Free Will dan tragedi bom bunuh diri di Madinah

/, Kristen/Free Will dan tragedi bom bunuh diri di Madinah

Dilaporkan oleh beberapa media elektronik lokal dan internasional telah terjadi suatu tragedi memilukan sebelum perayaan umat Muslim Idul Fitri. Telah jatuh korban akibat bom bunih diri di Madinah pada Senin, 4 Juli 2016. Bom bunuh diri yang menghantam Madinah, Jeddah, dan Qatif setidaknya menewaskan 5 orang. Keluarga besar GNI menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga korban. Televisi al-Arabiya di sana melaporkan, korban tewas dari ledakan tersebut di Madinah adalah tiga orang pelaku bom bunuh diri sendiri dan dua petugas keamanan.

Pandangan Nasrani terhadap kasus bom bunuh diri

Kasus bom bunuh diri acapkali dilakukan oleh kelompok agamawi ekstrimis yang meyakini bahwa dengan melakukan hal tersebut mereka telah melakukan perintah Tuhan. Dengan dididik sedemikian rupa maka hati kecil mereka lama-kelamaan akan padam atau tidak terdengar lagi. Para pelaku mengambil keputusan tersebut dengan memakai FREE WILL yang telah Tuhan berikan kepada setiap jiwa dan mereka akan mempertanggungjawabkannya saat masuk ke Astral Plane.

Perlu dipahami bahwa setiap jiwa, entah itu saat di bumi memilih beragama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, atau bahkan Atheis, semua adalah saudara. Mengapa? Karena semua jiwa berasal dari TUHAN yg SATU. Semua jiwa (atau roh) adalah percikan Api Ilahi, semua kekal dan berasal dari sumber yang sama. Oleh karena itu saat jiwa-jiwa tersebut terlempar ke dalam alam Bumi dan menapaki berbagai pengalaman kehidupan, mereka akan memiliki FREE WILL masing-masing sama seperti TUHAN sendiri. Manusia akan dihadapkan pada pilihan, menghormati keyakinan orang lain atau tidak, membunuh atau tidak, bunuh diri bersama mereka yang berbeda atau tidak. Itu semua adalah pilihan yang harus diambil oleh manusia karena mereka memiliki FREE WILL.

Setiap jiwa manusia yg berada di Bumi, sadara atau tidak sadar akan didampingi oleh seorang Malaikat Penjaga (Guardian Angel). Seseorang akan merasa ada suatu bisikan untuk menghadang terlaksananya tindakan yang mereka pilih. Namun itu hanya suatu pesan kecil yang tidak didengar telinga. Bisa juga suatu perasaan yang timbul setelah melakukan hal jahat, perasaan bersalah itu ditimbulkan oleh karena menentang pesan si Malaikat Penjaga ini. Terlepas dari agama apa yang dianut si manusia tersebut, semua punya pendamping seorang Malaikat Penjaga. Malaikat jenis ini dahulunya adalah jiwa manusia juga yang telah mengimpas semua karma buruk (dosa) dan menaiki tingkap-tingkap kehidupan di Shamayim (Sorga) dan dianggap layak akan tugas ke-malaikat-an ini. Tugas utama yang mereka dapatkan dari Tuhan adalah menjaga, menyampaikan pesan baik untuk jiwa-jiwa manusia yang harus mendapatkan bimbingan. Ini supaya jiwa-jiwa manusia yang dijaganya bisa menempuh kehidupan terakhirnya di bumi dan tidak perlu kembali lagi (reinkarnasi) untuk menebus semua kesalahan yang dibuat di kehidupan masa lalunya.

Tragedi bom bunh di di Madinah

Tragedi bom bunh di di Madinah

Jadi, setiap jiwa manusia di bumi akan memakai free will masing-masing untuk bertindak. Semua tindakan tersebut akan mendapat reward, ada 2 yaitu Karma Baik dan Karma Buruk. Tujuan adanya pendampingan Malaikat di bumi dan adanya para pengajar Iman adalah supaya manusia bisa memilih untuk melakukan tindakan baik yang menghasilkan Karma Baik. Karma Baik ini akan mengimpas Karma Buruk yang telah mereka perbuat. Semua manusia harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya setelah mereka meninggalkan dunia fana Bumi ini.

Kembali ke sosok pelaku bom diri di kasus di atas, mereka telah diracuni oleh ajaran yang bertentangan dengan Kasih. Baik pengajar maupun mereka yang memilih untuk mengaminkan ajarna tersebut mendapatkan Karma Buruk. Karma buruk itu semakin besar saat si pelaku membunuh dirinya dan orang lain yang telah menjadi target. Karma ini akan mereka bawa ke Alam Astral di mana mereka akan mengetahui bahwa Sorga dan Neraka tidak akan seperti yang mereka ketahui. Mereka akan shok dan tidak akan menerima keadaan ini. Mereka akan sulit menerima kenyataan bahwa mereka itu bersalah dan harus mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut. Di Alam Astral, mereka akan lebih mudah berkontak dengan Malaikat Penjaga mereka, ditambah lagi dengan Para Kadosa atau para rohaniawan yang bertugas di sana untuk menyampaikan kebenaran. Mereka akan diajar apa yang benar-benar benar dan sebaliknya. Tidak ada paksaan sama sekali untuk mereka. Jiwa-jiwa pembom ini masih tetap memiliki memori pikiran dan karakter yg sama seperti di Bumi. Hanya saja mereka tidak menggunakan raga bumiah lagi. Jiwa mereka diliputi oleh tubuh Astral yang sebenarnya sudah mereka miliki di Bumi.

Setelah sekian lama di Alam Astral (waktu tidak sama setiap jiwa), mereka akan naik ke Alam Spritual (Spiritual Plane) dan akan terbagi secara otomatis ke dalam 2 kelompok. Kelompok Baik yang dinamakan Firdaus dan kelomok jiwa-jiwa jahat yang dinamakan Neraka. Di alam Spiritual ini, sudah tidak ada lagi tubuh yang membungkus jiwa. Semua akan telanjang apa adanya sehingga satu sama lain bisa membaca pikiran jiwa lain dengan sangat jelas. Ini menyebabkan jiwa jahat (evil spirit) akan bertolak dengan jiwa baik (good spirit). Di dalam Neraka (Hell) inipun ada tingkatannya lagi karena masing-masing jiwa tidak punya kejahatan yang sama. Biasanya pelaku bom bunuh diri, tidak akan masuk ke Alam Spiritual ini. Merekan dengan rasa penasaran akan tetap ada di bibir Astral Plane yang bersinggungan dengan Alam Fana Bumi kita. Mereka akan gentayangan dan menggangu jiwa-jiwa yang ada di Bumi ini.

Berita baik untuk semua jiwa adalah, semua evil spirits ini akan punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Semua jiwa akan mendapatkan pengajaran. Ada yang diutus kepada mereka sampai mereka bertobat. Dan jika pada waktunya bertobat maka mereka akan dikirim kembali ke Bumi untuk menjalankan masa pembelajaran lagi. Sama saja seperti sekolah, kalau tidak lulus maka akan mengulang. Namun saat mengulang pasti lebih baik dari sebelumnya. Jiwa akan kembali masuk ke suatu rahim wanita itu tergantung dari WILL atau kehendak Tuhan dan Malaikat Penjaganya. Jiwa tidak bisa memilih sendiri ke mana dia akan dilahirkan.

header niko 728 x 90

By | 2018-02-08T08:42:03+00:00 July 5th, 2016|Islam, Kristen|0 Comments