persepuluhan itu ditujukan HANYA UNTUK PARA IMAM! Persepuluhan tidak pernah diajarkan diberikan kepada pendeta atau pengajar lainnya. Bagi para penganut Sola Scriptura yang mengandalkan ayat-ayat, mereka tidak akan menemukan 1 ayatpun tentang persepuluhan kepada pendeta. Bahkan kata pendeta saja tidak akan mereka temui. Pendeta sama sekali tidak punya hubungan dengan Jemaat Perdana dan Yeshua. Sudah dijelaskan di awal bahwa untuk penganut Sola Scriptura, semua ayat bisa saja diartikan berbeda sesuai ‘tuntunan Roh Kudus’ bagi mereka. Kendati tidak ada ayatnya, mereka akan ada-adakan sehingga mereka bisa dengan wajar mengajarkan dan mengimplmentasikan persepuluhan ini.

Tabel Imam Lewi-Melkisedek

Tabel Imam Lewi-Melkisedek

Persepuluhan pada Jemaat Perdana

Persepuluhan di Jemaat Perdana sudah tidak ditekankan lagi seperti pada Perjanjian Lama. Dari 3 Pilar Iman jemaat, Pewahyuan Suci, Tradisi Suci, dan Kitab Suci, persepuluhan benar-benar sudah ditinggalkan. Jemaat sama sekali tidak dituntun untuk menyerahkan persepuluhan mereka kepada para Imam. Sebagai genti kewajiban persepuluhan, jemaat diajak untuk memberikan Buah Sulung seperti yang tercatat di dalam Sefer Limudah. Sefer Limudah adalah kitab yang berisi pengajaran Yeshua kepada bangsa-bangsa melalui para rasul. Di sana tercatat:

Lim 13:2 Oleh karena itu, kamu harus, mengambil buah sulung dari setiap hasil perasan anggur dan lantai-pengirikan, anak sapi dan domba, dan memberikannya kepada nabi-nabi, sebab merekalah imam-imam besarmu. Dan jika kamu tak punya seorang nabi, berikanlah persembahan itu kepada orang miskin. Jika kamu membuat adonan roti, ambillah dan berikanlah buah sulung menurut perintah. Ambil juga uang (perak), kain, dan setiap milikmu, ambillah buah sulung dan juga engkau bisa mengira-ngira seberapa mau memberikan, dan berilah itu menurut perintah.

Sefer Limudah sudah banyak ditinggalkan oleh Gereja Rasuliah karena kitab yang ditulis di sekitar th 80 M ini bernuansa Yahudi. Salah satu ajarannya adalah perihal pemberian Buah Sulung kepada para imam. Di sini bukanlah tempat mengapa mayoritas gereja meninggalkan ajaran kuno Limudah ini, namun perlu dipahami bahwa inilah ajaran Jemaat Perdana. Suka atau tidak suka, mau dilakukan atau tidak, inilah ajarannya. Tidak ditekankan adanya persepuluhan lagi, hanya Buah Sulung. Dan yang perlu dipahami sekali lagi, pemberian ini sama sekali bukan untuk Pendeta, melainkan untuk para Imam di Gereja-gereja Rasuliah. Yang jadi masalah kan tidak banyak yang mengakui kebenaran di Gereja Rasuliah, jadi mereka tidak akan memberikan Buah Sulung itu ke dalam gereja kuno ini.

Berikut adalah perbedaan antara pemberian Buah Sulung dalam PL dan PB, silahkan dicermati.

Tabel Perbedaan antara Buang Sulung pada PL dan PB

Tabel Perbedaan antara Buang Sulung pada PL dan PB

Buah sulung (Ibr: bikkurim). Bukan hanya merupakan ajaran di dalam PL namun juga masuk ke dalam PB sebenarnya. Ini adalah bentuk penghormatan dan kontribusi nyata jemaat kepada para pemimpin (imam-uskup) jemaat sebagai wakil Alaha. Perhatikan tabel di bawah untuk menjelaskan perbedaan antara bikkurim dalam PL dan PB.

Jemaat perdana adalah suatu komunitas yang berciri suka memberi. Salah satu jenis pemberiannya adalah Buah Sulung sebagai bentuk ucapan syukur kepada Alaha atas berkat-berkat yang Dia berikan. Di abad 1, banyak jemaat yang bekerja di bidang pertanian, jadi pemberian mereka bisa berupa hasil panen (setahun sekali) setiap panennya. Di zaman saat ini, di mana lapangan pekerjaan sudah terbuka luas dan jemaat bisa menerima penghasilan setiap bulan maka buah sulung bisa diberikan seperti persepuluhan. Komunitas Idtah (Jemaat) Nasrani membuka pintu bagi jemaat yang ingin menabur hasil dari pekerjaan mereka. Pemberian ini tidaklah pernah diharuskan mengingat kebutuhan hidup jemaat yang terus meningkat dan keadaan ekonomi yang semakin sulit. Para uskup (Kepala Imam) tidak pernah mengharuskan dan meminta pengumpulan dana ini. Hanya jika jemaat merasa terdorong untuk melakukannya maka hal ini dipersilahkan.

Jika kamu tak punya seorang nabi, berikanlah persembahan itu kepada orang miskin. Artinya jika ada komunitas baru yang masih di bawah pengawasan Uskup Vagante (Uskup belum menetap) maka jemaat atau katekumen berhak memberikan Buah Sulung mereka kepada sesama jemaat lain yang membutuhkan. Hal ini berguna supaya terjadi kesimbangan. Bayangkan jika semua gereja di Indonesia menerapkan hal ini, tidak perlu dana yang besar itu diberikan kepada para Imam di Gereja rasuliah, berilah kepada jemaat yg miskin. Ini akan benar-benar menarik banyak jiwa ke dalam ajaran Yeshua. Sayang memang kitab Limudah ini sudah dibuang dari perpustakaan Kekristenan pada umumnya.

Engkau bisa mengira-ngira seberapa mau memberikan. Ini artinya tidak ada pemaksaan berapa besar pemberian. Tidak bisa dipatokan angka yang pasti karena kebutuhan dan penghasilan jemaat berbeda-beda. Pemberian harus berlandaskan ketulusan.

Persepuluhan pada Jemaat Gereja Nasrani Indonesia

Jemaat dan ketekumen GNI sama sekali tidak dibebankan untuk memberikan persepuluhan karena GNI menerapkan gaya hidup Limudah di atas. Itulah ajaran Maran Yeshua bagi umat Nazarene di Indonesia. Namun demikian, gaya hidup memberi yang telah menjadi pembeda antara umat Kristen dan penganut lainnya terus dijalankan. Bagi jemaat yang ingin meneruskan tradisi persepuluhan ini juga bisa terus memberikannya kepada para Imam atau bendahara yang ditunjuk di setiap paroki. Lebih jauh Uskup Agung John Cuffe juga menyatakan bahwa semua bisa jemaat dipersilahkan memberikan persepuluhan kendati jemaat di Australia tidak melakukannya lagi. Mengapa? Kendati ini tidak ditekankan di Limudah, pesan persepuluhan ini sudah ada sebelum Perjanjian Lama itu dimulai, yaitu saat Avraham memberikan persepuluhan kepada Imam Melkisedek.

Ibrani 7: 1  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Alaha Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. 2  Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya.

Jadi, asal diberikan kepada para Imam, persepuluhan itu wajar adanya. Persepuluhan ini tidak untuk diberikan kepada sembarangan orang. Di dalam tatanan hidup jemaat GNI, jemaat hanya diperbolehkan memberikan persepuluhan jika semua kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi. Jika belum maka para Imam dan Uskup akan melarangnya demi kebaikan rumah tangganya. Mungkin ini berkebalikan dengan para pendeta yang mendorong jemaatnya untuk memberi persepuluhan kendati mereka hidup berkekurangan. Inilah perbedaan antara kami dan mereka dan kami menghormati perbedaan ajaran ini.

header niko 728 x 90

funika

By | 2018-02-08T08:42:03+00:00 July 7th, 2016|Judaism (Agama Yahudi), Kristen|0 Comments